Jump to ratings and reviews
Rate this book

Al-Futuhat Al-Makkiyah: Risalah tentang Ma'rifat Rahasia-rahasia Sang Raja dan Kerajaan-Nya

Rate this book

Unknown Binding

1 person is currently reading
2 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (100%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Renasains.
54 reviews
April 7, 2023
Al-Futuhat Al-Makkiyah adalah karya monumental dari seorang sufi dan filsuf terkemuka, Ibnu Arabi. Karya ini dianggap sebagai salah satu karya paling kompleks dan penting dalam sejarah pemikiran Islam, dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam pengembangan teologi, filsafat, dan tasawuf Islam.

Kitab ini membahas berbagai topik yang berkaitan dengan pemahaman tentang hakikat ilahi dan pengalaman mistisisme. Karya ini terdiri dari 560 bab (37 jilid) dan diperkirakan ditulis oleh Ibnu Arabi selama lebih dari dua puluh tahun.

Gaya bahasa yang digunakan dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah sangat kompleks dan metaforis, dengan banyak penggunaan istilah-istilah khusus dan bahasa simbolik yang kaya. Hal ini membuat karya ini menjadi sulit dipahami bagi sebagian orang, dan memerlukan pemahaman yang mendalam tentang filsafat, teologi, dan tasawuf Islam.

Namun, meskipun kompleks, Al-Futuhat Al-Makkiyah dianggap sebagai karya yang sangat penting dalam pengembangan pemikiran Islam. Kitab ini membahas berbagai topik, seperti teologi, kosmologi, filsafat, mistisisme, psikologi, dan sejarah, serta memberikan pandangan yang inovatif dan kontroversial tentang konsep-konsep seperti wahdat al-wujud (kesatuan keberadaan) dan al-insan al-kamil (manusia sempurna).

Al-Futuhat Al-Makkiyah juga memperlihatkan pengaruh Ibnu Arabi dari berbagai tradisi filsafat dan mistisisme, termasuk ajaran Plato, Aristoteles, dan Neoplatonisme. Kitab ini juga memperlihatkan pengaruh Ibnu Arabi dalam perkembangan teks-teks mistik dalam Islam, seperti al-Qur'an, hadits, dan karya-karya para sufi terdahulu.

Secara keseluruhan, Al-Futuhat Al-Makkiyah adalah sebuah karya yang sangat kompleks dan penting dalam sejarah pemikiran Islam. Maha karya ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang filsafat, teologi, dan tasawuf Islam, dan memerlukan waktu dan usaha yang besar untuk dipelajari dan dipahami. Inilah salah satu sumber penting dalam pengembangan pemikiran Islam, sehingga masih dan besar kemungkinan akan terus menjadi bahan bacaan yang relevan bagi para pelajar dan penggemar filsafat dan spiritualitas Islam.


Catatan pribadi:

Semoga seluruh pihak yang terlibat dan telah bekerja keras dalam proses penerjemahan dan penerbitan kitab ini, senantiasa berada dalam lindungan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
126 reviews14 followers
March 17, 2023
Sangat kagum dengan kerja2 penerjemahan, penyuntingan, sampai lay out bukunya. Kerasa banget bahwa proyek terjemahan ini ga asal menerjemahkan, bener2 kualitas banget. Meski tentu dengan segala kesulitan penerjemahannya yang khas dari tulisan2 syekh ibnu al-'arabi, kalimat2 bersayap dengan homonim2 dalam bahasa arab yg juga nuansanya masih bisa ditangkap dalam bentuk terjemahnya.

Di samping dipenuhi dengan informasi2 yg bersumber secara kasyfi (ladunni, spiritual eksperiensial) oleh syekh, kitab yang utuhnya sejumlah 37 sifr/jilid ini juga disisipkan dengan berbagai diagram2 yang diperlukan untuk memudahkan memahami pembahasan yang diulas syekh ibnu al-'arabi. Sisi unik lainnya, kitab ini jg kurang lebih scr susunan pembahasan bersifat tauqifi / dari sananya, terlepas dari kehendak/keinginan/proses kreatif rasional penulisnya. Sbgmana susunan al-qur'an yg bukan disusun oleh nabi muhammad saw melainkan disusunkan oleh Tuhan scr lgs. Meski saya jg tdk tahu seberapa kadar dari susunan dan kontennya yg bersifat tauqifi.

Yang termasuk khas dari kitab ini, sejak sifr/jilid 1, adalah penyebutan nama Al-Haqq untuk menyebut Tuhan. Haqq itu maknanya kebenaran. Al-Qur'an juga menyebut kebenaran itu berasal dari Tuhan semata, al-Haqqu min robbikum. Tapi makna dari penisbatan Tuhan sebagai Al-Haqq dalam sepanjang karya ini sependek setahu saya untuk menunjukkan penekanan bahwa secara kosmologis, daalam karya ini Tuhan diatributkan sebagai "Yang Sebenarnya", "Yang sejati", sebagai kontra dari makhluk yang "Fana", "Bukan Ada/Wujud yang sejati", "Sekadar Ayang2 Tuhan".

Sejak awal penerjemah sudah mengingatkan bahwa untuk memahami karya ini tidak cukup dengan membaca hasil terjemahannya. Namun terjemahan yang dikerjakan secara luar biasa ini hemat saya juga sangat membantu untuk menangkap garis2 besar dari karya ini. Pembahasan sejak bab awal yang kelihatannya memang sengaja dibuat terkesan pelik mengenai kosmologi aksara arab yang ternyata penjelasan2nya baru diletakkan di akhir sifr, konon untuk menghalau org2 yg tidak memiliki cukup himmah atau tekad untuk mempelajari futuh2 kasyfi yang dialami dan dituangkan oleh syekh ibnu al-'arabi. Semoga Allah swt merahmati kita semua dengan orang2 yang berusaha beristiqomah mempelajari karya ini sebagai pintu untuk memahami kalam qadim-Nya, Al-Qur'an Al-Karim.

Sebagai tambahan di antara yang mengena buat saya dari sifr ini adalah ketika Syaikh bilang, “Al-Haqq Swt. adalah Maha Pemberi Anugerah setiap saat dan Maha Pemberi Limpahan dengan tanpa henti. Lokus diri manusia setiap saat akan menjadi penerima, entah itu sebagai penerima untuk kebodohan atau penerima untuk ilmu. Apabila seseorang telah menyiapkan dan menyiagakan dirinya, serta membersihkan dan mengilapkan cermin qalbunya, ia akan memperoleh pemberian anugerah setiap saat. Ia akan memperoleh dalam waktu singkat apa yang tidak mungkin bisa didapatkan dalam kurun waktu yang lama, disebabkan oleh luasnya orbit intelektual dan sempitnya orbit inderawi. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak memiliki akhir dan tidak berujung bisa selesai?

Allah Swt. telah menjelaskan mengenai hal ini melalui perintah-Nya kepada Rasulullah Saw., ‘Dan katakanlah: Rabbku tambahkanlah aku ilmu!’ (QS. 20:114). Yang dimaksud oleh ayat ini adalah tambahan akan ilmu yang terpaut dengan Tuhan agar bertambah makrifat tentang Tauhid terhadap ‘hal banyak’ (al-kasrah). Sehingga dengan hal itu akan bertambah keinginan Rasulullah Saw. untuk memuji-Nya, yang berakibat ditambahkannya fadilah atas pujian beliau dengan tanpa henti dan tanpa putus-putusnya. Tatkala Rasulullah Saw. memohon diberikan tambahan dari-Nya, maka yang beliau peroleh adalah ilmu-ilmu dan rahasia-rahasia yang tidak didapatkan oleh siapa pun.” (h. 224-225)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.