Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.
Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. “Selamat Tinggal” suka berbohong, “Selamat Tinggal” kecurangan, “Selamat Tinggal” sifat-sifat buruk lainnya.
Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh “Selamat Tinggal” kepalsuan hidup.
Selamat membaca novel ini. Dan jika kamu telah tiba di halaman terakhirnya, merasa novel ini menginspirasimu, maka kabarkan kepada teman, kerabat, keluarga lainnya. Semoga inspirasinya menyebar luas.
"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."
"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."
Saya tengah baca 1 novel ni, sampai dekat 1 mukasurat saya tersentak! 😭
Saya bersyukur sebenarnya sebab di Malaysia, penulis-penulis tempatan kita masih terjaga. Berbeza di Indonesia, masalah buku bajakan ini SUDAH JADI BUDAYA. Jadi mindset, alaa takpelah, kalau ada yang murah, kenapa nak beli yang mahal?
Ini sebab kenapa kita perlu BANTERAS BUKU BAJAKAN. Cegah sebelum terlambat!
Justeru novel ini tentang apa?
Tentang kepalsuan, plagiat & membina kekayaan atas penderitaan orang lain. Penulis mencurahkan tenaga, masa & upaya mereka untuk menghasilkan karya, TETAPI satu sen pun tak masuk ke saku mereka
Sebaliknya, yang membajak atau fotostat (copy ori, OEM) ini yang mengaut kekayaan atas titik peluh orang lain.
Ini adalah satu pencurian. Ya, membajak buku = mencuri
Selamat Tinggal membawa kita menyelusuri hidup seorang penjaga toko buku bajakan bernama Sintong, mahasiswa yang sudah 7 tahun masih tidak berakhir pembelajarannya. Semangat untuk Sintong membuat skripsi tiba apabila dia mula menyelidiki seorang penulis hebat yang telah dilupakan bernama Sutan Pane. Banyak juga hal lain berlaku pada satu masa yang sama.
Buku ni membahaskan mengenai kepalsuan. Utamanya adalah mengenai isu buku bajakan dan ada juga kepalsuan yang datang daripada hal lainnya yang diceritakan kemas oleh Tere Liye satu demi satu.
Jalan cerita cukup padat dengan pelbagai kisah. Bukan setakat isu kepalsuan itu, ditambah perencah dengan kisah percintaan dan kekecewaan Sintong. Juga ada diselitkan kisah yang berkaitan dengan buku bajakan yang membuatkan aku sungguh sedih membacanya. Dan tidak dilupa, satu kisah utama mengenai penulis besar yang hilang jejak bernama Sutan Pane.
Kisah sebenar Sutan Pane begitu menusuk hati. Aku kagum dengan prinsip beliau iaitu "memastikan perkataan, tulisan, dan perbuatan itu selalu sama."
Awalan cerita novel ini agak perlahan namun selepas plot twist pertama, plot cerita begitu laju bersama plot twist yang lain sehingga ke akhir. Sambil membaca, aku kerap menyatakan, "yes, Tere Liye did it again". 😍
Buku Selamat Tinggal sangat membuka mata dalam hal buku bajakan ni. Sangat bagus cara Tere Liye menyinis mereka yang terlibat dengan buku bajakan. Selain itu, banyak informasi dan pengajaran yang bisa kita dapati daripada buku ini.
Membaca buku ini turut mengingatkan aku pada buku Tentang Kamu. Mengkaji mengenai satu watak yang sudah tiada tapi meninggalkan kesan yang begitu mendalam kepada insan yang hidup.
Aku sangat rekomen buku ini buat semua. Untuk penulis agar lebih bersemangat menulis dengan mendapat inspirasi daripada watak Sintong juga Sutan Pane. Manakala buat pembaca, agar tidak lagi memberi sokongan kepada bajakan. Katakan tidak pada bajakan dan ya pada original!
Mengapa judul buku ini Selamat Tinggal? Mungkin dapat ditebak sebabnya cuma aku tetap mahu kamu membaca buku ini dan memahaminya sendiri. Highly recommended! 👍🏻👍🏻 Rating: 5/5 ⭐️
"Hidup adalah kesesuaian antara perkataan, tulisan dan perbuatan. Apalah arti kehormatan seorang manusia saat tiga hal ini tidak sesuai lagi. Apalah arti martabat seorang manusia ketika tiga hal tersebut bertolak belakang."
belakangan ini, muncul lagi ke permukaan masalah pembajakan buku yang bikin para penulis sabarnya kekuras abis. gemes banget novel kali ini, isinya penuh dengan sindiran. nyindir para pembajak, pembajak apapun: buku, software, film, games, dan lain sebagainya. nyindir para mahasiswa abadi yang skripsinya nggak kelar-kelar. nyindir marketplace yang nggak koperatif sama tindak-tanduk kecurangan. nyindir sindikat yang bikin ber-oh panjang karena jadi baru tau ternyata ada: sindikat obat palsu. nyindir pemerintah? apalagi ini, terang benderang :)
banyak banget nge-highlight kata-kata nih, bener-bener mutiara.
sekilas, agak mirip konsep ceritanya sama 'tentang kamu', tentang pencarian sosok yang luar biasa tapi kabarnya lenyap gitu aja. jadi kayak cerita detektif, seru. terlebih kali ini 'sastra' yang bermusim. nuansanya kental karena membahas literasi, dari buku, penulis legendaris, organisasi pers, dan bumbu-bumbu sedapnya: romansa, sejarah, keluarga, kritik sosial, kepalsuan hidup.
segar, karena sangat relate dengan kehidupan masyarakat +62 hari ini :))) semoga memberikan kesadaran bagi kita semua yang disindir, ya. terutama para pembajak buku. bacalah buku ini, dengan hati yang bersih dan tenang. karena meskipun fiksi, berangkatnya dari situasi dan kondisi asli yang 'ketendang-tendang'. bacalah dan sadarlah. semoga esok lusa bertemu hidayah, kita ga pernah terlambat untuk berbenah. waktu terbaiknya adalah sekarang. mulailah, semoga Allah limpahi berkah :)
Aku tidak menyangka kalau ternyata topik cerita ini tentang penjualan produk bajakan, ilegal, tiruan atau KW. Yang menguji seseorang untuk memilih meninggalkan atau tetap bertahan pada lingkaran tersebut. Kemudian tentang Sutan Pane, penulis besar yang hilang dalam catatan sejarah literasi nasional. Ia menghilang secara misterius pada masa keemasannya tahun 1960.
Ada percakapan lucu dan kegalauan cinta hadir dihidup Sintong. Banyak makna yang bisa dipetik dari setiap ucapan Sintong & Sutan Pane.
Aku suka pada bagian percakapan mengingatkan pembaca bahwa ada solusi untuk tidak menggunakan produk tiruan atau KW, seperti tas & sepatu. Kemudian pada bagian yang ada edukasinya tentang tanpa izin menggandakan karya orang lain, pihak2 yang dirugikan dan di belakang buku ini ada ciri-ciri buku bajakan juga e-book ilegal.
Rasanya seperti sedang membaca unek2 dari bang Tere Liye yang mengungkapkan bahwa sebenarnya ia sudah sering protes soal pejualan buku bajakan, tidak pernah ada langkah serius dari penegak hukum untuk memberantas hingga tuntas peredaran buku bajakan.
Cerita ini menyampaikan pesan dengan memberi himbauan dan mengajak pembaca agar memutus ketergantungan dalam menggunakan produk bajakan atau tiruan.
Naskhah pertama Tere Liye yang aku baca (entah kenapa sebelum ini tak pernah terasa nak baca buku dia). Berkisar tentang Sintong si penjaga toko buku bajakan yang juga seorang mahasiswa telat wisuda beberapa tahun. Pertemuan tanpa sangka dengan sebuah buku tulisan Sutan Pane--sosok pengkritik dan penulis hebat sekitar tahun 60an yang tiba-tiba menghilang diri--telah membuka ruang kepada Sintong memulakan riset untuk selesaikan skripsinya yang tertunggak. Waktu Pak Darman mengirimkan kardus terisi kliping tulisan Sutan Pane untuk dia bawa pulang, Sintong mula berdamai dengan 'patah hati' dan sepakat untuk berubah.
Naratifnya amat kritis dan ekspresif. Suka dengan temanya yang merangkumi sosial dan budaya, tentang literasi sastera dan politik, perihal industri bajakan dan imitasi, persahabatan, kekeluargaan dan cinta juga sedikit berkaitan sejarah demokrasi Indonesia yang digarap dalam subplot-subplot yang saling berkaitan. Diksi bahasanya bagus dengan tempo penceritaan yang agak pantas tapi kemas strukturnya. Gemar sekali dengan dinamik watak-wataknya yang diolah dengan perinci; dari Sintong hingga sekecil-kecil Ucok yang cuma hadir lewat mesej di aplikasi pesan, kasihan dengan Jess tapi sesungguhnya aku juga lebih menyenangi si cinta pertama. Drama keluarganya agak menggugah terutama waktu Sintong tegas mahu keluar dari kerja bajakan dan kisah cintanya juga digarap lugas, tak keterlaluan namun masih sepenting perihal utama.
Perspektif literasi sastera dan politiknya antara kegemaran aku. Riset skripsi Sintong yang membuka inspirasi untuk dia kembali mengetik artikel ke koran nasional membahas ketidakadilan, legasi korupsi dan edukasi politik. Eksplorasi dan kritik sinis penulis tentang isu bajakan amat tajam dan aku suka cara penulis menutup naratif dari dua sudut pandang (pelaku dan penulis)-- konflik dan jenayah yang entah bila bakal berakhir.
"Hidup adalah kesesuaian antara perkataan, tulisan dan perbuatan. Apalah arti kehormatan seorang manusia saat tiga hal ini tidak sesuai lagi."
Saya mengerti buku ini ditujukan untuk menyindir para pembaca buku bajakan. Namun, saya berharap agar main story-nya (tentang perjalanan Sintong dalam skripsinya) lebih dominan, yang ternyata tidak saya dapatkan.
Sebenarnya membaca buku ini lebih terasa seperti mengetahui kegundahan hati penulis akan karya-karya bajakan yang banyak beredar. Belakangan ini, isu tersebut memang sangat hangat diperbincangkan, dan Tere Liye mengemasnya dengan cukup apik pada buku ini.
Dikisahkan seorang mahasiswa abadi yang bernama Sintong. Berdasar atas alasan cinta, ia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, bahkan mempengaruhi seluruh aspek hidupnya sehinga ia begitu terpuruk. Kuliahnya mandet, produktivitasnya menurun, dan gairahnya untuk menulis menjadi sirna. Sintong yang terkenal akan kejeniusan otaknya dalam merangkai kalimat-kalimat dan menyuarakan gagasannya melalui tulisan kini tampak seperti mesin tik usang yang tidak lagi produktif berkarya.
Selain itu, hidupnya yang bergantung dari toko buku bajakan milik pamannya membuat perasaannya serba salah. Saat itulah dia bertemu dengan Jess, wanita yang kembali memantik semangat hidupnya. Sintong juga bertemu dengan karya Sutan Pane, penulis yang menghilang secara tiba-tiba pada tahun 1965. Perjalanan Sintong kini kembali terbuka dengan kembalinya gairahnya menulis semenjak mengetahui kisah hidup Sutan Pane. Kisah hidupnya yang kelam bersama buku-buku bajakan juga perlahan mulai ia lepaskan. Pujaan hatinya yang dulu kembali, kembali membangkitkan semangat dan api dalam dirinya walaupun sempat dibanting dan bertemu kembali salam situasi yang tidak terpungkiri. Sintong kembali bangkit, penulis jenius kembali mengambil penanya, dan ia berusaha memerdekakan dirinya kembali dari jerat segala bentuk pembajakan yang juga membajak hidupnya. _______ Sebenarnya, premis ceritanya cukup menarik. Memadukan antara cerita fiksi dengan kejadian nyata, Tere Liye berhasil dalam menjembatani dua dunia tersebut menjadi kisah dengan untaian pesan yang sangat panjang, dan tentunya bermakna. Tere Liye mengupas, menelanjangi, mengkritik, dan menyumpahi segala bentuk pembajakan karya yang ia temukan. Film, buku, pakaian, dan segala bentuk benda bajakan memang banyak kita temui saat ini, dan sebagai penulis, tentu Tere merasa dirugikan. Karyanya ini bisa disebut sebagai bentuk protesnya.
Namun, beberapa narasi yang menyampaikan ketidaksetujuan penulis akan karya bajakan justru terdengar sangat gamblang sehingga sempat memudarkan kesan fiksi dari buku ini. Pada saat-saat tertentu, aku justru melihat Tere sendiri yang berbicara, bukan pandangan si tokoh. Ya itu fine-fine saja, tapi dalam pandanganku seharusnya bisa diinternalisasikan lebih lagi kepada karakter si tokoh terkait pandangan-pandangan itu.
Tapi, sejauh ini, karya ini sangat mendobrak menurutku. Tere sangat berani, dan tulisannya pun begitu kuat, walaupun gaya menulisnya sedikit berbeda dari karya-karya beliau yang sempat aku baca sebelumnya. Mungkin karena fokus beliau yang mengkritik itu kali ya.
Sintong Tinggal adalah seorang penjaga buku bajakan didekat stasiun KRL. Di tempat itu, Sintong juga bertemu dua mahasiswi tingkat dua, Jess dan Bunga namanya, yang salah satunya menarik perhatian Sintong.
Sintong juga seorang mahasiswa abadi di kampus mereka. Dengan segala kebijakan kampus serta bujuk rayu terhadap Pak Dekan, Sintong diberikan kesempatan perpanjangan waktu satu semester untuk segera menyelesaikan skripsinya.
Berbekal buku terbitan lama yang kabarnya salah satu dari lima karya misterius, karya Sutan Pane, penulis ternama pada zaman revolusi. Sintong menyusun skripsinya. Saat penyusunan skripsi tersebut Sintong menelusuri kisah Sutan Pane yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Meski satu, dua orang dijumpai tetapi misteri hilangnya Sutan Pane belum terjawab dan membuat Sintong semakin penasaran. .. Dalam cerita Selamat Tinggal ini penulis menceritakan dengan sudut pandang orang ketiga. Pembaca diajak penulis untuk mengikuti perjalanan Sintong dalam menuliskan skripsi dan kisah hidupnya sebagai seorang mahasiswa abadi. Selama membaca, pembaca disajikan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh Sintong. Sebab akibat mengapa Sintong tidak juga lulus kuliah.
Penulis menjabarkan dengan diksi dan gaya bahasa yang menjadi ciri khasnya. Penulis juga memasukkan beberapa pesan secara gamblang tentang kekecewaannya terhadap kepenulisan dan pembajak.
Bukan kepalsuan dalam arti kiasan. Tapi segala2nya palsu! Bajakan! Buku, film, tas, pakaian , sampai obat! Dan sama seperti saya, jamak dari kita turut memeriahkan perdagangan barang bajakan ini.
Yang menderita tentulah para pencipta, penulis dan penemu ini. Sering kita lihat pencipta lagu menua dalam kemiskinan. Penulis yang harus bekerja serabutan karena royalti menulis terlalu kecil. Bahkan toko buku yang menjual buku asli yang satu persatu gulung tikar. Sedih kan..
Tetapi seperti kata Sutan Pane dalam buku ini “kita semua pernah melakukan kesalahan, berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tetapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.”
Oh, satu lagi, Sintong mungkin tak sekeren Bujang sang Jawara, atau Thomas sang Konsultan, bahkan Esok sang Ilmuwan. Meski hanya penjaga toko buku bajakan, tak hanya berubah menjadi lebih baik, Sintong menjaga cintanya pada Mawar Terang Bintang. Ah, cinta memang kadang tak masuk diakal
Saya masih menunggu versi cetaknya. Karena belum mendapat sentuhan editor, wajar penuh typo, tapi isinya sungguh tidak mengecawakan. Saya paling suka salah satu isu yang disinggung dalam sini "buku bajakan" (relevan sekali dengan situasi Pandemi sekarang) Seperti biasa, Bang Tere selalu berhasil membuat saya berdecak kagum dengan karyanya. Selamat Tinggal ini menjadi satu dari deretan buku yang ingin kubaca ulang, saking sukanya.
Novel ini mendapat rating cukup tinggi, komentar para pembaca pun banyak memuji dan merekomendasikan agar segeralah membaca buku ini.
Tidak adanya sinopsis justru membuat kebanyakan orang malah semakin penasaran (termasuk saya) dan akhirnya memutuskan membaca daaan.. Ah, akhirnya saya pun ikut memuji, nivel yang layak masuk daftar bacaan penikmat fiksi. Jadi, ini novel tentang apa? Bisa dibilang tentang hal-hal yang sangat akrab bahkan sebagian dari kita mungkin pernah atau tengah mengalaminya; terjebak kepalsuan, patah hati atau cinta pertama yang ambyar, gagal move on atau kuliah terbengkala, singkatnya akan mewakili banyak orang sebab memang sangat dekat dengan kenyataan sehari-hari. Tokoh utamanya Sintong, (lagi-lagi sebuah nama yang unik) si mahasiswa abadi yang sehari-hari bekerja di toko buku bajakan milik keluarga yang membiayai hidupnya. Jadi yap, salah satu spirit novel ini memang menyoroti maraknya bisnis buku bajakan, terlebih sejak Pandemi bertamu (semakin banyak yang menyebar buku/link dalam bentuk pdf yang tentu saja tidak legal). Kritik penulis tentang ini dimasukkan dalam porsi yang cukup besar. Saya tiba-tiba teringat tokoh dalam rumah kaca ciptaan Pram, si Pangemann yang keadaannya agak mirip Sintong ini; terjebak dalam kenyataan yang sebenarnya begitu bertentangan dengan prinsip juga nuraninya sendiri. Ia tahu salah namun begitu sulit untuk lepas dari jeratan yang sudah bertahun-tahun terlanjur menghidupinya sekaligus membuat hatinya tidak tenang. Lalu bagaimana Sintong menghadapinya? Silakan baca sendiri, temukan juga irisan sejarah dalam sastra masa lalu, sebuah pencarian jejak yang mengabur bersama fakta-fakta terpendam. Ada nama beserta misteri yang begitu menarik tuk disimak.
Seperti kebanyakan novel bang Tere, Selamat Tinggal ini memberi saya bahan renungan tentang berbagai hal, dengan begitu sederhana.
Tere Liye kembali menulis sebuah kisah realistis yang begitu inspiratif. Jujur saja, aku yakin akan banyak pembaca yang tersindir jika membaca buku ini. Apa yang di tuliskan sang author di buku ini memang sungguh nyata apa adanya, terutama tentang tema bajak-membajak. Hal-hal illegal yang sudah sangat terbiasa sampai kita lupa ternyata semua itu adalah kejahatan. Apakah aku pernah melakukan hal itu? Tentu saja? Aku pernah mendownload buku-buku dari situs illegal, kebanyakan buku dari luar negeri dengan bahasa Inggris, karena sulit sekali mencarinya disini -Oke, aku tetap salah, ini terdengar seperti aku sedang mencari sebuah pembenaran. Tapi jika penulisnya adalah penulis Indonesia, aku selalu mencari buku dari penerbit yang resmi. Tenang saja, author-nim, aku selalu membeli buku mu langsung dari Gramedia. -Lho, jadi curhat.
Apa yang disajikan buku ini seharusnya menyentil semua pembaca, tidak hanya mengenai hak-hak original para kreator, namun juga tentang negara kita yang entah bagaimana sudah sangat semrawut ini. Tere Liye mengajak para pembaca untuk lebih sadar akan pentingnya politik di Indonesia. Apa yang terjadi sekarang, bukanlah sesuatu yang baru. Penyakit di negeri ini sudah sangat kronis progressif, layaknya penyakit keganasan yang diam-diam menggerogoti tubuh manusia, sedikit demi sedikit, sebelum mati. Buku ini begitu kritis mengajak kita untuk lebih melek melihat apa yang terjadi di Tanah Air kita sendiri.
Mendengarkan buku ini melalui aplikasi audiobook Storytel. Naratornya menarasikan cerita dengan sangat pas. Sampai kadang saya senyum2 sendiri pada beberapa adegan yang lucu. Buku ini sukses membuat saya mencari tahu di Google siapa itu Sutan Pane. Dan juga sukses membuat saya semakin sadar akan dampak buruk industri buku bajakan. Jalan cerita cukup menarik, membuat penasaran dan tidak mudah ditebak. Begitu juga kisah romance sebagai pemanis dari buku ini juga menarik untuk diikuti. Buku fiksi yang ringan tetapi menggugah imajinasi. Buku ini layak dapat bintang 5.
Saya tak tahu kenapa membaca karya Tere Liye walaupun jalan ceritanya ringkas, namun isinya, pengajarannya, untaian katanya benar benar menusuk jiwa saya. Tidak seperti novel Melayu yang ceritanya lebih berfokus pada perebutan cinta, harta dan watak antagonis terlampau, novel Selamat Tinggal ini cukup berkisar mengenai buku bajakan 'cetak rompak' dan bagaimana hubung kaitnya dengan adventur seorang Sintong Tinggal mencari punca di mana hilangnya penulis legenda, Sutan Pane.
Sejujurnya karya ini punya 'umphh' yang tersendiri. Sebuah karya yang saya kira wajar diberikan kepada anak muda untuk dihadam tentang naskhah hidup seorang Sintong Tinggal.
"Tidak ada yang bisa menjamin perubahan akan mudah. Boleh jadi situasi malah makin sulit. Tapi ingatlah nasihat agama, barangsiapa yang hendak berubah menjadi lebih baik, maka apa pun kemalangan yang menimpa berikutnya, semua adalah kebaikan baginya."
Tere Liye lagi-lagi berhasil membuatku berdecak kagum lewat karyanya. Buku ini mengangkat isu mengenai pembajakan buku. Tidak hanya buku bajakan, tapi juga mengangkat isu lain seperti barang-barang KW dan film bajakan. Buku ini tergolong sebagai buku bacaan yang ringan, sehingga cocok sekali dibaca untuk mengisi waktu luang. Meski tergolong sebagai bacaan ringan, buku ini memiliki banyak hikmah yang bisa diambil di dalamnya. Banyak sekali kalimat-kalimat yang bisa kita highlight dari buku ini. Buku ini memberikan gambaran serta pencerahan kepada masyarakat awam tentang bahayanya membeli dan menggunakan barang-barang bajakan.
Ya, itulah antara tema yang dibawa dalam buku Selamat Tinggal ini. Kalau anda mengikuti page Tere Liye, anda pasti tahu bahawa sudah lama beliau berjuang tentang hal buku bajakan ini. Beliau sangat anti dengan orang menjual buku bajakan dan apa-apa jenis barang tiruan sekali pun. Semuanya ada diceritakan dengan sinis dalam buku ini.
Jika anda baca komen-komen di hantaran Tere Liye tentang hal ini, tidak sedikit yang melawan beliau semula. Alasan mereka adalah kerana berkongsi rezeki, menyediakan peluang pekerjaan dan menjadi penulis mestilah kena ikhlas. Semua sebab diberikan demi menghalalkan sebuah pencurian. Aneh manusia ni, kan?
Baca buku-buku Tere Liye ni menarik sebab beliau bawa kita mencari kisah seseorang. Kalau dalam buku Tentang Kamu, kita mencari kisah Sri Ningsih jauh sehingga ke London dan Paris, buku Selamat Tinggal pula membawa pembaca mencari kisah Sutan Pane iaitu seorang penulis terkenal yang hilang jejak.
Saya berpendapat, Tere Liye menjadikan Sutan Pane sebagai inspirasi dalam melawan buku bajakan. Sutan Pane adalah seseorang yang mempunyai prinsip yang teguh melawan ketidakadilan dan kezaliman yang berlaku dalam bidang politik. Semua orang pun tahu, kalau kita cakap lebih-lebih sikit tentang politik ini, musuh akan bertambah. Tetapi Sutan Pane sikit pun tak goyah. Usaha Sutan Pane pernah dipersoalkan kerana mana mungkin orang-orang yang sedang melakukan kezaliman dan ketidakadilan itu membaca dan ambil peduli tentang tulisan beliau?
Macam kita sekarang, akhirnya kita fikir, pagi esok kita tetap kena bangun kerja mencari rezeki. Sesiapa pun yang di atas itu, entahkan peduli entahkan tidak, kita tetap perlu teruskan hidup. Tulislah sebanyak mana kritikan membina, buatlah perbincangan ilmiah pun, kita rasa, mereka takkan peduli.
Tapi jawapan Sutan Pane kepada persoalan ini sangat bagus. Beliau menjawab bahawa:
“Tapi tidak masalah, karena Tuan dan Nyonya bukanlah sasaran tulisan itu. Buat apa? Tuan dan Nyonya sudah mati rasa. Tapi jutaan anak muda di luar sana. Anak-anak kami, mereka akan membacanya. Maka tumbuh sudah rasa peduli di hati mereka…….Jadi jangan salah sangka, Tuan dan Nyonya. Tulisan itu untuk mereka, untuk anak-anak kami yang kelak akan lebih jujur, memiliki kehormatan, serta amat mencintai negeri ini.”
Sutan Pane menulis bukan untuk dibaca oleh orang yang membuat kezaliman itu, tetapi untuk generasi akan datang. Mengapa saya katakan Tere Liye mungkin mengambil Sutan Pane sebagai inspirasi? Sebab beliau sedang memperjuangkan hak penulis dan penerbit, beliau sedang melawan buku bajakan yang jika anda lihat di Indonesia, sudah merebak dengan parah. Lalu, ditulisnya buku Selamat Tinggal ini, untuk memberi kesedaran tentang buruknya industri buku bajakan. Bukan untuk dibaca oleh pembajak, tetapi dibaca oleh pembaca sejati. Bak kata Sintong Tinggal, si watak utama:
“Tentu masih ada harapan bagi penulis. Karena di luar sana, masih ada ribuan pembaca yang tidak sudi membeli buku bajakan. Masih ada ribuan keluarga yang menjaga anak-anak mereka dari buku bajakan dan produk ilegal lainnya.”
Bacalah buku ni. Dapatkannya daripada penerbit atau pengedar yang sah. Ada banyak lagi hal yang boleh diulas, tetapi cukuplah di sini. Sebab lagi enak kalau dibaca sendiri:)
Buat yang suka baca buku apalagi novel, terus yang suka ngoleksi atau bahkan orang yang baru mulai menyukai baca buku –novel aku saranin baca ini.
Baca ‘Selamat Tinggal’ mengingatkan aku pada ‘Tentang Kamu’ ‘Janji’. Kenapa? Karena mirip, tentang pencarian orang di masa lalu tapi bedanya ‘Selamat Tinggal’ lebih banyak menceritakan tentang Sintong dibanding cerita tentang Sutan pane –orang yang dicari-
Sintong, si mahasiswa abadi yang menjaga toko buku milik pamannya. Di semester baru Sintong menyusun tugas akhirnya tentang Sutan Pane, penulis yang terkenal dimasanya tapi tiba-tiba hilang. Dengan dukungan dari dosen pembimbing –dekan, lalu para narasumber yang dia datangi untuk menyelusuri jejak Sutan Pane dan itu tidak mudah. Belum lagi Sintong harus berselisih dengan keluarga pamannya yang membiayai kehidupannya di Jakarta, dimana keluarga paman Sintong memiliki bisnis toko buku yang menjual buku bajakan, tidak hanya offline tapi juga online dengan keuntungan yang sangat besar yang tentu saja semua keuntungan itu tidak dibagi ke penulis aslinya. Sintong menyadari semua itu, tentang hal-hal ilegal yang ada disekelilinginya, salah satunya adalah buku bajakan. Tapi butuh beberapa tahun untuk Sintong berani melawan pamannya.
Berbeda dari ‘Tentang Kamu’ dan ‘Janji’, disini lebih banyak menceritakan tentang Sintong. Dan kalau boleh jujur cerita tentang Sintong dibuat lebih menarik dan bikin penasaran dibanding cerita tentang Sutan Pane. Selain Sintong ada beberapa karakter tokoh di buku ini seperti Paklik dan Bulik Sintong, Mawar Terang Bintang, Jess, Bunga dan masih banyak. Dan satu hal yang menarik dari para tokoh disini adalah di awal mereka seakan memiliki rahasia yang sengaja disembunyikan sehingga membuat aku penasaran dan selalu curiga kepada mereka.
Tapi yang membuat buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca adalah bagaimana Tere Liye menuliskan kalimat-kalimat sindiran –mengarah ke satire tentang hal-hal bajakan khususnya buku bajakan. Dan itu tidak sekali dua kali, bahkan sangat sering. Mungkin hal ini bisa membuat risih ketika membaca karena saking seringnya Tere Liye menyinggung tentang hal ini, tapi aku sendiri tidak begitu. Aku malah kadang tertawa juga walaupun miris, miris karena hal itu memang betul terjadi dan masih banyak ornag yang menganggap hal itu adalah hal biasa tanpa memikirkan dampak buruknya.
Aku menyukai bagaimana akhir dari buku ini, tidak berakhir dengan dunia menjadi ‘bersih’ dari barang-barang bajakan tapi juga bukan berarti hal itu mustahil untuk terjadi karena ada harapan walaupun masih kecil. Walaupun harapan itu baru ada di beberapa pihak, di beberapa orang tapi bukan bebarti tidak mungkin harapan itu akan semakin membesar dan menyebar. Tapi sekali lagi, kita juga harus realistis dan mengakui kalau banyak juga orang yang tetap tidak mau berubah dan malah mengikuti pihak-pihak/orang-orang yang berada di dunia ‘bajakan’
"Empat tahun aku berhenti menulis.., Mungkin salah satunya adalah hukuman. Harga yang aku bayar karena menjadi penjaga toko buku Berkah. Itu ironis sekali, bukan? Karena betapa tidak 'berkah'-nya semua yang kudapatkan. Tuhan menghukumku." Hal.320 * Selamat Tinggal merupakan karya penulis Tere Liye yang bercerita tentang Sintong seorang mahasiswa yang masih menyandang gelar mahasiswa namun telah melewati masa kelulusan hingga nyaris di droup out. Mahasiswa yang bekerja di sebuah toko bernama Berkah-meski bagi Sintong nama tersebut bertolak belakang dengan apa yang dijual- kemudian menemukan sebuah naskah yang 'hilang' dari penulis yang meninggalkan banyak tanda tanya terkait menghilangnya dari panggung kepenulisan... (Untuk blurb yang lebih keren,sila menggeser foto) . . . 📚 Bagian awal novel ini diawali dengan permasalahan yang barangkali menjadi keresahan banyak kalangan yang terlibat dalam dunia perbukuan, yang saya maksud adalah pembaca seperti saya dan teman-teman juga penerbit serta penulis buku. Semoga hal yang kami resahkan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak berkepentingan lainnya meski saya pesimis juga.
📚 Sintong Tinggal, si pemilik nama unik yang bisa kalian temukan artinya didalam buku, bagi saya sukses menggambarkan sikap dilema juga membuat saya yakin bahwa buku ini juga mewakili keresahan sang penulis dengan isu yang diangkat dalam novelnya.
📚 Perbuatan Sintong dan oknum lainnya di lingkaran masalah dalam novel ini memberi pandangan baru meski perbuatan mereka tidak dapat dibenarkan, alasan dibaliknya membuat saya tertegun.
📚 Saya pribadi tersentil dengan kalimat yang pernah Sintong ucapkan "...lebih baik nggak laku buku kita daripada bantuin orang lain korupsi. Toko kita ini memang jual buku bajakan, tapi kita tidak sehina itu juga. Kita tidak membantu orang-orang korup."
📚 Opini Sintong terhadap perilaku sebagian konsumen produknya juga menarik : "mereka belajar tentang hukum dari buku-buku bajakan. Hukum seperti apa coba yang hendak mereka tegakkan? Sapunya kotor kok mau membersihkan lantai."
"Saya akan mengabarkan ke dunia literasi nasional bahwa ada seorang penulis yang terlupakan... Tahun 1965, persis sebelum peristiwa pemberontakan PKI, dia menghilang begitu saja. Tidak menulis lagi..." (Hal.80) * Karya kesekian dari penulis Tere Liye yang bercerita tentang Sintong seorang mahasiswa jurusan sastra yang kemudian memeroleh 'kesempatan' dari dekan sehingga pemuda perantau yang bekerja dalam bisnis tak berkah milik keluarga pamannya itu mengambil keputusan besar dengan naskah pracetak yang dianggap sebagai 'harta' peninggalan dari seorang penulis terkenal yang menghilang dari panggung kepenulisan. Dan untuk menyelesaikan tugas akhirnya, Sintong bertekad memecahkan teka-teki 'lenyapnya' sang penulis (Untuk blurb yang lebih keren,sila menggeser foto) . . . 📜 Naskah pracetak dari seorang penulis yang keberadaannya tak diketahui menurut saya adalah satu diantara permasalahan yang sukses mengundang rasa penasaran saya dengan kelanjutan ceritanya.
📜 Seperti pada dua karya beliau, saya menemukan ide permasalahan yang tidak biasa dari tulisannya yang membuat keinginan membaca semakin besar, walau di sisi lain saya juga sepakat dengan kak @restukr_ bahwa formulasi yang dihadirkan tidak sepenuhnya membuat kisah didalamnya memiliki kesinambungan dan cenderung terpecah sehingga fokus pembaca juga bisa terbagi meski bagi saya pribadi kisahnya tetap seru dan cukup sering menaik turunkan emosi saya.
📜 Pencarian Sintong terkait fakta dari penulis yang 'raib' semakin mengundang penasaran dengan kepingan fakta tentang penulis yang mulai dikumpulkan Sintong. Juga, pencariannya secara tak langsung menguak fakta lain terkait tokoh bernama Jess dan Bunga, juga Mawar yang rupanya memiliki satu kesamaan dengannya : terkekang dalam lingkaran penyalur produk yang jadi 'musuh' para pembuat karya/penghasil produsen.
📜 "Sungguh, jika kalian bersedia memikirkannya, kita bisa melihat kehidupan ini begitu sederhana. Tentang kejujuran..." menjadi salah satu kutipan yang buat saya sesenggukan.
📜Oh iya, trik yang Sintong gunakan untuk 'memanggil' fakta sang penulis keren menurut saya😆👍 Trik apakah itu?
Jangan berkecil hati,kawan, jika hari ini kepal jemarimu masih lemah. Jangan berkecil hati, kawan, jika hari ini suaramu jauh dari lantang dan didengarkan. Sungguh jangan berkecil hati, kawan, jika dirimu belum mampu mengubah situasi... (Hal.321) * Pencarian Sintong kemudian bermuara pada informasi tentang Sutan Pane, penulis yang 'menghilang' dan fakta lain tentang para tokoh yang rupanya bersinggungan dengan lingkaran penyaluran barang yang sejatinya murah namun begitu merugikan banyak pihak tanpa kita sadari. Kemudian, keputusan Sintong membawa perubahan besar bagi hidupnya setelah itu... . . . 📑 'Sindiran' juga isu yang diangkat dalam novel ini seolah menggambarkan keresahan sang penulis sekaligus menyentil saya yang mungkin pernah tidak menghargai penulis dengan alasan menghemat rupiah. Saya sampai menangis dan menyesal karena 'sindiran' ini.
📑 Penyelesaian konflik dalam kisah ini juga cukup menarik serta menyentuh, walaupun ada seorang tokoh yang mungkin tidak begitu jelas nasibnya dan seperti mengulang kondisi Sintong dengan patah hatinya selama 4 tahun.
📑 Fakta keberadaan sang penulis berikut penjelasan tentang naskah pracetak di tangan Sintong pada akhirnya menemukan penjelasan dan keberlanjutan yang melebihi ekspektasi saya💕Juga, sang penulis dengan integritas dan keberanian menyuarakan kebenaran bahkan dihadapan presiden pertama RI sungguh keren.
📑 Tentang kisah asmara dalam novel ini...,sepertinya Sintong telah mengambil keputusan yang bagi saya terasa cukup masuk akal.
📑 Novel Selamat Tinggal menyajikan banyak hal yang menurut saya punya keterhubungan juga dekat dengan yang terjadi dalam kehidupan yang tak mudah sehingga harus bertahan dengan cara yang tak berkah sekalipun. Namun bagaimanapun sulitnya hidup, mari berani mengucap "Selamat Tinggal" untuk keburukan serta kebodohan kita dimasa lalu
"Bacalah banyak buku, agar besok lusa bukan hanya agar kau tidak mudah ditipu orang, tapi agar kau bisa mencegah penipu membohongi orang banyak". Masih seperti biasa, tereliye selalu meramu bukunya dengan gaya bahasa yang tegas, lugas dan jelas. Novel ini penuh dengan kalimat sindiran dan sarkasme. Di sini ia jelas mengkritisi mengenai pembajakan, penggunaan barang-barang ilegal, barang KW, dsb. Dan penikmat, produk-produk tersebut akan merasa tertampar setelah membaca novel ini. Worth to read!
📚Selamat Tinggal | Tere Liye | Gramedia Pustaka Utama | 360 halaman | Remaja 15+
🔸Mari ucapkan "Selamat Tinggal" dan tetap terus melangkah melanjutkan kehidupan. Itulah tema utama lembar demi lembar selama kalian baca buku ini. Eitss, ini bukan genre romance loh. Walaupun judulnya "Selamat Tinggal" tapi dari dua kata itu bermakna luas ya🤭.
🔸Kisah ini dimulai dari perjalanan mahasiswa abadi yang bernama Sintong Tinggal. Mahasiswa Fakultas Sastra ini belum juga wisuda setelah 6 tahun lamanya. Sintong—anak keturunan Jawa-Sumatera yang berhasil diterima kuliah di salah satu kampus ternama daerah Depok. Seluruh biaya, tempat tinggal, sampai keperluan hidupnya selama kuliah dibiayai oleh Pakliknya yang bernama Paklik Maman. Asalkan Sintong mau berjaga di toko buku miliknya. Toko buku Berkah namanya. Eitss, jangan dikira ini toko buku bagus ya, buku-buku yang dijual ternyata bajakan semua loh. Namanya aja yang berkah, tapi hasilnya gak berkah, kasian para penulisnya kan buku mereka dibajak begitu saja. Bukan cuman penulis, pihak penerbitnya pun mengalami kerugian yang setimpal. Duhh, miris sekali dunia perbajakan buku ini, sungguh tega😔.
🔸Kehidupannya mulai berubah, sejak kedatangan Jess—mahasiswi tahun awal Fakultas Ekonomi saat mampir ke toko buku Sintong. Ajaib, setelah kejadian itu Sintong pun melanjutkan kembali studi kuliahnya untuk cepat menyelesaikan skripsi dengan mengangkat tema baru untuk bahan skripsinya. Tema yang dia bahas adalah Sutan Pane—Penulis yang hilang sekitar tahun 1965 bertepatan dengan kejadian Pemberontakan PKI.
🔸Seperti kembali menemukan jati dirinya, Sintong kembali lagi aktif menulis di koran sama seperti awal tahun kuliahnya. Dan ternyata, Sintong ini juga penakluk gunung. Woww... tidak main-main sudah 14 gunung yang pernah ia daki.
🔸Risetnya semakin dalam, mencari sosok keberadaan "Penulis Yang Terlupakan" itu. Hingga beberapa keputusan Sintong yang cukup krusial, membuat cerita ini semakin menarik. Dan kisah yang seharusnya ia ucapkan "Selamat Tinggal" malah justru kembali lagi. Lalu bagaimana dengan pencariannya?
🔸Benar-benar "Selamat Tinggal". Karya beliau satu ini, cukup berani ya teman-teman. Woww, aku sangat mengapresiasinya sekali. Buku yang benar-benar membahas tentang dunia perbajakan😱. Mulai dari buku, kaset, obat-obatan, layanan live streaming, dan semacamnya semua disindir habis dibuku ini👍🏻.
🔸Gaya penulisannya pun Beliau banget, dan saat membahas perbajakan disitulah Bang Tere benar-benar meluapkan segala keresahannya. Yang aku sayangkannya ini dibagian situnya, kenapa tidak pakai cara dialog bertutur para tokoh yang ada dicerita aja dibandingkan penulisnya sendiri. Tapi good banget sih, pokoknya jangan sampai kalian beli buku bajakan ya gaes. Aku dulu pernah beli waktu belum tau dan paham banget tentang perbedaannya. Alhasil, 3 buku bajakan yang aku punya semuanya aku buang, benar-benar jelek sekali, baunya menyengat bahkan kertasnya sampai banyak sarang laba-labanya, hihhh. Jangan ditiru ya gaes😅.
🔸Alurnya campuran, maju-mundur. Untuk covernya simple sekali. Benar-benar menggambarkan isi cerita. Aku suka sekali sama cover yang simple tapi sesuai gitu sama ceritanya. Terakhir yang aku suka dari berbagai buku karangan Beliau adalah pelajaran hidup dari setiap tokoh dibuku tersebut. Good job, bikin aku sadar untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi🥺.
"Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat kepada orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaikinya, dan menebus kesalahan tersebut. Berani mengucap 'Selamat Tinggal' ."
Memaknai kata "selamat tinggal" terhadap kesalahan sendiri bukan perkara mudah untuk melepaskannya. Ada konsekuensi dari keputusan yang diambil entah itu akan dibenci oleh orang lain, dikatakan orang sok suci. Bahkan sering ada pemikiran ngapain sih beli original toh ada yang lebih murah / barang bajakan (software, buku, lagu, film, tas dll) ? masih banyak diluar sana yang mencari nafkah dari barang bajakan. Ternyata aktivitas membeli atau mengonsumsi hal-hal secara ilegal ada orang yang terdzolimi.
Betul adanya perubahan untuk melepas kebiasaan buruk itu sulit namun kembali lagi ke tujuan ketika ingin mendapatkan keberkahan dari sebuah buku atau informasi, mendapatkan hiburan dari suatu karya atau barang untuk mendapatkan fungsinya. Perlu sekali memberikan apresiasi atas keringat, waktu, ide yang telah dituangkan. Pengorbanan dari suatu karya, perlu dihargai dengan harga yang pantas. Apreasiasi yang dilakukan tentu akan memberikan dampak baik/ positif bagi orang-orang yang berkarya. Semangatnya akan menular kepada orang-orang untuk tetap produktif dan berkarya dalam banyak bidang.
Betul yang disampaikan dalam buku ini jangan cemas, tinggalkan kebodohan dan ketidakpedulian dengan awal mengucapkan "selamat tinggal" kepada sifat membantah pada kebenaran, selalu tidak pada kejujuran serta suka sekali berseru tapi, tapi dan tapi. Dan katakanlah "selamat datang" revolusi.
Secara pribadi ini buku membawa kepada kejujuran diri sendiri sudah berapa lama, berapa banyak dan berapa sering menyampaikan informasi terkait (software, film, barang, buku dll) dengan status ilegal. Ternyata banyak yang terzalimi dari aktivitas tersebut. Diuraikan dengan jelas dari kisah Sintong, Bunga, Jane, Paklik Sintong, Buklik Sintong, Mawar. Semuanya ternyata berkaitan dengan kegiatan ilegal. Sintong berusaha menyelesaikan skripsi tentang Sutan Pane yang ternyata memiliki makna tersendiri dari tulisan tulisan beliau hingga akhirnya Sintong membuat keputusan besar untuk resign dari pekerjaan menjaga toko buku bajakan yang dimiliki Paklik Sintong. Dan menjadi value dalam kehidupan.
Baca beberapa karya Tere Liye di cetakan belakangan ini, di halaman akhir selalu disisipkan ciri-ciri buku bajakan, ebook ilegal, dsb. Peringatan dan juga keresahan dari seorang penulis kepada kami, pembaca untuk selalu menghargai penulis dengan membeli buku original -atau meminjam- dibanding membeli buku bajakan.
Selamat Tinggal - Sintong Tinggal Saya baru ngeh setelah baca beberapa halaman saat Sintong menyebutkan namanya dengan S. Tinggal. Sebuah nama tokoh yang sesuai sama judulnya, mungkin? Btw, saya memang cukup menyukai bang Tere dalam memberikan nama tokoh, selalu unik dan khas, juga jarang digunakan. Menceritakan tentang Sintong, seorang mahasiswa yang juga menjaga toko buku bajakan milik pamannya. Sintong seorang penulis yang tulisannya sering dimuat dalam koran nasional, namun siapa sangka bahwa ia juga yang bermasalah dengan skripsinya. 7 tahun kuliah dan belum menyelesaikan kuliahnya. Di tahun ke 7 nya, berkenalan dengan Jess, sedikit banyak memberikan kemajuan dalam tulisan Sintong, baik skripsi, maupun semangatnya dalam kembali menulis. Sintong akhirnya mengambil tema mengenai hilangnya tulisan Sutan Pane tahun 1965. Perjalanan menemukan detail cerita Sutan Pane tidak mudah, bahkan hampir saja buntu. Selain itu, juga ada beberapa tokoh yang bersinggungan dengan Sintong, yaitu Mawar, Bunga, Jess, Babe Naim yang semuanya memiliki keresahan tersendiri yang tidak kalah peliknya mengenai hal-hal berbau bajakan.
Buku ini hampir sama dengan Janji, Tentang Kamu yang mencari sejarah tentang tokoh seseorang. Tapi tetap saja, akan selalu ada yang berbeda di tulisan Tere Liye -jadi tidak sepenuhnya sama- Juga tentang keresahan penulis tentang banyak hal yang berbau bajakan, mulai dari software, link streaming, film, tas sampai ke buku. Overall, buku ini bagus, banyak pengetahuannya, jadi tau bahwa hal-hal yang kita anggap sepele namun ternyata itu adalah sebuah tindakan mencuri secara tidak langsung. Dan bagaimana bisa menghentikan hal-hal berbau bajakan jika ternyata pasarnya memang masih ada?
-Hei, dalam hidup ini, lebih baik kita fokus ke hal-hal yang menyenangkan dibanding yang tidak. -Ditipu oleh pencitraan, seolah sedang membela hal-hal prinsip, tapi sejatinya hanya dimanfaatkan. -Sungguh, jika kalian bersedia memikirkannya, kita bisa melihat kehidupan ini begitu sederhana. Tentang kejujuran. Saat kita selalu jujur, kepada diri sendiri, kepada orang lain, kepada alam sekitar, dan kepada Tuhan kita.
Novel yang penuh kalimat sarkasme dan sindiran buat orang-orang yang senang membeli produk bajakan, entah buku, tas, sepatu ataupun produk-produk ilegal lainnya. Premisnya adalah soal prinsip hidup, bagaimana beberapa orang hidup dalam kepalsuan, dan beberapa orang lainnya memilih hidup dengan memegang teguh sikap integritas & kejujuran. Namun, bagaimanapun keburukan yang kita lakukan, kesempatan untuk jadi lebih baik selalu ada. Maka, jangan segan untuk mengucapkan 'selamat tinggal' pada keburukan, kebodohan, dan ketidakpedulian!
Bercerita tentang Sintong Tinggal, seorang penjaga toko buku bajakan yang senang menulis kemudian memutuskan untuk mencari jejak Sutan Pane, seorang penulis besar namun mungkin tak banyak dikenal yang tiba-tiba hilang dan berhenti menulis di tahun 1965. Dengan bumbu asmara yang menggemaskan karna sukses bikin senyum-senyum sendiri, kemudian patah hati karena cinta pertamanya menikah dengan lelaki lain, kemudian bertemu dengan mahasiswa cantik yang menggetarkan hati, lalu bangkit menyelesaikan skripsi, melakukan riset mendalam tentang Sutan Pane, hingga akhirnya bisa melanjutkan studi ke Belanda. Seru banget! Menikmati perjalanan Sintong dan keputusan-keputusan yang dibuat dengan berani untuk jadi pribadi yang lebih baik memegang prinsip dalam hidup. Tapi… ada yang masih bikin penasaran buatku. Isi surat dari Mawar Terang Bintang yang di akhir epilog itu apa ya 😂
Bercerita tentang Sintong, seorang mahasiswa abadi yang udah kuliah 7 tahun dan masih struggle sama skripsinya, topik skripsinya terkait Sutan Pane, seorang penulis yang vokal mengkritik dan menyuarakan pendapatnya terkait pemerintah namun hilang tiba-tiba. Di tengah urusannya dengan skripsi, Sintong juga mengalami pergejolakan batin karna menjaga toko buku bajakan milik Pakliknya.
Seru bangettt😻‼️disini kita ngikutin perjalanan Sintong ketika mencari tahu tentang Sutan Pane, apa alasannya menghilang dan bagaimana tulisan tulisannya bisa begitu berani. Dari buku ini aku merasa jadi semakin kenal dengan pribadi Tere Liye, aku bisa mengerti terhadap tulisan tulisan bang Tere di media sosialnya ataupun isu isu yang dia bahas di buku-bukunya.
Selain itu, di buku ini juga membahas tentang barang-barang bajakan, gak hanya buku bahkan pakaian, tas, baju, film, dan lain sebagainya pun turut disinggung disini. Sarkasmenya mantap betull, keren banget kalau gak sampai tersinggung dan merasa bersalah setelah bacanya sih😭.
Oiya, novel ini sedikit mirip dengan Janji dan Tentang Kamu, karna mencari dan berkenalan dengan seseorang melalui cerita-cerita orang lain, tapi gak sekompleks dan seberat dua buku itu sih.
Untuk writing stylenya gak usah dibahas lah ya, udah pasti juaraaaa🔥🔥. Aku cuma malas di bagian akhir aja sih hehe karna sikap Sintong tu redflag menurut aku😭, 2 hal yang paling tidak gentleman menurut ku adalah memperlakukan seseorang dengan spesial tanpa tujuan serius dan menjalin hubungan baru tapi belum move on dari yang lama, dan Sintong ngelakuin dua duanyaaa???!!!😭😭😭
Khabar malang sekiranya sesuatu item yang dibeli merupakan barangan palsu (bajakan). Tidak terkecuali hasil penulisan karya.
Naskah ini membahaskan melalui penceritaan tentang betapa buruknya kesan daripada aktiviti ciplak terutamanya kepada karyawan, ekonomi, keluarga, serta masyarakat bahkan kepada negara sendiri - melalui kacamata seorang mahasiswa (kesusateraan) yang berusaha menyelesaikan kertas tesis pengajiannya yang tertangguh.
Malah pada akhir naskah ini, penulis telah memberi panduan tentang ciri-ciri buku yang dipalsukan sebagai langkah waspada.
Nota :
Bersyukur juga negara kita masih terpelihara dan penguatkuasaan undang-undang juga tegas dalam isu yang melibatkan hak cipta. Namun untuk mengekalkan status quo ini - langkah-langkah awal yang berpadanan untuk mencegah perkara ini juga perlu diambil perhatian.
Korupsi juga perlu dibendung bagi mengatasi masalah-masalah ini selain menjatuhkan permintaan kepada produk-produk yang dipalsukan. Ini punca utama barangkali!
Tidak sepenuhnya mengatakan Malaysia tidak terjejas langsung dengan permasalahan ini. Cuma grafnya mungkin masih belum sedia memuncak. Risau!
Ucapkanlah “Selamat Tinggal” kepada sifat membantah pada kebenaran, “Selamat Tinggal” kepada selalu berkata tidak pada kejujuran, serta suka sekali berseru tapi, tapi, dan tapi.
Rate: 4/5 Ini pertama kali aku menyelesaikan buku melalui audiobook. Aku suka sekali dengan karakter utama buku ini, dia seperti orang normal kebanyakan. Bimbang ketika tau sedang melakukan hal yang salah tetapi hal tersebut tak bisa dihindarinya. Aku suka sama ceritanya, ringan tapi memiliki banyak pesan bagus. Seandainya aku punya fisiknya pasti buku ini udah penuh dengan sticky note haha. Tapi untuk cerita hubungan Sintong dengan Jess (Maaf aku ga tau ejaannya) menurutku masih sangat menggantung. Sama halnya dengan hubungan Sintong dan Mawar Terang Bintang.
Tetap worth to read. Terimakasih telah membaca review ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.