Kumpulan puisi suka duka, dingin, kehilangan abadi, patah hati dan bersendiri, dikumpulkan penyair buat pertama kali, untuk berkongsi pengalaman manusiawi, berkelana di medan pilu sambil mencoreng cerita-cerita lalu, kisah hiba dan hikayat sepi dalam bait kata indah, tatkala memujuk hati bahawa hidup tidak pernah bersendiri selagi ada huruf dan bait baris kata yang memahami.
Sejujurnya aku lebih suka kalau buku ini berbahasa inggeris. Mungkin sebab aku sudah biasa dengan penulis di laman sosial nya.
Ada puisi/ayat-ayat cinta di dalam karya ini tak sampai. Aku faham mungkin percubaan pertama buat penulis. Tapi aku suka sebab dia berani untuk meluahkan rasa yang ada. Rasa kehilangan itu tak mampu untuk diluahkan oleh kata-kata sebenarnya.
Ayat-ayat di dalam bisa menusuk kalbu jika semua dapat merasa kehilangan dalam keperitan, kesedihan yang berpanjangan dan mengenang yang tiada di sisi kita.
“Pengakhiran kisah kita Aku masih di dunia Tapi engkau sudah tiada.”
Mungkin kerana saya sendiri pernah mengalami kehilangan seseorang yang disayangi, makanya sedikit sebanyak terkesan juga dengan puisi2 yang ditulis penulis.
Bagi saya, masa tidak akan pernah cukup untuk membuatkan kita melupakan seseorang. Kita hanya terus hidup melalui hari2 tanpa dia di sisi.
Semoga yang pernah kehilangan bertemu damai di hati. 🩷🩷🩷🩷
Healing and grappling with grief is not always just a wave of sadness. Most of the time, it's anger. Anger that has no end, no clear source or receiver. People usually aim this anger to God but as Muslim, we know that there is a deeper meaning to all of this. Bak kata penulis, "lihatlah dengan mata hati"
This book is so raw, so honest, it hit me like a strong gust of wind. I needed this book.
Puisi-puisi yg sangat menusuk kalbu dan ada setengahnya meninggalkan kesan di sanubariku. Hanya insan yg pernah ditinggalkan orang kesayangan menemui Ilahi sahaja yg tahu rasanya ditinggal keseorangan dala. menahan serta memendam rindu yg tak berkesudahan. Buat penulis, semoga terus diberi kekuatan dalam mengharungi hari-hari mendatang.
Puisi di mulai dengan mukadimah penulis yang kehilangan permata pinjaman (isteri) dan rasa kerinduan. Aku amat tersentuh dengan bait puisi yang seolah-olah memanggil pemergian pematanya. Puisi-puisi dalam Bersendiri Ke Pantai menyentuh perasaan yang terkubur dalam lubuk hati seorang yang dikata tiada perasaan.
Coretan puisi lebih kearah diari duka, perasaan kehilangan, patah hati dan keseorangan. Puisi yang mengingatkan mencari erti hidup kerana Tuhan dan kebahagian bersama orang tersayang termasuk diri sendiri yang lara. Ia mengajar erti kehilangan dan kerinduan yang mendalam. Aku perasan penulis rasa sangat rapat dengan kehadiran suasana hujan, pantai, langit, di pusara dan aku perhati tarikh-tarikh di hujung setiap puisi biasanya pada bulan disember.
Dalam Bersendiri Ke Pantai, aku disajikan dengan selitan gambar yang mengamit kenangan. Walaupun hanya gambar biasa namun, aku percaya gambar-gambar tersebut ada intipatinya, ada suara halus yang mampu berbicara. Macam 2in1, aku dapat membaca puisi sambil mengamati keindahan potongan gambar tersebut. Cool!
To those who have followed the author on his social media account, we are used to his writing in English but when he published this book in Malay, I feel so proud that he embrace his thoughts in his mother tongue.
Seriously, the layers of emotion that he conveys through his words just too beautiful to describe. Some of the pieces are really relatable and some are just making you more empathy.
Truly, feeling is a gift from Allah, that will bring us closer to Him. Congratulations on your debut. Hope for more books to come.
“Ada kesenangan, disyukurinya Disapa kesengsaraan, dijawab sabarnya sehinggakan apa yg dihadapinya selalu mendatangkan kebaikan kepadanya.” Petikan dari puisi ‘Memujuk Diri’ (p.40)
Some of the poems really hit me especially the part of going to the beach...alone but not lonely 🥰 . Most of them very melancholic and surrounded with sorrow. .
It is about life and death. Losing someone who you dearly love is not easy..No matter how long it takes, you gotta move on and live life..
Thank you writer for the beautiful poems..✨ It’s a thin book which I could finish within 1 or 2 sitting..👍🏻
Diberi oleh seseorang yang saya sendiri tak kenali. Pertama kali membaca buku yang penuh dengan puisi dan sajak semata. Penulisannya bukan kepada hendak mengagumkan pembaca, tetapi lebih kepada satu memoir. Itu apa yang dapat dirasakan daripada penulisan tersebut.
Siapa yang belum pernah merasa perit kehilangan, mungkin sukar untuk memahami. Kami bukan meratapi, bukan tidak redha, tetapi hanya rindu dan tidak minta difahami, cuma jangan dikeji.
I am kinda a literal reader so i normally can’t finish a poetry/philosophical book in one sitting. But i can for this book! Although my poetry/philosophical books reading style still applies: shouldn’t read at one go, pick up when life is hard and read a couple of pages (it’d be more relatable this way).
I mean i did read this book in one sitting, but there are some poems which content, language, context, and sentence structure that are still beyond my comprehension. Should’ve revisited these poems in the future.
My personal favourites would be Memujuk Diri, Kepingin Itu Ini, and Orang Biasa. To summarise my reading experience, grievers really share the same language: grief. It’s all dark in the first year, still as hard but only a bit lesser in the second year, and the rest of the years grief doesn’t hit as frequent although when it strikes the grief is a bottomless pit.
As how Iman Azman puts it, “it doesn’t hurt less, it hurts less often”. There is also no way to half love people, and people are all irreplaceable (unique characters and experiences). But yea nothing and no one in this world is ever permanent except Allah.