Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tragedi di Halaman Belakang

Rate this book
Sejarah Indonesia selalu ditulis dari sudut pandang penguasa. Mereka doyan bercerita tentang peperangan dan penaklukan, membuat imajinasi kita hanya berisi kisah-kisah ketangguhan para jenderal. Kekerasan di dalamnya tergantikan unsur kepahlawanan. Orang-orang biasa yang jadi korban konflik antarpenguasa, yang sesungguhnya menjalani hidup dengan damai, dilupakan begitu saja. Kita tidak pernah tahu bagaimana mereka bertahan melalui sebuah tragedi lalu meneruskan hidup sambil membawa trauma dan kesedihan.

Lewat Sulawesi, Eko Rusdianto ingin membuka selubung itu. Berbekal pengalaman sebagai jurnalis serta kecintaan pada perjalanan, ia mengelilingi pulau di Indonesia Timur ini guna mengumpulkan cerita-cerita dari korban kekerasan masa lalu. Kisah anak-anak yang orang tuanya dibunuh sebab menolak perintah pindah agama dari pasukan Kahar Muzakkar, saksi hidup pembantaian Westerling, tapol 65 di kamp Moncongloe, konflik antaragama Poso, memori anak-anak curian Timor Leste yang dibawa ke Sulawesi oleh ABRI, juga pemeluk Nasrani yang menggunakan nama Islam demi menyelamatkan nyawanya. Kejahatan-kejahatan itu kebanyakan tidak terselesaikan. Korbannya kini menua, hanya dapat menceritakannya sebab harapan tampak tak lagi tersedia.

Ditulis dengan pendekatan antropologi yang meyakinkan, buku ini tidak hanya menampilkan kisah kekerasan Sulawesi, tetapi juga jiwa manusia yang redup usai melewati babak panjang kekerasan. Meski demikian, mereka masih dapat menertawakannya.

192 pages, Paperback

First published October 1, 2020

5 people are currently reading
60 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (39%)
4 stars
21 (41%)
3 stars
9 (17%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Ms.TDA.
247 reviews5 followers
August 25, 2025
Tadinya sempat ngira kalo buku ini membahas ttg masyarakat Sulawesi hanya seputaran ttg 65, ternyata banyak sekali bahasan sosial masyarakat yg dikulik oleh penulis disini. Dari sekian cerpen dan isu, ada beberapa yg menarik perhatianku;
- Perang Rakyat Semesta (Perata) di Moncongloe, 1969.
- Operasi Seroja di Pulau Timor, 1976.
- Pembantaian Kilo Sembilan di Poso, 1998.
- Operasi Tinombala di Poso, 2000.
- Pemberontakan Kahar Muzakkar 1950-1965 atau Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Ujung Makassar hingga suku Padoe.
Cerpen yg singkat dan lugas utk mengisahkan mereka yg berdampak akibat kekerasan sejarah, konflik, budaya, patriarki, agama, suku, ras, kemiskinan struktural dan bahkan lebih kompleks lagi. 😵
Profile Image for Arvia Maharhani.
231 reviews29 followers
December 25, 2020
Buku ini paket lengkap buatku yang ingin berkenalan dengan sejarah, terutama dari Sulawesi.
Kita bisa banyak belajar dan mengetahui budaya di sana, isu lingkungan, sampai kejadian-kejadian yang meninggalkan bekas luka abadi.
Tulisan di buku ini juga rasanya mengalir dan sangat informatif. Singkat dan jelas.
Profile Image for lilgirl 💕.
137 reviews9 followers
March 21, 2021
Sungguh menyenangkan menemukan buku non-fiksi yang bahasannyaa berat namun dengan bahasa yang ringan dan dapat saya mengerti.. Buku ini membuka mata saya bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi akan berdampak besar kepada Orang-Orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kekerasan-kekerasan tersebut..
45 reviews4 followers
December 20, 2020
Buku ini merekam ingatan panjang kebrutalan konflik yang disebabkan oleh negara, kelompok mayoritas, dan korporasi tak tau diri serta mereka yang terusir dari tanah kehidupannya sendiri. Sulawesi memiliki sejarah panjang soal ekstremisme yang awalnya tidak sekadar protes terhadap pemerintahan pusat, melainkan juga ketidakpuasan pada pemerintahan yang ada. Namun, konflik atau perang yang terjadi karena ketidakpuasan tersebut selalu mengorbankan rakyat kecil, yang sering kali tidak tahu apa-apa.

Saat awal-awal kemerdekaan, Sulawesi Selatan digemparkan dengan pembantaian massal oleh jenderal Westerling yang menyebabkan 40.000 orang harus meregang nyawa dalam kurun waktu Desember 1946 sampai Maret 1947 dan benar-benar berhenti pada Juli 1947.

Tidak hanya itu, saat meletusnya konflik DI/TII di Jawa Barat oleh Kartosuwiryo, di Makassar, Kahar Muzakkar menyatakan bergabung dengan gerakan tersebut dan menyatakan Sulawesi Selatan sebagai bagian dari DI-TII karena ketidakpuasannya terhadap pemerintah pusat. Walaupun awalnya ia adalah pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Konflik yang berlangsung dari 1950—1965 tersebut membuat banyak orang resah, terutama mereka yang beragama selain Islam mesti hati-hati. Selama pendudukan ini, banyak orang dipaksa bersyahadat dan masuk Islam. Selain itu, mereka mesti berpindah tempat dari tanah leluhur karena wilayah tersebut sudah dikuasai oleh DI-TII. Orang Dongi, salah satu komunitas adat di Sulawesi terpaksa meninggalkan tanah leluhurnya. Dan saat kembali pada 1968, tanah mereka sudah dijual pemerintah kepada sebuah perusahaan korporasi.

Isu PKI pun sampai ke Sulawesi dan membuat 911 orang masuk penjara tanpa peradilan dan beberapa lainnya dieksekusi di tempat.

Banyak cerita kecil, tetapi begitu penting dalam buku ini. Di antaranya adalah kisah anak-anak Timor Leste yang diculik oleh Tentara Indonesia saat menjajah Timor Leste. Juga kasus Poso yang bikin hati bergidik saat beberapa waktu kasus serupa kembali hadir di Sigi. Juga cerita bagaimana cara rumit orang Toraja mencintai Ayam, dan banyak lagi.

Buku menarik yang bisa selesai kurang dari 24 jam.📒

Penulis: @eko_mallo
Editor: @rifaiasyhari
Penerbit: @eabooks
Profile Image for Desca Ang.
707 reviews36 followers
June 23, 2021
The review is taken from my IG bookstagram account: @descanto

Kebab Reading Club is going to discuss the book Tragedi di Halaman Belakang (The Tragedy in the Backyard) written by Eko Rusdianto. The book is divided into three parts consisting of 25 stories.

The stories share a red thread: rising the unheard voices from those who are forgotten. These people weren't only forgotten but also marginalised somehow. Their experiences of violence and traumatic events in the past which was centred in Sulawesi. Eko doesn't only circle around the local culture but also invite his readers to unveil the tragical events from Westerling's contraguerrilla to Poso Riots.

What I admire from this book is how Eko portrays the violations of human rights and rises its issues based on the interview he conducted from the first mouth/the person who experiences it. However, I then start questioning "how valid is the data obtained from the interview." I really think that some additional sources to support the data will be beneficial. It will give more perspectives to the readers also.

Another thing I question here is how we consider this book? A journalistic non-fic? If so, like any other non-fic books, how come there's no bibliography, footnotes or references?

I know it may be considered as some minor details, yet those minor details shouldn't be neglected. Simply because they are also things that could be beneficial to the readers.
Profile Image for Fajarningrum.
8 reviews
January 21, 2025
Buku ini ditulis berdasarkan perjalanan yang dilalui untuk menguak kisah-kisah nyata masyarakat Sulawesi dalam pengalaman mereka melewati periode ketidakamanan serta kekerasan yang merajalela seperti, pembantaian Westerling dan konflik antaragama Poso. Kebanyakan menceritakan mengenai bagaimana cara mereka bertahan hidup di tengah kondisi konflik dan ancaman, seperti dengan mengganti nama yang identik dengan agama tertentu sebagai bentuk perlindungan diri.

Ingatan anak-anak yang dicuri dari Timor Leste dan dibawa ke Sulawesi serta kesaksian para tahanan Kamp Moncongloe yang ditahan karena imbas dari peristiwa G30S ditulis dengan cukup mudah untuk dipahami dan dibayangkan berdasarkan perspektif pelaku kejadian.

Fenomena sosial di daerah-daerah Sulawesi juga diceritakan dengan cukup epik. Bagaimana hingga saat ini pernikahan dini masih menjamur di beberapa daerah di Pulau tersebut dan permainan sabung ayam yang masih dilakukan karena merupakan warisan turun temurun.

Dengan +- 180 halaman, buku ini memiliki ukuran dan ketebalann yang membuat praktis untuk dibawa serta terdiri dari berbagai kisah, dapat menjadi teman bacaan bersama secangkir teh hangat ataupun sebagai teman perjalanan di kereta api saat melakukan perjalanan.
6 reviews
Read
May 22, 2021
Selalu ada orang-orang kecil yang disembunyikan oleh tragedi; ketika sejarah mengelompokkan mereka menjadi pelajaran nonesensial (atau hanya melampirkan mereka sebagai data statistik), narasi Rusdianto bertindak sebaliknya. Di dalam buku ini, kita bertemu dengan eks tapol 65 yang masuk kamp hanya karena bermain musik di Parepare, anak-anak Timor Leste yang terjebak dalam proses integrasi berdalih belas kasih, pemuda Nasrani yang terpaksa mengganti nama untuk berupaya bertahan hidup di zaman pemberontakan Kahar Muzakar. Riwayat-riwayat pendek ini tidak perlu menyemburkan jargon-jargon akademis tentang poskolonialisme/orientalisme. Dengan penceritaan yang dekat, mereka memberikan pembacanya kesempatan untuk berefleksi lebih jauh pada bagaimana peralihan rezim (dari kerajan ke kolonial, kolonial ke negara kesatuan, provinsi ke-27 ke Timor Leste) membawa ambiguitas atas identitas seseorang, memori tentang rumah, dan juga pengetahuan tentang apa yang salah dan benar.
Profile Image for Caecilia Galih.
4 reviews1 follower
June 26, 2021
Buku ini membuat kita lebih mengenal Sulawesi, dari budaya, orang-orang, maupun dampak dari konflik yang pernah terjadi di sana. Disajikan dengan bahasa yang ringan, bahkan membuat kita serasa sedang mengikuti kehidupan si pencerita. Banyak kisah-kisah menarik yang mungkin terlupakan dan tidak banyak dibahas.
Profile Image for Muhammad Rizaldi.
1 review
August 25, 2022
Membaca tulisan Eko Rusdianto ini membawa saya ke cerita masyarakat pulau Sulawesi dan ikut merasakan bagaiaman penulis mewawancarai para narasumber.
Profile Image for Nitaf.
144 reviews2 followers
October 29, 2024
Mungkin karena membahas begitu banyak topik, akhirnya beberapa bab dengan sejarah yang menarik jadi terlampau singkat pembahasannya. Tapi juga karena aku kelewat membaca sub-judulnya sih, jadi dulu ekspektasiku buku (tipis) ini akan lebih banyak membahas orang-orang yang terdampak peristiwa-peristiwa yang dicantumkan dalam blurb. Terus aku rasa penceritaannya kadang kurang smooth di beberapa bagian.

Dua cerita yang paling menarik buatku berkaitan dengan sejarah kopi dan desa pandai besi di Sulawesi yang jarang sekali dibicarakan. Sedangkan percakapan yang paling kuingat ketika "Tuhan-Tuhan langit dari luar" menyingkirkan "Tuhan-Tuhan alam" yang dipercaya komunitas adat, yang membuat alam tak lagi bernilai sakral dan berujung pada pembiaran kehancurannya.
Profile Image for Steven S.
705 reviews66 followers
February 15, 2021
Laporan pandangan mata Eko di Pulau Sulawesi.

Lewat narasi yang ada kita seakan ikut berkeliling, diajak mas Eko dalam mereportase hal-hal yang terjadi di sana.

Buatku mengapa kamu harus menjajal buku ini? Jarang sekali kita menemukan laporan jurnalistik dari luar jawa. Saya kira. Reportase dari Sulawesi ini wajib untuk dibaca.

"Saya berkenalan dengan dunia jurnalistik pertama kali pada tahun 2008 ketika bergabung di Yayasan Pantau Jakarta. Profesi ini memberikan ruang yang sangat luas untuk terus berpikir dan saya bukan hanya memandangnya sebagai pekerjaan untuk memenuhi target tulisan. Berkenalan dengan orang-orang baru, mendengar kisah, dan berada di tengah momentum. Saya menikmatinya." tulis Eko di Remotivi, Febuari 2021.

Esai, profil Eko Rusdianto bisa disimak lebih lanjut di laman ini https://www.remotivi.or.id/di-balik-l...

Profile Image for Novena Adelweis.
26 reviews
December 10, 2021
Saya belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Sesekali saya hanya mendengar nama-nama daerah seperti Wajo, Luwu, Polewali Mandar, dan lain-lain hanya dari kegiatan kerelawanan yang saya ikuti. Melalui buku ini, Mas Eko mengajak pembaca untuk menyusuri tragedi di Pulau Sulawesi yang selama ini hanya dibahas sedikit dalam buku sejarah. Perspektif korban yang digunakan di sini kadang bikin hati saya mencelus. Tidak semua kisah diceritakan dengan serius, ada juga yang memberi kita jeda untuk tertawa.

Beberapa cerita terkesan berakhir digantung. Entah karena belum selesai atau ada alasan lain. Selain itu, penyusunan tulisan per bab akan lebih baik apabila disusun sesuai timeline.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.