Analisis dalam buku ini sangat tepat sasaran. Untuk pertama kalinya terdapat sebuah buku yang mengaitkan peristiwa kematian rōmusha dengan aktivitas Unit Pencegahan Penyakit Epidemik dan Pemurnian Air yang sangat misterius. Sangat mengherankan bahwa ketika perang usai, peristiwa ini tidak begitu diperhatikan oleh tentara Sekutu sebagai kejahatan perang. Aiko Kurasawa, penulis Masyarakat & Perang Asia Timur Raya dan Kuasa Jepang di Jawa
Kisah yang menggentarkan ini diceritakan dengan perhatian forensik yang terperinci dan hasrat yang tak dapat disangkal, menerangi sudut suram sejarah Indonesia. Buku ini merupakan khazanah penting terhadap kurangnya literatur mengenai tahun-tahun pendudukan Jepang. Elizabeth Pisani, penulis Indonesia Etc. dan The Wisdom of Whores
Buku ini adalah pengingat akan segala dilema yg kita hadapi sbg manusia—akan kemampuan kita utk mengubah hidup org lain, menjadi baik atau buruk. 📙
Prof. Dr. Achmad Mochtar— Direktur Lembaga Eijkman menjadi sosok kambing hitam utk eksperimen gagal yg mengancam reputasi penguasa baru Indonesia, Jepang. Klişe nya, bila org2 berseragam Angkatan Darat Jepang gagal mencari kambing hitam, maka mereka akan menghadapi pengadilan perang. ⚖️
Kita juga di perkenalkan dg “Unit 731” Jepang; yaitu jaringan luas riset biologis militer, termasuk kegiatan utk kemajuan ilmu kedokteran (obat, vaksin, ilmu kedokteran pencegahan, dan higiene) serta pengembangan senjata biologis. Unit ini bekerja dibawah komando Ishii diseluruh wilayah penduduk Jepang, yaitu Tiongkok, Taiwan, Filipina, Singapura dan Indonesia yg dilakukan secara biadap dan sadis. Tentu para pemain Unit 731 dijamin kekebalan hukum oleh Pemerintah AS setelah data eksperimen tersebut di beli dg uang yg cukup besar. I mean WTF!!!🤬
Fakta bahwa rómusha—kuli/buruh kasar ternyata didukung oleh sosok Sukarno dg alasan bahwa kemenangan Jepang adalah kemenangan Indonesia juga—dengan menukul mundur dan mengalahkan penjajah kulit putih. Tentu keputusan ini dlm konteks sempit dpt dilihat sbg oportunitis dan tdk berperasaan, perhitungan yg secara umum merupakan “karakteristis dari politik berisiko tinggi”.
Dibuku ini juga sangat diterangkan bahwasannya Jepang memperoleh tenaga kerja berlimpah guna mendukung tujuan militernya plus membutuhkan manusia sbg kelinci percobaan, dan Sukarno mendapatkan dukungan Jepang dalam posisinya sbg pemimpin, disamping simpanan janji Kaisar utk memberikan kemerdekaan. 😮💨 Cukup disayangkan ketika beliau bersikeras menegaskan sosok Mochtar dan seluruh staf Lembaga Eijkman bersalah dlm pembunuhan rōmusha di Klender. Sedangkan Pak Mochtar adalah ekspresi tertinggi dari sikap tdk mementingkan diri sendiri sbg respons atas keegoisan paling ekstrem. 🧬🔬🥼
If you want to know about the war crimes in Indonesia do not waste your time and money on this book. It does devote many pages to a group of prisoners who were killed by bad tetanus serum, but the author cannot determine if this was an accidental or deliberate act. Also mentioned is the well-known fact that numbers of Indonesians were transported throughout the Pacific to work on building projects resulting it their death. The remainder of the book is filler material ranging from the fall of Singapore to lists of scientists who worked in a laboratory on Java. There is a long history about the lab from its inception. The author continuously reminds you throughout the book that one scientist was beheaded by the Japanese. At almost $19 this book is way overpriced. The only reader I can imagine it would interest would be a chemistry professor. It is dry as a college textbook. I have gotten many excellent war books from Amazon but this was a definite rip off.
Isinya menarik namun banyak pengulangan di bab-bab akhirnya sehingga terkesan membosankan namun isi buku ini membuka mata saya tentang kejadian suram di Indonesia jaman penjajahan jepang
The best researcher of the 20th century had to die at the hands of a frantic Japan on the verge of defeat in the war. Sukarno, who should have been able to save Mochtar from execution-either stupid or a liar-followed the Japanese narrative.
Sewaktu membaca bagian awal buku, isinya mengingatkan saya pada waralaba game Resident Evil.
Bukan berarti buku ini membahas tentang zombi, tetapi pihak penjajah Jepang (kebetulan juga Konami si pemilik Resident Evil juga dari Jepang) ternyata diduga melakukan uji coba vaksin yang berakhir pada kematian sekitar 900 pekerja romusha di Klender. Sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di Surabaya yang menewaskan sekitar 15 orang tahanan, namun tim penguji coba vaksin telah diadili.
Berbeda dengan kasus Klender, bukti-bukti primer telah dimusnahkan dan Kempetai mencari kambing hitam dari pihak peneliti Eijkman sebagai pelaku. Ahmad Mochtar, salah satu pimpinan lembaga Eijkman dihukum mati setelah sepakat menandatangani bukti pengakuan uji coba vaksin tetanus yang gagal. Antara Angkatan Darat Jepang, Lembaga Eijkman, Dinas Kesehatan Kota Jakarta, bahkan lembaga Pasteur saling terkait. Kaitan inilah yang coba ditelusuri oleh penulis untuk membuktikan bahwa (1) Achmad Mochtar bukan pelakunya; dan (2) kesalahan uji coba vaksin di Klender ada di pihak Angkatan Darat Jepang.
Buku ini layak diapresiasi, sebagai upaya pemulihan nama baik Achmad Mochtar--ilmuwan biomedis bumiputera pada masa pergerakan nasional. Juga sebagai penyusunan argumen bahwa yang harus bertanggung jawab dalam kejadian Klender adalah pihak Jepang, yang mana nama-nama pimpinan mereka malah dimuliakan dalam kuil Yasukuni. Namun karena terbatasnya bukti-bukti primer sejarah, penyusunan buku dilakukan dengan cek silang kejadian dengan lembaga sejenis dan terkait, serta perbandingan dengan peristiwa serupa yang sezaman di tempat lain. Konteks sejarah pun dipaparkan: posisi Jepang terhadap Amerika Serikat, persaingan antara AD dan AL Jepang, tradisi rekrutmen Lembaga Eijkman yang lebih demokratis di saat lembaga-lembaga lain masih diskriminatif, dll. Ada pula kesaksian-kesaksian dari korban tahanan Kempetai, baik dari korban langsung maupun kerabat dekat korban, yang saat saya baca rasanya ngeri dan sedih. Dari mana praktik penyiksaan tahanan oleh aparat di Indonesia ini didapat, salah satunya dari interogator Kempetai ini.
Yang perlu di-improve pada buku ini adalah soal kerangka tulisannya. Ini buku sejarah, namun tidak begitu linier karena pada beberapa titik penulis mengajak pembaca untuk melihat kejadian di tempat lain. Walaupun loose ends ini tidak terhindarkan, dan pada akhirnya pembaca akan paham kesimpulannya pada akhir buku, mungkin akan lebih baik jika pembagian babnya lebih eksplisit membahas tentang apa. Bisa juga disajikan diagram kerangka berpikir (seperti skripsi, ha!) agar pembaca paham mengapa pembahasan mengambil kelokan lebih dahulu.
Familiar ngga dengan nama Achmad Mochtar? kalau ngga, berarti kita sama. Aku baru tau setelah baca buku ini. Beliau adalah salah satu pendiri Lembaga Eijkman sekaligus dokter ternama lulusan STOVIA (cikal bakal FKUI). Kematiannya tragis, dipengg4l kepala dan (konon) mayatnya digilas dengan mesin giling oleh tentara jepang di Ancol.
KENAPA? karena beliau dijadikan tumbal cuci tangan atas kematian 900 romusha di Klender akibat vaksin tetanus tahun 1944. Sejarah yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Holocaust yang senyap dan lenyap. Banyak dokter yang meninggal dengan penyiksaan super sadis hanya karena mereka intelek.
Buku ini PADAT. Infonya seperti ditumplek jadi satu. Banyaknya repetisi dan tidak runut bikin bingung bacanya, tapi tetap aku baca sampai akhir~