Nggak tau lagi mau ngomong apa, selain,,, wahh.. wahh.. wah...
Novel sarat nilai religiusitas hinduisme, tidak hanya mengangkat romansa dua insan dalam kemalangan, namun juga nilai-nilai spiritualitas dalam kepercayaan Hindu.
Membaca novel ini sensasinya seperti nikmahnya menyesap es teh di malam dingin ditemani semangkuk indomie soto dengan potongan cabe rawit. Memberi makan makanan yang cukup membahayakan kesehatan badan sekaligus menyajikan penawar agar kita lupa bahaya itu.
Lebih terpukau lagi setelah membaca resensi dan nalar akademik setelah bagian novel pendek ini.
Beberapa poin penting yang kudapat dari novel ini yaitu,
1) Jerum adalah novel yang ditulis dari hasil adaptasi karya sastra kidung Jerum Kundangdya, yang populer di era 1920-1930an, yang tidak diketahui pengarangnya, dan dinyanyikan dengan iringan istrumen rebab, suling, kadang-kadang genggong pula. Di tahun² itu pula seringkali dilakonkan di pentas Arja oleh kelompok kesenian dari Desa Lenganan, Bajra, dan Tabanan.
2) Mengangkat kisah cinta segitiga yang berakhir tragis antara Ni Jerum, I kundangdya, dan Ki Liman Tarub, di mana pertemuan cinta Jerum dan Kundangdya justru terjadi ketika Jerum telah berstatus istri dari Ki Liman Tarub, seorang saudagar kaya yatim piatu yang baik hati.
3) meski mengangkat kisah cinta segitiga, namun penulis mengambil nama tokoh wanita sebagai judul novel, karena (menurut pengamat sastra) sebagaimana karya² sebelumnya seperti tarian bumi, tempurung, kenanga, dan hampir mewarnai seluruh karyanya, menjadi ciri khas dunia perempuan (subordinat, resistensi, kebebasan) khususnya konsep keagungan dan kemuliaan perempuan dalam agama hindu di masyarakat Bali sebagai tema utama dan paling menonjol.
4) sepakat dengan komentar salah satu pengamat di buku ini, hal yang mungkin membuatku tidak lantas berhenti atau menemukan kebosanan sejak awal hingga akhir kisah dikarenakan alur cerita yang padat, to the poin, sehingga meski secara fisik buku ini tipis, namun secara muatan ia kaya.
Pada akhirnya, penulis yang tidak hanya mendapatkan penghargaan lokal, nasional, bahkan internasional ini sangat pantas menjadi sastrawan terbaik di jaman ini. Jadi ketagihan pengen baca karya² beliau yang lain.