Satu kata : mengecewakan. Jujur saja aku berharap aku akan menangis termehek-mehek saat membaca buku ini, seperti halnya ketika aku membaca Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Entah apa karena mood yang sedang datar-datar saja sehingga kurang dapet emosi saat aku membaca buku ini.
Selain itu, aku juga kecewa karena sebelum memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam shelf “secret santa” di Goodreads, aku melihat beberapa review teman-teman yang memberi rate cukup tinggi untuk buku ini. Antara 4-5 bintang. Wajar bukan kalau ekspektasiku juga cukup tinggi? Ah, sayang. Setelah aku membacanya sendiri, cerita ini terasa sangat datar sekali. Dengan alur yang amat sangat lambat sekali. Hhhhh… Inhale, exhale…
Dengan setting Bali dan Lombok, buku ini menampilkan kisah cinta persahabatan klasik. Dua sahabat yang saling mencintai, tapi sama-sama memendam rasa itu berpuluh-puluh tahun lamanya. Kemudian baru tersadar ketika semuanya sudah terlambat.
Adalah Rosie dan Tegar. Bersabahat sejak kecil, bertetangga, dan suka mendaki Gunung Rinjani setiap libur semester. Tegar mencintai Rosie. Tapi, Rosie? Ah, Tegar tidak pernah tahu. Yang Tegar tahu, Rosie mencintai Nathan, teman Tegar yang baru dikenalkannya pada Rosie dua bulan lalu. Semua seperti lelucon. 20 tahun penantian Tegar, ternyata hanya 2 bulan penantian Nathan kepada Rosie. Tegar kalah cepat. Nathan lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Rosie. Tepat di puncak Gunung Rinjani, saat sunset selama 47 detik yang indah itu terjadi. Dan Rosie, untuk kali pertama, memalingkan wajahnya dari sang senja. Menatap Nathan dengan sempurna sambil tersenyum malu-malu menerima cinta Nathan. Sejak saat itu, Tegar sadar, dirinya sudah tidak punya kesempatan lagi.
Sejak kejadian itu, Tegar sempurna menghilang dari kehidupan Nathan dan Rosie. Menyibukkan diri dengan bekerja 10 jam sehari. Mencoba keras melupakan perih pedih sakit hati tentang perasaannya untuk Rosie. Nathan dan Rosie menikah. Punya 4 orang anak perempuan. Keluarga kecil itu sungguh bahagia. Selama 13 tahun, pernikahan itu selalu mulus. Sampai akhirnya Tuhan mengeluarkan skenario terbarunya. Jimbaran, tempat mereka merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke-13, dibom. Nathan mati dengan kepala yang pecah. Karena khawatir dan panik, Tegar dari Jakarta langsung menuju ke Bali saat itu juga. Singkat cerita, Rosie menjadi depresi berat. Sering kalap berteriak-teriak, memukul dan menyakiti anak-anaknya tanpa sadar. Rosie direhab. Selama direhab, Tegar yang menjaga keempat anak-anak Rosie. Selama itu pulalah, kejadian 15 tahun lalu seperti tumbuh kembali. Tanpa siapapun menduga.
Aku pribadi tidak terlalu tertarik dengan cerita yang mayoritas dituliskan Tere Liye di buku ini. Kebanyakan menyinggung soal anak-anak Rosie yang agak “ajaib”. Masak iya, Jasmine, umur 5 tahun sudah cakap menggendong anak umur 1 tahun dan pandai merajut?! Meh. It also feels like “gue disuruh nonton kelakuan anak-anak yang rame, berisik, tapi di satu sisi menggemaskan dan adorable”. Aku bener-bener nggak suka. Bukan karena aku nggak suka anak-anak. Sama sekali bukan. Tapi seolah-olah Tere Liye sedang memaksa pembaca agar menyukai karakter anak-anak ini. Dan aku, benci itu. Seperti didoktrin.
Tidak ada tokoh yang aku sukai dari novel ini. (1) Tegar, laki-laki baik tapi tega menyakiti hati Sekar, tunangannya yang ditinggalkannya dan digantung selama 2 tahun! Kemudian begitu mengetahui Sekar akan bertunangan dengan orang lain, Tegar seakan baru tersadar akan cinta Sekar yang begitu besar padanya. Tegar kembali meminta Sekar untuk tetap bersamanya. Anjirrr, ke mana aja Mas???!!! Emosi… Errr! Inhale, exhale…
Oke, Sekar menerima Tegar kembali. Mereka merencanakan ulang pernikahan yang tertunda 2 tahun lalu. Di hari H, Tegar malah melakukan hal-hal yang menyakitkan Sekar (lagi). Errr! Cowok macam apa sih Tegar ini! Plin plan dan terlihat nggak menghargai perasaan wanita banget. (2) Rosie juga! Sama menyebalkan. Cewek yang tidak mau rugi. (3) Sekar? Ah, cewek bodoh. Cinta bisa sungguhan membuat seseorang menjadi bodoh. Di awal dia memutuskan untuk menjauh dari Tegar dan berpikiran “lebih baik menikah dengan orang yang mencintai daripada yang dicintai”, aku sudah suka. Tapi di ending, Sekar malah… Errr! RAWR!
Duh, aku sungguh tidak berharap konflik macam ini. Kenapa tidak diekspos saja perihal cinta Tegar dulu kepada Rosie dan bagaimana Rosie juga berusaha mati-matian mencari tahu jawaban atas apa yang dirasakannya kepada Tegar selama 20 tahun? Di sini, bikin aku berpikir ; Tegar tidak cukup gentle untuk menyatakan perasaannya. Cowok bukan sih? Iya. Aku tahu dan sadar bahwa menyatakan perasaan kepada seseorang yang kita suka itu tidak mudah. Salah-salah malah bisa merusak persahabatan. Ah, tapi tetep saja aku tidak setuju kenapa sosok Tegar tidak digambarkan dengan karakter laki-laki yang kuat dan besar hati menerima “kekalahan”. Kenapa cinta harus serumit ini?
Untuk penerbit, kali lain tolong hire editor yang lebih baik. Yang aku tahu, kesalahan peletakan tanda baca saja bisa membuat kesalahan penafsiran emosi bagi pembacanya, apalagi kalau tidak ada tanda baca yang seharusnya? Aku menemukan, tidak cuma hanya satu, kalimat tanya yang tidak diakhiri dengan tanda tanya. Sederhana, tapi fatal. Lha buktinya aku sampai nyinyir begini ‘kan?
Untuk novel setebal lebih dari 400 halaman, buku ini sukses membuat aku jenuh. Baru kali ini aku baca buku Tere Liye dengan mood ogah-ogahan dan tidak ada satu airmata pun menetes. Padahal buku-buku Tere Liye yang sebelumnya pernah aku baca, tidak pernah gagal mengaduk-aduk emosiku. Di 70 halaman terakhir, aku skimming. Sudah terlalu capek baca kata per kata dan mengungkit masalah yang itu-itu saja.
Pun tidak ada quotes-quotes baru dan bikin maknyess. Semua datar-datar saja. Haduh, maaf Bang Darwis. Kali ini aku tidak suka. Tapi, poin penting dan pesan moral yang aku dapat dari buku ini adalah jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan dan terlalu lama mengulur waktu atau kau tidak akan pernah mendapat kesempatan. Selamanya. Segera dipastikan daripada berlarut-larut bertengkar dengan pemikiran sendiri tentang perasaan itu.
Rate 2 dari 5. Bukan karena tidak bagus. Ah, itu relatif, kawan. Aku hanya tidak suka buku ini.