Agak menggelikan juga ketika melihat seorang ustadz jadi bintang iklan. Gelisah juga kita melihat training agama yang marak dengan biaya tinggi. Ini belum termasuk berbagai salon, supermarket, acara televisi, yang menggunakan Islam sebagai label. Sama halnya dengan banyaknya Ornop yang menjadikan umat sebagai object riset; program dengan dalih demokrasi, pluralisme, atau gender.
Jika Islam jadi agama yang diperjual-belikan maka peran agama sebagai penegak keadilan dan kekuatan yang melawan kesewenang-wenangan jadi lenyap. Kini agama itu hanya berada di tangan komplotan yang membunyikan firman sesuai pesanan dan kehendak pasar.
Andai keadaan terus seperti sekarang, adalah benar kata Karl Marx: Agama itu hanya candu! Betul sekali ucapan Rasulullah SAW: Kelak Islam hanya seperti buih, banyak pengikutnya tapi tak ada mutu lagi. Buku ini mencoba untuk mengatakan kalau saatnya umat Islam memikirkan kembali ancaman kebuasan pasar yang sering menggunakan Tuhan untuk menjual produknya.
Eko Prasetyo, seorang ayah, yang sementara ini mengontrak rumah di daerah Kotagede Yogyakarta, adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII).
Karirnya dimulai sebagai guru taman kanak-kanak, kemudian editor, dan sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di Resist Book serta PUSHAM UII. Sebagian kegiatannya dihabiskan untuk membaca, mengasuh anak, serta menonton sejumlah film.
Pernah terlibat dalam TPM (Tim Pembela Muslim) untuk advokasi beberapa kasus hukum yang menimpa Laskar Jihad. Selain itu juga terlibat menulis buku untuk penerbitan Laskar Jihad yang berjudul "Tragedi Kebun Cengkeh" (2002) bersama Ustadz Ayip Syafruddin.
Keterlibatan yang mendorongnya untuk terus berdoa, agar Islam sebagai agama menjadi kekuatan yang mampu melawan segala bentuk kesewenang-wenangan. Hingga kini ia memilih untuk mempercayai bahwa Tuhan sangat pemurah dan penyayang pada semua orang yang memiliki nyali untuk melawan penindasan.
Karyanya: Orang Miskin Dilarang Sekolah!, Orang Miskin Tanpa Subsidi, Awas: Penguasa Tipu Rakyat, Orang Kaya di Negeri Miskin, Assalamualaikum: Islam Itu Agama Perlawanan!, Inilah Presiden Radikal!, Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah!, Guru: Mendidik itu Melawan!, Astaghfirullah! Islam Jangan Dijual, Jangan Tanya Mengapa: Perusahaan Rokok Untung Besar!!, Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin! Soekarno, Semaoen, & Moh. Natsir, Demokrasi Tidak untuk Rakyat!, Jadilah Intelektual Progresif!, Orang Miskin Dilarang Sakit,
Peringatan untuk diri sendiri: “Seorang boleh belajar dan mempersiapkan revolusi dengan membuat revolusi dan bukan dengan mendiskusikan revolusi” – Ali Syariati.
Selepas membaca karya Eko Prasetyo ini, aku bertambah benci kepada golongan agamawan selebriti.