PEMENANG KUSALA SASTRA KHATULISTIWA KE-20 KATEGORI PUISI TAHUN 2020
TAMU TAK BERMALU
Meski selembut gerak asap rokok Atau sekeras palu kuli bangunan menghancurkan tembok Upaya mengusirnya serupa hasrat mengubah batang kelapa jadi tongkat musa Tamu tak diundang dan tak bermalu ini akan pergi, hanya bila kita tak lagi berdenyut nadi.
Inggit lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Putri pasangan H. Syarifuddin Umar dan Hj. Nurlela diberi nama lengkap Inggit Putria Marga. Kedua orang tuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Bandarlampung. Anak kedua dari tiga bersaudara ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDN 1 Pahoman tahun 1993, SMPN 3 Tanjungkarang tahun 1996, dan lulus SMUN 10 Tanjungkarang pada tahun 1999. Terakhir, ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Holtikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan lulus pada Maret 2005. Inggit adalah putri satu-satunya, sementara kakak dan adiknya adalah laki-laki. Tidak heran jika kemudian Inggit tumbuh menjadi seorang gadis yang sedikit tomboy. Meskipun demikian, ia tidak ubahnya seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Ketertarikan Inggit pada dunia sastra sudah terlihat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia menggemari Siti Nurbaya karya Marah Roesli dan Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Ketika ia di bangku Sekolah Menengah Umum, sekitar tahun 1999, ia menunjukkan ketertarikan terhadap puisi. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono saat itu menjadi inspirasi Inggit dalam menulis. Menurut Inggit, karya-karya Sapardi merupakan pembebasan kata-kata dari makna. Setiap kata yang muncul pada setiap bait puisi Sapardi terlepas dari makna yang melingkupinya. Hal inilah yang kemudian dilakukan Inggit dalam setiap karyanya dan menjadi ciri khas dalam karya Inggit. Matsuo Basho, Octavio Paz, dan Pablo Neruda merupakan beberapa penyair internasional yang sajak-sajaknya dikagumi oleh gadis bersuku Palembang ini. Di samping itu, Inggit pun mengidolakan Goenawan Mohammad dan penyair-penyair lokal Lampung seperti Ari Pahala Hutabarat dan Iswadi Pratama yang merupakan senior sekaligus guru bagi Inggit. Mereka berdua adalah orang-orang yang banyak memberi motivasi dan kritikan pada Inggit. Mereka pula yang senantiasa memacu semangat Inggit untuk terus kreatif dalam berkarya sehingga menjadikan Inggit seorang penyair wanita yang cukup produktif di Lampung. Selain menulis puisi, kebiasaan lain yang dilakukan Inggit adalah menanam dan menyiram bunga. Kegemaran inilah yang kemudian menyeret langkahnya untuk kuliah di jurusan Holtikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Di bangku kuliah pula ia mulai aktif bergelut dalam dunia kesusastraan. Untuk terus mengembangkan minat dan bakat sastranya, Inggit bergabung dengan Unit Kesenian Mahasiswa Bahasa dan Seni (UKMBS) di Unila. Proses kreatif tentu tak akan pernah lepas dari perjalanan hidup seorang sastrawan, dari masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa. Begitu pula halnya dengan Inggit. Pengalaman-pengalaman kehidupan pribadinya yang berupa pengamatan dan mungkin pencurahan perasaan banyak ia tuangkan dalam setiap sajak yang ia tulis. Dengan kata lain, puisi-puisi Inggit banyak dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan serta lingkungan di sekitarnya. Ia menemukan inspirasi kapan dan di mana saja. Artinya tidak ada waktu khusus untuk menulis dan menggali ide, semua tercurah secara spontan apa adanya. Menurutnya, puisi bukan sekedar mengandalkan daya imajinasi yang dimuntahkan lewat kata-kata tetapi lebih merupakan sekumpulan energi yang dipengaruhi oleh panca indera atau bahkan oleh indera keenam manusia. Sebagai manusia yang menjalani serta menghayati hidup dan kehidupannya, ia menjalani dan menikmati setiap proses kreatif dalam bersastra. Perkembangan karir Inggit dalam sastra berlangsung normal dan biasa saja karena menurutnya apa yang telah ia peroleh merupakan hasil dari proses kreatif penulisan puisinya. Tidak ada hal yang istimewa dan juga tidak terlalu sepele untuk dibahas. Proses kreatif yang ia alami berlangsung alamiah, artinya ia tidak terlalu memaksakan diri menemukan sebuah ide untuk menulis sebuah puisi, semua dibiarkan berjalan apa adanya. Let it flows like a stream of water! Sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa, tentu ada teman atau sahabat yang dengan setia mendengar keluh kesahnya. Meski demikian, tida
Bukunya tipis saja, tapi isinya penuh luka. Pembaca diajak menyusuri rasa yang bikin manusia terenyuh seperti kesepian, kematian, hingga bencana. Dahsyatnya, lakon dari setiap kisah bait buku ini kebanyakan adalah perempuan. Terlihat tragis dan lebih nyata, mengingat bagaimana stigma mendeskripsikan gender perempuan. Dan sepertinya penyair mengambil bagian itu sebagai ide pokok puisi-puisinya.
Sembari menyaksikan keterenyuhan, pembaca juga dibekali deskripsi latar yang indah. Itu membuat puisi-puisi dalam buku ini ironis: mendengarkan isi duka berbalut selimut diksi seputar alam yang gagah nan menggentarkan. Pemikiran penuh telisik harus dipasang oleh pembaca karena bisa saja kisah sedih itu terkaburkan oleh keindahan diksi penyair.
Salah satu puisi favorit adalah "Hantu". Bercerita tentang sosok "aku", sepertinya adalah hantu, menyaksikan detik-detik bencana meluluhlantakkan kapal berisi banyak orang termasuk dua sejoli yang sedang mengemban cinta dan seorang ibu yang sedang mengemban anaknya.
Favorit lainnya yaitu "Minggu Berdinding Ungu" yang mengungkapkan perasaan bahagia sang ibu kepada sang anak yang gemar menggambar banyak hal. Saat sang ibu bertanya apa yang dia gambar dan kenapa, sang anak menjawab dengan "aku hanya ingin menggambar yang kusuka saja." kepiluan pun merayap kepada sang ibu mengetahui bahwa tiada sosoknya dalam gambar-gambar yang dibuat sang anak.
Bedanya dengan banyak buku puisi yang kubaca sebelum ini, judul buku ini bukan salah satu puisi yang ada di dalamnya. Tidak ada puisi berjudul "Empedu Tanah". Setelah kutelusuri kata kunci "Empedu Tanah" secara daring, kolom pencarian menyuguhkan informasi tentang tanaman Sambiloto selain juga informasi tentang buku ini. Saat kubaca-baca, tanaman itu punya nama lain Ampedu Tanah di Sumatra Barat.
Lalu, aku mencari kata "empedu" di KBBI. Selain tentang salah satu organ manusia, hasilnya memberi definisi begini: "n ki perkataan atau ucapan yang pedas dan menyakitkan hati (perasaan)." Sampai di sini, aku coba mengartikan bahwa empedu adalah hal-hal buruk (kata-kata pedas dan menyakitkan) dan "tanah" adalah tempat manusia kembali dan konon adalah bahan pembuat manusia. Gabungan dari keduanya merupakan apa yang dirasakan selama membaca puisi-puisi dalam buku ini.
Entahlah.
Intinya, buku ini memberi aftertaste yang bikin riuh di memori.
Buku bersampul hijau ini kutamatkan lambat-lambat saking sukanya. Berisi 30 tulisan, Empedu Tanah karya Inggit Putria Marga mengisahkan kepahitan yang rasanya nggak pengin ditelan sendirian.
Hubungan-hubungan yang hancur jadi gagasan utama buku ini. Hubungan dengan anak, orangtua, pasangan, alam, bahkan dengan dirinya sendiri.
Perempuan jadi tokoh utama dari kebanyakan puisi. Ada kalanya ia bisa jadi anak kecil, anak remaja, juga orang dewasa. Ada waktunya ia harus jalani peran sebagai istri seorang suami atau Ibu seorang anak. Ada masanya di mana ia jadi korban dan hanya diam, tapi adapula waktunya ia berani melawan.
“Ujung Tunggu” adalah salah satu puisi yang mencuri perhatianku. Puisi ini bercerita tentang seorang istri yang bersetubuh dengan anak lelakinya, lantaran suaminya nggak pulang-pulang.
Judul lain yang nggak kalah menarik, “Ruang Berakuarium”. Ada satu bait yang membuatku meringis.
Aku nggak bisa berhenti mikirin perempuan-perempuan di buku ini. Rasanya sungguh dekat dan tragis.
Kalau boleh menitipkan doa bagi para tokoh, harapnya segala yang "pahit-pahit" dalam hidup bisa segera redup. Agar sama halnya dengan filosofi di bali judul yang diambil dari nama lain tanaman Sambiloto, meski pahit, ia dapat dijadikan obat.
Usai membaca, aku nggak lagi heran kenapa predikat Pemenang Kategori Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa yang ke 20 tahun disematkan pada buku puisi ini.
Wah, kumpulan puisi layak memang menang Kusala Sastra. Saya menikmati semua judul dalam buku ini, terasa gimana ya, suram, kesedihan, kemuakan atau apa saya gak bisa menjelaskannya. Tentang perempuan.
Judul favorit : Festival Purnama, Minggu Berdinding Ungu, Lamun Hujani Kebun.
aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu merah fajar yang menggenang di langit telah abu-abu merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku telah batu merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu.
-Sesaat Sebelum Pagi, halaman 14
Dalam kondisi normal, gue adalah tipe pembaca yang cepat. Dan selama ini, buku-buku puisi yang gue punya selalu bisa gue habiskan dalam waktu kurang dari dua jamーdan biasanya akan gue baca kembali di waktu-waktu tertentu, di saat gue kangen sama perasaan euphoric yang gue rasakan tatkala gue membaca puisi tertentu.
Tapi untuk buku ini.. ini buku puisi yang bahkan nggak sampai 100 halaman. Tapi gue butuh waktu cukup lama untuk membacanya. Setiap puisi di dalamnya sangat berkesan dan kembali menyadarkan gue bahwa karya seni bisa menjadi sangat indah sekaligus memilukan di saat yang bersamaan.
Membaca ini rasanya seperti naik roller coaster. Kita dibawa naik dan turun, kita diajak menengok cerita-cerita tentang sekejam apa kehidupan (dan manusia lainnya) dapat memperlakukan kita... melalui puisi.
Mungkin ini karena gue yang emang selalu terkesan dengan karya yang muncul dari sisi gelap kehidupanーkarena, meski bikin nggak nyaman, gue menikmati perasaan yang gue rasakan ketika tahu bahwa setiap orang memiliki caranya tersendiri dalam memaknai dan menerjemahkan hal-hal buruk di dalam kehidupan.
Entah sebagai bentuk kritikan, curahan hati, atau apapun itu.
Setelah menunda menyelesaikan buku ini karena terlalu terbawa emosi, gue kembali tertegun sama buku ini. Kembali dibuat sesak dan merasa pahit. Gue suka sama buku ini, tapi bukan dengan cara yang gue sukai.
Tapi tetap, buku ini adalah cara terbaik untuk memulai 2022.
⭐4,8 Buku kumpulan puisi yang cukup membuatku emosional saat dibaca. Isu-isu yang dihadirkan juga begitu dekat dengan akar permasalahan kehidupan. Buku tipis, yang cukup mengasah rasa selama membaca.
Permasalahan mengenai ketimpangan sosial ekonomi masyarakat, kekerasan seksual terhadap anak-anak dan perempuan, pengingkaran atas janji² para bandit² berdasi, ketidak stabilan mental orang tua, dan pemerintahan yang gagal merawat rakyat²nya, dituliskan dengan begitu apik dalam setiap barisnya.
Pemilihan kata yang sederhana dan disusun dengan sebegitu baiknya menghantarkanku pada kemudahan saat memaknainya. Sekalipun tetap dibeberapa judul ada yang sedikit membuatku mengernyitkan dahi untuk mendalami pesan pada kalimatnya.
Dari sekian banyaknya judul, ada beberapa yang cukup membuatku emosional selama membacanya, yaitu Rencana Sang Pelacur, Tidak Malam di Akhir Agustus, Sesaat Sebelum Pergi, Ujing Tunggu, Liburan Akhir Pekan, Dalam Bilik Jahit, dan Seorang Perempuan dan Dua Pencuri. Juga ada satu judul yang bait kelakarnya menjadi kesukaanku, yaitu Tamu Tak Bermalu.
4.6 - Sebagai buku antologi puisi pertama yang aku baca. Dan penikmat baru puisi. Aku sangat menikmati puisi lirik dengan diksinya yang menarik juga kemampuan Kak Inggit untuk menawarkan pembaca menikmati plot-plot yang dibuat di setiap puisinya. Dari semua judul, lima judul terfavoritku di dalam buku ini yaitu: - Tiga Malam di Akhir Agustus - Seorang Korban - Ujung Tunggu - Liburan Akhir Pekan - Minggu Berdinding Ungu Pada masing-masing puisinya aku mendapatkan pesan tentang kesedihan yang sedang dikisahkan, sembari menikmati diksi yang beberapa masih baru untukku terasa indah. Layak memang diganjar the winner of Kusala Sastra Khatulistiwa Award 2020 kategori puisi. Cocok sebagai referensi dan benchmark untukku menulis antologi puisi nantinya. Nb: Bagi yang lebih suka puisi pendek khas dengan fokus pada diksi-diksi yang indah, mungkin kurang suka, tapi bisa jadi hal baru untuk dinikmati.
Sebenernya nggak merasa layak menilai ini karena aku nyaris nggak paham apa-apa tentang puisi, tapi yang aku suka dari puisi-puisi di buku ini adalah kemampuannya untuk membuat aku merasakan apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Puisi-puisi yang mengambil perempuan sebagai "pusat" cerita benar-benar bikin sakit hati, sedih, dan marah. Nggak semua puisi di dalamnya bisa aku pahami betul-betul, tapi kebanyakan mudah diikuti dan bisa dipahami "plot" nya.
Hal-hal yang jadi favoritku adalah pilihan diksi yang cantik, alegori yang cerdas, dan kalimat yang berima. Ada beberapa judul yang aku suka banget, ada juga yang aku nggak mudeng banget😅
Tapi aku enjoy banget baca buku ini. Dan karena tipis juga jadi nggak tertekan bacanya✌
Memulai tahun baru 2021 dengan buku puisi! Aku penasaran sama buku ini sejak dinobatkan pemenang kategori puisi didalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2020! Ternyata isinya tidak mengecewakan karena suasana suram dan menyedihkan menghiasi buku ini. Diksi kata dan gaya penulisan puisinya berbeda dengan penulisan puisi biasa
Aku suka buku puisi ini berbeda dengan buku puisi lokal yang aku baca seperti biasanya!
Terimakasih Gramedia Digital Premium atas peminjaman bukunya!
Sebelumnya saya tertarik dengan judul buku ini saja tanpa melihat review teman-teman atau mengintip isi bukunya, saya langsung baca saja. Diluar ekspektasi saya, isi buku ini sangat gelap. Beberapa konten dalam buku ini mungkin akan cukup triggering terutama buat perempuan-perempuan yang pernah mengalami.
Dalam buku ini nanti kita akan disajikan puisi yang bercerita. Baru puisi pertama saya sudah merasa sedih dan kosong. Di beberapa puisi selanjutnya berhasil bikin lebih campur aduk lagi. Untuk segi penulisan, jujur kumpulan puisi ini cantik sekali.
Kumpulan puisi dari Inggit, tentang kematian, bencana, ada korban pesawat jatuh, kisah pilu seorang PSK dan yg menarik perhatianku berjudul "Minggu Berdinding Ungu", kisahnya juga pilu sih, anak yg hobi gambar apa aja yg dia suka, ibunya berharap ingin di gambar sm anaknya tp anaknya milih gbr lain (yg mana mgkin Ibunya bukan hal yg dia suka🥹)
Buku ini menutup akhir tahun 2020. Dan, entah mengapa, agaknya jadi buku yang tepat mengingat banyak peristiwa di sepanjang tahun ini. Empedu Tanah adalah buku kumpulan puisi, yang dari pembacaanku, terkesan tajam dan liar, tapi juga menyimpan keindahan.
Ini pertama kalinya aku berkomentar di goodreads untuk sebuah buku.
Terlepas isinya yang penuh nuansa kesedihan, kelam. Dengan pemilihan kata dan penyampaian maknanya yang masih mudah dipahami. Puisi dan sajak dalam buku ini "enak" sekali untuk dinikmati.
Pahit dan kelam. Kedua nuansa tersebut benar-benar terasa di buku ini. Jujur, buku ini membuatku emosional saat membacanya, perasaan amarah, sedih, dendam dan penyesalan teraduk menjadi satu. Aku sangat merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini, terutama bagi kalian yang bergelud atau menyukai dunia perpuisian.
Menurutku, puisi-puisi dalam Empedu Tanah sangatlah vulgar, emosional, dan penuh dengan kegusaran. Perempuan dalam Empedu Tanah sangat sengsara dengan berbagai masalah sosial yang dihadapinya. Perempuan sebagai objek di sini, adalah penggambaran yang nyata dari bangsa ini.
Wajib dikoleksi. Saya bacanya via Gramedia Digital, tapi jika nanti ada rezeki lebih, musti kudu wajib beli fisiknya untuk ditaro di rak buku, karena bagus banget.
kumpulan puisi tentang perempuan, yang ditindas, jadi korban pemerkosaan, kdrt, dibunuh, ditelantarkan. heartbreaking with beautiful writing style and metaphor
Lagi-lagi puisi berbentuk yang jauh dari apa yang diajarkan dulu saat sekolah. Puisi yang ditulis "sembarangan", tabrak sana-sini, tapi harus aku akui puisi-puisinya masih bisa dibaca dengan enak, nggak kelewat njelimet dan menjadi bukti kalau puisi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa juga bisa aku tuntasi tanpa misuh.
"sekarang, peraduan bapak tempatnya memandang matahari pulang sambil melingkarkan tangan di pinggang perempuan yang dikawini sebelum nyawa istri meregang"
Cuplikan puisi "Gadis Kecil Terbingkai Jendela" hal.21
Puisinya kebanyakan suram, menandakan emosi yang tertahan. Dan, ya seharusnya puisi memang jadi media untuk menyimpan perasaan, kan?