Apa hubungannya Seks, Negara dan Tuhan? Seks adalah hal yang masih sering ditabukan, namun konsep Negara dan Tuhan yang konon maha kuasa, gemar sekali mengaturnya, terutama terhadap Perempuan. Perempuan-lah yang seringkali menjadi sasaran berbagai peraturan tentang pakaian dan perilaku seksual: mereka yang diharuskan menutupi anggota tubuh tertentu; mereka yang diharuskan menjaga keperawanan dan mengikuti lebih banyak aturan daripada lelaki, serta mereka juga yang lebih sering mendapat stigma.
Salah satu cara yang ampuh untuk mengontrol Manusia adalah dengan memengaruhi cara berpikir mereka lewat cerita dan kata kata. Bila akal budi manusia sudah dipenuhi oleh dogma, bila cara berpikir mereka sudah dibentuk oleh penguasa, maka ia akan dengan mudah dikendalikan untuk memenuhi tujuan tertentu.
Karena itu, jangan pernah merendahkan kekuatan cerita dan kata-kata. Dengan kata-kata-lah, manusia menyampaikan konsep, gagasan serta dogma tertentu. Dengan sebuah cerita, manusia bisa mengarahkan manusia lainnya untuk memercayai berbagai konsep dan gagasan itu. Dengan kata-katalah, manusia bisa menggerakkan manusia lain untuk melaksanakan hal-hal yang tak terduga.
Karena itu, dengan kata-kata pula, saya mencoba melawan berbagai propaganda dan dogma.
Soe Tjen Marching (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1971; umur 39 tahun) adalah seorang Indonesianis, penulis, dan feminis. Ia memperoleh gelar Ph.D.nya dari Universitas Monash, Australia dengan menulis disertasi tentang otobiografi dan buku harian perempuan-perempuan Indonesia. Ia telah diundang sebagai dosen tamu di berbagai Universitas di Australia, Britania dan Eropa.
Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai suratkabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne - Australia. Salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan oleh Antipodes, sebuah jurnal sastra terkemuka di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga seorang komponis penting di Indonesia, yang karya-karyanya telah dipagelarkan di Asia, Australia, Eropa dan Amerika. Sebagai seorang komponis, ia pernah memenangi kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998. Sebuah komposisinya, "Kenang" (2001) diterbitkan sebagai bagian dari sebuah CD, "Asia Piano Avantgarde: Indonesia" yang dimainkan oleh pianis tersohor dari Jerman, Steffen Schleiermacher. CD ini telah beredar di Amerika dan Eropa. Pada Juni 2010, karya musiknya memenangkan kompetisi Internasional avant-garde yang diadakan di Singapura.
Novel Soe Tjen, berjudul Mati Bertahun yang Lalu, diterbitkan oleh Gramedia pada akhir tahun 2010. Novel ini diilhami oleh pengalaman pribadi Soe Tjen terjangkit kanker 3 kali.
Soe Tjen Marching juga sering bekerja sama dengan suaminya, Angus Nicholls, seorang peneliti sastra Jerman di Queen Mary University of London.
Seks, Tuhan dan Negara merupakan kumpulan artikel yang ditulis dari 2001-2020. Meskipun memuat beberapa artikel lama, isu yang diangkat dalam artikel masih cukup relevan untuk dibahas pada masa kini. Terbagi menjadi tiga bab yakni Seks dan Gender, Negara dan Kekuasaan, serta Tuhan, Dogma, Agama.
Pada bab Seks dan Gender, saya suka pandangan beliau bahwa seks terlalu tabu di pandangan masyarakat terkhusus Indonesia. Ironisnya kita ada karena adanya hubungan seksual, lantas kita pulalah yang mentabukan seks. Saya rasa beliau akan setuju dengan diberlakukannya sex education. Mungkin begitulah cara beliau merespon penolakan terhadap sex education. Sebagian orang penolak pendidikan seks, mungkin mereka mengira pendidikan tersebut hanya mengajarkan how to sex, lantas khawatir akan maraknya seks bebas. Di bab ini bu Soe Tjen mengkritisi bagaimana negara begitu mengutuk seks, mengutuk orientasi seksual minoritas, serta mengutuk bahwa perempuanlah yang paling bersalah dalam kasus pornografi.
Kemudian pada bab Negara, menekankan terhadap bagaimana hak asasi manusia, sistem hukum yang bobrok serta diskriminasi. Mengenai pelanggaran HAM masa lalu seperti genosida 65, di sini penulis lebih menekankan bahwa PKI hanyalah dalih pelanggaran HAM. Memang sebelumnya pada 1920an PKI sempat melakukan pemberontakan, itu juga termasuk pelanggaran HAM. Namun, pasca kematian para jenderal, (saya masih ragu dengan dalang G30S PKI) lantas membenarkan genosida terhadap orang yang dianggap PKI.
Pada bab ketiga, membahas bagaimana dogma menyetir pikiran manusia. Menurut saya dogma atau kepercayaan sendiri saya kira bisa diyakini dengan logis, meskipun tidak empiris keberadaan tuhan itu logis. Jadi saya kesal dengan orang mengatai agama tidak bisa dilogikakan, lalu bagaimana orang-orang berdakwah menyusun kalimat kalau bukan dengan logika? Kembali ke buku, penulis mengkritisi bagaimana perseteruan serta ketersinggungan umat beragama, sampai-sampai ada UU penodaan agama yang karet. Bila agama diturunkan demi kebaikan umat manusia, mengapa banyak manusia menjadi tidak manusiawi atas nama agama?
Untuk keseluruhan, saya suka kumpulan artikel dari bu Soe Tjen, mungkin karena beliau bakalan satu sirkel jika berteman dengan saya. Pada isi setiap artikel beliau juga memaparkan data dari pro dan kontra, sehingga tidak terkesan satu arah saja. Namun, pilihan kata yang digunakan masih provokatif sehingga mungkin bakal ditolak mentah-mentah oleh orang yang tidak setuju dengannya.
Intrigued. Explicit. Menarik untuk dibahas, banyak perspektif baru terkait hal hal yang kerapkali kita jarang untuk membahasnya. Agak pendek dan kurang eksplanatif, mungkin karena ini kumpulan artikel menjadikan buku ini terkesan pendek dan terbatas. Bisa dikatakan one of the “go to” books to trigger your criticism about gender and the relatedness to Religion and state. Maybe I will read another books from the author.
Kalo baca judul aja tentu penasaran apa hubungan antara seks, Tuhan, dan negara. Dan buku ini mengupas bagaimana kaitan antara ketiga hal ini khususnya kaitannya dengan pengambilan kebijakan publik
Membahas bagaimana budaya patriarki dan kekuasaan. negara dan agama sering kali mendukung sistem patriarki yang membatasi kebebasan perempuan dan juga kelompok terpinggirkan/marjinal. Tubuh adalah privasi milik individu, bukan negara.