Jump to ratings and reviews
Rate this book

Happiness In Blue

Rate this book
Berwajah datar, ketus, dan pelit bicara. Walaupun sering dicap begitu, Yuki tidak peduli. Yang penting masih ada satu-dua orang yang selama ini selalu mendukungnya di sekolah. Sayangnya, salah seorang dari mereka malah pergi meninggalkannya sebelum lulus SMA. Yuki pun belajar giat agar bisa mengejar sosok itu ke Universitas Tokyo. Melihat kegigihannya, orang-orang di sekitar Yuki pun tergerak untuk membantunya mencapai tujuan itu. Namun ternyata, perjuangan Yuki bersama orang-orang itu malah membuka banyak rahasia dan luka lama yang belum terselesaikan. Begitu tujuannya semakin dekat, Yuki malah melambatkan langkahnya karena ragu. Sebenarnya, apa sih yang ia cari selama ini?

288 pages, Paperback

Published October 5, 2020

2 people are currently reading
21 people want to read

About the author

Janice Chrysilla

3 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (9%)
4 stars
11 (50%)
3 stars
9 (40%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,441 reviews73 followers
July 2, 2024
Well, it's a decent story. Sederhana, rapi. Meski tidak ada lonjakan istimewa dalam plotnya, entah kenapa tidak terkesan cheesy. Manisnya pas. Setidaknya aku bisa bertahan membaca buku ini sampai tamat dalam waktu dua hari tanpa banyak mengeluh.

Tokoh utamanya adalah Yuki Kuroda, seorang gadis SMA dingin berekspresi datar yang tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain. Di awal cerita dia berhasil membuatku antipati karena ulahnya yang menghindar dari tugas mengerjakan piket di kelas. Tidak ada penjelasan mengapa karakternya jadi seperti itu. Lingkungan keluarga yang membesarkannya (dan barangkali memengaruhi sifatnya yang demikian) pun sama sekali tidak disebut-sebut. Temannya hanya satu, Mamoru, seorang anggota klub band. Mereka bisa berteman karena Mamoru yang gigih mendekati Yuki ketika mereka jadi teman sebangku. Dalam cerita ini, keduanya sudah kelas tiga. Tapi ini bukan kisah tentang Yuki dan Mamoru.

Yuki pernah punya senior di klub gitar bernama Hideki. Hidekilah yang membuat Yuki jadi tertarik untuk belajar gitar meski pengetahuan musiknya tadi sama sekali nol. Jika ada satu hal yang jadi kelebihan Yuki, itu adalah kegigihannya. Dia bisa diterima oleh para anggota klub karena kegigihannya belajar gitar meski kemampuannya biasa saja. Hingga Hideki lulus, Yuki tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Hideki. Tapi karena Hidekilah ia jadi ingin masuk Tokyo Daigaku (Toudai) atau Universitas Tokyo, Jurusan Liberal Arts. Tujuannya tentu saja untuk mengejar Hideki.

Namun, siapa sangka nilai ujian serentaknya di mata kuliah Fisika malah turun di kelas 3. Padahal, untuk bisa masuk kampus seelit Toudai, jelas butuh kemampuan akademik yang tidak main-main. Yuki sampai memutuskan keluar dari klub gitar demi bisa fokus belajar. Secara tak sengaja, ia mendapati bahwa alumni sekolah itu yang kini bekerja sambilan di perpustakaan, Nobu, mengajukan proposal les gratis untuk anak-anak kelas 3 pada sekolah. Yuki pun meminta tolong Nobu untuk mengajarinya agar nilainya bisa naik. Tak disangka, Nobu malah meremehkan Yuki. Kesan pertemuan pertama mereka sama sekali tidak baik.

Namun, karena melihat kegigihan Yuki belajar, Nobu akhirnya tergerak untuk membantunya. Perlahan hubungan mereka membaik. Kehadiran Nobu pun lambat laun menggeser keberadaan Hideki di hati Yuki. Namun, ketika ia sedang dekat dengan Nobu, tiba-tiba Hideki menghubunginya via LINE sehingga Yuki pun jadi bingung dengan perasaannya sendiri. Yuki pun akhirnya mengetahui bahwa Nobu sebenarnya mendapat beasiswa ke Inggris. Tapi dia menunda berangkat karena ingin menabung sebelum berangkat ke sana, dan karena hubungannya dengan mantan pacarnya masih membebaninya. Sang mantan memutuskan Nobu karena tak bisa LDR.

Berbagai permasalahan hati yang dihadapi Yuki tanpa ia sadari kemudian mulai mengubah karakternya yang dingin jadi sedikit lebih luwes dalam berekspresi. Cerita ini tentang bagaimana seharusnya cinta seharusnya tidak menjadi penghambat impian, melainkan seharusnya justru mendukung cita-cita demi meraih masa depan yang cerah.

Ada beberapa hal yang kupertanyakan saat membaca cerita ini:

1. Yuki ternyata punya akun LINE Hideki dan mereka mutual friend. Jadi, kenapa Yuki tidak menghubungi Hideki saja dan malah memendam sendiri perasaannya selama bertahun-tahun? Bukannya diceritakan bahwa hubungan mereka di klub gitar itu lumayan akrab?

2. Meskipun digambarkan sebagai murid yang rajin, dikatakan bahwa Yuki tidak suka meminjam buku di perpustakaan karena perpustakaan adalah tempat yang ramai dengan para siswa yang belajar. Aku sempat menangkap bahwa dia tidak menyukai buku di sini. Tapi kalau dia tak menyukai buku, kenapa dia justru senang pergi ke kafe buku Words & Wonders dengan alasan kafe itu menawarkan koleksi buku yang beragam?

3. Nobu lagi butuh uang buat nabung ke Inggris, kan? Tapi kenapa dia malah bikin proposal buat ngasih les gratis? Apa untungnya buat dia? Btw, Nobu dapat beasiswa buat kuliah di jurusan apa sih? Seingatku enggak disebutkan, deh.

Sebenarnya aku mengira cerita ini akan didominasi perjuangan Yuki masuk Toudai sehingga aku mengharapkan informasi lebih soal Toudai dan sistem ujian masuknya seperti yang ada di dorama Dragon Zakura, haha. Tapi ternyata yang dominan malah kisah cintanya. Ya tak apa lah.

Sejujurnya aku bukan penggemar cerita yang murni hanya bercerita tentang kisah cinta saja. Kisah cinta yang kukonsumsi selama ini biasanya punya keunikan plot, konflik, hingga para karakter yang memiliki passion atau profesi yang seluk-beluknya diceritakan secara spesifik. Buatku, cerita yang hanya melulu bercerita tentang cinta itu dangkal. Seolah urusan manusia itu cuma cinta-cintaan saja. Aku akan lebih menghargai jika para karakter di dalamnya digambarkan mengejar passion atau misi tertentu di samping mengejar cinta.

Nah, dalam cerita ini, baik Yuki maupun Nobu sama-sama memiliki impian yang mereka perjuangkan. Tapi, sebagian besar isi ceritanya lebih banyak didominasi soal urusan hati keduanya. Impian mereka tidak dijabarkan secara lebih spesifik. Namun, anehnya aku sama sekali tidak menganggap cerita ini dangkal. Mungkin ceritanya bisa dibilang standar, cenderung datar, tanpa pergolakan konflik dan plot yang besar. Namun, bagiku cerita ini masih layak untuk dinikmati. Atmosfernya cerita dan para karakternya tenang dan terkontrol dengan baik. Sebagian besar adegannya didominasi adegan Yuki yang belajar mandiri atau dengan ditemani Nobu dan Nobu yang bekerja sambilan. Interaksi mereka pun bisa dibilang wajar. Ada konflik pun tak berlarut-larut. Meski Nobu digambarkan pernah menghindari Yuki setelah ditanya apakah dirinya memikirkan masa depan ketika mengutarakan perasaannya pada Yuki, akhirnya dia memutuskan untuk tidak menghindari cewek itu ketika Yuki mencarinya. Apa karena ini ya aku menganggap cerita ini cukup bermartabat? That's why in the beginning of my review I said that this is a decent story.

Bagian favoritku? Tentu saja waktu Yuki membuat cara yang unik untuk menjawab perasaannya Nobu. Agak dramatis, sih. Ada bagian yang rada aneh seperti bagaimana dia dengan mudahnya memohon agar bos Nobu meliburkannya dari kerja sambilan dan bagaimana dia bisa membuat kafe mereservasi rooftop hanya untuk mereka berdua (padahal Yuki tak digambarkan sebagai orang kaya yang mampu melakukan itu semua). Tapi yang penting tetap terasa unik dan manis bagiku. Setidaknya ada effort lah untuk membuat adegan ini jadi tidak terkesan biasa-biasa saja.

Kulihat penulisnya ini suka mengambil latar Jepang dalam tiap karyanya. Aku belum mencoba membaca dua novelnya yang lain. Mungkin lain kali aku akan mencoba mencicipinya. Aku menunggu perkembangan Janice Chrysilla. Penasaran apakah di masa depan dia nanti bisa membuat cerita berseting Jepang dengan konflik dan plot yang lebih menantang.
Profile Image for Fillea Ivy.
30 reviews1 follower
January 3, 2025
sesuai anjuran untuk berbuka puasa dengan yang manis manis, maka mari kita buka tahun 2025 dengan bacaan yang manis juga
ceritanya ringan, enak dibaca apalagi waktu menuju akhir tahun kemaren sempet di fase reading slump. terus baca ini bikin fresh
Profile Image for Daryun Mayfushi.
3 reviews
January 10, 2024
Good enough, alur ceritanya cukup bisa ditebak. Akan tetapi penyajiannya cukup menarik dari sudut pandang keduanya, ada beberapa bagian yang kadang buat melting untuk usia remaja - dewasa hahahah.
Profile Image for Jessy Willy Pramestie.
153 reviews1 follower
May 25, 2024
Ini buku kedua karya dia yang sudah kubaca and I love it, novel romance khas Jepang yang heart warming juga ringan. Cocok untuk mengisi kesenggangan. Aku beri 4,5/5 bintang
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.