Ikan di pesisir Pantai Natuna tiba-tiba hilang. Saba yang baru saja memasuki masa liburan sekolah, untuk pertama kalinya melaut bersama ayahnya, Pak Dahlan. Mereka berharap ada ikan di tengah laut. Namun, alih-alih mendapat ikan. Mereka justru melihat sebuah rumah perahu mencurigakan.
Saba mengajak Jauhari dan Mail, sahabatnya, untuk melakukan penyelidikan. Satu-persatu petunjuk ditemukan, yang membawa ketiganya dalam penyelidikan yang lebih menegangkan.
Usaha yang dilakukan Saba dan teman-temannya tidak mulus, karena ketiganya tertangkap dan disekap disebuah pulau. Semakin mereka mengetahui sesuatu, semakin membuat mereka terkejut tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Buku yang sangat sangat bagus jika dibaca anak TK dan SD. Kalo untuk aku, fyi aku 19, just so so aja. Cukup menghibur, aspek entertainment-nya dapet kok. Tapi seperti apa yang dikatakan temenku, baca buku anak-anak harus pandai memaklumi, karna umur ga bisa bohong wkwk.
Awalan buku sampe pertengahan cukup seru, bahkan aku dibikin deg-degan. Namun setelah itu sampai ke ending aku dibikin kayak, "huhhh???" Karnena alurnya yang luar biasa cepat. Terlalu cepat sampai disaat tensi sudah mulai naik tetiba langsung jomplang turun kebawah.
Tapi kalo dipikir-pikir lagi, understandable sih. Karna ini kan buku anak. Mungkin dibikin cepat seperti itu agar anak-anak lebih mudah memahami maksud dari buku ini, dan mungkin agar anak-anak tidak bosan membacanya, karna bukunya tidak terlalu tebal.
Bercerita tentang tiga anak pemberani dari Pulau Natuna yg mencoba menguak misteri hilangnya ikan-ikan di pesisir pantai tempat mereka tinggal. Tiga detektif cilik ini berhasil menemukan berbagai petunjuk yg membawa mereka pada penyelidikan yang menegangkan.
Mungkin buat beberapa orang dewasa buku ini ceritanya biasa aja, tapi menurutku buku ini tuh ceritanya ringan dan seru banget, dan bisa diselesaikan in one sitting. Di awal cerita emang alurnya agak lambat karena menceritakan detail konflik yang terjadi di Pulau Natuna, pas masuk klimaks alurnya langsung ngebut banget sampe ke antiklimaks. Tapi aku sih gak masalah dan ceritanya tetep seru buat dibaca sebagai kategori buku anak-anak.
Jujur, aku suka banget sama karakter Saba. Buat anak umur 11 tahun aku apresiasi banget sama sikapnya yg bisa tetep tenang menghadapi masalah yg ada di depan matanya. Dia juga pinter banget dalam menganalisa konflik dan gak gampang nuduh orang lain, dia tetep berusaha untuk berpikir secara objektif dibanding orang dewasa yg gampang tergiring asumsi sekitar. Aku ikut sedih pas dia cerita ke Datuk Awaludin sama apa yg terjadi di pulau terpencil sambil nangis-nangis. Rasanya pengen peluk Saba di momen itu :(
Akhir ceritanya tentu happy ending, seneng banget bayangin para detektif kecil ini dapet penghargaan beasiswa sampe kuliah karena keberanian mereka. Ya ampuun aku bangga banget pokoknya sama mereka.
Moral of the story: Gak boleh serakah. Gak boleh egois. Sebelum bertindak pikirkan dulu dampak buruk apa yang bakal terjadi di sekitar kamu. Di sini kita juga diajarkan untuk gak mengeksploitasi sumber daya alam karena tentu itu bisa merusak ekosistem. Intinya yaa segala sesuatunya harus seimbang.
Di awal novel ini seru banget!!! Tapi .... kenapa menuju akhir kesannya buru-buru banget, deh? Padahal bagian klimaksnya kalau nggak terlalu terburu-buru itu yakin sih bakal seru banget.
Karakter Saba, Jauhari, dan Mail, sebenarnya sudah sangat memenuhi syarat buat cerita ini bakal seru. Ditambah cerita tentang latar belakang pulau Natuna yang menarik, dan pemilihan konfliknya.
Mari saya ceritakan apa isi dari buku anak ini sekilas saja. Jadi, selama libur sekolah, Saba dan kedua temannya sedang menyelidiki alasan kenapa ikan-ikan di laut sekitar rumah apung mereka menghilang. Mengakibatkan para nelayan tidak bisa melaut, karena tidak mendapatkan ikan sama sekali, padahal hasil laut adalah mata pencaharian utama mereka.
Bertemulah mereka dengan Damar yang membuat kecurigaan awal mereka yang mencuat makin kuat. Nah, karakter Damar ini kurang digali padahal termasuk tokoh penting yang menarik.
Cerita anak kan nggak perlu panjang? Betul, tapi kalau terlalu terburu-buru juga nggak dapet nih feelnya. Padahal di awal suguhannya menarik. Namun, aku tetap berusaha menyelesaikan agar kalau mau buat ulasan tidak terkesan mengada-ada.
Buku ini bercerita tentang tiga anak dari pulau Natuna yang melakukan pengintaian/penyelidikan terhadap hilangnya ikan-ikan di rumah mereka (rumah apung). Keberanian Saba, Jauhari, dan Mail ini patut diacungi jempol karena dengan umur mereka yang masih kecil, mereka tidak gentar untuk mengetahui penyebab hilangnya ikan-ikan di perairan Natuna.
Dengan membaca buku ini, kita diingatkan kembali untuk dapat menjaga ekosistem laut dengan cara tidak membuang sampah di laut atau sungai, menangkap ikan dengan menggunakan racun maupun bom ikan sehingga semua ikan tertangkap, termasuk ikan yang sedang bertelur dan menyebabkan terhambatnya perkembang biakan ikan-ikan tersebut. Buku ini memiliki alur maju yang cukup cepat dengan jumlah 128 halaman dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Buku Petualangan Anak Natuna karya Dini W. Tamam ini cocok dibaca untuk semua umur, terutama anak-anak.
Meskipun target bacaannya adalah anak-anak, tapi sebagai seorang remaja saya cukup menikmati cerita dalam buku ini. Karakterisasi para tokoh, petualangan yang seru, serta plot twist di akhir yang cukup membuat kaget, juga pesan moral yang disampaikan sangat bagus. Ternyata pengalaman membaca cerita anak-anak juga sama menyenangkannya.
bagus banget lohh. ini tuh bikin flashback ke masa masa org luar yang ambil ikan di pulau Natuna tanpa izin, tapi di sini yang ngambil semua ikan di pulau Natuna dan berlian² di dalam nya malah bang tompel (masyarakat situ). mail, saba, dan jauhari memang bijak.