Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tahun Penuh Gulma

Rate this book
Peraih Neev Book Award 2019 kategori Young Adults

Korok hidup di desa kecil suku Gondi di negara bagian Odisha, India. Bocah putus sekolah yang masih berusia belasan ini sehari-hari bekerja sebagai tukang kebun yang terampil. Sedangkan Anchita, putri seorang pejabat pindahan, menempati rumah tempat kebun yang dirawat Korok berada.

Suatu hari mereka berdua mendengar rencana perusahaan dan pemerintah untuk menambang bukit yang disakralkan oleh suku Gondi. Orang-orang desa menentang rencana penambangan ini, tetapi mereka harus berhadapan dengan aparat keamanan.

Apakah yang bisa diperbuat tukang kebun remaja yang tak tahu banyak tentang dunia luar, bersama seorang gadis remaja dengan komputer, untuk menghadapi orang-orang dewasa yang paling berkuasa ini?

“Meski diterbitkan sebagai novel remaja, ini buku yang semua orang perlu baca.” —Scroll.in

248 pages, Paperback

First published October 22, 2018

17 people are currently reading
386 people want to read

About the author

Siddhartha Sarma

9 books26 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
126 (47%)
4 stars
108 (40%)
3 stars
23 (8%)
2 stars
4 (1%)
1 star
6 (2%)
Displaying 1 - 30 of 74 reviews
Profile Image for Puty.
Author 8 books1,378 followers
May 7, 2022
Saya selalu kagum pada buku yang bisa menceritakan sesuatu dari sudut pandang anak-anak, apalagi kalau melibatkan isu yang kompleks. 'Tahun Penuh Gulma' langsung dapat 10/10 dari saya karena berhasil menceritakan permasalahan sosial, politik, birokrasi dan lingkungan yang begitu rumit dan penuh intrik ke dalam sebuah narasi dari dan untuk anak-anak.

Buku ini berpusat pada kehidupan Korok, seorang anak laki-laki dari Suku Gondi yang mendiami sebuah bukit yang ingin dijadikan tambang bauksit oleh negara. Familiar? Heheheheheheh :p Premis ini kemudian berkembang menceritakan tentang polisi yang korup, intrik perusahaan dan negara untuk memindahkan suku Gondi dari tempat tinggal mereka; mulai dari cara yang halus (iming-iming bahwa tambang akan membuka lahan pekerjaan) sampai yang sangat politis. Apakah Korok dan suku Gondi akan terusir dari tempat tinggal mereka?

Secara storytelling, buku ini berhasil membuat kita berempati dan menyelami situasi suku asli yang 'terpaksa' harus meladeni kepentingan orang kota. Walau tidak mengeksploitasi kemiskinan dan kesengsaraan, buku ini bisa menggambarkan segala keterbatasan yang dialami Suku Gondi dalam melawan ketidakadilan. Detil-detil penting terkait kepercayaan Suku Gondi dan situasi politik India juga dirajut dengan rapi ke dalam cerita. Resolusinya masuk akal tanpa glorifikasi berlebihan terhadap karakter tertentu, namun cukup lah memberikan semangat juang bagi pembaca yang lebih muda dalam melawan ketidakadilan.

Seru, super recommended!
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
May 6, 2021
Bagi yang sudah membaca Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang, pasti tidak asing dengan lini penerbitan Marjin Kiri yang baru bernama Pustaka Mekar. Misi lini penerbitan itu yakni menerbitkan bacaan dengan target utama anak-anak dan remaja. Nah, bocoran kecil saja, buku karya seorang India ini merupakan buku kedua dari lini Pustaka Mekar. Jadi, sudah barang tentu buku ini masuk dalam misiku menyelesaikan buku anak-remaja pada April 2021.

Oke. Satu kata: Mencengangkan! Kata itu merupakan wakilku untuk memberi kesan atas buku ini. Aku akan mengulasnya untuk menjabarkan kenapa kata itu yang mewakili kesanku atas buku ini. Tapi mungkin nanti malam atau besok. Tinta bolpoin yang biasa untuk menuliskan anotasi di buku catatan kecil rusak dan membuat tidak berfungsi sempurna sehingga tidak bisa dipakai lagi. Nah, aku akan membelinya segera. Lalu, aku akan menuliskan ulang anotasi yang tercecer di beberapa lembar post-it notes. Setelahnya, baru akan mulai membuat ulasannya.

Jadi, sampai aku menyelesaikannya, silakan cari tahu dulu seputar buku ini!

***

Nah ulasannya di sini: https://bit.ly/KisahKorok
Profile Image for Keerthi.
67 reviews19 followers
December 27, 2019
Ignore the YA tag. This book needs to be read by everyone who remotely works around development policy.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
January 29, 2021
...perusahaan-perusahaan seperti ini, mereka seperti gulma. Kita tidak bisa menghentikannya kalau mereka mau mengambil alih. Mereka kompak, penuh tekad, sangat kuat, dan punya banyak uang... Kalau mereka menginginkan petak bungamu atau desamu atau bukitmu, mereka akan mendapatkannya. Pemerintah akan memaksamu pindah dan memberikan tanahnya kepada mereka.
(hal.49)

Kutipan di halaman-halaman awal ini sejatinya sudah menjadi kelindan hubungan antara pengusaha dan penguasa. Kemudian ditambah bagaimana bobroknya sistem kepolisian, jadilah trinitas ini akan merangsek orang-orang kecil seperti Korok dan suku-suku Gondi, yang adalah pemilik sejak lama bukit Devi. Di bukit tersebut juga terdapat tempat pemakaman nenek moyang leluhur mereka, yang disebut hanal kot. Lebih dari itu, sejak lama kawasan Perbukitan Devi ini adalah hutan cagar, yang harus dilindungi. Namun, lagi-lagi perselingkuhan antara penguasa-pengusaha-dan-pengampu keamanan menjadi keladi dalam novel ini.

Saya sangat menikmati, hingga muncul insiden di akhir-akhir novel yang menurut saya sangat film India (Bukan menjelekkan). Tampak sangat kebetulan dan harus happy ending. Terlebih sosok Korok menjadi sangat heroik sebab mengusulkan pemungutan suara. Memang sejak awal Korok digambarkan anak kecil dengan cara berpikir yang sudah matang--mungkin sebab sudah menjadi sebatang kara.

Terdapat dua anomali menarik yang disampaikan Korok dalam novel ini perihal gulma. Pertama, gulma meski hadir mengganggu tetapi tidak pernah membunuh tanaman inang. Apalagi mengusir, mereka parasit saling berlomba, tetapi tidak separasit perusahaan yang menjadi gulma hidup bagi perbukitan Devi. Kedua, bahwa segesit dan secermat Korok membasmi gulma, kelak saat musim dingin dan hujan membasahi tanah makan gulma akan tumbuh lagi. Perselingkuhan dalam novel ini, serajin apa pun kita basmi, akan selalu muncul di setiap masanya.

Sebab kenyataan itu, mungkin keharusan happy ending dalam novel ini masih bisa oke. Sebab dalam kenyataan gulma-gulma akan tetap ada. Biarlah di novel, setidaknya, Korok berhasil mengusir gulma.
Profile Image for Tirani Membaca.
126 reviews1 follower
April 23, 2023
Novel yang menceritakan tentang perjalanan Suku Gondi dalam melawan perampasan bukit Devi, sebuah bukit keramat bagi mereka, yang dilakukan oleh Perusahaan dan Pemerintah. Tokoh utama kita adalah Korok, seorang tukang kebun seorang pejabat lokal yang jujur. Nantinya, Korok berteman dekat dengan Anchita, anak pejabat lokal tersebut. Dan Anchita menjadi salah satu orang yang dengan gigih membela suku Gondi dalam proses mereka melawan Perusahaan dan Pemerintah.

Aku terkesan sekali dengan terjemahan novel ini. Mengalir, mudah dimengerti, dan seru. Penulis novel ini pun gak lupa menyisipkan berbagai kritik untuk setiap pihak yang terlibat. Ada banyak sekali hal yang bisa direfleksikan ketika aku membaca buku ini, termasuk dalam melihat gerakan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat adat. Buku ini membuka perspektif baruku dalam melihat isu tanah adat.

Jika melihat dari perspektif buku anak, buku ini pun isinya ‘daging’ semua dan sangat bisa jadi bahan diskusi antara anak dan orang tua. Kalau sudah punya anak, buku-buku Pustaka Mekar dari Marjin Kiri seperti ini akan jadi bacaan wajib untuk anak-anakku kelak 😆

Aku berharap Marjin Kiri gak pernah berhenti dalam berburu, menerjemahkan, dan menerbitkan naskah-naskah terbaik. Aku akan selalu setia menunggu buku-buku Marjin Kiri. Penerbit favorit! ♥️
Profile Image for Osama.
583 reviews87 followers
October 24, 2025
قد تكون هذه تجربتي الأولى لقراءة الأدب الهندي وهي موجهة للقراء الشباب. تحكي قصة قوم من عرقية قوند تسكن أرض تمتاز بزراعة الأعشاب الطبية النادرة. تقرر حكومة الولاية استغلال المعادن الموجودة في باطن الأرض وتحويل المنطقة إلى مناجم، مما يهدد وجود السكان الأصليين. أعجبتني الرواية إلى حد ما وأخطط لقراءة رواية أخرى لنفس المؤلف مستقبلا.
Profile Image for Ritika.
329 reviews43 followers
September 23, 2020
It could have been better. Oh! it could have been so much better. If you have read The Grasshopper's Run and loved it, then you would know the brilliance of this author and the sheer potential that he has to write amazing stories about the people and the things that are forgotten or on the path of doing so.

Year of the Weeds, though began quite well and the progression seemed equally enjoyable, the ending seemed somewhat rushed through, like the author wanted to finish it off within those few pages.

I would have given it a 5 star rating, had the pace of the story not changed abruptly, from an enjoyable marathon to a blinding sprint. It just somehow felt incomplete.
Profile Image for melmarian.
400 reviews134 followers
August 8, 2021
Buku YA yang mengangkat isu lingkungan hidup. Perusahaan (dengan dukungan Pemerintah) hendak menggali bukit tempat tinggal Suku Gondi untuk dijadikan pertambangan bauksit. Suku Gondi punya daya apa di hadapan mereka yang berkuasa?
Aku suka sekali dengan penulisan buku ini yang jenaka dan tak jarang 'menyentil'. Persahabatan Korok yang polos dan Anchita yang rebel sungguh menggemaskan. Buku ini juga diterjemahkan dengan bagus sekali oleh Mbak Uci.
Profile Image for Astrid Lim.
1,325 reviews46 followers
May 9, 2022
What a hearbreaking (but also heartwarming) book, a simple narrative for a huge issue. Indigenous discriminations, environmental challenges, corruption, power play - everything that is so scary, but also familiar, in a modern world, including Indonesia.

This book, with the setting of India, opened my eyes to many things I didn't know about the country, including the indigenous tribes. A great book especially for younger audience, and the translation is great too.
Profile Image for Raven.
467 reviews39 followers
May 31, 2022
Bacaan ringan sarat sindiran tentang Pemerintah, Perusahaan, & Aparat korup vs Suku Gondi yang hidupnya amat sangat sederhana. Jadi kepikiran nasib suku2 Indonesia yang sering tertindas 🤧
Profile Image for syarif.
295 reviews58 followers
September 13, 2023
Hidup lagi tenang-tenangnya eh malah mau digusur sama pemerintah?

Novel dengan isu segar terkait lingkungan ini menggunakan POV remaja kecil bernama Korok dari suku Gondi yang senang berkebun di sebuah desa di India. Doi kerja di rumah pejabat kehutanan yang baru pindah dan konon terkenal jujur hingga sering dimutasi (eyes) hingga berteman dengan anaknya bernama Anchita. Suatu hari kedamaian mereka terusik karna bukit yang disakralkan mau ditambang.

Gak main-main, lawan mereka adalah perusahaan ternama dengan pemerintah setempat. Kebayang gak sih apa yang bakal dilakuin 2 remaja buat menyelamatkan desa mereka degan fasilitas yang serba terbatas?

Buku terjemahan satu ini enak untuk dilahap dan nyaman dibaca. Topik yang diangkat pun gak pasaran dan bakal dibikin geram sama 'oknum' yang licik hingga memainkan hukum seenak jidat mereka. Memang sangat layak novel ini mendapat Neev Book Award 2019 kategori Young Adults!!.
1 review
June 19, 2020
Author: Siddhartha Sarma
Publisher: Duckbill, 2017
ISBN: 9789387103115.

Siddhartha Sarma’s book “Year of the Weeds”, published by Duckbill, is a fictional retelling of the Niyamgiri agitation which took place in Western Odisha, a relatively poor State in eastern India.

Korok, the young protagonist, is a Gond. Gonds are a poor tribal community in Odisha, often invisible to the administrators of India. He is the gardener of the Forest Officer’s garden. He has had a rough time recently as his father, his only surviving parent, is in jail for a crime he didn’t commit. Furthermore, the government official takes his bicycle. This has led to Korok being very afraid of policemen. The Forest Officer’s daughter, Anchita, is a curious girl who likes sketching. Anchita becomes friends with Korok. There is a very big difference between Anchita’s world and Korok’s world. Unlike Korok, Anchita is fortunate enough to go to school. When she visits his one room home, she finds that all the products he uses are fake. This includes the food he eats and the toothpaste he uses to clean his teeth.

Close to Korok’s village lies the sacred hill of the Gonds. Korok believes that his mother’s spirit is resting there. One day Korok’s life changes, after hearing news from the Government that their hill is to be dug up by a powerful company to extract bauxite (a valuable ore used in industry). The Gonds do not want this to happen and are annoyed that they do not even have a say in whether the hill should be dug up. The Government, represented by a very corrupt police officer, Patnaik, and the Company’s enforcer, Ghosh, are determined to go ahead with their plans. Anchita joins the fight with the Gonds to protect their hill. The book goes on to talk about the fight between the Gonds and the Company. The account is exciting, and full of all sorts of unexpected events that take place.

When I was asked to read this book, I had never even heard of this author and thought that this was a waste of time. However, Siddhartha Sarma has made this book come to life and I am able to vividly picture what happens during the course of the story. One of my favourite characters is Bishto, the bus conductor. This is because he reminds me of God. Whenever the Gond villagers need him, he turns up with his bus, just like God.

When I spoke to the author, one sentence he said was, “I never imagined to write a bestseller but I wanted to write about tribes in rural India as they are often seen as invisible.” It stuck in my head since I never imagined there could be an interesting and readable book on the obstacles that tribal people face. However, I think Siddhartha Sarma has explained the difficulties of villagers in a good way the readers can understand.
I would recommend this book to ages nine and over since there are some complex scenes which might be difficult for young children to understand.
Profile Image for Willy Alfarius.
92 reviews7 followers
March 26, 2023
Dihadirkan dalam edisi Indonesia sebagai bacaan anak, saya rasa novel ini jauh melampaui dan memberikan penjelasan dengan sangat ciamik bagaimana struktur kekuasaan bekerja dan seringkali menindas melalui berbagai caranya. Diterbitkan dalam lini Pustaka Mekar -bacaan khusus anak dan remaja dari Penerbit Marjin Kiri, novel tulisan Sarma ini menyajikan suatu cerita yang sederhana mengenai seorang bocah remaja bernama Korok, seorang tukang kebun miskin dari suku Gondi di India yang bersama-sama dengan warga sedesa mengalami ancaman penggusuran oleh rencana pembukaan tambang bauksit di lahan perbukitan di desanya. Sebagaimana ancaman industri ekstraktif di manapun, mereka sebagai warga desa kerap diposisikan seolah tidak ada dan tidak memiliki suara apapun, dan seolah kehadiran korporasi bersama pemerintah yang akan membuka tambang akan membantu mereka keluar dari (dalam pandangan elite) kemiskinan yang menjerat mereka.

Di titik inilah permasalahannya. Selalu warga yang terdampak akan diposisikan sebagai yang tidak penting, sehingga pendapat mereka tidak sama sekali didengarkan, apalagi ruang hidup mereka yang terancam akan dicerabut kapanpun penguasa mau. Sarma memberikan gambaran dengan baik bagaimana kemudian pemerintah melalui berbagai aparaturnya, termasuk dalam hal ini polisi, kawin-main dengan korporasi melakukan berbagai cara untuk dapat mengusir orang-orang yang dianggap menghalangi usaha mereka. Sarma menyajikan semua ironi beserta satire dan olok-olok dari semua tingkah laku mereka yang memang hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri. Rasanya, bagi saya, ini bukanlah novel melainkan semacam hasil penelitian etnografi saking realisnya gambaran yang disajikan, kendati dengan begitu asyik Sarma mengemasnya sehingga menjadikan cerita di sini tetaplah sebuah novel.

Selain alur cerita dan penggambaran yang sangat cerdik dari Sarma, penerjemahan buku ini juga dilakukan dengan sangat baik. Sangat direkomendasikan untuk anak-anak agar dapat lebih peka terhadap keadaan sosial dan memahami betapa rumitnya sebuah sistem kuasa bekerja sejak dini.

Salah satu buku terbaik yang saya baca pada 2023 ini.
Profile Image for Khansaa.
171 reviews214 followers
June 10, 2022
Awalnya buku ini tidak terlalu menarik perhatianku. Aku cuma tau bukunya membahas tentang isu lingkungan, namun setelah membaca beberapa ulasan teman, ternyata buku ini membahas isu yang kompleks dari sudut pandang remaja.. langsung penasaran, gimana ya isu yang kompleks dibikin jadi lebih gampang dimengerti?

Buku ini berkisah tentang Korok, masyarakat Suku Gondi yang tinggal di sebuah bukit yang mengandung bahan tambang berharga: bauksit. Suku Gondi dipaksa untuk meninggalkan wilayahnya dan bahkan dikriminalisasi oleh polisi setempat. Ketika membaca buku ini, kamu akan berjuang bersama Suku Gondi untuk mempertahankan wilayahnya, meskipun dengan berbagai keterbatasan.

Menurutku storytelling buku ini menarik, terutama ketika membahas kontrasnya pertemanan Korok dan Anchita. Anchita yang merupakan pendatang dari kota mengajarkan Korok berbagai hal mulai dari komputer, internet, sampai menguji keaslian pasta gigi. Korok mengajarkan Anchita tentang tanaman, budaya Suku Gondi, dan bagaimana mereka hidup sehari-hari.

Aku awalnya menghindari buku ini karena membahas isu yang berat, ternyata penulis dapat membahasnya menjadi ringan dan mudah dimengerti. Padahal banyak topik sensitif yang dibahas, mulai dari isu lingkungan, politik, hukum, birokrasi, sampai kekerasan polisi. Ngga heran buku ini dapat penghargaan Neev Book Award 2019 kategori Young Adults.
31 reviews3 followers
September 7, 2020
India is a melting pot of ethnic groups, each unique in customs and beliefs. To understand India is to accept the tribals along with their rich heritage that is native to this land.

In his novel Year of the Weeds, Siddhartha Sarma describes a tiny Gond village in Odisha through the eyes of a young boy Korok who lives alone as his mother is no more, and his father is in jail though innocent of any crime. The usually timid Gond tribals resist the attempts of a bauxite mining Company to take over their precious land, a treasure chest of legends handed down through their ancestors. Korok would never leave his sacred hill. With the help of the feisty Anchita and her powerful family, Korok who tends their garden, learns to stand up for his rights. The author explores the bureaucracy that government officials can't escape. Korok and Anchita spring to life and even a five year old child can relate to this story about unfairness and inequality told lightly with wit and in depth knowledge of the Gond way of life.
Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews258 followers
February 27, 2021
Pemerintah dan Perusahaan sama seperti gulma.....

Dengan penuturan yang sederhana, layaknya pemikiran sederhana seorang anak suku Gaodi bernama Korok, berhasil menggambarkan masalah sosial, ekonomi serta politik yang terjadi di wilayah sumu Gaodi.

Baca kisah ini, bener-bener nggak mau buru-buru. Perlahan tapi bikin nggak mau berhenti.
Profile Image for Smit Zaveri.
61 reviews12 followers
November 14, 2018
A triumph! Such a powerful book about a small voice that’s always marginalised for being different from the “norm”. Lovely, lovely, lovely.
Profile Image for Tanu.
10 reviews13 followers
October 30, 2018
A common lament that crops up in conversation with fellow readers of children’s literature is the absence of the invisible people in books – the marginalised, the village boy who lives under a leaking thatched roof somewhere in the interiors of the country, a girl who is allowed to go to school only if her share of work at home is done and so on. So when I saw this book, I made a mental note to personally thank Siddhartha Sarma on behalf of many of us out there.

Siddhartha Sarma’s Year of the weed is set in a small Gond village on Odisha. Korak is a teenaged boy quite content in being a gardner at the Forest Officer’s home. He speaks very little, unlike Anchita, the Forest officer’s daughter who likes to sketch and considers Korak her friend.

Korak’s very common, unnoticeable life changes when the Government tells the Gonds to vacate their land since a company wants to mine the sacred hill for bauxite. What follows is the circus we see everyday from the other side sitting pretty in our living rooms and lapping it all up. The difference here is that the circus is seen through the eyes of the Gonds.

You would smile knowingly at places in the book and feel ashamed at others, knowing fully well that this is not far from the truth and that we choose to do nothing about it. Korak’s innocent observations are cleverly layered by the writer shoving the truth gently in your face leaving no room for the reader to hide. The description is so vivid that when sweat trickles down Sorkari Patnaik’s forehead, you can feel the heat too. The way the Gonds think and speak is so relatable. I can imagine this is how it would be. Mostly because in my limited experience with talking to village kids up in the mountains, initially I only got shuffles, and absent-minded nods as replies. Without naming any names, he has managed to take a potshot at every politician and system running the show today. Little things that went in to making of this story get you to think. Anchita’s insistence on feeding Korak ‘kek ‘ (cake), for instance, is something we, standing from where we do would see as a perfectly normal thing to do. What if stuff we think of as delicacy and hence a privilege, is unpalatable to the one who seems (to us) to be in need of everything ? It gets you to stop and rethink.

My only gripe is the label YA. It is perfectly fine for teenagers as well as grown-ups. In fact I insist that everyone read it. It is essential that stories like these are read and discussed.

The only reference that the older one was able to give me about Gonds was, ‘yeah, it is a tribe. We fleetingly read about them in grade 7 or 8 I think.’ I pressed the book in his hands and asked him to read it. His exams are on. I hope he reads it soon. Then we can talk about it. Till then I shall patiently wait.

Go on, pre-order it.
5 reviews1 follower
March 22, 2020
At its heart, ‘Year of the Weeds’ is an amalgamation of stories of various stakeholders in Indian tribal politics connected by a common string – a proposed mining project in hills regarded by the native Gond tribe as sacred. It gives a refreshing insight into the lives of marginalized tribes, corrupt administrators, for-profit companies and their lobbyists and the overarching Indian legal system. The book succeeds partially in transporting us to Devgaon, a tribal village in Orissa, and opens our eyes to the plight of the underserved.

‘Year of the Weeds’ is a story of how Anchita, daughter of a Forest officer, develops an unusual relationship with Korok, a Gond kid and the protagonist of the story – she introduces her to urban food, thoughts, movies and ideas while he educates her on tribal rituals, beliefs and practices. It is also the story of how Patnaik, a corrupt police office, overextends his administrative power and mistreats tribals drunk with power that comes with office. It is a story of how Ghosh, the cunning lobbyist hired by the mining company who comes to Devgaon to ‘fix’ the situation and employs an elaborate scheme to shape the perception of Indian population against the tribals by planting stories about their alleged involvement with Maoists. The book is also the story of Jadob, one of the rare tribals who was fortunate enough to be educated, but comes back to help his people escape the complete apathy shown by the Indian government. But mostly, ‘Year of the Weeds’ is a story of the Indian legal system – how it moves like an elephant, grindingly slow and massive enough to crush anyone fighting it. It is a system that keeps innocent tribals like Korok’s father in jail as court dates keep getting pushed back. It is a system where no one bats an eye as the District Collector takes revenge upon the tribals for protesting non-violently as he prevents Gonds from receiving government aid in the midst of a severe drought. And lastly, it is a system that literally deliver tribals into the hands of Maoists by spreading rumors and backing them into a corner.

Throughout all of this, what stands out is the author’s portrayal of the idyllic tribal life. It might appear as too simple to the average Indian, but it’s a culture with intricate customs, beliefs and a sense of oneness seldom found in Indian metros. While portraying the story, the author does miss out on certain nuances – there is no dissenting voice within the village, the tribals are lucky to not get caught in paperwork at the Supreme Court, the language barriers are overcome easily. However, these are few simplifying assumptions that the author makes to deliver his story of the plight of an Indian tribe ravaged by the government’s sudden and unilateral decision to uproot them for the sake of their own so-called “good”. And in this, the author delivers a resounding victory.
Profile Image for Rei.
366 reviews40 followers
February 11, 2023
...perusahaan-perusahaan seperti ini, mereka seperti gulma. Kita tidak bisa menghentikannya kalau mereka mau mengambil alih. Mereka kompak, penuh tekad, sangat kuat, dan punya banyak uang... Kalau mereka menginginkan petak bungamu atau desamu atau bukitmu, mereka akan mendapatkannya. Pemerintah akan memaksamu pindah dan memberikan tanahnya kepada mereka.
(hal.49)

Perbukitan Devi, yang merupakan lahan hutan dan dikeramatkan oleh suku Gondi yang mendiami desa-desa sekitar, ternyata kaya akan bauksit. Pemerintah dan kepolisian lokal bergerak cepat kongkalikong dengan sebuah perusahaan pertambangan raksasa untuk mengusir suku Gondi agar tambang bauksit baru segera dibangun.

Korok, seorang remaja piatu, bekerja menggantikan ayahnya mengurus kebun di rumah dinas Pejabat Kehutanan Divisi (PKD), dan bersahabat dengan putri sang pejabat, Anchita, gadis cerdas sebayanya. Anchita tak hanya mengamati Korok bekerja mengurus kebun, ia juga seringkali mengikuti Korok mengunjungi hanal kot (makam) ibunya di bukit. Korok banyak mengajarinya tentang adat dan kebiasaan suku Gondi, sementara Anchita mengajari Korok tentang kompitar dan internet, dan mengajaknya menonton berbagai film di kompitar.

Kebobrokan sistem pemerintahan dan kepolisian serta keserakahan kaum kapitalis menjadi topik utama yang oleh Korok diumpamakan seperti gulma yang kerap mengganggu kebunnya. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, segala tindakan yang dilakukan para tokohnya dijelaskan dengan gamblang (no hint of sarcasm or irony lol). Gara-gara blurb, aku juga berharap Korok dan Anchita akan beraksi penuh gaya, namun ternyata sebagian besar perjuangan mempertahankan perbukitan Devi dilakukan oleh Jadob, seorang lelaki desa berpendidikan dan memiliki banyak koneksi di kota-kota besar (malangnya Jadob, sudah bekerja keras tapi bahkan tidak disebut di blurb).

Awalnya aku berdebar-debar bersiap untuk akhir yang buruk bagi Korok dan desanya, namun setengah jalan aku paham kisah Korok dan suku Gondi akan berakhir bahagia. Apalagi setelah Korok (yang putus sekolah dan nyaris buta huruf) mulai menelurkan ide-ide cemerlang. Walaupun begitu aku tetap menikmati membaca buku ini, terutama wawasanku terbuka akan bagian India yang lain dan kehidupan suku Gondi beserta segala ketidakadilan yang mereka terima akibat kesewenang-wenangan penguasa (familiar ya?). Bagi yang suka dengan konflik sosial yang diceritakan dengan gaya yang ringan dan diksi yang sederhana, pasti suka dengan buku ini. Kurasa gaya terjemahannya pun menambahkan banyak kelucuan ('kalian sudah lihat cas-casanku?' Aku: omg CAS-CASAN!)

Omong-omong, dalam bayanganku Patnaik itu sepertinya Inspektur Gaitonde, polisi gendut nan sadis tapi cupu dalam Drishyam.
Profile Image for Namrata Sharma.
3 reviews
January 29, 2021
I picked this book up 2 years back, in August'19, loved it, but my bad headspace got in the way.
Picked it up again in Jan last year. Same thing.
Bad headspace makes you do a lot of things, or not do them, for that matter.
This book had been on my desk in direct view since November. Finally started reading it in Jan'21. Couldn't have done it at a better time. Keep reading to find out why.
.
Rural setting. Odisha. Tribal way of life, but vastly different from what most of us have been fed to believe all our lives.
As you read, you'll realise how similar it is to the political state of our country right now,
how beautiful colors like orange and red have been deeply, deeply maligned by the powers that be.
The book has been labelled YA, rather unfortunately, because it should be read by anyone and everyone that can spare any time to read.
We sit in our air-conditioned houses, where electricity and running water is the norm,
where the next meal is a given, not a luxury,
where a child has toys and a school, not tools and a workplace.
Right now. A lot of us need hope. Reading this gave me some. For years now, we wake up, do our jobs, hear the same kind of news every single day. Every. Single. Day. I can not recall the last time I actually saw or read a piece that wasn't draining.
In the midst of this relentlessly dour stream of content, a bit of fiction, that's very close to our reality, certainly helps. We have not had the good fortune of postive results so far. If a little boy in a fictional world does, we can live vicariously through him just for a moment. And hold on to hope.
For us too, there are gardens lying ahead. If only we could uproot the weeds.
.
We grew up reading mostly about foreign authors, compared to a very short list of only the most well known Indian authors. That's where the trouble began, I think. I became conscious of this slowly over the past few years, with more and more exposure to social media, and to a different way of thinking. Shakespeare is great, but there is more to literature than white men. When you realise this, you open yourself up to a world of books like this one.
Profile Image for Cintya Faliana.
42 reviews10 followers
February 22, 2024
sepertinya ini kali pertama aku membaca karya sastra terjemahan dari India. beberapa halaman awal agak sulit mengimajinasikan buku ini karena aku tidak bisa menebak, apakah Korok nama manusia, hewan, atau benda? apakah Bishto manusia? aku sempat berimajinasi ini adalah karya sastra fantasi.

namun, bab-bab berikutnya sangat seru!! kehidupan Korok, si tokoh utama, sebagai anak belasan tahun sekaligus tukan kebun terbaik di desanya seperti sangat membosankan sekaligus menyenangkan bagi “orang kota”. wah dia hanya berkebun bunga-bunga dan tanamam herba setiap hari, pasti seru. kemudian aku baru tahu pemikiran ini ternyata bernama “noble savage”, pikiran yang hanya dimiliki orang kota, tentang kehidupan desa yang seolah-olah sangat bahagia dan sederhana.

kemudian gambaran soal pemerintah, polisi, dan sistem hukum yang ada menjadi sangat dekat karena India dan Indonesia ternyata sama saja. 11-12. menyedihkan sih, tapi begitu realitanya dan itu yang dirasakan oleh kelompok masyarakat adat.

sebagai orang yang pernah berprofesi sebagai jurnalis dan pekerja CSO, aku merasa sangat bersalah kepada isu-isu yang aku kampenyakan tanpa sungguh-sungguh berusaha mendalaminya, karena berbagai keterbatasan (waktu, jarak, administrasi, dsb). tapi aku jadi sadar bahwa aktivis yang hanya singgah sepintas lalu di sebuah desa karena isu tertentu tanpa benar-benar berusaha terlibat dengan kelompok tersebut, cocok untuk disebut “turis”. kemudian para politisi yang hanya pidato sok peduli, cocok disebut “sirkus”.

aku jadi banyak belajar dari membaca Tahun Penuh Gulma. warga desa adat adalah kelompok yang sangat kecil dibandingkan dengan Pemerintah yang sangat berkuasa. untuk itu, mereka perlu selalu bersama-sama, melawan gulma dengan kelihaian. rasanya sangat lega tahu kebun dan bukit Korok tidak kemana-mana, sejauh ini.

buku yang cocok untuk mengenalkan konflik agraria dan masyarakat adat ke keponakanku👍🏼
Profile Image for Aulia.
31 reviews
February 22, 2023
Tahun Penuh Gulma bercerita tentang Korok, remaja dari Suku Gondi yang tinggal di Desa Deogan, negara bagian Odisha, India. Ia bekerja sebagai tukang kebun (menggantikan ayahnya yang dipenjara akibat tuduhan yang belum terbukti) untuk rumah seorang pejabat kehutanan di desa. Ia kemudian berteman dengan Anchita, anak dari pejabat pindahan tersebut.

Suatu hari mereka melihat bahwa pemerintah dan perusahaan berencana untuk menambang Perbukitan Devi yang disakralkan oleh Suku Gondi. Mereka berdua bersama masyarakat desa tentu menentang rencana ini. Namun mereka harus berhadapan dengan berbagai permainan licik dari pemerintah dan perusahaan. Aparat keamanan yang selalu memenjarakan hampir setiap orang di desa menjadi momok yang menakutkan. Polisi tak segan untuk melakukan kekerasan.

Buku ini mengangkat isu tentang tanah adat, lingkungan, demokrasi, serta intrik politik dan bisnis. Tentang perebutan tanah adat untuk dibuat menjadi pertambangan bauksit yang terdengar familiar. Penggusuran, korupsi, penindasan, keterlibatan pers, masyarakat yg skeptis terhadap polisi dan pemerintah, serta soal pencitraan para politisi menjadi sebuah realitas kompleks yang menyusun buku ini.

Buku ini bergenre young adult, meski isinya nya terdengar berat tapi menurutku buku ini bisa dibaca oleh semua orang, tidak ada istilah sulit. Penyampaiannya sederhana dan gak berbelit-belit. Terjemahannya juga bagus. Menurutku, buku ini udah cukup berani untuk membahas berbagai realitas politik dan sosial sehingga kita berasa membaca sebuah novel tapi dibarengi dengan pemahaman kritis terkait realitas yang ada, tentang kekuasaan.

Nah soal ending, siapakah yang akan menang? Pemerintah dan perusahaan atau masyarakat desa? Apa yang akan dilakukan oleh Korok? Silahkan baca buku ini deh ya. Ada sedikit plot twist nya juga loh 🙂
Profile Image for Naysilla Rose.
85 reviews
October 25, 2022
buku ini kumulai baca ketika september akhir, waktu di Jakarta, acara pestapora.
jeda sebulan nggak kepegang, baru aku lanjutin baca lagi setelah aku dah di Makassar, gabut ngga tau mau apa.
untung tinggal dikit, ya kira-kira setengah bagian lebih, ngebut 2 hari kelar.
and you guys have to know, ternyata isi buku ini epic.
seorang tukang kebun yang ayahnya dipenjara, Korok, yang identik sama anak miskin-kumal-di rumah yang kumuh, justru menemukan cara untuk revenge atas perusahaan dan pemerintah yang mau ambil alih tanahnya.

as I always want, aku selalu ingin ending yang bahagia, dan pada buku ini, aku menemukan akhir yang bahagia dan sesuai ekspektasi.
suku Gondi menang dan bisa mempertahankan hidup dan kehidupannya.

jujur aku sangat ingin apa yang suku Gondi akhirnya dapatkan juga didapatkan oleh suku-suku dan masyarakat adat lainnya rasakan ketika tanahnya akan dirampas.
tapi sayangnya ini cuma di buku cerita, tentu beda di kehidupan nyata.
nyatanya suku-suku dan masyarakat adat yang terancam ini pasti akan kalah dengan perkawinan dua raksasa itu, perusahaan dan pemerintah.

selain itu, hal yang sama dari ini semua adalah:
...masalah tambang ditentukan oleh pejabat pemerintah di tempat yang jauh, bukan ditentukan melalui suara terbanyak. Kenapa penduduk desa tidak bisa memutuskan apakah mereka menginginkan tambang atau tidak? Kenapa mereka tidak boleh memilih? Bagaimanapun, ini rumah merek, pertanian mereka, dewi mereka.

jelas masyarakat kecil tidak bisa apa-apa karena perampasan ini semua cuma tentang kapital. kekayaan. keuntungan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rizkana.
238 reviews29 followers
June 18, 2023
Ini novel berlatar belakang India pertama yang saya baca. Yang saya tahu dari budaya India, seperti mungkin generasi 90-an lainnya, mentok di film “Kuch Kuch Hota Hai” dan beberapa film India yang menggambarkan inkompetensi polisi plus hukumnya (selalu ada patung Themis dengan mata tertutup, seingat saya).

Sayangnya, kenangan itu tergambar lagi dalam buku ini. Yang mengusik, betapa familiarnya kelakuan pemerintah dan politisi di belahan dunia mana pun.

Isu sengketa tanah adat/keramat yang diambil dan membuat masyarakatnya tergusur demi kepentingan tambang, sepertinya juga terjadi di sini. Tinggal, apakah akhirnya bisa seperti yang terjadi dalam buku ini apa tidak.

Terlepas dari plot yang mengiris (dan sejujurnya membuat saya bersyukur tidak tinggal di India), saya menikmati banyak penggambaran budaya Suku Gondi yang disuguhkan penulis dalam buku ini—hanal kot, phogo bhum, pen—dan istilah budaya India umumnya (termasuk samosa). Tentu saja, penerjemah pun patut diapresiasi karena terjemahannya mulus, tidak ada yang terasa canggung.

Setelah selesai membaca buku ini, meski sepertinya takada korelasinya, saya jadi memikirkan hutan dan mendadak ingin melakukan sesuatu untuknya. Teman-teman yang mungkin tertarik ambil bagian, bisa juga mencari program galang dana untuk hutan dan pohon, seperti lewat platform Kitabisa.

Terakhir, kutipan ini rasanya harus selalu diingat,
“Satu-satunya orang yang benar-benar bisa mereka percaya, dan selalu dapat diandalkan, adalah diri mereka sendiri.”
Profile Image for aynsrtn.
487 reviews13 followers
December 31, 2024
"Aku tidak bisa memahamimu, Korok. Kau dipukuli dan terluka oleh... oleh polisi-polisi jahat itu kemarin, pemerintah akan menggali bukit kalian dan mengusir kalian ke tempat lain, ayahmu dipenjara untuk sesuatu yang tidak dia lakukan, kau memakai produk-produk palsu seumur hidupmu karena tidak ada produk lainnya di wilayah ini, kau duduk di sana, bungkuk dan kesakitan karena punggungmu nyeri. Tapi kau tersenyum! Tidak bersambat. Tidak merengek. Mereka bahkan mengambil sepedamu. Apa kau tidak marah? Kau seharusnya marah, kan? Apa kau tidak pernah marah?" - p. 90

Korok, seorang anak putus sekolah, gurunya kabur, sekolahnya bak gudang kosong berhantu, ayahnya ditahan akan sesuatu yang tidak dia lakukan, ibunya sudah meninggal, tinggal sendirian di balai yang hanya satu ruang, menjadi tukang kebun, tetapi—

Korok yang memberikan ide untuk menggunakan sistem voting kepada sukunya agar mau lepas dari tahanan pemerintah dan perusahaan yang menjarah tanah keramat suci milik Suku Gondi—suku tempat dia tinggal—dari proyek penambangan bauksit.

Actual rating: 4.5⭐️

Baca ini sungguh geram, sedih, dan marah. Begitu zalimnya memang pemerintah kepada rakyatnya sendiri. Ini adalah potret sarkarme dan ironi nyata dari sebuah novel fiksi. Meskipun genre-nya young adult atau bahkan teenlit, tapi ini buku yang harus dibaca oleh semua orang, semua kalangan.

No word again. Sebuah buku yang mengakhiri perjalanan membacaku di tahun 2024. Buku yang sangat bagus untuk menutup tahun ini✨️
Profile Image for Harini Gopalswami Srinivasan.
Author 8 books70 followers
September 19, 2020
4.5 stars!
After reading the amazing 'The Grasshopper's Run', I was excited to hear of this second YA novel by Siddhartha Sarma. It's a good read. I really loved the story, the characters, the setting - the idea of the book. A tribal people being displaced from their ancestral forest to make way for a bauxite mine... a tribal boy taking on the might of the government! Your sympathies are engaged before you even begin to read. And Korok is a really lovable character. He has serious troubles but wears them lightly. What with his bicycle and his goat and chickens, his attempts at cooking and his horror of 'kek' ( cake, a delicacy his friend Anchita, the DFO's feisty daughter, plies him with), he comes across more as a comic protagonist than a tragic one. I also loved the innocent, retiring village headman - the mahji, and Bishto the magical bus driver.

But despite all these good things, the book doesn't have the red-hotness of 'The Grasshopper's Run', that first fine careless rapture. Sometimes the narrative is a little laboured, the situations a little contrived, the message a little unsubtle. Korok's gardening, with the lack of detail, seems to lack authenticity.

Summing up: an excellent book that is absorbing, educative, full of heart. If the name on the cover had been anyone else's, I would probably have given it 5 stars, as would any intelligent YA reading this book. But I'm an elderly and discerning reader (hehe!) and Siddhartha Sarma has set the bar very high for himself. I look forward eagerly to his next book.
Displaying 1 - 30 of 74 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.