Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bersendiri Ke Pantai

Rate this book
Kumpulan puisi suka duka, dingin, kehilangan abadi, patah hati dan bersendiri, dikumpulkan penyair buat pertama kali, untuk berkongsi pengalaman manusiawi, berkelana di medan pilu sambil mencoreng cerita-cerita lalu, kisah hiba dan hikayat sepi dalam bait kata indah, tatkala memujuk hati bahawa hidup tidak pernah bersendiri selagi ada huruf dan bait baris kata yang memahami.

170 pages, Hardcover

Published March 1, 2020

4 people are currently reading
44 people want to read

About the author

Kamal Effendi

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (33%)
4 stars
27 (50%)
3 stars
7 (12%)
2 stars
1 (1%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Bayuu Haikalson.
160 reviews2 followers
September 16, 2020
Sejujurnya aku lebih suka kalau buku ini berbahasa inggeris. Mungkin sebab aku sudah biasa dengan penulis di laman sosial nya.

Ada puisi/ayat-ayat cinta di dalam karya ini tak sampai. Aku faham mungkin percubaan pertama buat penulis. Tapi aku suka sebab dia berani untuk meluahkan rasa yang ada. Rasa kehilangan itu tak mampu untuk diluahkan oleh kata-kata sebenarnya.


Ayat-ayat di dalam bisa menusuk kalbu jika semua dapat merasa kehilangan dalam keperitan, kesedihan yang berpanjangan dan mengenang yang tiada di sisi kita.

Terima kasih, Kamal Effendi.
Profile Image for Bell.
115 reviews3 followers
November 15, 2023
“Pengakhiran kisah kita
Aku masih di dunia
Tapi engkau sudah tiada.”

Mungkin kerana saya sendiri pernah mengalami kehilangan seseorang yang disayangi, makanya sedikit sebanyak terkesan juga dengan puisi2 yang ditulis penulis.

Bagi saya, masa tidak akan pernah cukup untuk membuatkan kita melupakan seseorang.
Kita hanya terus hidup melalui hari2 tanpa dia di sisi.

Semoga yang pernah kehilangan bertemu damai di hati.
🩷🩷🩷🩷
Profile Image for N.F. Afrina.
Author 3 books857 followers
August 31, 2021
Healing and grappling with grief is not always just a wave of sadness. Most of the time, it's anger. Anger that has no end, no clear source or receiver. People usually aim this anger to God but as Muslim, we know that there is a deeper meaning to all of this. Bak kata penulis, "lihatlah dengan mata hati"

This book is so raw, so honest, it hit me like a strong gust of wind. I needed this book.
Profile Image for Hafiz Kamaruddin.
97 reviews9 followers
January 31, 2023
Puisi-puisi yg sangat menusuk kalbu dan ada setengahnya meninggalkan kesan di sanubariku. Hanya insan yg pernah ditinggalkan orang kesayangan menemui Ilahi sahaja yg tahu rasanya ditinggal keseorangan dala. menahan serta memendam rindu yg tak berkesudahan. Buat penulis, semoga terus diberi kekuatan dalam mengharungi hari-hari mendatang.
Profile Image for Syafiqha.
66 reviews2 followers
July 25, 2022
Puisi di mulai dengan mukadimah penulis yang kehilangan permata pinjaman (isteri) dan rasa kerinduan. Aku amat tersentuh dengan bait puisi yang seolah-olah memanggil pemergian pematanya. Puisi-puisi dalam Bersendiri Ke Pantai menyentuh perasaan yang terkubur dalam lubuk hati seorang yang dikata tiada perasaan.

Coretan puisi lebih kearah diari duka, perasaan kehilangan, patah hati dan keseorangan. Puisi yang mengingatkan mencari erti hidup kerana Tuhan dan kebahagian bersama orang tersayang termasuk diri sendiri yang lara. Ia mengajar erti kehilangan dan kerinduan yang mendalam. Aku perasan penulis rasa sangat rapat dengan kehadiran suasana hujan, pantai, langit, di pusara dan aku perhati tarikh-tarikh di hujung setiap puisi biasanya pada bulan disember.

Dalam Bersendiri Ke Pantai, aku disajikan dengan selitan gambar yang mengamit kenangan. Walaupun hanya gambar biasa namun, aku percaya gambar-gambar tersebut ada intipatinya, ada suara halus yang mampu berbicara. Macam 2in1, aku dapat membaca puisi sambil mengamati keindahan potongan gambar tersebut. Cool!
Profile Image for siso.sofy.
254 reviews5 followers
September 19, 2020
To those who have followed the author on his social media account, we are used to his writing in English but when he published this book in Malay, I feel so proud that he embrace his thoughts in his mother tongue.


Seriously, the layers of emotion that he conveys through his words just too beautiful to describe. Some of the pieces are really relatable and some are just making you more empathy.

Truly, feeling is a gift from Allah, that will bring us closer to Him. Congratulations on your debut. Hope for more books to come.
Profile Image for Nuruljannah Musa.
20 reviews
November 7, 2020
“Ada kesenangan, disyukurinya
Disapa kesengsaraan, dijawab sabarnya
sehinggakan apa yg dihadapinya
selalu mendatangkan kebaikan kepadanya.”
Petikan dari puisi ‘Memujuk Diri’ (p.40)

Some of the poems really hit me especially the part of going to the beach...alone but not lonely 🥰
.
Most of them very melancholic and surrounded with sorrow.
.

It is about life and death. Losing someone who you dearly love is not easy..No matter how long it takes, you gotta move on and live life..

Thank you writer for the beautiful poems..✨
It’s a thin book which I could finish within 1 or 2 sitting..👍🏻
Profile Image for Haziqah Hanoom.
18 reviews1 follower
November 10, 2020
Diberi oleh seseorang yang saya sendiri tak kenali.
Pertama kali membaca buku yang penuh dengan puisi dan sajak semata. Penulisannya bukan kepada hendak mengagumkan pembaca, tetapi lebih kepada satu memoir. Itu apa yang dapat dirasakan daripada penulisan tersebut.

Profile Image for Aisyah Zin.
16 reviews
October 5, 2020
Dan rupanya bila bersendiri itu kita banyaknya berbicara dengan hati sendiri. Lebih banyak kita bersendiri lebih banyak hati berbunyi.
Profile Image for Lana Alanna.
11 reviews15 followers
November 21, 2020
Bukan senang nk tulis puisi 😊
Tahniah penulis.
Teruskn menulis & mencari kebahagiaan
Profile Image for Mrtn.
22 reviews3 followers
January 22, 2021
Luahan rasa dan monolog penulis.


"Kembali ke pantai lagi
Seolah ombak senantiasa memahami
Menanti setia bila rindu bertandang kemari"

-Ke Pantai Lagi
Profile Image for Amelia Zulkifli.
178 reviews5 followers
August 1, 2022
Siapa yang belum pernah merasa perit kehilangan, mungkin sukar untuk memahami. Kami bukan meratapi, bukan tidak redha, tetapi hanya rindu dan tidak minta difahami, cuma jangan dikeji.
Profile Image for Nurul Saadah.
50 reviews1 follower
November 17, 2021
I am kinda a literal reader so i normally can’t finish a poetry/philosophical book in one sitting. But i can for this book! Although my poetry/philosophical books reading style still applies: shouldn’t read at one go, pick up when life is hard and read a couple of pages (it’d be more relatable this way).

I mean i did read this book in one sitting, but there are some poems which content, language, context, and sentence structure that are still beyond my comprehension. Should’ve revisited these poems in the future.

My personal favourites would be Memujuk Diri, Kepingin Itu Ini, and Orang Biasa. To summarise my reading experience, grievers really share the same language: grief. It’s all dark in the first year, still as hard but only a bit lesser in the second year, and the rest of the years grief doesn’t hit as frequent although when it strikes the grief is a bottomless pit.

As how Iman Azman puts it, “it doesn’t hurt less, it hurts less often”. There is also no way to half love people, and people are all irreplaceable (unique characters and experiences). But yea nothing and no one in this world is ever permanent except Allah.

An amazing book. Totally recommended.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.