Bagaimana para leluhur kita mengajarkan kebaikan, kasih sayang, kerendahan hati, kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab? Mereka melakukannya dengan mendongengkan cerita secara lisan kepada anak cucu.
Buku ini berisi 15 dongeng hewan dari wilayah Indonesia Timur. Sebagian besar menceritakan persahabatan hewan yang cerdik dengan yang bebal, yang lemah dengan yang kuat, dan yang rendah hati dengan yang sombong.
Selalu suka membaca dongeng-dongeng dari Indonesia, seperti mengingat masa kecil yang indah ✨ Berisi 15 cerita fabel dari Indonesia Timur, buku ini bukan saja cantik tapi juga menarik untuk dibaca. Ada banyak dongeng di sini yang tokohnya memang seringkali sama, digambarkan sebagai sahabat, digambarkan pula sebagai musuh dan lawan. Dongeng favorit di sini? Putri Naga, tentu saja 🐲
Desain layout bukunya luar biasa cantik. Namun kisah-kisah di dalamnya untuk saya terasa kering. Pembaca tak sempat merasa empati pada tokoh, cerita sudah keburu berganti. Dengan tema hewan yang serupa, penulis mestinya bisa membuatnya tak monoton.
Dongeng dari Indonesia Timur • Lukas Atakasi • Dewi Trik (Ilustrasi) • Elex Media Komputindo • 2019 • 112 hlm.
Aku suka membaca dongeng sejak cilik. Kini, aku juga kerap kali menyodorkan buku dongeng untuk anak-anakku lantaran dongeng selalu menyodorkan amanat melalui cerita yang menarik. Buku ini berisi lima belas dongeng dari Indonesia Timur. Dilahirkan dan dibesarkan di sisi barat Indonesia membuatku penasaran dengan cerita-cerita yang hidup dan diturunkan dari generasi ke generasi di sisi lain negeri ini.
Semua cerita dalam buku ini menggunakan hewan sebagai tokohnya. Kita akan disuguhi cerita tentang persahabatan hewan antara yang cerdik dan yang bodoh, yang lemah dan yang kuat, atau yang rendah hati dan yang sombong. Beberapa di antara ceritanya juga melibatkan manusia di dalam interaksinya.
Hal yang menarik dari buku ini adalah kosa kata bahasa daerah yang digunakan dalam narasi, dialog, atau nama panggilan para tokohnya. Namun, jangan khawatir, penulis juga menyertakan makna tiap katanya pada catatan kaki. Secara tidak langsung, hal ini bisa menambah pembendaharaan diksi kita.
Beberapa cerita dalam buku ini sudah pernah kubaca dalam versi yang sedikit berbeda. Contohnya, cerita lomba lari antara Kahumbau (kerbau) dan Kadingke (sejenis kerang laut) atau Rusa dan Kulomang sangat mirip dengan cerita lomba lari antara Kelinci dan Kura-kura. Cerita Ntapaapo dan Kadondo juga mirip dengan kisah Hua Lo Puu. Namun, dongeng memang seperti itu, bukan? Sering kali kita akan menemukan kisah serupa dengan berbeda nama tokohnya saja.
Sepanjang membaca buku ini, aku dimanjakan dengan ilustrasi penuh warna. Ilustrasi yang disuguhkan begitu menarik dan mampu mendukung cerita. Tidak heran, karena baik penulis ataupun ilustrator kerap meraih penghargaan atas karyanya. Aku jadi penasaran dengan karya mereka lainnya, nih!
ceritanya banyak yang lucu, apalagi cerita putri naga wkwkwk. ada salah satu pembaca yang review katanya ceritanya terkesan kering, belum sempat berempati sama tokohnya, tapi udah pindah cerita lagi. setuju kalau yang bilang ini pembacanya adalah orang dewasa. sebaliknya, jika cerita ini dibaca atau dibacakan kepada anak-anak, saya rasa mereka akan menganggap sebaliknya. justru terlalu panjang dan bertele-tele kadang bisa membosankan. gak monoton sama sekali kok, asal usulnya mudah dicerna dan pesan moralnya bisa tersampaikan dengan baik. ilustrasinya juga cantik dan lucu lucuu. sukakkk🌸🌟🌸🌟
ilustrasinya kece, ceritanya sebenarnya dongeng anak banget kayak cerita si kura dan monyet atau kancil dan monyet gitu, ada dua cerita yang mirip beda tokoh, hmm gitulah...