Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri? Sekian lama saya merasa tidak benar-benar memiliki masalah. Namun ketika momen itu datang, ketika saya melihat jauh ke dalam diri, saya merasa sangat bermasalah dengan diri saya. Betapa selama ini saya hanya patuh dan tunduk pada apa yang ditetapkan masyarakat. Untuk menjadi anak penurut, tidak melawan orang tua, sayang pada ayah dan ibunya, anak baik, anak yang sempurna. Persis seperti pesan-pesan yang disampaikan kepada seorang anak saat berulang tahun.
Menyelidiki diri bukan proses yang nyaman. Kita diajak untuk kembali menghadapi luka-luka yang pernah kita alami, yang kita coba sembunyikan, yang kita tutupi dengan plester agar tidak terlihat padahal plester itu sama sekali tidak menyembuhkan. Menyelidiki diri membuka kelemahan-kelemahan kita, memunculkannya ke permukaan, dan ini sangat tidak mengenakkan.Tapi percayalah, hanya penyelidikan diri yang mampu mengantarkan menuju kebebasan.
Buku ini adalah perpaduan teori psikologi dan feminisme dengan hasil penyelidikan diri, dari mereka yang telah mempercayakan kisah hidupnya kepada saya, dan juga dari diri saya sendiri.Ya, psikolog yang bukunya tengah kamu baca ini adalah dia yang juga pernah menjadi perempuan naif, yang pernah punya kompleks, yang pernah terkungkung dalam nilai-nilai patriarkis.
Selamat menyelidiki diri, selamat menemukan kekuatan yang sudah menantimu di sana. Bisa jadi itu kekuatan si penyihir, karena mungkin kamu adalah cicit-cicit penyihir yang selamat dari perburuan penyihir beberapa abad lalu. Mungkin juga kamu akan menemukan kekuatan serigala betina yang ada dalam diri setiap perempuan. Apa pun itu, bersiaplah menemukan kekuatan yang membebaskan jiwa.
Ini buku ketiga yang saya baca seputar feminisme. Saya memang baru belajar tentang apa itu feminisme karena penasaran, apa aih definisinya? Kenapa orang ada yang bilang feminisme itu tidak sesuai kodrat? Kenapa disebut feminisme, bukan hak asasi manusia saja?
Buku ini terbagi menjadi 3 bagian besar dengan setiap sub-bab yang cukup padat.
Bagian pertama berjudul Psikologi Feminisme: Apa dan Bagaimana. Di bagian ini cukup (bahkan sangat) berat bagi saya. Saya baru pertama kali membaca bahwa ada psikolog berpengaruh seperti Freud. Saya juga disajikan fakta bahwa kenapa akhirnya muncul terapi psikologis berbasis gender. Pada jaman itu, jika wanita merasa depresi, mereka malah dikurung di rumah dan tidak boleh melakukan aktivitas "otak". Ada kasus lain yang membuat saya meringis, yaitu kasus Dora, seorang pasien Freud. Intinya, bagian ini membahas bahwa peran wanita dan pria tidak hanya karena fungsi biologis, tapi juga karena konstruksi sosial.
Bagian kedua berjudul Semesta yang Tak Terlihat. Bagian ini terasa ringan dan banyak sentuhan personal. Penulis memasukkan surat yang ia buat untuk anak-anak perempuannya jika mereka dewasa kelak. Saya juga disadarkan bahwa orang yang mengamini patriarki tidak hanya kaum pria saja, tetapi wanita pun bisa. Hal ini lagi-lagi jika menilik sejarah, memang sudah terbentuk dari budaya di masa lampau.
Bagian ketiga berjudul Mari Kita Bicarakan Kekerasan terhadap Perempuan. Penulis memasukkan cerita pribadi yang ia alami saat SD. Penulis juga menekankan bahwa pemulihan dari pelecehan seksual perlu waktu lama (karena banyaknya korban yang malu untuk mencari pertolongan professional) dan banyaknya psikolog yang berusaha membantu hanya dengan bercerita.
Saya tidak tahu bagaimana jika dibandingkan dengan buku lain karena pengetahuan saya terbatas. Tetapi, saya ingin merekomendasikan buku ini kepada teman-teman yang belum menikah dan teman-teman yang mungkin mencari referensi bagaimana cara membesarkan anak perempuannya supaya mereka tidak naif terhadap dunia.
Buku ini tidak menggurui walaupun banyak kajian dari segi teori. Saya perlu menghabiskan waktu seminggu untuk membacanya karena saya mau meresapi semua cerita yang ada disini. Saya rasa, konteks buku ini sudah pas jika dikaitkan dengan kondisi lokal, Indonesia.
Respon itu sudah sering saya dengar ketika saya katakan bahwa saya belum tentu akan menikah dan kalaupun benar menikah, saya tidak mau memiliki anak.
Pandangan aneh terhadap keputusan saya itu rupanya juga menjadi bahasan dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan. Ditulis oleh bu Ester Lianawati bahwa adanya anggapan kalau seorang perempuan selalu dianggap akan menjadi ibu sudah berakar sejak lama. Para ahli psikologi seperti Freud, dianggap oleh psikoanalis dan psikolog perempuan telah melakukan praktik terapi yang salah.
Dari situlah buku ini dibuka. Dari bagaimana pandangan Freud terhadap psikologi dan psikoanalisis. Belum lagi tentang bagaimana teori perkembangan manusia itu dibentuk dari sebuah penelitian di mana subyeknya adalah 3 orang laki-laki. Lantas, di mana posisi perempuan? Betulkah perempuan hanya warga negara kelas dua? Mengapa perempuan selalu dilekatkan dengan urusan di dalam (atau domestik)? Mengapa perempuan dianggap aneh jika ia memiliki rasa keingintahuan dan menjadi seorang intelektual?
Buku ini disampaikan dengan runut. Meski banyak catatan kaki dan sumber lainnya bisa ditelusuri lebih jauh, tetapi tidak terasa seperti sedang membaca esai ilmiah. Saya langsung terhanyut dengan cara penulisan bu Ester yang enak untuk diikuti.
I think the best essays (means: most useful and interesting ones) in this book found in part three ("Mari Kita Bicarakan Kekerasan Terhadap Perempuan"). The best one in part second entitled "Perempuan-perempuan Penyihir". Even if it doesn't contain something new but it is better than other essays in the same part which contains so many repetitions. Unfortunately, I couldn't find anything interesting in part one. Most of its narrated themes are obsolete, I mean it has been discussed by other writers deeper and in more interesting way, for example there is nothing new in criticism toward Freudian "patriarchal mind" from feminist view.
It is bad that I open the book with a high expectation because of such kind of stormy chitchatting about it in soc-med. I couldn't say that I like the style of its writing but I think it could be ignored as long as the content is extraordinarily exciting. And it doesn't happen to this book, unfortunately. For instance, it seems that the matter of quoting and using a reference is done in a negligent way. The easier example to be seen could be found on page 28 which is taken from Freud's "Three Essays on Sexuality" which is presented (and interpreted and concluded) inacurately.
Despite that, it is said that the quotation is taken from French edition. Fyi, since both of English and French editions are translated versions, it could add more credibility to use one version of translation which in English case it refers to Standard Edition edited by James Strachey. This book, I don't know why it uses three Freud's writings as reference, as it could be found in Bibliography, from two different sources: two in French translation and one in English translation. It doesn't make sense for me.
Another example? Well, there is reference to Sabina Spielrein's work in the text but unfortunately I couldn't find her name and work in Bibliography. Besides, the special discussion about Sabina in relation to "death instinct" is debatable and it needs deeper elaboration since there is explanation about its reference to other person instead of Sabina. Well, not to mention a small disturbing thing like the typo of writing Karen Horney as Karey Horney there. If the typo and forgetting are analyzed by using Freudian theory, it will be interesting, 😂
So, to conclude, I think the best point of the book is its therapeutic elaboration to face violence against women which could be found in part three and that is the reason why I like the part most.
Akhirnya bisa selesai membaca buku ini yang rasanya dilakukan "sepanjang tahun 2021". Dimulai pada sekitar awal Maret, sempat kutangguhkan karena topik-topik yang diangkat terlalu berat, dan pada awal Desember ini barulah punya keberanian melanjutkan hingga rampung.
Coretan marker, goresan tanda pentung, dan sisipan post-it bertebaran di mana-mana di buku ini. Aku juga memiliki 6 halaman full di notes berisi poin-poin bahasan menarik dan krusial selama pembacaan buku ini. Sungguh banyak sekali hal penting yang perlu diketahui oleh masyarakat umum (tidak hanya bagi perempuan). Selama membaca, teori dan fakta yang dikemukakan pada buku ini selalu saja membuatku kaget.
Yang paling terkaget-kaget yakni teori kompleks Oedipus dan teori penis envy dari para psikoanalis sok tahu seperti Sigmund Freud dan Erik Erikson. Belum pernah baca teori keduanya lebih lanjut, tapi cukup tahu sajalah dari penjelasan penulis di buku ini.
Bayangkan betapa "terancamnya" perempuan sampai buku ini harus hadir menjabarkan hal-hal seputar definisi psikologi rancu yang berdasar pada alat kelamin, ketidaksetaraan gender yang mengagungkan laki-laki dan merendahkan perempuan, serta kekerasan dan pelecehan yang kerap terjadi terhadap perempuan.
Buku ini terbagi jadi 3 sesi: 1. "Psikologi Feminis: Apa & Bagaimana": Merumuskan psikologi feminis sebagai dasar teori penjabaran topik-topik di dalam buku sembari mematahkan teori-teori 'lawas' seputar perempuan dan laki-laki. 2. "Semesta yang Tak Terlihat": Penguraian tentang bagaimana perempuan yang sebenarnya dan seharusnya dari 'serigala betina' hingga penyihir, serta kompleksitas dan ketimpangan yang terjadi. 3. "Mari Kita Bicarakan Kekerasan Terhadap Perempuan": Eksplanasi dari sisi psikologis tentang apa yang terjadi jika perempuan mengalami kekerasan, pengalaman penulis dan teman masa kecilnya perihal kekerasan/pelecehan yang dialami keduanya, serta bagaimana orang tua dan masyarakat pada umumnya semestinya bertindak akan hal ini.
Buku ini bukan saja perlu dibaca para perempuan, tetapi juga para laki-laki untuk tahu seberapa tidak adilnya konstruksi sosial yang "langgeng" ada terhadap perempuan. Kita juga perlu tahu cara-cara untuk tidak menyuburkan konstruksi tersebut yang juga ada pada buku ini.
Aku pikir ada urgensi agar buku ini dibaca, dipahami, dan diaplikasikan oleh semua orang, mengingat baru-baru ini, lagi-lagi, terjadi kasus kekerasan seksual yang terungkap luas di media sosial.
Para psikoanalis di awal abad 19 memandang perempuan hanya dari fungsi biologisnya. Pandangan ini dipengaruhi oleh Freud: anatomi adalah takdir. Perempuan bukan makhluk psikososial.
Perempuan rentan untuk menjadi tidak sehat secara psikis. Bukan hanya karena tuntutan peran yang dilekatkan kepada perempuan sedemikian rupa menjadi beban tersendiri bagi mereka. Lebih dari itu, dibandingkan laki-laki, perempuan secara umum lebih rentan untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang dapat mengganggu kondisi psikisnya, bahkan berdampak panjang karena peristiwa tersebut berpotensi menimbulkan trauma.
Itu hanya segelintir. Masih ada kerentanan yang lain.
Sulit mengubah kepercayaan masyarakat yang didukung oleh ideologi gender.
Saya merekomendasikan ini untuk kamu, terkhusus para perempuan, yang ingin mereinterpretasi diri sendiri. Yang tidak ingin diopresi dan didominasi oleh masyarakat yang sakit, tidak ikutan sakit, tetapi justru mampu mengambil alih penguasaan masyarakat yang sakit ini atas dirinya, menjadi pemilik atas dirinya sendiri.
Untuk kamu, yang tidak ingin terkungkung oleh mitos kesempurnaan. Untuk kamu, yang tidak harus merasa cantik untuk bisa mencintai diri sendiri.
Ditulis dengan cermat dan didukung oleh teori yang singkat namun jelas dan mudah diterima, Ester Lianawati menegaskan bahwa perempuan hendaklah belajar untuk membebaskan dirinya dari tekanan sosial demi mencapai aktualisasi diri. Perempuan, tua atau muda, lajang, menikah maupun janda, memiliki anak maupun tidak ingin/belum ingin/tidak bisa memiliki anak, sebaiknya membaca buku ini, karena buku ini akan membebaskan kalian.
Harapan saya sangat tinggi akan buku ini, karena membaca uraian singkat pada cover buku yang sangat menarik yaitu melihat feminis dari segi psikologis dan juga ditambah di sosial media buku ini sedang hangat diperbincangkan. Tetapi, membahas feminisme dari segi psikologis (versi buku ini) tidak sama dengan membahas feminisme dari segi psikologis yang saya bayangkan. Ekspektasi awal saya tentang pembahasan feminisme, jika menggunakan istilah dari buku ini yaitu "menyelidiki diri" adalah membahas dari hati ke hati, dari penulis ke pembaca mengenai apa feminisme yang sesungguhnya. Karena mengingat banyak sekali, bahkan perempuan sendiri menggaungkan feminisme yang salah, yang tidak setara. Ternyata buku ini banyak membahas teori psikologis (sampai 100 halaman) dan itu pun tidak dibahas mendalam sehingga pada bagian awal membuat saya membaca dengan metode cepat yang artinya saya bosan dan asal lalu saja.
Bagian kedua membuat saya berpikir "oke ini lebih baik" dan bagian ketiga adalah bagian favorit saya dari buku ini. Setelah membaca bagian satu dengan metode baca cepat, di bagain ketiga saya mulai membaca "serius" dan memahaminya dengan baik.
Saya rasa buku ini akan saya rekomendasikan kepada para mahasiswa psikologis atau kepada teman/siswa saya yang bercita-cita menjadi psikolog.
Aku mengambil buku ini karena banyak direkomendasikan di twitter dan instagram, karena itu mungkin tanpa sadar aku menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap buku ini.
Masuk ke Bab 1, aku hampir saja meletakkan kembali buku ini, karena merasa seperti membaca sebuah skripsi atau disertasi. Alias gaya penulisannya text book banget. Bahkan ada banyak istilah yang gaada footnote atau penjelasannya. Entah berapa kali harus lirik google dulu buat lanjut baca buku ini. Mungkin buku ini sebaiknya dibaca oleh orang yang punya basic atau background psikologi. Namun aku hargai niat penulis dalam meneliti sumber bahan buku ini.
Paling suka tulisan penulis soal Hari Kartini dan Hari Ibu. Bahkan aku sempat menangis di esai perempuan jadilah liar. Tapi hal itu gak lama kurasakan karena buku ini terkesan redundan dengan banyaknya teori yang diulang dan dipaparkan kembali hampir di setiap bab.
Mungkin ini jadi pembelajaran buatku untuk gak kemakan buku hype lagi.
Buku terbaik tahun 2021 yang diterbitkan tahun 2020. Sejak lama saya sudah penasaran dengan cover yang terkesan "garang dan kuat" yang dikaitkan dengan keberadaan perempuan, sungguh bertolak belakang dengan stereotype publik terhadap perempuan yang dianggap "lemah, lembut, penurut, penyayang" dan sebagainya.
Awalnya saya sungguh merasa seperti membaca skripsi yang dinovelkan (walaupun ini bukan novel ya). Memang seperti itulah rasanya mendengar kalimat "menurut hasil penelitian", ditambah lagi mendengar nama Sigmund Freud, Simone, Carl Jung, Spielrein dan sebagainya makin lengkap saja rasanya perasaan membaca skripsi ini. Saya rasa bagi orang-orang yang tidak benar-benar tahu siapa tokoh-tokoh diatas, membaca catatan kaki yang sebegitu panjangnya, serta kata-kata yang menurut saya "tinggi" dalam penyampaiannya, akan membuat mereka merasa bosan, jenuh dan akhirnya meninggalkan buku ini. Saya pengennya sih catatan kaki yang panjang tersebut bisa masuk kedalam tulisan, hingga yang seharusnya dituliskan di catatan kaki hanya menunjukkan buku-buku apa saja yang menjadi referensi dari Ibu Ester dalam menulis "Ada Serigala Dalam Diri Setiap Perempuan".
Mari masuk dalam pembahasan isi buku ini, Bertemu nama Freud sudah tidak asing bagi saya, karena saya juga seorang yang mengidap gangguan mental yang hobi sekali mencari tahu tentang seluk beluk dari penyakit saya sendiri. Sehingga terkadang bertemu Freud, bertemu Carl Jung walaupun belum pernah membaca karyanya secara utuh. Kekaguman dimulai dengan case Dora dan Freud, lalu the Yellow Wallpaper, wow betapa ilmu ini bertumbuh jauh lebih pesat bahkan kalau saja Freud ada di jaman sekarang, ia akan dicap "baperan" oleh netizen 😂
Semua kegeraman dalam diri saya tertuang dengan apik dalam buku ini. Saya seorang lajang yang jutaan kali menjadi tempat curhat ibu saya atas apa yang diterima saudari-saudarinya, atas apa yang diterima keponakannya, atas apa yang diterima ibunya, dan atas apa yang telah diterima oleh dirinya sendiri.
Mengapa perempuan selalu menjadi perusak rumah tangga orang lain? Mengapa begitu jarang terdengar laki-laki yang merusak rumah tangga perempuan lain? Mengapa perempuan memilih bertahan ketika mendapatkan kdrt? Mengapa perempuan memilih pergi ketika mendapatkan kdrt? Mengapa perempuan merasa rendah diri dengan perempuan lain? Mengapa perempuan disalahkan atas ketidakmampuannya mengandung? Mengapa perempuan yang disalahkan ketika ia belum juga menikah (wah persis saya banget hahaha), mengapa perempuan yang mendapatkan tekanan besar dari mertua dibanding laki-laki jika ia belum memiliki keturunan? Mengapa perempuan? "jangan banyak milih" "perawan tua" "janda" "ga laku" "pelakor" "nanti diomongin tetangga" "sudah tua ga nikah nikah" Bahkan ketika telah menjadi seorang ibu sekalipun tak pernah luput dari berbagai stereotype kental masyarakat: "harusnya anak tuh makan ini" "harusnya kamu anakmu kamu kasih ini" "harusnya cara mendidiknya tuh seperti ini" Ibu harus selalu melakukan semua pekerjaan rumah, ibu juga harus selalu bahagia, ibu harus terlihat selalu menarik bagi suami, pertama kali jadi ibu harus seperti ini, harus seperti itu. Begini dan begitu. Sejuta saran merawat anak dari berbagai mulut orang disekitarnya. Ibu memang harus menjadi supermom. Dan bagaimana kriteria kejam juga datang dari perempuan untuk sesama perempuan:
"gak cocok kamu pake ini" "ga pantes banget" "cantikan mana sama aku?"
Saya seorang perempuan pun baru menyadari betapa besar tekanan masyarakat atas sosok perempuan dibalik melekatnya stereotype "perempuan itu lemah lembut, penurut dan penyayang". Dan saya sebagai perempuan pun baru menyadari betapa saya pun sering memberikan penilaian negatif terhadap perempuan-perempuan lainnya sebagai bentuk rasa persaingan antar perempuan yang telah ditumbuhkan sejak dini dalam diri saya oleh lingkungan keluarga dan masyarakat.
Bab "Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan" dan "Jadilah Liar" menurut saya salah satu yang berkesan. Didalamnya terdapat prosa yang indah milik Ibu Ester untuk anak-anaknya. Saya merasa mendapatkan semangat baru membaca kedua bab ini. Berikut kalimat favorite saya: "Sudah hampir mati sekalipun, terseok-seok, serigala betina akan bangkit"
Saya suka itu! Saya rasa bab ini menceritakan bagaimana perempuan sesungguhnya mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk maju, untuk bangkit. Bagaimana perempuan seharusnya membangun dirinya, menjadi liar (dalam artian positif), menjadi penuh semangat, kreatif, enerjik, mandiri. Dalam bab ini juga Ibu Ester tidak serta merta menjadikan bahwa lahirnya buku ini pertanda ketidakbutuhan perempuan terhadap laki-laki, namun menjadikan bagaimana perempuan sejatinya mampu berdampingan bersama penuh harmoni dengan kaum adam. Sebagaimana beliau berkali-kali menjelaskan akan statusnya yang sudah menikah, mempunyai anak, dapat cukup memberi gambaran bahwa ia tidak melakukan diskriminasi kepada laki-laki dalam buku ini.
Dalam buku ini juga menjelaskan bagaimana kekerasan seksual masih terus menghantui perempuan, mulai dari anak-anak hingga usia dewasa. Terlebih apabila hal mengenaskan ini dialami anak-anak, begitu miris dan menyakitkan. Dibahasnya bab tersebut juga membangkitkan kembali ingatan masa kecil terhadap kekerasan seksual yang saya terima dari laki-laki dewasa, namun ketidakmampuan untuk mengartikannya membuat hal tersebut saya biarkan lalu saja.
Oke cukup, saya tidak mau banyak spoiler, tapi ini hanyalah sebagian kecil dari banyak topik tentang perempuan yang diulas secara luar biasa oleh Ibu Ester. Saya rasa buku ini tidak hanya bisa dibaca oleh perempuan saja namun juga laki-laki. Saya rasa buku ini menceritakan sudut-sudut kelam perempuan didalam masyarakat yang sepatutnya juga diketahui tidak hanya perempuan, namun juga oleh laki-laki. Calon saya yang saat ini belum juga keliatan rupanya harus membaca ini sebelum kami menikah 😂 Terimakasih bu Ester, buku ini memenuhi ekspektasi saya. Bintang 5 tentu saja! ☺👌
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awal mula aku tertarik dengan Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan nggak lain nggak bukan adalah karena judulnya. Aku yakin sebagian besar dari pembaca yang pertama kali baca judulnya langsung berpikir, "Wow, terdengar sangar, ya."
Yah, atau setidaknya itulah impresi pertamaku terhadap buku ini. Ditambah lagi kovernya yang nggak kalah cakep. Makin penasaranlah aku. Tapi ternyata judul yang keliatan sangar itu punya makna di baliknya kok. Ada penjelasannya di buku ini tapi aku nggak mau bilang, baca sendiri aja yaa haha.
Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan punya 3 bagian: bagian pertama berisi pembahasan teori-teori psikologi feminis (tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami); bagian dua berisi tentang perempuan itu sendiri, stigma yang melingkupinya, sisi biologis perempuan pun laki-laki; dan bagian tiga sekaligus bagian terakhir berisi kekerasan pada perempuan.
Meskipun nonfiksi, Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan sangat menyenangkan dan informatif untuk dibaca. Aku pengin kasih applause untuk penulisnya karena berhasil membawa pembahasan psikologi feminis dengan bahasa yang masih tergolong mudah dipahami. Footnote (yang nggak kalah informatif) juga bikin buku ini makin kerasa 'penuh'nya.
Lewat buku ini, banyak hal yang membuatku belajar tentang perempuan lebih dalam (dan juga diriku sendiri). Udah sejak lama perempuan digentayangi bayang-bayang patriarki maupun tuntutan toksik: bahwa perempuan pada akhirnya hanya akan berurusan dengan pekerjaan domestik, bahwa perempuan harus tampil cantik dan 'sempurna', atau perempuan hanya dianggap objek seksual untuk laki-laki yang akhirnya menuntun pada maraknya kasus pelecehan seksual.
Seperti judulnya, Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan adalah upaya mendobrak patriarki yang selama ini membelenggu perempuan serta potensi-potensi yang dimiliki. Bahwa sesungguhnya, perempuan lebih dari apa yang selama ini dituntut oleh masyarakat. Highly recommended!
Pada bagian awal buku ini, penulis menguraikan identitas (psikologi) perempuan dari beberapa pakar seperti Freud dan Erikson yang teori-teorinya malah bersifat patriarki dimana anak perempuan dianggap seperti anak laki-laki yang tidak normal, aneh, pasif, lemah dan keberhasilannya tergantung saat menjadi isteri dan ibu. Ish...sangat tidak patut dicontoh loh ya pandangan seperti itu.
Pembahasan-pembahasan mengenai psikologi feminisme termasuk terapi trauma pada perempuan yang mengalami kekerasan membuat buku ini sangatlah menarik dan cocok banget dijadikan sebagai bahan dasar untuk mendampingi para penyintas.
Buku berjumlah 292 halaman ini secara keseluruhan menarik dan bagus banget. Beberapa bagian yang sangat menarik perhatianku yakni menerapkan terapi trauma dimana kita seharusnya mendukung korban bukan malah menyalahkan mengingat trauma yang dialami korban sangatlah besar dan sulit. Kedua yaitu perempuan, tubuh dan kecantikan dimana standar cantik yang diciptakan oleh masyarakat membuat para perempuan menyiksa dirinya sendiri dan insecure parah. Bagian lainnya mengenai perempuan-perempuan penyihir, otak, seks dan ideologi. Selain itu dalam buku ini kamu akan menemukan data kekerasan (seksual) pada (anak) perempuan di seluruh dunia.
Ada serigala betina dalam diri setiap perempuan artinya perempuan memiliki pengindraan yang tajam, instuisi kuat, kepedulian terhadap sesama, keberanian, kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi, kekuatan, dan daya tahan. Ayo #mulaibicara dan lawan kekerasan seksual! Dukung korban, bukan malah menyalahkan! #SAHKANRUUPKS
Don't judge a book by its cover, selamat membaca 💜
Mirisnya ketika menyadari bahwa ada banyak nilai-nilai patriarki yang telah tertanam sejak dulu kala hingga sekarang ini, tapi sayangnya nilai-nilai patriarki tersebut seolah dianggap lazim dan terus dilanggengkan hingga saat ini.
Tanpa disadari nilai-nilai patriarki telah terinternalisasi dalam diri perempuan sebagai bagian dari dirinya tanpa pernah punya kesempatan untuk memilih atau berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan dalam hidup. Hal yang mungkin terlihat "normal", nyatanya mungkin saja terbentuk dari pola pikir patriarki yang telah berlangsung di seluruh dunia sejak berabad-abad lalu.
Sebagai laki-laki kelas menengah yang secara sosial cukup diuntungkan karena hidup di masyarakat yang patriarkis, selalu ada ketidaknyamanan ketika diperhadapkan dengan opini berbeda. Opini yang bisa menggoyahkan kemapanan maupun menusuk dengan pertanyaan lebih dalam.
Beberapa contohnya ialah terkait pemberdayaan perempuan & kasus-kasus yang diadvokasi gerakan perempuan. Tentunya beriringan dengan itu juga pengenalan lebih dalam terhadap feminisme & bagaimana sudut pandangnya memperkaya berbagai bidang.
Feminisme juga memberi warna baru pada bidang psikologi, satu dari sedemikian banyaknya keilmuan yang didominasi sudut pandang laki-laki yang terbiasa lebih diuntungkan penerimaan masyarakat. Psikologi feminis mengangkat derajat perempuan yang dipandang inferior oleh bahkan psikolog-psikolog besar dulu seperti Freud & Jung.
Hal-hal di atas merupakan topik bahasan buku karangan Ester Lianawati, psikolog & peneliti kajian psikologi dalam kelindannya dengan feminisme, pun pegiat advokasi pada perempuan korban kekerasan seksual. Buku ini adalah kompilasi perenungan keilmuan psikologi, nukilan2 opini atas bagaimana patriarki menyakiti perempuan dalam berbagai kasus, & pengalaman pribadi yang membentuk beliau sebagai perempuan berdaya.
Membaca buku ini terkadang menimbulkan kerutan dahi & ketidaksetujuan, apalagi karena posisi keberpihakan yang diambil dalam implementasi ilmu psikologi yang berarti menentang tidak sedikit pandangan umum dalam keilmuan kontemporer. Namun saya sadari, keberpihakan ini tak terelakkan ketika sudut pandang yang memberdayakan perempuan maupun lebih memberikan perspektif korban perlu lebih banyak diadvokasi. Taruhannya besar, misalnya darurat kekerasan seksual. Saya pun perlu belajar lebih mendengarkan.
Alih-alih fokus pada psikologi, buku ini adalah perpaduan tulisan keilmuan, penyelidikan diri, maupun manifesto yang menggelisahkan pun memberdayakan, mengajak perempuan bangkit, pulih, saling mendukung, dan membangunkan "serigala betina" dalam diri masing2, cerminan perempuan yang dibebaskan dari kekangan patriarki & mampu memeluk kediriannya secara ajeg.
"Ada serigala betina dalam diri tiap perempuan. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama ditekan oleh masyarakat." - hal 109
Tunggu dulu, tahan anggapan tentang 'keliaran'. Yep, barangkali kita udah melekatkan stigma buas pada serigala. Padahal, serigala betina ini binatang yang penyayang dan pelindung, bahkan ada kisah mitologi Romawi juga membahas soal Romulus dan Remus yang diselamatkan oleh hewan ini.
Jadi singkatnya banget, buku ini tuh mau menyelami diri perempuan. Ada perpaduan teori psikologi dan feminis yang diutarakan di sini. Intinya tuh masalah perempuan ini kompleks banget karena nilai-nilai patriarki. Bukan secara langsung, bilang ngga suka sama laki-laki gitu sih, karena nilai yang ada ini justru ngga adil buat keduanya. Dalam buku ini, ada tiga bagian utama: psikologi feminis, semesta yang tak terlihat, dan kekerasan terhadap perempuan.
Banyak bahasan menarik di sini, terlepas dari apa yang kita udah tahu dan percaya ya. Soalnya, iya bener ada 'takdir' yang dijalani, cuma masalah yang ada diperkeruh sama budaya gitu, yep itu ngga adil buat perempuan. Kalo aku sendiri, suka bahasan di bagian kedua, karena jadi bisa menerima diri sendiri. Kaya diceritain gimana bisa jadi pribadi yang autentik, otonom, bisa belajar dari pengalaman, dan kapasitas mencintai.
Terus juga ada cerita tentang ketidaksempurnaan, kaya kecantikan dan pilihan yang kita jalani, yang ujungnya ngga bahagia. Yep, kayanya image tentang perempuan yang sempurna tuh ada standarnya: cantik, keibuan, punya anak, etc. Andai misalnya ngga terpenuhi aja, kayanya gagal semuanya. Dan jadinya susah kalo mau masuk kedalam bagian 'budaya'. Asik sih ini, aku yakin ngga cukup bahas semua di sini ya haha.
Sekian dulu. Intinya buku ini bisa ngebawa kita masuk menyelami diri sendiri, apalagi kalo perempuan ya. Dan ngerasa ada yang menguatkan akhirnya, habis ini mau menemukan kekuatan serigala betina hehe. Seperti yang ku bilang, lebih baik tahan dulu argumennya, mending baca dulu baru bersuara.
⭐️5/5 Buku ini secara jelas menggambarkan ketertindasan perempuan secara struktural dan sustematis, dari tatanan akademik, sosial, budaya, yang kemudian terinternalisasi hingga kepada kesadaan diri.
Perasaan saat baca buku ini rasanya mirip2 dengan ketika aku baca buku “Kim Ji Yeong 1982”. Juga seolah memvalidasi keseluruhan diskusi yang pernah dilakukan Najwa Shihab dalam kanal YouTube-nya, dengan judul “Susahnya Jadi Perempuan”. Dari awal sampai akhir merasa terhubung, dan dibikin ngerti apa akar dari isu “susahnya jadi perempuan”, yg memang sudah tertanam jauh ke dalam tatanan masyarakat.
Sempet khawatir sebelum baca buku ini, karena beberapa review yang ku baca menilai buku ini seperti buku pelajaran dan terasa menggurui. Itulah yang sebetulnya aku hindari ketika membaca buku nonfiksi: perasaan digurui. Tapi, selama ku baca, ternyata buku ini jauh dari kesan tersebut.
Setiap kalimat dalam buku ini terasa menggebu-gebu dan berhasil membuat perasaan pembaca membara, berkobar akan semangat. Mungkin ini hanya akan dirasakan bagi pembaca perempuan, tapi saya harap lebih banyak laki-laki yang membaca buku ini. Agar mereka tau, hidup perempuan tidaklah mudah. Bukan perempuan yang membuatnya seperti itu, tapi tatanan sosial yang komplekslah.
Penulis berhasil menjelaskan bagaimana di awal studi psikologis, perempuan dan arah hidupnya selalu dikaitkan dengan tubuh. gagasan anatomi adalah takdir pun seolah menjadi ideologi. bahwa perempuan tumbuh dewasa dengan keirian terhadap penis laki-laki (penis envy) (Freud), juga bahwa rahim dan vagina perempuan memberikan pesan kedalaman (inner) yang membentuk karakter perempuan sebagai pasif, penerima, penjaga, perawat dsb (Erikson). Perempun di mata sains jadul tidak mendapat tempat, malah didiskriminasi, dikerdilkan, dianggap sakit dan “produk gagal”.
lalu dijelaskan pula bagaimana masyarakat melekatkan konsep tubuh perempuan untuk membentuk norma kesempurnaan yang tidak akan pernah bisa cukup dicapai perempuan. dikupas lebih dalam kekejian sistem patriarkal akan standar estetika perempuan dan takdir perempuan menjadi ibu sebagai konsekuensi dari anatomi yang dimiliki, tetapi juga dituntut menjadi perawan sekaligus pelacur (trinitas perawan-ibu-pelacur). Kehidupan pengalaman perempuan selalu berada di tengah dikotomi. persis seperti yg diungkapkan tokoh Gloria dalam film Barbie.
Sebagai korban kejahatan berbasis seksual, perempuan juga menjadi kelompok yang paling sering mengalaminya.
Seandainya saya memulai mengenali Ester Lianawati dari buku ini, mungkin saya ragu membaca karya beliau selanjutnya. Beruntung, saya lebih dulu menamatkan Akhir Penjantanan Dunia, hampir setengah mati jatuh cinta kepadanya, dan jadi penasaran buku yang mendahului buku tersebut. Kabar buruk, Si Serigala Betina tidak memuaskan ekspektasi saya. Kabar baik, "jembatan improvisasi" antara buku ini dan buku selanjutnya, Akhir Penjantanan Dunia, dilalui Ester Lianawati dengan baik. Jadi, artinya, ini persoalan waktu yang salah saja bagi saya. Hehe.
Ulasan serius sampai serius banget sudah banyak ditulis pembaca lain di Goodreads. Saya mau yang santai-asyik saja. Terlepas dari, ya, saya setuju, bab pertama itu membuat ngantuk, saya tertarik dengan alasan penulis menamai anaknya, Louve yang berarti "Serigala Betina". Juga, bagaimana penulis meramu puisi (entah mengapa ia menyebutnya prosa) untuk kedua anak perempuannya.
Kalau berjumpa beliau secara daring, saya mau bertanya referensi bacaan fiksi dan dongeng klasik beliau (saya sudah berjumpa dengannya dalam 2 kelas Hypatia bulan ini, tapi lupa bertanya). Ia mencatut sebuah kisah klasik Romawi Kuno tentang serigala betina. Hypatia sendiri, asosiasi yang beliau bentuk, diambil dari nama seorang filsuf perempuan zaman Kekaisaran Romawi.
Bagian menarik lainnya adalah sub-bab Perempuan-Perempuan Penyihir. Penulis mengurai bagaimana mulanya julukan Penyihir dilekatkan untuk perempuan-perempuan yang tidak mengikuti norma masyarakat pada zamannya. Penyihir-penyihir itu dihukum, dilucuti ketubuhannya, hingga dibunuh. Dan julukan Penyihir ini rupa-rupanya masih juga dilekatkan kepada perempuan-perempuan non-normatif jaman ini, yakni: 1. Perempuan mandiri tanpa lelaki: anak dan/atau janda 2. Perempuan tanpa anak 3. Perempuan tua Ketiganya penulis jabarkan dengan lugas dan cukup menyenangkan.
Demikian. ulasan ini mungkin akan disunting secara berkala. Segala hal di dalamnya tentu informatif dan menggugah dalam pengembangan peengetahuan perspektif gender dan khususnya bagi kaum awam psikologi dan psikologi feminis. Nilainya menjadi sedikit berkurang karena cara tutur penulis yang jauh lebih kaku daripada buku terbarunya.
Secara umum, buku ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama membahas feminisme dalam konteks sejarah psikologi (khususnya psikoanalisis), bagian kedua membahas feminisme di kehidupan sehari hari, dan bagian ketiga fokus pada kekerasan terhadap perempuan.
Kurasa orang yang sebelumnya gak tahu banyak soal sejarah psikologi bakal cukup pusing sekaligus bosen baca bagian awal buku ini. Textbook banget, banyak istilah teknis. Buatku yang sudah hampir tahun keempat belajar psikologi, buku ini justru menarik. Satu hal yang pasti, ini bukan tipikal buku self improvement/mental health for dummies.
Sebenarnya aku masih mau tau lebih lanjut mengenai tokoh tokoh lain yang kisahnya ga dijelaskan dalam buku ini. Mungkin aku akan cari informasinya dari buku lain .
Baca buku ini, rasanya kayak belajar ulang materi yang dipelajari 3 tahun terakhir, namun dari sudut pandang yang benar benar berbeda. Menarik, buku ini jadi semacam "pelengkap" pengetahuan yang sudah kita miliki mengenai tokoh" psikologi.
For the second part of the book ... tbh biasa aja. Tipikal buku feminisme, dan sejujurnya ga memberikan suatu informasi yang baru buatku, selain sejarah penyihir dan kenapa penyihir punya konotasi negatif.
Bagian ketiga buku ini bagus, khususnya untuk aku yang lagi cari data tentang kasus kekerasan seksual demi keperluan proposal skripsi. Meski bukan data primer, setidaknya buku ini juga melampirkan referensi yang bisa kutelusuri.
Singkat cerita, buku ini cocok untuk mereka yang: 1. Sudah paham basic psychology 2. Ingin mengetahui lebih lanjut tentang benevolent sexism 3. Tertarik dengan isu kekerasan seksual di seluruh dunia
"Lajang, janda, perempuan mandul, dan perempuan tua dan siapapun yang merasa atau dianggap aneh, tidak normal karena menjalani kehidupan yang berbeda dari standar masyarakat, mari bersama sama kita ucapkan mantra ini: "Kami adalah cicit-cicit dari penyihir-penyihir yang tidak bisa Anda bakar" (hal. 226)
Buku bacaan feminis pertamaku yang membuatku berpikir "hey kayaknya buku feminis lain patut untuk dibaca juga!" yap! benar buku ini berhasil menarik minatku menyelami faminis baik secara psikologi, filsafat maupun budaya.
Pada awalan buku ini menyajikan feminis dari segi teori psikologi hingga sejarah yang mana menurut aku pribadi selaku awam dalam dunia psikologi masih agak sulit untuk memahami beberapa istilah yang digunakan penulis namun menurutku dengan penggunaan istilah asing ini membuat pembaca mencari tahu dan mempelajari arti istilah tersebut sehingga menambah wawasan baru untuk pembaca.
Semakin dalam aku membaca buku ini semakin banyak fakta-fakta dan hal relate yang aku alami dalam kehidupan bermasyarakat tertuang dalam buku ini. Bahwa bukan hanya laki-laki lah yang menjadi pelaku patriarki namun perempuan juga, fakta ini agak mindblowing bagiku karena ternyata selama ini secara tidak sadar ada beberapa tindakan kita sebagai perempuan mendukung patriarki karena mengikut arus masyarakat.
Buku ini juga mengajarkan bagaimana ketidaksempurnaan itu adalah hal yang normal, bagaimana menjadi diri sendiri dan mampu menerima diri sendiri adalah sumber kesejahteraan.
buku ini sangat rekomendasi untuk bacaan perempuan manapun. kalian harus menyadari bahwa kalian memiliki pilihan untuk menentukan kebahagiaan kalian, bukan orang lain, bukan pula tatanan masyarakat.
Berasa baca buku referensinya matkul teori sosial! Terpenting ini penulisnya perempuan jadi tau lah apa aja susahnya jadi perempuan dan jugaa blio ini psikolog! Jadi isi bukunya gak cuma sekadar farifu wasweswos aja tapi beneran berdasarkan teori!
Walaupun isi bukunya banyak pakai teori dari tokoh psikolog tapi tetep gampang dipahami kok! Bukunya dimulai dari apa itu psikologi feminis, gimana perempuan terobsesi jadi cantik, ibu yang harus sempurna, sampai ke kekerasan yang sering dialami perempuan.
Dan ternyataaa... masih banyak hal-hal kecil yang dianggap biasa saja itu juga hasil dari bentukan budaya patriarki!
Buku ini juga jelasin kalau perempuan gapunya tempat aman sekalipun di sekolah dan di rumah.
SELAMA BACA: "LOH TERNYATA ADA TEORINYA????" "OHHH GITUU..." "YAA SIH BENER"
"Sesama perempuan menciptakan kriteria yang "kejam" untuk menilai kecantikan sesama perempuan: perempuan harus cantik secantik-cantiknya dan sealami mungkin." -Hal: 165
Belum begitu banyak buku feminisme yang aku jamah & ini jadi buku kedua yang membahas soal feminisme yang aku baca.
Bagus banget! Membahas feminisme mulai dari sejarah sampai feminisme dalam kehidupan sehari-hari. Bagian awal memang agak berat karena ngebahas mengenai feminisme lewat kacamata psikologi & sastra tapi mulai masuk bagian-bagian selanjutnya jadi lebih seru & nagih buat baca terus.
Aku jadi lebih paham soal apa itu feminisme, sejarahnya, kenapa budaya patriarki bisa hadir, kenapa budaya patriarki tersebut masih kental banget di masyarakat kita, serta soal kejamnya pengkonstruksian & mitos kesempurnaan yang dituntut kepada perempuan.
This book is soooo good, it definitely deserves a 5 stars. ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Tidak ada yang salah dengan pilihan untuk melajang atau menikah, punya anak atau tidak, menyusui atau tidak menyusui. Menjadi diri sendiri, "tidak harus sempurna" mengikuti tuntutan masyarakat (Hal. 140)
Salah satu dari sekian banyak pemikiran yang membuat saya merenung, dan berpikir, betapa tidak mudah untuk menjadi 'tidak sempurna' di Indonesia saat ini.
Buku ini terbagi atas tiga bagian bagian pertama berisikan teori psikologi, kedua tentang feminisme dan ketiga tentang kekerasan terhadap perempuan.
Membaca bagian pertama, merupakan pengantar terhadap pemikiran para ahli psikologi yang membantu kita memahami pendapat para psikolog feminis serta pendapat atau stigma yang selama ini mengungkungi kaum perempuan.
Memasuki bagian kedua barulah kita bertemu dengan pemikiran feminisme yang membuat kita menelisik diri sendiri atas keputusan-keputusan yang telah dan mungkin akan kita ambil.
Dan bagaimana kekerasan terhadap perempuan terjadi, baik di rumah maupun di luar. Kekerasan yang selama ini dianggap sebagai hal yang lumrah, terutama jika dikaitkan dengan dogma agama.
Bagi saya buku ini layak untuk dibaca setiap perempuan, ibu ataupun laki-laki sehingga perempuan tidak harus berusaha sempurna berdasarksn nilai-nilai yang ditentukan masyarakat, atau tradisi, teapi sempurna seusai dengan nilai2 dan pemikiran yang duanut oleh diri sendiri.
Buku pertamaku tentang feminisme. Suka buku ini karna penulisnya psikolog dan perempuan. Awalnya bingung karna bahas tentang sejarah tapi lama-lama enak juga dibaca. Bahasanya mudah dipahami dan relatable. Bagian terakhir cukup triggering tapi masih ok. Untuk pemula yang membaca feminisme boleh dicoba.
Cukup menarik untuk menjadi referensi bacaan dalam memperluas wawasan mengenai feminisme dalam sudut pandang psikologis. Penulis cukup cakap dalam menjelaskan fenomena dengan kaya akan contoh yang relevan bagi masyarakat Indonesia dengan komparasinya terhadap isu dan fenomena Internasional.
Kendati demikian, beberapa tulisan nampaknya syarat akan muatan emosional sang penulis, yang bagi saya tidak masalah juga. Pada akhirnya, buku ini juga cocok dibaca oleh para laki-laki, bukan hanya perempuan, untuk memahami ruang lingkup permasalahan struktural dan kultural yang dialami oleh kaum perempuan selama ini.
5 stars. Memberikan sebuah pandangan baru sebagai seorang perempuan. Memberikan kesadaran bahwa selama ini sbg perempuan hidup berdasarkan standar yang dibuat oleh lelaki
huh bahasanya berat, gw kena reading slump dah dari baca ini. ya sebenernya kan selera orang beda beda jadi terserah aja sih, karena menurut gw buku ini kurang cocok aja di gw😭
"Menjadi sejahtera adalah menjadi diri sendiri dengan menerima 'ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan' yang dimiliki'"
**
Pembuka bacaan 2022 yang cukup padat dan berbobot. Sepanjang membacanya serasa sedang membaca kompilasi riset dari berbagai peneliti, menariknya, tentang perempuan. Tidak jarang, sebagai perempuan kita didikte oleh persepsi sekitar tentang "bagaimana menjadi perempuan seutuhnya". Seolah sudah ada kriteria pakem tentang "menjadi perempuan" yang ketika tidak dipenuhi, maka orang tersebut dinyatakan gagal dan wajib dihantui rasa bersalah.
Yang menarik dan saya suka, meski tergolong buku dengan topik feminisme, namun buku ini tidak berfokus kepada perempuan harus setara dengan laki-laki. Melainkan lebih ke bagaimana perempuan perlu membekali dan meyakinkan diri akan setiap keputusan yang diambilnya. Lebih lagi, buku ini juga mengajak perempuan untuk merubah stigma yang selama ini beredar di masyarakat, dimana stigma tersebut justru membatasi lagi melabeli diri mereka ke arah yang cenderung destruktif.
Buku ini menekankan tentang pentingnya berempati yang merupakan bentuk pemahaman dari apa yang dirasakan orang lain. Seringkali perempuan sudah membatasi diri diawal bahwa mereka tidak sebaik laki-laki dalam membaca peta, berhitung ataupun aspek kognitif lainnya. Saya pribadi kurang setuju jika hal tersebut digeneralisir. Penelitian Vidal (2012) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara otak bayi laki-laki dan perempuan, baik dalam aspek kognitif dan sensori. Beberapa penelitian lain pun juga mendukung hal tersebut dengan hasil bahwa fungsi otak lebih dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman seseorang dimasa lalu.
Ada hal menggelitik tentang makna self-love yang disampaikan penulis. Ia berpendapat bahwa dalam mencintai dirinya sendiri, perempuan tidak harus merasa cantik. Perempuan tidak perlu menjadikan kecantikan sebagai tirani, karena perempuan bukanlah tahanan dalam tubuh mereka sendiri. Jadi apapun yang dirasakan, alangkah melegakannya apabila dapat diterima selapang-lapangnya. Kesedihan dan perasaan negatif yang hadir ada bukan untuk ditepis, melainkan dirangkul. Semakin kita berusaha menghilangkan rasa sedih, justru kita akan terpuruk dalam kesedihan.
Terakhir, saya terkesan dengan definisi "perempuan liar" yang penulis ilustrasikan. Serigala betina yang dilukiskan sebagai "perempuan liar" bukanlah ia yang sempurna dan selalu benar, namun perempuan liar belajar dari pengalamannya untuk bangkit, menjadi lebih baik, dan lebih kuat.
Ada satu kutipan yang saya highlight tentang peran perempuan setelah menikah dan bagaimana perempuan (ataupun laki-laki) (sebagai selayaknya manusia biasa) dapat menjadi sejahtera; yaitu jika ia mampu untuk: (i) menerima diri, (ii) memiliki tujuan hidup, (iii) mengenbangkan relasi yang positif dengan orang lain, (iv) menjadi pribadi yang mandiri, (v) menguasai lingkungan, (vi) terus bertumbuh secara personal.
Sudahkah kita, sebagai perempuan (maupun laki-laki) mampu untuk melakukan hal di atas?
Let's support each other; women support women (and men :p) wkwk.