Menghadapi kematian seseorang yang dicintai seringkali kuasosiasikan dengan dikuliti hidup-hidup dalam sekejap. Perihnya tak terkira, hingga pada bulan-bulan pertama menjalani hidup tanpanya, aku merasa bahwa perihnya infeksi telinga kronis yang kualami selama hampir setengah tahun bukanlah apa-apa dibandingkan dengan perihnya ditinggal mati orang yang sangat kukasihi. Setelah lewat dua tahun berlalu, narasi-narasi yang mungkin bisa membantuku memahami serta melalui hari-hari dalam dunia tanpanya masih terus menarik perhatianku. Buku ini salah satunya, apalagi buku ini ditulis oleh salah satu guru zen yang kuhormati.
Seperti meditasi cinta kasih itu sendiri, Thay (panggilan akrab penulis) mendahului tiap panduan meditasi dalam buku ini dengan narasi-narasi yang diupayakan untuk memahami apa yang kita rasakan atas kematian orang yang kita cintai. Thay melengkapi narasi-narasi tersebut dengan analogi-analogi yang membuatnya lebih mudah dimengerti. Salah satu bagian yang paling menyentuhku adalah bagian yang mengingatkan kembali bahwa mendiang yang kita cintai hampir pasti turut berharap kita dapat merasakan kebahagiaan setelah kematiannya secara fisik. Bahwa untuk merasakah kebahagiaan, kita tidak harus menunggu sampai duka dan penderitaan kita berakhir sama sekali. Bahwa inilah saatnya melatih diri untuk melimpahkan cinta kasih kepada diri kita sendiri. Aku kembali mengingat betapa ibuku selalu mengenang bagaimana cara mendiang suamiku memandangku dengan penuh kasih. Ada kalanya mengingat itu semua terasa berat sehingga aku merasa perlu mengambil sedikit jeda untuk menyerap tangisku sendiri selama membaca buku ini.
Panduan-panduan meditasinya sendiri dikhususkan untuk mereka yang ingin memahami dan berdamai dengan perasaan-perasaan tersebut. Ada yang mengkritik bahwa buku-buku Thay cenderung repetitif dan ujung-ujungnya kembali ke praktek meditasi dan memantrai diri dengan bait-bait mengenai mindfulness, tapi aku mengamati bahwa praktek-praktek yang disarankan dalam buku ini tidaklah sekadar praktek meditasi duduk atau berjalan berikut mantra-mantra yang dapat diucapkan untuk menenangkan hati. Selain praktek-praktek tradisional tersebut, ada pula praktek-praktek lainnya yang lebih khusus seperti menulis surat untuk mendiang yang kita cintai atau berhenti sejenak dari segala kegiatan secara berkala untuk "reconnect" dengan kesadaran kita di masa kini. Lebih jauh lagi, panduan-panduan yang disajikan pada gilirannya kembali mengingatkan manfaat yang dapat dirasakan melalui analogi-analogi yang bisa dikatakan masuk akal. Aku terutama menyukai saran untuk mengidentifikasi emosi-emosi yang kita rasakan dan menamainya dengan nama yang sesungguhnya sehingga kita dapat merangkulnya, mendengar keluh kesahnya dan pada gilirannya menjinakkan gejolaknya dalam jiwa kita. Mungkin itu terdengar sederhana, tapi tidakkah ada kalanya kita dilanda denial terhadap apa yang kita rasakan sendiri? Kurasa praktek seperti itu dapat membantu kita untuk membebaskan diri dari penyakit denial tersebut dan berdamai dengan perasaan-perasaan kita sendiri. Kalau dibilang beberapa bagian terasa repetitif, aku merasa bahwa itu justru menunjukkan bahwa praktek meditasi dapat diaplikasikan secara universal alih-alih dianggap sebagai domain eksklusif agama atau keyakinan tertentu saja, dan manfaatnya dapat dirasakan dalam berbagai situasi.
Terlepas dari itu semua, aku merasa bahwa tidak semua bagian yang dibahas dan disarankan dalam buku mengena atau dapat diaplikasikan secara umun. Misalnya, pemahaman bahwasanya sebagian dari mendiang yang kita cintai masih hidup dalam diri kita sendiri sejujurnya tidak menghiburku. Aku ingin dia hadir di sisi atau di hadapanku, bukan di dalam diriku! Meskipun seringkali aku merasa bahwa sejak kepergian dirinya, banyak sekali bagian dari dirinya yang seolah terserap dalam diriku. Praktek "menyentuh tanah" yang posisinya hampir identik dengan posisi sujud juga tidak bisa dilakukan semua orang karena latar belakang budaya dan agama yang tidak mengijinkan. Selain itu, aku merasa bahwa konsep anattā (ketiadaan diri) dan anicca (impermanence) kurang sesuai untuk dihadirkan sebagai pelipur lara bagi orang awam (yang tidak familiar dengan doktrin-doktrin Buddhisme) yang kehilangan orang yang dicintainya. Meskipun mendiang bertransformasi menjadi bentuk-bentuk lain yang berpencar di sekeliling kita bahkan menjadi bagian diri kita, bukankah sosok yang kita cintai adalah kesatuan tertentu yang kini telah tiada? Jika ia telah buyar dan bertransformasi, tidakkah pecahan-pecahan dan turunan-turunannya bukan lagi sosok kesatuan yang kita cintai? Pada akhirnya, bukankah cinta yang berduka atas berakhirnya sebuah hidup pun adalah sebentuk kemelekatan? Kurasa, mengenang dan mengapresiasi peninggalan (legacy) mendiang masih lebih dapat dipahami dan dipraktekkan secara umum. Di sisi lain, dari sudut pandang praktisi, penerapan konsep-konsep tersebut dalam memahami apa yang tengah kita hadapi bisa dijadikan bahan untuk menempuh tahap selanjutnya setelah kita dapat berdamai dengan rasa duka kita.
Secara keseluruhan, menurutku buku ini cukup baik sebagai panduan praktis maupun sebagai pelipur lara bagi para penyintas kematian orang yang dikasihinya. Ada beberapa hal yang baik untuk dijadikan pengingat dan dapat dipraktekkan secara universal, meski tidak seluruhnya demikian.