Suamiku memiliki kebiasaan sebelum tidur. Ia harus makan malam lengkap dengan sambal cobek di atas ranjang. Aku sebetulnya agak kewalahan dengan kebiasaan ini. Tapi sebagai istri, aku harus menuruti keinginan suamiku. Istri idaman adalah perempuan yang pandai membuat sambal, begitu pernah ibuku berpesan.
Aku tak pernah tahu kalau sambal juga termasuk afrodisiak. Suamiku mengaku, setiap kali melahap sambal buatanku, ia selalu ingin bercinta denganku.
*
TENNI PURWANTI, seorang jurnalis, menghadirkan kisah-kisah perempuan dalam kumpulan cerita pendek perdananya, Sambal dan Ranjang. Tentang pergolakan perempuan, kesehatan mental, dan trauma. Ceritaceritanya ibarat sambal, pedas, gerah, tetapi membuat ketagihan dan minta tambah.
Tenni Purwanti is a reporter who has been based in Jakarta since 2011 until now. Her short story Joyeux Anniversaire* was selected by Kompas Short Story Anthology 2014. She is one of 16 Emerging Indonesian Writer at Ubud Writers and Readers Festival 2015.
Belakangan ini kita dibikiin geram (sekaligus sedih) dengan kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan. Sebegitu susahnya kita mendobrak stigma negatif dan kultur patriarki yang sudah mendarah daging.
Bacalah Sambal & Ranjang karya @rosezephirine yang berisi 16 kumcer tentang lika-liku perempuan. Ceritanya kebanyakan pelik: tentang perempuan yang butuh "restu" suami kala ingin berbisnis sambal, tentang perempuan yang ingin dihamili tanpa menikah karena nggak mau menduplikasi kegagalan pernikahan orangtuanya, tentang keinginan untuk melepaskan hubungan dari keluarga toksik, dsb.
Latar belakang dan kepribadian tokoh-tokoh di dalamnya pun juga dihadirkan beragam. Senang rasanya berkenalan dengan tokoh yang penurut sekaligus pembangkang, yang bodoh karena cinta, yang buta karena harta, yang berani beda karena tuntutan sosial, yang nggak mikirin stereotipe/cap nakal hanya karena merokok, minum alkohol, ke night club (it doesn't make us less pious/less solehah, sister), yang nggak peduli dengan konstruksi sosial wanita mesti berhijab, dan seterusnya.
Penulis bukan cuma mengajak pembaca untuk menyelami pergulatan batin perempuan dengan dirinya sendiri atau dengan lawan jenisnya. Ada juga perempuan yang mau tak mau harus melawan sesama perempuan. Kupikir ini begitu menarik. Karena pada dasarnya setiap individu perempuan memang spesial. Membaca buku ini rasanya pengin misuh-misuh sendiri (bahkan kadang pengin toyor tokohnya). Benar ternyata, Sambal & Ranjang ini pedasss.
Cerita yang berkesan: 1. Menghamili Reisa - menghadirkan anak ke dunia tuh ternyata nggak main-main. 2. Candid - sumpah, si Masnya turned me off banget. 3. Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa - ending-nya manis banget
Sedikit catatan, aku merasa beberapa cerpen terkesan dipaksakan dan kurang nendang sehingga berakhir pada sebuah kesimpulan rasa, "Eh, udah gitu doang?". Di sisi lain, entah kenapa penulis juga senang sekali menjadikan tokoh-tokohnya berprofesi atau bekerja di media, terutama sebagai wartawan. Mungkin bisa eksplorasi pekerjaan lainnya?
Namun, patut kuacungi jempol untuk tema-tema yang diangkat. Selain bisa jadi bahan diskusi, semoga mampu mewakili kisah para perempuan (meski aku yakin masih banyak yang dapat ditulis di kemudian hari).
Buku ini adalah pembuktian bahwa perempuan bukan melulu soal sumur, dapur, kasur. Buku ini adalah obat waras agar kita terus melawan dan pantang mundur.
Sebenernya udah selesai dari minggu lalu, tapi karena hectic banget jadi baru nulis review. So, here we go!
Sambal dan Ranjang ini kumcer yang kebanyakan cerpennya menceritakan wanita, baik dari sudut wanita atau sudut orang lain. Meski kebanyakan menceritakan wanita, kumcer Sambal dan Ranjang memiliki tema yang menurutku cukup beragam; mulai dari kesehatan mental, hubungan cinta, korupsi, feminisme.
Yang bikin menarik dari kumcer ini adalah sudut pandangnya nggak hanya orang ketiga atau orang pertama, tapi ada juga orang kedua! Selain itu juga, karakter utamanya nggak melulu manusia; ada dinding sama tikus juga! Daaan, di cerpen berjudul Sambal dan Ranjang, beneran ada resep aneka sambal. Worth to try perhaps?
Cerpen favoritku berjudul Tikus, menceritakan seekor tikus mencari sisa makanan di rumah seorang koruptor. Cerpen ini tuh kayak sindiran gitu, meski berujung sedih dan sadis.
Overall, kumcer Sambal dan Ranjang ini bagus. Penulisannya juga bagus. Aku merekomendasikan kumcer ini but with cation ya.
Cerpen ini underrated. Padahal isinya sangat luar biasa. Saya mengetahui novel ini dari podcast Spotify. Isinya mengenai feminisme, mental health. Disampaikan dengan sangat indah oleh penulis. Tidak membosankan. Cerita2nya menarik dan penuh pembelajaran.
Sebagai salah satu pembaca yang kurang sreg dengan kumcer, karya Tenni ini lumayan mematahkan ketidak cocokan ku kali ini. Suka sekali dengan setiap cerpen yang di sajikan karna menyajikan berbagai makna kehidupan. Kalau disuruh milih, ga bisa soalnya punya daya tarik masing2. My rate 4,5/5🌟👏🏻
Membaca kumpulan cerita pendek selalu menarik buatku karena mendapatkan banyak cerita dalam satu buku.
Dan yang seringnya terjadinya adalah ada cerita yang sangat bagus, tapi biasanya ada cerita yang biasa-biasa saja. Begitu pun buiu ini.
Kumpulan cerita di Sambal dan Ranjang ini lebih banyak menyoroti tentang perempuan, tentang kesendirian, tentang patriarki, tentang persamaan hak, trauma, dan kesehatan mental.
Beberapa cerita yang aku suka di antaranya Rosa Alba, Sambal di Ranjang, Menghamili Reisa, Candid, Gadis Yang Memeluk Dirinya Sendiri, Salma dan Salwa.
Secara keseluruhan kumpulan cerita ini bagus dan memuaskan. Cuma yang kurang adalah beberapa cerita memiliki tema dan rasa yang mirip.
Cerita yang paling unik dan menarik jatuh ke cerita Sambal di Ranjang (makanya cocok buat judul buku ini) dan Menghamili Reisa.
Sejak pertama kali disiarkan penampakan sampulnya di media sosial, saya sudah kepincut. Lucu beud.
Kumpulan cerpen ini berisi 16 judul dengan tokoh yang mayoritas perempuan. Kalaupun bukan, pasti isu yang diangkat tetap perihal perempuan. Pembaca akan dilibatkan dalam pemikiran-pemikiran perempuan dalam berbagai situasi dan kondisi. Mulai dari perempuan yang mendamba cinta hingga gila, korban pemerkosaan, anak pejabat negara, ibu rumah tangga yang memulai usaha, perempuan lajang di usia kepala tiga, sampai perempuan yang trauma dengan cinta.
Tenni menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris yang kita pakai sehari-hari seperti kata online, wedding organizer, googling, masterpiece dan tidak memaksanya untuk dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia baku. Kelebihannya, pembaca akan lebih mudah mengikuti dialog. Kekurangannya, jelas terasa lebih ngepop. Tapi, yah, mungkin Tenni lebih mementingkan suaranya didengar pembaca daripada harus bermain diksi dan tidak mengena.
Kelebihan lainnya, sebagai wartawan, Tenni menyelipkan kejadian-kejadian mutakhir yang jadi perbincangan publik dalam narasinya. Ketika saya membaca, saya langsung mengetahui bahwa cerita tersebut didasari berita beberapa tahun lalu. Hal yang menarik karena biasanya karya sastra selalu beririsan dengan peristiwa besar, seperti zaman pra-kemerdekaan, pemberontakan PKI, lengsernya Soeharto, dan sebagainya. Sejauh pengalaman saya membaca, sangat jarang fiksi yang dihubungkan dengan berita viral yang hanya akan populer sesaat.
Antara satu cerpen dan lainnya tidak ada perbedaan yang signifikan. Maksudnya, ada satu judul yang sangat berkesan sedangkan yang lain tidak. Hal yang lazim ditemui di kebanyakan kumpulan cerpen. Semua judul terasa sama dalam tema dan gaya penulisan. Bukan bererti jelek, tetapi lebih ke perbedaan situasi tokoh dan konflik saja.
Cerita-cerita feminisme yang diusung Tenni juga tidak terasa ekstrem, dalam artian tidak ingin menundukkan laki-laki atau merasa tidak butuh laki-laki. Dalam hal ini saya membandingkan dengan Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita. Alih-alih pesan yang saya tangkap adalah tuntutan kesetaraan antara 2 gender dalam hal apapun dan juga keinginan sebatas untuk dipahami sebagai perempuan.
Akhir-akhir ini memang isu gender dalam sastra Indonesia mencuat kembali dan terasa lebih panas. Para penulis perempuan menggugat dominasi penulis laki-laki dalam rimba sastra Indonesia. Begitu pula dengan karya-karyanya yang dinilai misoginis. Sebagai pembaca yang tak tahu menahu dapur dunia penulisan, saya baru sadar bahwa gender penulis adalah sebuah isu. Cerita yang banyak mengeksplor kegagahan seorang lelaki juga merupakan isu. Bagi saya, kembali sebagai penikmat, adalah tak masalah siapa penulisnya, laki-laki-perempuan, tua-muda, pemenang penghargaan-bukan pemenang, yang penting karya yang dihasilkannya mampu "menjadi kapak dalam lautan beku dalam diri kita", seperti kata Kafka. Buktinya, saya menikmati buku ini yang ditulis oleh seorang perempuan dengan tokoh yang kebanyakan perempuan, sama seperti saya menikmati Teh dan Pengkhianat yang ditulis oleh seorang laki-laki dengan tokoh yang kebanyakan laki-laki.
menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk di hari perempuan sedunia🥹🤍🌷
kumcer yg membawa isu sosial ttg feminis, patriarki, standar ganda, kesehatan mental, dan tentang perempuan.
ada bbrp cerpen yg lumayan triggering, so make sure kl mau baca ini dalam keadaan yang (setidaknya) baik🥲 so far enjoy bgt baca kumcer ini, pdhl awalnya udah skeptis krn mengira bakal kurang bagus eksekusinya, tp ternyata sangat bisa dinikmati dan diserapi cerita2nya💋 page turner bgt krn tiap cerpennya ninggalin 'sesuatu' (imo)
ingin peluk semua perempuan di dunia🫂❤️🩹 selamat hari perempuan sedunia!
Salah satu buku kumpulan cerpen yang menurutku cukup menarik, apalagi covernya. Disini terdapat 16 cerpen dimana 15 diantaranya bercerita tentang Perempuan. Utamanya tentang Perempuan kuat, patriarki, dan mental health juga. Dari 16 cerpen tersebut, aku paling menyukai Candid, Menghamili Reisa, dan Surat untuk Anak Perempuanku.
Buku ini pertama kalinya aku baca via ipusnas, nggak nyangka kalau cuma 188 halaman tapi sangat amat padat isinya. Seperti blurbnya, buku ini adalah kumpulan 16 cerpen yang mengisahkan tentang para perempuan dalam menghadapi trauma, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan atas kasus perselingkuhan dan ketimpangan kuasa berdasarkan gender yang menjamur dalam msayarakat kita.
Ada beberapa cerpen yang ceritanya aku suka dan membuat marah serta haru. Namun ada juga beberapa diantaranya yang menurutku terlalu berlebihan dan menganulir banyak hal yang tidak seharusnya. Aku tidak berani menjudge sang penulis dengan mengatakan kurang riset dsb, namun harapanku adalah semoga banyak pembaca yang tidak serta-merta menelan hikmah-hikmah dan fenomena di tiap cerpen yang ada.
Btw, sudut pandang atau POV dalam buku ini berbeda-beda ya. Ada yang dari sudut pandang orang pertama, ketiga bahkan kedua! Amazing. Aku juga suka pemilihan kata yang dirangkai oleh penulis karena cukup mencandu.
Ada 3 cerpen favoritku dari buku ini: 1. Sambal di Ranjang, wah cerita ini sih yang paling favorit. Aku rasa banyak nih orang yang relate dengan kasus sepaasang suami istri di cerpen ini. Bagaimana stigma bisa membuat seseorang memiliki sifat narsistik, superirority complex dan insecurity dalam sekaligus. 2. Menghamili Reisa. di sini kita diajak berperang dengan logika dan perasaan. Perempuan tangguh dan laki-laki yang luar biasa dengan pemikirannya. 3. Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, wah kalau ini lebih nyerempet ke mental health banget. Soal trauma dan penolakan terhadap banyak hal.
Sebenarnya buku ini bisa banget dibaca dalam sekali duduk, namun karena ada banyak distraksi akhirnya baru kueselesaikan dalam waktu 5 hari hahahha.
3.5/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Wahh, buku ini adalah penyelamatku dari reading slump sebulan belakangan ini. Walau aku agak bersusah payah menamatkan buku ini karena reading slump-ku.
Setelah menamatkan buku ini, aku baru sadar kalau hampir seluruh cerpen di buku ini berbicara soal perempuan, terutama permasalahan-permasalahan perempuan. Ada perempuan yang meninggal karena diperkosa, ada perempuan masih menyimpan luka akibat trauma yang tak kunjung sembuh, ada perempuan yang memilih untuk mengakhiri hidupnya, dan masih banyak kisah perempuan lainnya.
Semua makna yang ada di setiap cerpen ini sangat jelas dan mudah dipahami. Aku bener-bener enjoy waktu baca buku ini. Peluk dan cium untuk Kak Dee yang udah ngasih rekomendasi buku ini 😣💖.
Buku yg bisa di baca sekali duduk. Tadi ada waktu luang hanya beberapa jam, memilih membaca ini dan ulalala aku berhasil menyelesaikannya. . Ini tuh kumcer dan ada 16 judul, semua bercerita tentang wanita dan stigma tentang wanita yg selalu mengikutinyamenghantui tiap wanita walau memang benar stigma, penilaian bahkan sindiran tsb terkadang datangny dari sesama wanita juga. Membahas ttg kekerasan fisik maupun non-fisik yg di alami wanita bahkan lelaki juga ada yg mengalaminya.. Aaahhh dampak patriarki masih se-rumit itu. Semua cerpennya punya kisah yg mengharukan.
Ulasan berikut merupakan ulasan yang pernah gw muat di akun instagram @faisalchairul . "Punya anak itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Itu tanggungjawab seumur hidup. Jangan karena keegoisan kamu ingin punya anak maka kamu menghadirkan satu manusia di dunia ini dan kemudian tidak tahu bagaimana bertanggungjawab terhadap kehidupannya. Banyak manusia seperti itu." (hlm. 43). . "Saat aku sedang menulis surat ini, seorang istri di Bali sedang kesakitan karena kakinya ditebas dengan parang hingga putus oleh suaminya. Alasannya, hanya karena cemburu. Seorang perempuan lain di Tangerang menanggung malu karena ditelanjangi, dipukuli dan dibawa berkeliling oleh warga akibat dituduh berbuat mesum dengan pasangannya sendiri. Perempuan 14 tahun di Kendari diperkosa bergilir oleh 14 laki-laki. Perempuan lain di Jakarta dihujat karena keputusannya melepas jilbab. (hlm. 17). . 👦: "Seharusnya kamu menyalahkan ibumu. Ayahmu benar. Kalian adalah keluarga bahagia sebelum ibumu memutuskan untuk kembali bekerja. ... . Kalau ibumu tidak kembali bekerja, pertengkaran-pertengkaran itu tidak akan ada." 👩: "Kalau ayah saya tidak merasa kerdil melihat kesuksesan ibu, pertengkaran-pertengkaran itu tidak perlu ada." . 👩: "Mas yang harus mengubah sudut pandang patriarki, Mas." (hlm. 88). . "Lalu, pejabat-pejabat kepolisian cuma ngasih statement khusus untuk perempuan agar berhati-hati, menjaga diri, jangan pakai pakaian seksi, jangan pulang malam, pastikan pintu terkunci, jangan bawa orang asing masuk kamar dan sebagainya. Bukan mengultimatum laki-laki agar tidak melakukan kejahatan seksual karena penisnya akan dikebiri." (hlm. 141) . "Jadi benar kan, kalau laki-laki selalu gonta-ganti pasangan dianggap hebat, tapi kalau perempuan dianggap murahan." (hlm. 164). . Enam belas cerita pendek dlm buku ini hampir seluruhnya menggunakan sudut pandang perempuan. Menunjukkan betapa selama ini sistem yg sdh mengakar di masyarakat ternyata menghasilkan tdk sedikit masalah. Betapa selama ini kita selalu terpaku pd satu sudut pandang dan lupa utk melihat dr sudut pandang lain. Tentang apapun. Tentang memiliki anak. Tentang kejahatan seksual. Tentang stigma dan stereotipe. Tentang budaya patriarki. Tentang self-diagnosed mental issues.
Sambal dan Ranjang adalah salah satu kumcer di 2020 yang bersanding dengan Pengukur Bobot Dosa: Kumpulan Cerita, keduanya sama-sama bagus. Penulis dengan gaya bercerita yang khas menyajikan cerita pendek yang menarik buat khalayak pembaca.
Khusus di SDR, dari cerpen-cerpen awal, saya langsung terkait dengan gaya bercerita Tenni. Kemudian setelah sempat terhenti beberapa saat, saya akhirnya menamatkan kumcer di hari diskusi Baca Rasa Dengar.
Tema-tema cerita yang dihadirkan sangat relevan buat masa sekarang. Tenni memang "seolah" sedang mengkhotbahi pembaca akan stigma negatif perihal kesehatan mental, korupsi, dsb namun bukankah cerita adalah medium pembawa pesan/informasi yang mudah diterima.
Satu lagi yang membuat SDR menurutku mudah untuk dinikmati adalah keahlian penulis menyajikan rekaan karakter yang immerse dalam cerita juga jalinan cerita yang tak tertebak.
Direkomendasikan untuk peminat cerita pendek, pembaca umum hingga pembaca isu-isu perempuan.
Sambal dan Ranjang merupakan buku kumpulan cerpen. Sebagian besar cerpen di buku ini mengangkat isu-isu "keperempuanan". Jujur, ketika membaca buku ini saya kurang dapat feelnya. Topik yang dibawakan sangat bagus, namun entah mengapa saya merasa kurang nendang dalam mendeliver idenya.
Tidak banyak cerita yang berkesan dan mampu saya ingat dari buku ini. Salah satu cerita yang saya ingat adalah Misteri 12 April. Sebenarnya awal saya membaca cerpen ini rasanya biasa saja. Namun, setelah mendekati ending saya merasa cukup puas dengan maksud yang ingin disampaikan. Seorang perempuan yang telah lama menjadi korban pelecehan seksual yang ternyata ia pun tidak menyadarinya. Hal yang sangat dekat dengan realitas bukan?
Selain Misteri 12 April; yang saya ingat dan berkesan adalah cerpen yang tidak lain berjudul sama dengan judul buku ini. Yap, Sambal & Ranjang. Awalnya saya merasa aneh dengan kebiasaan yang dipilih untuk medeliver cerita ini Haha. Tapi ternyata, ada pesan lain yang ingin disampaikan. Saya benar-benar marah dan ilfil (wkwk) ketika mendengar alasan suaminya yang tidak mengizinkan si istri membuka usaha sambal. Hal ini menurut saya juga sangat dekat dengan realita, dimana laki-laki tidak ingin perempuan menjadi lebih hebat darinya dengan mengembangkan bakat yang mereka punya. Ya semacam takut tersaingi dan takut tidak dihormati (hadeh).
Ketika membaca buku ini saya juga teringat dengan Kitab Kawin karya Laksmi Pamuntjak. Topik yang dibawakan hampir sama yaitu tentang keperempuanan. Namun, buku ini kalau menurut saya versi lebih softnya Haha. Kalau kalian suka dengan buku Kitab Kawin, saya sangat rekomendasikan untuk baca Sambal dan Ranjang ini.
Beberapa cerpen di buku tampak sangat menonjol sehingga beberapa cerpen lainnya terasa tenggelam karena disajikan dengan masalah serupa dengan karakterisasi yang hampir mirip satu sama lain. Meskipun begitu tema cerpen-cerpennya yang provokatif membuat buku ini sangat wajib dibaca perempuan agar merasakan bagaimana perjuangan perempuan yang tertindas atau bahkan terpinggirkan di buku ini, pun laki-laki harus membacanya agar semakin sadar untuk menghargai perempuan-perempuan terutama di negeri ini yang sistemnya sangat tidak mengedepankan kesejahteraan perempuan.
Sebenarnya cerpen-cerpennya sangat potensial jika diedit lebih dalam lagi. Sayang tidak. Yang saya dapatkan secara pribadi kemudian saat membaca adalah seperti diceramahi dan disodorkan terus-menerus dengan fakta yang disampaikan dengan kurang halus. Jujur, hal itu sangat mengganggu karena saya merasa seperti harus diluruskan dan dididik. Padahal, saya yakin cerita fiksi mampu melakukan hal tersebut dengan cara yang lebih luwes tanpa terkesan menceramahi.
Sebuah buku kumpulan cerita pendek yang aku baca di ipusnas. Punya segudang plot twist tiap akhir ceritanya dan tentunya cerita yang aku suka ada pada pemeran utama alias sambal dan ranjang.
kumpulan cerita menarik mengenai konflik-konflik yang dialami oleh perempuan. pengemasan ceritanya sangat apik. aku hanya agak gemas dengan beberapa kosakata nonbaku yang dipakai oleh penulis.😺
Jika kamu terlahir sebagai seorang perempuan, apa yang terbayang di benakmu begitu tumbuh besar? Baju warna-warni? Pernak-pernik lucu untuk menghias diri? Bagaimana jika ketika dewasa kamu dihadapkan bahwa dunia tidak selalu berwarna-warni, sebagaimana hiasan rambut yang kamu kenakan dulu? Apa reaksimu ketika harus menerima berbagai paksaan hingga kekerasan dari orang di sekitar?
Seperti itulah kira-kira gambaran dari kisah-kisah yang tersaji dalam Sambal & Ranjang. Jangan buru-buru protes dengan judulnya yang terkesan 'panas', karena jika kamu berpikir kisah-kisah dalam buku ini mengandung unsur-unsur vulgar, tebakanmu salah. Buku karya Tenni Purwanti ini menyuguhkan 16 cerpen yang hampir keseluruhannya mengangkat isu perempuan dan kehidupan di sekitarnya. Dari sekian banyak kisah, ada tiga cerpen yang cukup menarik perhatianku: Sambal di Ranjang, Candid, dan Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa.
Sambal di Ranjang mengisahkan tentang seorang istri jago masak yang sambal racikannya begitu digemari sang suami. Saking sukanya, sebelum tidur suaminya selalu minta disiapkan makanan plus sambal. Sambal itu pun akan menjadi bekal sang suami saat dinas ke luar kota. Hingga suatu hari, saat sang istri mendapat tawaran bisnis untuk menjajakan sambal buatannya, ia harus memilih antara keinginan mengembangkan potensi atau suami yang menganggap bahwa sambal racikannya hanya boleh dinikmati suaminya seorang.
Candid berkisah tentang seorang fotografer dan modelnya yang secara diam-diam saling menyimpan rasa, namun tak tersampaikan. Hingga suatu saat mereka bertemu lagi, perasaan-perasaan itu terbongkar dan menyadarkan bahwa begitu banyak perbedaan prinsip dan pemikiran yang mereka miliki, baik mengenai hubungan hingga harga diri seorang perempuan.
Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa mengisahkan seorang laki-laki yang jatuh hati pada seorang perempuan. Meski mengetahui bahwa perempuan itu adalah korban pelecehan seksual, laki-laki itu menerima sang pujaan hati dengan lapang dada. Ia bahkan berusaha agar perempuan yang kemudian menjadi istrinya itu bisa merasa nyaman dan sembuh dari trauma masa lalunya.
Dari kisah-kisah dalam Sambal & Ranjang, kita akan menemukan banyak isu mengenai perempuan dan segala kerumitan hidup yang harus mereka jalani, baik dalam hidup bermasyarakat, keluarga, hingga rumah tangga. Ada saat di mana kita harus menjalani hidup dengan mengikuti aturan yang ada, berserah diri pada keadaan dan waktu. Namun ada pula saat di mana kita harus berusaha memperjuangkan hak yang kita miliki, termasuk kebahagiaan dan kewarasan diri sendiri. Hal ini sebagaimana pernyataan tokoh perempuan dalam kisah Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa,"Tidak ada yang bisa menolongku selain diriku sendiri.".
Tentunya sambil memperjuangkan diri, kita harus tetap minta petunjuk terbaik dari Sang Pencipta. Banyak hal yang bisa kupetik dari kisah-kisah di Sambal & Ranjang ini, di antaranya bahwa perempuan juga makhluk hidup yang butuh dihargai dan didengarkan, dan di balik ganasnya dunia, masih ada orang-orang baik yang memahami hal tersebut.
Berisi 16 cerpen bertema perempuan. Buku ini memuat cerita tentang stereotipe perempuan dalam pandangan masyarakat . Mengutip sinopsis dari buku ini bahwa tidak seperti laki-laki yang pergerakannya bebas, perempuan hanya difokuskan pada sumur, dapur dan kasur. Cerita-cerita tentang pergolakan perempuan, kesehatan mental dan trauma berhasil membuka sudut pandang baru tentang patriarki. Dengan nuansa yang pedas dan gerah tapi ketagihan seperti memakan sambal.
Disajikan dengan bahasa yang ringan banget, bahkan seperti mendengar teman curhat. Sangat mudah dipahami dan memiliki ending yang jelas untuk setiap judul cerpen. Adapun dua judul cerpen yang paling aku sukai yaitu Sambal dan ranjang dan Menghamili Raesa.
Sambal di ranjang bercerita tentang seorang suami yang menuntut agar istri bisa membuat sambal yang enak. Cerita ini benar-benar mengingatkan aku dengan omongan orang tua dulu, kalau perempuan sukses itu yang bisa buat sambal enak 🤣 Dulu rasanya terdengar wajar 🤣 Tapi sekarang baru kepikiran gimana kalau kita jago buat sambal, tapi suami justru suka makanan manis? 🤣 Mau bagaimanapun usaha kita untuk tampil sempurna, kalau selera suami bukan kita, kita tidak bisa mencegahnya untuk selingkuh. 💔
Kedua, cerpen Menghamili Raesa, tentang seorang perempuan yang ngebet banget ingin dihamili teman sekantornya 🤣 jujur, pas baca cerita ini pecah banget humor hamba 😭. Raesa yang random dan pemberani membuka sudut pandang aku tentang laki-laki egois yang lebih suka menghamili tapi enggan bertanggung jawab. Giliran dikasih pilihan bebas sama Raesa , mereka justru ketakutan.
Yang aku bingung, kok bisa rating total di goodreads agak rendah? 3,65 FR? 🤔🤔 Menurutku sih bagus, baik dari segi diksi, cerita, maupun makna. Bacaan terbaikku di bulan Juni ini jatuh ke buku Sambal dan Ranjang ini. Enjoy banget bacanya. Sat set sat set tau-tau kelar.
Buku ini sebenarnya berisi tentang fakta yang terjadi di sekitar hidup perempuan, namun dibungkus dengan cerita fiksi pendek. Setiap cerita ada maknanya tersendiri dan berbeda antara satu cerita dengan cerita lainnya, beberapa di antaranya: 1. Mau itu ibu rumah tangga, wanita karir, keduanya berpotensi kena depresi dan dari kedua pekerjaan ini ga ada pekerjaan yang lebih ringan dari yang lain. Ada masalahnya masing-masing, berhenti membandingkan; 2. Pemerkosaan bisa terjadi ke siapa saja, pria maupun wanita, dan berhentilah meledek dan menyalahkan korban; 3. Support system itu penting banget, don’t forget to check on your friends, fellas! 4. Girls, you only have yourself, so please please I beg you to look after yourself and please take a good care of yourself.
Aku suka buku ini tidak hanya mengangkat isu feminisme dan patriarki melainkan juga kesehatan mental para wanita, entah itu wanita karir, ibu rumah tangga, perempuan yang sudah memiliki pasangan, perempuan yang belum memiliki pasangan, perempuan yang pernah menjadi korban perkosaan, dan lainnya.
Sejujurnya premisnya sangat menarik dan cenderung berat, tapi di total keenam belas cerpennya nyaris nggak ada permainan diksi yang berarti. Mengalir datar saja. Selesai sewajarnya juga. To the point iya, terasa hampa di sisi lain pula. Terlebih di cerpen "Menghamili Reisa" saya dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya hendak disampaikan penulis karena cover both side laki-laki dan perempuan dalam percakapan sepanjang cerita justru membuat rancu konteksnya. Yah, barangkali memang teori "tidak semua cerita harus menyampaikan amanatnya secara terang-terangan dan eksplisit" itu memang benar adanya.
Tanpa mengesampingkan betapa saya mengagumi dipilihnya tema soal perempuan, pernikahan, seks, ketimpangan relasi kuasa, sosial, hingga politik, entah mengapa selepas membaca kumcer ini saya tidak memiliki after taste sedemikian rupa sebagaimana saya membaca kumcer-kumcer penulis Indonesia lainnya. Bukan berarti kumcer ini sepenuhnya jelek, karena bagaimanapun presepsi setelah proses membaca sejatinya memang tergantung pada masing-masing pembaca. Secara pribadi saya memberikan bintang tiga pada kumcer ini karena beberapa cerpennya berhasil menarik perhatian saya; salah satu yang menjadi favorit adalah sang bintang utamanya sendiri, "Sambal & Ranjang".
baca buku kumpulan cerpen begini ternyata seru juga ya? aku termasuk yang jarang banget baca kumcer karena awalnya emang ngga suka, ngga tau kenapa. tapi yang kali ini aku iseng aja baca eh seru dong ternyata 🤯
kebanyakan cerita di buku ini diceritakan dari sudut pandang perempuan, meski ada juga yang laki laki, tikus, bahkan dinding 🤔
enaknya baca kumcer, baca 1 bab itu nggak terasa karena 1 bab sama dengan 1 cerita (pendek) jadi aku rasa cocok banget buat yang lagi reading slump untuk baca kumcer karena 1 bab nya memang singkat.
aku suka gimana buku ini membahas kesehatan mental, juga tentang feminisme dan stereotip (buruk) terhadap perempuan. tentu aja aku penasaran sama cerpen sambal di ranjang (sesuai judulnya). dan ternyata ceritanya cukup bikin dahi mengernyit.
ini yg jadi favoritku: 1. surat untuk anak perempuanku (paling favorit) 2. sambal di ranjang 3. candid 4. gadis yang memeluk dirinya sendiri 5. salma dan salwa 6. sally sendiri dan uniknya buku ini dilengkapi resep sambal 😋
Judulnya menarik sehingga membuat saya ingin baca. Ternyata ini adalah buku kumpulan cerpen yang cerpen-cerpennya sebagian besar pernah dimuat di media besar.
Nama Tenni sendiri baru buat saya. Belum pernah sekali pun saya baca karyanya. Semua memang kuat dalam cerita pergolakan perempuan. Isu perkosaan, kesehatan mental dan patriarki disebut-sebut dalam cerpen di buku ini.
Cerita dalam cerpen-cerpen ini menarik, hanya saja menurut saya merasa penulis terlalu banyak menjelaskan. Hampir semua cerpen pada bagian akhir dijelaskan semua maksudnya apa secara benar-benar jelas. Pembaca jadi gak perlu mikir banyak karena itu. Padahal salah satu unsur menariknya membaca kumcer adalah pembaca dibuat penasaran dan merasa ingin agar cerita itu jadi lebih panjang, bahkan ada plot twist di endingnya yang bikin pembaca melongo.
Jika saya diminta untuk memilih cerpen mana yang favorit, saya bisa pilih judul Candid.
Goodreads bisa gak sih ngasi rate di atas 5/5? Karna rasanya aku pengen ngasi rate lebih dari 5/5 untuk buku kumpulan cerita satu ini! (ಥ‿ಥ) isi cerpennya bagus-bagus dan menarik, alur dan gaya bahasanya mengalir dan mudah dipahami walaupun mengangkat topik yang berat, tokoh dan konflik yang berbeda pada tiap cerita, tiap cerita yang gak saling terikat dengan cerita lainnya, itu semua bikin aku gak bosen selama baca buku ini ^___^
Tema dari kumpulan cerita ini adalah mengenai perempuan, jadi isu dan konfliknya menceritakan permasalahan dan derita yang sering dialami para perempuan. Uniknya, tiap cerita dibawakan dari berbagai sudut pandang. Ada yang dari sudut pandang perempuan itu sendiri, perempuan lain, anak kecil, hewan, dan dari sudut pandang laki-laki. Cerita yang paling kusuka adalah Joyeux Anniversaire, Surat untuk Anak Perempuanku, Candid, Salma dan Salwa, dan Sahabat Sejati.
Kumpulan cerpennya seru, setiap bagian ceritanya punya sisi yang menarik dan keabsurd-annya masing-masing, temanya tentang wanita, mental health, keluarga, kekerasan seksual, cinta dan juga kehilangan. Jadi ini berkaitan erat banget sama masalah yang timbul di sekitar kita. Lalu eksekusi dari penulis juga kece parah sihh (serius!!!!!).
Setiap bagian juga ada pesan moral yang bisa dipetik, kayak enggak boleh asal self-diagnosis suatu penyakit berdasarkan informasi google, enggak boleh meremehkan seseorang dan lain sebagainya.
Cerita yang paling Aku suka dari semua kumcer itu "Sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa" "perempuan dalam pelukan" sama "gadis yang memeluk dirinya sendiri". Ketiga cerita ini beneran bagus, bagus, bagus!
Tapi bagian sambal dan ranjang emang ikonis sih, dan ending dari cerpen-nya beneran😱
Awalnya aku sangat penasaran mengenai korelasi judul utama dengan feminism yang dibicarakan oleh orang yang telah membaca buku ini. Setelah membaca, aku cukup puas dengan isinya.
Berikut beberapa cerpen yang paling menarik perhatianku: 1. Surat Untuk Anak Perempuanku - Menurutku jarang ada ibu yang memberi wejangan seperti ini. 2. Sambal di Ranjang - Makes me quite speechless :)) 3. Gadis yang Memeluk Dirinya Sendiri - It represents me 4. Sang Penghuni - I enjoyed this so much.
Sambal ranjang ini berisi kumpulan cerpen yang lebih banyak bercerita tentang pergolakan hidup perempuan. Namun, ada juga yang membahas tentang korupsi sampai hantu. Cerita-ceritanya menarik, tapi ada yang kurang greget, seolah ceritanya belum selesai tapi dipaksa berhenti. Cerita favoritku itu yang berjudul Joyeux Aniversaire, Perempuan dalam Pelukan, dan Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa.
ini kumcer yang jempol menurut ak. covernya eye catching dan bikin "hee ini beneran?" WKWK ceritanya seru2. temanya tentang kasus2 yg menimpa perempuan dan dekat sekali dengan kita. doktrin2 yang memang sudah menyebar dalam udara yg kita hirup ssehari-hari the last chapter is a perfect story to end the book. dimana pada akhirnya perempuan bisa merasa aman dan diterima seutuhnya.