Ah, suka banget sama seri ini.
Gambarnya tetap menawan seperti biasa. Indah sekali. Uh. Indah. Menyenangkan sekali menatap tiap goresannya.
Jatuh cinta secinta-cintanya.
Masalahnya adalah!
Saya gak yakin bakal tetap merekomendasikan buku ini buat diterbitin di Indonesia lagi!
Setelah membaca jilid 3 ini!
Padahal sudah dibawa-bawa dan ditunjuk-tunjukin ke para editor di kantor!
Habisnya, habisnya... di jilid ini, Abang Islandia ("Kei", Gie, inget namanya dong!) dapet job dari klien yang seorang kakak (cowok) yang sedang mencari adik tirinya (cowok juga) yang sudah seminggu pergi dari rumah tanpa kabar dan alasan yang jelas. Ternyata, usut punya usut, diketahuilah bahwa si adik itu pergi dari rumah karena patah hati setelah kakaknya punya cewek.
Iya! Adiknya itu punya perasaan khusus pada kakaknya!
Meskipun mereka saudara tiri tanpa hubungan darah, tetap saja mereka sesama cowok.
Dan... di jilid ini hubungan sesama jenis (baik cowok dengan cowok atau cewek dengan cewek) (bahkan 3P), diceritakan secara gamblang--maksud saya, dengan sensor yang sesuai standar Jepang lah. Apalagi, ada tokoh yang menjelaskan pula bahwa di Islandia pernikahan sesama jenis bukan hal yang ilegal.
Begitulah.
Membuat saya jadi segan merekomendasikannya lagi untuk terbit di Indonesia.
Uuuuh... padahal ini buku bagus.
Saya juga suka gimana plot utama sudah kembali berjalan (gak mandeg kayak jilid 2 yang sudah lebih mirip buku panduan wisata di Islandia alih-alih cerita fiksi). Apalagi kasus-kasus yang ditangani Abang Kei di jilid ini mampu membuka rahasia sang adik satu demi satu. Jadi, gak ada kasus sia-sia yang cuma sekadar "numpang lewat" tanpa nyambung ke plot utama. Meskipun, memang, berjalannya plot utama masih tergolong lambat.
Kalau-kalau kalian lupa (atau belum tahu) plot utama cerita ini tentang apa, saya beri ringkasan cerita: Kei, yang tinggal bersama kakeknya di Islandia, mendadak tidak bisa lagi menghubungi adik cowoknya yang tinggal bersama paman dan bibinya di Jepang. Setelah buru-buru pulang ke Jepang, Kei menemukan bahwa paman dan bibinya telah meninggal dunia, sementara adiknya, Michitaka, menghilang tanpa jejak. Mereka pun pulang lagi ke Islandia, tapi gak lama setelahnya muncul seorang polisi dari Jepang yang datang ke Islandia demi memburu Michitaka yang dituduhnya telah membunuh paman dan bibinya.
Saya kembali menyadari alasan saya bilang gaya gambarnya mengingatkan saya pada pengarang Comic Bomber (lihat review saya di jilid 1), selain karena bentuk balon dialog, gaya rambut para tokoh, dan bentuk sosok para karakternya; caranya mengarsir celana jins juga mirip! Apakah kedua pengarang ini berkaitan? Apa mungkin Aki Irie ini pernah jadi asisten Shimamoto Kazuhiko?
Misteri!
Yang pasti, saya tetap bakal menantikan dan membaca jilid berikutnya (meskipun sudah takkan saya rekomendasikan sepenuh hati untuk terbit di Indonesia)!!
Btw, ini gak penting, tapi saya ingin menuliskannya di sini sebagai ganti buku harian (padahal sudah ditulis juga di buku harian). Saya membaca buku ini di luar--di foodcourt sebuah mal, lebih tepatnya. Tahu-tahu ada seorang ibu (bersama anak dan suaminya) yang menyapa saya gegara penasaran lihat si Gie baca buku berbahasa jepang tapi menikmati banget. Akhirnya jadi ngobrol macam-macam dan beliau minta nomor ponsel (akhirnya kasih kartu nama saja). Begitulah. Ibu-ibu kepoan banget ya /bukan gitu juga/