Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jalan Panjang untuk Pulang

Rate this book
Ada dua hal yang selalu mengemuka dalam tulisan-tulisan Agustinus Wibowo. Yaitu, perjalanan dan kepulangan. Dalam sebagian besar tulisannya, dia membawa serta para pembacanya pada pencarian identitas berupa perjalanan untuk mencari makna “rumah”.

Tempat-tempat yang dikunjungi Agustinus bukanlah tempat-tempat yang nyaman, tenang, atau bahkan indah dalam kacamata tamasya. Tempat-tempat itu sering kali berada di perbatasan, di wilayah penuh konflik berlapis dengan masyarakat yang berupaya mencari atau mempertahankan identitas.

Dari tempat-tempat ini, kita bisa mendapatkan refleksi yang sesuai dengan kegelisahan kita, juga pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam benak kita dan terus relevan dari masa ke masa. Yaitu pertanyaan tentang identitas diri. Ini adalah pertanyaan yang justru semakin menguat di tengah dunia yang semakin mengglobal.

Jalan Panjang untuk Pulang adalah kumpulan cerita dan esai dari berbagai lokasi yang pernah disinggahi Agustinus, yang mengajak kita untuk mengalami berbagai dimensi perjalanan. Dari perjalanan fisik hingga perjalanan batin. Dari melihat dunia luar hingga pulang ke dalam diri. Dari pencarian hingga penemuan makna yang hakiki.

464 pages, Paperback

Published January 10, 2021

35 people are currently reading
236 people want to read

About the author

Agustinus Wibowo

9 books610 followers
Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer and photographer who had spent four years traveling overland continuously. Departing from Beijing, his original destination was South Africa, but he was stuck in Afghanistan and stayed there for 3 years as a photojournalist. He has published two travel narrative books in Indonesian language, namely: Selimut Debu---Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan (Blanket of Dust---Dreams and Pride from War-torn Afghanistan) and Garis Batas---Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah (Borderlines---Journey in Central Asian Countries).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
136 (59%)
4 stars
78 (34%)
3 stars
11 (4%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 66 reviews
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
January 25, 2021
Perjumpaan dengan tulisan Agustinus Wibowo kembali setelah sekian lama memang membuat pembaca kembali menebak apa yang akan didapatkan sekaligus berharap tumpukan ekspektasi akan terjawab. Agustinus kali ini hadir menawarkan jalan pulang, jalan-jalan panjang yang telah ditempuhnya untuk menuju pemaknaan. Ia kemudian menggelarkan karpet untuk pembaca agar bisa melaluinya juga.

Kali ini penulis tidak menawarkan sebuah petualangan panjang. Ia menawarkan pemberhentian yang cepat dengan esai-esai pendek. Esai-esai ini sebagian telah diterbitkan di berbagai media. Yang menjadi bintang dari perjalanan ini bukan destinasi, tapi manusia. Menyajikan ironi sejak halaman pertama, pembaca diajak mengikuti berbagai perjalanan. Perjalanan memaknai kemanusiaan dengan latar berbagai negara, hingga ke tanah air sendiri, rumah sendiri.

Di antaranya perjalanan imajiner Xu Xiake, seorang musafir Cina jika masih hidup hari ini dan mendaki gunung Huangshan yang telah berubah wajah dari keisolasian menjadi sebuah destinasi wisata. Penulis mengandaikan musafir itu melihat bagaimana manusia di sekitar gunung membentuk, juga terbentuk oleh perubahan dan peletakan identitas. Penulis juga mengajak pembaca menembus ke dalam jiwa laki-laki Kazakhstan yang meletakkan identitasnya pada elang. Burung itu lebih dari sekadar hewan, namun juga bagian besar dari tradisi dan kebanggaan.

Di paruh awal, perjalanan membaca ini terasa agak berat, mungkin karena banyaknya data dan perpindahan cepat berbagai subjek bahasan. Namun kelamaan pembaca akan menemukan ritme.

Kemampuan Agustinus untuk bisa melihat berbagai hal dari sudut pandang berbeda dan merangkainya dengan cara yang mengikat lewat kata masih menjadi kekuatan. Banyak orang mungkin melihat yang sama. Namun penulis bisa mengobservasi, meramunya menjadi sebuah narasi yang dalam dan filosofis. Misalnya tentang bangunan rumah dengan tembok tinggi tanpa jendela di Xidi, Huangshan.

“Coba tengok, arsitektur tradisional khas Huizhou. Rumah-rumah di sini dibangun dengan tembok tinggi, terlihat dingin dan datar. Mereka memegang teguh prinsip hidup yang sangat implisit, tidak memamerkan kekayaan mereka sedikit pun terhadap orang luar…. Tengoklah juga bagaimana rumah-rumah di sini tidak memiliki jendela… Ini karena para pemuda dari keluarga saudagar melanglang buana mengeruk kekayaan, sehingga yang tertinggal di rumah hanyalah orang tua dan anak-anak. Kekayaan yang melimpah ini tentu menjadi incaran para perampok dan pencoleng. Nenek moyang mereka hidup dengan sangat tertutup, namun turisme modern telah memberi arti baru terhadap arti kata privasi.” (hal. 25)

Observasi detail, ketekunan mencatat dan riset, merangkai keseluruhan hal menjadi sebuah tulisan utuh jadi kelebihan penulis. Pembaca bisa merasakan upaya keras dan (kemungkinan besar) proses berulang untuk mendapatkan sebuah tulisan yang bulat dan efektif. Selain itu selalu ada punchline di akhir yang selalu reflektif, kuat, dan meninggalkan kesan.

Jalan pulang ini tak banyak dihiasi quote-quote cantik maupun kesimpulan. Penulis tampak hati-hati dan berusaha netral. Ia hanya menyajikan fenomena dan pemaknaan tanpa berusaha mendikte pada nilai tertentu. Seakan ia menyadari jika jalan pulang tiap orang akan personal dan bukan hitam putih. Sehingga, pembaca mesti menyelam dalam bacaan untuk bisa mendapatkan sendiri saripatinya.

Di antara begitu banyak esai, beberapa esai menjadi pemberhentian favorit saya, seperti "Garis Batas di Atas Kertas", "Dunia di Mata Mereka yang Tidak Bepergian", "Bendera Merah Putih di Garis Batas". Selain itu juga esai berjudul "Laut" di halaman-halaman akhir. Esai ini mengajak pembaca menyimak bagaimana penulis dan ayahnya memaknai identitas Cina pada diri masing-masing. Pada akhirnya identitas yang sama dimaknai sebagai sesuatu yang berbeda. Esai itu terasa menyentuh dan rapi dalam menghubungkan berbagai hal.

Selain sibuk dengan pencarian jalan pulang di “luar sana”, Agustinus juga tak lupa pulang menuju dirinya sendiri melalui esai "Seorang Pencari dan Napasnya" yang mengungkap bagaimana ia menghadapi gejolak besar dalam diri, berada di bagian tersulit dalam hidup, dan bagaimana ia menemukan damai dengan meditasi untuk menuju ke pemaknaan.

Saya tak bisa menahan air mata di esai Melihatnya dari Sisi Berbeda. Esai tentang bagaimana Katedral Norwich di Inggris mengupayakan penduduk agar kembali tertarik memeluk agama dengan memasang wahana perosotan warna-warni di dalam gereja. Meski menimbulkan kontroversi, namun muncul kepolosan seorang anak kecil yang menggelitik. Ia merasa dicintai Tuhan karena mengenakan baju warna warni, serupa dengan ceria warna perosotan. “Tuhan pasti juga mencintai aku karena aku pakai baju warna-warni pelangi.” Ini membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana Tuhan dalam cara pandang saya selama ini.

Buku ini bukan tentang jalan pulang fisik. Ini jalan pulang menuju ke kemanusiaan. Ini bukan tentang bagaimana petualangan kaki yang berpindah. Tapi tentang bagaimana naluri menelisik jauh ke dalam. Tentang bagaimana manusia mengaitkan identitasnya dengan berbagai hal. Kita meminjam mata Agustinus untuk melihat kemajemukan manusia di jengkal dunia yang tak terukur. Kita meminjam kepekaannya untuk menyelami makna. Akhirnya untuk menyadari posisi, menyentil rasa egois dan paling benar untuk segala sesuatu, menemukan nilai dari beragam manusia.

Setelah perjalanan panjang nyaris lima ratus halaman, lalu apa?

Membacanya buru-buru pembaca akan mendapat kilasan dunia. Membacanya perlahan dan tak sungkan kembali menyesap halaman, pembaca akan memetik kedalaman.

Buku ini membuat saya berhenti sejenak setelah menghabiskannya, dan berpikir sudahkah saya pulang ke kedamaian diri, ke kemanusiaan yang menyayangi keberagaman dan tak sekadar sibuk meninggikan diri sendiri, sudahkah saya pulang untuk menyadari betapa dangkal dan kecilnya pemaknaan diri terhadap kemanusiaan, sudahkah saya pulang ke ketenangan dan kesederhanaan sebagai makhluk Tuhan.
Profile Image for Darwin Salim.
13 reviews4 followers
February 26, 2021
“JALAN PANJANG untuk PULANG”
SEKUMPULAN TULISAN PERSINGGAHAN
Oleh: Agustinus Wibowo
PT Gramedia Pustaka Utama, 11 Januari 2021
464 halaman

Ini karya terbaru dari Agustinus Wibowo (AW). Kubeli secara daring dan prapesan dari toko buku Gramedia.com dan kuterima tanggal 16 Januari 2021. Masih dapat edisi yang ditanda tangani penulis. Baru bisa kuselesaikan membacanya kemarin pagi, 25 Januari 2021. Butuh waktu lama menyelesaikannya karena lumayan berat, kadang-kadang perlu merenung sebentar, dan menjaga kestabilan emosi.
Ini sebuah antologi yang merupakan kumpulan tulisan tentang berbagai tempat yang “disinggahi” penulis di berbagai negara, seperti Cina, Kashmir, Suriname, Papua Nuigini, Australia, Belanda, Inggris, Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan, Afghanistan, Iran, Pakistan. Tetapi, AW tidak sekedar singgah di berbagai tempat itu, dia “mencari” sesuatu. Dan, “sesuatu” itu bisa berbagai ragam seperti “identitas”, “jati diri”, “sejarah”, dan “hakikat serta makna hidup dan kehidupan itu”. Dibaginya dalam empat tema besar.
Tema pertama yang diberi judul “Lokasi, lokasi, lokasi” berisi kritik AW terhadap banyaknya tempat bersejarah yang dulunya sarat makna, indah, dan alami, kini hanya menjadi “komoditas pariwisata” dengan kedok “pelestarian” bahkan “world heritage” yang dilindungi UNESCO. Tempat-tempat itu telah kehilangan makna sejarahnya, bahkan kehilangan keindahan alaminya. Menjadi sekedar lokasi tempat melakukan swafoto, lengkap dengan penanda neon warna warni. Sebagian besar turis yang berkunjung tidak memahami sama sekali sejarah lokasi itu dan tak peduli. Itu hanya sebuah produk pariwisata yang menghasilkan milyaran dolar.
Tema kedua adalah masalah garis batas. Judulnya juga “Melintas Batas”. Di bagian ini, AW bertutur tentang nasib berbagai bangsa yang negaranya dikotak-kotakkan dan dibatasi oleh kekuasaan politik, seperti nasib bangsa Tajik yang negaranya sekarang merupakan sebuah kotak kecil bernama Tajikistan yang 93% wilayahnya berupa pegunungan di atas 3000 m dari permukaan laut. Mereka merasa diperlakukan tidak adil karena, misalnya, dua kota tua Samarkand dan Bukhara yang melahirkan ilmuwan besar dunia seperti Ibnu Sina, Al Biruni, dan Umar Khayyam, justru sekarang masuk ke wilayah negara Uzbekistan, suku Uzbek, bukan wilayah suku Tajik. Bagi yang sudah membaca karya AW sebelumnya, “Garis Batas”, tulisan-tulisan ini hanya sekedar mengingatkan kembali renungan penulis di buku itu, dengan sedikit tambahan informasi.
Bahagian yang lebih menarik adalah bab 3 dan 4, yang sangat berkaitan. Bab 3 berjudul “Rumah di Sini dan di Sana”, sementara bab 4, yang merupakan bab kunci, berjudul “Pulang”. Di sinilah penulis berkisah tentang berbagai paradoks dan dilema kehidupan. Di sini AW menghidangkan konflik jati diri. Pertanyaan tentang “aku ini siapa?”, aku ini “bangsa apa?”. Orang-orang Jawa yang dulu diangkut Belanda ke Suriname, generasi pertama dan keduanya masih tetap menjalani kehidupan sebagaimana orang Jawa yang semestinya, dan merindukan untuk “pulang” ke kampung halamannya. Tapi, ketika berkesempatan menginjakkan kaki di tanah Jawa (yang telah menjadi Indonesia), justru merasa terasing. Penulis sendiri, ketika menjadi mahasiswa di “negeri leluhur”-nya, juga tidak merasakan “penerimaan” di kalangan “leluhur”-nya itu. Masalah ini sampai-sampai membuat penulis hampir bunuh diri, dan ikut program meditasi sepuluh hari di Bogor (halaman 385-387). Padahal, sebenarnya, sebelum itu, ketika penulis akhirnya pulang dari beberapa penjelajahan panjangnya, untuk menjenguk ayahnya yang sakit keras, ketika itu AW menawarkan kepada ayahnya untuk berkunjung ke Cina, pulang ke tanah leluhurnya. Tapi apa jawab ayahnya? “Itu bukan ‘pulang ke tanah air’. Itu cuma ‘pergi ke Cina’. Tanah air kita di sini. Indonesia.” (halaman 458).
Sungguh, tulisan-tulisan yang penuh makna. AW kembali menunjukkan pengetahuannya yang dalam mengenai sejarah. Dia bertutur tentang sejarah dengan cara yang piawai namun sarat dengan makna. Saya berani mengatakan bahwa ini bukan sekedar “Sekumpulan Tulisan Persinggahan”. Ini juga sebuah karya sejarah yang sangat dalam. Bukan saja sejarah tentang bangsa-bangsa, tetapi juga sejarah tentang agama dan kepercayaan, sejarah tentang konflik, pembunuhan, dan genosida; sejarah tentang manusia dan kemanusiaan. Buku ini mengajak kita untuk merenung, kemana kita akan pulang?

Medan, 26 Januari 2021, 15.06 WIB
DARWIN SALIM SITOMPUL

#ayo_membaca
#ayo_gemar_membaca
#tetaplah_di_rumah_dan_membaca
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
March 31, 2021
Pulang ke mana?

Bagi Agustinus jawabannya beragam. Pulang ke rumah, pulang ke tanah air, pulang ke negeri leluhur, pulang ke diri sendiri, pulang ke Tuhan.

Jalan Panjang untuk Pulang adalah kumpulan tulisan lepas Agustinus Wibowo yang pernah dipublikasikan di pelbagai media dan yang baru. Rentang waktu penulisan pun panjang, antara 2008-2020. Karya Agustinus Wibowo yang pertama kali saya baca adalah Titik Nol, dan tak selesai. Bukan karena jelek, tetapi karena masa pinjam di perpustakaan telah habis. Setelah itu, buku-buku yang baru terbit selalu mengalahkan daftar TBR, semenarik apapun itu. Bisa dikata, buku ini adalah buku pertama Agustinus yang saya selesaikan.

Ini sangat berbeda dengan buku-buku perjalanan yang pernah saya baca. Tulisan Agustinus tidak terfokus pada bagaimana kita ke sana atau apa yang menarik di sana, tetapi mengetengahkan problem-problem manusia di belahan dunia lain yang jika ditelaah lebih dalam memiliki akar yang universal: sentimen ras dan agama, kemiskinan, trauma sejarah, dan nasib rakyat jelata yang jauh dari radar penguasa.

Sangat menarik bagaimana tulisan-tulisan Agustinus bisa membawa pembaca masuk ke dalam cerita. Kita akan ikut merasa tegang, marah, dan terharu. Dari rawannya kota Port Moresby, hingga gejolak separatisme di Kashmir. Konflik-konflik itu terjadi jauh dari tempat kita, tetapi pembaca dapat merasakan emosi orang-orangnya. Orang-orang yang bergelut dengan kata "pulang". Ada yang sedang mencari identitas sejati, ada pula yang terombang-ambing di antara dua identitas diri. Dalam pencarian dan kebimbangan itu, mereka sadar sedang menempuh suatu perjalanan panjang.

Lantas, jalan pulang itu sepanjang apa?

Bagi saya tergantung bagaimana "tempat tinggal" diartikan. Bisa jadi puluhan kilometer, bisa jadi setengah lingkar bumi. Bisa jadi sepanjang satu musim, bisa jadi sepanjang hidup. Ini hanya perihal keberterimaan. Di mana raga, pikiran, dan hati ternaungi, di situlah "tempat tinggal".

Saya jadi teringat lirik lagu Martin Garrix,

We danced in the dark till it felt like home
With you home was anywhere


Ah, sedeppp...
Profile Image for Uci .
622 reviews123 followers
March 8, 2021
"𝑷𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒑𝒓𝒐𝒔𝒆𝒔 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒑𝒊𝒓𝒊𝒕𝒖𝒂𝒍, 𝒎𝒆𝒅𝒊𝒕𝒂𝒕𝒊𝒇, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒍𝒖𝒄𝒖𝒕𝒊 𝒆𝒈𝒐 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒎𝒖𝒔𝒂𝒇𝒊𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂-𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂. 𝑱𝒖𝒔𝒕𝒓𝒖 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂-𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒊𝒕𝒖𝒍𝒂𝒉, 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒍𝒂𝒎𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂-𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒌𝒖. 𝑨𝒌𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒆𝒃𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒕𝒆𝒌𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒌𝒂𝒊 𝒕𝒐𝒑𝒆𝒏𝒈."⁣⁣
⁣⁣
Membaca tulisan perjalanan Agustinus Wibowo adalah membaca tentang perjuangan identitas manusia. ⁣
⁣⁣
Seperti buku-buku sebelumnya, Agustinus yang kerap mengalami krisis identitas karena terlahir di Indonesia tapi tak pernah merasa diterima sepenuhnya oleh negeri ini sekaligus merasa asing di tanah leluhurnya, Cina, menuangkan kisah-kisah tentang perjuangan identitas dari negeri-negeri yang dikunjunginya dan manusia-manusia yang ditemuinya.⁣⁣
⁣⁣
𝑳𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉 𝑭𝒆𝒓𝒈𝒉𝒂𝒏𝒂 𝑨𝒔𝒊𝒂 𝑻𝒆𝒏𝒈𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒃𝒖𝒓𝒊 𝒍𝒖𝒔𝒊𝒏𝒂𝒏 𝒆𝒏𝒌𝒍𝒂𝒗𝒆. 𝑫𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑲𝒊𝒓𝒈𝒊𝒛𝒔𝒕𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂 𝑼𝒛𝒃𝒆𝒌𝒊𝒔𝒕𝒂𝒏, 𝒅𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑼𝒛𝒃𝒆𝒌𝒊𝒔𝒕𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂 𝑲𝒊𝒓𝒈𝒊𝒛𝒔𝒕𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂 𝑻𝒂𝒋𝒊𝒌𝒊𝒔𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑼𝒛𝒃𝒆𝒌𝒊𝒔𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑲𝒊𝒓𝒈𝒊𝒛𝒔𝒕𝒂𝒏. 𝑲𝒆𝒂𝒏𝒆𝒉𝒂𝒏 𝒈𝒆𝒐𝒈𝒓𝒂𝒇𝒊𝒔 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌 𝒌𝒆𝒃𝒊𝒋𝒂𝒌𝒂𝒏 𝑺𝒐𝒗𝒊𝒆𝒕 𝒅𝒊 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 1930-𝒂𝒏, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑺𝒕𝒂𝒍𝒊𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒃𝒆𝒈𝒊𝒕𝒖.⁣⁣
⁣⁣
Juga sejumlah kisah lainnya dari orang Papua yang terimpit Papua Nugini dan Indonesia, orang Kashmir yang terimpit India dan Pakistan, orang Yahudi Israel di tengah komunitas muslim Uzbekistan, orang Suriname yang terombang-ambing antara Belanda dan Indonesia, dan banyak lagi. Termasuk kisah perjuangan menggapai spiritualitas di tengah dunia yang mulai kehilangan keimanan.⁣⁣
⁣⁣
Petualangan membaca yang mengajak kita menempuh perjalanan panjang, yang semoga dapat berujung pada satu kata, PULANG.⁣⁣
Profile Image for Asdar Munandar.
169 reviews4 followers
April 25, 2021
Buku pertama yang berhasil ku selesaikan tahun ini.

Kemampuan membaca saya menurun drastis, jika tahun-tahun sebelumnya di trimester pertama saya sudah menyelesaikan minmal 30-40% target saya di goodread chalange. 2021 ini justru jadi kemunduran yang sangat fatal, saya baru menyelesaikan satu buku ini. itupun dengan tertatih-tatih.

"jalan Panjang Untuk Pulang"

karya teranyar peulis perjalanan favorit saya "Agustinus Wibowo". setelah di tiga buku sebelumnya sukses berat membuat saya tercengang dengan kisah-kisah perjalanannya di negeri-negeri jauh, dia kembali datang dengan menawarkan cita rasa perjalanan yang sama. kumpulan catatan persinggahan dibanyak tempat yang kemudian dia rangkum menjadi satu buku.

Ekspektasi saya mungkin terlalu tinggi di awal kehadiran buku ini, mengingat tiga buku pendahulunya bisa dikatakan 'buku catatan perjalanan terbaik selama ini yang ditulis penulis Indonesia. saya justru kecewa, kumpulan tulisan persinggahan ini ternyata tidak 'sedalam' kisah pendahulunya. fragmen-fragmen yang disajikan tidak cukup membuat saya bersemangat menyelesaikannya. beberapa bagian justru membuat saya merasa "buku ini terlalu melenceng". Identitas penulis, pengalaman pribadi di masa lalu, komplik batin, kegamangan identitas atau bahkan luka lama penulis justru ingin seperti mendominasi sebagian besar inti dari buku ini.

apakah buku ini jelek ?
saya pasti 'gila" kalo mengatakan buku keluaran dari tangan dingin "AW" jelek.
buku ini bagus, perjalananya juga bagus, tempat-tempat yang di singgahinya juga sama bagusnya. bedanya "ruh" yang dituliskan di sana tidak seperti di tiga buku sebelumnya. buku ini justru terlalu personal. terlalu mengakukan diri. terjebak dalam pergolakan batin penulisnya yang ada di dalam dimensinya sendiri dan kami pembacanya yang orang pribumi asli ini "tidak akan pernah bisa merasai apa yang dia rasakan"

terimakasih Mas Agus telah menghadirkan buku ini.
saya selalu menunggu karya-karya terbaikmu Mas.
Profile Image for Friska Titi Nova.
96 reviews6 followers
December 7, 2021
Membaca buku ini seperti bercermin kepada keindahan kemanusiaan. Apa sih yang membuat manusia, manusia? Di mana semua konflik berakar? Ternyata "asal," dan identitas, ini menjadi banyak sumber konflik kemanusiaan. Kenapa kita harus sibuk memilih satu identitas yang membuat kita eksklusif berbeda dengan yang lain? Tidak bisakah kita mengakui identitas kita tidak bisa dikotak-kotakkan, melainkan cair dan bersentuhan dengan identitas orang lain di sekitar kita?

Buku Jalan Panjang untuk Pulang ini seperti sebuah hadiah indah, yaitu sebuah pesan perdamaian untuk kita semua, siapa pun kita. Keindahan sanubari Agustinus Wibowo sampai kepada mereka yang membaca buku ini. Sebuah buku yang wajib dikoleksi untuk mereka pencinta kemanusiaan.

"Perjalanan itu sebenarnya juga adalah proses yang spiritual, yang meditatif, yang melucuti ego dan menjadikan kita sebagai musafir yang bukan siapa-siapa. Justru pada saat menjadi bukan siapa-siapa itulah, aku mengalami masa-masa paling bahagia dalam hidupku. Aku terbebas dari tekanan untuk memakail topeng. Terbebas dari persaingan untuk menjadi mahkluk sempurna."
Profile Image for Silvana.
1,311 reviews1,240 followers
June 5, 2022
Karya terbaik Gus Weng yang aku pernah baca. Esai-esainya kaya dengan cerita soal identitas, jadi sangat beragam wajah dan sudut pandangnya. Bahkan ada satu esai yang sangat personal sampai bacanya aku mau menangis (walau di tengah-tengah malah jadi mau ngakak). Buku yang membuatmu bertanya, merenung, dan berefleksi.
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books175 followers
February 16, 2021
Membaca karya-karya Agustinus selalu membuat kita merenung, becermin pada diri sendiri, dan mikir (yang kadang jadi over thinking) :D. Oh, dan tentu saja, mengaduk-aduk emosi. Cara Agus bertutur memang memesona. Kita seperti diajak berbincang, dibawa menelusuri tak hanya lika-liku fisik sebuah negeri tapi menelisik (ke)manusia(an) yang ada di negeri-negeri tersebut. Sering kali masuk hingga ke relung terdalam kehidupan seseorang atau suatu masyarakat.

Buku ini berbeda dengan ketiga buku sebelumnya (Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol), yang menitikberatkan pada perjalanan di satu atau beberapa negeri tertentu; Selimut Debu--Afghanistan, Garis Batas--Asia Tengah, Titik Nol)--Tibet, Nepal, India, Kashmir, Pakistan, China). Karya terbaru Agus ini seperti kumpulan kepingan atau montase dari ketiga buku itu. Sekilatan saya seperti pernah membaca kisah A di Selimut Debu, kisah B di Garis Batas, atau kisah C di Titik Nol. Hanya memang kepingan-kepingan tersebut seperti dilengkapi dan diperdalam oleh Agus dalam buku ini.

***

Penulis perjalanan yang tertarik pada isu-isu identitas, begitu tercantum pada profil penulis di akhir buku. Dan memang, Agus hampir selalu menggali isu ini dalam tulisan-tulisannya. Pada buku ini isu tersebut sangat kental terasa pada bab 3, Rumah Di Sini dan Di Sana, yang terdiri dari 16 tulisan. Bisa dibilang, tulisan-tulisan pada bab ini yang paling saya suka dari buku ini. Kisah Bang Ony (pencipta lagu kebangsaan RMS), kisah Wilem (tetua di kampung Digo, perbatasan Papua dengan Papua Nugini), dan kisah kakek Sarijo (imigran Jawa terakhir di Suriname), adalah kisah yang menyayat hati. Kisah tentang orang-orang yang berjuang begitu keras, tapi kadang kala dikhianati oleh realita.

Persoalan identitas dan kebanggaan yang melekat seseorang atau sekelompok orang, kadang kala memang tak masuk akal. Bahkan identitas tersebut bisa membuat hubungan yang bagai bara dalam sekam, hingga terjadi perang. Orang Tajik dan orang Pashtun misalnya. Juga India dan Pakistan, serta orang Maluku terhadap Indonesia.

Namun, dalam membahas isu identitas dan juga isu keterbelakangan sebuah negeri/masyarakat, menurut saya Agus kurang mengeksplorasi penyebab dari sisi eksternal. Iya sih, kita memang harus banyak menukik ke dalam diri sendiri, tidak melulu menyalahkan pihak luar. Tetapi bagaimana pun, faktor eksternal tetap tidak bisa dikesampingkan. Persoalan Afghanistan misalnya. Faktor kesukuan memang membuat Afghanistan hingga kini masih compang-camping sebagai negara. Tapi faktor itu seringkali sengaja dipelihara oleh negeri-negeri penjajah, diadu domba agar mereka sibuk dengan diri sendiri, agar sumber dayanya mudah dikeruk, agar mereka selalu tergantung.

Sejarah di banyak negeri banyak berbicara soal ini. Inggris yang pernah menguasai seperempat dunia. Dengan seenaknya membagi-bagi wilayah ini buat si ini, wilayah itu buat si ini. Israel diberi tanah Palestina. Belanda yang lebih dari 3,5 abad menjajah nusantara. Spanyol, Portugis, Australia, dan di masa kini Amerika dan Israel. Sejak dulu kolonialisme memang selalu dipelihara, salah satunya dengan mengacak-acak dan membuat orang-orang di sebuah negeri sibuk dengan diri sendiri, berantem sendiri. Okee, saya mulai esmosi, hehe. Sedikit merasa timpang saja. Ketimpangan yang juga saya rasakan dalam tulisan Surga yang Berontak. Agus memang dengan memikat menuturkan kisah Kashmir yang tak banyak kita ketahui. Hanya saja narasumber yang menjadi penggerak kisah negeri ini bagi saya kurang imbang. Agus mewawancara dua sosok yang condong pro India, meski di awal tulisan sosok tersebut terkesan netral dan adem. Tapi mengapa tidak mewawancarai sosok yang pro kemerdekaan atau Pakistan? Ya, ini maunya saya sih :D

Baiklah, sebelum ke mana-mana, saya sudahi saya review ala-ala ini. Kekurangan yang saya rasakan dalam buku ini, tak membuat mengurangi nilai saya terhadap sosok penulis. Yang bagaimanapun belum banyak di negeri ini. Saya akan selalu menantikan karya-karya berikutnya.

Profile Image for Bunga Mawar.
1,359 reviews43 followers
January 20, 2022
Tiga buku Gus Weng sebelum ini bisa saya selesaikan dalam tempo relatif cepat, tapi tidak untuk buku ini.

Mungkin karena judulnya.
Jalan Panjang untuk Pulang.

Saat buku ini datang April 2021 lalu, saya terlalu takut untuk memulai membacanya. Saat it kita semua masih di tengah pandemi covid. Alhamdulillah walau hingga saat itu kami sekeluarga masih sehat semua, namun di sekitar kita bayang-bayang ancaman virus dan kemuraman belum berkurang. Jujur, saya takut di antara kami ada yg "pulang" dalam perjalanan nasib di tengah terpaan pandemi.

Lalu saya mulai buka segel buku ini September lalu, justru saat ayah saya mulai dirawat di RS karena kadar Hb yg menurun. Saat itu, Ibu masih ada, masih di rumah menunggu pemulihan Bapak karena kami anak-anak tidak kasih beliau capek2 ke RS. Sepulang Bapak dari RS, eh nggak lama malah Ibu yang selama ini baik2 saja jadi sakit, masuk RS juga, lalu berpulang untuk selamanya, dan disusul Bapak tidak sampai dua bulan kemudian.

Orang-orang terdekat saya berpulang saat saya masih belum bisa menemukan tempat sejati saya di dunia ini.

Makanya saya bersyukur, buku ini saya selesaikan membacanya hari ini, sedikit banyak merasakan perenungan yang sama seperti Gus Weng di halaman 402: "Perlahan-lahan aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa kedua orang tuaku telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Mereka tidak akan pernah kembali, dan aku harus membangun hidupku lagi sepeninggal mereka. Aku pun mulai menerima realitas bahwa semua manusia datang dan pergi. Termasuk diriku sendiri. Aku pun datang dan pergi."

Terima kasih sudah menemani perjalanan panjang saya kali ini ya, Gus. Kapan-kapan kita jalan bareng lagi, ya. Entah ke mana, dan entah kapan.
Profile Image for Faisal Chairul.
269 reviews17 followers
February 21, 2024
Di antara buku-buku karya Agustinus Wibowo, buku ini yang paling menbuat saya merasa terinspirasi. Terutama karena menyajikan refleksi hakikat sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang keindahan lanskap sebuah tempat tetapi juga tentang manusia yang hidup dan berkehidupan di dalamnya. Perjalanan yang menjadikan kita seorang musafir yang ketika melakukannya memang juga ingin mengenal keseharian dan kehidupan masyarakat setempat terlepas dari identitas mereka.

Buku ini berbeda dengan tiga buku sebelumnya yang masing-masing cerita fokus di beberapa negara di satu wilayah. 'Selimut Debu' fokus pada cerita ketika melakukan perjalanan ke Afghanistan, 'Garis Batas' fokus di negara-negara Asia Tengah, dan 'Titik Nol' fokus di negara-negara subkontinen India (India, Tibet, Nepal, Kashmir, Pakistan) dan Tiongkok. Bentuknya pun berbeda. Sementara buku-buku sebelumnya merupakan cerita yang terjalin, buku ini tersusun atas esai-esai terpisah. Walaupun begitu, tetap ada benang merah yang menyusun keseluruhannya menjadi satu: cerita tentang manusia.

Ada esai yang mengisahkan bagaimana garis-garis batas membuat etnis-etnis di negara-negara Asia Tengah saling bermusuhan. Etnis Pashtun dan Tajik di Afghanistan, etnis Tajik dan Uzbek di perbatasan Tajikistan-Uzbekistan, dan etnis Tajik dan Kirgiz di perbatasan Tajikistan-Kirgizstan. Garis-garis batas juga membuat orang-orang perbatasan Papua Nugini-Indonesia mengalami dilema akan identitas mereka. Perasaan dilematis akan identitas mereka juga dirasakan orang-orang Jawa yang bermukim di Suriname.

"Konsep penyatuan garis batas negara dan bangsa ini sebenarnya sangat 'absurd'. Negara adalah tentang tanah, sedangkan bangsa adalah tentang manusia." Kontradiksi itulah yang dirasakan orang-orang Khan Kirgiz di wilayah Koridor Wakhan, timur-laut Afghanistan, yang terjepit oleh Tajikistan di utara, Pakistan di selatan, dan Tiongkok di timur. Mereka terombang-ambing di tengah pertarungan kekuatan politik yang membuat mereka terus mengembara mencari tanah air untuk disebut sebagai 'rumah'. Kontradiksi serupa juga dirasakan orang-orang di wilayah Kashmir, yang terjepit oleh pertarungan kekuatan politik antara India dan Pakistan.
Profile Image for Evan Dewangga.
308 reviews37 followers
March 14, 2023
Buku ini saya baca saat masih hangat-hangat setelah dari toko buku dan segera menenggelamkan saya pada kedalaman narasi reflektifnya. Ini adalah buku Agustinus Wibowo yang pertama saya baca, 400 lebih halaman tak terasa lama, tiap ceritanya insightful, seakan tidak ada kalimat yang sia-sia. Buku yang seumpama liburan dan travelling bareng Mas Agus di tiap sudut malam dan sudut weekend-ku.

Travelling ini menjadi sarana "escapism" sekaligus sarana "pulang". Kabur dari segala hiruk pikuk kepenatan pekerjaan, dengan diajak Mas Agus jalan-jalan ke gereja-gereja tua di Inggris yang ditinggalkan umatnya, dusun Xidi yang dulunya merupakan daerah saudagar, perbatasan rimba dan laut Indonesia-Papua Nugini yang mencekam, kota suci Mazar-e-Sharif saat hari raya Nawruz, hingga ke dalam diri Mas Agus saat belajar melakukan meditasi Vipassana di Bogor (di mana Mas Agus sempat kesal karena seharian "cuma belajar cara bernapas yang mindful"). Mas Agus menjadikan perjalanan tadi sebagai sarana untuk pulang, pulang ke bagaimana kita memaknai tempat wisata yang sudah terindustrialisasi, padahal dulu adalah tempat orang-orang merenung dan mengagumi kekecilan dirinya dibanding alam semesta. Pulang bukan ke "asal" dan "identitas" kita (yang rupanya hasil fabrikasi sosial politik), namun ke diri kita sebagai manusia, yang mudah sekali mengecap "kami dan mereka" dengan sedikit sentilan sentimen. Pulang ke cara kita bernapas, cara kita berpikir, cara kita melihat orang lain dan diri kita.

Mengambil salah satu terminologi dalam buku ini, "one talk" yang disederhanakan jadi "wantok", untuk penyebutan satu klan, trah, atau kerabat yang berbahasa sama di Papua Nugini. Papua Nugini adalah negeri dengan jumlah bahasa daerah paling banyak di dunia, sebab kelebatan rimbanya menciptakan perbedaan bahasa di tiap kampungnya, meskipun antar kampung berdekatan. Orang dari beda "wantok", saling memusuhi, mencuri, dan melakukan tindak kriminal. Agaknya Papua Nugini adalah miniatur dunia ini sendiri, dengan perbedaan bahasa dan budaya yang menciptakan prasangka antara "wantok" satu dengan lainnya. Namun meskipun terpecah-pecah, dunia ini dipersatukan (dengan rapuh) oleh satu "wantok, satu bahasa, bahasa uang, bahasa untung-rugi. Demi uang, orang bisa bersatu ataupun berperang. Dalam buku/perjalanan ini Mas Agus masuk dan menenggelamkan kita untuk mengajarkan bahasa yang lebih kuat dibanding uang, yaitu bahasa manusia sendiri. Bahasa manusia yang memiliki trauma sejarah karena politik pecah belah, sehingga mereka terkungkung dalam "echo chamber" masing-masing. Bahasa manusia yang muak dengan konflik dan sudah habis akal untuk menguntai konflik geopolitik pelik yang menguntai tanah kelahirannya (di Kashmir, Afghanistan). Bahasa manusia yang mencari siapa dirinya, untuk apa dia hidup, dan apa itu rumah, seperti dalam kisah keturunan Maluku di Belanda ataupun keturunan Jawa di Suriname. Bahasa manusia yang kabur untuk pulang, dengan meditasi Vipassana 10 hari untuk mengalami "kebosanan" (sebab bosan adalah sepotong kematian, kematian yang selalu kita elakkan, padahal kematian adalah bentuk pulang paling nyata, alias berpulang).

Puas banget jalan-jalan bareng Mas Agus, candu dengan gaya bahasa dan balutan sejarah yang bercampur dengan refleksi personalnya. Bakal ikut jalan-jalan lagi sama Mas Agus ke destinasi lainnya, dan ngerekomenin travel ini ke orang lain. Bintang 5 paling ringan yang pernah kuberi.
Profile Image for Ririn Lubis.
4 reviews
January 3, 2022
Finally, Saya berkesampatan untuk membaca kembali buku karya dari Agustinus Wibowo. Sudah menikmati jalan panjang untuk pulang sampai di halaman 338. Banyak informasi terbaru diperoleh terutama tentang sejarah-sejarah baik yang berhubungan dengan Indonesia maupun negara-negara lainnya. Ikut tergugah perasaan saat membaca perjalanan tentang kisah masyarakat Maluku di Belanda maupun cerita tentang rakyat Pakistan dan India. So far, memang asik dibaca untuk mengisi hari-hari yang dijalani sih. Gaya penuiisannya selalu menarik dan ingin rasanya memulai petualangan lagi nih.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
June 1, 2021
sungguh perjalanan yang teramat panjang untuk bisa pulang
Profile Image for anita.
20 reviews
February 21, 2021
Membaca buku ini seperti membaca puluhan ensiklopedia tentang sejarah, agama, budaya dan tradisi yg tentunya bukan sembarang traveller writer yang bisa mengungkapnya. Saya kasih bintang 4, karena bagi saya Titik Nol tetap menjadi karya Agustinus yang terbaik.
Profile Image for Wanderbook.
127 reviews40 followers
June 2, 2025
Bagus! Saya suka sekali. Khas Agustinus banget ketika ajak kita jalan-jalan ke satu tempat baru, gak hanya ngenalin tempatnya secara geografis saja, tapi kasih tahu sejarahnya, konfliknya, isu-isu politik dan agamanya, dan manusianya. Semuanya dikemas dengan sangat ciamik. Bikin saya yang baca merasa sedang ikut pergi jalan-jalan dan ngobrol sama warga lokal yang dijumpai penulis.

Review lengkap saya untuk buku ini bisa dicek di http://www.asriswear.com/2025/05/revi...
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
March 18, 2021
Aku udah selesai baca buku ini lebih dari 2 minggu yang lalu. Tapi ntah kenapa, mau bikin ulasan ala-ala-nya aja males banget. Ada satu alasan yang mendasari, tapi ketimbang blunder, mending alasan itu aku simpan dalam hati hehe.

Apa bukunya jelek? Agustinus Wibowo, gitu. Mana bisa dia nulis jelek. :)

8 tahun lalu, buku Titik Nol yang dia tulis begitu membius. Aku kasih skor 9,7 saking sukanya. Rekor ini baru terpecahkan tahun lalu saat aku baca Raden Mandasia (yang aku kasih skor 9,8). Tapi, keduanya beda gendre. Yang satu non fiksi yang satu fiksi.

So, untuk buku perjalanan, Titik Nol-nya Agustinus Wibowo tetap belum tergeser oleh buku perjalanan manapun yang aku baca sejauh ini.

Jalan Panjang untuk Pulang ini memiliki sub judul: Sekumpulan Tulisan Pesinggahan. Itu artinya, Agustinus gak fokus menulis ke satu atau beberapa negara saja.

Buku ini jauh lebih beragam walau dibagi dalam 4 bab besar. Gak ada tulisan yang jelek. Beberapa di antaranya (yang sudah pernah dipublikasikan di majalah) bahkan sangat berkesan. Mengharukan, menyentak bahkan bikin geleng-geleng.

Agustinus tetap saja menulis dengan bagus. Salah, SANGAT BAGUS malah. Tapi, tetap saja sajian buku ini tidak memiliki daya magnet yang sama seperti dulu aku membaca Titik Nol.

Cukup lama aku menamatkan buku ini (apalagi dibaca kebanyakan pas pup "saja" hohoho). Sebab ya itu, magnetnya sedikit berkurang dan, satu alasan lain yang kubilang di paragraf awal akan tetap aku simpan sendiri.

Untuk menutup celotehan gak jelas ini, aku ingin menanggapi kalimat ini. Kalimat yang tertulis di sampul belakang.

"Tempat-tempat yang dikunjungi Agustinus BUKANLAH tempat-tempat yang nyaman, tenang, atau bahkan indah dalam kacamata tamasya."

Well, tempat-tempat itu indah kok. Hanya, Agustinus "tidak mau" menuliskan (baca: menonjolkan) sisi itu saja.

Oke sip

Skor 9/10


Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews9 followers
January 9, 2023
"Setelah perjalanan panjang, melihat tanah air itu bagai melihat foto-foto lama dari dirimu sendiri. Kau merasa dirimu yang ada di foto-foto itu sudah bukan dirimu yang sekarang. Tempat-tempat jauh itu mungkin tidak akan mengubah jiwamu, tetapi tentu mereka telah mengubah caramu melihat segala sesuatu (hal. 293)."

Kutipan ini salah satu favoritku. Dalam tiga kalimat tersebut, cukup jelas bahwa perjalanan bukan tentang apa yang kita lihat, namun berikut tentang apa yang kita rasakan. Hal ini akan membangkitkan rasa kemanusiaan dalam memaknai sebuah pemberhentian di setiap perjalanan hidup kita.

Kehidupan tanpa perjalanan itu seperti katak dalam tempurung. Tetapi perjalanan tanpa memahami "roh" itu juga tidak jauh lebih baik (hal. 8). Inilah yang membuat buku-buku Agustinus menarik untuk dibaca. Pembaca tidak hanya di hadapkan dengan Kashmir sebagai tanah surga, namun menyuguhkan realitas sesungguhnya sebagai wilayah yang berkonflik dengan negaranya sendiri.

Perjuangan hidup imigran Jawa-Suriname juga digambarkan demikian sulit. Pengiriman pekerja Jawa yang berlangsung antara tahun 1890 dan 1939 itu menorehkan sejarah yang sulit dilupakan. Beberapa tokoh juga ditampilkan penulis dalam bentuk dialog maupun foto sebagai relief masa lalu.

Begitu pun yang terjadi di Digo, perbatasan RI-Papua Nugini, krisis identitas juga dirasakan warganya. Mereka berada di wilayah Indonesia, namun hatinya lebih dekat dengan Papua Nugini. Cerita tentang raskol, legenda kulit putih, gaya hidup, serta harapan mereka terangkum pula dalam buku ini lengkap dengan garis batas yang mengikuti.

Terlepas dari persoalan garis batas yang melulu jadi belenggu, penulis dengan cermat membangunkan jiwa kebangsaan kita. Krisis identitas yang dialami penulis dan beberapa tokoh yang ditulisnya, membuat kita berkaca bahwa identitas kebangsaan yang sesungguhnya adalah tentang rasa diterima dan rasa memiliki.

Perjalanannya ke berbagai penjuru, justru membuatnya belajar menjadikan semua tempat sebagai rumah, semua identitas sebagai akar. Dan inilah yang terpenting sebagai hamba Tuhan yang menyediakan alam semesta untuk semua makhluknya.

Buku ini berisi cerita dan esai tahun 2008 hingga 2020. Berbeda dengan ketiga buku yang menceritakan perjalanan khusus di Asia Tengah, Agustinus mencatat beragam dimensi dan sudut pandang yang pernah dilaluinya. Mulai dari Cina, Mongolia, Afghanistan, Iran, Australia, Tajikistan, Belanda, Papua Nugini, Uzbekistan, termasuk Indonesia.

"Perjalanan Kirgiz Mencari Tanah Air" yang paling berkesan bagiku. Membayangkan kehidupan nomaden pengembara Kirgiz, sistem barter yang masih berlaku, sampai kepulangan Arif Khan beserta rombongannya, membuatku turut membayangkan kampung halamannya yang nyaris hilang.

Saat ia harus kembali ke Turki dengan zaman yang cepat berubah, Pamir tetaplah demikian. Tak ada yang berubah sama sekali dalam tiga ratus atau lima ratus tahun sekalipun, ungkapnya. "Pamir mungkin bukan tempat yang baik, tetapi di sinilah aku lahir dan dibesarkan. Aku tahu setiap lekuk dari gunung-gunung ini, setiap kelokan sungainya, setiap lembar rumputnya. Semuanya hangat di hatiku" (hal. 294).

Selanjutnya, "Ketika Tuhan Harus Dibela", " Ketika Tuhan Menjadi Negara", dan "Surga yang Berontak"—sebagai salah satu esai terpanjang, saya dibuat miris saat membaca perpecahan antar klan. Bahkan ketika nama Tuhan dipakai para politisi untuk memanipulasi umat, peperangan seolah dibenarkan dengan dalih perang suci yang mungkin masih dapat kita temui hingga kini.

Secara garis besar, buku ini menjadi incaranku setelah membaca ketiga buku Agustinus: Titik Nol, Garis Batas, dan Selimut Debu. Aku menikmati gaya berceritanya, sekaligus pemaknaan yang sulit ditebak, serta gambaran yang lugas saat menceritakan berbagai tempat yang belum pernah kukunjungi.

Saat kita dihadapkan dengan catatan-catatan Agustinus Wibowo, aku tak lantas melihat luasnya dunia, melainkan keluasan yang sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. Diri setiap umat manusia. Dan di sinilah aku belajar makna pulang.
Profile Image for Fionna Christabella.
46 reviews2 followers
November 6, 2021
📖 *Review Buku* 📖

📗 *Judul*: _Jalan Panjang untuk Pulang: Sekumpulan Tulisan Pesinggahan_
🖊️ *Penulis:* Agustinus Wibowo
🖨️ *Penerbit :* Gramedia Pustaka Utama
📆 *Tahun :* 2020
📚 *Tebal :* 461 halaman
🛡️ *ISBN:* 978-602-06-4757-9
🧕 *Reviewer :* *Fionna Christabella*

🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵🌾☘️🏵

_Kemana kita akan pulang?_
_Dimanakah "rumah"?_
_Apakah arti sebuah perjalanan?_
_Mengapa manusia terobsesi akan sebuah perjalanan?_

Beberapa pertanyaan di atas selalu mengemuka dalam tulisan - tulisan Agustinus Wibowo (AG). Seperti halnya buku bukunya yang terbit sebelumnya, _Titik Nol_, _Garis Batas_, _Selimut Debu_, buku ini pun tidak lepas dari tema perjalanan dan kepulangan. Di dalamnya memuat 4 tema besar yaitu "Lokasi, Lokasi, Lokasi," "Melintas Batas," "Rumah Disini dan Disana," dan bab "Pulang." Semua tulisan dalam buku ini pernah dimuat di beberapa media dalam dan luar negeri mulai dari tahun 2008 sampai dengan 2020

Bukan sekedar kisah - kisah persinggahan AG di China, Kashmir, Suriname, Papua Nugini, Australia, Belanda, Inggris, negara negara pecahan Uni Soviet seperti Kirgizstan, Kazakstan, Uzbekistan, Afghanistan, Pakistan, Iran tetapi tentang kisah - kisah mereka yang tinggal dan pergi, tentang identitas, jati diri, sejarah, hakikat serta makna hidup, dan arti kehidupan.

Tema pertama, "Lokasi Lokasi Lokasi" berkisah tentang beberapa tempat wisata sejarah yang berubah menjadi sekedar komoditas pariwisata dengan kedok pelestarian budaya satu tulisan yang saya sukai yaitu "Dunia di Mata Mereka yang Tidak Bepergian". Tema kedua berkisah tentang negara - negara yang dikotak - kotakkan rezim yang pernah berkuasa, salah satu kisah di tulisan "Garis Batas di atas Kertas" mengkisahkan AG yang kesulitan pergi ke Belanda hanya karena ia memakai paspor Indonesia. "Nasib kita memang ditentukan oleh garis - garis batas berwujud kertas yang kita pegang dan bawa kemana-mana. Tetapi bahkan ketika kertas yang kita pegang ini berubah, tetap ada bagian diri kita yang tidak akan serta - merta turut berubah karenanya" (h. 149).

Bagian ketiga dan keempat berkisah tentang berbagai paradoks dan dilema kehidupan serta pencarian jati diri. Pertanyaan tentang, "aku ini siapa?," "aku bangsa apa?," menghiasi tulisan - tulisan di pertengahan sampai bagian akhir buku ini. Kisah orang - orang Jawa yang diangkut Belanda ke Suriname untuk menjadi pekerja perkebunan merasa terasing saat mendapatkan kesempatan "pulang" ke tanah Jawa. Mereka tidak lagi mendapatkan rumah di tanah kelahiran.

Kisah - kisah dalam buku ini bukan fokus pada cara AG ke tempat yg dituju atau hal-hal yang menarik disana dan disini tetapi lebih mengetengahkan problem - problem manusia serta kemanusiaan, sentimen ras dan agama, kemiskinan, trauma sejarah, problem rakyat jelata yang hidup di luar jangkauan pemerintah pusat. Buku ini, sungguh - sungguh kumpulan tulisan penuh makna. Bukan saja tentang sejarah bangsa - bangsa, tetapi sejarah tentang agama dan kepercayaan, sejarah tentang pembunuhan, konflik dan genosida, sejarah tentang manusia dan kemanusiaan sehingga membuat saya merenungkan kembali tentang makna tanah dan air serta makna pulang.

🦋💐🍁🦋💐🍁🦋💐🍁🦋💐🍁
Profile Image for Fauziah Ramadhani.
38 reviews20 followers
February 6, 2023
Memaknai Pulang dari Kacamata Agustinus Wibowo

Mau berapa kali membaca, aku tetap suka mengulang tulisan-tulisan Agustinus Wibowo. Dulu, ketika bagiku buku-bukunya cukup menguras kantong, aku suka sekali bolak-balik mengakses portal blognya. Jaga-jaga kalau ada tulisan yang baru. Setelah mendengar buku "Jalan Panjang untuk Pulang" akan dirilis, aku langsung cepat-cepat membeli buku ini melalui sistem pre order.

Aku tidak pernah meragukan ketangkasan Agustinus Wibowo dalam mendeskripsikan sesuatu. Selain gaya bahasanya yang ringan, lugas, dan ku kagumi; perspektif Agustinus bagiku tak perlu diragukan lagi, mengingat ia sudah banyak berjalan di batas-batas negara.

Berbeda dengan buku Titik Nol (aku mengaku, aku belum membaca kedua bukunya yang lain) yang memiliki plot panjang dan bersambung, Jalan Panjang untuk Pulang merupakan kumpulan esai persinggahan dari mulai dari Digo di Perbatasan Indonesia-Papua Nugini hingga Mongolia atau Inggris atau Suriname.

Sejujurnya, saat awal membaca buku ini, saya hampir setengah mati kebosanan karena tidak biasa disuguhi banyak angka-angka dan sejarah Cina. Namun, makin ke belakang, makin luas tanah-tanah leluhur yang dibahas, makin banyak perjalanan bertahun-tahun yang ditempuh berbagai macam suku, ras, dan bangsa, makin unik pemikiran-pemikirannya; makin menarik.

Dalam buku ini, Pulang seringkali terdefinisi sebagai tempat, kadang negara yang sudah terpecah-pecah, mungkin terasosiasi dengan Tuhan dan agama, beberapa hanya sebatas ingatan tentang Negara Jawa, tentang mempertanyakan kemanusiaan, atau yang paling sendu—masih belum ditemukan. Agak lucu juga sebenarnya ketika menyadari jika "pulang" adalah sebuah konsep yang sangat abstrak.

Bagian yang membuat hatiku terenyuh adalah kisah Wilem dalam Bendera Merah Putih di Garis Batas.

Bendera itu terbentang di hadapan saya. Bendera merah putih yang masih baru tapi sudah lusuh. Selembar bendera yang sempat memberi Wilem begitu banyak harapan, tetapi kemudian pupus lagi. Toh impian memang tidak bisa ditebus hanya dengan selembar bendera *sob*

Esai lainnya yang kusukai diantaranya adalah Imigran Jawa Terakhir di Suriname, Menjadi Yahudi Bukhara, Ketika Tuhan Harus Dibela, Ketika Tuhan Menjadi Negara, dan Matinya Agama Tua

Sungguh, jika perjalanan bagimu adalah menyelami apa-apa saja yang terjadi selama beberapa dekade lalu dan pada akhirnya membentuk apa yang ada saat ini, buku ini adalah bacaan yang tepat.

Hanya saja, aku sedikit kecewa karena beberapa tulisan yang dimuat dalam buku ini telah diposting terlebih dahulu di blog penulisnya. Padahal aku berharap buku ini menawarkan sesuatu yang benar-benar baru mengingat buku ini diterbitkan dengan jarak cukup jauh dari buku sebelumnya.

Meski begitu, aku tetap menunggu karya-karya Agustinus Wibowo lainnya di kemudian hari.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,095 reviews17 followers
August 25, 2025
Membaca karya Agustinus Wibowo selalu seperti menempuh perjalanan yang bisa dirasakan fisik maupun batin. Dalam Jalan Panjang untuk Pulang, ia mengajak kita merenungi pertanyaan paling mendasar tetapi sulit dijawab:

"Apa arti pulang?".

Buku ini merupakan catatan perjalanan ke berbagai tempat di dunia sekaligus menyingkap lapisan-lapisan kehidupan manusia di wilayah yang kerap terpinggirkan, baik itu daerah konflik, perbatasan, atau tempat yang penuh pergulatan identitas. Dari Huangshan di Tiongkok, padang luas Kazakhstan, hingga batas-batas di negeri sendiri, ia mengajak kita melihat bagaimana manusia membentuk dan dibentuk oleh sejarah, tradisi, juga trauma kolektif.

Yang menarik, perjalanan dalam buku ini banyak dihadirkan melalui esai pendek. Narasi yang kaya riset, observasi detail, dan refleksi filosofis membuat pembaca tidak hanya "melihat" sebuah tempat, melainkan ikut merasakan denyut kehidupan orang-orang di sana. Agustinus tidak mendikte, ia membiarkan kita menyelam sendiri ke dalam makna-makna yang ia tulis.

Lima esai yang paling membekas bagi saya, yaitu "Garis Batas di Atas Kertas", "Bendera Merah Putih di Garis Batas", "Diaspora Bicara Makna Menjadi Jawa", "Ketika Tuhan Menjadi Negara" dan "Laut". Semuanya menyingkap pertanyaan tentang identitas (baik identitas bangsa, keluarga, maupun diri sendiri). Ada pula momen-momen yang begitu menyentuh, seperti kisah sederhana seorang anak kecil di Katedral Norwich yang membuat saya termenung, seolah diminta memikirkan ulang hubungan saya sendiri dengan Tuhan.

Membaca buku ini memang butuh kesabaran. Pada awalnya terasa padat dengan data dan pergeseran topik yang cepat, tetapi semakin lama, ritme itu berubah menjadi tulisan yang mengalir. Kita diajak perlahan masuk ke inti: bahwa “jalan pulang” bukan hanya tentang sebagai penutup perjalanan, melainkan sebuah proses pencarian makna yang bisa dilakukan seumur hidup.

Bagi saya pribadi, Jalan Panjang untuk Pulang merupakan buku perjalanan dan refleksi kemanusiaan: tentang keberagaman, tentang menerima perbedaan, tentang menundukkan ego, dan tentang menemukan ketenangan dalam diri.

Lantas, pulang ke mana?

Jawabannya bisa beragam. Pulang ke rumah, ke tanah air, ke leluhur, ke diri sendiri, bahkan ke Tuhan.

Sebuah bacaan yang dalam, menyentuh, dan layak menemani siapa pun yang sedang mencari makna "rumah".
Profile Image for suaralam.
49 reviews
January 22, 2021
Ada satu hal di dunia ini yang dengan mudahnya dapat menjadi akar dari suatu konflik yang terjadi di masyarakat: identitas.

Seperti buku-buku sebelumnya, Agustinus sangat pandai mencari babak baru dalam tulisan-tulisan perjalanannya. Jika suatu ketika yang disetir adalah masalah agama, maka di lain hal Agustinus juga dapat menjadikan masalah "darah" sebagai pokok persoalan perpecahan yang terjadi di mana-mana. Salah satunya konflik internal yang menimpa dirinya ketika ia harus dihadapkan oleh pertanyaan "Apakah saya orang China atau orang Indonesia?" Dengan melakukan perjalanan, ia menelusuri identitasnya dan akhirnya menemukan jawaban yang menurut saya (sebenarnya) tidak berkesudahan. Jika mengaitkan konsep "darah" dengan "nasionalisme", saya pikir mengutip Benedict Anderson dalam "Imagined Communities" tentang bagaimana konsep kebangsaan yang begitu abstrak dan artifisial adalah jalan terbaik.

Kemudian dalam salah satu esainya yang menceritakan konflik antara Kashmir dan India, ditemukan akar masalah yang menyebabkan mengapa konflik itu terus terjadi. Yang dengan kajian jurnalistiknya, ia berusaha menyeimbangkan antara opini yang pro dan kontra terhadap pembebasan Kashmir. Sehingga dalam memandang suatu konflik, kita ditekankan untuk tidak memandang "Mana yang baik atau yang buruk". Karena di dunia ini tidak ada yang hitam dan putih. Yang ada hanya abu-abu.

Saya bukan seorang jurnalis bahkan tidak pernah belajar ilmu jurnalistik sekali pun, tapi saya pikir sudah seharusnya seorang jurnalis menceritakan suatu kisah layaknya seorang Agustinus Wibowo. Begitu cerah. Ada lima judul esai yang sekiranya sangat saya suka dalam buku ini:
1. Darah dan Nasionalisme
2. Bendera Merah Putih di Garis Batas
3. Kisah Maluku di Negeri Belanda
4. Imigran Jawa Terakhir di Suriname
5. Surga yang Berontak
Profile Image for Kimi.
406 reviews30 followers
August 8, 2021
Lama tidak membuka media sosial membuat saya ketinggalan banyak berita, salah satunya adalah Agustinus Wibowo telah mengeluarkan buku terbaru di awal tahun ini. Alhasil, baru pada tanggal 26 Juli 2021 kemarin saya membeli bukunya dan baru dua hari (7 - 8 Agustus 2021) terakhir saya sempat baca sampai selesai.

Agustinus Wibowo sudah memukau saya sejak buku pertamanya Selimut Debu, yang mengisahkan perjalanan beliau di Afghanistan. Itu adalah perkenalan pertama saya dengan beliau. Tidak sampai di situ, saya terus mengikuti kisah perjalanannya di Garis Batas tahun 2011 dan Titik Nol di tahun 2013. Dan itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Gus Weng (dalam hal membaca bukunya, maksudnya).

Delapan tahun berselang, Gus Weng masih memukau saya lewat tulisan-tulisannya. Jalan Panjang untuk Pulang berisi kumpulan tulisan beliau yang tersebar di berbagai media dalam dan luar negeri. Ia juga merupakan kumpulan cerita beliau dari berbagai lokasi di dunia. Jadinya, Jalan Panjang untuk Pulang semacam karya seni mozaik yang indah. Tulisan dan cerita beliau adalah kepingan-kepingan yang dikumpulkan sehingga membentuk buku Jalan Panjang untuk Pulang yang indah.

Ada alasan mengapa saya mengibaratkan buku ini seperti mozaik. Membuat mozaik itu tidak mudah, setidaknya itu dari yang saya baca di internet. Proses pembuatannya terbilang rumit, butuh kesabaran dan ketelatenan, tetapi hasilnya luar biasa indah. Demikian pula dengan buku ini.


Resensi lengkap ada di sini.
Profile Image for Erika.
120 reviews2 followers
March 22, 2021
Jalan Panjang untuk Pulang
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kedua, Februari 2021
Halaman:461


Buku ini berisi kumpulan cerita dan esai yang ditulis langsung oleh penulis tentang perjalanannya ke banyak tempat. Menghadirkan banyak perspektif sejarah yanh objektif. Selain itu, perjalanannya juga tak hanya sekadar fisik tapi juga batin. Penuh perenunganlah. Terdiri dari 4 bab yaitu lokasi, lokasi, lokasi; melintasi batas, rumah di sini dan di sana terakhir pulang.

"Identitas kebangsaan sesungguhnya adalah dua rasa: diterima dan rasa memiliki. Seseorang-apapun darahnya dan latar belakang budayanya- bisa menjadi bagian dari bangsa manapun, asalkan bangsa itu menerima dia apa adanya."(228)

Kisah konflik negara-negara asia timur cukup banyak porsinya di buku ini. Pergolakan batin para diaspora Jawa yang berada di suriname dan belanda juga penulis sendiri yang juga diaspora membuatku berpikir tentang identitas yang melekat dalam diri kita sebenarnya berasal dari mana saja sih.

"Tanpa memahami sejarah dari berbagai perspektif, tragedi ikan makan ikan akan terus berulang. Tidak ada hitam dan putih dalam sejarah. Apa yang disebut pemberontak atau teroris bagi kelompok yang satu, adalah pejuang dan pahlawan bagi kelompok lain. Manusia seringkali tidak bisa memilih untuk berada di sisi sejarah yang sebelah mana."(242)

Setidaknya setelah membaca buku ini jadi punya lebih banyak alasan untuk mengetahui sejarah dari banyak sumber untuk melihat keterkaitannya. Mungkin saja tindakanku hari ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh sejarah di masa lalu.

Terima kasih kuucapkan untuk penulis buku ini karena punya tambahan sudut pandang baru tentang sesuatu yang sering kulihat tapi tak kukulik lebih dalam lagi.
Profile Image for ~ Dra.
124 reviews3 followers
October 17, 2023
Akhirnya, perjuangan gua selama seminggu belakangan ini terbayar juga setelah gua berhasil membaca buku ini hingga tuntas. Honestly, gua agak menyesal kenapa gua harus membiarkan buku ini teronggok cukup lama di rak buku gua dengan alasan yang remeh karena bukunya tebal dan gua merasa tidak punya cukup waktu untuk baca. Padahal buku ini tuh bagus banget.

Membaca buku ini memberikan pengalama yang sangat berbeda dengan buku-buku yang sempat gua baca sebelumnya. Di setiap cerita dalam buku ini, kita akan dibawa ke dalam kisah perjalanan penulis di berbagai tempat di pelosok dunia. Gua salut banget dengan keberanian penulis untuk mengunjungi tempat-tempat yang sangat jauh dari kata aman dan membawa sebuah cerita yang sangat luar biasa yang belum terbayang dari benak gua. Selain itu, perjalanan penulis dalam menceritakan berbagai fenomena/isu dari beberapa negara di dunia seperti konflik, kesetaraan gender, HAM, nasionalisme, berhasil membuka pikir gua bahwa dunia ini cukup luas dan banyak sekali hal yang belum gua ketahui selama ini.

Karena buku ini mengusung format seperti kumpulan cerpen kita tidak perlu membaca buku ini secara runut. Bisa langsung pick salah satu judul cerita yang menurut kita menarik. Dan di kesempatan ini, gua akans hare my five favorite stories yang bisa dibaca oleh pembaca lainnya:
1. Selamat Menikmati Penerbangan Anda,
2. Tersekat Gunung dan Batas,
3. Ikan Makan Ikan,
4. Menjadi Yahudi di Bukhara,
5. Laut.

If you guys look for a unique reading experience, I think this book is worth a try.

Sincerely,
DERA
40 reviews1 follower
February 15, 2021
Penulis yang mengaku memiliki darah yang membosankan ini sukses membuat mataku berkaca-kaca dengan dua sebab silih berganti. Satu sebab karena tertawa ngakak dan satu sebab lagi karena terharu. Seingatku buku-buku sebelumnya tidak sedalam ini sense of humor-nya.

Salut juga buat semua penelitian panjang yang pasti telah dilalui sebelum merangkai paragraf demi paragraf. Contohnya saja, perubahan kurs dolar dari berapa ke berapa itu sampai begitu detailnya... astaga. Jika diibaratkan sebuah hidangan, persiapan untuk memuaskan hasrat lidah yang toh akan selesai kurang dari 1 jam itu telah dilalui melalui seleksi bahan, takaran yang ketat, fermentasi berbulan-bulan, semalaman di atas tungku, sampai dengan plating-nya.

Selain dari tentu saja cara pandang baru perihal suku-suku, agama, budaya, sejarah, dan geografi yang kudapati dari buku ini, aku juga baru sadar bahwa aku ini orang Indonesia tetapi ternyata tidak seratus persen paham Bahasa Indonesia. Ada beberapa kosakata dalam buku ini yang baru bagiku. Maka, janganlah gegabah lantang berseru, aku orang Indonesia, karena belum tentu Bahasa Indonesiamu sempurna. Itu kataku pada diriku, setelah membaca buku ini.
Profile Image for Wildan J.
28 reviews
July 9, 2021
Agustinus Wibowo adalah penulis perjalanan favorit saya, bahkan seluruh bukunya sudah saya baca. Saya suka sekali cara Agus menceritakan perjalanannya ke Asia Tengah dengan riset mendalam, interaksi dengan warga dan memaknainya.

Tema besar yang merekatkan tulisan satu dengan yang lain pada buku ini adalah tentang identitas dan apa arti pulang. Namun sejujurnya, saya tidak terlalu menangkap itu. Saya malah merasa buku ini merupakan batu loncatan kecil sebelum Agus menulis project yang lebih besar, tentang Nasionalisme.

Satu tulisan pada buku ini yang menarik perhatian saya berjudul “Seorang Pencari dan Napasnya” yang menceritakan pengalaman Agus meditasi 10 hari di daerah Bogor. Saya pernah mencoba meditasi, tapi ga pernah bisa. Setelah membaca tulisan ini saya jadi tertarik mencoba teknik Vipassana dan mengetes diri apakah saya sanggup sepuluh hari meditasi tanpa melakukan apapun. Agus menceritakan bahwa meditasi, adalah perjalanan mengenal diri sendiri. Perjalanan ke dalam diri selalu membuat saya tertarik.

Sejujurnya saya menunggu tulisan perjalanan Agus ke Papua Nugini. Tetangga Indonesia yang saya belum pernah terbayang bagaimana kehidupan di sana. Semoga project Agus selanjutnya dapat membuka mata Saya bagaimana kehidupan di tempat yang belum pernah saya bayangkan.
Profile Image for ronce!.
9 reviews
May 13, 2022
Butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Sepertinya, selama 4 bulan terakhir, saya sedang memasuki fase reading slump. Selain itu, sejujurnya buku ini sedikit di luar ekspektasi saya terhadap karya Mas Agustinus Wibowo. Tiga buku sebelumnya adalah jenis buku perjalanan yang "page turner", sangat membuat saya ketagihan untuk segera merampungkan. Namun, buku ini berbeda. Beberapa cerita dalam buku ini pernah saya temui di buku sebelumnya. Isi buku yang sesungguhnya berisi tulisan yang tidak saling terhubung satu sama lain membuat saya punya excuse untuk menunda membaca, "ah ini bukan cerita Suriname lagi, sudah pindah setting, besok lagi aja deh bacanya". Jadi, jujur ini rekor terlama saya membaca karya Agustinus Wibowo jatuh kepada Jalan Panjang untuk Pulang. Beneran jalan panjang yak 🤣

Namun, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Mas Agustinus karena di buku ini beliau mau bercerita tentang proses dirinya melalui tahap berduka dengan meditasi. Tulisan yg jujur sekali dan membuat saya belajar untuk melihat individu lain dengan lebih berempati.
Profile Image for Fadilah.
300 reviews69 followers
March 27, 2021
Kumpulan kisah perjalanan ini lebih beragam dan lebih mempakkan sisi personal dan pergolakan batin sang penulis, terutama di bagian akhir buku. Seperti biasa, saya cukup menikmati tulisan yang mirip sebuah catatan etnografi yang tidak memihak namun mencoba menampilkan sudut pandang orang-orang yang ditemui.

Bagian yang paling saya suka adalah saat perjalanan menemui shaman di lokasi yang nun jauh di sana dan sulit dijangkau. Menarik sekali melihat kontras di mana mereka sudah memiliki ponsel dan profesi shaman mulai memasuki ranah internet, sementara itu kehidupan mereka masih cukup terisolasi dalam hal makanan dan akses fisik.

Secara keseluruhan, buku ini lebih modern karena memang perjalanan yang dilakukan juga dilakukan tidak lebih dari 10 tahun lalu, bahkan ada yang dilakukan 2019.
Profile Image for Nathalie Indry.
53 reviews8 followers
May 2, 2021
Saya pikir, nggak berlebihan memberikan bintang 5 untuk kumpulan tulisan perjalanan yang kaya akan pelajaran hidup. Kalau biasanya Agustinus memilih menulis dalam nafas panjang, kali ini tidak. Tapi menurut saya sama berbobotnya. pertanyaan dirinya soal identitas diri dan makna kepulangan, serta rumah, menjadi satu benang merah dalam topik besar yang dibahas dalam buku ini.

Saya paling suka saat Agustinus menulis cerita dirinya bersama ayah. Tidak hanya romansa masa kecil yang terbawa, tapi juga kondisi politik Indonesia, gambaran kebesaran alam yang menerima, serta proses pendewasaan diri yang terbaca sangat indah.
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
May 15, 2021
Membaca buku ini sungguh menjadi kendaraan saya untuk tahu lebih banyak tempat. Mulai dari Pakistan dengan sejarah panjangnya memisahkan diri dari India, Afghanistan dengan konflik yang tak kunjung usai, sampai kehidupan di Iran yang tak banyak dibahas media utama. Agustinus menulis dengan jujur dan ini membuat pembaca semakin masuk ke dalam pengalaman-pengalaman yang ada. Selain bercerita tentang tempat buku ini juga mengulas lebih lanjut tentang berbagai identitas, ini dapat menjadi renungan kita untuk bertanya lebih lanjut, buku yang sangat bagus untuk berpetualang ke lebih banyak tempat, pemikiran dan pengalaman batin
Displaying 1 - 30 of 66 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.