Sebuah Novel Wayang Berbahasa Indonesia Sebuah kisah pertempuran besar dunia wayang itu ditafsirkan kembali secara begitu rinci dalam 123.000 kata!! Kisah yang diangkat dari sudut pandang naskah pedalangan Surakarta dan Yogyakarta, diceritakan begitu nyata dengan bahasa lugas seolah semua itu ada di depan mata!
*****
“..sehari kemarin hujan gerimis mengguyur Kurusetra, uwa Prabu. Pagi hari ini kabut terlihat pekat menyelimut padang itu..” “... kabut..”, hanya kata-kata lirih yang keluar dari orang tua kurus itu. Wajahnya cekung. Matanya buta sejak lahir. Sang Destarastra. Bapak para Kurawa. “.. kabut itu merah..” kata seorang kekar yang bicara kepada Destarastra. Bernama Raden Sanjaya. Anak dari Arya Widura, adik Destarastra. Berkata tentang halimun pagi di penglihatan sukmanya yang tampak janggal. Lamat-lamat berwarna merah darah. “.. mengapa kabut itu berwarna merah?” “..entahlah, uwa Prabu..” Terlihat bibir Destarastra bergetar seperti hendak berkata tapi tak juga menyeruak kalimat terdengar. Hari itu adalah hari ke-empatpuluh empat sejak pagi pertama gelar pertempuran besar dua trah saudara, Pandawa dan Kurawa, harus berhadapan dengan pilihan hidup atau mati. Sementara Sanjaya tampak hanya duduk diam dengan wajah tertunduk, sang Destarastra dengan tatapan kosong matanya yang buta terlihat menengadah. Perlahan tipis mengalir air mata di pipinya “..apakah kamu melihat tanda-tanda perang akan disudahi?” Sanjaya hanya menggeleng. Aneh, Destarastra tentunya tak melihat itu, tapi sepertinya Destarastra tahu jawaban Sanjaya tentang perang yang akan tetap terus berlangsung. Sanjaya adalah ksatria yang istimewa. Memiliki kesaktian ajian meraga-sukma. Sebuah ajian yang luar biasa. Banyak orang menganggap ajian ini hanyalah mitos atau khayalan belaka, karena memang hanya segelintir orang yang bisa dengan sempurna mengamalkan ajian ini. Menurut kabarnya, ajian ini adalah berwujudan dari sikap berserah diri kepada Sang Pencipta, sehingga pada puncak pengamalannya, yang terjadi adalah sang sukma orang yang mengamalkan ajian ini dapat keluar dari raganya untuk menempuh sebuah perjalanan. Dan pada tataran tertinggi ajian ini, perjalanan itu bisa menembus batas-batas ruang dan waktu. Sang sukma yang melakukan perjalanan dapat tiba-tiba berada pada suatu tempat sangat jauh dari tempat raga berada. Bahkan tidak hanya itu, sang sukma bisa mengembara ke masa lampau atau pun masa depan. Walaupun mungkin tataran ajian meraga-sukma yang bisa diamalkan Sanjaya ini masih dalam kemampuan sedang, hanya membawa sukma keluar badannya dan pergi jauh hanya pada saat yang sama, tapi hal itu sudahlah cukup. Hari demi hari dengan sabar, Sanjaya menceritakan apa yang dilihat sukmanya yang mengembara di Kurusetra pada saat yang sama, dan menceritakan dengan rinci setiap kejadian kepada Destarastra setiap malam harinya. Tapi pagi ini agak berbeda. Matahari belum juga sempurna memunculkan sinarnya, ketika Destarastra bergegas berjalan tergopoh merabakan tongkatnya menyusuri lorong istana menuju ke kamar kasatrian tempat Sanjaya tinggal. Destarastra meminta Sanjaya pagi itu sebentar meraga-sukma. Sekedar ingin melihat suasana pagi Kurusetra di antara hari-hari suasana pertempuran. Lebih dari satu purnama perang Baratayuda pecah di medan padang tandus Kurusetra. Dan pagi hari saat temaram, bau anyir begitu terasa. Sukma Sanjaya yang barusaja mengembara ke Kurusetra menjadi saksi yang tampak di sana berupa pekat kabut lamat-lamat berwarna merah. Di atas tanah gelap yang dimana-mana terkapar begitu saja jasad mati bersimbah darah...
*****
Hanya tersedia di Google Play Books dalam bentuk ebook. Judul Novel : Baratayuda, Kisah Kabut Merah Di Atas Tanah Bersimbah Penulis : Pitoyo Amrih Tebal halaman dalam format 14 x 21 cm : 608 halaman
Membaca, membuatnya tergerak untuk juga menuangkan ide, pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sejak tahun 1997 dia banyak menulis artikel yang lebih banyak bertema pemberdayaan diri terutama dalam lingkup diri dan keluarga. Sejak tahun 2006, Pitoyo mulai menulis buku yang mengangkat kembali falsafah dan nilai kearifan budaya Jawa yang tersalut dalam kisah-kisah Dunia Wayang.... profil selengkapnya
Sebagai seseorang yang sudah menyukai kisah pewayangan sejak kecil, saya sangat terhibur dengan novel Baratayuda karya Pitoyo Amrih. Kisah pewayangan selalu jelas menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, sikap ksatria melawan kezaliman, serta kejujuran yang menantang angkara murka. Jarang ada novel yang mengangkat kisah epik Baratayuda, dan karya Pitoyo Amrih ini berhasil membangkitkan nostalgia saya terhadap kisah klasik tersebut.
Menceritakan kisah Baratayuda dalam satu novel tentu tidak mudah, mengingat kompleksitas plotnya yang sangat banyak. Bagi pembaca yang tidak familiar dengan kisah Mahabarata dan Baratayuda, mengikuti alur cerita dalam novel ini bisa menjadi tantangan. Namun, saya mengapresiasi usaha Mas Pitoyo untuk menulis novel ini, dan saya rasa beliau cukup berhasil dalam upayanya.
Saya juga sangat menyukai cara bertutur Mas Pitoyo Amrih yang khas dan menggugah imajinasi. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang menurut saya kurang perlu, seperti cerita tentang kaum Banaspati dan Gandarwa yang memakan jasad prajurit yang tewas di Kurusetra, yang terasa diulang-ulang dan kurang relevan. Selebihnya, novel ini cukup menghibur dan memberikan perspektif baru bagi penggemar pewayangan.
Kisah tentang perang dunia Wayang, perang Baratayuda. Pertempuran hebat ,antara pihak Pandawa dan Kurawa, keduanya adalah keturunan wangsa Barata, sehingga perang ini dinamakan Baratayuda. Pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, satu pihak ingin menguasai dan pihak lain ingin mempertahankan hak nya. sejatinya perang ini adalah perebutan kekuasaan.
Pitoyo Amrih menceritakan setiap peristiwa, latar belakang, dan suasana cukup detil, walaupun ada beberapa pengulangan yg seharusnya tidak perlu.
Membaca kisah ini membawa saya kembali ke masa berpuluh tahun yang lalu ketika membaca serial komik Mahabharata dengan tokoh-tokoh yang sama. Cerita-cerita yang mungkin menjadi awal mula saya hobi membaca..:)