Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sala Dewi

Rate this book
Sebuah kumpulan cerita yang mengangkat lokalitas budaya Bugis Makassar, Toraja dan mengusung isu-isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Mulai dari cerita tentang bissu, konflik di balik upacara kematian di Toraja sampai korban kawin lari di perkawinan Bugis; juga ada cerita tentang perempuan perawan yang dijaga kesuciannnya untuk menjaga keutuhan adat dan perawan berumur berseteru dengan seorang janda karena kematian suami yang belum diketahui sebabnya.

Kami hanya bisa melangun, membawa haba-haba kami pergi berkelana, berangkat dari kesedihan entah menuju hutan yang mana. ("Orang Terang")

Dari awal belajar menulis cerpen saya memang tertarik mengangkat budaya lokal, memperkenalkan budaya lokal tersebut sekaligus mengkritisinya. Di bangku sekolah saya dulu belajar budaya itu sesuatu yang usang dan tidak menarik. Setelah saya merantau, berjarak dengan kebiasaan di kampung, saya rindu untuk kembali, lewat cerita-cerita.
(Emil Amir)

140 pages, Paperback

First published October 1, 2020

4 people are currently reading
145 people want to read

About the author

Emil Amir

8 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (17%)
4 stars
32 (40%)
3 stars
29 (36%)
2 stars
3 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Safara.
413 reviews68 followers
October 24, 2020
Saya membeli kumpulan cerpen ini tanpa ekspektasi apapun. Cerita ini seputar adat Toraja dan sekitarnya. Sebagai orang yang tinggal di Jawa, rasanya melihat Toraja itu terasa sangat jauh.

Kumpulan cerpennya terdiri dari judul berikut
"Sala Dewi"
Sala Dewi artinya bukan perempuan, berasal dari kata Sala yang berarti bukan, dan Dewi yang bearti perempuan. Cerita ini fokus kepada calabai (laki-laki “feminin”) yang berakhir tragis. Kadang,

Ambe Masih Sakit
Salah satu cerita yang membahas kalau pemakaman adat Toraja semahal itu. Kalo keluarganya belum selesai berkabung, anaknya belum boleh nikah karena mengutamakan penguburan dulu.

Perempuan Kampung Karampuang
Latarnya di kota Sinjai, Sulawesi Selatan. Cerita ini fokus mengenai Jubaedah, seorang wanita yang dididik untuk menjadi nenek moyang orang Karampuang yang berwujud wanita. Kadang, paksaan adat lebih memberatkan dibanding keinginan pribadi.

Tanah Hitam
Membahas tentang sengketa tanah ulayat dengan pemerintah. Rasanya, LSM yang mendukung warga juga tidak terlalu berpengaruh.

"Silariang"
Silariang artinya kawin lari. Banyak kasus kawin lari yang terjadi karena "level" keluarga yang berbeda.

Hajrah, Langkahi Jenazah Suamimu
Ada sebuah adat jika seorang suami meninggal, istri harus melangkahi mayat suaminya supaya tidak "bau janda". Katanya, kalau "bau janda" nanti akan banyak laki-laki yang mau melangkahi.

Menunggu Kematian Ibu
Anak yang bertanggung jawab kepada ibunya, karena satu-satunya orang yang bisa menerima hanya ibunya.

Di Atas Kamar di Bawah Atap
Cerita mengenai pelecehan seksual yang membuat anak di bawah umur jadi penasaran dengan sesuatu yang seharusnya.

Istri Dulu
Membahas tentang fenomena suami yang merantau, tapi kembali membawa istri baru.

Rohani
Pelecehan seksual terhadap ODGJ yang dianggap lumrah oleh banyak orang.

Orang Terang
Orang Terang adalah istilah untuk orang di luar wilayah adat.

Salah satu fitur menarik dari buku ini adalah ada foot notes! Foot notesnya lengkap, mulai dari menjelaskan seputar sejarah sekaligus istilah bahasa daerah. Emil Amir membuat kumpulan cerpen ini dengan riset yang mendalam. Aku sangat suka membaca kumpulan cerpen yang baik dan mencerdaskan seperti ini.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
February 20, 2022
Kumpulan cerita pendek yang unik dan beda dari yang lain, mengambil later belakang adat di Sulawesi Selatan dengan suku-suku asli dan tradisi yang masih dijunjung tinggi, memberikan banyak sekali pengetahuan baru tetapi juga pandangan yang berbeda dengan topik seperti lgbtq+ yang pada umumnya dianggap tabuh oleh masyarakat tradisional.

Topik pemerkosaan, pelecehan seksual dsb juga dibahas dalam buku ini. Membuat aku sering sedih melihat nasib para karakternya. Bagaimana posisi para korban ini di dalam Adat.

Cerpen yg paling berkesan menurutku dari 11 cerpen adalah:

- Sala Dewi
- Tanah Hitam
- Menunggu Kematian Ibu
- Di Atas Kamar di Bawah Atap

Tapi cerpen yang lain pun tidak kalah seru dan menarik untuk dibaca

Overall, recommended! buat pembaca yg ingin membaca lebih banyak sastra Indonesia berlatar belakang adat tapi dengan sudut pandang yg ‘terkesan’ menentang adat itu sendiri
Profile Image for Alien.
254 reviews32 followers
February 28, 2021
Sayang sekali saya tidak berhasil memberikan bintang yang lebih tinggi untuk buku ini.
Kalau menurut penjelasan Goodreads, 3 bintang = "i liked it", tapi sejujurnya saya kurang suka dengan buku ini. Berikut ini adalah beberapa hal yang saya tidak suka dari buku ini:

1. Catatan kaki.
Sungguh saya sangat terganggu saat membaca. Menurut saya, kegiatan mata saya bergerak dari atas halaman ke bawah halaman demi mendapatkan penjelasan mengenai sebuah kata adalah suatu kegiatan yang merepotkan. Saat membaca buku Bahasa Inggris saja, ketika saya terbentur dengan kata yang tidak saya mengerti, saya biasanya tabrak saja dan tetap memahami dengan konteks. Kata-kata asing di buku ini sayangnya tidak bisa "ditabrak saja" dan keputusan untuk menjelaskannya dalam catatan kaki adalah hal yang sangat saya sayangkan. Anehnya, penulis menunjukkan bahwa dia sebenarnya bisa menginkorporasikan sebuah istilah asing dalam kalimat. Saat menjelaskan kata 'calabai', penjelasannya dimasukkan ke badan kalimat. Lalu mengapa tidak dilakukan pada semua istilah asing?
2. #OwnVoices
Rasa menggelitik kembali datang kepada saya seperti ketika saya membaca buku Puya Ke Puya karya Faisal Oddang. Di buku ini, penulis bercerita tentang suku-suku di Sulawesi Selatan yang bukan sukunya sendiri. Sebagai pembaca, saya jadi bertanya-tanya: apakah cerita tentang suku-suku lain ini representatif? Apakah benar? Apakah etis?
Apakah Indonesia - baik penulis maupun pembacanya - sudah siap dengan kritik #OwnVoices? Di Indonesia ini banyak sekali suku dan berbagai cerita banyak yang belum tersampaikan - siapakah yang berhak untuk menceritakan kisah-kisah yang belum tersampaikan ini? Lalu bagaimana seharusnya pembaca menanggapi?
3. Kalimat-kalimat puitis yang terasa asal sebar.
Selama membaca, saya sering agak kaget ketika menemukan kalimat-kalimat puitis yang terasa asal sebar. Untungnya, penulis pernah menjelaskan di sebuat podcast bahwa dia ingin menjadi seorang penyair. Saya jadi sedikit lebih mengerti. Tapi sayangnya kalimat-kalimat puitis ini hanya disebar tanpa alasan. Kepuitisan kalimat tidak konsisten disetiap bagian cerita, jadi ketika kalimat-kalimat ini muncul, saya sering bingung sendiri.

Saya merasa bersyukur bahwa saya sempat mendengar podcast mengenai latar belakang penulis. Hal ini membuat saya sedikit bersimpati dan lebih memahami 'behind the scene' dibalik buku ini. Hal ini juga yang menyebabkan saya tidak sepenuhnya tidak suka dengan buku ini.

Hal lain yang membuat saya juga terpana adalah perihal tanggapan para pembaca lain mengenai buku ini. Kebetulan saya sempat mengikuti sebuah klub buku yang membahas buku ini dan sepertinya hanya saya saja yang tidak menyukai buku ini. Para anggota klub ini hanya menyoalkan akhir dari tiap cerita di buku ini yang sangat sedih - mereka sepertinya mengharapkan cerita-cerita yang happy ending. Saya sendiri bingung - memangnya kenapa kalau cerita-ceritanya sad ending?
Lalu, hal lain yang membuat saya bingung adalah ekspektasi pembaca yang ingin "belajar". Karena promosi penerbit yang mengelu-elukan cerita yang sarat dengan aspek lokalitas dari Sulawesi Selatan, banyak pembaca yang mengaku membaca buku ini karena ingin "belajar" mengenai kebudayaan di Sulawesi Selatan. Mohon maaf, saya harus tertawa akan hal ini. Saya harap pembaca Indonesia bisa lebih dewasa dan bisa memutuskan untuk "belajar" dari buku-buku pelajaran dan jangan mendewakan buku-buku fiksi (apalagi buku cerpen!). Saya rasa hal ini juga tidak adil bagi penulisnya. Penulis fiksi tidak memiliki kewajiban untuk mengajari pembacanya, jadi kita sebagai pembaca juga tidak seharusnya membebani penulis dengan keinginan untuk belajar.

Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
July 1, 2021
Sebelum banyak berkomentar saya ingin bilang bahwa pengalaman saya membaca karya fiksi queer Indonesia sangatlah sempit. Emil jadi penulis queer kedua yang saya baca setelah Norman jadi barangkali review ini jadi sangat sempit perspektifnya.

Pertama, soal pemilihan tema lokal, perempuan dan queer tentu saja kumpulan cerpen ini jadi istimewa. Emil sangat jenius memilih cerita dan sudut pandang tokoh. Kedua, buku ini juga membuka saya soal pengetahuan atas pola sosial baru serta tantangan kekinian soal pembangunan soal pariwisata dan urbanisasi. Emil cukup kritis soal ini salah satunya soal relasi komunitas adat dengan tanah.

Ketiga, ini yang membuat saya butuh waktu lama untuk membaca buku ini ialah gaya bahasa Emil. Dia terlalu santun dalam mendiskusikan seksualitas serta hal-hal sensual lainnya. Itu problem buat saya karena cerita ini jadi kehilangan nyawanya dan terkesan monoton. Berikutnya semua cerpen di buku ini semuanya pernah dipublikasi, jadi tidak ada yang baru. Menurutku ini tidak adil buat pembaca setia Emil. Walaupun saya paham mengapa Emil punya gaya bahasa sangat santun karena latar belakang komunitas menulisnya yang Islami. Cuma sebagai pembaca, saya butuh novel queer yang lebih "panas" karena identitas queer harus dirayakan dengan semeriah mungkin.

Buku ini buku bagus, saya berharap banyak yang baca supaya kita bisa kenal bahwa queer itu bukan semata identitas kota. Saya juga mendukung Emil dan Para penulis queer Indonesia lain untuk semakin produktif dan semakin meriah merayakan identitasnya.

#WhatSekarReads #WhatSekarReads2021
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
204 reviews5 followers
March 12, 2021
#KEBAB05 - KEBAB Reading Club
Feb 2021 ~ Sala Dewi

Dari beberapa cerita, sebenarnya saya sudah pernah membaca novel tentang Calabai yang ditulis Pepi Al-Bayqunie, juga dari novelnya Faisal Oddang yang mengangkat budaya Toraja sampai dokumenter bagus dari Vice tentang Royal Blood.

Namun, ada beberapa cerita adat lain yang baru saya ketahui setelah membaca buku ini. Selain cerpen Sala Dewi, ada dua cerpen yang jadi favorit saya yaitu Menunggu Kematian Ibu dan Di Atas Kamar Di Bawah Atap. Cerpen lainnya, walau memang terlihat seperti drama keluarga, Emil bisa menghadirkannya lewat penggalan kisah.

Ada juga tiga cerita bertemakan queer yang jarang diangkat dalam cerpen Indonesia. Baru-baru ini saya membaca novel yang di halaman belakang ada pengumuman dari satu penerbit yang tidak menerima naskah yang mengandung tema LGBTQ. Tidak semua penerbit berani, maka saya mengapresiasi Indonesia Tera yang mau menerbitkan cerita dengan isu ini.

Saya merasa mungkin lebih cocok membaca tentang cerita budaya dalam satu tulisan yang panjang berbentuk novel karena eksplorasinya bisa lebih dalam. Karena beberapa kali saya gagal paham, dengan plot twist di akhir cerpen-cerpen di buku ini, begitu juga keanehan mengapa tiba-tiba timbul kekejaman sedemikian rupa tanpa dijelaskan faktor penyebabnya. Setelah diskusi KEBAB barulah saya paham karena disebutkan konteks kejadiannya. Lebih lagi ternyata ada metafora sosok buaya dari adat Bugis yang dijelaskan lengkap oleh mas Aldo. Rasanya saya tidak akan paham jika tidak ada perbincangan seperti ini.

Yang saya suka dari diskusi sharing antar pembaca adalah satu buku yang sama, diperlakukan dengan berbagai cara, ada yang membuat klasifikasi ending, membaca perlahan satu per satu, membaca acak sesuai kesukaan, atau membaca sesuai urutan tahun terbit. Lengkapnya bisa di baca di postingan terakhir di akun KEBAB.

Terakhir, ini usulan suka-suka saja: bagaimana jika dibuat satu halaman penjelasan di akhir tiap cerita, singkat saja mengenai konteks cerita dan juga bisa memuat beberapa kosa kata yang perlu diterjemahkan sebagai pengganti catatan kaki yang bisa mengganggu keasyikan membaca.
Profile Image for Yuniar Ardhist.
159 reviews18 followers
April 9, 2021
Lokalitas. Sebuah kata yang bahkan seberapa pun jauh pergi, rasanya tak akan pernah bisa melepaskan diri darinya.

Setiap orang lahir dari sebuah lingkungan, selamanya akan membawa (dan terbiasa) dengan hal-hal yang lekat dalam kesehariannya. Indonesia, dengan geografis wilayah membentang sangat luas, di sisi lain membawa ‘dampak’ keberagaman yang juga sangat banyak.

Sebagai masyarakat yang telah terbiasa hidup dalam keberagaman, isu-isu lokalitas sudah sepatutnya diangkat sebagai bentuk apresiasi dan cara untuk mengenal setiap budaya yang ada di Indonesia.

Jauh dari keinginan untuk penghakiman, atau menyoal salah dan benar. Lokalitas adalah wujud eksistensi budaya, yang benar ada dan jalin-menjalin dalam kehidupan masyarakatnya. Lokalitas di dalam kisah-kisah fiksi, atau dalam konteks riset, adalah paparan fakta tentang kebiasaan, pemikiran, keyakinan, konflik pribadi maupun dalam relasi sosial, dll dalam manusia. Semuanya bisa terangkum dalam konteks lokalitas itu sendiri.

“Sala Dewi” adalah salah satu karya dari penulis Sulawesi Selatan, yang ingin memotret keberagaman lokal di sana. Diangkat dalam diskusi #KEBAB05 Februari 2021 lalu, Mas Emil menyampaikan beberapa pandangan sekaligus latar kisah bagaimana menulis kisah-kisah di buku ini. [Rangkuman diskusinya bisa dilihat di IG : @kebabreadingclub]

Sebelas judul dalam buku ini telah pernah terbit di media. Disatukan dalam konsep Kumpulan Cerpen, penulis mengikatnya dalam sebuah tema : lokalitas budaya Sulawesi Selatan.

Ide-ide awal ceritanya menarik, apalagi jika pembaca pernah membaca isu-isu serupa, misal tentang bissu. Bissu merupakan gender kelima selain perempuan (makunrai), laki-laki (uroane), perempuan berpenampilan laki-laki (calalai), dan laki-laki berpenampilan perempuan (calabai). Mereka mendapatkan tempat terhormat dalam ritual adat. Di sisi lain, ada sejarah sebuah gerakan dari kaum ekstrimis untuk membinasakannya. Salah satu kisah di buku ini mengangkat perspektif dari tokoh bissu yang dilengkapi dengan penggambaran perasaannya sebagai tokoh cerita.

Saya mengapresiasi keinginan dan dorongan yang dirasakan penulis untuk mengangkat tema-tema sensitif ini lebih ke permukaan. Memang ini tema-tema yang bisa jadi belum banyak, atau tenggelam dalam lautan begitu banyak buku yang beredar. Itu artinya bisa jadi bukan karena tidak disukai. Bisa jadi sebenarnya disukai, atau akan disukai. Maka, tema-tema yang menarik ini sungguh akan lebih menarik jika dikemas dalam sebuah kisah yang dituliskan dengan juga menarik.

Sebagaimana banyak lain, terkadang sebuah karya dianggap menarik bukan hanya karena ide awalnya sudah menarik. Yang lebih penting sebenarnya adalah caranya menuliskan. Gaya penulisan. Sebuah kisah biasa, bisa jadi sangat menarik karena diramu dengan daya kreativitas yang tinggi, detil, dan teliti. Begitu pun sebaliknya. Maka, tetaplah saya punya beberapa catatan untuk karya ini. Catatan saya, dominan pada gaya penulisan cerpennya, khususnya plot yang tiba-tiba melompat. Cerpen-cerpen di sini juga sering bersifat fragmentaris, dengan jelas memasukkan beberapa fragmen berbeda, dan misal ditandai dengan pengakhiran tanda bintang tiga (***). Di satu sisi ini bagus, SGA di beberapa cerpennya pun menggunakan teknik serupa. Namun, perpindahan adegan itu masih terasa kurang halus, seperti tiba-tiba harus dipaksa putus. Sebagai pembaca, hal itu menimbulkan perasaan kurang nyaman ketika saya membacanya. Jika boleh berekspektasi dan berharap, saya ingin kisahnya dibuat lebih detil dan dalam.

Ya, memang bisa jadi ini pun karena keterbatasan ruang dalam cerpen sehingga turut mempengaruhi. Dan hal itu mungkin juga membutuhkan jam terbang untuk terus menulis agar perlahan komposisi struktur ceritanya tetap bisa rapat, banyak fragmen, konflik menarik, tetapi tetap dalam konsep cerpen. Banyak penulis senior di Indonesia yang cerpennya-cerpennya sangat memikat. Salah satunya Budi Darma. Kekuatan alur dan plotnya juara. Harapan ke depan untuk penulisnya, semoga karya selanjutnya bisa lebih menarik lagi dengan tetap mengeksplorasi lokalitas, harta berharga Indonesia.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Desca Ang.
713 reviews37 followers
December 31, 2020
This review is taken from my IG account @descanto

Sala Dewi is a novel consists of eleven short stories written by Emil Amir. Emil takes the readers for a round in South Sulawesi and presents them with its culture - seen from different perspectives tho.

In this novel, Emil rises the issues about LGBTIQ along with the violence - either physical or sexual that comes with and without it. The stories about a Bissu (a trans who is also the community priest) who longs and hungry for love; a mother who is abused by the husband but is unable to leave him; children who are sexually violated are some of the things that the readers will find in this book. Interesting ha!

I really admire Emil's bravery for portraying those issues tho. Some stories seem real and are relatable to everyday life. Yet after reading it for a while, several stories are getting too soapy and predictable. You can guess where and how it ends.

Hey, it's not that bad tho. Some soapy scenes are also needed to make a dramatic stories. It's an interesting read that will give a glimpse of portrayal about the Bugis culture and the Indonesian sexuality. Bravo! Great job, Emil! 👏

The book was once recommended by my darling reading buddy Gris from @imgriss. Makasih, darling 🙏

Mind you that KEBAB reading club @kebabreadingclub will host a discussion on Sala Dewi on 27 February 2021. The novel will be an interesting object to be discussed not only from its literary side but also from the cultural and gender Point of view. Simply register yourself and book your slot. The registration link is available on KEBAB’s bio.

Will see you there…
Profile Image for raafi.
952 reviews463 followers
December 30, 2020
Bila ditilik dari kreasi kisah berdasarkan adat, buku ini memang patut diacungi jempol. Baru buku ini yang menyajikan cerita-cerita penuh pelintiran mengena hati dengan latar lokalitas yang begitu kental (bahkan cerita-cerita awal diberikan catatan kaki sampai belasan buah untuk menjelaskan maksud dan definisi dari term adat lokal).

Isu yang diangkat pun berani karena kebanyakan terkesan "melanggar" ketentuan adat, baik itu secara aktif (dengan tokoh utama dalam adat yang betul-betul melanggar) maupun pasif (ada tokoh atau kondisi lain di luar adat yang mengacau). Melihat dari asalnya yaitu Sulawesi bagian selatan, penulis pun dengan gagah membuat kisah fiksi tidak hanya dengan latar dari tempat kelahirannya tetapi juga dari luar (ada satu cerpen yang ditulis dengan latar adat Orang Rimba di Jambi).

Meski demikian, bila dilihat dari tuturan bahasa dan logika penceritaan, buku ini masih kurang. Pada beberapa cerita, aku dibuat pusing tujuh keliling memahami akhirnya. Rasanya, masih diperlukan satu-dua kalimat untuk menjelaskan maksud bagian pemungkasnya. Lebih-lebih di akhir inilah penulis memberikan pelintiran cerita. Dari hal tersebut, aku menilai pelintiran ceritanya sedikit tidak sukses.

Secara keseluruhan, aku menyukai buku ini. Melalui cerita-ceritanya, penulis sepertinya ingin menonjolkan kebimbangan antara patuh pada adat yang berlaku dan berkhianat berlandaskan logika serta perasaan. Kita tidak bisa menggabungkannya; harus memilih salah satunya. Lalu, silakan terima konsekuensinya.

Tiga cerpen yang kusuka adalah: "Tanah Hitam" (tentang seorang perempuan Suku Kajang yang melanglang buana di alam bawah sadarnya), "Di Atas Kamar Di Bawah Atap" (tentang seorang anak laki-laki yang berkelana di atas loteng sembari membawa trauma masa lalunya), dan tentu saja "Sala Dewi" (kisah intens seorang waria yang 'diganggu' oleh kekentalan adat tanah kelahirannya sendiri).
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews10 followers
November 3, 2020
Kumpulan cerpen ini punya cerita yang sarat emosi dan selalu dengan kejutan yang membuat saya termenung di akhir cerita. Cerita berlatarkan kebudayaan sulawesi selatan yang kental ini tidak cuma memberikan saya pengetahuan baru tentang adat dan budaya, tapi juga mengajak kita memahami sudut pandang adat, nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya, dan apa yang ingin mereka lindungi.

Saya jadi mengerti kenapa suku toraja rela menunda upacara kematian anggota keluarga mereka hingga bertahun2, kenapa biayanya sangat mahal. Apa kalian tahu kalau seseorang yg belum dipestakan kematiannya di toraja belum dianggap mati tapi hanya sakit?suku toraja percaya bahwa saat itu roh mereka tertahan di rumah hingga bisa dipestakan kematiannya. itu sebabnya mereka masih dirawat di rumah, diajak bicara dan diurusi bahkan hingga puluhan tahun.

Di sisi lain cerpen-cerpen emil juga menyuarakan jeritan mereka yang dianggap berbeda oleh masyarakat, seperti cerpen yang menjadi judul cerita ini, Sala Dewi. Ia juga mengajak kita melihat tentang keterbatasan2 yang disebabkan oleh adat, yang merampas kemerdekaan sebagian orang. Emil mengajak kita berpikir dan memutuskan sendiri apakah pengorbanan itu memang setimpal atau tidak.

Saya sangat kagum dengan cerpen-cerpen emil, jarang saya temukan kumpulan cerpen yang sangat membekas dengan pilihan diksi yang indah seperti layaknya puisi.

Belum lama ini saya berkesempatan mengikuti diskusi buku sala dewi yang diadakan oleh MIWF dan mengundang emil amir. Dari sana saya tau kalau ternyata kumpulan cerpen ini ditulis dalam rentang waktu hampir sepuluh tahun. 1 cerpen butuh waktu hampir 1 tahun untuk penyempurnaannya. Hal ini karena memang emil tidak pernah berniat untuk membukukan cerpen-cerpennya. Mungkin itu sebabnya cerita2nya terasa begitu polos, sangat dalam, dan membekas di hati.

Semoga akan ada buku-buku emil selanjutnya yang pasti akan saya beli. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca buku ini.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book275 followers
April 21, 2021
Terdapat 11 cerpen dalam buku ini, dimana sebagian besar dilatarbelakangi oleh adat di Sulawesi Selatan (kecuali cerpen ke-11 yang berjudul Orang Terang, sepertinya berlatar belakang Jambi). Cerpennya lugas, dan seringkali berhenti pada saat klimaks, membuat saya sebagai pembaca bertanya-tanya, bagaimana kelanjutannya.

Melalui cerpen-cerpen di dalam buku ini, kita bisa menelusuri adat istiadat bissu, rambu solo, silariang dan masih banyak lagi. Saya senang sekali dengan kisah-kisah yang mengangkat adat Sulawesi Selatan untuk dinikmati sebagai prosa. Hanya saja tema cerpennya hampir sama, perkawinan terlarang. Entah itu karena adat, umur, atau bahkan karena jenis kelamin yang sama.

Sebelas cerpen ini pernah diterbitkan di berbagai media atau menang lomba. Merangkumnya dalam satu buku adalah langkah jitu. Saya menantikan karya-karya penulis berikutnya. Jika memungkinkan dalam bentuk novel.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
313 reviews6 followers
July 20, 2022
Merupakan sekumpulan KumCer dengan tema spesifik tentang budaya masyarakat adat Bugis. Dikemas dengan penyampaian yang apik sehingga meskipun tema yang diusung cukup klasik masih tetap ada warna baru pada setiap cerita yang disampaikan.

Cerita dituturkan dengan perpaduan bahasa indonesia dan beberapa istilah adat Bugis yang oleh penulis sudah disediakan arti dari setiap istilah tersebut membuat alur cerita mudah dipahami oleh pembaca, utamanya untuk pembaca yang tidak mengerti dengan bahasa daerah Bugis.

Hal menarik lainnya yaitu terlihat dari bagaimana cara penulis menggambarkan situasi dalam setiap cerita. Dimana penulis seperti berusaha menghindari "ke-ajeg-an" dari suatu budaya yang dijadikan dasar pokok cerita. Setiap kisah akan selalu disisipi hal-hal anomali yang beberapa kali mengiris hati. Acapkali, penulis dengan tanpa ragu menyudahi cerita dengan ihwal yang kurang disenangi beberapa pembaca. Namun, kembali lagi pada kemewahan dalam fiksi, penulis begitu digdaya dan bebas menentukan nasib para tokohnya.
Profile Image for Saji.
101 reviews5 followers
February 26, 2021
Saya tahu dalam buku ini, "Sala Dewi" cerpen yang terbaik hingga menjadi judul bukunya, tapi bagi saya "Silairang" yang terfavorit. "Silairang" berakhir dengan cukup baik bagi tokoh utama maupun tokoh sampingan, tapi saya gak ikhlas :'), karena masih kesel sama Andi Jamaluddin dan Halima.

Buku ini terdiri dari 11 cerpen. Ada yang bertema pernikahan, LGBT, budaya. Membaca buku ini membuat sadar bahwa tak semua orang bisa menjalani hidup normal, menikahi orang yang disukai-hidup bahagia-punya anak-punya cucu-dan disukai masyarakat. Ada orang-orang yang harus menekan perasaanya, karena disebut memiliki penyimpangan gender ataupu orientasi seksual, ada yang harus menanggung malu karena menjadi perawan tua, ada yang tak bisa menikahi orang yang disukai karena mandul, ada yang selalu berperang batin karena mencintai orang yang suka selingkuh.

Sungguh aneka rasa ini kumcer :D
Profile Image for Debit Kiri.
35 reviews
April 9, 2022
Sangat tragis. Sudah, karena sepanjang baca buku ini dipenuhi pikiran, "Gila, stres, biadab, lah kok" dan sebagainya. Isinya sarat akan adat-istiadat yang baru kutahu, bahasa-bahasa yang asing gak pernah menggangguku karena itu membuat ceritanya hidup. Hmm, meskipun jujur beberapa cerpen perlu dibaca berulang kali untuk dipahami—padahal tetep nggak ngerti akhirnya. Ada yang hanya sebatas lewat saja karena kurang terbayangkan di kepala.

Juga, terima kasih kepada Di Atas Kamar di Bawah Atap yang cukup ... membuatku—jika kamu mengerti—amat sedih dan tergoyah. Cerpen penutup buku ini, Orang Terang, entahlah kenapa mengguyurkan kendi kesedihan ke mukaku, cukup gila.

Senang dan puas bisa membaca buku ini.
Profile Image for Nina Savitri.
88 reviews2 followers
February 1, 2021
Kumcer ini mengawali dengan cerita yg kurang menarik, jujur saat awal aku hampir saja memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Untungnya keinginan itu tidak segera di eksekusi. Saya memutuskan membaca sampai akhir. Dan syukurlah cerita yang ada di akhir menebus semua kesalahan yg ada di depan. Penulisan yg terlalu mbulet menjadikan cerita dengan isu yg menarik ini jadi biasa saja. Seandainya di kemas dengan lebih baik, tentu akan sangat luar biasa.
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews6 followers
December 10, 2021
WOWWWWW
emang bener kan manjur kalo lagi reading slump aku harusnya baca kumcer aja.
cerita yang ada di dalamnya menarik, latar belakang di pulau sulawesi, menambah perbendaharaan dan jadi tau ada adat-adat semacam itu di sana.

cerita-cerita di dalamnya membahas tentang cinta. ending nya mostly bikin agak nyesek yaa. tidak hanya membahas tentang budaya sulawesi, tapi juga mengangkat isu yang sangat sensitif (lgbt).

yaudah lah pokoknya aku suka sama kumcer ini.
Profile Image for Dela Ayu.
3 reviews
June 10, 2021
hmmm cuma bisa kasih bintang 3
Menurutku point tiap ceritanya sebenernya bagus, tp buat aku yang ga kenal banget sama kata-kata yang baku dan puitis idk,aku butuh waktu banget buat mencerna setiap lembarnya dan kadang dibeberapa cerita aku berhenti dulu buat bener-bener mencerna apasih ini ceritanya, tentang apasih ini.

Walaupun bukunya lumayan tipis dan ku pikir akan ku habiskan dalam 1-2 hari, kenyataannya aku butuh berapa minggu untuk menyelesaikan + paham akan setiap ceritanya.

Kunci utama baca buku ini : FOKUS
kalo lagi ga fokus jangan deh, buyar semua yang ada <3
Profile Image for naga.
451 reviews97 followers
November 30, 2020
trigger warnings: rape, sexual assault, transphobic, death, violence.

Antologi ini kaya banget sama budayanya. Sayangnya dalam 5 cerpen pertama aku kurang merasa connected sama karakter dan cerita-ceritanya.
Profile Image for Risma Farhanah.
6 reviews
April 14, 2021
Cerita perihal cinta dari segala sudut pandang. Beruntungnya buku ini punya catatan kaki yang sangat membantu pembaca!
Profile Image for Vira Tanka.
36 reviews2 followers
December 29, 2021
yang saya suka: cerita2 di buku ini berlatar budatya toraja dan bugis, budaya yang nggak banyak saya tahu. jadi, sedikit menambah wawasan tentang budaya nusantara.
yang saya kurang suka: topik2nya cukup memilukan. sedihnya, jangan2 memang begitulah gambaran kehidupan “grassroots”. bikin sedih dan marah.
dan yang saya nggak suka: sebagian besar penulisannya menye-menye, tipe mendayu-dayu gitu. bukan selera saya aja sih.
Profile Image for Wienny Siska.
51 reviews3 followers
March 3, 2021
Kumpulan cerpen yang menarik di mana penulisnya mengangkat beberapa budaya di Indonesia. Namun memang perlu kesabaran untuk membaca catatan kaki buat beberapa cerita :D. Penulisnya pun mengangkat beberapa isu LGBTQ dengan sudut pandang yang berbeda.

Menikmatinya meski memang beberapa bagian menganggu dan cukup berat buatku. Hanya merasa bahwa banyak isu yang masih berputar dan terasa nggak ada ujung pangkalnya. Bagaimana perempuan diperlakukan, bagaimana 'manusia modern' begitu merusak.
Profile Image for Faisal Chairul.
272 reviews18 followers
April 23, 2021
Ulasan berikut merupakan ulasan yang pernah gw muat di akun instagram @faisalchairul
.
👩: "Adalah larangan melakukan ʀᴀᴍʙᴜ ᴛᴜᴋᴀ, apalagi ʀᴀᴍᴘᴀɴᴀɴ ᴋᴀᴘᴘᴀ, apabila rambu solo blm diselenggarakan."
👦: "Kenapa, apakah itu menyalahi ᴀʟᴜᴋ?"
👩: "Itu sama saja kau meminta hakmu tanpa menunaikan kewajiban sebagai anak."
.
👦: "Dulu ᴀᴍʙᴇ pernah bilang padaku, hidup itu untuk mati. Dunia ini tempat persinggahan dan mati adl pintu ke ᴘᴜʏᴀ, di kehidupan yg sesungguhnya. ... . Kata Ambe carilah bekal, ᴅᴀʟʟᴇ buat mati. Biar kelak tidak menyusahkan keturunanmu. Seharusnya ᴀᴍʙᴇ juga begitu."
.
👩: "ᴀᴍʙᴇ-mu perlu kunci untuk membuka pintu ke ᴘᴜʏᴀ, ʀᴀᴍʙᴜ ꜱᴏʟᴏ. Perjalanan kesana jauh sekali, butuh kendaraan, ᴛᴇᴅᴏɴɢ ʙᴏɴɢᴀ, agar cepat sampai."
👦: "Beberapa babi dan seekor kerbau aku kira sudah cukup, Indo. ᴛᴇᴅᴏɴɢ ʙᴏɴɢᴀ ratusan juta harganya. Kita mana sanggup."
👩: "ᴀᴍʙᴇ-mu itu keturunan ᴛᴀɴᴀ ʙᴜʟᴀᴀɴ. Bukan orang sembarangan. Ini bukan asal upacara, tapi martabat yg harus dijunjung."
.
.
"Kita lahir, datang dari gelap. Kita mati kembali ke gelap. Maka hitam, nak, mengingatkan. Hitam untuk ᴋᴀᴍᴀꜱᴇ-ᴍᴀꜱᴇ. Buat hidupmu sederhana, sahaja dan prihatin. Biar kelak ada bekal di hari kemudian."
.
"Tanah adl ibu, nak. ᴀɴʀᴏɴɢᴛᴀ. Tempat kita tinggal. Melahirkan cuma sekali setahun. Begitulah adat kita panen hasil, lebih dari itu sudah menyalahi alam. Mengeruk itu merusak. ᴘᴀꜱᴀɴɢ mengajarkan utk tdk serakah mengolah tanah. Belajarlah dr hutan sedia kala."
.
.
"Kalau ᴍɪᴋᴀʏ nak jd ᴏʀᴀɴɢ ᴛᴇʀᴀɴɢ tdk usah ajak anak ᴀᴋᴇʜ, Dauna. Mengubah adat istiadat, ꜱᴏᴋᴏʟᴀ tak ada tu dlm tradisi rimba. ᴀᴋᴇʜ tak mau bermenantu yg datangkan penyakit. Bakal mati kami semua."
"Tidak, ɪɴᴅᴜᴋ. ᴀᴋᴇʜ ꜱᴏᴋᴏʟᴀ biar tdk dibodohi ᴏʀᴀɴɢ ᴛᴇʀᴀɴɢ.
.
"Ah, macam saja. Dapat apa ᴍɪᴋᴀʏ ꜱᴏᴋᴏʟᴀ? Tak guna. Dauna, anak betina ᴀᴋᴇʜ satu-satunya, ᴀᴋᴇʜ nak bermenantu bujang rimba sejati biar kami cukup makan sampai tua nanti. Adik-adik Dauna jantan semua, bila kelak cukup umur mereka bakalan pergi bermenantu di ʀᴏᴍʙᴏɴɢ lain. ᴍɪᴋᴀʏ mesti paham tu."
.
.
11 cerita pendek dgn latar Sulawesi Selatan, dgn konflik di beberapa cerpen yg tdk ringan dan penunjukan gender tokoh yg anti-mainstream. Ada konflik batin seorang ᴄᴀʟᴀʙᴀɪ yg suka sesama jenis namun jg menginginkan balas budi ke ibu angkatnya dgn mjd ʙɪꜱꜱᴜ, dgn akhir yg tragis.
.
Ada konflik batin seorang anak yg hrs mengupayakan penyelenggaraan rambu solo utk mendiang ayahnya namun krn status ayahnya nilai persembahan yg hrs diupayakan tdk sedikit. Entah kenapa, di bagian rambu solo ini gw lebih setuju klo tdk ada konflik, tp lebih ke penyampaian makna dibalik penyelenggaraan rambu solo, dgn begitu pandangan kita akan lebih menghormati rambu solo ini, tdk sekadar menganggap tradisi ini 'menyulitkan' org yg ditinggalkan. mungkin formatnya bs kyk nasihat di cerpen 'Tanah Hitam'.
.
Ada jg cerita yg ringan. Tentang nasihat seorang ayah utk merawat, menjaga dan tdk berlebihan dlm mengelola alam. Tentang konflik orang rimba dgn 'orang luar'. Siapa bilang mjd orang rimba tdk bahagia, terbelakang atau terisolasi? Bisa jadi 'orang luar' yg tujuannya ingin 'memajukan' orang rimba justru merusak kebahagiaan mereka. Mungkin, kan?
Profile Image for Rei.
366 reviews42 followers
February 2, 2021

Sala Dewi merupakan buku kumpulan cerpen yang semuanya berkisah tentang kehidupan suku Bugis di Sulawesi. Cerpen pertama bercerita tentang Sangkala, seorang calabai yang sedang menjalani proses menjadi bissu. Namun cinta segitiga yang rumit antara Sangkala, Muharram, dan Maulida membuat Sangkala mengalami akhir riwayat yang tragis. ⁣

Sayangnya, aku merasa berjarak dengan kumcer ini. Selain kisah tentang Sangkala yang seorang Sala Dewi, selebihnya cerpen berikutnya menjadi hampir satu tema: seorang yang ingin menikah tapi tidak bisa menikah karena harus menjadi dukun, seorang yang ingin menikah tapi tidak bisa menikah karena mencintai lelaki di luar sukunya, seorang yang menikah karena ingin serumah dengan pasangan gaynya, seorang yang tidak bisa menikah karena gay, seorang yang akan menikah tapi calon suaminya kawin lari dengan orang lain, seorang yang akhirnya menikah tapi mengalami kekerasan di tangan suaminya. Mostly tentang keinginan seseorang untuk menikah/tidak menikah, tapi terhalang adat/budaya/orientasi seksual. Semuanya dituturkan dalam bahasa mendayu-dayu penuh metafor. ⁣

Baiklah, mungkin itu berlebihan. Masih ada cerpen-cerpen lain yang temanya berbeda seperti Tanah Hitam, Ambe Masih Sakit, dan Orang Terang (yang menutup kumcer ini dengan, yah, lumayan). Tapi dengan ekspektasi yang cukup tinggi, yah, terus terang jadinya agak mengecewakan. ⁣
Profile Image for Szasza.
246 reviews22 followers
June 22, 2021
Pada awalnya saya membeli buku ini karena tertarik kepada blurb yang di sajikan oleh penulis tanpa ekspetasi apa pun, namun ketika membaca cerpen pertama yaitu Sala dewi saya langsung suka terhadap gaya kepenulisannya.

Ceritanya di sajikan dengan sangat baik dan sangat related terhadap kehidupan saat ini, selain itu buku ini juga menambahkan pengetahuan-pengatahuan baru bagi saya khususnya dalam hal budaya di indonesia
Profile Image for Rhea.
150 reviews6 followers
August 8, 2021
"Sala Dewi" is the title story of this short story collection. The term itself refers to intersex people who are reverred as shamans in Bugis society. I read this book since it'll be the topic of discussion in February session of @kebabreadingclub.

In this book, we walk together with the people of different South Sulawesi tribes as they deal with their quest on identity, land disputes, inheritances, and love! Some of the stories really touch my heart and are absolute 💎 GEMS 💎

THE GOOD: Emil Amir is such a courageous writer for exploring themes that are beyond the gender binary. The characters are distinct and I actually c a r e for them. There are TWISTS to the story (this author sure loooves twists aint it). And IT. HAS. FOOTNOTES to explain the terms that are used.

THE BAD: some of the stories are very heavy on family drama... As in: sex scandals - this husband is sleeping with this person, the new wife confronts ex wife, this person is screwing this person. After a while it feels very gossipy dan kayak nonton infotainment gitu ajsjdkfjahd

But overall, I had a great time with this. Grateful to have *glimpsed* into the practices and values of Bugis society.
Profile Image for Yolanda Dipoyono.
104 reviews
April 28, 2023
Hal yang membuat awal mula saya tertarik pada buku ini adalah karena latar tempat yang diambil, yaitu Sulawesi Selatan(Toraja dan Makasar). Namun setelah membacanya, rasanya buku ini bukan lah my cup of coffee. Bukan berarti buku ini tidak bagus. Hanya saja mungkin saya yang kurang mengerti inti dari cerita, karena bahasa yang digunakan terlalu sastra. Sehingga untuk beberapa cerita membuat saya gagal paham. Setelah didalami maksudnya, barulah dahi saya berkerut, "hah? kok gini?" Tema yang diambil dari buku ini pun sejujurnya tidak biasa. Emil Amir mengangkat isu-isu budaya yang tak biasa di Sulawesi Selatan.

Seperti yang saya katakan, bukan berarti buku ini tidak bagus, hanya ini bukanlah my cup of coffee...
Profile Image for Poppy.
73 reviews3 followers
January 7, 2024
Sala Dewi, Sala artinya bukan, dewi artinya perempuan. Jadi, Sala dewi artinya bukan perempuan.
Kumpulan cerita yang mengangkat budaya lokal di Bugis, Makassar, Toraja. Kumcer yang 2 in 1, mengangkat budaya lokal sekaligus mengkritisinya.

Emil Amir menceritakan warna lokal kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, kemudian menulisnya dengan menarik. Keseharian masyarakat yang hidup dalam adat istiadat yang disisipi isu sosial di tiap daerahnya.

Selain menambah pengetahuan baru tentang budaya di Sulawesi Selatan, kita juga mendapat pandangan dari sisi yang berbeda tentang budaya LGBT yang dianggap tabu oleh masyarakat.

Terdapat 11 cerpen di buku ini. Ada topik pelecehan seksual, perkawinan terlarang, pemerkosaan, kawin lari, tanggung jawab anak kepada ibunya, juga cerita sengketa tanah ulayat. Setiap cerita sangat menyayat hati, membuat saya terpaku di akhir halaman.

Banyak catatan kaki yang membantu kita untuk mengerti istilah-istilah yang dipakai penulis. Alur cerita pun mudah dipahami. Senang, sedih, getir, tapi puas saat membaca kumcer ini, Suka.
Profile Image for Theo Karaeng.
95 reviews14 followers
June 13, 2022
pelajaran bagi saya: jangan beli buku dengan ekspektasi kelewat tinggi, dan nggak usah terpengaruh pada sanjungan orang2 (pada buku ini) di instagram..
Displaying 1 - 29 of 29 reviews