Jauh sebelum merebaknya pandemi COVID-19, dunia sudah diguncang oleh berbagai jenis pandemi dan wabah. Salah satu yang paling mematikan adalah Flu Spanyol yang terjadi antara 1918-1919 dan diperkirakan membunuh 50 hingga 100 juta penduduk kala itu. Wilayah Indonesia pada masa kolonial juga tidak luput dari serangan tersebut. Sebanyak 1,5 hingga 4,37 juta jiwa penduduk diperkirakan menjadi korban keganasan pandemi Flu Spanyol, menjadikan rerata kematian di Indonesia pada masa kolonial sebagai yang tertinggi di Asia. Sejarah menunjukkan, tingginya mortalitas dan morbiditas tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kegagalan pemerintah kolonial dalam melakukan mitigasi dan pencegahan awal, buruknya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, menjamurnya berbagai berita bohong (hoaks) di masyarakat, hingga sekumpulan orang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi. Ironisnya, sekalipun lebih dari seabad berlalu, fenomena serupa juga masih terjadi dalam kasus COVID-19 di Indonesia, yang menunjukkan bahwa aspek historis memang belum menjadi pembelajaran penting dalam rancangan kesehatan pemerintah terkait pandemi dan wabah.
Kesan pertama yang saya tangkap ketika membaca ini yaitu rasanya seperti deja vu. Saya seolah-olah membaca apa yang belakangan ini saya alami.
Lalu saya teringat kata-kata Harari dalam buku Sapiens, dia mengatakan bahwa hanya 3 hal yang mampu menimbulkan kerusakan besar bagi peradaban manusia: salah satunya Pandemi.
Buku ini merupakan dokumentasi langka tentang sejarah kesehatan yang masih menjadi topik minim pada penulisan sejarah. Tema sejarah kesehatan dengan adanya buku ini diharapkan mampu menjadi rujukan sekunder bagi mitigasi penangan pandemi.
Selain itu, buku ini menjadikan sejarah sebagai suatu ilmu yang terasa relevansi nya. Melihat dan memahami sejarah kian terasa penting agar kita tak jadi keledai.
Buku yang ternyata membutuhkan dua tahun untuk dihabiskan, karena tidak cuma tebal dan penuh dengan dokumentasi mengenai Pandemi Flu 1918 (juga dikenal sebagai Flu Spanyol) di Hindia Belanda, tetapi juga memang banyak disela oleh buku bacaan lain juga.
Yang saya suka dari buku ini adalah keragaman dan kedetailan Ravando dalam merangkum bagaimana Pandemi Flu 1918 melanda Indonesia melalui ragam sumber, dan kebiasaan Ravando untuk menuliskannya dalam gaya bahasa asli semampu mungkin, sehingga gambaran dan perspektif orang-orang yang mengalami pandemi di masa itu dapat tergambar jelas. Mungkin bagi sebagian orang rasanya akan melelahkan membaca beberapa poin informasi yang seperti diulang-ulang atau bahkan terlalu mendetail, tetapi saya masih mengusahakan membacanya karena mungkin tidak banyak buku sejarah yang bisa sedetail ini.
Sebenarnya saya berharap buku ini bisa diperbaiki dengan (1) merangkum poin-poin terlalu detail namun berulang yang membuat buku ini terlampau tebal, (2) Ravando sebagai sejarawan bisa membuat analisis dan opininya mengenai Pandemi Flu 1918 di Hindia Belanda secara lebih komprehensif dan blak-blakan, (3) analisis perbandingan dengan Pandemi COVID-19 di Indonesia, 102 tahun kemudian.
Saya paham masukan poin ke-3 di atas masih mustahil saat itu karena buku ini dicetak bahkan belum satu tahun pandemi COVID-19, tetapi saya rasa tidak kalah serunya jika sekarang atau nanti, Ravando berkolaborasi dengan ahli kesehatan atau ahli bidang lainnya, dan kemudian membuat analisis interdisiplinernya, khususnya di saat COVID-19 sudah tidak lagi menjadi masalah kesehatan publik global.