Jump to ratings and reviews
Rate this book

Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi

Rate this book
All aspects of human life related to Islam in Indonesia; collected articles of Abdurrahman Wahid, former Indonesian President.

412 pages, Paperback

First published January 1, 2006

34 people are currently reading
432 people want to read

About the author

Abdurrahman Wahid

49 books95 followers
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy`ari. Sedangkan ibunya adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu, Gus Dur juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku.

Di samping membaca, Gus Dur dikenal hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya itu mendapat apresiasi yang mendalam di dunia perfilman sehingga pada 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.

Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya yaitu Sinta Nuriyah, putri H Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, Gus Dur bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.

Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada 1974, Gus Dur diminta pamannya KH Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris.

Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU.
Kiprahnya di PBNU semakin menanjak hingga akhirnya terpilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai KH As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo, pada 1984.

Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar NU ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta, 1989, dan Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat, pada 1994.
Jabatan Ketua Umum PBNU baru ditinggalkannya setelah Gus Dur menjabat Presiden RI keempat pada 20 Oktober 1999.

Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Gus Dur meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (30 Des 2009) sekitar pukul 18.45 WIB, karena sakit.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
92 (63%)
4 stars
31 (21%)
3 stars
14 (9%)
2 stars
4 (2%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Rafli Wahyu.
40 reviews
January 1, 2024
Islamku Islam Anda Islam Kita, sebuah buku karya masterpiece dari bapak pluralisme Indonesia sekaligus presiden RI ke 4 yakni Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Buku ini bagi gw sangat berarti karena apa yang ada di dalam buku ini merupakan suatu pemikiran Gusdur yang beliau tulis melalui artikel lalu disusun ulang sehingga menjadi buku yang dimana membahas seputar polemik Islam yang ditinjau dari beragam aspek dalam konteks nasional dengan menyoroti pelbagai masalah utamanya yakni Islam sebagai agama, Islam sebagai negara dan demokrasi, serta Islam dalam konteks kemasyarakatan.

Funfact, gw dapet buku ini pas lagi bulan Ramadhan, dan gw rasa ini merupakan rezeki bagi gw, karena gw dapat buku ini dengan harga "Miring" tidak seperti harga pada umumnya, yang dimana buku ini jika sudah ada di tangan kolektor maka harganya bisa melambung dua kali lipatnya, sedangkan gw dapat di harga setengah dari dua kali lipat itu, apalagi buku yang gw dapet ini Original, sekalipun bekas juga ga masalah bagi gw, karena yang penting tulisannya masih jelas dibaca.

Apa yang disebut "Islamku" di dalam buku ini merupakan versi Islam dari Gusdur itu sendiri, yang mana Islam versi Gusdur merupakan suatu agama yang Rahmatan Lil Alamin dan merupakan Islam yang mampu merangkul segala aspek kehidupan tanpa mengesampingkan hal-hal yang substansial, namun Islam versi Gusdur sendiri merupakan Islam hasil dari seluruh rentetan pengalaman pribadi beliau mengenai Islam dan Islam versi Gusdur merupakan suatu hal yang tidak dipaksakan kepada orang lain, boleh jadi orang lain mengetahui Islam versi Gusdur sebagaimana yang dari konsep beliau mengenai "Islamku", namun di dalamnya tidak ada paksaan dan penekanan.

"Islam Anda", menurut Gusdur merupakan suatu hal yang beliau apresiasi terhadap kepercayaan dengan melihat konteks ritual keagamaan dan tradisionalisme yang ada di dalamnya dengan beragam kebudayaan yang melekat pula. Dan hal yang paling utama dalam apresiasi beliau mengenai "Islam Anda" merupakan suatu kepercayaan beliau akan tradisi keagamaan sebagai "Kebenaran" yang dianut oleh komunitas tertentu yang harus dihargai dan dijaga keberagamannya.

"Islam Kita", menurut Gusdur itu sendiri merupakan sebuah gagasan atau visi jangka panjang yang harus ditempuh umat beragama, bukan umat muslim saja, karena selayaknya umat beragama harus saling rukun dan menjaga keberagaman yang dapat mengantarkan ke jalan yang penuh ketentraman. Akan tetapi persoalan mengenai "Islam Kita" itu terletak pada adanya kecenderungan sementara kelompok orang yang selalu memaksakan kehendak akan suatu konsep "Islam Kita" yang terkesan hanya tafsiran mereka sendiri saja, dan Monopoli tafsir yang seperti ini bertentangan dengan semangat demokrasi dan kerakyatan yang maupun keagamaan dengan semangat kebersamaan.

Yang disoroti Gusdur di buku terutama dalam masalah "Monopoli Tafsir" terutama yang terjadi dalam umat muslim di Indonesia sudah kian merebak menjadi banyak, dan bahkan bisa merusak sendi-sendi keagamaan dan keberagamannya.
Diantaranya:

- Mulai dari pemaksaan akan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang dipaksakan oleh sebagian kelompok ekstremis yang dapat mengakibatkan timbulnya suatu paradigma "Legal Eksklusif" yang merupakan pemikiran politik Islam dan meyakini Islam bahwasanya bukan hanya sekadar agama saja melainkan suatu tata hukum dan kelola negara yang sah seperti ideologi universal akan suatu sistem yang paling sempurna dan menjadikan sistem lain yang bertentangan dengan ideologi Islam "Legal Eksklusif" ini diberangus dan ideologi semu semacam ini juga harus diterapkan di sisi kehidupan masyarakat yang merangsek ke segala aspek mulai dari yang skala besar hingga ke skala yang remeh temeh.

- Perilaku "Arabisasi" yang terjadi di Indonesia sebagai suatu konsep salah kaprah yang membawa Islam Indonesia agar selalu seperti "Islamisasi" dengan berlandaskan "Arab", padahal jika ditelisik lebih jauh hal ini merupakan suatu kecemasan dan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kemajuan budaya barat yang "Sekuler dan Modern", baik dalam aspek ilmu pengetahuan maupun aspek kultural dan kebudayaan serta politik dan tata kelola kenegaraan.

- Radikalisme Islam sebagai upaya pendangkalan Agama yang membuat Islam di Indonesia semakin bergerak mundur dan yang disoroti oleh Gusdur yakni sekolompok Neo-Fundamentalisme yang bisa mengarah ke hal yang ekstrem seperti terorisme.

- Fiqh dan HAM yang harus diupayakan agar beradaptasi, karena bagi Gusdur seiring perkembangan zaman jika Fiqh dan HAM tidak disesuaikan dengan konteks perubahan zaman maka bisa merugikan berbagai macam pihak seperti Minoritas yang dapat terganggu keselamatan dan keamanannya serta "Non-muslim" agar hak-hak mereka sejalan dengan HAM yang ada dan keamanan serta keselamatan mereka bisa terjamin secara utuh baik secara praktik maupun implementasi nya dalam konteks Islam di Indonesia.

- Masalah perekonomian seperti Demam Syari'at dan Kapitalisasi. Masalah lama yang menggerogoti perekenomian Islam yang hanya memfokuskan dalam aspek² Normatif saja seperti hukum² yang mengatur ekonomi dan keuangan, akan tetapi permasalahan yang dibahas hanya berkutat di seputar bunga bank, riba, asuransi, dan sejenisnya padahal jika diperluas lagi masalah perekonomian tidak sebatas hal seperti ini saja, dengan ini maka hal seperti diatas tadi melupakan suatu aspek terpenting yakni aspek "Praktik" yang berbasis Implementasi nyata serta secara Substansial efektif penerapannya. Bukan hanya secara Simbolik saja seperti "Normatif", akan tetapi perekonomian harus "Substantif" yang mengantarkan ke hal yang bersifat "Implementatif dan Aplikatif".

Jadi secara keseluruhan buku ini merupakan bingkai pemikiran yang ditawarkan oleh Gusdur dalam mengembangkan suatu konsep Islam ke arah yang lebih Rasional dan Substansial. Di buku ini pula kita sebagai pembaca dapat melihat "Pengembaraan Intelektual Gusdur dari masa ke masa" dengan tidak "Linear" akan tetapi "Berproses". Berangkat dari hal ini Gusdur menyimpulkan bahwa "Islamku" yang dipikirkan dan dialaminya adalah Islam khas dengan memperhatikan hal-hal substansial Islam dalam suatu aspek dengan pendekatan Kulturisasi yang dapat mengantarkan kepada suatu Rekonsiliasi Islam dengan diselaraskan kepada kekuatan budaya² setempat agar sejalan dengan budaya lokal seperti konsep "Pribumisasi Islam" yang dapat mengarah ke "Islamisasi Islam" di Indonesia, serta pandangan beliau akan Islam Indonesia yang Substantif-Inklusif bukan Legal-Ekslusif dalam konteks realitas politik dan tata kelola negara. Dan pemikiran beliau mengenai konsep ekonomi dengan basis utama seperti "Ekonomi Kerakyatan" sangat beliau apresiasi dan beliau dukung agar bisa diimplementasikan dan dipraktikkan secara terstruktur dan nyata dampaknya terhadap kemaslahatan masyarakat.

Dan kritik utama Gusdur yang disampaikan di buku ini merupakan suatu kritik terhadap sistem atau pandangan mengenai Islam secara Formalisasi, Ideologisasi, Syariatisasi, Arabisasi, Legal-Ekslusif yang mengarah kepada kelompok Ekstremis dan Neo-Fundamentalis. Tapi setajam apapun kritik yang disampaikan oleh Gusdur, akan tetapi beliau tetap menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan pendapat.

Oke, sekian review buku ini dari gw, kurang lebihnya gw mohon maaf yang sebesar²nya. Dan terimakasih juga bagi kalian yang sudah membaca review buku gw ini sampai akhir sini. Kritik dan saran dipersilahkan.
Profile Image for novi a. puspita.
150 reviews15 followers
May 27, 2018
Menurut Gus Dur, lahirnya kelompok-kelompok Islam garis keras atau radikal tsb tidak bisa dipisahkan dari dua sebab. Pertama, para penganut Islam garis keras tsb mengalami semacam kekecewaan dan alienasi karena "ketertinggalan" ummat Islam terhadap kemajuan Barat dan penetrasi budayanya dg segala eksesnya. Karena ketidakmampuan mereka untuk mengimbangi dampak materialistik budaya Barat, akhirnya mereka menggunakan kekerasan untuk menghalangi ofensif materialistik dan penetrasi Barat. Kedua, kemunculan kelompok-kelompok Islam garis keras itu tidak terlepas dari karena adanya pendangkalan agama dari kalangan ummat Islam sendiri, khususnya angkatan mudanya. Pendangkalan itu terjadi karena mereka yg terpengaruh atau terlibat dalam gerakan-gerakan Islam radikal atau garis keras umumnya terdiri dari mereka yg berlatar belakang pendidikan ilmu-ilmu eksakta dan ekonomi. Latar belakang seperti itu menyebabkan fikiran mereka penuh dg hitungan-hitungan matematik dan ekonomis yg rasional dan tidak ada waktu untuk mengkaji Islam secara mendalam. Mereka mencakupkan diri dg interpretasi keagamaan yg didasarkan pada pemahaman secara literal atau tekstual. Bacaan atau hafalan mereka terhadap ayat-ayat suci Al-Qur'an dan Hadits dalam jumlah besar memang mengagumkan. Tetapi pemahaman mereka terhadap substansi ajaran Islam lemah karena tanpa mempelajari pelbagai penafsiran yg ada, kaidah-kaidah ushul fiqh, maupun variasi pemahaman terhadap teks-teks yg ada.
Profile Image for Petra Gilang Ramadan.
33 reviews2 followers
October 25, 2020
Tulisan Gus Dur dalam buku ini seolah membuat Islam benar-benar hidup. Dalam buku ini, Islam menjadi lebih dinamis karena pemikiran Gus Dur yang berdasarkan pemahaman Islam dan Gus Dur mampu mendirikan gagasan berdasarkan Islam sehingga Islam hadir di masyarkat menjadi solusi yang nyata untuk permasalahan ekonomi, sosial, bahkan hukum.
Profile Image for Zar.
1 review
August 3, 2019
buku yg memuat artikel dr Presiden Indonesia ke-4 Gus Dur.. menyoroti Islam ideologi dan Islam kultural; HAM dan Islam
Profile Image for Fayandi.
3 reviews1 follower
April 13, 2019
Bahwa pendidikan, bacaan, dan pengalaman seseorang bisa mengubah pandangan hidup dan pemikirannya. Namun demikian, yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang tidak seharusnya memonopoli atau memaksakan penafsirannya kepada orang. Persoalan mendasar dalam konteks "Islam kita" terletak pada kecenderungan sementara kelompok orang untuk memaksakan konsep "Islam kita" menurut tafsiran mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka ingin memaksakan kebenaran Islam menurut tafsirannya sendiri. Monopoli tafsir kebenaran Islam seperti ini, menurut almarhum Gus Dur bertentangan dengan semangat demokrasi. Selengkapnya di buku "Islamku, Islam Anda dan Islam Kita" yang bisa didownload di link berikut ini: https://tinyurl.com/y3c6gsa6
Profile Image for Melati Putri.
5 reviews4 followers
May 16, 2011
Learn the beauty of other religion. What a great book.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.