Ketika mendapat pesan menantang dari gadis manis itu, ia sedang bekerja di perusahaan yang memanipulasi kesadaran publik lewat media sosial. Keduanya pergi ke tempat misterius di mana orang-orang lembah berlatih bicara dengan tomat mungil. Mereka membawa bekal percakapan panjang yang terbuat dari masa lalu yang romantis, persahabatan yang pelik, gairah dan kecemburuan, ganja dan kesepian, persoalan keluarga, dan panti rehabilitasi narkoba. Kebangkitan keduanya sebagai manusia berkali-kali ambyar karena mencandu cinta dari orang yang tidak pernah mencintainya sama sekali.
Awalnya, aku sedikit kebingungan dengan cara penulis menuturkan kisahnya. Tapi, semakin lama, kisahnya semakin menarik untuk diikuti hingga aku terbiasa dan akhirnya paham dengan maksud penuturan penulis.
Semacam surat yang ditulis untuk diri sendiri. Tapi, sebagian besar berisi tentang catatan apa saja yang terjadi pada si tokoh yang bahkan hingga akhir tak kutemukan namanya. Ini sedikit banyak mengingatkanku pada topik yang sempat ramai di twitter. Nama.
119 halaman dan dibaca kurang dari tiga jam. Yap, aku nggak bisa berhenti membacanya hingga akhir.
Kritik-kritik tajam yang disampaikan dalam narasinya yang jenaka namun kritis membuat buku ini semakin menarik untuk diikuti. Semakin mendekati akhir, dadaku rasanya sesak tapi di saat yang sama juga terasa lega.
Bukan tema tulisan yang mudah ditemukan di buku-buku lokal. Setidaknya buatku, karena aku lebih sering menemukan tema sejenis dalam buku-buku terjemahan dari Jepang.
Membaca buku ini seolah memberikan pandangan baru buatku. Yang selama ini kita anggap baik rupanya tak ubahnya topeng dari sesuatu yang sesungguh tak baik-baik amat. Namun, orang-orang menutup mata begitu saja karena lebih peduli dengan tampilan yang di luar.
Buku ini diceritakan dari sudut pandang tokoh ‘aku’ yang dulunya seorang pecandu narkoba. Rehabilitasi narkoba yang akhirnya merubah kehidupannya serta kecintaannya pada seorang wanita, membawa pembaca untuk berkontemplasi akan kehidupan. Banyak narasi yang menunjukan bagaimana kehidupan sosial saat ini, tentang bagaimana manusia perlu mengalahkan diri sendiri untuk bisa memaknai kehidupan. Tidak sedikit juga terdapat narasi yang menyindir kehidupan manusia sekarang ini, termasuk kehidupan beragama.
Buku ini mengingatkan saya akan buku Di Jok Belakang Mobil, yang ternyata diterbitkan oleh penerbit yang sama. Kedua buku ini berisi kontemplasi akan kehidupan, namun Di Jok Belakang Mobil juga banyak membahas akan kematian.
Secara keseluruhan cerita di buku ini bagus, cuma sedikit capek karena tidak dibagi dalam bab, dan walaupun hanya memiliki 119 halaman, tetapi pembahasannya cukup berat menurut saya, sehingga buku yang seharusnya bisa diselesaikan dalam sekali duduk, namun terus tertudnda untuk diselesaikan.
Awalnya aku memutuskan lanjut baca karena paragraf pertama yang menarik, eh ternyata justru suka dengan gaya bahasa dan susunan kalimatnya. Narasi ditulis dengan ceplas-ceplos agak nyeleneh namun tetap rasional. Paragrafnya padat dan kerap menyinggung topik permasalahan sosial. Selain narasi, dialog antar tokoh juga terasa seru sekali untuk diikuti.
Oiya, tidak ada nama tokoh yang disebutkan dalam buku ini. Tokoh-tokoh hanya tertulis 'aku', 'dia', 'tukang lukis' dan lainnya.
Membaca buku ini rasanya lelah karena tidak terbagi dalam beberapa bab. Cerita terus berjalan, seolah tidak memberi ruang untuk berhenti membaca.
119 halaman yang menyenangkan, menyedihkan, suram, kadang juga bikin merenung. Suka sekali dengan buku ini!
Buku tipis ini -yang seharusnya mampu diselesaikan dalam sekali duduk, tetapi dibaca dua hari ternyata- menceritakan tokoh ‘aku’ yang menemani seseorang yang dulu ia cintai, dan masih dicintainya sampai sekarang. Konyolnya, si Aku ini kok ya, mau-maunya gitu begitu berbesar hati untuk mengantar gadis yang dicintainya itu menemui ‘orang yang dicintai si gadis’? Cerita ini berlatar di kota Yogyakarta dan sebuah tempat bernama Kampung Batin yang cukup aneh untuk saya. Sebuah tempat yang didatangi oleh orang-orang ‘yang ingin mencari ketenangan batin’ tapi dilengkapi oleh fasilitas modern bahkan memakai sel surya, ada wifi-nya juga. Untung hanya di dunia fiksi, karena mungkin saya akan ke sana jika benar-benar ada. Hehe.
Poros cerita ini adalah di tokoh Aku, si gadis, dan lelaki lain yang dicintai si gadis. Setiap tokoh hanya disebut demikian, tidak ada nama yang spesifik. Karena itu, saya pada awalnya cukup kebingungan. Dan, walaupun biasanya senang membaca buku-buku tipis, pada awalnya ingin menyerah saja karena bingung. Namun, beruntung karena saya bisa bertahan sampai rampung. Dibandingkan fokus kepada patah hati dan sikap legowo si Aku, saya justru memfokuskan kepada perjalan ‘kehidupan’ masing-masing tokoh, sih. Lebih tepatnya, perjalanan si Aku dan si Gadis. Si aku yang terjerembab dalam narkoba, menghabiskan masa mudanya di panti rehabilitasi, merasakan patah hati karena cinta masa muda yang masih membuatnya bodoh sampai akhir cerita, dan pekerjaannya di sebuah perusahaan gelap. Juga tentang beberapa fenomena humanistik yang diungkap di sini, kritik terhadap pemerintah, dan isu kesehatan mental serta narkoba.
Secara keseluruhan, walaupun pada awalnya membuat bingung, tetapi buku ini layak untuk dibaca. Lebih jauh lagi, karena di panti rehabilitasi digambarkan oleh si Aku, juga si Gadis dengan permasalah di keluarganya. Ya, walaupun menurut saya, si Gadis bukannya tidak bisa move-on, dia hanya terlalu keras hati untuk membuka hatinya kepada orang lain.
Membaca tulisan-tulisan serupa catatan harian itu memang selalu meninggalkan kesan tersendiri.
Kali ini, aku berkenalan dengan seorang lelaki, si 'aku' dan seorang perempuan, si 'dia', yang sama-sama mantan pecandu ganja. Bedanya, si 'aku' ketangkap dan direhabilitasi, sedangkan si 'dia' berhasil kabur ke rumahnya di Jakarta. Perjalanan masing-masing tokoh saat menjadi pecandu disampaikan dengan tata bahasa penulis yang apik dan menarik. Sulit untuk berhenti di tengah-tengah karena rasanya sayang membunuh rasa penasaran. Namun, aku pribadi berulangkali berhenti karena mata yang kian jompo 🤣
Banyak sekali yang aku suka dari novel ini. Walaupun tak bernama, karakter tokohnya kuat dan jelas sekali bahwa mereka berdua pernah jadi mahasiswa (karena sepertinya tidak lulus). Hal ini didukung oleh suasana dan percakapan kedua tokoh utama soal masa-masa penggrebekan serta topik percakapan yang berbobot, seperti ngobrolin pandangan hidup, negara, aparat, hingga masalah cinta yang tak lagi sederhana. Di bayanganku, mereka ini tipe manusia indie pecinta senja yang sedang beranjak dewasa dan berusaha mencari jati diri. Kedekatan emosional mereka semakin erat karena sama-sama merasakan kesepian akibat masalah keluarga yang membuat mereka kehilangan tempat untuk berbagi cerita. Apalagi, ceritanya si 'aku' naksir berat sama si 'dia' hingga berujung gagal move-on.
Buktinya kentara jelas dari bagaimana dia berbagi pengalamannya selama di panti rehabilitasi dengan detail, memastikan dia bahagia dan nyaman dengan menjadi pendengar dan tempatnya bersandar, keputusannya untuk tidak menyebut nama 'dia' sebagai asal muasal ganja yang diisapnya, bahkan sampai rela mengantarkan gadis itu menemui kekasihnya. Dalam kehidupan orang yang kecanduan cinta, bagian terakhir pasti kejadian. Tipikal ceweknya sendiri sudah jelas bisa ditebak: ogah menerima cinta, tapi tidak mau kehilangan teman dekat untuk berbagi, alias nggantung.
Yang aku kurang suka dari novel ini adalah beberapa typo yang aku jumpai. Struktur kalimatnya juga ada yang sedikit aneh sampai harus kubaca lebih dari sekali. Namun, secara umum, layak untuk dibaca, seru, tapi tidak sampai yang "kamu harus banget baca ini".
Untuk mengawali ulasan ini, satu kesan pribadi yang harus jujur dikatakan adalah "Untung, saya tidak menyerah atau berhenti baca buku ini. Untung, saya bisa menyelesaikan buku ini meski susah payah". -
Kalau harus dinyatakan secara sederhana, buku ini semacam 'catatan harian' yang ditulis dengan mayoritas narasi, sedikit percakapan. Bahkan percakapan pun dijadikan sebagai narasi panjang saja.
Bercerita tentang tokoh "aku" yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda dengan kehidupan pada umumnya. Ia mantan pecandu narkoba yang sempat menjadi pasien pusat rehabilitasi. Keluarga yang rumit, hubungan pertemanan yang tak kalah rumit. Dan "Aku", juga memendam perasaan cinta yang besar terhadap sahabatnya, yang kemudian harus ia ikhlaskan karena sahabatnya itu mencintai orang lain. Sedangkan "orang lain" itu justru tidak bisa melepaskan cintanya pada perempuan yang sudah meninggalkan alam semesta. Semakin rumit.
Begitulah, seberapa candu cinta itu?
Secara pribadi, saya suka sekali pada bagian di mana kritik-kritik tentang hal-hal kecil yang kita lihat di masyarakat, bisa dijadikan bahan renungan yang disampaikan lewat ungkapan pemikiran "aku". Kalau kritik sosial yang disajikan di media massa bisa terasa membosankan, ini tidak, karena dikemas menjadi sebuah cerita.
Tidak membosankan, tidak menggurui. Tapi cukup membuat berpikir dan menelaah kembali. Berpikir dari sudut pandang yang lain, tentang hal-hal di masyarakat yang sering kita abaikan. Hal ini kemudian yang menjadi dorongan untuk "Ayo selesaikan buku ini!". Tepat! Rasa penasaran.
Salah satu keunikan buku ini yang paling menonjol adalah gaya berceritanya, yang bisa dikatakan sangat berbeda dengan buku pada umumnya. Pokoknya buat pengalaman, jangan lewatkan buku ini, deh!
Kalau merasa bosan di halaman-halaman awal, saran saya, jangan menyerah. Selesaikan, pelan-pelan, dan nikmati buku ini sampai akhir. Merasa tidak familiar dengan gaya ceritanya? Tidak apa, cobalah.
This book tells the story of a nameless man who calls himself "Aku" and his love story called "Dia atau Kamu." It tells the story of a man initially arrested for marijuana, but because of his love, he does not report the supplier, who turns out to be "Dia," whom the character "Aku" loves. This is my first book with a unique language style and genre.
This book was interesting; the first time I read a book that was so detailed in describing the setting, in every narrative, I felt like I was sitting on his shoulders, seeing, feeling, and knowing the same thing. The author has his own eyes in seeing everything that happens to him or in front of him. Telling stories with straightforward, critical, and detailed language does not make this book boring because every word is full of meaning that is sometimes written implicitly but also explicitly. This book invites a sense of empathy and amazement in the author's character because he is lonely but steadfastly persists with his unique perspective on life. Even how he writes his story is like a letter to himself, like news that people want to read, like a story that others want to understand.
The end of the story left me speechless, with a meaning to convey: to keep believing in other humans, to keep hoping, to keep striving for good things, to keep thinking positively and seeing from all perspectives. At least that way, we can live more peacefully.
Apa yang terjadi denganmu tidak ada salahnya, kok. Setiap orang yang mencintai pasti akan dicintai. Masalahnya kita terlalu berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Padahal kenyataanya, seringkali orang yang mencintai kita, bukanlah orang yang kita harapkan cintanya. Dan orang yang kita harapkan cintanya, malah mencintai orang lain.
Buku terbitan penerbit basa basi covernya bagus-bagus, seragam. Buku dengan tebal 119 halaman ini mengisahkan tokoh ‘aku’, seorang pecandu narkoba yang baru selesai menjalani masa rehabilitasi dan sedang bekerja di sebuah perusahaan di Yogyakarta. Si tokoh aku ini jatuh cinta pada seorang perempuan yang mencintai orang lain yang tak mencintainya. Duh rumit ya.
Sepanjang alurnya kita akan menemukan kedua tokoh tersebut bercakap-cakap. Bercerita mengenai Rehabilitasi narkoba yang akhirnya merubah kehidupannya, bercerita mengenai banyak hal yang membuat pembaca merenungi kehidupan.
Kritik sosial yang disajikan tajam menusuk. Di beberapa bagian narasinya banyak menyoroti dan menyindir kehidupan bersosial masyarakat kini, termasuk kehidupan beragama. Ketika membaca bukunya, aku teringat akan gaya penulisan literatur jepang. Tokoh tak bernama, dengan alur yang aneh.
Secara keseluruhan, ceritanya bagus. Hanya saja akan sedikit capek bacanya karena isi ceritanya tidak dibagi ke dalam beberapa bab. Benar benar dari awal sampai akhir mengalir terus ceritanya.
Menurutku, kombinasi buku ini pas dan mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia yang diramu menjadi seratus halaman singkat. Pembaca diajak merenungkan masalah cinta yang tidak melulu indah tapi tidak melulu sakit juga. Penulisnya berbicara soal rasa sepi yang menghantui sekaligus upaya orang-orang mengatasi sepi melalui kecanduan ganja atau mengasingkan diri. Oh ya, buku ini juga mengajak pembacanya berpikir mengenai spiritualitas dan kebiasaan umat manusia untuk mengambil untung hampir dalam segala hal, termasuk penderitaan orang lain.
Buku ini kebanyakan berbentuk percakapan. Rasanya asik sekali karena seperti sedang mendengarkan cerita orang atau membaca thread di Twitter. Penutupnya juga bittersweet. Entah si aku berhasil melawan dirinya sendiri atau tidak, kuharap dia bahagia. Tersiksa karena cinta benar-benar melelahkan.
cerita mengenai mantan narapidana memang selalu menarik. buku ini pun juga.
menceritakan kehidupan dan kisah cinta seorang mantan narapidana narkoba yang jatuh cinta dengan satu gadis dalam jangka waktu yang lama. selain kisah cinta yang menarik dan sedikit menyayat hati, buku ini juga memberikan kritik-kritik sosial di dalamnya. tentu membuat saya kaget karena di luar ekspektasi saya ketika membaca judulnya.
namun, buku ini tetap worth it bagi saya. jika kamu ingin membaca buku yang ringan, terdapat unsur romansa, dan penggalan-penggalan kisah mantan narapidana nan menginspirasi kehidupan; kamu bisa baca buku ini.
selain buku fisik, buku ini juga tersedia dalam bentuk digital di aplikasi iPusnas.
Seberapa Candu Cinta Itu? karya Eko Triono menceritakan cinta tak berbalas antara tokoh Aku (yang hingga akhir cerita tidak disebutkan namanya) dan wanita manis. Terdengar cukup klise kisah cinta tak bersambut, namun kisah antara keduanya lebih runyam dari itu. Terdapat sisi gelap yang diungkapkan pada buku ini, pembahasan soal narkoba pun ada pada buku ini. Kisah cinta, kekeluargaan, pertemanan, perasaan untuk melepaskan dan merelakan dikupas satu persatu pada buku ini. Namun ternyata aku tidak begitu kunikmati, karena cara penyampaiannya yang cukup membosankan. Sebenarnya pada bagian tertentu terdapat kata yang indah yang cocok sekali untuk dikutip, namun secara seluruhnya cara penyampaiannya membosankan. Mungkin karena bukan my cup of tea aja sih.
Dapat pinjaman di Ipusnas, ya wes langsung baca. Cek di review Goodreads nampaknya menarik. Setelah dibaca, awal terasa menarik, makin ke tengah makin rasanya kok lelah ya.
Saya tipe pembaca pendek-pendek, dibatasi dengan bab per bab. Sedangkan buku ini cerita terus dari awal sampe akhir kayak gak ada jeda sama sekali. Cerita rehabilitasi, tentang cinta, tentang ah rame rasanya cerita si aku dan orang yang bertemu lagi dengannya setelah sekalian lama tak bertemu.
Ini kali pertama membaca buku Eko Triono, cara penulisannya cukup menarik, tapi kok ya saya gak bisa menikmati cerita ngalor ngidul dalam buku ini.
Gaya bahasa yang sederhana, tetapi pembahasan tentang kehidupan yang begitu masuk akal. Di awal cerita sempat dibuat bingung dengan narasinya meskipun sudut pandang menggunakan sudut pandang orang pertama ini adalah yang paling aku sukai ketika membaca novel, dalam novel ini cukup dibuat bingung karena tidak adanya penggunaan nama untuk si aku dan dia (perempuan) yang dicintai si aku. Terlepas dari lumayan banyak typo dan penggunaan bahasa nonbaku yang tidak sesuai dengan KBBI, alur ceritanya bisa dinikmati dalam waktu dua hingga tiga jam baca karena jumlah halaman yang kurang dari 200 halaman.
Persoalan tentang cinta memang hal yang selalu menarik untuk diulas. Menceritakan pertemuan kembali tokoh aku dan kemelut cinta yang membayanginya ditemani tokoh dia (perempuan) yang turut mengejar cinta dihidupnya. Namun dalam hidup, beberapa keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Yah, bagaimanapun semua orang tahu memang rasa sakit adalah resiko hidup. "Selama ini, aku hanya pergi dari satu candu ke candu yang lain. Tapi di mana aku bisa menghentikan perasaan ingin terus menghisap cinta ini? Sedangkan sejauh-jauh aku pergi, pada akhirnya hanya mengembara di dalam hatinya". Buku tipis ini bolehlah untuk diicip, sedappp
Sejak membaca paragraf awal dari novelet ini telah membuat saya tidak ingin berhenti, sampai tiba-tiba saja sudah sampai di halaman terakhir dan saya melihat jam ternyata sudah jam setengah 12 malam.
Penulisannya sangat menarik sekali, sebuah perjalanan kisah patah hati dari tokoh 'aku' yang ditulis dengan padat, lugas, dan diksi yang enak sekali untuk dibaca.
Kalau ada rezeki nanti, sepertinya saya akan membeli versi fisiknya buku ini, karena suatu saat nanti siapa tau saya ingin membacanya lagi.
Buku ini mengangkat banyak sindiran dan kritikan soal realita sosial yang seringkali kita jumpai. Agak sempat bosan membaca Seberapa Candu Cinta Itu? namun ternyata makin banyak pemikiran dan kiasan-kiasan baru yang dituangkan penulis dalam setiap narasinya
Bagian ter-favorite bagi saya adalah sewaktu tokoh pria menceritakan tempat rehabilitasi, bagaimana ia dirawat dan diajak untuk kembali percaya dengan orang lain
Sebenernya, menurut akuu, buku ini kesannya seperti si penulis curhat tentang perasaannya. Semua hal yang ada di dalam hatinya--- yang berkaitan dengan orang yang ia cintai---dituliskan dalam alur cerita yang cukup menarik. Aku suka dengan beberapa kalimat yang diucapkan oleh si tokoh utama.
Sebenarnya cukup menarik dari segi ceritanya. Sayangnya, ketika ada kutipan dalam percakapan sedikit bingung karena kurang menggunakan tanda ('). Entah disengaja oleh penulisnya atau bagaimana. Tapi menjelang akhir-akhir tanda kutipan dalam dialog ini digunakan.
Bagus gaya bahasanya. Awalnya agak nahan nafas karena bingung sama penulisannya tapi lama lama enjoy aja. Banyak pengetahuan gak terduga yang bisa diambil dari sini. Cuman aku kurang sreg karna ceritanya terlalu stagnan dari awal sampai akhir, jadi serasa gaada konflik dan klimaksnya