Di Bawah Umur bercerita tentang Aryo dan Lana. Aryo diceritakan sebagai cowok tampan yang sering membuat masalah di sekolah. Ia sering berkelahi dengan rivalnya dan juga mantan sahabatnya yang bernama Kevin. Meski begitu, Aryo adalah anak yang sangat berbakti kepada Ibunya. Suatu hari, Aryo melihat siswi baru di sekolahnya. Siswi tersebut bernama Lana, ia baru saja pindah dari Bandung. Saat pertama kali melihat Lana, Aryo langsung dibuat jatuh cinta. Aryo pun perlahan mencoba untuk mendekati Lana. Namun, usaha Aryo untuk mendekati Lana tak berjalan lancar. Sebab, Lana bersikap sangat cuek, ia juga masih menyimpan luka di masa lalu. Sikap cuek Lana tak membuat Aryo putus asa. Aryo terus berjuang, hingga akhirnya hati Lana pun luluh dibuatnya. Namun, setelah Lana mulai membuka hati untuk Aryo, Aryo justru terlibat masalah yang sangat besar. Ia dituduh menghamili sahabatnya sendiri, Naya. Mengetahui hal tersebut, Lana pun kembali kecewa dan sakit hati. Padahal, ia baru saja mulai membuka hatinya kembali. Lalu bagaimana kisah Aryo dan Lana berlanjut? Apakah benar Aryo yang menghamili Naya?
Ceritanya menarik tapi menurutku tokoh Aryo sebenernya borderline creepy. Dia masuk ke kamar perempuan hanya untuk memberi notes kecil dan itu dianggap romantis? Kalau ada seorang lelaki masuk ke kamarku tanpa izin aku bakal takut dan paranoid, dan menurutku ada beberapa plothole di cerita ini, tapi overall easy to read for teenagers
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dapat buku Di Bawah Umur ini dari giveaway, awalnya tertarik karena judulnya catchy. Baru sadar kalau buku ini sudah difilmkan, tapi saya sendiri belum (dan mungkin nggak akan) nonton, karena preferensiku memang bukan ke film romansa anak sekolahan, apalagi produksi lokal—maaf banget, beda selera aja.
Sebagai pembaca usia 25 tahun yang waktu sekolah nggak relate sama kisah cinta-cintaan yang sekeras ini, saya cukup sering geleng-geleng kepala bacanya. Tapi, ya, saya juga sadar, mungkin memang realita remaja zaman sekarang sudah berbeda.
Yang bikin menarik, di buku ini disisipkan juga sex education. Sayangnya, menurut saya pendekatannya agak problematik. Banyak karakter perempuan ditulis “dihamili” sebagai bentuk konsekuensi moral dalam cerita—kayak jadi alat untuk “menampar” karakter utama agar sadar. Jadi cukup sering saya mikir, “Loh, hamil lagi? Buset dah”
Seolah-olah narasinya adalah: kalau kamu masih sekolah dan pacaran kelewat batas, pasti bakal ribet sendiri. Dan itu disampaikan dengan cukup vulgar, bahkan eksplisit, untuk ukuran cerita remaja. Jadi, bisa dibilang, bacanya campur aduk antara mikir, heran, dan sedikit sebal.
Kalau kamu pembaca muda yang butuh peringatan keras soal batas-batas saat remaja, buku ini mungkin akan ngena banget. Tapi kalau kamu pembaca dewasa yang lebih suka pendekatan reflektif atau narasi yang adil pada semua karakter, siap-siap agak terganggu
Secara keseluruhan cukup oke pembahasan terkait remaja. Jarang yang berani bahas hal-hal tabu yang dianggap 'remaja umur segitu gak bakal gitu-gituan' Hanya saja masih banyak terdapat kesalahan penulisan seperti inkonsistensi menulis nama tokoh.