Buku penutup tahun 2023. Butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikannya, dan untuk memikirkan tentang apa saja yang saya dapat dari membaca buku ini.
Buku ini memiliki konsep dan latar yang luar biasa. dalam dan kompleks. dengan detail dan trivia nama-nama daerah, bahasa, serta istilah-istilah yang membuat penyuka sejarah tersenyum riang saat membacanya.
Pengaruh Orwell terasa kuat dalam pembuatan latar buku, namun sangat berbeda dari segi penokohan dan alur cerita. Jika dalam 1984 kita banyak disuguhi dengan kontemplasi-kontemplasi Winston dan pergulatan idealisme di dalam kepalanya, dalam Puspabangsa pergulatan tersebut disajikan berbeda, melalui ragam aksi mulai dari insvestigasi seorang detektif, pelarian seorang wanita penghibur, serta pencarian masa lalu seorang warga kelas atas.
Cukup banyak hal yang dibahas. Saking banyaknya, saya rasa buku ini hanyalah sebuah kepingan puzzle dari sebuah cerita besar yang terjadi di Imperium dan Nusantaragama.
Namun, ada hal yang mengganjal. hal yang membuat saya (dan istri yang juga ikut membaca), memutar bola mata dan memutuskan untuk membaca cepat-cepat. yaitu bagian-bagian interaksi antara Satya dan Yasmina. Tidak ada chemistry yang cukup kuat di antara keduanya. Interaksi antara mereka kaku dan tidak natural. Sebal rasanya melihat Yasmina dan dialog-dialognya yang sok 'dingin' dan 'jahat' kepada Satya, padahal sejak awal dia yang mendatangi Satya untuk meminta pertolongan.
Tapi itu hanyalah masalah kecil, terlalu kecil untuk novel sebagus ini.
terima kasih banyak Karim Nas karena telah menulis novel ini.