Buku untuk materi siaran tanggal 23 Maret 2009. 23+3+2009=2035 2+0+3+5=10 10 Matahari???? Nggak, saya lebih suka angka 9 daripada angka 10, jadi 9 Matahari saja ya.. *mulai maksa bin nggak nyambung mode on*
========================================
Matari Anas punya cita-cita ingin meraih gelar sarjana. Apa daya, kendala ekonomi menjadi persoalan utama. Maklum, biaya pendidikan di Indonesia sangatlah mahal. Tapi tekadnya sudah kuat (dalam bahasa saya sih nekat) untuk kuliah di Bandung, Ilmu Komunikasi jalur yang dipilih. Pinjam sana-sini, terkumpullah modal kuliah yang dicukup-cukupkan untuk bisa berangkat ke Bandung dan kuliah. Di Bandung, kendala finansial tak juga teratasi, kerja paruh waktu hanya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya kuliah memaksa jumlah hutang semakin bertambah, menumpuk. Para penagih hutang datang, terusir dari tempat kos karena menunggak, ditambah masalah keluarga membuat Matari jatuh sakit, stress, depresi, hingga berusaha bunuh diri (hehehe..bahasanya dangdut banget ya).
Akhirnya, Matari bisa mewujudkan impiannya jadi seorang sarjana meski masih menyisakan hutang dalam jumlah yang cukup banyak. Tapi masalah-masalah yang dihadapinyalah yang membuat dia bertemu dengan orang-orang yang tepat untuk membantunya dalam pembentukan karakternya, menjadi matahari yang menjadi penerang keluarga dan lingkungannya. Matari ingin menjadi 9 Matahari yang ingin selalu berproses menuju kesempurnaan dalam menerangi orang-orang disekitarnya, terlebih keluarganya.
Biaya sekolah yang mahal memang menjadi kendala bagi kalangan menengah ke bawah untuk mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Biaya pendaftaran, uang SPP, uang gedung, uang buku, serta pungutan-pungutan lainnya membuat orang tua meringis. Padahal, biaya hidup yang semakin melonjak telah lebih dulu membuat pusing. Banyak anak-anak yang putus sekolah dan terpaksa menjadi buruh pabrik, pengamen, pengemis, dan pekerjaan “kasar” lainnya, bahkan ada yang sampai nekat bunuh diri karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya dalam masalah biaya pendidikan. Bahkan ketika punya kesempatan untuk sekolah, fasilitas sekolah yang sangat tidak memadai masih saja “menggoda”. Gedung sekolah yang rubuh, meja-kursi yang reot, ruang kelas yang tidak mencukupi untuk menampung jumlah murid yang segambreng, kekurangan guru, kadang gurunya ada tapi kurang berkualitas, dan masih banyak masalah lagi. Bahkan di Malang, siswa-siswi sebuah sekolah harus tarik-tarikan kursi dengan pengrajin yang bermaksud menyita kursi-kursi sekolah yang belum dilunasi pemerintah kabupaten setempat. Tidak heran jika pengangguran bertambah karena tersandung tingkat pendidikan serta keahlian dan keterampilan yang tidak memadai. Maklum di negeri ini, gelar masih menjadi jaminan “mutu”. Padahal kan gelar bisa dibeli, iya toh…!!!
Atas masalah ini, pemerintah ada dimana? Tenang, ada kok. Di APBN 2008, anggaran pendidikan sudah mencapai 15.6% meskipun Undang-Undang mengamanatkan 20%. Tapi, seharusnya sih bisa tercukupkan seandainya dana pendidikan tersebut tidak bocor, mungkin karena terlalu banyak pos yang harus diisi, akhirnya rakyat juga yang jadi korban. Ada juga yang namanya BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang sepertinya tidak juga banyak membantu. Padahal, ada kebijakan WAJIB BELAJAR 9 TAHUN. DIWAJIBKAN kok….HARUS BAYAR sihhh???? Seperti janji-janji kampanye pilkada beberapa waktu lalu yang ingin menggratiskan biaya sekolah, kok tidak kedengaran lagi setelah masa pilkada lewat? Belum lagi dengan munculnya UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) tahun lalu yang mendapatkan protes keras dari kalangan mahasiswa. Katanya sih, BHP ini membuka kesempatan untuk mengkomersialisasikan pendidikan. Makin mahal dong….kalau sudah berhubungan dengan komersialisasi, biasanya akan berhubungan juga dengan mekanisme pasar. Selanjutnya, ya terserah pasar…. Walaupun beberapa pihak mengatakan kalau BHP ini malah akan meningkatkan profesionalisme guru. Tapi kalau biaya pendidikan makin mahal, ya sama saja…
Tapi, sudahlah…agitasinya disudahi saja. Semoga dengan naiknya anggaran pendidikan di APBN 2009 menjadi 20%, bisa membuat rakyat dari kalangan bawah mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Dan, cukuplah Matari saja yang berhutang untuk meraih gelar sarjananya, hehehe…PEACE, Matari the fighter!!
Membaca buku 9 Matahari karya Adenita ini, cukup melelahkan buat saya. Ceritanya dari awal sampai akhir terasa datar-datar saja. Meskipun ada intrik-intrik di dalamnya, tapi kurang di-“hiperbola” sehinga membuat letupan-letupan (halllahhhh, malah saya yang hiperbola). Tema ceritanya mirip dengan Laskar Pelangi, jalan ceritanya juga dibuat dalam mozaik-mozaik seperti dalam Laskar Pelangi. Terus, beberapa nama samaran yang digunakan kok terdengar jadul ya? Seperti nama kampus, nama radio. Kenapa tidak menggunakan nama yang sebenarnya? Bagi yang tidak merasakan perjuangannya Matari, cerita ini mungkin akan menjadi sesuatu yang mengagumkan, ya memang mengagumkan sih. Tapi berhubung saya juga pernah kuliah sambil kerja, ehhh…apa kerja sambil kuliah ya, kisah ini jadi terasa biasa-biasa saja. Saya tidak sampai berhutang lho…karena saya lebih mengutamakan sisi rasional daripada emosional, HARAP DICATAT!!! :D
Tapi bagaimana pun juga, 9 Matahari bisa memberikan inspirasi buat pembacanya, terutama buat anak-anak manja yang menyia-nyiakan kesempatan kuliahnya hehehe… baca deh, mungkin jadi malu dan terinspirasi untuk segera menyelesaikan sekolah atau kuliahnya. Tenang, tenang, jangan emosi bang, ucapkan selamat membaca saja!!!
Saya terpaku, sejenak setelah saya menamatkan 9 Matahari. Pipiku mulai basah oleh butiran-butiran bening. Memori saya terlempar pada kejadian 5 tahun yang lalu.
Ya Allah... ini rangkaian kisah yang pernah saya lalui dulu...
9 Matahari Sebuah novel karya Adenita yang bercerita tentang perjuangan seorang gadis bernama Matari untuk bisa terus melanjutkan kuliah di tengah kesulitan ekonomi. Semangatnya yang berdarah-darah untuk bisa menuntut ilmu di bangku kuliah membuatnya harus pontang-panting mencari nafkah demi kelangsungan hidup dan impiannya. Sungguh novel yang indah, inspiratif dan sarat akan makna.
Beberapa kisah Matari adalah de javu kehidupan saya di penghujung tahun 2005. Ketika saya dihadapkan pada konflik yang sama. Semangat saya yang sempat menggebu-gebu untuk bisa bertahan di bangku kuliah akhirnya harus terpatahkan oleh keterbatasan biaya. Kala itu hancur remuk segala asaku. Hingga saya tak berani lagi untuk bermimpi. Cukup sudah, pikirku saat itu. Saya merasa seluruh perjuangan saya sia2. Hingga akhirnya waktu mampu mengobati lukaku dan aku bisa kembali berdiri dan bermimpi hingga saat ini.
Tapi Matari beruntung banget. Dia punga kegigihan dan semangat yang luar biasa hebat dalam mengatasi segala kendala dan menyikapi segala permasalahan. Hingga dia mampumeraih impian dan cita-citanya.
Berbahagialah kalian yang bisa kuliah tanpa harus pontang panting mencari biaya, jangan sia-siakan segala fasilitas yang ada teruslah belajar dan berkarya. Bagi Matari Matari lain di luar sana especially for my little sister tetap semangat dan terus berjuang, jangan pernah menyerah dan putus asa.
The things always happens that you really belive in, and the belief in a thing make it happen.....
Pertama kali melihat novel ini saya jatuh cinta dengan covernya. merah menyala dengan tulisan 9 matahari. Penasaran dengan cerita yang akan disajikan oleh Adenita. Novel ini bercerita tentang perjuangan seprang mahasiswi untuk kuliah di tengah himpitan ekonomi. Ya, semacam jamur yang tumbuh di musimnya, buku ini muncul saat buku-buku tema pendidikan menjamur setelah Laskar Pelangi laris manis di lapangan.
9 Matahari menyuguhkan kisah yang akrab di telinga kita. Kisah perjuangan gadis yang jatuh bangun harus membiayai kuliahnya sampai akhirnya berhasil.Cerita yang mungkin kesannya biasa, tapi percayalah banyak pesan saat kau membaca buku ini.
Kisah dan alurnya bagus, tapi kurang greget. Ceritanya datar kurang bergejolak dan membuat pembaca tergoda melompati beberapa bagian langsung ke akhir cerita. Itulah kenapa saya hanya memberi rating 2 untuk buku ini. Kurang greget begitu saya menyebutnya. Bagaimana dengan anda?
Begitulah, semangat belajar berbanding terbalik dengan ketersediaan dana. Ok, ada dana pemerintah, tapi berapa persen yang bisa terjangkau? Saya percaya sekali pendidikan bisa meningkatkan kehidupan seseorang, memutus rantai kemiskinan. Tetap harus ada orang yang membantu disaat para pejuang pendidikan terbentur tembok tebal.
Buku, seperti halnya manusia, hal pertama yang biasanya berhasil merayu hati untuk lebih mengenal adalah penampilannya. Selain judul dan pengarang, juga resensi dari pembaca sebelumnya, yang biasanya menerbitkan seleraku untuk membawanya pulang dari rak di toko buku adalah kaver dan endorsement. Nah, dua hal inilah yang menjadi motivasiku mengajak 9 Matahari ke rumah. Kavernya cantik, sederhana, dan elegan. Membaca halaman belakang, bertambah takjublah aku dengan paragraph-paragraf endorsement dari para publik figur yang bertebaran. “Wah, jaminan buku bagus nih,” batinku yang kemudian tak ragu menggerakkan tangan mencomotnya satu.
Satu hal yang tak kupertimbangkan, yang biasanya kulakukan, aku membaca resensi atau sekedar komentar dari pembaca sebelumnya, atau jika perlu membuka sampul plastik dan membaca beberapa paragrafnya secara acak. Dua kebiasaan itu entah mengapa tak kulakukan yang kemudian berbuah penyesalan. Penyesalan? Ya. Karena harapanku yang melambung akan buku ini justru kandas di halaman-halaman awal.
Tema utama yang diusung buku ini adalah perjuangan seorang gadis untuk mencapai mimpinya menjadi seorang sarjana. Berasal dari keluarga yang terpuruk secara ekonomi sejak pencari nafkahnya keluar dari pabrik tempatnya bekerja tak membuat Matari Anas, demikian nama tokoh itu melepaskan mimpinya. Segala cara ditempuh, termasuk hutang untuk melanjutkan sekolahnya itu. Ketika akhirnya dia berhasil diwisuda, hutang—atau investasi—demi kuliahnya itu mencapai 70 juta. Nilai yang teramat besar dan nyaris tak masuk akal bagaimana dia berhasil memenejnya—untuk menghindari para penagih dan gali lubang tutup lubang--setiap hari, setiap bulannya.
Novel ini terdiri dari 40 bab yang termasuk prolog dan epilog berdiri sendiri, tak saling berkaitan. Inilah yang membuat novel ini lemah, mudah sekali untuk diletakkan sebelum selesai dibaca. Selain bahasanya yang membosankan, nyaris tak ada konflik di novel ini. Datar.
Membaca novel ini kita seolah membaca diary, biografi atau apapun istilahnya dari si pengarang itu sendiri. Sayangnya, entah mengapa, seolah ada jarak antara pembaca (dalam ini saya) dengan si tokoh.
Yang sedikit kuat di cerita ini adalah settingnya yaitu kota Bandung. Sayangnya, itu juga jadi nilai minus saat digabungkan dengan nama-nama universitas, atau apapun yang coba tengah disamarkan penulis namun terbaca jelas jejaknya oleh pembaca. Jadinya lucu dan wagu. Alangkah indahnya jika si penulis menuliskan dengan benar nama-nama televise, universitas tempat dia meraih sarjananya itu, atau apapun yang coba dia samarkan. Toh, tidak ada unsur penghinaan atau maksud menyinggung pihak-pihak di dalamnya. Mungkin dengan begitu akan terasa lebih hidup.
Tentang editing, ada dua salah ketik yang saya temui yang sepertinya remeh tapi cukup mengganggu. Apalagi salah ketik itu salah satunya saya temukan justru di awal membacanya yaitu di Ruang Bersyukur yang ditempatkan di bagian belakang, di halaman 354.
Membaca buku ini saya teringat Epigram karangan Jamal. Temanya nyaris serupa yaitu perjuangan idealisme tokoh aku. Sebuah usaha yang bagus untuk memberi pencerahan pada pembaca, hanya caranya kelewat membosankan seolah tokohnya berjarak dari dunia nyata. Sempat terlepasnya idealisme si tokoh kurang tergali secara emosional sehingga yang tampak di permukaan adalah genggaman yang senantiasa erat, tak tergoyahkan oleh apapun rintangan di depan. Kataku, terlalu sempurna.
Yang mungkin membuatku lebih rasional dan kurang berempati—eufimisme dari sinis--pada perjuangan si tokoh adalah karena aku pernah juga merasakan sebagai mahasiswi yang juga pekerja plus calon ibu dengan bayi di kandungan. Sebelumnya, merantau lintas propinsi selepas SMP tanpa sanak keluarga yang bisa dijadikan tumpuan di tanah harapan.
Apapun itu, selamat buat Matari (atau Adenita ) yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya. Good job. Hanya, akan lebih indah kalau lain kali novel semi biografinya lebih didramatisasi.
Oke, 2.5 bintang! Ada tiga hal yang membuat saya tertarik untuk membeli dan kemudian membaca buku ini. Pertama, cap best seller di cover depan buku beserta embel-embel nominasi finalis muda terbaik pada salah satu lomba bergengsi di tanah air, dan yang terakhir komentar-komentar dari orang-orang terkenal di cover belakang buku ini. Saya baca sekilas sinopsisnya pun cukup menarik, ekspektasi saya tinggi, saya berharap saya bisa mendapatkan novel motivasi semacam laskar pelangi atau negeri 5 menara. Belum lagi saat itu, saya membaca status adik kelas di facebook yang mengutip sepenggal kalimat dari novel ini, cukup memotivasi memang.
Tapi, ternyata isinya tidak seperti yang saya harapkan. Saya merasa seperti membaca diary si penulis, karena novelnya sangat sangat deskriptif dan naratif. Ya kali, kalau novel kayak Princess Diary nya Meg Cabot mah lain cerita. Agak membosankan, belum lagi penulis mencoba menyamarkan nama-nama universitas di Bandung, dengan menyarukan nama aslinya, tapi tetap aja ketebak sama pembaca, ya maksudnya saya, dan it sounds really lame.. Kenapa gak pakai nama asli aja? toh yang diceritakan juga yang baik-baik kan? Latar belakang si tokoh utama juga agak mirip sama penulisnya, saya jadi curiga jangan-jangan si tokoh utama ini alter ego nya penulis hihihii
Anyway, terlepas dari alur yang membosankan, novel ini juga syarat pesan dan makna. Terlihat, dari cara penulis yang berusaha menanamkan bahwa energi positif itu sangat penting (well, mirip-mirip konsep the secret lah :p). Trus, perjuangan si tokoh utama untuk lulus kuliah juga hebat sih, tapi ada beberapa cerita yang saya temukan agak sedikit kontradiktif, seperti misalnya si tokoh utama mengatakan bahwa dia anak yang biasa-biasa ajah, tapi di satu bagian, dia bercerita bahwa dia saat SD dia selalu juara kelas, dan saat SMP atau SMA pernah memenangkan perlombaan-perlombaan yang cukup bergengsi, entah maksud penulis mencoba merendah kali yah :p atau mungkin karena perjalanan hidupnya yang benar-benar berat, secara materi dan finansial, yang kemudia menjadikannya seperti itu. Well, apapun itu, buku ini walau membosankan tapi tetap layak untuk dibaca.
Baru baca buku ini karena pinjem dari temen. Dan . . .
Membaca buku ini sungguh melelahkan sehingga saya melewati beberapa bagian dari buku ini. Ceritanya datar and a bit common. Memang sedikit memberi motivasi buat mahasiswa yang kuliahnya leha-leha. tapi menurut saya banyak orang ko yang mengalami apa yang dialami Matari. Hanya saja menurut saya matari terlalu mempertahankan idealisme dia. Menurut saya penulis di buku ini seperti menceritakan kehidupan dia, dijalan yang dia mau. contoh: saat dia mendapat tawaran MC menggantikan seniornya dengan bayaran yg lebih tinggi dari gajinya sedangkan besok UTS tapi bahannya banyak.
Sebenarnya kalau dia bilang dia pintar, dia tidak mungkin belajar SKS alias sistem kebut semalam, dia pasti tidak menumpuk pekerjaannya dan lebih memilih tetap berhutang walaupun dia ada kesempatan untuk membayarnya tanpa mengorbankan UTSnya karena dia sudah belajar jauh-jauh hari. Jadi penulis pengennya matari terlihat idealis sebagai anak yang pandai lebih memilih belajar daripada bayar hutang. Tapi kalau kita bisa melakukan keduanya kenapa tidak? karena membayar hutangpun merupakan sebuah KEWAJIBAN bagi yg berhutang.
Akh, sebetulnya banyak yang saya tidak mengerti dengan jalan pikiran matari yang terlalu idealis dan tidak realistis. jadi ceritanya menurut saya terlalu maksa untuk membentuk sosok matari sebagai seseorang yang idealis, pintar, multitalented, tapi dibuat berkontradiksi *maksa* dengan hutangnya dan keluarganya. tapi hutangnya seperti "ghaib" karena dia tidak pernah berusaha jauuuhhh lebih keras membayar hutangnya.
Sekarang banyak kok mahasiswa yang walaupun kuliah reguler tapi bisa menghasilkan duit dengan mencari peluang misalnya berjualan dikelas..
Ini cuma opini saya loh.. sorry kalau banyak judgement :)
Novel ini menceritakan perjuangan seorang Matari Anas (alter ego Adenita?) yang berusaha menjadi seorang sarjana dengan cara apa pun, termasuk berhutang.
Saya tertarik membaca buku ini karena covernya yang bagus dan endorsement yang luar biasa di bagian belakang bukunya. Ada nama menteri segala! (Bpk. Hatta Rajasa) Tapi kok gak ada ringkasan ceritanya ya? Kesannya jadi cuma mengandalkan iklan aja.
Bagian awal buku ini menceritakan perjuangan Matari masuk ke universitas dan masalah-masalah yang dihadapinya. Sebenarnya bagian awal dari buku ini cukup menarik untuk dibaca, namun sayang begitu masuk ke bagian tengah kualitasnya menurun drastis.
Banyak banget cerita yang nampaknya diadaptasi dari kisah nyata tapi proses adaptasinya kurang baik, sehingga kesannya cuma ditempel aja ke cerita utama. Transisi cerita dari kuliah -> CTV itu juga jelek banget, kesannya gak nyambung gitu, maksa dimasukin.
Ditambah lagi dengan banyaknya paragraf yang kesannya teoritis banget, kesannya jadi gak kaya lagi baca novel fiksi. Sayang ya, menurut saya novel ini gak bisa dapat nilai sembilan... :)
“ Impianku… oh aku sudah memberikannya nyawa. Aku menghidupkannya dalam hari-hariku. Ketika membuka mataku saat mengawali hari, aku menyapanya. Seperti aku menyapa matahari. Ketika beraktivitas, aku biarkan dia menyelusup ke dalam hatiku, mengintip perasaanku, dan membiarkannya berteriak bahwa ia menungguku. Aku meletakkannya dalam takhta tertinggi di pikiranku. Mengalirkan lewat darahku. Membiarkan semua partikel dalam tubuhku merasakan sensasinya. Aku biarkan tanganku meraba sebentar seperti apa wujudnya. Merasakan setiap detail keindahannya. Aku biarkan hasratku berkembang pesat.
Tumbuh…tumbuh menjulang tinngi
Menyentuh langit, mendekati matahari
Impianku seperti pohon yang menjulang tinggi. Puncaknya menembus awan. Tapi akarnya menancap tanah. Aku membiarkan impianku itu tertanam jauh dalam hatiku. Ragaku ada di bumi, tapi kubiarkan jiwaku melesat, bersamanya jauh… kuikuti ke mana pun ia bermain.
Terbang…terbanglah melayang tinggi…
Seperti layang-layang yang diulur dan menari di atas sana
Kubiarkan dirimu meliuk dilihat semua mata…sampaikan bahwa aku ada ! “
I think everyone who read the list of important figures who recommend this book will eventually be convinced to buy this book. Some legit names could be found in the back cover of this book with their long words of recommendation. I fell for that. The story is about a girl who work really hard to continue her study despite her hard financial situation. The idea isn't bad, just a bit common, but i believe that even an inane idea have potential to be developed to a great story, it's just the matter how the writer nurture it. I gave props to the writer because it seems this story is a semi autobiography, but i'am sorry i really couldn't bring myself to finish this book. At times, the story become unfocused and roaming into several other things that actually have nothing to do with the main plot. I found some inconsistencies here and there, and i reached this point where i have no willpower left in me to continue read this book...
Matari, perempuan yang berjuang untuk menyelesaikan studinya. Beberapa waktu lalu, heboh di media tentang seorang perempuan juga yang berjuang keras menyelesaikan kuliah dan menghidupi dirinya hingga menderita sakit. Perjuangan yang begitu tragis, sampai-sampai dia harus memotong cepak rambutnya dan menyamar sebagai seorang lelaki hanya untuk dapat memperoleh pekerjaan yang merupakan pekerjaan kasar seperti buruh bangunan dan kernet bis kota. Heboh cerita gadis ini mengingatkanku akan buku ini, ternyata kisah seperti ini tidak hanya ada di buku fiksi, malah kisah nyata lebih menyedihkan.
Usaha, kerja keras , pengorbanan dan yang terpenting doa merupakan modal utama Tari untuk meraih mimpi-mimpinya. Tentu saja, disamping itu semua, dukungan keluarga dan sahabat menjadi pendorong untuk tetap berjuang.
sesuatu bila kita niat dengan sungguh-sungguh, pasti akan mendapat jalan yang di atas. makannya jangan pernah berhenti bermimpi, berusaha dengan langkah yang diridhoi-Nya. mstsri memulai langkahnya dari impiannya. impiannya yang selalu dikejarnya. tak pernah ia mengejar, mengejar matahari. dan juga pembentukan karakter. pembacaan karakter dan juga penilaian karakter. pembelajaran untuk mencapai suatu titik yang disebut kepercayaan diri dan juga kemampuannya untuk mengasah soft skills. that's great! learn not only from the book but also from the life kayaknya pas buat buku ini. :D
motivation book yg bkin q semangat 45 kembali. q jadi ngerasain lagi masa2 berjuang ketika kuliah dulu. meski nasib q sangat lebih beruntung dari matari, tapi perjuangan demi mendapat nilai terbaik dan memperjuangkan mimpi begitu mengena. buat semuaaa orang yg merasa kehabisan peluru semangat, buat semua orang yg merasa mimpix tertampik lingkungan, ingat, kalian tak sendiri. ada banyak saudara seperjuangan yg sedang sama2 brjuang demi mimpix masing2. jadi kalo aku, mereka bisa tegar, kenapa kalian tidak?!!! hehehe...
Agak gimana sama buku ini. Dibeli karena mati gaya buku yang dicari ga ada semua dan Toga Mas lagi diskon (bayangkan, biasanya udah diskon sekarang di-diskon lagi!) maka "mewajibkan" diri untuk nyamber beberapa buku. Idenya memang lagi "in", semacem "5 cm" dan senyawa sama "laskar pelangi" cuma masih mentah banget cara bertuturnya, dan ternyata setelah saya baca bio pengarangnya, walaaah persis banget sama kisah hidupnya. Jadi ini biografi toh. Satu poin yang bikin saya (makin) nggak suka. Overall, ya boleh sih dibaca tapi saya nggak merekomendasikan :)
Saya mendapat banyak pencerahan dari buku ini. Sudut pandang Matari mengenai pendidikan dan bagaimana semangatnya untuk meraih impiannya memacu saya untuk terus belajar dan meningkatkan kreativitas, juga membuat saya bersyukur atas apa yang saya punya hari ini. Banyak quote yang bisa diambil dan pelajaran yang harus dicatat dari buku ini. Cara penulisannya yang seperti buku harian atau jurnal mungkin agak membosankan bagi sebagian orang. Tapi menurut saya, itu adalah cara penulis untuk lebih mudah menyampaikan nilai moral dan pandangannya kepada pembaca.
novel motivasi yang cukup memotivasi, hehe. di mata saya lebih terlihat seperti pengalaman nyata sang penulis (apa emang iya?) karena terkadang ada bagian yang diceritakan sangat detail, padahal ga penting (menurut saya, :p)
keseluruhan, bukunya bagus dan asyik dibaca apalagi novel ini sebagian besar berlatarbelakangkan kampus saya #ups
saya jadi mengingat kembali semangat saya untuk berkuliah, diingatkan untuk bersyukur akan kemudahan pendidikan yang telah saya dapatkan selama ini.
cocok buat anak kuliah atau akan kuliah untuk jadi refleksi diri :)
Buku ini katanya Best seller dan sayapun tertarik, ternyata.. oho, saya seperti membaca artikel, dengan alurnya yang agak membosankan, ngebuat saya jenuh dan capek. Saya ngos ngosan baca buku ini, klimaksnya nanggung, dan endingnya juga nanggung. Novel ini sempat saya anggurin sekian lama padahal belum setengahnya saya baca. Agak nyesal juga sih beli buku ini, mirip-mirip ceritanya sama novel tetangga :D.
2 Bintang untuk kisah matari dan perjuangannya. *dikeplak penulis
Orang hebat adalah orang yang bisa bersalaman dengan kesulitan. Jadi, kalau kamu lagi punya kesulitan, hadapi! Jangan takut.. Ibaratnya, kamu sudah memutuskan untuk menceburkan diri ke sungai, maka pilihannya adalah terus berenang sampai ke tepian dan meraih semuanya. Menyerah bukan pilihan untuk hidup, karena menyerah hanya akan membuat kamu tenggelam di tengah sungai dan mati tanpa diketahui orang.
Dari awal cerita dibuat sedikit bertele- tele, jadinya lumayan tebal dech, alur nya datar banget. Tapi di satu sisi buku ini sarat dengan pesan moral yang mengajarkan bahwa sesuatu yang sudah kita punya harus disyukuri dan dijaga baik- baik, karena nggak semua yang kita dapat dirasain ama orang lain. Well,buat penulisnya makasih atas pesan moralnya.
Sudah sejak lama saya membaca buku ini. Sangat bagus. bercerita tentang orang yang memiliki komitmen dengan mimpi dan cita2nya. Saya agak berkaca-kaca juga saat membaca bagian yang berhubungan dengan orang tua. Saya jadi ingat bagaimana saya dulu kuliah sambil bekerja. Agak susah membagi waktu, namun alhamdulillah semua bisa dilalui.
waaaah, buku ini hebat banget. buku ini menceritakan tentang keinginan seorang anak yang mempunyai sebuah mimpi menjadi seorang sarjana. padahal kondisi keluarganya sangat tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahnya. tapi dengan kegigihan dan tekad yang kuat, Matari berusaha semaksimal mungkin agar mimpinya itu bisa terwujud.
novel ini mengajarkan pada saya bahwa dengan tekad dan semangat yang kuat apa pun pasti bisa kita raih, tentu saja dengan didampingi restu orang tua. halangan apa pun yang menghadang di depan jika kita sudah punya tekad yang kuat dan Tuhan mengizinkan pasti kita bisa meraihnya. :) jangan pernah patah semangat, karena semangat dan doa adalah modal awal kita untuk menjadi orang yang lebih maju
Novel yang inspiratif tentang seseorang yang tidak pernah berhenti berjuang untuk bisa sekolah meski dengan segala keterbatasan yang ada. Kata-katanya menggugah bahkan kadang mengharukan.
Novel ini cukup menarik untuk dibaca, meski ditengah cerita alurnya sangat lambat bahkan membosankan.
Begitu menyentuh halaman 20, langsung proses ke ending, dan tutup buku. Ini lebih ke curhatan yang dibukukan. Alurnya loncat-loncat dan cuma bisa mengernyit pas satu event pindah ke event lainnya tanpa ada jeda atau narasi yang jelas.
Pesan moral novel ini bagus sihh.... tapi kok rasanya nggak ngena ya... lebih terkesan seperti diary pribadinya si Matari, hampir nggak mengajak pembaca masuk ke cerita sama sekali.