Pak Sukur sangat disegani di kampung. Bukan, bukan karena beliau pejabat atau borjuis. Tapi sebagai penggali kubur, beliau bisa memudahkan atau menyulitkan proses penguburan seseorang. Contohnya ketika Darman meninggal. Pak Sukur menggali kuburannya semudah menyendok nasi dari panci, seolah bumi pun turut membantunya. Hal ini karena Darman memang terkenal baik hati dan dermawan. Sebaliknya, saat kakak Darman yang meninggal, warga kampung melihat sendiri bagaimana tanah kuburan menjadi sekeras batu walau Pak Sukur sudah bekerja dari pagi hingga sore. Semua warga berdiri di sisi liang yang digali, mencari dan menyebutkan (dengan susah payah) kebaikan yang pernah dilakukan kakaknya Darman. Namun tanah tetap keras bergeming, sampai akhirnya Pak Sukur mengalah dan berkata, "dia pernah membuat istriku sangat bahagia. Dia pernah membuat istriku bersemangat menjalani hari-hari yang berat bersamaku." (-hal. 22). Akhirnya kakaknya Darman berhasil dimakamkan dengan lancar, dan warga kampung terpaksa menyimpan rapat-rapat rasa penasaran mereka terhadap cerita perselingkuhan istri Pak Sukur dengan kakaknya Darman.
Mungkin kamu akan mengernyit membaca sinopsis di atas. Ini kumcer sastra atau Majalah Hidayah? Tapi banyak cerpen dalam buku ini memang bersinggungan dengan sisi mistis. Namun demikian, gaya berceritanya sangat mengalir dan menyihir dengan pemilihan kata-kata yang apik . Sedangkan sisi mistisnya, ada bagian yang kuanggap sebagai metafor dari jeritan batin seorang manusia. Boleh kan?
Kisah Pak Sukur yang bisa mengukur bobot dosa seseorang hanya satu dari 13 cerpen memikat dalam buku ini. Kalian akan membaca tentang anak perempuan yang bisa menjelma menjadi binatang, dibawa ke pedalaman Irian Barat, mengunjungi koridor sarang kelelawar penuh berisi arwah, dan cerita-cerita lain yang membuat perasaan teraduk dan pikiran mengembara