Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan yang Mendahului Zaman

Rate this book
“Saya harus mulai dan saya yakin akan banyak pengorbanan dituntut dari diri saya. Jika Kakanda bisa, kenapa saya, adiknya, tidak bisa? Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”

Rangkayo Syekhah Rahmah El Yunusiyyah adalah ayam betina yang berkokok. Sejak belia, di zaman penjajahan, ia mendirikan sekolah muslimah pertama di Indonesia, Diniyyah Puteri. Tak terbeli. Ia adalah komandan TKR, pasukan yang menghadang Belanda. Punya pasukan intel. Rahmah selalu berkerudung. Ditangkap, didenda, dan ditahan Belanda. Melawan Jepang agar menutup semua rumah bordir di Minangkabau. Menjemput perempuan-perempuan Minang yang diculik ke markas Jepang.

Rahmah, satu-satunya yang diberi gelar Syekhah oleh Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir. Universitas ini, meniru Diniyyah Puteri. Rahmah mendahului Al Azhar. Rahmah mendahului zaman. Ia paling dulu mengibarkan Sang Merah Putih pada 1945 di Ranah Minang bahkan mungkin di Sumatera. Kini warisannya makin jaya, modern dan disukai banyak perguruan tinggi ternama di dunia.

241 pages, Paperback

Published November 1, 2020

24 people are currently reading
166 people want to read

About the author

Khairul Jasmi

16 books9 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
82 (68%)
4 stars
31 (26%)
3 stars
5 (4%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 42 reviews
Profile Image for Nor.
Author 9 books106 followers
March 25, 2022
Wanita hebat dan mengagumkan. Lahir pada awal tahun 1900-an.

Bercita-cita tinggi untuk mendidik kaum wanita supaya bukan hanya menjadi suri rumah tangga tanpa ilmu. Dan dia mahu seorang wanita berperanan dalam masyarakat.

Banyak peristiwa mengagumkan yang telah Rangkayo Syekhah Rahmah lakukan. Mencari dana untuk sekolahnya dengan berjalan kaki hingga ke Malaya. (merentas lautan sahaja menaiki kapal).

Menjadikan sekolahnya, Diniyyah Putri bagai hospital ketika peristiwa gempa sekitar tahun 1930-an. Menjadi komandan tentera di saat ramai orang lelaki di sekelingnya tidak sanggu menggalasnya.

Di saat darurat, rakyat tidak punya pakaian, dia menggerakkan usaha memotong kain masing-masing dengan ukuran sejengkal, dikumpulkan dan dijahit menjadi pakaian. Mengumpulkan beras dan jagung untuk makanan kepada rakyat yang sedang kesusahan.

Ketika Indonesia diumumkan sudah merdeka, Diniyyah Putri paling awal mengibarkan bendera yang kain merahnya ditenun sendiri dan kain putihnya dari selendang.

Banyak lagi kisah-kisah tindakan Etek Rahmah yang mengagumkan dan tidak terfikirkan, telah dilakukan oleh seorang Muslimah berhijab pada zaman itu.

Dia melakukannya dalam kepayahan hidup waktu itu, lantas apa pula yang menghalang melakukan yang terbaik untuk ummah sekarang? Fikirkanlah diri.
Profile Image for chika.
47 reviews1 follower
May 14, 2023

Teruntuk temen" yg lagi nyari refrensi bacaan mengenai penggerak pendidikan dari kaum wanita, bisa bgt buku ini jadi acuan kalian, btw aku baca buku ini hampir di tiap chapter bawaan merinding karna kagumnya sama sosok Syekhah Rahmah ini & engga berhenti bilang masyaAllah sama beliau. Berkarismatik, cerdas, bervalue tinggi, mandiri, bijaksana, tegar💐
Profile Image for Nurul Suhadah.
180 reviews33 followers
October 23, 2021
Mungkin menjadi antara buku terbaik yang saya baca untuk tahun ini.

Buku ini adalah buku biografi seorang tokoh ulama perempuan dari Sumatera Barat dari bangsa Minang yang bernama Rahmah Al Yunusiah. Saya telah lama mendengar tentang tokoh ini ketika banyak membaca tentang Kartini, malah digelar juga Rahmah ini sebagai "Kartini Pendidikan Islam" kerana sumbangan beliau yang sangat besar dalam bidang pendidikan Islam khusus untuk golongan wanita.

Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Rahmah secara kronologi bermula daripada beliau lahir sehinggalah beliau meninggal dunia. Gaya penceritaan yang berselang seli dengan dialog dan juga bahasa yang mudah menyebabkan buku ini dapat dibaca dengan cepat. Apatah lagi bersifat kronologi, habis satu bab kita terasa mahu baca lagi kerana ingin tahu apa yang terjadi seterusnya.

Saya melihat tokoh seperti Rahmah ini antara tokoh yang agak 'rare' atau satu dalam seribu. Beliau lahir dari keturunan agamawan yang terhormat, tetapi dalam banyak hal beliau sangat berani menongkah arus dan melakukan sesuatu yang sukar untuk dilakukan oleh seorang wanita dengan pendidikan agama seperti Rahmah di zaman itu. Sebab itu saya kira penulis buku ini memilih tajuk "Perempuan Mendahului Zaman".

Dengan status beliau sebagai janda, cinta beliau kepada pendidikan tidak terhenti walaupun menghadapi pelbagai ujian dan cabaran. Kegigihan beliau mahu membuka dan memastikan ada sekolah khusus untuk golongan wanita sangat menakjubkan. Apatah lagi melihat kurikulum dan kokurikulum yang disediakan di Dinniyah Puteri itu sangat komprehensif dan merangkumi semua aspek.

Rahmah juga terlibat dalam hal ehwal ketenteraan, berani menentang Jepun, malah juga sangat dihormati dan disegani kawan dan lawan. Sehingga ke hujung usia, beliau terus konsisten dalam perjuangan di bidang pendidikan ini. Beliau bukan wanita biasa yang selalu tunduk dan patuh mengikut arus, tetapi beliau wanita yang membuat arus, meletakkan satu tanda aras yang sangat tinggi sehingga ke tahap mana seorang wanita boleh pergi.

Terima kasih Syeikhah Rahmah Al Yunusiah, peribadi dan jasamu sangat memberi inspirasi.
Profile Image for Muhammad Rasyid Ridho.
273 reviews4 followers
January 21, 2021
Beberapa tahun lalu. Ada teman fesbuk saya yang saya rasa cukup getol mengenalkan Syekhah Rahmah El Yunusiyyah.

Waktu itu, saya belum tertarik untuk mengenal beliau. Lalu ketika ada buku tentang beliau yang diterbitkan Republika, kok saya tertarik yaa. Covernya mengingatkan foto Syekhah Rahmah yang diposting oleh teman tersebut.

Ketika saya mulai membaca, tokoh ini keren banget.
Ketika selesai banget, Syekhah Rahmah adalah istimewa. Masya Allah.

Bagi yang belum tahu beliau ini siapa. Beliau adalah penerima penghargaan Bintang Mahaputra Adiprana dari Presiden Republik Indonesia, SBY pada 13 Agustus 2013. (Halaman 223)

Mengapa beliau mendapatkan penghargaan
tersebut? Pasti beliau orang hebat kan? Nah, silakan baca sendiri saja novel ini agar tahu kehebatan beliau.

Pada intinya, Syekhah Rahmah adalah perempuan yang peduli pada agama dan pendidikan (khusunya agama) para perempuan. Karena selama ini soal pendidikan hanya diberikan secara luluasa kepada para lelaki.

Beliau sering mengatakan, "Menuntut Ilmu wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki atau perempuan." (Halaman 196)

Mengingat juga pentingnya ilmu agama bagi perempuan, serta ilmu-ilmu lainnya karena mereka adalah sekolah pertama anak-anaknya, maka dengan berbagai dinamika dia pun mendirikan sekolah agama perempuan yang dinamakan Diniyyah Puteri. Karena letaknya di Padang Panjang maka sekolah ini pun terkenal dengan nama Diniyyah Puteri Padang Panjang.

Selain mendapat kekurangpersetujuan dari beberapa orang di awalnya, masalah juga hadir dari para penjajah Belanda, dan Jepang.

Ada banyak hal menarik dalam novel ini. Misal tentang sikap dan 'kepasrahan' orangtua zaman dulu kepada para guru terhadap pendidikan anak-anaknya.

Orangtua dulu, ketika membawa anaknya ke Etek Amah (panggilan untuk Syekhah Rahmah kala itu) atau kepada guru lainnya, selalu membawa beras, kadang uang, dan tak lupa rotan.

"Engku guru, tolong didik anak saya, ini beras dan uang secukupnya, ini rotan untuk pelecutnya. Jika anak kami nakal, tak mau mengaji, Engku lecut sajalah, biar dia pandai mengaji dan tahu adab berguru." (Halaman 14)

Masya Allah, ini sungguh spesial. Meski mungkin memang sudah tidak cocok untuk zaman sekarang. Karena, pun Diniyyah Puteri tidak menggunakan kekerasan. Tetapi, satu hal yang masih harus dipegang adalah orangtua yang mendukung guru, bukan malah orangtua marah kepada guru karena anaknya dididik dengan dihukum. Subhanallah.

Etek Amah, selalu mengingatkan kepada para guru di Diniyyah Puteri untuk selalu belajar.
Belajar ilmu mendidik, belajar ilmu jiwa, dan mempraktikkannya saat mendidik. Jangan samakan satu anak dengan anak lainnya, harus diketahui dari mana asal dan kehidupan asalnya.

Menjadi guru haruslah menguasai pedagogik, tahu sifat dan mental, serta kesanggupan peserta didik. Sabar, tenang, simpatik, tidak gegabah, dan tak terburu-buru. (Halaman 214)

Menariknya lagi, Etek Amah juga pernah menjadi komandan TKR (TNI) Padang Panjang. Karena dari laki-laki tidak ada yang mau, akhirnya Etek Amah yang mengusulkan diri. Masya Allah. (Halaman 157)

Kelak dari perguruannya itu akan ada banyak murid yang sukses dan hebat, juga bermanfaat bagi bangsa dan negara. Tidak hanya di Indonesia, tetap juga di Malaysia. Jadi, Syekhah Rahmah ini juga terkenal di Malaysia. Dia juga guru orang-orang Malaysia. Sampai ada yang mengatakan bahwa, Buya Hamka, Pak Natsir
dan Syekhah Rahmah ini adalah guru-guru orang Malaysia (khusunya mereka yang berasal dari Minang).

Uniknya, ternyata punya kebiasaan memberi makan orang di hari Jum'at. Tiap Jum'at dia membuat makan siang lebih dari biasanya. Jadi, sudah menjadi kebiasaan, sehabis turun Jum'atan banyak para jama'ah yang tidak langsung pulang ke rumah, tetapi mampir ke rumah Etek Amah untuk makan siang, orang-orang suka, enak masakan Etek Amah. Di rumah ini Hamka dan Natsir pun biasa makan.

Masya Allah, saya terkesemi orang-orang hebat Sumatera ini ternyata saling terhubung sejak dulu. Etek Amah pun dulunya belajar kepada bapak Hamka, Haji Rasul.

Mungkin ada yang penasaran dari mana kata Syekhah didapatkan Etek Amah? Silakan baca sendiri saja ya.

Intinya, Etek Amah tidak hanya terkenal di Indonesia dan Malaysia, tetapi sampai jauh luar Asia. Masya Allah.

Buku ini sangat bagus. Harus dibaca banyak guru, dan orang-orang yang peduli pada pendidikan dan agama. Insya Allah akan mendapatkan inspirasi. Selamat membaca 🙂
Profile Image for Innike Sumarni.
17 reviews
May 7, 2025
Awalnya, ada banyak pertanyaan-pertanyaan berkelibat di kepalaku seperti, kenapa beliau sampe dijuluki ‘ayam betina yang berkokok’? Atau, apa ga berlebihan buku ini dikasih judul “perempuan yang mendahului zaman”? Ternyata…

Kuhabiskan tiap babnya dengan hati yang hangat dan tumpah-tumpah. WOW! Terjawabkan sudah semua pertanyaan. Bunda Rahmah lebih dari sekedar pantas menerima semua penghargaan dan julukan itu.

Wanita ‘rebel’ yang sangat peduli dengan pendidikan kaum perempuan. Wanita yang ga punya urat takut, menguasai banyak bidang ilmu, langsung terjun ke lapangan berkontribusi mencerdaskan perempuan zaman kolonial. Bayangi aja, waktu itu perempuan pegang buku masih dianggap tabu, terus beliau malah bikin sekolah?! Bukan cuma butuh pemikiran progresif, tapi butuh nyali dan tekad ga terkalahkan buat mewujudkan mimpi semacam ini.

Bravo untuk pak Khairul Jasmi yang sudah menyajikan novel biografi segurih ini. Sekarang, alasanku untuk menganggumi bunda Rahmah El Yunusiyyah semakin berakar 🔥
Profile Image for Ella Mubarokah.
2 reviews1 follower
January 14, 2021
Buku Perempuan Yang Mendahului Zaman merupakan biografi dari Syekhah Rahmah El Yunusiyyah yang dikemas dalam bentuk novel.
Bagi pembaca yang kurang bisa memahami alur sejarah yang berat, novel ini menjadi jawaban kalian.

Alurnya jelas, bahasanya ringan, dan sangat menggugah. Bisa dipastikan bahwa setelah selesai membaca novel ini, semangat untuk memperjuangkan cita-cita akan semakin besar. Syekhah Rahmah adalah teladan bagi kaum perempuan Indonesia yang mungkin beberapa orang belum mengenal namanya.

Latar novel membawa kita pada masa penjajahan yang sangat menyengsarakan di Padang Panjang. Novel ini membawa kita pada perjuangan yang berat, namun cinta banyak hadir membuka mata dan hati bahwa perjuangan belum usai, figur seorang Syekhah Rahmah El Yunusiyyah harus terus hadir dalam setiap diri perempuan Indonesia.

"Al Mar'atu imadul bilad. Perempuan adalah tiang negara, dimana akan ada negara kalau tiangnya rapuh?"

Bacalah, dan temukan banyak cinta, terutama pada agama dan Indonesia.
Profile Image for Luna Liya.
12 reviews2 followers
May 18, 2024
Perempuan Yang Mendahului Zaman
Karya Khairul Jasni

Sheikhah Rahmah El Yunusiyyah adalah pemilik nama tokoh di dalam naskhah ini. Sebuah nama yang jarang sekali didengar mahupun dijaja ketokohannya di mana-mana. Bahkan saya sendiri, pertama kali mendengar dan mengenali nama ini ketika kaki berpijak di sebuah sekolah yang terletak di Padang Panjang yang dinamakan Sekolah Diniyyah Puteri (atau saya sahaja yang baru mengenali?). Sekolah yang didirikan oleh Sheikhah Rahmah El Yunusiyyah khusus untuk wanita Islam mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama dan yang lainnya. Diniyyah Puteri merupakan sekolah wanita pertama yang didirikan, sebuah idea yang mendahului zaman yang dibangunkan oleh perempuan yang masih belia. Kehidupan ketika zaman penjajahan, golongan wanita ditindas dan dilarang untuk mempelajari ilmu bahkan ada yang tidak langsung mengenali huruf, apatah lagi ilmu agama. Ketika itu, wanita layaknya hanya memasak di dapur dan berkemas rumah serta menurut kata laki-laki sahaja.

Namun wanita ini, di usia masih muda jiwanya sudah besar dalam mencintai pendidikan. Sebelumnya, saya hanya mengenali susuk yang bernama Kartini sebagai tokoh pendidikan di Jawa. Namun ternyata kisah Rahmah juga sangat hidup untuk diketahui. Selepas menerima izin abangnya Zainuddin Labai El Yunusy untuk mendirikan Diniyyah Puteri, nama Rahmah semakin meluas dalam kalangan rakyat Minangkabau dan sudah dikenali sebagai Etek Amah. Diniyyah Puteri juga kian hebat membangun, wanita disana dididik dengan penuh ikhlas dan penuh adab. Namun, ketika itu zaman penjajah, dan sudah aslinya penjajah akan menghapuskan sumber pendidikan. Diniyyah Puteri ditentang hebat oleh Belanda. Tidak cukup itu, bencana pula menimpa tanah Minangkabau. Gempa Bumi telah meranapkan rumah-rumah, termasuk Diniyyah Puteri.

Naskhah ini menceritakan dengan penuh perasaan bagaimana Etek Amah berpindah-pindah mencari dana dan bantuan untuk membaiki kerosakan sekolahnya. Namun, Etek Amah tidak akan sama sekali menerima bantuan dari Belanda walaupun ditawarkan berkali-kali. Di selaan tahun yang merumitkan itu, Etek Amah juga berhijrah di rata-rata tempat untuk berguru dan mempelajari ilmu juga berdakwah. Di Malaysia juga Etek Amah dikenali dengan peribadi yang baik dan sifat “Qana’ah” nya dalam menyampaikan ilmu.

Demikian kisah penjajah Belanda dan kisah bencana yang membuatkan Etek Amah terduduk lemah memikirkan hal-hal yang hampir memutuskan asanya. Masuk pula fasa penjajah Jepang di Indonesia. Kali ini lebih hebat tantangannya. Wanita diculik dan dijadikan pemuas nafsu si penjajah itu. Hal ini sudah menaikkan amarah Rahmah, maka wanita itu maju ke markas Jepang, tidak sedikit pun dalam dirinya ada ketakutan. Akhirnya hak wanita ditegakkan semula, rumah kuning juga dihapuskan.

Saya membaca kisah ini dengan dada yang berombak, emosi berkecamuk, dan penuh serius dengan segala perjuangan seorang wanita yang bernama Rahmah El Yunusiyyah. Ilmu apa sahaja yang wanita ini tidak pelajari. Perbidanan, perubatan, agama, Bahasa Arab bahkan ilmu fiqih dan sebagainya juga sudah dia kuasai. Kisah yang paling terkesan, ketika Proklamasi kemerdekaan di Indonesia. Diniyyah Puteri yang pertama mengibarkan bendera Indonesia.

Ada petikan pidato Rahmah El Yunusiyyah ketika di dalam majelis guru sangat meninggakan bekas.

“ Tugas seorang guru adalah suatu tugas yang besar dan suci, yang dituntut oleh agama dan bangsa kita, tetapi tugas keguruan itu adalah juga tugas yang berat. Karena beratnya, maka orang-orang pandai dalam dunia dan sejarah pendidikan merasa perlu untuk menyusun sendiri ilmu-ilmu masalah keguruan untuk mempermudah mereka dalam memikul tugas yang berat, besar dan suci tersebut.”

Berketepatan dengan tarikh keramat 16 Mei hari ini, hari dimana kita meraikan segala pengorbanan yang sudah dipikul oleh guru kita. Semoga ulasan naskhah ini, ada baik dan makna yang boleh diambil. Jika anda perhatikan, ulasan saya tidak ada tarikh, tahun, tempat dan nama watak yang terperinci, hanya watak utamanya sahaja. Kerana sejujurnya, saya adalah seorang yang susah untuk mengingat hal-hal terperinci seperti itu. Dari zaman belajar, hati dan fikiran saya tidak pernah sejalan dengan subjek Sejarah. Namun ternyata minat saya hari ini mendorong saya untuk saya berdamai dengan apa yang saya tidak minati dahulu. Segalanya ambil masa. Semoga, apa yang ingin saya sampaikan, dapat anda nikmati.

Selamat Hari Guru kepada warga pendidik. Semoga segala yang dikerjakan menjadi ladang pahala yang akan terus subur walaupun kita sudah tiada kelak.

*********
Profile Image for Dedik Ariyanto.
48 reviews1 follower
January 29, 2021
Biografi Tokoh Pendidikan Islam ini menyorot sosok perempuan hebat pendiri Sekolah Perempuan pertama di Indonesia. Pembaca yang menyukai jenis bacaan dari penulis angkatan lama, seperti Hamka akan menyukai buku ini. Sebab, buku ini punya rasa yang sama.

AKU SUKA DAN HARAP

Membaca buku Biografi sering kali membuat pembaca menyerah. Utamanya kisah yang dihadirkan tampil begitu-begitu saja. Namun, itu tidak berlaku untuk buku ini. Penulis membuatnya seperti karya angkatan lama. Ya, aku merasa seperti membaca karya Hamka. Mungkin hal ini terjadi karena gaya penulisan dan penggunaan bahasa Indonesia Melayu. Sejak halaman awal, diksi cantik menyambut pembaca. Deskripsinya sungguh memikat. Paduan kata-kata kiasan nan puitis. Diperkuat dengan alur cerita yang mengajak pembaca untuk melintasi lorong waktu.

Rahmah disajikan mulai lahir hingga akhir hayatnya dengan narasi panjang, minim dialog. Kejadian sepanjang sejarah itu ditulis dengan gaya bertutur yang menyenangkan. Jika ada yang mengatakan bahwa sejarah itu membosankan. Maka, dia belum pernah mencicipi memesonanya kisah Rahmah ini.

Feminisme jelas tergambar. Bagaimana perempuan zaman dahulu memperjuangkan mimpi dan harapan. Namun, karakterisasi dari Rahmah ini masih sedikit samar-samar. Butuh polesan satu tingkat lagi. Serta banyaknya tokoh sejarah yang riwa-riwi dengan minimnya detail, menjadikan pembaca harus bolak-balik membuka buku sejarah.

Apapun itu, #PerempuanYangMendahuluiZaman layak untuk menemani pembaca menghabiskan waktu.

AKU PIKIR SATU HAL

Buku ini tak hanya bercerita tentang Rahmah, tentang hak-hak perempuan. Tapi juga pendidikan, terutama pendidikan untuk kaum perempuan. Dengan instrik dan konflik yang sungguh membuat pembaca enggan untuk meninggalkan buku dengan cover yang sedap dipandang ini.

Meskipun konfliknya sendiri antiklimaks. Tapi, cara menyampaikan informasi yang lugas mampu membuat mata bertahan. Muatan yang terkandung di dalam buku ini sungguh menjernihkan pemikiran. Bahkan beberapa kritik pendidikan cukup melecut pembaca.

Rahmah disajikan dengan cara yang tepat. Bahkan pembaca yang tak mengenalnya dapat memahami dengan mudah siapa sebenarnya Rahmah. Apa yang dilakukannya untuk Bangsa dan Negara, utamanya pendidikan kaum perempuan.

Garis waktu buku ini memang dibuat maju dan mundur. Bahkan deskripsi waktu, tahun itu cukup banyak bertebaran. Hal yang paling susah untuk diingat dalam buku sejarah. Tapi, yakinlah bahwa Rahmah tak ingin dihafalkan, tapi diteladani. Kelak pembaca akan menemukan buku ini sebagai buku penunjang pembelajaran sejarah.

Penulis mengolah apa yang didapatnya melalui riset ini menjadi sebuah bacaan yang tak akan membuat pembaca tertidur. Tokoh perempuan hebat itu tak banyak. Namun, dari bagian kecil itu Rahmah berhasil membukukan dirinya. Bahwa dialah yang mendahului zaman.
Profile Image for Aly.
13 reviews
August 5, 2023
Seratus tahun sebelum hari ini, seorang perempuan telah berlari amat gesit mendahului zaman.

Ia bernama Rahmah El Yunusiyyah. Perjalanan hidupnya adalah pilinan sejarah.

Kala itu tahun 1922, tekad telah sempurna bulat. Rahmah bercita-cita mendirikan sekolah khusus perempuan. Ia menyampaikan maksud tersebut pada sang kakak, hendak meminta izin serta dukungan. Zainuddin, kakak sulung Rahmah yang sudah lebih dulu membangun sekolah untuk bangsanya, mula-mula terkejut.

“Jika uwan izinkan, saya akan mendirikan sebuah sekolah, khusus untuk perempuan Minangkabau dan perempuan Islam pada umumnya. Kaumku sudah lama tertindas, sedang tiap sebentar saya dengar perempuan adalah tiang negara, di mana akan ada negara kalau tiangnya rapuh?” Tidak ada kemarahan dalam nada bicara Rahmah, hanya keprihatinan yang melahirkan itikad kuat.

Zainuddin tertegun. “Agama tidak demikian, Dik.”
“Agama memang tidak, tapi negeri kita begitu memberlakukan perempuan.” Pada masa itu, dunia masih berat sebelah pada perempuan. Pendidikan adalah hal tabu bagi mereka. Dan Rahmah, ingin menjadi pelopor dalam memajukan kaum perempuan, berkhidmat untuk bangsa dan agama.

Kemauan keras itu tak dapat diganggu gugat. Berkat dukungan sang ibu, kakak, dan sahabatnya, tekad mulia itu kini berwujud Diniyyah Puteri, sekolah pertama untuk perempuan yang terlahir di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekolah yang ia maksudkan sebagai wadah mencetak perempuan-perempuan terbaik dalam pengetahuan dan agamanya. Tak ia biarkan intervensi pihak penjajah ataupun politik dalam negeri menggerogoti visi dan misi Diniyyah Puteri. Rahmah tidak memiliki anak biologis, namun keberhasilannya mencetak ratusan hingga ribuan perempuan terdidik melalui sekolahnya bagai agregasi ketangguhan para ibu.

Kegigihan Rahmah memperjuangkan hak perempuan berlanjut pada masa pendudukan Jepang. Saat itu, bahkan tidak hanya akses pendidikan untuk perempuan yang dibatasi, harga diri mereka pun dilucuti atas menjamurnya kemunculan "rumah kuning". Rumah biadab para penjajah, dibangun demi memuaskan hawa nafsu mereka dengan memperbudak perempuan Sumatera.

Maka di mana ada pergerakan, di situlah suara Rahmah menggelegar. Ia terus menerus bergerak tanpa henti. Menjadi pemimpin pasukan pun ia tunaikan dengan sebaik-baik tanggung jawab. Sebagai komandan Tentara Keamanan Rakyat Padang Panjang pada periode kemerdekaan, ia amat dihormati. Dalam hidupnya, Rahmah tak mengenal jeda. Tak ada yang dapat menghentikan langkahnya kecuali tangan Tuhan. Ketika hari kepergiannya, bendera dinaikkan setengah tiang di Diniyyah Puteri. Ia telah mewariskan peradaban baru, dedikasi sepanjang hidupnya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang. Kabar itu tersiar ke seluruh penjuru negeri. Langit berintik turut menghaturkan duka cita. Perempuan melegenda itu kini telah tiada, namun jejak perjuangannya terus hidup melampaui masa.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Neneng Lestari.
296 reviews1 follower
May 24, 2024
Diniyyah Puteri, sekolah muslimah klasikal pertama di bumi Indonesia

Aku setuju dengan penulis, jika mengklaim Diniyyah Puteri sekolah Muslimah pertama di dunia. Karena Al Azhar aja yang sudah ada sejak 758 Masehi, jauh jauh datang ke Indonesia, bertemu dengan Etek Rahmah untuk meminta izin agar Al Azhar bisa mengadopsi pendidikan di Diniyyah Puteri. Penulis tidak mencantumkan data yang valid. Tapi aku rasa kalau dikira-kira, iya juga kan ❤️

Perjuangan Etek Rahmah, Masya Allah. Baru saja sekolah berdiri, ada aja masalahnya. Yang anak perempuan dititip cuma untuk dipingit sebelum di lamar, sampai Etek Rahmah murka (merinding baca part ini 😭), trus gempa, disusul lagi Belanda yang resek, pengen bantu tapi dengan syarat, lalu ada lagi si Jepang. Ya Allah ... Bertubi-tubi Etek Rahmah hadapi cobaan-cobaan itu dengan gagah berani. Beliau sampai pergi ke Malaysia mencari uang, mengajari anak-anak Sultan. Dan masih banyak kisah kehebatan beliau yang nggak mau aku share disini. Harus baca bukunya supaya dapat momen-momen luar biasa beliau.

Kenapa disebut Perempuan yang mendahului zaman?

Etek Rahmah lahir di era penjajahan Belanda. Yang artinya bangsa kita tertinggal jauh, terlalu sibuk menjadi budak. Tapi Etek Rahmah lahir sebagai perempuan yang mampu menggebrak Minangkabau dengan sekolah Puteri pertamanya. Dimana perempuan tidak beharga, dianggap sebagai alat tukar untuk orang tuanya.

Banyak hal yang membuat Etek Rahmah istimewa. Sebagai perempuan yang melakukan hal hebat untuk pertama kalinya, yang tidak berani dilakukan perempuan lain di masa itu.

Apa kejayaan Diniyyah hilang saat Etek Rahmah meninggal? Tidak

Penerusnya, Masya Allah berjuang keras atas nama beliau. Memperjuangkan apa yang dulu dicita-citakan Etek Rahmah. Penerusnya bukan main, menjabat dipemerintahan, bahkan menjadi "Etek Rahmah kedua" di Malaysia yang sedang berjuang terlepas dari jajahan Inggris.

Akhir kata, aku tidak menyangka sedang merangkum isi buku. Bukannya mereview 😆

Ketika menutup buku ini, aku cuma termenung. Apa yang akan dikatakan Etek Rahmah jika melihat sistem pendidikan kita saat ini?

#KamiBacaBukuIslami #ChallengeRL #OneWeekOneBook #PerempuanYangMendahuluiZaman
Profile Image for Alfaridzi.
109 reviews3 followers
October 7, 2021
"Disini, di negeri ini, adat dipeluk laki-laki. Ditafsirkan oleh laki-laki dan dikuasainya pula. Anak orang, anak dia, asal perempuan, putusan sudah ada: di rumah saja. Ke langit pun pergi sekolah, kembalinya ke pautan juga, jadi istri orang, dapur, sumur, dan kasur. Tak lebih tak kurang. Lebihnya, ada! Mengasuh anak dan melayani 'raja' yang tak lain adalah sang suami. Perempuan dipantang mengepit buku, apalagi membawanya ke dapur. Di luar kandang, adalah dunia laki-laki" - Hal 29.

Paragraf di atas adalah kutipan yang merangkum seluruh bacaan dari buku ini. Kalimat-kalimat tersebut menjadi acuan bagi sosok perempuan hebat asal ranah minangkabau tepatnya Padang Panjang yaitu Rahmah El Yunusiyyah untuk memperjuangkan hak perempuan kala itu yang didikrimansi oleh lingkungan terutama adat istiadat.

Beliau merupakan sosok perempuan cerdas, hebat dan tangguh yang figurnya seolah dilupakan sejarah bangsa ini. Kegigihannya dalam membela kaum perempuan kala itu patut diacungi jempol karena Etek Rahmah (sebutannya) berhasil menderikan sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia bernama "Diniyyah Puteri".

Bukan perkara yang mudah baginya kala itu dalam membangun sekolah. Dalam memperjuangkan hak perempuan, beliau tak hanya berkutat fokus dalam mendirikan sekolahnya tapi terjun langsung kelapangan melawan para kolonialisme kala itu. Salah satunya, Rahmah dengan gagah berani mendatangi pemerintah Jepang untuk membebaskan para wanita minang yang dijadikan budak seks dengan taruhan nyawanya, yang tak ayal membuat pemerintah Jepang bertekut lutut kalah melawannya. Atas keberaniannya, beliau menjadi wanita yang disegani oleh para penjajah kala itu.

Secara keseluruhan buku ini sangatlah menarik. Feminisme jelas tergambar dalam cerita yang ditulis dengan gaya bahasa Indonesia Melayu ini. Buku ini berhasil membuatku betah untuk membacanya karena ditulis dengan baik dan tidak membosankan. Banyaknya diksi cantik yang dipadukan dengan kiasan-kiasan nan puitis serta alur cerita yg tak jemu mampu membuatku hanyut terbawa suasana.
Profile Image for Shahidra.
33 reviews4 followers
October 1, 2021
MasyaAllah...Syeikhah Rahmah el-Yunusiyyah yang hidup di zaman moyang kita benar-benar mendahului zaman! Kecintaan yang tinggi terhadap ilmu dan semangat wajanya yang tidak dapat dipatahkan, mengatasi masyarakat di zamannya yang belum menerima anak-anak perempuan bersekolah menuntut ilmu. Apatah lagi yang menubuhkan sekolah untuk anak-anak perempuan, yang pertama di dunia.

Besar jasa dan sumbangannya bukan sahaja di Indonesia dan Malaysia, bahkan dunia Islam. Kulliyat lil banat Universiti al-Azhar tertubuh inspirasi daripada usahanya di sekolah Diniyyah Puteri, Padang Panjang Sumatera. Atas sumbangan itu, gelaran Syeikhah diberikan oleh al-Azhar kepadanya.

Buku ini adalah dalam Bahasa Indonesia. Walaupun ada beberapa perkataan yang kurang saya fahami, namun tidak menjejaskan kefahaman saya terhadap ayat dan maksud yang ingin disampaikan. Bahasanya mudah difahami dan menarik penceritaannya.

Dalam buku ini, disebut nama tokoh-tokoh yang hadir dalam hidup Syeikhah Rahmah. Antaranya seperti Karim Amrullah, gurunya yang merupakan ayah HAMKA. HAMKA sendiri yang memanggilnya kakak Amah. Tokoh-tokoh wanita di Tanah Melayu yang memperjuangkan kemerdekaan seperti Aishah Gani, Samsiah Fakeh dan Sakinah Junid rupanya pernah menerima sentuhan tarbiyahnya. Saya dapat relate kisah tokoh-tokoh wanita Tanah Melayu tersebut dengan baik ketika membaca buku ini kerana telah pun membaca buku "Ustazah Zaman Dulu-dulu" terbitan Jejak Tarbiyah.

Setelah membaca buku ini, teringin pula nak baca buku "Kenang-kenanganku di Malaya" tulisan HAMKA. Kedudukan Tanah Malayu bagi tokoh Indonesia ini termasuk Syeikhah Rahmah adalah istimewa..ibarat rumah kedua atas sebab yang tersendiri.

Pesan Syeikhah Rahmah buat anak didiknya:
Perempuan harus feminin, tetapi kuat, pintar, sopan dan bermoral.

Bagaimana? Seperti teladan yang ditunjukkan oleh Syeikhah Rahmah yang gagah mengharungi semua liku, mendahului zaman! Wajib dibaca oleh muslimah yang mencari-cari idola dan inspirasi.
Profile Image for Mawaddah Perabawana.
32 reviews1 follower
March 27, 2023
“Etek Amah,” sapa muridnya. Ada yang masih anak-anak, gadis, bersuami, ada pula janda. Kesemuanya tak paham banyak, kecuali soal dapur, melayani suami, dan sedikit mengaji. Sebab itu yang membuat mereka digeret Etek Amah untuk thalabul ‘ilmi, karena memanglah wajib.

Etek Amah ini putri bungsu Rafiah, bersuami seorang ulama, Muhammad Yunus al-Khalidiyah. Jadilah, nama Etek Amah dibuntuti nama buyanya, Rahmah El-Yunusiyyah. Etek itu sapaan khas Minang, tanah ia lahir, Padang Panjang, Sumatera Barat.

Padang Panjang tempo dulu tak seperti sekarang, teramat jauh, bahkan terjungkir. Sebab Etek Amah hidup di zaman Belanda menjajah, Jepang pula ikut-ikutan, hingga merdeka, ada lagi Agresi Belanda, sampai perang saudara yang menumbuk-numbuk sejarah bangsa.

Kala itu, tanah Minang keras-keras becek. Kehidupannya kecut-kecut ngilu. Rendangnya lezat, tapi yang memasak pahit. Lelakinya melesat hebat, tapi yang melahirkan anggap saja tak boleh hebat. Padahal melahirkan itu sudah hebat, mana bisa lelaki melahirkan juga. Maka tersematlah adat patriarki.

Abangnya, Zainuddin Labay El-Yunusy mendirikan Diniyyah School, tempat Rahmah dan sedikit perempuan bersekolah. Ilmunya sempit untuk wanita, si murid kelu bertanya, si guru tabu menjelaskan. Maka bundarlah tekad Rahmah untuk mendirikan Diniyyah Puteri, sekolah Islam perempuan pertama di Indonesia, di Universitas Al-Azhar pun belum ada.

Teramat susah memahamkan kesalahpahaman eksistensi perempuan bahwa tak beda dari lelaki. Sama dan setara, kecuali amal. Jangan tanya apa pentingnya pendidikan, merangkak saja butuh diajar. Apalagi perempuan, hukum Fikihnya juga rumit.

Hingga hidayah menghujani tanah Minang serempak dengan asa yang digaruk oleh Rahmah puluhan tahun, mengubur mati adat patriarki yang hitam, menghitamkan pula. Rahmah membuat ‘urang awak’ tergeleng-geleng. Juga Syekh Abdurrahman Taj, Rektor Universitas Al-Azhar saat itu, ‘menganga’ sambil menjulur gelar “SYEKHAH” pertama di dunia, tahun 1955.

Sebagai refleksi batin, penat Etek Amah harus dilanjutkan, tidak hanya kepada yang belajar di Diniyyah Puteri, tapi semua kaumnya. Bukan pula melirik sinis kaum lawannya. Zaman menuntut perempuan dengan bermacam segi, ilmulah yang menuntun jawabannya.
الفاتحه....
Profile Image for Dyaread.
35 reviews7 followers
January 24, 2021
Syehkah Rahmah El Yunusiyyah terlahir dari orang tua yang begitu taat kepada Allah SWT. Keinginan terbesarnya adalah membangun sekolah khusus kaum perempuan. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Dengan restu yang diberikan orang tua, keluarga dan kaumnya Rahmah akhirnya mendirikan sekolah bernama Diniyyah Puteri. Sekolah ini sudah kenyang diterpa gejolak penjajahan dan hancur karena gempa. Namun kembali bersinar dibawah dibawah perjuangan Etek Amah, panggilan Rahmah oleh orang - orang. Perjuangan Rahmah untuk sekola dan kaum perempuan bisa dikatakan tak pandang bulu. Belanda pun ia lawan. Ia tidak ingin kaumnya tertindas. Ia ingin kaumnya pun berarti baik itu untuk negara ataupun agama.⁣⁣⁣

Hal yang aku suka dari buku ini, karena tema yang diangkat adalah biorafi dari perempuan Minang yang notabene adalah daerah asalku. Aku seolah berkelana ke MInangkabau. Seru. Apalagi daerah Minang yang disebutkan punya sejarah penting di buku ini hampir pernah aku kunjungi semua. O iya, bahasa yang digunakan di buku ini ada bahasa melayu dan minang asli. Jadi, bagi pembaca yang bukan orang Minang aku rasa akan sedikit bingung. Tapi, nggak banyak kok, hanya beberapa istilah saja. Terlepas dari penggunaan bahasa, alur yang dignakan pun tidak lambat dan juga tidak terkesan cepat. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Deskripsi sejarah tokoh ditulis dengan runtut dan nggak terlalu meluas kemana - mana. Balutan sejarah yang menemani perjalanan tokoh benar - benar memberi kesan heroik kepada sang tokoh. Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk generasi sekarang yang sedang bingung tentang pentingnya pendidikan. Buku biografi, tapi nggak bikin bosan baca. Bagus deh...
Profile Image for Jamilatul Hasanah.
22 reviews
January 28, 2023
𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘵𝘪𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘰𝘬𝘰𝘬 ?

𝙋𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙪𝙡𝙪𝙞 𝙕𝙖𝙢𝙖𝙣 merupakan sebuah 𝙣𝙤𝙫𝙚𝙡 𝙗𝙞𝙤𝙜𝙧𝙖𝙛𝙞 tentang salah satu tokoh pendidikan Islam yaitu 𝙎𝙮𝙚𝙠𝙝𝙖𝙝 𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙝 𝙀𝙡 𝙔𝙪𝙣𝙪𝙨𝙞𝙮𝙮𝙖𝙝 dari masa kelahirannya hingga wafat.

Rangkayo Syekhah Rahmah El Yunusiyyah adalah 𝙖𝙮𝙖𝙢 𝙗𝙚𝙩𝙞𝙣𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙤𝙠𝙤𝙠. Beliau telah berhasil mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia yang bernama Diniyyah Puteri Padang Panjang pada November 1923.

𝙋𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙥𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙥𝙞𝙩 𝙗𝙪𝙠𝙪, 𝙖𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙥𝙪𝙧 (Hal. 29). Hal tersebut yang mendasarinya mendirikan sekolah. Etek Amah membekali muridnya dengan ilmu tentang hakikat perempuan dan kehidupan bermasyarakat. Beliau juga mengenalkan penutup kepala perempuan yang disebut Lilik.

Etek Amah, perempuan hebat yang menginspirasi. Beliau berdakwah ke berbagai wilayah, melepaskan perempuan Minang yang disekap oleh tentara Jepang, mendesak rumah kuning ditutup, mengibarkan Sang Dwi Warna setelah berita kemerdekaan diumumkan, menjadi komandan tentara, serta pernah ditangkap dan ditahan di penjara kota. Perjuangan dan pengorbanannya begitu besar, meski harus menghadapi berbagai ujian.

Sebuah novel karya bapak @jasmi.khairul yang sangat luar biasa. Sangat direkomendasikan untuk dibaca semua kalangan, khususnya 13+. Salah satu kutipan favorit, sekaligus menjadi pengingat bagi diri sendiri dengan profesi yang sedang saya jalani. 𝙈𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙪𝙧𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖𝙧, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠. 𝙂𝙪𝙧𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙚𝙨𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠 𝙢𝙪𝙡𝙞𝙖, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙘𝙤𝙣𝙩𝙤𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙧𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜𝙩𝙪𝙖 𝙢𝙪𝙧𝙞𝙙 (Hal. 202).
Profile Image for Fadhillahnp.
48 reviews1 follower
October 14, 2024
Buku ini sih keren banget. Bener-bener pengen ikutan berjuang sebagai perempuan. Sosok Rahmah El Yunusiyyah bener-bener menginspirasi banget. Keberaniannya, ketangguhannya, taat agama, dan perjuangannya semuanya kerasa banget. Jasa-jasa beliau ternyata sangat luar biasa untuk Indonesia, terutama untuk kaum perempuan. Kaum yang sangat jarang disorot saat masa nenjajahan Indonesia. Tapi Etek Rahmah (kerap disapa begitu) membuktikan bahwa perempuan Indonesia bisa unjuk gigi dengan keperkasaannya.

Pas baca ini kerasa banget gemuruh perjuangan beliau untuk para perempuan yang terzalimi di masa penjajah. Bagiku untuk penyebutan novel biografi masih belum bisa dikatan novel, karena buku ini masih banyak menuliskan narasi-narasi panjang yang menurutku lebih cocok buku biografi/sejarah. But, soal isi jangan ditanya semuanya daging banget dan nambah banget informasi soal tokoh yang berasal dari Padang Panjang ini.

Kekurangan lainnya buku ini menurutku, di bab-bab tertentu menurutku seringkali diselipkan cerita tokoh-tokoh yang menurutku ga harus dibuat bab khusus. Padahal bisa aja cukup diceritakan bersama bab tentang Etek Rahmah ga harus buat bab khusus bahas tokoh itu. Soal bahasa yang dipakai sering juga pake dialektika ejaan Bahasa Indonesia yang lama atau bahasa Minangkabau, jadi ku kadang haru dibaca beberapa kali biar paham.

Tapi secara keseluruhan buku ini emang keren banget sih. Butuh banyak buku sejarah model novel gini di Indonesia biar lebih seru dan buat tertarik untuk dibaca generasi terkait tokoh-tokoh penting atau sejarah Indonesia itu sendiri.
Profile Image for Aisyah Hanum Maulidea.
23 reviews
January 6, 2023
Jujurly... awalnya aku juga bingung mengenai judulnya. Setelah habisku baca, "owh... i know, why hehe".

Perempuan tak biasa telah lahir di tanah Minangkabau pada 29 Desember 1900. Rahmah El Yunusiyyah atau yg sering disapa "Etek Amah" dialah orangnya.

Sifat orangtua dan saudaranya menurun padanya, ketangguhan yang luar biasa membuat dirinya bangkit bahkan membangkitkan seluruh perempuan khususnya perempuan Padang Panjang. Ia merasa perempuan diperlakukan secara tidak adil di atas kekuasaan kaum laki-laki. Salahsatunya masalah mengenai perempuan tidak boleh SEKOLAH.

Tekad yang kuat berhasil membuat Etek Amah membangun sekolah pertama khusus muslimah di padang panjang pada 1 November 1923. "Diniyyah Puteri" namanya.

Terdiri dari 16 Bab, dimulai dari kisah keluarga dan sahabat. Perjuangannya membangun Diniyyah Puteri. Lalu masalah² seperti dicemooh oleh kaum laki-laki, karena dianggap melanggar hukum adat, perceraiannya, gempa bumi, ditahan belanda, dll.

Masya Allah😇.

Bahasanya indah sekali, diksi-diksi yang ughhh tak terkatakan membuat aku meleyot dibuatnya. Namun aku merasa ada sedikit kata yang typo di buku ini.
Profile Image for Ridho AS.
41 reviews
April 1, 2021
Saya berharap lebih. Karena itu saya tdk mendapatkan apa yg saya harapkan. Saya berharap mendapatkan latar dan fokus yg pas dalam setiap alurnya, namun beberapa kali alur itu meloncat-loncat dan tidak fokus. Tdk begitu detail di jabarkan bagaimana tek amah ini mendapatkan pendidikan dari keluarga atau ibunya sehingga mjd luar biasa. Tdk begitu detail jg didaptkan bagaimana etek mendirikan sekolah itu sehingga menjadi yg pertama dan satu satunya di sumatera. Mungkin riset yg di buat untuk melakukan tulisan tidak sedalam itu, sehingga latarnya tdk jelas dan alurnya melompat.

Buku ini sebagai wawasan bagus. Menambah khazanah untuk kita. Bisa dijadikan referensiuntuk mendongengkan anak perempuan kita sebelum tidur.

Tabik.
Profile Image for urbandevlearning.
41 reviews
January 22, 2023
MasyaAllah berkali-kali mataku berkaca membaca buku ini. Dimulai dari didikan orang tua nya yang dekat dengan agama melahirkan anak-anaknya yang alim dan juga pintar. Sosok Rahmah yang keras kepala terhadap ilmu dan pioneer untuk menolong kaumnya (perempuan) untuk memberdayakan dan memuliakan perempuan dengan berilmu.

Berbagai rintangan yang dihadapi sosok Rahmah dalam mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang sangat luar biasa dihadapinya dengan penuh semangat. Banyak peristiwa pilu yang dikisahkan juga seperti ayahnya yang meninggal, lalu kakaknya Zainuddin yang juga lebih awal membangun sekolah Diniyyah School untuk kaum lelaki dan perempuan (campur). Peristiwa gempa dan juga kawannya Siti Nanisah yang meninggal dalam gempa tersebut.

Membaca kisah perempuan kala itu sangat menyeret hati yang dilecehkan, tidak setara dengan kaum laki-laki, belajar bukan hal utama untuk perempuan kala itu. Merasa diri ini harusnya bersyukur sudah hidup dizaman sekarang yang akses belajar sudah sangat mudah dan lues. Kecintaan terhadap ilmu dan agama inilah yang semestinya ditanamkan kepada umat.

Hiruk pikuk suasana saat masa penjajahan Belanda yang kejam dikisahkan disini sampai pergantian masa penjajahan Jepang yang tak kalah sadisnya juga dikisahkan kejadiannya. Sampai saat merdeka Rahmah pertama kali mengibarkan bendera merah putih di daerah Sumatera sangat mengharu biru. Sampai dikisahkan kembali Belanda yang ingin menjajah kembali. Ada banyak kejadian hingga beliau diberikan gelar Syekhah dan sampai beliau meninggal banyak perubahan yang ia perbuat.

Dari segi bahasa juga buku ini ringan dibaca cocok juga dibaca untuk pemula. Saya terhanyut akan kisah dan gaya bahasa nya yang mudah dipahami dan juga ringkas. Ada beberapa typo pada penulisan bisa dihitung 2 atau 3 kata. Membaca buku ini juga merasa melek akan sejarah betapa pentingnya seseorang mempelajari ilmu dan tahu akan sebuah sejarah.
Profile Image for Rian.
155 reviews1 follower
December 20, 2023
Novel biografi Syekhah Rahmah, pendiri madrasah Diniyyah Puteri Padang Panjang, sekolah khusus perempuan pertama di jamannya.

Mengajarkan seorang pegiat aktivis perempuan, pendidikan, dan agama.
Melawan budaya patriarki, melawan Belanda hingga Jepang.

Framework aktivisme perempuan yg ia bawa masih relevan hingga saat ini, menunjukkan tidak ada kemjuan berarti satu abad terakhir.

Hanya saja penulisannya terasa sedikit datar. Penulis tidak menggunakan keleluasaan di bawah payung "fiksi" untuk menambahkan unsur emosi dan estetika adegan di dalam buku.


9/10 utk kisah beliau
7/10 utk gaya nulis penulis.
2 reviews3 followers
January 19, 2021
Seneng banget pas tau ada yang membukukan dan menerbitkan kisah biografi Syekhah Rahmah El Yunusiyyah ini. Sosok inspirasi yang berasal dari Padang dan ada di Indonesia. Membaca biografi seorang tokoh daam bentuk novel tentunya terutama aku akan lebih enjoy membacanya, seperti film. Buku ini berisi fakta sejarah, jadi dengan membacanya ingatan-ingatan sejarah kita akan tersambung dan tersegarkan. Rekomendasi banget untuk muslimah terutama Indonesia untuk baca ini, agar tercerahkan dan bangga bahwa ada seorang Rahma yang punya konstribusi besar pada zamannya hingga saat ini.
Profile Image for Ely Isnaeni Isnaeni Nur Hidayah.
4 reviews
February 28, 2022
Novel biografi tentang Syekhah Rahmah El Yunusiyyah. Seorang perempuan yang memiliki jasa begitu besar bagi peradaban, tentang perempuan yang dahulu tak memiliki tempat di bidang pendidikan hingga sekarang kita bisa merasakan mudahnya untuk mengenyam pendidikan. Ditulis dengan bahasa yang indah dan mudah dimengerti. Penulis benar-benar berhasil membuat pembaca tak berhenti membaca buku ini hingga selesai.
1 review
January 29, 2021
Sebuah buku novel biografi yang sangat apik dalam menyajikan kisah perjuangan Syekhah Rahmah El Yunusiyyah..
Penyajian latar dan alur cerita begitu runut, Khairul Jasmi mampu mengemas jiwa zaman saat itu dapat sampai pada pembaca. Buku ini layak menjadi rekomendasi untuk mendalami biografi, sekaligus sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia..
2 reviews
July 29, 2022
penulis benar-benar mampu menggambarkan sosok Syekhah Rahmah El Yunusiyyah. kisah yang diceritakan pun runtut, sehingga membuat kita mampu membayangkan alur kehidupan beliau.

sangat menginspirasi! semoga masih banyak wanita seperti Etek Amah lainnya yang perjuangannya murni untuk kaumnya, agamanya, serta bangsanya.
Profile Image for aura.
94 reviews1 follower
August 26, 2023
WOWW
Beliau sangat menginspirasi sekali. Aku bahkan nangis di bab awal". Rasanya nyesel baru tau ada perempuan sehebat beliau sekarang. Kemana aku dari dulu??

Kagum banget lihat cerita perjuangan beliau dan selalu istikomah dalam memegang teguh ajaran Islam di setiap langkahnya.

Selain nangis, aku juga merinding sepanjang buku.
9 reviews
August 18, 2024
Syekhah Rahmah El Yunusiyyah

Perempuan pertama yang membuat sekolah khusus perempuan. Dan diikuti oleh Universitas Al Azhar. Kegigihan dan ketekunan nya dalam bidang pendidikan sangat patut untuk ditiru.
Bangga sekali Tokoh ini lahir di Sumatera Barat. Tempat Bapak dan Ibu saya lahir tapi beda daerah dengan Tokoh ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Salma Nabilah.
34 reviews
March 11, 2021
Kita dikenalkan akan sosok luar biasa dengan tutur kata yang sangat indah. MasyaAllah, beliau benar-benar telah mendahului zaman.

Semoga kita semua bisa banyak mengambil hikmah dari buku ini. Terima kasih telah menulis novel biografi ini😊
Profile Image for Reader Clerest.
20 reviews
October 3, 2024
Seberat apa yang di alami Bundo El Yunusiyah ya(?)
Pertanyaan retorik, yang pasti itu sangat tidak mudah. Allahumagfirlaha.
Semangat hidupnya yang memegang prinsip dan tetap idealis di tengah realita yanh tidak semestinya.
2 reviews
January 9, 2025
Biografi singkat yang penuh dengan keteladanan.
Dalam menjadi seorang anak, menjadi guru, menjadi perempuan, hingga menjadi bagian dari masyarakat.

Dedikasi Syekhah Rahmah sepanjang masa-masa sulit Indonesia mengajarkan ketulusan dan kerja keras di lingkup perempuan dan pendidikan.
Displaying 1 - 30 of 42 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.