Jump to ratings and reviews
Rate this book

Islamisme Magis #2

Memburu Muhammad

Rate this book
“Mungkin bisa ada ratusan Muhammad baru di kelurahan ini saja, Bapak yakin ingin menemukan satu Muhammad?”

“Ada cara untuk membuatnya lebih mudah, kah? Katanya ini zaman serbacanggih, orang kuno seperti aku tidak mengerti! Siapa di sini yang bisa menggunakan benda terang bercahaya itu, yang bisa memberikan jawaban?"

Kumpulan cerpen MEMBURU MUHAMMAD adalah yang kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Feby Indirani, setelah BUKAN PERAWAN MARIA yang telah keliling berbagai kota di Indonesia, hingga mancanegara: Italia, Belanda, Jerman, Belgia, dan Inggris.

Kumpulan cerita baru ini menggelitik, menyusup masuk ke sari pati keberagamaan masa kini. Aneka rupa tema dan cerita—suara dari alam kematian yang menggemparkan kampung di Jakarta, kiai yang hidup kembali setelah wafat, dilema bakso terenak di dunia, pelukis yang ingin melukis Tuhan, malaikat yang mencintai dengan pedih, negeri Tuantu yang dilanda mitos dan pandemi, juga seorang yang mengaku musuh Nabi menyandera petugas kelurahan. Jenaka, juga mengharukan.

224 pages, Paperback

First published November 1, 2020

20 people are currently reading
294 people want to read

About the author

Feby Indirani

12 books51 followers
Feby Indirani, Journalist and Writer, started to write since elementary school, beginning with a diary. When in high school, she got 2nd place in an essay contest for teen organized by Gadis magazine, and was actively involved in a school publication. She went to Universitas Padjadjaran, majoring in journalistic, and joined djatinangor student publication. Feby won an Essay Writing Competition for Students in 2001, organized by Toyota Astra Foundation. Late 2002, she received a grant from the Asia Foundation and the Study Center for Religion and Civilization (PSAP) Muhammadiyah, through a call for papers on Women and Muhammadiyah.

May 2003 through June 2004, Feby worked as a reporter in Trust magazine. July 2004, Feby joined the Tempo Group when the organization started reactivating Tempo Center of Data and Analysis (PDAT). As a team, the PDAT published three books with Feby involved as writer. Among the titles is Ahmadiyah: Keyakinan yang Digugat (A Faith Accused), where Feby joined in a research trip to an Ahmadiyah village.

August 2006 through April 2011, Feby worked as a journalist in Business Week Indonesia (recently renamed as Bloomberg Businessweek Indonesia). Feby has published several works, started by a novel titled Simfoni Bulan (Bulan’s Symphony 2006). She also wrote two film-adaptation novels, a novel adapted from a lyric of a song, and a how-to on modeling. No, she never actually had a try at modeling, but she did systemize and codify the experience of Arzetti Bilbina, an Indonesian top model.

One of her book is titled I can (not) Hear: Journey of a Hearing-Impaired to a World of Sounds. was featured in the Kick Andy TV show in October 2009, and won the Anugerah Pembaca Indonesia Award 2010 from Goodreads Indonesia in best non-fiction.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
90 (29%)
4 stars
161 (52%)
3 stars
54 (17%)
2 stars
3 (<1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 106 reviews
Profile Image for raafi.
940 reviews455 followers
April 24, 2022
Suka sekali dengan genre yang membelokkan istilah realisme magis menjadi islamisme magis ini. Menanti buku ketiganya (yang konon disebut-sebut sebagai trilogi). Masih membuatku heran karena buku ini memang terasa fantasinya dengan membenturkan kisah/aturan agama dan imajinasi penulis. Buku ini bahkan masuk nominasi PNFI Readers Awards 2020.

Salah satu sorotan dari kumpulan cerita bagian kedua ini adalah sebuah negara fiksional bernama Tuantu yang konon memiliki makhluk misterius berjulukan B. B kerap mengincar dan menyerang manusia jenis perempuan. B memiliki kepala mirip serigala, bermoncong, berkuping runcing, dan warna bulunya cokelat mirip beruang grizzly. Di sisi lain, masyarakat negara Tuantu "diceritakan" tidak percaya terhadap virus mematikan semasa pandemi. Tidak tanggung-tanggung, negara Tuantu ini menjadi latar untuk tiga cerita Feby dalam buku ini.

Cerita menggugah lain yakni "Memburu Muhammad", berpusat pada Abu Jahal (salah satu penentang ajaran Nabi Muhammad) yang terdampar di Indonesia untuk mencari Muhammad. Saat salah seorang menanyakannya kenapa Indonesia, Abu Jahal menjawab "karena Indonesia termasuk tempat yang paling banyak memiliki orang bernama Muhammad". Tidak tahu pasti kenapa Abu Jahal hadir kembali dan mencari-cari Muhammad, tapi yang disorot di sini adalah begitu banyak nama yang mengikuti nama nabi mulai nan agung tapi memiliki sikap dan karakter yang menyeleweng.

"Itu sungguh aneh! Lalu, untuk apa kalian semua bernama Muhammad kalau mirip pun tidak? Cuma jadi pencuri, politisi haus kuasa, atau semata orang tak berguna? Masih mending kalau bisa sukses jadi penyair." (hlm. 139)


Yang perlu diperhatikan setelah membaca dua buku seri islamisme magis ini adalah pembaca harus menikmatinya dengan kadar kritis dan sadar yang penuh. Jika meleng sedikit saja, pembaca mungkin akan percaya apa yang "difiksikan" dalam buku ini. Salah satu cerita yang bikin terlena seperti ini yaitu "Hidup Kedua Kiai Zahid" yang terang-terangan menyatakan kepada jemaahnya bahwa neraka itu tidak ada setelah mati suri. Kalau sudah seperti itu, bagaimana penulis mengantisipasi kalau-kalau ada pembaca yang mengamininya?

Terlepas dari itu semua, buku ini cukup menarik untuk dibaca. Melihat kisah-kisah alternatif lain dari ajaran Islam yang sudah paten memberikan kesenangan dan kepuasan tersendiri.
Profile Image for Patricia Wulandari.
10 reviews53 followers
January 23, 2021
Membaca cerpen-cerpen di dalam Memburu Muhammad seperti mendapatkan elaborasi lebih panjang dari topik-topik (atau perdebatan sengit? 😜) yang sering muncul di Twitter soal isu-isu beragama. Tentunya, sudut pandang dari isu-isu di buku ini disampaikan dengan super rileks tanpa pakai ngotot karena hampir semuanya diakhiri dengan pertanyaan untuk refleksi diri sendiri.

Meskipun membahas hal-hal yang sering muncul di agama Islam, tapi ceritanya sebenernya relevan buat siapa saja. Walaupun, memang sih, beberapa ada yang kurang kumengerti ending-nya atau konteksnya, karena sepertinya aku belum tau cerita ini mengacu ke isu atau referensi yang mana.

Cerita favorit ternyata yang jadi judul dari buku ini sendiri: Memburu Muhammad. Tentang sebuah nama yang sebenarnya memiliki makna begitu kuat karena dimiliki oleh seseorang yang penuh teladan, tapi lambat laun kehilangan artinya dan jadi terlupakan. Satu lagi ada cerpen Rumah Hef yang mempertanyakan tentang surga dan neraka. Kalo yang ini kocak sih. :D
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,420 followers
January 20, 2021
Buku yang ajaib! Mungkin terlalu imajinatif untuk sebagian orang tapi sebenarnya maknanya sangat mendalam, terutama bagi umat Islam, misalnya tentang bagaimana kita selalu diajarkan bahwa ghibah itu sama seperti memakan bangkai saudara sendiri. Tapi, tenang saja, cerita-ceritanya segar satir, mindblowing dan singkat-singkat kok. Beberapa malah membuat saya berkata "Loh, sudah selesai?" Memang kumpulan cerita ini adalah bagian dari trilogi 'Islamisme Magis' setelah 'Bukan Perawan Maria'. Sangat menarik dan menggelitik!
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
December 22, 2020
Memburu Muhammad menawarkan keberanian untuk meninjau ulang kemapanan yang ada di kepala pembaca, atau setidaknya mewakili kilas pertanyaan tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan praktik agama yang tak pernah tersampaikan. Semuanya dilakukan dengan fiksi.

Ketika menelusur cerpen-cerpen di buku ini, di bagian awal terasa biasa saja. Saya bisa menebak beberapa cerpen akan ke mana arahnya. Namun semakin ke tengah cerpen-cerpen ini semakin mengikat. Beberapa cerpen tak sempat saya antisipasi kejutannya. Sembilan belas cerpen yang ada mayoritas surealis.

Ini tentang Annisa yang muak melihat orang tuanya memakan daging manusia karena bergibah, ini tentang jenazah Bu Halidah yang tak sempat dimandikan sebelum dimakamkan, ini tentang Abu Jahal yang menelusur data kependudukan di kelurahan untuk menemukan Muhammad, ini juga tentang kesombongan Azazil yang menghancurkan dirinya sendiri karena cinta pada Tuhannya.

Salah satu yang membuat saya tergerak adalah cerpen Berburu Jenazah. Tentang mayat yang masih diperebutkan cara pemakamannya antara dua agama. Betapa kemanusiaan kadang konyol dan egois, dan betapa kita kerap begitu sombong terhadap apa yang kita yakini.

Saya juga tersentuh dengan ending dari cerpen Dia Bertanya tentang Tuhan. Tentang seorang anak yang bertanya tentang wujud Tuhan pada ibunya. Di akhir si anak berkata, "Tuhan tidak mungkin ada di dalam kita, Bu. Pasti kita yang ada di dalam Tuhan..."

Penulis kerap terasa memberi sudut pandang baru yang selama ini tak tersentuh karena ketakutan kita untuk mempertanyakan. Beberapa cerpen ini mengingatkan pada nuansa cerpen-cerpen di buku pertama trilogi Islamisme Magis, Bukan Perawan Maria. Jika diharuskan memilih antara keduanya, saya memilih Memburu Muhammad. Secara bentuk, saya sempat khawatir kumcer ini akan monoton karena banyaknya jumlah cerpen. Namun ternyata tidak. Kumcer ini juga berubah-ubah secara bentuk sehingga terkesan dinamis. Penulis juga tak ingin membatasi diri dengan topik. Di buku ini bahkan bisa ditemukan lirik lagu Korea, hingga isu kekinian seperti sindiran terhadap penanganan pandemi.

Kumpulan cerpen ini membuat pembaca meninjau kembali tentang betapa kecilnya manusia. Kita terbatas, namun kita bertanya tentang ketakberbatasan. Kita ditakdirkan tak pernah benar mengerti, tapi kita juga ditakdirkan mempertanyakan. Saya rasa proses itulah yang membawa kita lebih dekat dengan Yang Kita Percaya. Ia juga hadir di hati umatnya yang mencari.
Profile Image for Menyojakata.
195 reviews7 followers
January 5, 2022
Tidak heran jika tokoh-tokoh muslim seperti Mbak Inayah, Bu Musdah, dan Gus Nadir memberi pujian sebegitu ciamiknya pada karya ini. Kisah-kisah yang disampaikan membuat saya kilas balik pada masa kecil dulu yang sering membaca cerita-cerita hikmah dan sufistik. Tapi di saat yang bersamaan, Feby memberikan sentuhan yang sangat epik dan unik di ceritanya karena ia hubungkan dengan kondisi sosial masa kini. Saya dibuat menebak-nebak dibawa ke mana alur kisah yang ia paparkan ini, atau apakah isu A yang ia angkat di kisah ini ataukah isu B. Selain itu, kita juga akan menemukan kritik-kritik dan humor yang penulis sematkan di balik tirai kisah-kisah yang ia paparkan. Dua kisah yang paling membekas untuk saya adalah 'Kisah Cinta Azazil' dan 'Laut, Ayah, dan Sang Putri'.
Profile Image for Kahfi.
140 reviews17 followers
January 13, 2022
Hampir sama dengan buku pertama berjudul Bukan Perawan Maria, tetap relevan dengan permasalahan spiritual yang kerap terjadi di Indonesia. Jika buku pertama lebih menyasar hubungan antara manusia dan pencipta-Nya serta kehidupan selanjutnya (akhirat).

Dalam buku ini, Feby lebih menyoroti bagaimana manusia dalam mempersiapkan dirinya kelak di akhirat tidak melulu hubungan ekslusif langsung kepada Tuhan, namun jalan menuju akhirat yang mantap juga dapat disusun melalui hubungan-hubungan baik dengan manusia lain.

Feby mencoba menyentuh sisi humanis dari agama, bahwa sekarang ini kita terlalu sibuk mempersiapkan akhirat dengan ibadah namun abai dengan hal-hal fundamental terutama bagaimana menjadi manusia yang baik di dunia.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books196 followers
May 12, 2023
Memadukan ajaran Islam dengan nilai-nilai humanisme universal, kumcer Memburu Muhammad menghadirkan pengalaman membaca Islam di luar label dakwah. Meskipun mengusung konsep religi, buku ini ibarat kumcer umum tp digerakkan oleh kisah hikmah yang umum diketahui pembaca muslim. Kisah islami yang terbuka, membuatnya ramah dibaca siapa saja dan mungkin termasuk umat selain Muslim.

Bayangkan Abu Jahal hidup kembali di era modern. Mengamuk dan mengancam dengan pedang tajamnya dalam upaya sia-sia mencari Nabi Muhammad. Begitu kecewa dia, yang sekaligus menyentil kita ketika seorang Abu Jahal pun berkata: "Mengapa kalian menamakan diri sesuai namanya, tetapi mirip pun kalian tidak."

Ada kisah yg terlalu panjang sehingga jadi agar tawar, tetapi kisah kisah ini memang berkilau menjelang penghabisan. Kisah kisah terakhir di buku ini adalah pemenangnya. Saya lebih menyukai versi versi pendek seperti di bab terakhir yang terasa ringkas tp jlebnya lebih terasa. Seperti obrolan dua malaikat yang menanyakan apakah Bekasi ini nama sebuah planet.

Semoga banyak yg membaca karya ini dan ikut berkarya dalam kebaikan setelah membacanya.
Profile Image for Alvina.
733 reviews119 followers
October 13, 2021
Ternyata kumpulan cerpen! Paling berkesan baca yang Bakso terenak di dunia. Tapi Kisah cinta azazil juga bagus. Berebut Jenazah juga lumayan.
Ceritanya pendek pendek sekilas serasa akrab tapi dikemas dalam bungkus yang berbeda.

Mungkin harusnya saya baca bukan perawan maria juga
*brb masukin wishlist
Profile Image for Mirza Saifuddin.
14 reviews1 follower
November 29, 2020
Mindblowing Story!
Saya sebagai pendiri pondok pesantren merekomendasikan buku yang memberikan sudut pandang menarik tentang islam. Cerita seperti orang minum alkohol yang membuat orang memperkosa dan membunuh, sering didengar di pengajian. Namun, kenyataan nya adalah diri individu lah yang mempunya kontrol masing2, bukan menyalahkan alkoholnya

Banyak sekali cerita di dalam Memburu Muhammad yang membahas keresahan dialami oleh masyarakat indonesia.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
November 25, 2021
Layaknya cerita-cerita hikmah dalam konteks modern. Misi buku ini adalah mengajak beragama secara kritis. Sebagai bacaan yang bernapaskan agama, ini termasuk bacaan yang ringan dan tak terkesan menggurui.

Tetapi, balutan magis cerita membuat saya teringat ceramah pengajian di desa yang penyampaian dakwahnya sarat pengandaian. Jadi, terkesan biasa saja. Ada pula suatu judul yang kritiknya malah terkesan menjadi olok-olok.
Profile Image for ikram.
241 reviews644 followers
August 8, 2022
Mba Feby Indirani akhirnya menjadi penulis auto-read aku setelah aku membaca Memburu Muhammad! Beliau kembali lagi dengan kumpulan cerpen Islamisme magis, dengan isi yang menyinggung keseharian umat Muslim. Dari judulnya aja sih lumayan 'kontroversial' ya, beberapa teman kantorku (yang sebagian besar Islam konservatif) bahkan sampai nanya kenapa aku baca buku kayak gini, apa ngga takut isinya sesat?

Karena komentar seperti itu, aku merasa mungkin ada beberapa orang yang belum siap membaca buku ini. Pun buku ini harus dibaca dengan sangat kritis dan keadaan emosi yang tenang. Pada akhirnya--meskipun banyak kritik sosial--Memburu Muhammad adalah fiksi belaka dan sebaiknya pula dinikmati sebagaimana buku fiksi dinikmati.

Dibandingkan Bukan Perawan Maria, buku ini lebih banyak mengangkat tema afterlif dan kematian. Banyak cerpen yang dimana karakternya menyaksikan kematian atau bahkan mereka sendiri yang merasakannya. Meskipun begitu, bukan berarti Memburu Muhammad lebih "suram" ketimbang buku sebelumnya ya, karena menurutku Mba Feby jago banget ngasih satir yang menggelitik. Setiap cerpen menyoroti isu agama dan sosial, serta memiliki 'pesan moral' yang bisa dijadikan materi untuk berefleksi diri.

Memburu Muhammad adalah buku yang menarik untuk dibaca, ditambah lagi buku ini terbilang page turning. Really recommended!
Profile Image for Fian.
46 reviews
May 18, 2024
Memburu Muhammad merupakan seri kedua dari trilogi Islamisme magis karya Feby Indirani. Masih sama dengan seri sebelumnya, berisi 19 cerita pendek yang mengangkat isu-isu sensitif tentang kritik sosial dalam beragama.

Tentang Anisa yang mual melihat ortunya asik bergosip sambil menikmati tubuh tantenya yang meninggal seminggu lalu, tentang Abu Jahal yang heran melihat banyaknya nama Muhammad tapi tak satupun yang mirip dengan beliau, juga tentang anak kecil yang bertanya kepada Ibunya seperti apa Tuhan.

Penulis mengemas cerita tersebut dengan cara yang berbeda. Kata-kata yang digunakan sederhana, tapi begitu sampai ke hati, membuat kita merenung, merasa lucu, bahkan merasa ngeri.

Cerita dalam buku ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Penulis memberikan sudut pandang baru dan unik dalam penyampaian ceritanya. KIsah-kisah dalam buku tersebut membuat saya merasa bernostalgia kembali disaat saya kecil dalam suasana mengaji. Kisah - kisah klasik yang penuh dengan makna dan akhir yang tak terpikirkan.
Profile Image for Prauestri.
11 reviews1 follower
September 26, 2024
Tahun 2017 saya membaca Bukan Perawan Maria (yang kala itu diperkenalkan pada Seminar Sastrawangi di Salihara, Pasar Minggu). Dan baru pada tahun 2024 ini saya melahap buku keduanya; Memburu Muhammad.

Memburu Muhammad dan pendahulunya adalah kumpulan cerita pendek yang membawa angin segar bagi saya. Tak menyoal amalan fikih (salat, zakat, dsb.) bagi kaum muslim, novel ini mengisah pada isu atau praktik yang kerap terjadi di masyarakat umum. Bergunjing, perlakuan kepada wanita, dan keburukan fanatisme kepada ajaran agama menjadi sebagian pokok dalam buku ini.

Namun, saya agaknya bingung dengan satu ceritanya bertajuk “Siap, Pemain Pertama?”. Selama membaca, otak saya berputar mencari arti konotasi dalam kisah tersebut. Apa isi dari cerita ini? Apa hikmahnya? Apa tujuannya? Hingga di ujung saya biarkan pikiran saya terbuka saja.

Kisah yang saya suka? Aduh, ada banyak! Utamanya tentu Memburu Muhammad, Pengincar Perempuan Tuantu, dan Kisah Cinta Azazil. Dialog di dalamnya begitu cerdas, saya tak bisa melupakan kalimat berikut:

“Itu sungguh aneh! Untuk apa kalian semua bernama Muhammad kalau mirip pun tidak? Cuma jadi pencuri, politisi haus kuasa, atau semata orang tak berguna?”

Sangat menusuk.

Saya tak sabar menunggu buku ketiganya. Kapan kiranya terbit, Mbak Feby? 😁
Profile Image for AHMAD FARHAN.
66 reviews2 followers
December 23, 2021
Memburu muhammad adalah sebuah buku trilogi islamisme yang kedua dari feby indirani, yang sayangnya belum saya baca buku pertamanya. Buku ini saya baca dalam bentuk ebook di aplikasi rakata.

Buku ini adalah buku kumpulan cerpen berisi 19 bab, yang pada bab terakhir terdapat 5 cerita kompilasi.

Menurut saya cara penulisan kak feby ini adalah sesuatu yang baru buat saya sebagai pembaca pemula.

Buku nya penuh dengan makna-makna, tapi tidak mudah untuk mendapatkannya.

Bagian-bagian yang saya sukai yaitu [Hidup kedua kiai zahid], [melukis tuhan], juga kompilasi cerita pada bab 19 [Hikayat kota]. Tapi bagian yang paling saya favoritkan adalah cerpen pada bab pertama [Rahasia rumah kami].

[Rahasia rumah kami] menjadi favorit saya karena kelihaian kak feby dalam merangkai cerita tentang pengandaian seorang pengghibah. Awalnya saya merasa jijik tetapi pada akhir cerita saya pun mengerti apa yang ingin kak feby sampaikan.

Untuk sebagian cerpen yang tidak saya sebutkan, saya tidak betul-betul paham apa yang ingin penulis sampaikan. Mungkin karena kurangnya pengetahuan saya yang masih seorang pelajar SMA berumur 15 tahun.

Untuk keseluruhan buku termasuk cover yang cantik dan menarik minat pembaca, saya memberi rating 5/5.
Profile Image for Faisal Chairul.
272 reviews17 followers
December 29, 2020
Kumcer (kumpulan cerpen) ini adl buku trilogi Islamisme Magis pertama yg gw baca. Ini adl buku kedua dr trilogi tsb. Buku pertamanya, Bukan Perawan Maria, justru blm gw baca 😂 Gw gak berekspektasi apa2 pas mau baca buku ini, cuma krn penasaran knp buku ini lumayan dipuji banyak org.
.
Membaca kumcer ini akan membuat pembaca meninjau ulang cara beragamanya masing2. Kumcer ini berisi 19 cerpen dgn jumlah halaman yg tdk terlalu banyak (201 hlmn), namun tdk mengurangi kepadatan isi dan makna yg terkandung di masing2 cerpen.
.
Buat gw, cerita pertama ttg Annisa dan salah seorang tmnnya, yg muak dgn hobi orangtua dan org2 sekitarnya yg suka memakan bangkai (maaf, manusia), sebuah analogi dr 'jika sering berghibah ibarat memakan bangkai saudara sendiri', lgsg menarik perhatian gw.
.
Kemudian ada cerita ttg pesan seorang kiai yg kembali hidup utk memancing para santrinya memaknai ulang hakikat beribadah (krn takut masuk neraka atau krn taat kpd Allah).
.
Ada lg ttg seorang pemuda yg terjebak suatu eksperimen sosial dan diharuskan memilih satu diantara tiga pilihan: minum minol (minuman beralkohol), memerkosa seorang perempuan atau membunuh seorang bayi, dgn pilihan si pemuda yg gak disangka2.
.
Atau cerita ttg berebut jenazah (agar dimakamkan sesuai ajaran masing2 pihak yg berseteru). Seketika gw teringat cerita 'Bagaimana Mereka Memakamkan Bapak yg Penghayat' di kumcer "Parade Hantu Siang Bolong".
.
Bersyukur dipertemukan lg sm kumpulan cerita bagus 👍 Gak sabar nunggu karya selanjutnya! Tp sblm itu baca yg 'Bukan Perawan Maria' dulu kali yaa 😬
Profile Image for Pinkan.
48 reviews
May 21, 2023
buku kedua dari kak feby ini menurut aku much much better than the first book.
dari kematangan ceritanya, pesan yang disampaikan bener-bener gak setengah setengah
dari 19 cerpen, Kisah"Pengincar Perempuan Tuantu" jadi favorit aku. Terasa semakin lama kita membaca semakin panjang,semakin dalam pesan atau nilai dalam kisah ini. Sambil membaca kisah ini itu aku membandingkan suatu negara dimana hak-hak peremepuan, keamanan dan keselamatan perempuan bener-bener di titik berbahaya.

Can't wait for the third book ;)
Profile Image for Nayla.
15 reviews
March 2, 2021
Saya jadi bernostalgia sewaktu baca buku ini..kisah kisah klasik sarat makna yang dulu sering di ceritakan orang orang tua dan guru ngaji dengan sentuhan yg berbeda diceritakan ulang sama mbak feby di buku ini dengan apik dan unik.. definitely would read another book she wrote.. very recommended❤
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
November 24, 2021
[Spoiler rate: 30-40%]

Sudah lama Annisa merasa ada yang aneh dengan ayah dan ibunya. Keanehan yang sudah ada sejak ia masih kecil namun saat itu ia belum terlalu paham untuk mencerna apa yang terjadi. Baru setelah usianya menjelang 10 tahun, gadis kecil itu mencoba berfikir jauh lebih kritis.

“Annisa kecil melongo mengintip dari balik lubang kunci, menyaksikan ayah dan ibunya tengah asyik menyantap potongan kaki manusia, tepatnya bagian betis yang padat-padat kenyal. Jari jemari keduanya belepotan darah dengan cabikan-cabikan daging mentah melekat di ujung kuku-kuku mereka.” Hal.1.

Mendapati hal semacam itu jelas saja Annisa heran dan takut. Tubuh siapa yang tengah dilumat oleh kedua orang tuanya?

“Dia tahu ada Om Hasan, kerabat mereka yang meninggal minggu lalu. Apakah dia? Ataukah Bu Teti, tetangga mereka yang mengalami serangan jantung, lalu meninggal di perjalanan sebelum tiba di rumah sakit? Atau, siapa mayat malang itu?” Hal.2.

Sambil terus berusaha mencari jawaban dari pikiran-pikirannya, sejurus kemudian Annisa mendengar percakapan ayah dan ibunya berkomentar ini-itu. “Dia itu katanya komunis, jangan dipercaya. Kalau dia menang lagi, nanti ulama akan dikriminalisasi.” Ayahnya menggit jempol yang terlihat gemuk itu. Hal.2.

“Sekarang sok-sok memilih ulama sebagai wakilnya, pasti hanya pencitraaan, tuh. Dia kira kita akan tertipu,” ibunya menyayat potongan jari tengah dengan pisau berujung lancip, lalu mengunyahnya dengan nikmat. Hal.3.

Apa yang sebenarnya yang terjadi terhadap ayah dan ibunya si Annisa ini? Kisah berjudul “Rahasia Rumah Kami” inilah yang dipilih Feby Indriani sebagai sajian pembuka di buku kumcer berjudul “Memburu Muhammad” ini.

“Memburu Muhammad” adalah buku kedua dari trilogi Islamisme Magis, aliran fiksi buatan Feby yang berakar dari tradisi, mitologi, keseharian hidup berislam yang lekat dengan hal-hal gaib dalam dunia kaum pemercaya. Buku pertama dari trilogi ini ialah “Bukan Perawan Maria” sudah pernah saya bahas beberapa waktu yang lalu.

Dimandiin dong.... Dimandiin....

Dimandiin dong.... Dimandiin....

Dimandiin dong.... Dimandiin....

Suara lirih itu terus bergema dan terdengar dari si tokoh aku di cerpen “Suara Menggemparkan”. Ceritanya, dia tinggal di lingkungan padat dan sempit. Sehari-hari dia banyak berinteraksi dengan warga sekitar, termasuk Bu Halidah, tetangganya yang baru saja meninggal dunia.

“Suara itu bernada memohon dan mengiba. Bulu kudukku berdiri. Aku teringat cerita yang beredar bahwa jenazah Bu Halidah tidak dimandikan dan langsung dikuburkan begitu saja. Apakah itu suara Bu Halidah dari alam lain?” Hal.15.

Bagaimana bisa satu jenazah langsung dikuburkan dan tidak dimandikan? Rupanya, kematian Bu Halidah baru diketahui warga sekitar setelah beberapa hari sehingga jenazah itu keburu busuk. Sayang, tak ada seorang pun dari warga yang mau mengurus dan memperlakukan jenazah itu dengan layak sebagai penghormatan terakhir.

Saat kemudian suara-suara menggemparkan itu muncul dan terdengar oleh banyak orang, penduduk di sekitar sana baru belingsatan dan mencari jalan keluar untuk meredamnya. Sebuah kisah yang bikin ngenes dan mengharukan.

Apalagi yang ditawarkan oleh kumpulan cerpen setebal 205 halaman ini? Salah satunya Feby berusaha “menyentil” pembaca yang terlalu mengagungkan prasangka lewat cerita sederhana berjudul “Bakso Terenak di Dunia.”

Ceritanya Abdullah dan istrinya menerima pemberian bakso dari Bu Nanik, tetangganya.

“Ini bakso enak sekali. Saya sudah pernah makan bakso di mana-mana, tapi sepertinya ini yang terenak, deh, di dunia!” ujar Bu Nanik bersemangat. Hal.37.

Betapa senang Abdullah saat menerimanya. Namun, sesaat akan memakan bakso itu, muncul keraguan yang awalnya bersumber dari Annisa, istrinya.

“Aku, kok, jadi curiga, Kang.”

“Ha? Curiga kenapa?”

“Kalau yang disebut-sebut enak sekali itu, kan, biasanya.... ehm... daging babi.”

“Astagfirullah! Mana mungkin Bu Nanik tega memberi kita bakso babi?” Hal.39.

Memastikan segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dengan teliti itu sangat baik. Saya sepakat. Kita harus tahu bahan dan cara pengolahan makanan, termasuk juga bagaimana cara kita mendapatkannya. Semua harus jelas kehalalannya.

Namun, dari cerpen ini saya sebagai pembaca dibuat merenung apakah dikarenakan sebuah keraguan yang sebetulnya tak terlalu mendasar (karena sejatinya dilihat cerpen ini tampak Abdullah dan Annisa mengenal baik Bu Nanik dan rasanya ybs gak akan tega ngasih sesuatu yang diharamkan), lalu kemudian berujung pada pikiran buruk/suuzon dan juga berakhir dengan kemubaziran (saat makanan itu terbuang) juga diperkenankan? Apalagi setahu saya Allah membenci prilaku boros/mubazir ini.

Di cerpen yang lain, Feby mengajak saya mengunjungi sebuah negara fiktif bernama Tuantu lewat cerpen “Pengincar Perempuan Tuantu”. Diceritakan, di negara ini rakyatnya hidup dengan sangat baik. Kotanya modern, rakyatnya sejahtera dan negara ini memiliki hubungan yang baik dengan Indonesia karena sama-sama negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Namun, ada satu kengerian di negara ini yakni adanya makhluk buas –disebut The Beast, yang sering menyerang manusia. Anehnya, yang diserang hanya wanita saja. Untuk itulah, muncul aturan bahwa semua perempuan di negara Tuantu harus memakai pakaian tertutup. Dari ujung kaki hingga kepala, termasuk bagian wajah.

Peraturan ini diambil untuk membingungkan si The Beast jika mau menyerang. Di sisi lain, “pembatasan yang ketat pada perempuan ini ditentang dari kelompok aktivis dan ilmuwan progresif di Tuantu. Karena sejumlah kasus justru memperlihatkan bahwa penyerangan terhadap perempuan ternyata belum bisa dipastikan polanya.” Hal.48.

Sayangnya, kebijakan untuk membatasi ruang gerak perempuan di negara ini cenderung menyulitkan. Nisa, wartawan asal Indonesia yang datang ke sana pun wajib mengikuti aturan yang berlaku.

Empat hari berada di Tuantu, saat menuju bandara hendak pulang, Nisa berbincang dengan Ludba, warga lokal yang menemaninya.

“Ludba, saya benar-benar tidak mengerti satu hal. Secara akal sehat, jika ada binatang buas berkeliaran, mereka yang seharusnya dikerangkeng. Bukan manusia yang jadi terkurung!

“Anda benar, memang seharusnya begitu. Tapi, mengatur-atur dan melarang-larang perempuan adalah pilihan yang selalu lebih mudah ketimbang bersusah-susah mengatasi persoalan yang sebenarnya.”Hal.56. Jleb banget!

Dari komentar singkat saya mengenai cerpen ini saja saya yakin sebagian besar dari kalian akan berfikiran yang sama: mengaitkan apa yang terjadi di negara Tuantu dengan satu (atau beberapa) negara lain yang ada jauh di sana, bukan?

Oke, sebelum mengakhiri ulasan saya terhadap kumcer ini, tentu saja terasa kurang jika saya belum menyinggung tentang cerpen yang kemudian dijadikan judul buku: “Memburu Muhammad”.

Sungguh sebuah imajinasi yang liar! Bagaimana tidak, di cerpen ini, Feby “menghidupkan” kembali Amr bin Hisyam atau Abu Jahal (Bapak Kebodohan), pimpinan kota Mekkah yang selalu memusuhi Rasulullah dan menolak dakwah.

Abu Jahal muncul di zaman modern, dengan membawa sebuah pedang dan membuat kekicruhan di sebuah kantor lurah.

“Ia mengibas-ngibaskan pedangnya di udara... Kemudian, ia menarik tubuh seorang ibu separuh baya berseragam petugas kelurahan yang bersembunyi di kolong meja, lalu menempelkan pedang itu ke lehernya. Jeritan panik terdengar dari pojok-pojok ruangan sebelum lelaki itu menggertak.

Semua yang bernama Muhammad maju kemari atau perempuan ini mati!” Hal.129.

Orang-orang yang bernama Muhammad maju dengan takut-takut. Namun, jelas ia tak akan menemukan sosok Muhammad yang ia cari. “Carikan aku Muhammad yang benar!” Hal.131.

Jelas situasi jadi semakin ganjil. Bukan hal yang mudah untuk memberikan penjelasan kepada Abu Jahal bahwa Muhammad SAW sudah lama meninggal. Di zaman sekarang, ada banyak orang bernama Muhammad namun hanya segelintir yang menjalankan hidup selaiknya Rasulullah.

Lantas, apa yang kemudian terjadi? Apakah Abu Jahal akhirnya menyerah?

* * *

Dibandingkan dengan buku pertamanya “Bukan Perawan Maria” penilaian subjektif saya adalah, saya lebih menikmati buku pertama itu sebab tema-temanya lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Di kumcer kedua ini, walau tetap menggunakan bahasa yang renyah, namun ada beberapa cerpen yang sulit untuk saya cerna, yang tentu saja ini karena keterbatasan saya sebagai pembaca. Tema-temanya lebih absurd dengan ending kisah yang dibuat menggantung.

Mulanya saya pikir jumlah cerpen di kumcer ini tak akan sebanyak di “Bukan Perawan Maria”. Kenapa? Sebab saya merasa cerpen-cerpennya ada yang terasa lebih panjang. Tapi kedua buku itu rupanya memiliki jumlah cerpen yang sama yakni 19.

Entah untuk menyamakan jumlahnya atau tidak, sebagai gantinya, muncul cerpen-cerpen lain yang terlampau singkat dan terasa kurang dalam. Jadi, ada semacam ketimpangan di antara cerpen-cerpen di kumcer ini. Ada yang bagus banget. Ada yang kesannya biasa saja. Beda dengan kumcer “Bukan Perawan Maria” yang saya merasa semua cerpennya sama kuatnya, sama bagusnya dan sama nikmatnya.

Terlepas dari itu, jelas kumcer “Memburu Muhammad” ini masih jadi sajian yang menarik dan layak dikoleksi. Rasanya nggak sabar menunggu buku ketiganya terbit untuk melengkapi trilogi Islamisme Magis ini.

Skor 8,5/10
Profile Image for ireaddbooks.
86 reviews6 followers
July 6, 2021
membaca cerita dalam novel ini serasa lagi didongengin, hampir semua cerita relate dengan yang terjadi di sekitar lingkungan saya (mungkin Anda juga)

ada satu cerita yang bikin saya mikir lama, mencari apa maksud (pesan) yang ingin disampaikan penulis. tapi sepertinya hanya Feby dan Tuhan yang tahu, saya tidak.
Profile Image for june.
59 reviews1 follower
March 1, 2022
Page turner... seluruh cerpennya dikemas dengan baik. Walau konflik-konflik yang dibahas begitu sederhana, bagaimana penulis menyajikannya begitu menarik. Sangat filosofis juga, terutama tentang beragama.

Recommended 👍
Profile Image for Riri.
145 reviews2 followers
July 28, 2025
Kayaknya baru kali ini baca buku fiksi bertema agama dengan nada yang kritis begini. Bikin mikirin lagi tentang ajaran-ajaran agama yang ditanam sejak kecil. Menggelitik dan menarik buat jadi bahan mikir (masih bengong as I write this review).
Profile Image for Rei.
366 reviews42 followers
May 31, 2021
Abu Jahl, hater Nabi Muhammad nomor satu, mendadak bangkit dari kubur dan mengamuk di Kantor Kelurahan. Sambil menyandera seorang petugas, ia berteriak-teriak meminta setiap orang yang bernama Muhammad untuk maju. Karena kasihan kepada sandera, akhirnya seorang pemuda bernama Muhammad Ikrimah maju dan berjanji untuk membantu Abu Jahl mencari Muhammad yang diincarnya. ⁣

Namun Abu Jahl seketika kecewa. Selain karena banyaknya nama Muhammad di masa kini, tak ada seorang pun yang karakternya bahkan mendekati Muhammad yang diburunya. ⁣

"- Ikrimah: Muhammad Nazaruddin, 40 tahun.⁣
- Abu Jahl: Masih muda, tapi mungkin saja dia. Siapa dia?"⁣
- Ikrimah: Politisi, tapi sekarang dipenjara karena korupsi.⁣
- Abu Jahl: apa itu korupsi?⁣
- Ikrimah: Ya...sederhananya mencuri.⁣
- Abu Jahl: hah? Untuk apa Muhammad mencuri? Dia lebih baik bertarung di medan perang!"⁣

Ikrimah makin kebingungan karena begitu banyak orang bernama Muhammad namun tak ada yang sesuai dengan karakter Muhammad yang dicari: 'jujur tapi lihai berbisnis; andal berpolitik tapi tak haus jabatan; saudagar sukses namun miskin; dipuja perempuan tapi menikahi janda tua'. Akhirnya Abu Jahl berteriak, "lalu untuk apa kalian semua bernama Muhammad kalau mirip pun tidak? Cuma jadi pencuri, politisi haus kuasa, atau semata orang tak berguna?"⁣

Percaya atau tidak, cerpen ini bukan favoritku. Melainkan kisah seorang ayah yang lebih merelakan putrinya mati tenggelam ketimbang membiarkannya ditolong oleh penjaga pantai karena ia tak ingin putrinya disentuh oleh lelaki yang bukan mahramnya. ⁣
Profile Image for Rafi.
10 reviews66 followers
December 5, 2022
"Buku ini adalah buku liberal. Tak patut dibaca oleh orang yang mengaku beriman."

Demikian kesan saya pertama kali ketika melihat daftar isi dari buku ini sekitar dua tahun yang lalu. Setelah saya membacanya, kesan yang saya dapatkan ternyata berbeda.

Buku ini dipikirkan dengan berani, ditulis dengan berani, dan harus dibaca oleh segenap pembacanya dengan keberanian. Sebagaimana yang penulis buku ini paparkan, Feby bercerita bahwa renungan-renungan religiusnya bertahun-tahun silam adalah renungan yang, dalam tafsiran saya, "berbahaya".

Cerpen dalam buku ini sangat membuat "terganggu" orang-orang yang pada dirinya (merasa) penuh dengan nuansa kesalehan. Nilai moral dan religius dalam buku ini tak bisa ditelan mentah-mentah sebagai acuan moral apalagi doktrin agama, karena buku ini memang tidak ditulis untuk itu.

Refleksi Feby pada buku ini membawa kita menyusuri kemungkinan-kemungkinan liar yang tampak tak tersentuh selama ini. Feby membawa orang-orang beragama untuk turun, membumi, menjejak tanah, dan mengkonfrontasikannya dengan kompleksitas yang hadir di tengah masyarakat. Membaca buku ini dengan pikiran yang sedang tidak sehat hanya akan membuat Anda kesal sendiri.

Selamat merenung, setelah sebelumnya keyakinan religius Anda digugat dan diproblematisasi oleh cerpen demi cerpen dalam buku ini!
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
January 30, 2023
Segar banget! Cerita-cerita yang berangkat dari kisah dalam agama Islam muncul sebagai sebuah cerita dengan sudut pandang yang baru dan sama sekali tidak jelimet. Ceritanya mengalir dengan sederhana dan cenderung jenaka meski ada juga beberapa cerpen yang perlu perhatian khusus untuk dibaca lebih dalam. Saya suka dengan cara penulis membolak-balik kisah yang selama ini sudah kita kenal menjadi cerita baru dengan gaya kepenulisan yang sama sekali lain. Jadi teringat hal yang sama juga dilakukan oleh Intan Paramadhita dalam buku Sihir Perempuan. Jadi enggak salah deh kalo dibilang Mba Feby Indirani ini salah satu penulis wanita paling moncer di 2019 kemarin. eh iya, sebentar lagi akan ada buku cerpen lainnya yang akan cetak ulang dengan cover dan penerbit baru, Bukan Perawan Maria. Patut ditunggu.
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
April 28, 2024
Entahlah, bagi saya pribadi Bukan Perawan Maria lebih 'nendang' dan berani. Kesembilan belas cerpen dengan payung Islamisme Magis memang masih terasa menohok dengan gaya penulisan yang jenaka, tetapi yang punya kekuatan untuk membuat saya geleng-geleng kepala dan memutuskan bahwa cerpennya bagus hanya Hidup Kedua Kiai Zahid dan Memburu Muhammad, selebihnya hanya lewat sekelebat saja setelah selesai dibaca. Beberapa terkesan monoton, agak dipaksakan, terburu-buru dirampungkan, dan saya nggak menangkap semesta baru yang diciptakannya secara menyeluruh. Setelah membaca bagian akhir saya agak memahami mengapa konsepnya begitu; karena terinspirasi dan beberapa saduran dari cerita-cerita hikmah dan ceramah pemuka agama.

Hidup Kedua Kiai Zahid merupakan cerpen yang apik. Pembaca diajak untuk mempertanyakan keberadaan neraka dan bagaimana jika neraka nggak benar-benar ada. Premisnya unik, mengisahkan Kiai Zahid yang bangkit dari kematiannya setelah dinyatakan nggak bernapas selama tujuh jam. Kemudian kebiasaan-kebiasaan aneh mulai membuat santri dan orang-orang terdekatnya seperti pengurus yayasan terbingung-bingung (saya tertawa ketika membaca kalau Kiai Zahid nge-rapp dan nonton Netflix). Kemudian, Memburu Muhammad juga jadi primadona karena sosok Abu Jahal hidup lagi dan dengan beringas mencari Muhammad ke penjuru dunia, salah satunya Indonesia karena di Indonesia banyak sekali orang memakai nama Muhammad (tetapi kelakuan mereka nggak seperti Muhammad yang dicarinya). Aduh, pokoknya dua cerpen tersebut terlalu bikin sakit perut sampai saya mesem sendiri.

Namun, secara umum, Feby Indirani memang masih mengusung semangat yang sama (karena ini akan jadi trilogi), yakni refleksi dalam beragama. Saya sependapat bahwa masyarakat Indonesia masih condong pada hal-hal yang sifatnya ritualistik daripada memahami esensi beragama itu sendiri. Oh iya, sebenarnya saya agak sebal dengan penamaan tokoh Annisa dan Nisa yang berulang di beberapa cerpen (kecuali cerpen yang berkaitan satu sama lain). Ya sudah lah, intinya, saya akan duduk manis sembari menunggu buku ketiga.
Profile Image for Hanafm.
12 reviews
March 14, 2021
Kumpulan cerpen Memburu Muhammad merupakan buku kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Feby Indirani. Buku pertamanya, “Bukan Perawan Maria”, terbit pada tahun 2017. Dan, ketika aku membaca kumcer ini, aku belum membaca buku pertamanya. Meski begitu, aku tidak terlalu kesulitan untuk memahami buku ini.

Buku setebal 205+ halaman ini terdiri atas 19 cerita. Salah satu mahakarya dari buku ini tentu saja, cerpen berjudul “Memburu Muhammad”.

“...sudah kutemukan ratusan nama “Muhammad” dengan berbagai sebab pemberitaan, pekerjaan, dan latar belakang. Begitu banyak nama “Muhammad” muncul pada orang yang masih hidup saat ini, tetapi ketika ditelusuri sedikit lebih jauh saja, tak ada yang sesuai dengan ciri dan karakter Muhammad yang ia cari-cari: jujur, tapi lihai berbisnis; andal berpolitik, tapi tak haus jabatan; saudagar yang berhasil, tapi teramat miskin; gagah dan dipuja perempuan, tapi menikahi janda tua.” — hlm. 139

Selain itu, cerpen yang berkesan buatku adalah “Pengincar Perempuan Tuantu” dan “Hidup Kedua Kiai Zahid”. Meski beberapa lainnya juga memiliki makna tersendiri untukku, dan sisanya belum mampu kupahami secara utuh dan bijak.

Feby Indirani sungguh-sungguh menyajikan realitas yang dikemas dengan cara yang berbeda. Kata-kata yang digunakan sederhana, tetapi begitu sampai ke hati. Menyindir secara halus, tetapi sesungguhnya menikam dengan begitu dalam.

“...mengatur-atur dan melarang-larang perempuan adalah pilihan yang selalu lebih mudah ketimbang bersusah-susah mengatasi persoalan yang sebenarnya.” — hlm. 56

“... Neraka itu tidak ada, sama seperti gelap. Neraka hanyalah ketiadaan Allah di hatimu.” — hlm. 62

Bagiku yang semasa kecilnya disuguhi kisah-kisah religi yang berisi pesan moral, agaknya buku ini merupakan referensi baru dari cerita-cerita yang sejak dulu akrab denganku. Buku ini menawarkan kisah religi yang dikemas dengan sangat unik. Setiap persoalan yang disuguhkan terasa begitu dekat. Aku merasa tersindir, sedikit malu, tersadarkan, hingga kemudian begitu terpesona dengan isi dari setiap cerpen dalam buku ini.
Profile Image for Miu Rara.
12 reviews
March 4, 2026
Sumpahh seneng banget, akhirnya aku membaca duologi ini. Karena sebelumnya jujur aku kepicut banget sama cover duologi ini, apalagi "Bukan Perawan Maria" wah itu aku langsung jatuh cinta dan pas baca buku pertamanya kayak, ini membuka mata ku soal islam yang di pikiran orang2 tuh agama yang benar, tetapi setelah menyelami penulisan Feby, aku jadi mengerti sudut pandang islam yang lainnya. Yang dimana tidak semua orang sadar bahwa, islam di negara kita (Indonesia) itu memakaikan agama ini dengan cara yang berbeda atau pemahaman yang mereka anut cukup di ambil dari sudut pandang yang berbeda di setiap daerah atau sulfi yang mereka pelajari.

Apalagi membaca buku yang kedua ini, aku sangat tersanjung dengan cerita di Tuantu, entah kenapa di perjalanan Nisa untuk mencari tahu permasalahan yang sedang di alami negara tersebut, menyebutkan bahwa ini sangat mirip di tahun sekarang (2026) entah kenapa aku merasa bahwa perempuan khususnya di Indonesia, sangat menggambarkan permasalahan di Tuantu, tapi monster tersebut bagaikan seorang lelaki, aparat, dan pemerintah yang tidak bisa menjaga hak perempuan, seperti pemuasan yang dilakukan oleh monster tersebut semena-mena "Perempuan harus tunduk terhadap sistem di negara ini" layaknya kalian tahu apa yang terjadi di tahun kebelakang bahwa, banyak korban yang meninggal dengan gender perempuan paling banyak, dan sekarang melihat kasus yang beredar juga tetap menyalahkan perempuan, setelah terbongkar nya aktivitas yang dilakukan pelaku dan korban. Setelah itu banyak warga yang berbalik arah unruk membela pelaku, jujur mereka lupa dengan kekerasan itu sama sekali tidak baik, layaknya menusuk dari perlahan dan tiba-tiba menjadi kebiasaan. Waw, di negara kita masih seperti itu pemikiran nya, cukup miris, dan selalu perempuan yang di salahkan.. oh lord i hate this world.

Sebenarnya buku ini bukan salah satu genre yang sering aku baca, tetapi setelah baca aku merasa aku butuh buku seperti ini lagi, namun agak sulit di cerna karena harus di baca berulang kali, dan aku pun harus menyelam komentar di Goodreads untuk mengulik pemikiran orang dan pikiran ku, agar dapat memahami cerpen di dalam buku ini.
Profile Image for Gabby Allen.
14 reviews6 followers
June 17, 2022
Aku sudah baca buku pertama, Bukan Perawan Maria. Pas pertama lihat Memburu Muhammad di Gramedia, cukup kaget juga. Buku pertama aku beli online karena nggak sembarangan toko buku besar di kota2 jual genre beginian loh! Langsung aja aku beli.

Seperti biasa, Mbak Feby mengambil topik utama soal agama. Seperti yang kita tau, banyak fenomena soal ini hadir di masyarakat, fanatisme, menciptakan momok, menebar kebencian, dsb. Tiap cerita pendek disini memang nyindir mengenai beberapa pokok tersebut secara fiktif dan imajenatif.

Aku merinding ketika anak kecil mempertanyakan Tuhannya itu siapa dan bagaimana. Refleksi dari kebanyakan realita yang terjadi pada para orang tua saat mencekoki anak2nya perkara agama. Anak ini terus bertanya sampai-sampai ibunya bingung sendiri harus menggambarkan Tuhan seperti apa.

Sindiran keras lainnya tentang keegoisan dan ketamakan manusia ketika sudah beragama. Soal dua orang pemeluk agama berbeda yang saling mengaku berhak atas proses pemakanan jenazah anaknya. Ada juga kisah Abu Jahal memburu Nabi Muhammad sampai ke Indonesia lalu diajak duduk santai sambil makan mie instan (pasti Indomie nih). Tentang Jibril turun ke bumi, mampir ke beberapa wilayah untuk menyampaikan satu wahyu sama namun dengan bahasa berbeda. Nah, soal bakso enak yang pasti mengandung daging/minyak babi juga lucu. Kejadian ini sering jadi isu panas di masyarakat padahal belum tentu terbukti kebenarannya. Eh tapi toh makanan enak itu tetap disantap juga.

Aku bakal tunggu buku ketiganya Mbak Feby, kelanjutan dari Memburu Muhammad. Kabarnya buku2 ini berjenis trilogi.
Profile Image for Naqiibatin Nadliriyah.
12 reviews3 followers
February 28, 2021
Buku Memburu Muhammad ini merupakan kumpulan cerpen yang kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Mbak Feby. Buku pertamanya yang berjudul Bukan Perawan Maria diterbitkan pada tahun 2017 dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Italia.

Secara keseluruhan, buku yang berisi 19 judul cerpen ini sangat menarik dan menggelitik, tanpa terkecuali cerpen yang menjadi judul buku ini dan termasuk salah satu cerpen favoritku. Di dalam cerpen Memburu Muhammad ini, penulis menghidupkan kembali sosok Abu Jahal yang sedang berburu Muhammad yang membuat anaknya Abu Jahal -bernama Ikrimah- berpindah agama menjadi pengikut Muhammad. Abu Jahal mendatangi salah satu kelurahan di negeri yang katanya banyak ditemukan orang yang bernama Muhammad.

Abu Jahal pun menyandera seorang ibu petugas kelurahan, sebelum akhirnya Ikrimah -lengkapnya Muhammad Ikrimah - menyediakan diri untuk membantu Abu Jahal menelusuri jutaan data dan nama Muhammad. Namun, sayangnya tak pernah ada (tak ditemukan) lagi sosok Muhammad bahkan yang sedikit mirip pun.

Beberapa cerpen lainnya pun mengajak kita kembali berpikir dan merenung kembali tentang keberagamaan kita. Dan pada akhirnya kumpulan cerpen yang imajinasinya sungguh menggugah dan sufistik ini membawa pesan bahwasanya beragama itu bukan bertujuan untuk mengkotak-kotakkan manusia. Kita semua punya hak untuk hidup berdampingan secara damai dengan sesama manusia.
Profile Image for Day Nella.
275 reviews5 followers
April 18, 2025
"Untuk apa kalian semua bernama Muhammad, kalau mirip pun tidak." Bab 13 [Memburu Muhammad]
-
Memburu Muhammad
Feby Indirani
Penerbit Bentang, 2020
19 Bab
Baca di @rakatadotid
-
Salah satu pilihan novel yang bikin aku tertarik buat baca, setelah banyak peserta all you can read rekomendasikan. Jadilah tergerak buat aku memilih novel ini, dan jujur aku suka banget.
Penulis pintar memasukan isu-isu agama yang sangat relevan yang acap kali terjadi. Dan bahkan cara penyampaiannya pun penuh dengan kritisi yang memang mengkritik persoalan akan permasalahan agama saat ini.
-
Sejak awal aku berpikir kalau ini berdiri sendiri, nyatanya tidak, melainkan ada 19 cerpen yang bisa dibaca random tidak terikat, dan memiliki banyak sekali pesan yang membuat aku sebagai pembaca merasa termenung. Tidak ada kesan menggurui, dan gaya penyampaian pun dalam serta penuh makna.
-
Ada beberapa cerpen yang aku suka, karena begitu related dengan masa kini.

•Rahasia Rumah Kami
•Memburu Muhammad
•Berebut Jenazah
•Sebuah Eksperimen

Sebenarnya cerpen yang lain juga memiliki pesan tersendiri. Namun, aku jujur lebih menyukai ini, rasanya kita yang hidup di masa kini perlu juga dihadapkan pada hal-hal yang nantinya akan kembali pada agama yang kita anut itu bukan hanya sekedar dipegang teguh saja, tapi memahami apa yang diajarkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 106 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.