Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jerum

Rate this book
Karya-karya Oka Rusmini telah membangun pengetahuan pembaca dengan baik. Dunia perempuan (subordinat, resistensi, dan kebebasan). Ini adalah fondasi karya-karya Oka (sebelumnya), Fondasi yang tidak pernah digoyahkan oleh konsep keagungan atau kemuliaan perempuan dalam agama Hindu yang dianut di Bali.

Lahirnya Novel Jerum sebagai anak ideologis Oka Rusmini ini, sejatinya ia adalah pengalir sastra klasik ke berbagai telaga zaman. Melalui proses penggubahan ragam bahasa Kawi-Bali yang semula digunakan dalam karya sastra klasik menjadi bahasa Indonesia, Oka Rusmini pada saat yang bersamaan juga membentangkan nilai-nilai yang ada dalam karya sastra tersebut ke khalayak pembaca lebih luas. Jika karya sastra Kidung Jerum Kundangdya masih berbentuk kidung, spektrum pembacanya dapat dipastikan terbatas hanya pada kalangan tertentu.

194 pages, Paperback

First published December 11, 2020

1 person is currently reading
15 people want to read

About the author

Oka Rusmini

27 books140 followers
Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story.
Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014).
Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015).
In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”.
She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).

Oka Rusmini can be contacted at
Twitter: @okarus
Email : tarianbumi@yahoo.com.
Facebook Page: oka rusmini

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (11%)
4 stars
7 (16%)
3 stars
26 (61%)
2 stars
3 (7%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
December 16, 2020
145 - 2020

Baru tahu kalo ternyata cerita Jerum ini diambil/disadur dari teks sastra lama Bali yang berjudul Kidung Jerum Kundangdya.

Saya adalah pembaca buku-bukunya Oka Rusmini. Saya salut Mbak Oka masih terus berada pada jalannya menulis tentang perempuan Bali, dan itu yang menjadi kekhasan dari Mbak Oka. Menarik, saya selalu suka bagaimana perempuan dalam budaya Bali diceritakan dalam buku-bukunya. Termasuk juga kidung Jerum ini.

Saya merasa sedang membaca buku cerita legenda daerah yang biasa saya baca waktu kecil. Ketika membaca di bab-bab awal malah gak terasa sama sekali ini tuh dari kidung, tapi masuk ke cerita Jerum maka baru terasa banget kisah legendanya, ya berasa kayak baca buku legenda daerah gitu.

Saya gak tahu cerita aslinya seperti apa, tapi tentu dalam buku ini kisah Kundangdya, Ni Sekar, Jerum, Ki Liman Tarub dan sosok-sosok lainnya diceritakan dengan menarik. Walau memang cerita perempuannya kental dari Ni Sekar, Sentil, hingga Jerum, sosok laki-lakinya pun diceritakan dengan penuh kutukan.

Bagian akhir buku ini kita bisa tahu bahwa buku ini sudah ditelisik oleh beberapa akademisi Bali. Jadi lebih banyak lagi infony
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
July 17, 2025
Jerum merupakan novel karya Oka Rusmini yang bercerita tentang 2 tokoh utama yaitu Ni Jerum dan Kundangdya dalam menjalani takdir hidup mereka. Kemalangan demi kemalangan saling tumpang tindih dan mempertemukan mereka di sebuah momentum yang cukup janggal. Namun rupanya, justru hal tersebut yang menjadi awal mula sebuah tanda bahwasanya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sudah diberkati semesta. Bahkan sampai maut memisahkan, Tuhan kembali mempertemukan mereka di surga.
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
October 17, 2021
Novel pendek ini ditulis ulang atau disadur dari teks sastra lama khususnya sastra Bali Klasik berjudul "Kidung Jerum Kundangdya". Selayaknya legenda-legenda di kebanyakan daerah, ceritanya melekat erat pada seputar perebutan cinta, balas dendam, perkelahian, karma, dan kekuatan dewa. Saya menikmatinya, sih. Beberapa deskripsi dalam naskahnya juga cantik, menggambarkan kehidupan masa lalu yang cenderung abstrak dan magis seperti apa yang selama ini kita fantasikan soal cerita rakyat. Sayangnya saya kurang suka dengan penulisan dialognya yang panjang menurun tanpa disisipi narasi. Penokohannya juga kurang 'Oka Rusmini banget' yang biasanya mengangkat tokoh perempuan kuat dan independen. Yah, mungkin menyesuaikan dengan teks sastra aslinya kali ya, agar esensi ceritanya nggak rusak atau melenceng jauh. Sebenarnya agak menyebalkan. Tapi sebihnya, bagus. Alih-alih untuk membunuh kebosanan, Jerum lebih cocok dibaca buat pengantar tidur, menurut saya.
Profile Image for Rizq_ Nurjanna.
42 reviews
July 18, 2022
Nggak tau lagi mau ngomong apa, selain,,, wahh.. wahh.. wah...
Novel sarat nilai religiusitas hinduisme, tidak hanya mengangkat romansa dua insan dalam kemalangan, namun juga nilai-nilai spiritualitas dalam kepercayaan Hindu.

Membaca novel ini sensasinya seperti nikmahnya menyesap es teh di malam dingin ditemani semangkuk indomie soto dengan potongan cabe rawit. Memberi makan makanan yang cukup membahayakan kesehatan badan sekaligus menyajikan penawar agar kita lupa bahaya itu.

Lebih terpukau lagi setelah membaca resensi dan nalar akademik setelah bagian novel pendek ini.
Beberapa poin penting yang kudapat dari novel ini yaitu,
1) Jerum adalah novel yang ditulis dari hasil adaptasi karya sastra kidung Jerum Kundangdya, yang populer di era 1920-1930an, yang tidak diketahui pengarangnya, dan dinyanyikan dengan iringan istrumen rebab, suling, kadang-kadang genggong pula. Di tahun² itu pula seringkali dilakonkan di pentas Arja oleh kelompok kesenian dari Desa Lenganan, Bajra, dan Tabanan.
2) Mengangkat kisah cinta segitiga yang berakhir tragis antara Ni Jerum, I kundangdya, dan Ki Liman Tarub, di mana pertemuan cinta Jerum dan Kundangdya justru terjadi ketika Jerum telah berstatus istri dari Ki Liman Tarub, seorang saudagar kaya yatim piatu yang baik hati.
3) meski mengangkat kisah cinta segitiga, namun penulis mengambil nama tokoh wanita sebagai judul novel, karena (menurut pengamat sastra) sebagaimana karya² sebelumnya seperti tarian bumi, tempurung, kenanga, dan hampir mewarnai seluruh karyanya, menjadi ciri khas dunia perempuan (subordinat, resistensi, kebebasan) khususnya konsep keagungan dan kemuliaan perempuan dalam agama hindu di masyarakat Bali sebagai tema utama dan paling menonjol.
4) sepakat dengan komentar salah satu pengamat di buku ini, hal yang mungkin membuatku tidak lantas berhenti atau menemukan kebosanan sejak awal hingga akhir kisah dikarenakan alur cerita yang padat, to the poin, sehingga meski secara fisik buku ini tipis, namun secara muatan ia kaya.

Pada akhirnya, penulis yang tidak hanya mendapatkan penghargaan lokal, nasional, bahkan internasional ini sangat pantas menjadi sastrawan terbaik di jaman ini. Jadi ketagihan pengen baca karya² beliau yang lain.
Profile Image for Wienny Siska.
51 reviews3 followers
March 3, 2021
Kisah tentang dendam dan kisah cinta dua manusia yang tak bisa terwujud di dunia. Berasal dari legenda masyarakat Bali, cerita ini membuatku memahami bagaimana dendam bisa merasuk begitu dalam dan membuat kita kehilangan diri sedemikian rupa.

Dendam memang bukan hal yang mudah untuk dilepas oleh banyak orang dan kesadaran diri, penyerahan diri seutuhnya jadi satu jalan dendam terlarung dari dalam diri kita.

Jerum membuatku berpikir tentang cinta. Bagaimana cinta memang tak bisa memilih dan kita bisa mencintai mati-matian. Tapi kayanya itu nggak berlaku buatku :)).
Profile Image for ayu amaradipta.
69 reviews18 followers
May 25, 2021
Mungkin rating ini agak kurang adil karena saya nggak familiar sama legendanya (yang berikutnya akan saya googling untuk dapat gambaran keseluruhannya), tapi kalau secara penceritaan, rasanya ini bukan karya terbaik dari Oka Rusmini. Karakter tokoh2nya yang dieksplor mayoritas sebatas sangat cantik, sangat tampan, sangat kaya, dan latar belakang ceritanya diisi 'penderitaan'. Tumben nggak menemukan detail karakter kuat wanita di karya ini.
Profile Image for Lutfia.
4 reviews
December 20, 2020
Don't really like the ending. I think we should get everything we want in the right way. Especially for Balinese that very faithful with Karma.
Profile Image for tata.
111 reviews5 followers
October 10, 2021
Dari segi penokohan, Oka di sini kurang greget. Kenanga masih mendahului.
Profile Image for Nengah Krisnarini.
5 reviews2 followers
May 17, 2022
Sebuah pengingat yang baik kalau berpegangan erat kepada dendam berarti merenggut kebebasan dari diri sendiri.
Profile Image for Frida.
12 reviews
May 10, 2022
Novel ini didasari sastra lama Bali. Meski begitu, aku merasa aneh dengan character developmentnya yang terkesan tiba-tiba dan ga berarti. Ditambah penggunaan dialog yang cukup panjang tanpa adanya narasi membuat aku sedikit kurang nyaman membacanya.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.