Afrizal Malna (lahir 1957) mengarang memoarnya melalui materialitas dan kekerasan kehidupan sehari-hari di Jakarta, sejak akhir 1950an hingga penghujung abad lalu. Kisah-kisah di dalamnya dituturkan dengan sebuah gaya di antara prosa dan puisi. Tulisannya menunjukkan bagaimana teks, kota dan tubuh secara timbal balik menyatu; satu sama lain saling membentuk diri. Buku ini menggali praktik-praktik pengarsipan, teknologi dan tulisan. Buku ini adalah rekaman yang kaya dan rinci mengenai kehidupan orang-orang Jakarta melalui kacamata salah satu penulis Indonesia yang cerdas, mutakhir dan visioner. Teks ini ditulis dalam bahasa Indonesia.
Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Dri-yarkara (tidak selesai). Buku yang pernah terbit:
1. Abad Yang Berlari, 1984 (mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, 1984) 2. Yang Berdiam Dalam Mikropon, 1990; 3. Arsitektur Hujan, 1995 (mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan RI, 1996). 4. Biography of Reading, 1995. 5. Kalung dari Teman 6. Museum Penghancur Dokumen, 2013
Karya yang terbit dalam antologi bersama:
1. Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto, 1986); 2. Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (Linus Suryadi, 1987); 3. Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan, Kuala Lumpur, 1991); 4. Dinamika Budaya dan Politik (Fauzie Ridjal, 1991); 5. Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (Hendra Pasuhuk & Edith Koesoemawiria, Köln, 1995). 6. Ketika Warna Ketika Kata (Taufiq Ismail, et.all, 1995); 7. Pistol Perdamaian 8. Cerpen Pilihan Kompas 1996; 9. dalam Frontiers of World Literature (Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo, 1997) 10. dalam bahasa Jepang; jurnal Cornell University (Indonesia, Ithaca, Oktober, 1996); 11. dan Anjing-anjing Memburu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas 1997.
Penghargaan lain yang pernah diperoleh:
1. Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Neder-land Wereldomroep, 1981. 2. Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika harian Republika, 1994. 3. Dan esei majalah Sastra Horison, 1997.
Gue baru bertemu karya-karya Afrizal dua tahun lalu, tepatnya sejak pandemi. Dari beberapa buku yang gue coba beli dan baca, memang karya-karyanya sulit untuk dipahami (kalau ada sesuatu yang disebut memahami); terlebih, untuk gue yang terbilang cukup awam mengenal puisi dan hanya tau sepotong-sepotong pusi lirik indonesia dari tugas waktu sma atau smp mungkin, gue juga lupa.
Hingga bertemulah gue dgn buku ini. Afrizal memberikan kata pengantar yang cukup panjang tentang proyeknya: di sini ia mencoba semacam mencari keterhubungan antara, dengan apa yang ia sebut, Biografi dan Arsip. Jika yang pertama lebih bersifat personal, yang kedua lebih bersifat teritorial. Arsip sebagai nahkoda dalam kegelapan biografis, mencari daratan-daratan yang bisa disinggahi, kata Afrizal. Hasilnya, banyak dalam puisi yang terhimpun dalam buku ini kerap melakukan kolase yang personal dan yang pubilk. contohnya:
besok: toko pamanku digusur lagi. dalam ambulans yang membawa mayat pamanku, aku ingin menggusur raungan sirine ambulan. lee kuan yew kembali terpilih jadi pertama menteri singapura. melawan para aktivis ham. jakarta sedang sibuk dan pura-pura sibuk dengan proyek mh thamrin. kampung-kampung diperbaiki. jalan-jalan disemen. masjid dan kantor kelurahan dibangun. setiap hujan turun air yang masuk ke dalam rumah bertambah tinggi.
(penggusuran hari esok)
Dibanding pengalaman gue membaca karya-karaya Afrizal sebelumnya, pengalaman di sini, entah kenapa, terasa lebih menyenangkan. Kemungkinannya dua: pada karya-karya sebelumnya, gue belom terbiasa membaca puisi Afrizal; atau, memang ada kebaruan di karya ini dibanding karya-karya sebelumnya. gue belom bisa menjawab.
late afrizal > young afrizal. love his short pandemic collection, "tembakan dalam masker hmm", which showed a welcome turn (for me) back into biography, short afrizal journal entries on finding a new kosan, moving to sidoarjo at the age of 60+, sad but filled with vigour. this doorstopper is way more conceptual, an "otopuisi" or "puibiografi" (puing2 biografi), says his translator daniel owen in the blurbs — a deceptively structured collage of wikipedia "on this day" entries and the poet's own historiography (a highschool prom where someone got stabbed, working as an accountant in tanjung priok port — dude has lived fr) that makes me question: what is more important, my life or the world's? the wiki entries are casually curated but with intention to shadow the poet's memory, which makes me also think: how much can you interfere in the canonization of your own his/herstory?
Mungkin kedengeran norak, tapi jujur, ini pertama kalinya gw membaca buku puisi (juga autobiografi in some sorts) yang berhasil memadukan kerja pengarsipan sejarah yang detail dengan memori personal yang saling tumpang tindih. Hasilnya? Karya yang terasa begitu segar dan berbeda dari kebanyakan, setidaknya buat gw.