Beberapa tahun lalu. Ada teman fesbuk saya yang saya rasa cukup getol mengenalkan Syekhah Rahmah El Yunusiyyah.
Waktu itu, saya belum tertarik untuk mengenal beliau. Lalu ketika ada buku tentang beliau yang diterbitkan Republika, kok saya tertarik yaa. Covernya mengingatkan foto Syekhah Rahmah yang diposting oleh teman tersebut.
Ketika saya mulai membaca, tokoh ini keren banget.
Ketika selesai banget, Syekhah Rahmah adalah istimewa. Masya Allah.
Bagi yang belum tahu beliau ini siapa. Beliau adalah penerima penghargaan Bintang Mahaputra Adiprana dari Presiden Republik Indonesia, SBY pada 13 Agustus 2013. (Halaman 223)
Mengapa beliau mendapatkan penghargaan
tersebut? Pasti beliau orang hebat kan? Nah, silakan baca sendiri saja novel ini agar tahu kehebatan beliau.
Pada intinya, Syekhah Rahmah adalah perempuan yang peduli pada agama dan pendidikan (khusunya agama) para perempuan. Karena selama ini soal pendidikan hanya diberikan secara luluasa kepada para lelaki.
Beliau sering mengatakan, "Menuntut Ilmu wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki atau perempuan." (Halaman 196)
Mengingat juga pentingnya ilmu agama bagi perempuan, serta ilmu-ilmu lainnya karena mereka adalah sekolah pertama anak-anaknya, maka dengan berbagai dinamika dia pun mendirikan sekolah agama perempuan yang dinamakan Diniyyah Puteri. Karena letaknya di Padang Panjang maka sekolah ini pun terkenal dengan nama Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Selain mendapat kekurangpersetujuan dari beberapa orang di awalnya, masalah juga hadir dari para penjajah Belanda, dan Jepang.
Ada banyak hal menarik dalam novel ini. Misal tentang sikap dan 'kepasrahan' orangtua zaman dulu kepada para guru terhadap pendidikan anak-anaknya.
Orangtua dulu, ketika membawa anaknya ke Etek Amah (panggilan untuk Syekhah Rahmah kala itu) atau kepada guru lainnya, selalu membawa beras, kadang uang, dan tak lupa rotan.
"Engku guru, tolong didik anak saya, ini beras dan uang secukupnya, ini rotan untuk pelecutnya. Jika anak kami nakal, tak mau mengaji, Engku lecut sajalah, biar dia pandai mengaji dan tahu adab berguru." (Halaman 14)
Masya Allah, ini sungguh spesial. Meski mungkin memang sudah tidak cocok untuk zaman sekarang. Karena, pun Diniyyah Puteri tidak menggunakan kekerasan. Tetapi, satu hal yang masih harus dipegang adalah orangtua yang mendukung guru, bukan malah orangtua marah kepada guru karena anaknya dididik dengan dihukum. Subhanallah.
Etek Amah, selalu mengingatkan kepada para guru di Diniyyah Puteri untuk selalu belajar.
Belajar ilmu mendidik, belajar ilmu jiwa, dan mempraktikkannya saat mendidik. Jangan samakan satu anak dengan anak lainnya, harus diketahui dari mana asal dan kehidupan asalnya.
Menjadi guru haruslah menguasai pedagogik, tahu sifat dan mental, serta kesanggupan peserta didik. Sabar, tenang, simpatik, tidak gegabah, dan tak terburu-buru. (Halaman 214)
Menariknya lagi, Etek Amah juga pernah menjadi komandan TKR (TNI) Padang Panjang. Karena dari laki-laki tidak ada yang mau, akhirnya Etek Amah yang mengusulkan diri. Masya Allah. (Halaman 157)
Kelak dari perguruannya itu akan ada banyak murid yang sukses dan hebat, juga bermanfaat bagi bangsa dan negara. Tidak hanya di Indonesia, tetap juga di Malaysia. Jadi, Syekhah Rahmah ini juga terkenal di Malaysia. Dia juga guru orang-orang Malaysia. Sampai ada yang mengatakan bahwa, Buya Hamka, Pak Natsir
dan Syekhah Rahmah ini adalah guru-guru orang Malaysia (khusunya mereka yang berasal dari Minang).
Uniknya, ternyata punya kebiasaan memberi makan orang di hari Jum'at. Tiap Jum'at dia membuat makan siang lebih dari biasanya. Jadi, sudah menjadi kebiasaan, sehabis turun Jum'atan banyak para jama'ah yang tidak langsung pulang ke rumah, tetapi mampir ke rumah Etek Amah untuk makan siang, orang-orang suka, enak masakan Etek Amah. Di rumah ini Hamka dan Natsir pun biasa makan.
Masya Allah, saya terkesemi orang-orang hebat Sumatera ini ternyata saling terhubung sejak dulu. Etek Amah pun dulunya belajar kepada bapak Hamka, Haji Rasul.
Mungkin ada yang penasaran dari mana kata Syekhah didapatkan Etek Amah? Silakan baca sendiri saja ya.
Intinya, Etek Amah tidak hanya terkenal di Indonesia dan Malaysia, tetapi sampai jauh luar Asia. Masya Allah.
Buku ini sangat bagus. Harus dibaca banyak guru, dan orang-orang yang peduli pada pendidikan dan agama. Insya Allah akan mendapatkan inspirasi. Selamat membaca 🙂