Jump to ratings and reviews
Rate this book

Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950—1965

Rate this book

240 pages, Paperback

First published January 1, 1986

7 people are currently reading
71 people want to read

About the author

Keith Foulcher

15 books5 followers
Dr Keith Foulcher PhD retired in February 2006 as lecturer and coordinator of the Indonesian Studies program. Before his appointment to the University of Sydney in 1996, he taught at Monash University in Melbourne and Flinders University in Adelaide. He has an international reputation for his work on modern Indonesian literature, and has been an invited speaker at various universities and associations in Indonesia, Singapore, The Netherlands and the United States.

His writings:
* "On Being a Modern Writer: Translation and the Angkatan 45" in Henri
Chambert-Loir (ed.), Translation in Indonesia (EFEO, Paris)
* "Moving Pictures: Western Marxism and Vernacular Literature in Colonial
Indonesia" in Doris Jedamski (ed), Chewing Over the West (Rodopi,
London)
* Social Commitment in Literature and the Arts: The Indonesian "Institute of People's Culture," 1950-1965 (Monash University: Centre of Southeast Asian Studies, 1986) 234 pp.
* "The Construction of an Indonesian National Culture: Patterns of Hegemony and Resistance" in Arief Budiman (ed.) State and Civil Society in Indonesia (Monash University: Centre of Southeast Asian Studies, 1990) pp. 301-320.
* Pujangga Baru: Kesusastraaan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942 (Jakarta: Girimukti Pasaka, 1991) 137 pp.
* "Literature, Cultural Politics and the Indonesian Revolution" in D.M.Roskies (ed.) Text/Politics in Island Southeat Asia (Ohio University: Center for International Studies, 1992) pp. 221-256.
* “Sumpah Pemuda: The Making and Meaning of a Symbol of Indonesian Nationhood”, Asian Studies Review (Australia) 24/3, September 2000, pp.377-410.)
* (with Tony Day, joint editor), Clearing a space: Postcolonial readings of modern Indonesian Literature (Leiden: KITLV Press, 2002)
* “Community and the metropolis: A Lenong Performance in Early New Order Jakarta”, Review of Indonesian & Malaysian Affairs (RIMA) 37/2, 2003, pp. 27-66
* “Biography, History and the Indonesian Novel: Reading Salah Asuhan”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en volkenkunde (Leiden), 161/2-3, 2005, pp. 247-268.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (27%)
4 stars
24 (54%)
3 stars
8 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
August 16, 2022
Perkenalan saya pada karya2 maestro bernama Pramoedya Ananta Toer menghadirkan penasaran pada lembaga yang mana Pram pernah berafiliasi: Lembaga Kebudajaan Rakyat (Lekra). Organisasi kebudayaan sayap kiri yang menorehkan begitu banyak karya seni & mempengaruhi budaya Indonesia pasca-kolonialisme secara luas, sebelum pembantaian 1965-66.

Akibat pembumihangusan segala jejak gerakan kiri di masa Orde Baru, untuk beberapa waktu hanya ada sedikit informasi tentang Lekra, sepak terjangnya, perang ideologinya dengan Manifes Kebudayaan (Manikebu), & dampaknya terhadap kesusastraan Indonesia. Bila ada, itu dari rival2 ideologisnya & penebar propaganda hitam atas gerakan kiri. Dampaknya, pemahaman budaya nasion Indonesia menjadi begitu homogen.

Buku rilisan Pustaka Pias terjemahan karya Keith Foulcher pada 1986 ini merupakan riset yang menyegarkan, menawarkan sudut pandang pihak ketiga. Bukan dari pihak2 penentang yang mendominasi, bukan pula dari mantan anggota yang masih menyintas. Tak ada romantisme masa lalu ataupun celaan subjektif.

Hasilnya adalah ulasan 15 tahun kiprah Lekra yang sungguh unik. Lahir dari kegelisahan seniman2 akan miskinnya dunia seni Indonesia yang pula tak lepas dari efek sisa budaya kolonial, Lekra adalah wadah bagi yang ingin menghadirkan karya kritis yang mewakili semangat antikolonialisme, aspirasi kelas buruh & tani, maupun kritik sosial yang menggetarkan hati dalam perjuangan menjadi bangsa yang bertumbuh.

Riset Foulcher lebih berfokus pada karya tulis (buku, esai, puisi, roman), namun dari situ saja sudah tampak bagaimana Lekra begitu tekun menggumuli propaganda budaya sebagai penggerak rakyat yang luar biasa, bahwa ideologi harus berimbang dengan estetika (walau kadang karena terlalu fokus ideologi, estetikanya menjadi miskin), & suara2 minoritas harus dibangkitkan.

Jelang peringatan 77 tahun Indonesia, banyak sejarah bangsa terluput. Buku ini adalah "pintu" yang baik untuk mengenali satu aspek sejarah yang dibungkam era otoriter: bahwa gerakan kebudayaan kita pernah begitu progresif, dengan segala kelebihan & kekurangannya.
Profile Image for Saad Fajrul.
120 reviews2 followers
February 22, 2021
Dalam pengantar buku yang disampaikan oleh Ariel Heryanto (dipublikasikan pada 1987), kita diingatkan bahwa selama ini pembahasan mengenai Lekra lebih banyak dibahas oleh orang yang tidak terlalu menyukainya atau oleh mereka yang dulu merupakan anggotanya.

Buku ini hadir sebagai orang ketiga yang bukan merupakan kawan maupun lawan. Dari sanalah saya berangkat untuk membaca buku ini dan mencoba memahaminya. Banyak hal yang bisa ditelaah lebih jauh lagi selama saya membaca buku ini. Buku yang bagus yang bisa membantu kita untuk mengenal sedikit lebih dalam mengenai salah satu organisasi seniman yang sangat besar di eranya.
Profile Image for Adhimas Prasetyo.
Author 3 books4 followers
January 15, 2023
Salah satu buku yang cukup penting tentang perkembangan sejarah sastra Indonesia. Dalam buku ini, Lekra diangkat bukan dengan cara stigmatik maupun heroik. Keith Foulcher, sebagai orang ketiga-meminjam istilah dari Ariel Heryanto-memaparkan bagaimana Lekra berkontestasi di tengah arena sastra di Indonesia dengan apa adanya. Buku ini menjelaskan tentang ketegangan Lekra ketika mencoba untuk merumuskan bentuk seni sastra yang memiliki komitmen sosial sekaligus dapat diterima baik oleh anggota Lekra sendiri, juga oleh masyarakat.

Terjadi pertentangan di dalam tubuh Lekra untuk mencari bentuk yang paling sesuai dengan cita-cita Lekra. Paham realisme sosialis yang diadopsi oleh Lekra pada akhirnya membatasi Lekra untuk bersaing secara estetika dengan lawan ideologisnya. Salah satu hal yang menarik dalam buku ini adalah pemaparan tentang bagaimana anggota Lekra menentang sekaligus menganggumi karya penulis yang berada di luar kelompoknya, yaitu si individualis Chairil Anwar.

Menurut saya, terjemahan dari cetakan pertama buku ini masih bisa disesuaikan lagi dalam kaidah bahasa Indonesia untuk lebih memudahkan pembaca. Selain itu masih ada beberapa salah tik yang luput dari penyuntingan.
Profile Image for Andika Pratama.
43 reviews5 followers
March 17, 2021
Bagaimana ketika kita mampu melihat sejarah perkembangan suatu Bangsa melalui mata elang atau spectator yang tidak terlibat sebagai simpatisan ataupun oposisi dari perang ideologi yang melibatkan kelompok-kelompok tertentu (seperti Lekra)? Sedari awal, di pengantar buku ini Ariel Heryanto menekankan bahwa "kisah" yang selama ini kita dengar mengenai tumbuh-kembang Lekra sebagai salah satu kantung budaya dibentuk oleh kelompok yang membencinya.

Minimnya akses terhadap bacaan yang mampu menjelaskan secara komprehensif sepak terjang salah satu kantung budaya terbesar di Asia ini membuat andil Lekra dalam perkembangan budaya Indonesia sendiri dipertanyakan. Buku ini, tentu saja, hadir sebagai tandingan dari wacana dominan yang sudah dikonstruksi sedemikian rupa oleh rezim Orde Baru selama 32 tahun masa pemerintahannya. Lekra yang disematkan dan dituduh sebagai alat propaganda politik PKI tentu saja tidak memiliki tempat dalam rentetan sejarah yang hendak dikenang pada masa itu.

Ditulis oleh Foulcher sebagai pengamat dari sudut pandang ketiga, buku ini mencoba tetap netral dan mempertahankan sudut pandang demikian dalam menganalisis dan menjabarkan rentetan waktu kejadian yang membentuk Lekra hingga pembubarannya.

Dengan gaya penulisan yang singkat, padat, dan jelas, buku ini menurut saya cukup mudah dimengerti dan menambah refrensi bacaan untuk melihat bagaimana "sejarah" Indonesia dibangun. Analisis Foulcher mengenai pandangan ideologis Lekra juga dilakukan berdasar pada data yang lengkap. Tidak cuma sampai di situ, Fouclher juga menjelaskan bagaimana penerapan ideologi Lekra yang terpengaruh oleh aliran "realisme sosialis" ala Maxim Gorky, juga aliran "realisme revolusioner" ala Mao ikut merasuk dalam praktik kerja kreatif anggota-anggotanya yang meliput Pramoedya Ananta Toer, dan nama-nama besar lainnya di masa tsb.

Membaca buku ini, kita seolah diperlihatkan bahwa penyematan julukan seperti "tukang onar kebudayaan" justru tidak tepat sasaran mengingat betapa besar andil Lekra dalam mengukuhkan kebudayaan nasional secara utuh dan bagaimana Lekra melihat bentuk integrasi antar budaya daerah dan budaya nasional itu sendiri. Semangat anti-imperialisme tentu saja mengalir dalam setiap langkah kerja Lekra yang didasari pada ideologi "realisme sosialis" yang dipercaya harus dimiliki tiap seniman guna memiliki kesadaran untuk memihak rakyat.

Foulcher tidak hanya menitikberatkan pembahasan pada corak budaya nasional, namun juga ikut andil dalam menelisik polemik yang selama ini selalu membelah arus budaya Indonesia: Lekra vs Manikebu. Dalam polemik ini, Foulcher melihat bahwa bagaimana pun corak ideologi budaya yang diusung keduanya memiliki kemiripan pada beberapa aspek, yang sebenarnya membuat Lekra dan Manikebu sebagai dua mata koin yang tidak dapat terpisahkan.

Selain itu, di dalam buku ini dihimpun pula beberapa karya sastra anggota Lekra yang selama ini terbit melalui redaksi Zaman Baru sebagai bahan perbandingan dan pengukuhan definisi dari corak ideologis Lekra yang bergeser direntang 1950-1959 dan 1960-1965. Karya-karya yang dihimpun tentu saja adalah karya "utama" yang selama ini memiliki bentuk "revolusi" estetika, baik secara stilisik (puisi) maupun struktur naratif (prosa), dengan demikian pembaca pun dapat mengerti bagaimana definisi "karya revolusioner" yang dimaksud oleh Lekra sendiri.

Suatu langkah besar menerbitkan buku ini dalam bahasa Indonesia, untuk mengembalikan lagi sejarah bangsa yang hilang.
Profile Image for Abrar Rizq.
29 reviews
January 4, 2026
Karya Foulcher ini pertama kali dipublikasi pada 1986, tahun di mana Orde Baru masih bercokol kuat. Sebabnya juga berpengaruh terhadap keterbatasan risetnya yang menurut saya belum menjangkau ke peristiwa dan detail kecil. Foulcher mencoba memaparkan komitmen sosial-politis Lekra dalam menyokong Revolusi Demokratik Proletar di Indonesia. Gagasan Lekra sangat sering dipengaruhi ideologi Realisme Sosial yang mewujudkan perjuangan kelas dan revolusi sebagai ide utamanya. Buku ini tidak hanya mengulik sejarah Lekra, tapi juga akar pikirannya dan perdebatan dengan lembaga kebudayaan reaksioner seperti Gelanggang dan kemudian Manikebu. Foulcher juga menegaskan bahwa Lekra, meskipun berafiliasi dengan PKI, adalah sebuah badan otonom yang bisa bergerak bebas dan tidak selalu mematuhi setir partai lewat propagandanya yang menandakan kemandirian Lekra. Namun, buku ini justru tidak menyinggung banyak soal genosida 1965-66 yang turut menyasar Lekra dan hanya tersentuh sepintas. Di sisi lain, saya suka ketika Foulcher meletakkan antologi puisi, prosa, dan cerpen karya budayawan Lekra yang dapat membantu pembaca untuk memahami gagasan Lekra langsung dari karya-karyanya. Adapun keberatan dalam membaca buku ini adalah penggunaan bahasa dan struktur narasi yang sangat membosankan, bertele-tele, dan kerap bikin nguap. Boleh jadi karena Foulcher memiliki gaya penulisan yang seperti itu atau justru pihak penerbit yang belum mampu menyelaraskan bahasa, karena masih banyak juga typo bertebaran.
Profile Image for Joshua.
62 reviews2 followers
January 2, 2021
Sebuah karya yang penting untuk mengenal dan mulai memahami sejarah sastra di Indonesia secara utuh. Lekra, sebagai lembaga yang memiliki tujuan dalam mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan kerakyatan hampir tidak memiliki jejak yang dapat dipelajari atau diakses secara mudah, bahkan di Indonesia dewasa ini. Kebobrokan penulisan sejarah oleh Orde Baru telah berhasil menghapus bagian penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Buku ini menuliskan kembali sejarah tersebut secara umum, luas, dan mudah dimengerti. Tidak hanya analisis penulis terhadap kronologis peristiwa yang dilewati Lekra dalam periode tersebut yang disajikan secara padat dan singkat, tetapi juga penyajian kembali karya-karya Lekra yang dianggap penulis penting dan/atau dapat diakses turut memberi gambaran kepada pembaca bentuk dari seni kebudayaan yang "revolusioner" dalam konteks Lekra.

Saya sangat berterima kasih atas kehadiran buku ini dalam Bahasa Indonesia oleh Pustaka Pias. Terjemahan masih memiliki kekurangan dengan membutuhkan pembaca untuk menyesuaikan diri dengan gaya penulisan kembali dalam Bahasa Indonesia oleh penerjemah, setidaknya ini yang harus saya tempuh dengan melewati Bab 1. Namun, melewati bab-bab berikutnya, saya kira pembaca tidak lagi akan mengalami kesulitan dalam memahami arti atau pesan yang ingin disampaikan kalimat per kalimat.
Profile Image for Fajrina Nadya.
35 reviews
February 19, 2021
Tidak ada kata terlambat untuk apapun. Seperti dalam membaca buku ini. Kita haruslah sadar bahwa Lekra adalah bagian dari sejarah kita. Penulis buku ini, Keith Foulcher, merupakan pihak ketiga yang melihat bagaimana Lekra sebagai sebuah organisasi kebudayaan. Sungguh penggambaran dan pejelasannya begitu detail dan membuat kita terperangah karena dalam zamannya, Lekra memang sebuah organisasi kebudayaan yang begitu brilian. Nama-nama dalam buku ini pun mungkin sangat familiar bagi kita semua. Sungguh buku ini haruslah dibaca untuk menambah sudut pandang baru.

Lebih jauh dari itu, yang benar-benar saya sukai adalah adanya antologi sastra Lekra. Kereeeeeennn bangettt!!! Bintang 4 untuk semua kesempurnaan ini uwuu apik tenan, terutama terjemahannya. Sungguh luar biasa!
109 reviews
April 3, 2021
"Makna sastra dan seni secara umum tidak hanya bersandar pada teks, melainkan pada makna yang dikonstruksi pada teks melalui proses sosial dan historis" (hal.193). Kalimat ini sudah cukup menjelaskan simpulan dari buku ini. Foulcher menulis dengan holistik dan kritis. Menampilkan Lekra sebagai lembaga yang progresif, tapi juga penuh polemik secara gagasan, bahkan utamanya secara internal.

Aku senang bagaimana buku ini juga menampilkan beberapa karya dari anggota Lekra. Terutama prosanya, benar-benar membuat saya menangis (sungguh!).

Wajib dibaca bagi siapapun yang tertarik dengan sejarah seni Indonesia, terutama dari segi ideologi, politik, dan kelembagaan.
Profile Image for Dimas Anggada.
48 reviews
January 28, 2025
Buku penting untuk melihat bagaimana usaha Lekra dalam merumuskan teori dan praktik "realisme-sosialis" agar mudah diterima oleh masyarakat, maupun seniman-seniman Lekra sendiri. Dari rumusan teori tersebut, sejumlah kombinasi dan simbol seperti apa para seniman bekerja lahir; dan sikap yang dikembangkan oleh Lekra menempatkan dan percaya, bahwa "rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan".
Profile Image for Audya.
4 reviews
May 20, 2021
Karya yg tepat untuk dijadikan anak pertama Pustaka Pias. Buku ini menjadi pegangan penting untuk siapa pun yg ingin melacak jejak perkembangan Lekra. Kita bisa mengetahui bagaimana Keith Foulcher membaca dan menuliskan kembali sejarah organisasi ini secara detail serta berimbang.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.