“Goresan-goresan pena sederhana ini sudah lama mencoba mengetuk pintu rumah-rumah muslim. Agar mereka sadar bahwa mereka mempunyai modal kebesaran. Modal keluarga. Ya, modal keluarga. Karena dari keluarga bisa terlahir bahagia dan kebesaran.” (h. 12)
Akhirnya, buku ini menjadi penutup yang cukup manis di tahun yang penuh dengan segala macam lika-liku. Kumpulan tulisan-tulisan Ustadz Budi Ashari di parentingnabawiyyah.com ini, meski terasa kurang dalam membasuh dahaga serta kelaparan akan ilmu parenting kita, namun memberikan pondasi pijakan berpikir tentang apa sesungguhnya yang benar-benar penting dan dibutukan oleh para keluarga muslim.
“Ini hanyalah sentuhan. Maafkan jika tak banyak memandu dan membantu. Setidaknya bisa mengenalkan dan menghangatkan. Setidaknya bisa mengawali dan mengilmui. Setidaknya bisa menyadarkan dan membangunkan.” (h. 14)
Sebagaimana kekhasan Ustadz Budi Ashari, buku ini menyuguhkan konsep pemikiran-pemikiran dasar tentang keluarga dan pendidikan anak yang perlu kita sebagai seorang muslim pahami, bersumber dari Al-Quran dan berkaca pada sejarah kegemilangan Islam.
Tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dalam 7 bab dan tema besar. Dimulai dari pentingnya memiliki visi yang besar; bagaimana anak-anak menjadi tonggak harapan kita dalam membangun peradaban Islam yang kuat; pembagian peran ayah dan ibu dalam keluarga; bagaimana agar nasihat yang kita sampaikan memberi perubahan pada anak-anak; hingga kisah-kisah daulah Islam dahulu yang begitu ditakuti pada zamannya.
Bab favorit saya adalah ‘Generasi Izzah, Bukan Imma’ah’ yang membahas tentang bagaimana kita sebagai seorang muslim seharusnya memiliki izzah, kekuatan dan kemuliaan, bukan menjadi generasi yang sekedar ikut-ikutan terbawa arus zaman yang semakin edan. Dalam bab ini pun disebutkan beberapa kisah ketika Islam berada pada kejayaannya dahulu, yang sungguh membangkitkan motivasi dan harapan. Bahwa kemenangan itu nyata. Membaca ini layaknya membasuh kegalauan saya yang sedang merasa asing diantara hiruk pikuk keramaian dunia. Masya Allah.
“Tidak ada satupun di muka bumi ini yang memiliki izzah kecuali Allah. Dengan demikian , kunci mendapatkan izzah hanya satu, yaitu dengan mendekat dan memintanya kepada Allah. .. Ini pula yang pasti dihadapi oleh siapapun yang menjadi asing ditengah hiruk pikuk peradaban yang bukan peradaban kita ini. .. Maka hiburlah diri. Seperti Allah menghibur Nabi Nya. Cacian dan kalimat menyedihkan itu tak akan lama. Hanya perlu bersabar beberapa tahun kemudian ia berlalu dan semua bergumam: Sesungguhnya izzah hanya milik Allah semata!” (h. 165)