"Seperti ada kupu-kupu yang turun ke dada, kemudian tinggal di dalam sana" h.18. Saya suka sekali ungkapan ini, ekspresi perasaan cinta yang diungkapan dengan sepenuh hati. Kupu-kupu dilambangkan atas keindahan, akan semakin indah bila kupu-kupu itu terbang mengepakkan sayapnya sehingga tampak cantik bila dipandang.
Cerita ini bukan soal kupu-kupu. Tentu saja bukan, dari judulnya saja bisa ditebak ini pasti ada hubungannya dengan bunuh diri. Yup, negara Jepang termasuk paling banyak penduduknya yang melakukan bunuh diri. Tapi ketika saya membaca buku ini, ada perasaan kontradiktif dengan apa yang saya pikir selama ini. Ketika berpikir bunuh diri adalah hal yang lazim di Jepang, tapi buku ini malah merepresentasikan perasaan orang Jepang sesungguhnya yang mana bunuh diri itu adalah sesuatu yang salah dan sudah seharusnya dicegah bersama-sama.
Banyak pesan yang tersirat yang ingin disampaikan oleh penulis. Mungkin keresahan penulis atas keputusan bunuh diri (khususnya di kalangan remaja), dengan membaca buku ini, diharapkan para remaja dapat berpikir berkali-kali untuk memutuskan bunuh diri. Seperti penulis bilang, ketika bunuh diri mungkin urusan kita selesai, tapi pernahkah terpikirkan kesedihan orang-orang yang akan tinggalkan nantinya? Atau masalah yang jauh lebih besar diihadapi oleh orang-orang yang ditinggalkan. Setega itukah kita sebagai manusia. Intinya, setiap masalah yang kita hadapi, mau tidak mau harus dihadapi, apapun resikonya, besar kecil harus bertanggung jawab. Terkadang berat masalah yang kita pikirkan, ternyata mudah untuk menyelesaikannya, hanya perlu untuk dicoba. Seperti yang dialami oleh Ruri.
Ruri harus menghadapi kenyataan bahwa Ibunya sudah meninggal ketika ia masih kecil, sehingga ia harus merelakan ayahnya menikah dengan wanita lain. Hampir dua tahun memiliki ibu tiri tidak menjadikan Ruri akrab dengannya karena kehadiran ibu tiri telah merampas kebahagian dia bersama ayahnya. Suatu pagi, ia mendapati ayahnya meregang nyawa di ruang kerja, saat itu tampak Reiko - ibu tiri - berada persis di samping ayahnya sembari memegang sebotol cairan berwarna biru. Ditambah uang asuransi kematian ayahnya yang bernominal besar semakin mengokohkan dugaan Ruri bahwa ibu tirinya sengaja membunuh ayahnya untuk tujuan menguasai asuransi dan perusahaan ayahnya. Ketika Ruri tidak memiliki pihak yang mendukung, ia putuskan untuk coba bunuh diri di sebuah desa sepi dengan tujuan ia akan meninggalkan surat wasiat dan menuliskan bahwa ibu tirinya adalah pembunuh ayahnya, dengan begitu orang-orang yang mengangkatnya sebagai kasus dan menyelidiki Reiko, pikirnya.
Ternyata takdir Ruri untuk bunuh diri malah mengantarkannya bertemu sesosok hantu tampan penghuni desa sepi yang mana tempat Ruri ingin bunuh diri. Inilah takdir yang tak terduga. Hantu bernama Hiroaki itu membangkitkan semangat Ruri agar jangan melakukan bunuh diri dan menyarankannya untuk melakukan penyelidikan terhadap Reiko. Ruri pun berhasil dibujuk dan ia menyatakan apabila dalam waktu seminggu penyelidikannya gagal, ia tetap akan bunuh diri. Kisah pun dimulai...
Saya bisa bilang ini adalah karya Ms. Akiyoshi yang paling beda. Beda dalam arti tidak lagi menemukan kejutan-kejutan yang mengejutkan. Pembaca tidak disuruh lagi untuk menebak siapa dalang di balik cerita. Karena mungkin ada beberapa pembaca yang sukses menebak jalan cerita mau dibawa kemana. Karena saya melihat, pesan yang ingin disampaikan penulislah yang ingin dikuatkan. Tentang bagaimana bunuh diri adalah suatu keputusan yang salah, tentang jangan terlalu percaya pada fengshui. Oh ya, cerita selain tentang bunuh diri, kita akan diberitahu tentang masakan dan fengshui. Orang tua Ruri adalah orang terkenal di dunia masak memasak, dan mereka sangat memperhatikan fengshui ketika melakukan apapun. Ini cukup menarik karena ternyata fengshui itu dapat menjadi tiang kehidupan bagi orang-orang yang percaya. Tapi seperti penulis bilang, andalkan fengshui apabila memang usaha kita yang sudah maksimal tidak berjalan dengan lancar. Jangan jadikan fengshui menjadi andalan satu-satunya.
Meskipun buku yang satu ini tidak nampak mengejutkan seperti sebelumnya (karena Holy Mother sangat kerennn) tapi saya masih menyukainya. Gaya bahasa Akiyoshi tidak berubah sama sekali, saya masih mengenali dia. Anggap saja, buku ini ingin bilang bahwa masih banyak orang baik di dunia ini.