Kalo soal teenlit, aku bakal jadi sangat picky. Ada banyak hal yang bisa masuk ke kategori2 tertentu—well, aku sendiri nggak bisa jabarin—makanya kadang suka jengah, bosen, atau cringe sendiri di tengah2 atau bahkan awal buku.
Tapi kayaknya aku nggak menyesal ambil buku ini karena wow, suka banget! Nama penulis sendiri well-known sebagai penulis teenlit yang bagus, ya, dan aku bisa paham sekarang alasannya setelah namatin ini.
Pertama, aku suka emosi masing2 karakter bisa langsung masuk di beberapa lembar awal. Aksara gemesin banget, wkwkwk, mana demen gombal lagi.
Kedua, konsistensi karakternya cakep. Ngikut sampai akhir, walaupun beberapa kali miss di akhir, tapi aku suka gimana Anya being Anya dan Akang being Akang. Dua bodyguard sekaligus teman hidup Akang juga kocak. Opang, sih, yang paling kelihatan konsisten sampai akhir. Kayak ... hei, ini Opang. Cowok yang nggak akan kehabisan bahan gombalan dan nggak bakal menyerah sebelum dapetin cinta dari salah satu korbannya.
Ketiga, walaupun konsistensi karakternya oke, entah kenapa Seva malah nggak dibikin lebih proper. Alasan di balik sifatnya emang udah jelas, tapi lebih ke pelengkap aja. Entahlah, porsinya jelas timpang dibanding dua karakter lain. Malah, motifnya dekat dengan anak2 populer itu agak nggak match dengan alasannya (plus hubungannya dengan orang tua).
Keempat, aku nggak ingat kalo pernah bahas soal detail gerakan tokoh, tapi di sini dibikin jelas. Biasanya, detail gerakan, kayak lewat celah bangku, cara karakter kedorong ke tembok, dll, dibuat ruwet (atau nggak pakai bahasa yang proper karena terkesan keburu-buru). Sampai aku sendiri kesel dan ngerasa cringe, terus mending dihapus aja. Buku ini enggak, surprisingly. Tiap gambaran langsung masuk ke otakku terus divisualisasikan, tanpa bikin latah soal penjelasan njelimet sebelum akhirnya kegambar jelas.
Kelima, jumlah halamannya emang dikit banget, agak sayang aja gitu. Kayaknya kalo lebih panjang bisa dijelasin juga soal Seva soalnya aku penasaran sama after story-nyaaa. 😖
Buat keseluruhan, aku rasa ini teenlit yang pas, sih. Cocok dengan cangkirku dan nggak terasa cringe aja. Moral value-nya nggak difokusin banget, tapi nggak buruk. Tetap ada. Nggak sabar kepengin baca buku2 penulis yang lain. ><