Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hei, Alga

Rate this book
Saat senja tiba, aku baru keluar dari kandang. Mataku sembap dan Pak Zul melihatku. Ia bertanya ada apa, namun aku tidak ingin merepotkan dirinya. Kutinggalkan kambing-kambing itu dan mandi secepatnya di rumah. Aku tidak melihat Mintuo. Aku menunggunya hingga mengantuk, tetapi ia belum juga pulang malam itu dan aku tidur dengan pertanyaan tentang kulkas yang dibeli dengan upahku.

108 pages

Published January 1, 2020

1 person is currently reading
14 people want to read

About the author

Cikie Wahab

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
6 (35%)
3 stars
6 (35%)
2 stars
4 (23%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
April 14, 2021
Karya kelima yang dibaca dalam rangka baca buku bertema anak/remaja pada April ini. Tertarik selain karena sampulnya, juga karena sematan informasi di sampulnya yang tertulis sebagai Pemenang Harapan Sayembara Cerita Anak Dewan Kesenian Jakarta 2019. Setelah ditelusuri, ada 8 cerita lain yang menjadi Pemenang Harapan pada kontes ini (Lihat berita lengkapnya di sini). Satu judul lain yaitu "Kedai Sulap" karya Lismawati diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan "Hei, Alga" dan saat ini sedang dalam masa pre-order.

Buku karya Cikie Wahab ini menceritakan tokoh utama Alga yang hidup penuh derita (mungkin "penuh derita" sedikit berlebihan, tapi setidaknya ini mewakili). Ayahnya tak ada di rumah, ibunya pergi jadi tenaga kerja di luar negeri, sementara Alga harus tinggal bersama bibinya (Mintuo) dan anaknya yang bernama Tobi. Sayangnya, karena lama ditinggal sang ayah, Mintuo dan Tobi kerap seenaknya kepada Alga. Uang hasil jerih payah Alga merawat kambing milik Pak Zul dipakai Mintuo untuk nge-DP lemari es. Sementara Tobi kerap berbuat semena-mena dan berkata kasar pada Alga.

Secara cermat, kisah semacam ini terdengar tidak asing. Dari deskripsi di atas saja, mungkin sudah bisa diterka bahwa premisnya mirip dengan cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih. Setidaknya, aku merasakan hal itu (mungkin yang berbeda ada pada penyelesaian cerita di akhir). Perbedaannya mungkin pada detail episode nahas yang terjadi pada Alga: dari insiden lemari es hingga dituduh pencuri.

Sampai di sini, menurutku, sebagai kisah fiksi anak-anak dan sebagai peraih penghargaan sebuah kontes kepenulisan, buku ini membuatku berekspektasi tinggi. Namun, aku merasa masih ada yang kurang terutama dalam penyampaian cerita (yang kerap lompat-lompat dan kurang mulus) serta konflik yang bertubi-tubi diberikan kepada tokoh Alga. Alih-alih merasa simpati, pembaca seperti dibawa ngos-ngosan mengikuti kenahasan yang menimpa Alga. Alasan tersebut juga yang membuatku—pada awal-awal pembacaan—menyela kisah Alga dengan buku lain.

Terlepas dari itu, buku ini mungkin bisa dibaca oleh anak-anak yang sedang ingin membaca kisah penuh haru. Terdapat pula ilustrasi isi di sela-sela halaman buku ini yang dibuat oleh sang pengarang. Pada bagian informasi pengarang di halaman akhir, terlihat bahwa tulisan-tulisan pengarang juga kerap dimuat pada berbagai media baik cetak maupun daring. Terlihat bertalenta dan menjanjikan. Terus berkarya ya, Cikie!
Profile Image for Ayn.
8 reviews
February 27, 2022
Buku ini menceritakan seorang anak laki-laki yang bernama Alga berumur dua belas tahun. Juga tentang keluarga dan sahabat. Di awal cerita aku dibikin bingung dengan sosok Alga yang memandang dunia begitu suram. Jujur agak takut kalo ceritanya mirip kaya Di Tanah Lada karyanya Ziggy Z, hahaha.

Bahasa buku ini ringan, cocok dijadikan selingan, dan banyak banget pengajaran yang bisa diambil. Oh iya, buku ini dari sudut pandang Alga sendiri, walaupun dia masih anak-anak, tapi ada beberapa hal yang bikin kaya, "haduu nyesek banget."

Dalam buku Hei, Alga ini juga ada beberapa ilustrasi-ilustrasi lucu dan aku suka banget sama desain covernya!😍
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
March 14, 2023
Dua kata yang menggambarkan perasaan saya setelah membaca Hei, Alga: SEDIH BANGET?! Saya yang lebih sering membaca buku dari sudut pandang anak-anak lewat cerpen-cerpen inosen di Majalah Bobo dan Mombi langsung sedikit kaget karena vibes dan formulanya 'Ziggy banget'. Depresif, suram, tapi dibawakan dengan narasi ceria khas anak-anak. Bedanya, pasar Ziggy dewasa muda ke atas sementara novel ini menyasar anak-anak (salah satu pemenang harapan Sayembara Cerita Anak Dewan Kesenian Jakarta 2019, pula). Terlepas dari nilai moral dan nggak adanya anjuran pendampingan orang tua, saya agak bingung dengan aturan-aturan dalam sastra anak. Untuk hal itu, saya nggak bisa banyak berkomentar.

Sampulnya gemas sekali dengan ilustrasi seorang anak laki-laki yang tengah menggembala kambing. Alga, anak lelaki dua belas tahun yang ditinggal ibunya bekerja menjadi TKI di luar negeri, ditinggal ayahnya yang pulang dengan frekuensi nggak seberapa, tinggal bersama bibinya (Mintuo) dan sepupunya (Tobi) yang love-hate relationship mereka cukup dinamis, dan bersahabat dengan gadis dari keluarga miskin bernama Maria. Tokoh-tokohnya diambil secara sederhana dari kehidupan sehari-hari di lingkungan perdesaan yang belum terlalu tersentuh pembangunan. Di samping sekolah, Alga menggembala kambing milik Pak Zul dan upahnya malah dicuri Mintuo untuk membayar uang muka lemari es.

Saya suka dengan bahasanya meskipun di awal terasa ganjal karena rasanya kayak sedang membaca novel terjemahan. Penggunaan sapaan 'kau' dan bahasa baku yang dimasukkan dalam dialog juga kadang bikin saya merasa awkward sendiri. Di samping itu, sepanjang cerita saya juga ngos-ngosan dan merasa sesak karena dijejali kemalangan yang menimpa Alga. Hidupnya terlalu suram tapi dipaksa untuk nggak menangis hanya karena dia anak laki-laki (hal-hal semacam ini barangkali akan diproses anak dengan lambat, saya sedikit ragu apakah bias gender di dalam novel ini mampu 'tertutupi' jika nggak ada peran tambahan dari orang tua yang mengarahkan).

Aku menunduk. Rasanya seperti ditinggalkan ayahku sekali lagi. Kenapa orang dewasa suka berbuat seenaknya seperti ini? Aku ingin menangis, tapi masih bisa kutahan. (halaman 42).

Beberapa istilah dan kosa kata saya nilai terlalu 'nyastra' dan kelewat dewasa. Pada dasarnya, apabila orang dewasa membaca cerita anak, akan ada perbedaan level kognitif yang cepat atau lambat akan disadari. Orang dewasa mampu memproses segalanya lebih cepat dan mafhum akan segala konflik sosial di dalam novel sekompleks ini, bagaimana dengan anak-anak yang struktur otaknya lebih sederhana dan tengah berkembang? Terlebih jika berasal dari kelas yang berbeda dari kehidupan Alga. Akan muncul banyak pertanyaan mengapa begini dan begitu di kepala mereka. Berbeda dengan orang dewasa yang akan memaklumi segala problematika yang ada di novel ini sebagai bagian dari masalah sehari-hari.

"Aku tidak bersedih Ayah, aku baik-baik saja." Aku memeluk Ayah dan tidak ingin bertanya lagi dan mendapati jawaban yang membuat hatiku semakin hancur. (halaman 80).

BROOOO anak sekecil itu berkelahi dengan nasib dan keadaan. Saya mengerti kalau semua kemalangan Alga juga efek domino dari hal-hal di sekitarnya. Persepsi soal kebahagiaan yang diukur dengan harta, relasi antarkeluarga yang berbasis give and take, orang tua yang abai dengan perasaan pribadi anak, pendidikan yang nggak mendukung pertumbuhan karakter, dan masalah-masalah lain yang berjejer. Dari awal hingga akhir cerita pembaca seolah-olah 'dipukuli' oleh realita hidup di desa suram dan beberapa narasi kebahagiaan Alga yang sifatnya temporal (lebih ke kayak plasebo yang bikin Alga melihat hal kecil dalam hidupnya perlu disyukuri, meski nggak salah juga sih). Bahkan ketika cerita bergulir pada penutupnya, Alga masih harus ditimpa kemalangan yakni ditinggal Ayahnya.

Mungkin memang jalan pikiran orang dewasa saja yang serba ribet. Membaca novel anak saja (yang bahkan tipis) ditafsirkan dari A sampai Z. Sampai pusing sendiri mikirnya. Berhubung saya suka dengan alurnya yang melompat tapi nggak begitu mengganggu, karakterisasi yang hidup, juga masalah-masalah yang relevan dengan dunia nyata, saya berani beri empat bintang. Kurang lebih, saya sudah cukup puas. Alga, semangat melanjutkan hidup, ya!
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
June 27, 2023
Alga, anak laki-laki usia 12 tahun, hidup bersama Mintuo, bibi, dan sepupunya, Tobi. Ibunya pergi menjadi TKW sejak Alga berusia 4 tahun. Sementara itu, ayahnya bekerja di tempat yang jauh. Sebetulnya Alga tidak nyaman tinggal bersama Mintuo dan Tobi yang senang memanfaatkannya. Tapi mereka adalah satu-satunya keluarga Alga.

Prestasi yang diraih Chikie Wahab dalam DKJ membuatku penasaran akan isi cerita ini. Cerita dibuka dengan kehidupan Alga yang menyedihkan. Ia merasa terpuruk karena ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Sementara itu, ia tidak merasa dekat dengan Mintuo dan Tobi yang berada satu atap dengannya. Ia merindukan ayah dan ibunya.

Beberapa isu tergambar dalam buku ini. Sebut saja soal kemiskinan, sikap materialistis, hubungan pertemanan dan keluarga, paham patriarki, kejujuran, perjumpaan dan perpisahan, serta kehilangan. Aku merasa orang-orang terdekat Alga tidak mampu merangkulnya. Yah, kecuali Pak Zul. Hanya dia yang benar-benar tulus.

Jujur saja, aku sempat bersuka hati lantaran namaku muncul di cerita, meskipun hanya sebagai nama panggilan. Sayangnya aku dibuat kecewa olehnya. Bagaimana bisa seorang guru memberi hukuman kepada murid dengan melihat "pantas atau tidaknya" ia melakukan suatu kesalahan, bukan soal kasusnya itu sendiri. Namun, pada kehidupan nyata seperti itu juga, bukan? Kita sering kali melabeli seseorang jahat hanya karena kita berpikir dia punya alasan untuk berlaku seperti itu, terlepas apakah itu sesuai realita atau tidak.

Sayangnya, hingga akhir cerita, aku tidak sanggup menangkap pesan penting dari cerita ini. Entah apa yang ingin disampaikan penulis.
Profile Image for Claudia.
47 reviews7 followers
April 26, 2024
Sudah lama rasanya tidak membaca buku yang diberi label buku anak, dan Hei, Alga ini jadi semacam hal baru buatku.

Selayaknya buku anak, buku ini tentunya lebih ringan, dan sebetulnya bisa dibaca sekali duduk (walau aku membutuhkan waktu 2 hari untuk membacanya).

Tapi lagi-lagi, karena buku ini diberi label buku anak, aku kok malah merasa buku ini “sangat gelap” untuk ukuran cerita anak ya? Rasanya seperti membaca Di Tanah Lada milik Ziggy yang memang diperuntukkan untuk remaja ke atas.

Ini karena tokoh utama, Alga, digambarkan sebagai tokoh yang sangat menderita. Rasanya hampir sepanjang hidupnya di cerita, Alga selalu menderita, meski memang ada beberapa bagian yang juga menceritakan kebahagiaan Alga.

Jauh dari kesan “ceria” khas anak-anak, penulis mungkin ingin buku ini memberikan sudut pandang lain tentang kehidupan seorang anak, yang bisa begitu menderita, tapi tetap dipaksa tegar oleh kenyataan.

Yah, meski tidak begitu memuaskan, tapi buku ini cukup lumayan untuk dibaca, terlebih cover-nya juga cantik dan kita juga mendapatkan pembatas buku dan post card 😍

Anyway, jika kamu ingin memberikan buku ini untuk anak, keponakan, adek, atau anak kecil lain yang masih di bawah umur, pastikan kamu mendampinginya saat membaca buku ini, ya!
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.