Jump to ratings and reviews
Rate this book

Stonewall Tak Mampir di Atlantis

Rate this book
Situasi lockdown mengingatkan Hendri Yulius Wijaya tentang pengalamannya tumbuh dewasa dengan keterbatasan tokoh panutan dan bahasa untuk menamai hasrat seksualitasnya. Untungnya, komik Sailor Moon, kaset Destiny’s Child, dan film horor Suzanna memberikan pelbagai imajinasi. Dan kemungkinan kreatif untuk menjadi sundal yang fabulous.

Dalam sehimpun puisi yang memadukan ragam bahasa binan, bahasa gaul, dan bahasa Inggris, juga nukilan budaya populer Indonesia dan mancanegara. Ia mendefinisikan queer sebagai sebuah praktik main-main penuh canda untuk menciptakan makna dan cara hidup alternatif di luar wacana dominan.

Mulai dari Desy Ratnasari, RuPaul, puyer Cap Kupu-Kupu, McDonald’s Sarinah, celana dalam GT Man, sampai bintang porno Jepang, Koh Masaki, kumpulan puisi ini mengajak kita semua untuk tertawa secara politis—bahwa perlawanan tak melulu harus tarik otot.

111 pages, Paperback

Published January 1, 2020

2 people are currently reading
19 people want to read

About the author

Hendri Yulius Wijaya

8 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (16%)
4 stars
9 (37%)
3 stars
7 (29%)
2 stars
3 (12%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Desca Ang.
705 reviews36 followers
November 27, 2020
The review is taken from my Instagram account: @descanto

A series of spontaneous protests by the members of the LGBT community occured at the Stonewall Inn in the Greenwich village neighbourhood of Manhattan, New York City following a police raid that began in the early morning hours on 28 June 1969. The riots are considered as one of the most important events which leads to the gay liberation movement in the United States.

Meanwhile, Atlantis is fictional island mentioned in two works of Plato. The mysterious island is often depicted as a setting of place in movie or literary works. People assume that Atlantis in the bygone era resembles a paradise.

So the title that Hendri Yulius takes for his compilation of poems: Stonewall, Tak Mampir di Atlantis (Stonewall, I stop over in Atlantis - Eng) sounds intriguing, doesn't it? My assumption is that, Hendri wants to take his readers to heaven before showing them what a hell looks like. My other assumption is that Hendri comes up with the title to portray the queer in Indonesia which is "ngeri-ngeri sedap" (caught between a rock and a hard place). Why? The Indonesian people seem have no real issues with it as long as the Indonesian queers keep their sexual orientation hidden and do not show it on purpose in public. And if they do, they will be subjected with series of social sanctions (like hell!)

Hendri also portrays the Indonesian queer and its controversy through those poems. The rejection from the family, the double-living, hiding their sexual orientation, coming out of the closet are some of small numbers of issues that he raises through his wittiness in his poems. My favourite ones are Coming Out and Sange

Hendri once texted me saying that writing an academic bullshit is easier than writing a poetry! (Tell me about it... I've been struggling for writing my personal essay on queer). Yet I somehow think he is just being humble because this collection of poems is beautifully written.
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
October 28, 2025
Meski berupa kumpulan puisi, saya melihat buku ini sebagai panduan alternatif bagi pembaca yang tertarik dengan isu gender dan seksualitas, terutama soal queer secara umum. Mari saya jelaskan.

Sebelumnya, saya mungkin sedikit kecewa pada diri sendiri karena membiarkan buku ini ngendon alias ditimbun cukup lama. Padahal, isinya ternyata penuh wawasan dan kaya referensi sekaligus memperlihatkan kekhasan gaya tulis yang cukup unik.

Bahasa binan sebagai salah satu kekhasan queer lokal muncul di sini. Bahasa ini tidak hanya dituangkan pada beberapa puisi, tetapi juga digunakan sebagai judul pembagi bab. Nada nyinyir dan satir pun terasa, misalnya pada “Wahai Istri-Istri Bekasi, Bersatulah!”

Di buku ini, ada juga beberapa puisi yang menceritakan kegetiran dan kegelisahan queer sebagai kelompok minoritas, seperti pada “Kisah Bapak Tua dan Anaknya”, “Muscle Mary”, dan “Saviour Complex”. Ketiganya menjadi favorit karena perasaan tertekan dan terkekang yang dihasilkannya beresonansi cukup kuat dengan saya.

Saviour Complex

oppressed/empowered
dijejalkan bulat-bulat
ke dalam
mulutku
oleh
mereka yang masih
butuh
Pornhub
untuk orgasme.

Dibawakan dengan teknik alusi, sebagian besar puisi-puisi dalam buku ini mengambil istilah, tokoh, peristiwa, dan kutipan serta buku bacaan yang berkaitan erat dengan queer lokal dan mancanegara.

Saya diingatkan kembali tentang peristiwa baik lokal maupun mancanegara seperti kisah tragis transpuan Mira yang mati dibakar massa, Stonewall Riots, dan kematian Erik Rhodes. Saya juga diberi tahu tentang apa itu “sticky rice” dan “rice queen” yang produk pengistilahan dunia Barat.

Pada beberapa puisinya, kutipan-kutipan dari penulis dan pemikir baik lokal maupun mancanegara juga dihadirkan. Saya mencatat Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Ocean Vuong, hingga Gayatri Chakravorty Spivak.

Beberapa buku juga menjadi inspirasi beberapa puisi. Yang saya catat ada “Frankissstein” karya Jeanette Winterson, “The Deviant’s War” karya Eric Cervini, dan “Call Me By Your Name” karya André Aciman. Tak ketinggalan dua buku kumpulan puisi “When I Grow Up I Want to Be a List of Further Possibilities” karya Chen Chen dan “The Tradition” karya Jericho Brown, yang kini masuk daftar baca saya.

Namun, bagai dua mata pisau, referensi-referensi tersebut malah bikin saya kewalahan. Sebagai pembaca, saya merasa dibuat sibuk untuk menelusuri rujukan yang ditempelkan pada puisi-puisinya. Saya menilai, alusi yang begitu kental benar-benar menjadi kekuatan sekaligus tantangan utama di sini.

Kalau di pengantar bukunya penulis bilang “ingin mengawinkan budaya populer Indonesia dan mancanegara”, menurut saya ia berhasil. Selain pada campur-aduk referensi yang saya sebutkan di atas, hal ini juga tampak dari caranya mengenal Jakarta luar-dalam pada “History of Sexuality (2003-2010)” sekaligus mempertontonkan luar negeri pada “Go Back Home”.

Pada akhirnya, alih-alih sekadar membaca bait-bait puisi, saya merasa sedang membuka panduan alternatif untuk mengenal queer lokal dan mancanegara (tapi lebih banyak porsi mancanegaranya sih jujur). Sungguh pengalaman menyelami puisi yang baru.
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
January 10, 2021
Membaca Stonewall Tak Mampir di Atlantis rasa-rasanya seperti menyelami buku akademik yang dibalut dalam buku puisi. Melihat background penulis yang sepertinya memang sudah piawai menulis naskah akademik (mohon koreksi jika salah), ternyata tak bisa dilepaskannya ketika menulis puisi. Malah, membikin puisi ini jadi punya nilai plus!⠀

Sepengalamanku ketika membaca, penulis sangat berbaik hati karena ia enggan membiarkan para pembaca mengalami ketersesatan konteks dan makna, dengan menyertakan footnote yang ia tinggalkan di sebagian halaman. Footnote ini berisi referensi yang didapatnya (misal dari peristiwa tertentu yang memang relevan, atau mungkin film dan buku yang jadi inspirasinya), juga definisi kata-kata tertentu.⠀

Wah, footnote ini sangat membantuku untuk memahami makna apa ingin diutarakan, terutama ketika aku menemukan kosakata asing (seperti bahasa binan) atau diksi lain yang berkaitan dengan queerness. Pun footnote ini bisa jadi further readings bagi para pembaca yang tertarik dengan isu-isu queerness. Gampangnya, untuk permulaan, tinggal googling aja.⠀

Hal menarik lainnya yang kutemukan adalah penulis cukup berani untuk mengeksplorasi gaya berpuisinya, termasuk panjang-pendek kalimat, perpaduan analogi dan peristiwa, pemilihan kata, serta penggunaan bahasa.⠀

Dan kalau kamu tertarik untuk membaca ulasannya lebih lanjut, silakan membacanya di IG @sintiawithbooks
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.