Keputusasaan adalah bagian dari diri manusia, dan pikiran-pikiran liar, yang kemudian menjadi cerita-cerita absurd dan tragis, muncul dari keputusasaan itu. Begitulah cerita-cerita dalam buku ini muncul. Buku ini membuat pembacanya terbahak-bahak di rumah duka, tergila-gila kepada benda mati, lalu sampai pada titik jenuh sebagai seorang manusia.
Saya pertama kali mengenal cerpen Mashdar Zainal yang berjudul Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya di Suara Merdeka, kalau tidak salah, sekitar tahun 2016. Sebuah cerpen yang ganjil, aneh, dan mengalir tanpa hentakan di akhirnya. Tidak terlalu membekas, memang. Kemudian setelah itu saya mencari lagi cerpen-cerpennya yang sebelumnya telah banyak tersebar di beberapa koran lokal. Sampai saya benar-benar menyukai cerpennya yang berjudul Perempuan Bergaun Ungu... yang sialnya menyenangkan!
Dalam buku kumpulan cerpennya yang kedua ini, jujur, sebenarnya saya agak merasa kesulitan mencari benang merah yang menautkan dari cerpen satu ke cerpen lainnya. Barangkali saja membawa kepedihan dengan cara dan penuturan yang berbeda. Saya sendiri belum sempat untuk membaca buku kumpulan cerpennya yang pertama--Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala--jadilah saya belum bisa membandingkan bagaimana dengan buku ini. Meskipun begitu, Gelak Tawa di Rumah Duka berhasil menjadi bacaan yang menyenangkan di tengah masa-masa seperti ini.
Cerpen cerpen di buku ini, seperti isyarat di judulnya, kebanyakan suram dan muram, tidak cocok dibaca kalau kondisi psikis lagi down atau butuh hiburan. Di sisi lain, buku ini bisa jadi pelarian untuk pembaca yg menginginkan tema tema gelap, kisah muram anak manusia, perjalanan hidup yang entah mau ke mana, tawa dalam kesedihan karena tidak tahu harus apa lagi. Benar benar penulisnya menjadikan cerpennya sebagai kanvas untuk media menuangkan segala imaji kelam yang mungkin terus tumbuh dalam kepalanya. Semua dia, sesuka dia, yang penting bisa terbaca dan memang mulus sekali buku ini dibaca.
Judul unik buku ini diangkat dari cerpen berjudul sama, yg menyoroti ketidaksempurnaan manusia. Orang bilang, mereka yang bercahaya memiliki bayangan sangat pekat, seperti tokoh utama di cerpen ini. Bukan berarti bahwa kita jangan jadi orang baik, tetapi terimalah jika ada sisi tidak baik dan tak sempurna dalam diri kita. Sisi inilah yg menjadikan kita manusiawi, dan menjadikan kita manusia yang lebih baik jika kita bisa memperbaiki dan mengurangi yg jelek.
Banyak kisah yg ditukis secara naratif, seolah pengarang begitu penuh kepalanya sehingga tulisan tumpah ruah di dalamnya, cerita2 yang minim dialog, sangat berkisah, dan kadang begitu tidak nyaman meskipun kisahnya biasa.
Buku ini merupakan kumpulan beberapa cerpen yang menurut saya, cerita-cerita yang tidak masuk akal tapi menarik. Seperti pada cerpen yang berjudul "Gelak Tawa di Rumah Duka," di situ diceritakan bagaimana seorang istri yang harus tertawa di depan suaminya yang sudah tiada. Yang seharusnya berduka dengan airmata.
Buku ini memiliki cerita yang mengalir, dan mudah dipahami, hanya saja imajinasi penulis membawa pikiran kita ke sesuatu hal yang tidak logis, tapi mesti dilogiskan.
Yang uniknya lagi, di buku ini, ada satu cerpen yang sama sekali tidak memiliki dialog, benar-benar fokus diceritanya saja.
Buku yang absurd, pikiran-pikiran yang tidak terbatas ruang dan batas sosial, dan ini menghasilkan cerita yang liar dan ngga terpikirkan sebelumnya. Banyak diantara cerpen ini yang buat bingung, apa maksudnya entahlah. Jadi, semisal ada metafora yang penulis coba sampaikan bisa jadi aku ngga sadar karena cerita ini memang bikin pusing.
Cukup kaya. Penghidupan benda mati dan kematian yang hidup. Beberapa membosankan. Beberapa mengesankan dan berputar-putar. Potensial.
Empat cerita pendek favoritku: Gelak Tawa di Rumah Duka, Teori Absurd tentang Asal Muasal Segala Sesuatu, Mayat di Atas Bukit, Cerita-Cerita yang Mungkin Sudah dan Akan Kau Dengar dari Berita-Berita di Televisi dan Kau Baca dari Surat Kabar.
Sebenarnya, aku udah selesai baca buku ini tanggal 5 mei kemarin. Tapi, baru sempat untuk review sekarang. Pertama-tama, menurutku buku ini tuh bener-bener definisi dari kata absurd, unik dan aneh. Tapi, anehnya lagi aku suka sekali dengan buku ini.
Buku ini adalah kumpulan cerpen dengan cerita yang ngga masuk akal, tapi, penulisannya inilah yang bikin menarik. Awalnya, ku tertarik baca buku ini karena ngga sengaja baca salah satu review yang menyebutkan kalau buku ini absurd dan bikin pusing pembacanya.
Ternyata emang bener aja, bikin bingung sekaligus pusing. Walaupun sebenernya diawal aku rada bosan dengan beberapa cerpennya yang menjadikan aku malas untuk melanjutkan membaca buku ini. Tapi, entah kenapa aku juga tiba-tiba semangat lagi untuk melanjutkan.
Beberapa cerpennya ada yang bikin bingung, entah apa maksud dari si penulis ini. Jadi, kadang metafora yang mau disampaikan oleh penulis ini malah ngga kita sadari, karena saking bingungnya.
Tapi, sekali lagi, tujuan si penulis memang mau menyampaikan keputusasaan dan pikiran liar manusia lewat cerita-cerita absurd dan tragis yang ada dalam buku ini. Jadi, ya ngga heran kalau ceritanya ini bikin bingung bahkan pusing.
Aku suka sekali dengan buku ini, karena buku ini menyampaikan pikiran-pikiran manusia yang tidak terbatas ruang dan batas sosial. Soooooo, this book get 3 stars from me.