Pada usia seperempat abad, menurut orang-orang, wanita seharusnya sudah menikah. Seharusnya, sudah memiliki karir mapan. Seharusnya, sudah menimang bayi. Bukan menonton kartun anak, bukan menulis fanfiksi yaoi, bukan menjadi guru bimbel bergaji kecil yang selalu merasa terlalu lelah sebelum mulai bekerja. Dan Rindang adalah semua yang bukan.
Ada tiga hal yang Rindang benci di dunia. Pertama, huruf R. Kedua, lawan jenis. Dan ketiga, lawan jenis yang selalu mengoloknya karena ketidak-sempurnaan huruf R yang Rindang lafalkan. Samudera, namanya. Rindang lebih suka memanggilnya Samud, seperti kaum Nabi Luth yang ditenggelamkan itu.
Kabar buruknya, ia kembali harus bertemu dengan cowok itu. Di tempat kerja baru. Sebagai bos baru. Owner dari York, English Cafe tempat ia diterima sebagai tutor.
Kabar baiknya, Rindang tidak akan tinggal diam kali ini. Ia akan balas dendam.
Dari ketiga novel dalam series ini (Sahshi, Ursa dan Rindang), novel Rindang yang paling bagus menurut saya. Ada lucu-lucunya, ada romantisya, dan ada sedihnya juga.
Rindang, gadis asal Kalimantan yang hijrah ke Jakarta untuk mengurangi beban Umai-nya yang menjadi buruh cuci selepas ayahnya meninggal. Rindang, gadis cadel yang tidak sempurna pelafalan huruf R-nya juga seorang gadis yang pelupa dan perhatiannya gampang teralihkan. Gadis yang punya musuh bebuyutan di SMA, yang kemudian malah menjadi atasannya di tempat kerja.
Rindang melamar menjadi guru bimbel di York. Sebuah bimbel bahasa Inggris yang mengusung konsep kafe. Di hari pertama kerja, Rindang tentu harus bertemu dengan pemilik York. Ternyata dia adalah Samudera atau Samud, cowok yang selalu membully Rindang semasa SMA. Cowok yang membuatnya menahan malu karena harus membaca UUD 1945 saat upacara. Cowok yang memanggilnya Rendang. Tapi Rindang nggak mau kalah, dia harus bisa bertahan. Mengapa kali ini dia tidak membalas membully Samud. Maka dengan kemampuan menggambarnya, Rindang lalu membuat fan fiction yang menceritakan tentang Samud dan Bang Dana. Berhubung Rindang memang seorang fujoshi, maka membuat komik strip seperti itu mudah baginya.
Saya suka dengan karakter Rindang, yang meski bikin gregetan karena lemot, tapi Rindang adalah seorang gadis yang tulus. Yang memilih diam, karena bicara baginya butuh energi besar. Ketika kemudian dia mulai merasakan ada yang berbeda saat dirinya tidak bertemu dengan Samud, dia masih saja berpendapat tidak akan ada pria yang akan menyukai gadis seperti Rindang.
Dengan membaca kisah Rindang sebagai penutup, saya jadi paham mengapa interaksi antara Rindang dan Ursa sangat minim. Yah..karena Rindang dan Ursa memang dua sosok yang berbeda. Tapi minimnya interaksi di antara mereka itulah yang membuat keduanya bisa saling memahami.
Nggak tau deh ya, ceritanya sebenernya bagus tapi saya nggak suka banget sama gaya narasinya. Mirip-mirip Mia Arsjad yang kalau nulis heboh disana sini tapi ini versi lite.
Eniwey saya baru tau kalau Sashi cs yaitu Rindang dan Ursa punya novelnya sendiri-sendiri dan ditulis oleh 3 penulis berbeda.
Rindang, gadis berusia seperempat abad yang masih jomblo dan pengangguran. Hidupnya ia gantungkan pada Ursa, sahabatnya. Setelah 3 bulan menganggur akhirnya ia diterima kerja di sebuah cafe, namun ia tidak menyangka bahwa pemilik cafe itu adalah Samudra, musuh bebuyutanya sejak SMA. Rindang bingung, haruskah ia keluar kerja dan menjadi benalu Ursa lagi atau tetap bekerja disana dengan segala tingkah menyebalkan Samudra.
Well, seperti saya yang bilang tadi, saya suka-suka aja sih sama jalan ceritanya, plotnya ringan, alurnya jelas dan nggak perlu mikir bacanya. Cuma ya gitu, banyak banget kekuranganya di novel ini.
Pertama, gaya narasinya itu terlalu heboh. Jadi saya sebagai pembaca kurang bisa menikmati.
Kedua, terlalu banyak kalimat hiperbola yang bertebaran yang memberikan kesan lebay.
Ketiga, typo dimana-mana cyinn.
Keempat, banyak sekali kalimat yang kekurangan kata! "Rindang memutuskan untuk air mineral bersegel.." 103 memutuskan apa??? "Tidak mirip dan tidak ada hubunganya istri Ardi.." 157 Dan masih sangat banyak lagi
Kelima, novel ini too much humor. Iya humornya bener-bener banyak banget! Hampir disetiap halaman. Baru sedih dikit, diselingi humor. Baru sweet sedikit, dicekoki humor lagi. Jadi suasana dan hubungan antar karakter itu nggak ter build up dengan apik. Isinya cuma dialog-dialog receh yang garing.
Keenam, banyak banget adegan batre HP drop! Udah macam FTV aja, dikit-dikit batre HP drop, nangis-nangis nyari pertolongan. Hadehhh -_-.
Ketujuh,tentang karakter Rindang yang.. gimana ya jelasinya. Karakter yang nggak saya sukai lah intinya. Dia usianya 24-25 kan? Tapi kelakuannya kaca bocah TK, pelupa akut, lemah parah, polos cenderung tulalit. Ngangkat pak-pak kertas gak bisa, beli obat nyasar, dia nggak becus ngelakuin apapun bisanya nangis persis banget bocah. Naik motor kaya kura-kura. Udah jelas-jelas Samud nyatain cinta ke dia masih aja nebak-nebak kalau Samud suka sama Juan lah sama Dana lah, memang bego si Rindang ini. Gemess banget tuh saya sama dia, bodohnya engga ketulungan! Apalagi part yang Anne ke cafe, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba dia bilang "Mba nggak usah jadi pelakor" hanya gara-gara Anne mencari Samudra, sinting nggak sih? Eh ujung-ujungnya dia bilang gini "i'm sorry i didn't recognize you, i'm your fan!". Oke karakternya Rindang ini memang dijelasin kalau dia pelupa akut tapi bukan gagar otak dan amnesia kan?
Cukup segitu aja reviewnya kalau dilanjutin bisa-bisa saya naik darah gara-gara kebodohan Rindang.