What do you think?


Rokat Tase'
Kumpulan cerpen Rokat Tase' berisi 20 cerpen yang menyingkap nilai-nilai tradisi dan budaya lokal Madura dengan ragam konflik serta kekuatan mitos beraroma mistis.
Seperti halnya cerpen Rokat Tase' (tradisi petik laut) yang digelar para nelayan di Madura sebagai wujud rasa syukur dan simpul ikatan dengan laut. Tetapi tradisi petik laut ini kerap menimbulkan gejolak karena dianggap ritual yang rentan menggelincirkan akidah.
Dalam cerpen Pelukis Pasir Jumiyang mengisahkan tentang sebuah pantai yang dianggap memiliki aura ganjil bagi sepasang kekasih yang berwisata ke sana sehingga memutuskan jalinan kasih. Juga dalam cerpen Ladang Gunung dan Penari Duplang mengisahkan seorang penari dalam memperjuangkan cinta terlarang yang berujung hancur dengan lubang berdarah di dada kekasihnya.
Seluruh cerita pendek dalam buku ini bagai menelusuri madura hingga ke lekuk-lekuk yang semula tersembunyi.
Seperti halnya cerpen Rokat Tase' (tradisi petik laut) yang digelar para nelayan di Madura sebagai wujud rasa syukur dan simpul ikatan dengan laut. Tetapi tradisi petik laut ini kerap menimbulkan gejolak karena dianggap ritual yang rentan menggelincirkan akidah.
Dalam cerpen Pelukis Pasir Jumiyang mengisahkan tentang sebuah pantai yang dianggap memiliki aura ganjil bagi sepasang kekasih yang berwisata ke sana sehingga memutuskan jalinan kasih. Juga dalam cerpen Ladang Gunung dan Penari Duplang mengisahkan seorang penari dalam memperjuangkan cinta terlarang yang berujung hancur dengan lubang berdarah di dada kekasihnya.
Seluruh cerita pendek dalam buku ini bagai menelusuri madura hingga ke lekuk-lekuk yang semula tersembunyi.
184 pages, Paperback
First published February 24, 2020
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
January 23, 2022
** Books 09 - 2022 **
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2022
3,8 dari 5 bintang!
Sejujurnya ketika aku ditunjuk untuk menjadi pembahas buku kumpulan cerpen ini aku merasa takjub duluan karena aku masih jarang menemukan penulis Indonesia yang mengangkat tema tentang madura jadi aku merasa buku ini adalah hidden gems yang belum diketahui oleh banyak pembaca di Indonesia.
Buku ini terdiri dari 20 cerpen yang uniknya masing-masing benang merahnya mengambil tradisi, budaya, adat-istiadat yang berlatarkan di Pulau Madura. Jadi membuat kita belajar lebih banyak mengenal dan mengetahui tentang budaya madura. Bukan hanya sifat temperamental, budaya carok dan karapan sapinya tetapi masih banyak hal lain yang bisa kita dapatkan dari tradisi di Madura.
Banyak cerpen-cerpen didalam buku ini yang menjadi favoritku seperti sebagai berikut :
1. Gentong Tua
Kisah Sum seorang anak perempuan dari ibu yang merupakan pengrajin batik dan hidup mengejar mimpinya di luar kampung. Ia ingin membuktikan kepada ibunya bahwa perempuan bisa sukses diluar sana tapi siapa sangka ia melupakan bahwa ibunya tinggal dalam kesendirian
2. Rokat Tase
Kisah perseteruan antara menantu dan ayah mertuanya terkait budaya Rokat Tase yang penting bagi untuk para nelayan yang ingin melaut. Biasanya perseteruan ini dikarenakan budaya rokat tase yang dinilai kurang sejalan dengan keyakinan agama islam
3. Kasur Tanah
Kisah seorang Ibu yang menyimpan rahasia bahwa anak gadisnya meminta untuk dinikahkan dengan pria idamannya.
asli sih ini kalau aku tidak mendengar penuturan penulisnya langsung soal cerpen ini bakal tetap keong aku memaknai plot twist di akhir ceritanya :')
4. Perempuan Pengusung Keranda
Kisah seorang ibu yang ditinggal di kampung bini hidup sendirian selama tujuh tahun ditinggal anak lelakinya dan suaminya yang pergi mengadu nasib ke Malaysia. siapa sangka anaknya pulang ketika sudah dalam terbujur kaku
Yang ini juga aku baru tahu dari penulis kalau di Madura sendiri masih ada tradisi perempuan yang mengusung keranda tepatnya di Utaranya Kabupaten Pamekasan
5. Gesekan Biola
Kisah seorang anak yang dididik untuk tidak tumbuh dewasa dan berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini asli sedih banget ceritanya aku sampe tidak bisa berkata-kata ketika membaca sampai akhir
sebenarnya masih banyak cerpen-cerpen lain yang bagus jujur aku sampai takjub sendiri dengan cara penulisan narasi, plot twist di akhir kisah yang berhasil membuatku terpukau. Fix sih ini Karya-karya mbak Muna lainnya akan aku serbu juga untuk bisa dibaca
Salangkong Beui Mbak Muna buat cerita-cerita bagusnya! XD
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2022
3,8 dari 5 bintang!
Sejujurnya ketika aku ditunjuk untuk menjadi pembahas buku kumpulan cerpen ini aku merasa takjub duluan karena aku masih jarang menemukan penulis Indonesia yang mengangkat tema tentang madura jadi aku merasa buku ini adalah hidden gems yang belum diketahui oleh banyak pembaca di Indonesia.
Buku ini terdiri dari 20 cerpen yang uniknya masing-masing benang merahnya mengambil tradisi, budaya, adat-istiadat yang berlatarkan di Pulau Madura. Jadi membuat kita belajar lebih banyak mengenal dan mengetahui tentang budaya madura. Bukan hanya sifat temperamental, budaya carok dan karapan sapinya tetapi masih banyak hal lain yang bisa kita dapatkan dari tradisi di Madura.
Banyak cerpen-cerpen didalam buku ini yang menjadi favoritku seperti sebagai berikut :
1. Gentong Tua
Kisah Sum seorang anak perempuan dari ibu yang merupakan pengrajin batik dan hidup mengejar mimpinya di luar kampung. Ia ingin membuktikan kepada ibunya bahwa perempuan bisa sukses diluar sana tapi siapa sangka ia melupakan bahwa ibunya tinggal dalam kesendirian
2. Rokat Tase
Kisah perseteruan antara menantu dan ayah mertuanya terkait budaya Rokat Tase yang penting bagi untuk para nelayan yang ingin melaut. Biasanya perseteruan ini dikarenakan budaya rokat tase yang dinilai kurang sejalan dengan keyakinan agama islam
3. Kasur Tanah
Kisah seorang Ibu yang menyimpan rahasia bahwa anak gadisnya meminta untuk dinikahkan dengan pria idamannya.
asli sih ini kalau aku tidak mendengar penuturan penulisnya langsung soal cerpen ini bakal tetap keong aku memaknai plot twist di akhir ceritanya :')
4. Perempuan Pengusung Keranda
Kisah seorang ibu yang ditinggal di kampung bini hidup sendirian selama tujuh tahun ditinggal anak lelakinya dan suaminya yang pergi mengadu nasib ke Malaysia. siapa sangka anaknya pulang ketika sudah dalam terbujur kaku
Yang ini juga aku baru tahu dari penulis kalau di Madura sendiri masih ada tradisi perempuan yang mengusung keranda tepatnya di Utaranya Kabupaten Pamekasan
5. Gesekan Biola
Kisah seorang anak yang dididik untuk tidak tumbuh dewasa dan berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini asli sedih banget ceritanya aku sampe tidak bisa berkata-kata ketika membaca sampai akhir
sebenarnya masih banyak cerpen-cerpen lain yang bagus jujur aku sampai takjub sendiri dengan cara penulisan narasi, plot twist di akhir kisah yang berhasil membuatku terpukau. Fix sih ini Karya-karya mbak Muna lainnya akan aku serbu juga untuk bisa dibaca
Salangkong Beui Mbak Muna buat cerita-cerita bagusnya! XD
June 29, 2024
pinjam-baca Bookhive Taman Mataram
jarang-jarang aku bisa tahan dan lebih jarang lagi bisa sampai menyukai kumcer. meskipun mengaku sebagai seseorang yang cukup bisa multitasking, membaca kumcer butuh fokus khusus dan keluangan waktu yang lumayan agar berhasil larut pada masing-masing ceritanya. itulah sebab, mengapa aku jarang berhasil, karena gagal fokus dan tak sabaran pemngin cepet-cepet ngelarin bacanya.
Rokat Tase' ternyata mampu menghipnosis dan membuatku terus bersabar untuk merunut baca satu demi satu. yah, meski tak bisa dibilang baca sekali duduk, tapi berhasil merampungkan-baca tanpa sengaja mengambil buku (fisik) lain buat selingan sudah kuanggap sukses melahap buku ini.
jujur, dari sejak membaca
, aku memang sudah suka sama gaya menulis Muna Masyari. dan, dari Rokat Tase' baru terasa memang beliau ini datang dari belanrata per-cerpan-an ya, karena saat membaca Damar Kambang berasa membaca kumcer. dan, di sini cerpen-cerpen beliau memang sungguhlah sangat memikat.
selain keseluruhan cerpennya berlatar adat budaya tanah garam, yakni Madura, beberapa kesamaan atau benang merah kumcer yang bisa kutangkap:
1. pada setiap cerpen, hampir selalu ada unsur "kematian"-nya
2. gaya penulisan cerpennya seperti orang bercerita atau menggosipkan orang, menggunakan pov orang ketiga, seolah kita ngomongin teman yang ada 3 meter di depan kita
3. beberapa cerpen masih saling terkait, atau "satu universe" kalau istilah sekarang
4. mengemas keterkungkungan perempuan di adat Madura
cerpen-cerpen favoritku:
- Nyeor Pote
- Kasur Tanah
- Perempuan Pengusung Keranda
- Kuburan Keenam
"Ketahuilah! Setelah orangtua tiada, hilang rumah bagi anak perantau untuk pulang."
--hlm.8 #RokatTase
"Hatinya terasa gundul dan kehidupannya seperti alif. Ya, alif. Huruf hijaiyah yang tak bisa disambung dengan huruf lain setelahnya."
--hlm.27 #RokatTase
"Kau takut hidupmu akan habis digerogoti sunyi. Bagimu, tidak ada kematian yang lebih mengerikan daripada kematian yang disebabkan oleh kesepian itu sendiri."
--hlm.43 #RokatTase
"Jangan pernah jatuh cinta kalau belum mampu merawat dan mengolahnya, kecuali kau ingin mabuk!"
--hlm.95 #RokatTase
"Yang merasa dirinya suci kadang mereka tidak merasa telah merampas milik orang lain!"
--hlm.122 #RokatTase
"...justru kepercayaan yang sering menyeret seseorang pada suatu kenyataan."
--hlm.134 #RokatTase
jarang-jarang aku bisa tahan dan lebih jarang lagi bisa sampai menyukai kumcer. meskipun mengaku sebagai seseorang yang cukup bisa multitasking, membaca kumcer butuh fokus khusus dan keluangan waktu yang lumayan agar berhasil larut pada masing-masing ceritanya. itulah sebab, mengapa aku jarang berhasil, karena gagal fokus dan tak sabaran pemngin cepet-cepet ngelarin bacanya.
Rokat Tase' ternyata mampu menghipnosis dan membuatku terus bersabar untuk merunut baca satu demi satu. yah, meski tak bisa dibilang baca sekali duduk, tapi berhasil merampungkan-baca tanpa sengaja mengambil buku (fisik) lain buat selingan sudah kuanggap sukses melahap buku ini.
jujur, dari sejak membaca
, aku memang sudah suka sama gaya menulis Muna Masyari. dan, dari Rokat Tase' baru terasa memang beliau ini datang dari belanrata per-cerpan-an ya, karena saat membaca Damar Kambang berasa membaca kumcer. dan, di sini cerpen-cerpen beliau memang sungguhlah sangat memikat.selain keseluruhan cerpennya berlatar adat budaya tanah garam, yakni Madura, beberapa kesamaan atau benang merah kumcer yang bisa kutangkap:
1. pada setiap cerpen, hampir selalu ada unsur "kematian"-nya
2. gaya penulisan cerpennya seperti orang bercerita atau menggosipkan orang, menggunakan pov orang ketiga, seolah kita ngomongin teman yang ada 3 meter di depan kita
3. beberapa cerpen masih saling terkait, atau "satu universe" kalau istilah sekarang
4. mengemas keterkungkungan perempuan di adat Madura
cerpen-cerpen favoritku:
- Nyeor Pote
- Kasur Tanah
- Perempuan Pengusung Keranda
- Kuburan Keenam
"Ketahuilah! Setelah orangtua tiada, hilang rumah bagi anak perantau untuk pulang."
--hlm.8 #RokatTase
"Hatinya terasa gundul dan kehidupannya seperti alif. Ya, alif. Huruf hijaiyah yang tak bisa disambung dengan huruf lain setelahnya."
--hlm.27 #RokatTase
"Kau takut hidupmu akan habis digerogoti sunyi. Bagimu, tidak ada kematian yang lebih mengerikan daripada kematian yang disebabkan oleh kesepian itu sendiri."
--hlm.43 #RokatTase
"Jangan pernah jatuh cinta kalau belum mampu merawat dan mengolahnya, kecuali kau ingin mabuk!"
--hlm.95 #RokatTase
"Yang merasa dirinya suci kadang mereka tidak merasa telah merampas milik orang lain!"
--hlm.122 #RokatTase
"...justru kepercayaan yang sering menyeret seseorang pada suatu kenyataan."
--hlm.134 #RokatTase
February 2, 2022
Terima kasih Penerbit Kompas atas kiriman bukunya dan kesempatan menjadi host acara bedah buku Rokat Tase' (walau saya juga baru tahu jika saya jadi host bukan pembahas saat acara dimulai. Panik gak? panik gak? Ya panik lah)
Buku yang kebetulan mengena sekali karena etnis saya juga sama-sama Madura, seperti juga penulis, dan semua tokoh di kumpulan cerpen ini.
Cerita-cerita yang saya dengar sepintas lalu dari ibu dan orang-orang di lingkungan yang kebanyakan juga orang Madura, dinarasikan dengan bagus oleh Muna Masyari, dengan twist yang sangat mengejutkan pula.
Bacalah buku ini untuk membuka wawasan bagaimana orang Madura dan pulaunya. Bahwa orang Madura yang suka dilecehkan orang atas kemiskinannya, kekurangan edukasinya dan segala omongan jelek yang pernah diucapkan orang terhadap orang Madura kepada saya (ketika mereka tidak tahu jika saya keturunan Madura) itu hanyalah gambaran kecil semata. Orang Madura itu banyak jenisnya, dari Bangkalan, Sumenep sampai Bawean semua memiliki kebiasaan dan adat yang berbeda.
Oh iya, buku ini saya tag di otak saya sebagai buku pariwisata, sebagaimana banyak anime yang menceritakan daerah tertentu lalu saya tag sebagai anime pariwisata :)
Buku yang kebetulan mengena sekali karena etnis saya juga sama-sama Madura, seperti juga penulis, dan semua tokoh di kumpulan cerpen ini.
Cerita-cerita yang saya dengar sepintas lalu dari ibu dan orang-orang di lingkungan yang kebanyakan juga orang Madura, dinarasikan dengan bagus oleh Muna Masyari, dengan twist yang sangat mengejutkan pula.
Bacalah buku ini untuk membuka wawasan bagaimana orang Madura dan pulaunya. Bahwa orang Madura yang suka dilecehkan orang atas kemiskinannya, kekurangan edukasinya dan segala omongan jelek yang pernah diucapkan orang terhadap orang Madura kepada saya (ketika mereka tidak tahu jika saya keturunan Madura) itu hanyalah gambaran kecil semata. Orang Madura itu banyak jenisnya, dari Bangkalan, Sumenep sampai Bawean semua memiliki kebiasaan dan adat yang berbeda.
Oh iya, buku ini saya tag di otak saya sebagai buku pariwisata, sebagaimana banyak anime yang menceritakan daerah tertentu lalu saya tag sebagai anime pariwisata :)
August 3, 2025
Bintang 3.5/5
Ada apa antara penulis dengan kematian? Kecuali Nyeor Pote, Pemesan Batik, Matra Kotheka, serta Penggembala, kisah-kisah lainya mengusung unsur kematian. Atau sebenarnya keempat kisah itu juga mengusung tema kematian namun saya yang kurang peka menyadarinya?.
Saya agak bingung membaca apa yang tertera di halaman 38-39 dalam kisah Kasur Tanah. Tentang maksud kata menikahimu dengan menikahkan. Yang saya tahu, menikahimu berarti menikah denganmu. Sementara menikahkan berarti mengadakan proses akad nikah.
Kita belajar banyak dari buku ini, bahwa kehidupan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita mau, tapi tetap harus kita jalani. Seperti kematian yang menjadi bumbu utama penulis, setiap kita pada waktunya juga akan bersua dengan kematian. Hanya tak ada yang tahu kapan dan bagaimana. Maka persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk perjalanan panjang itu.
https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
Ada apa antara penulis dengan kematian? Kecuali Nyeor Pote, Pemesan Batik, Matra Kotheka, serta Penggembala, kisah-kisah lainya mengusung unsur kematian. Atau sebenarnya keempat kisah itu juga mengusung tema kematian namun saya yang kurang peka menyadarinya?.
Saya agak bingung membaca apa yang tertera di halaman 38-39 dalam kisah Kasur Tanah. Tentang maksud kata menikahimu dengan menikahkan. Yang saya tahu, menikahimu berarti menikah denganmu. Sementara menikahkan berarti mengadakan proses akad nikah.
Kita belajar banyak dari buku ini, bahwa kehidupan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita mau, tapi tetap harus kita jalani. Seperti kematian yang menjadi bumbu utama penulis, setiap kita pada waktunya juga akan bersua dengan kematian. Hanya tak ada yang tahu kapan dan bagaimana. Maka persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk perjalanan panjang itu.
https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
December 20, 2023
Saya penyuka cerita pendek dan buku kumpulan cerita pendek, dan entah mengapa kebanyakan buku kumcer di Indonesia itu sekadar menjadi album koleksi ("Ah, aku sudah ada sekian cerpen, bukuin ah!")
Tidak ada yang salah, juga tidak ada yang benar soal begini. Tetapi setidaknya dengan "menjauhi sekadar mengumpulkan" akan tidak terjebak pada los tema dari semua cerpen, atau keragaman bentuk yang hampir nihil. Buku ini setidaknya aman sebab temanya hampir seragam: perempuan dan Madura-ness. Tetapi dari segi bentuk hampir tidak ada tawaran yang berarti. Oke, penulisnya emang jago menulis. Tapi we need more sebagai kekayaan eksplorasi bentuk.
Tidak ada yang salah, juga tidak ada yang benar soal begini. Tetapi setidaknya dengan "menjauhi sekadar mengumpulkan" akan tidak terjebak pada los tema dari semua cerpen, atau keragaman bentuk yang hampir nihil. Buku ini setidaknya aman sebab temanya hampir seragam: perempuan dan Madura-ness. Tetapi dari segi bentuk hampir tidak ada tawaran yang berarti. Oke, penulisnya emang jago menulis. Tapi we need more sebagai kekayaan eksplorasi bentuk.
July 24, 2021
Membaca karya Muna Masyari bikin ketagihan namun menilik kumpulan cerpennya kali ini terasa ada yang belum tuntas, masih ada sisa yang mengganjal dan kurang dijelajahi lebih dalam. Mungkin karena ini adalah cerpen. Dan seluruhnya menawarkan ironi, menggantung sekaligus miris.
Berharap ada salah satu judul-judul di cerpen itu yang bisa dikembangkan menjadi sebuah novel utuh adalah ekspektasi yang muncul setelah membaca kedua puluh cerita itu.
Terutama cerita tentang Pemesan Batik atau Warisan Leluhur yang kental menceritakan tradisi karapan sapi yang ‘kejam’ atau Perempuan Pengusung Keranda.
Namun favorit cerita tetap disematkan pada judul kumpulan cerpen ini; Rokat Tase’.
Berharap ada salah satu judul-judul di cerpen itu yang bisa dikembangkan menjadi sebuah novel utuh adalah ekspektasi yang muncul setelah membaca kedua puluh cerita itu.
Terutama cerita tentang Pemesan Batik atau Warisan Leluhur yang kental menceritakan tradisi karapan sapi yang ‘kejam’ atau Perempuan Pengusung Keranda.
Namun favorit cerita tetap disematkan pada judul kumpulan cerpen ini; Rokat Tase’.
February 15, 2023
Okei, DNF.
Kukira masih bisa diselesain, namun ternyata rasanya udah males aja gitu buat ngelanjutin. Mau fokus ke 1 yang lagi dibaca sekarang.
Yahh mungkin next time ada keinginan lagi untuk membacanya
Sebenernya ini itu bagus aja ya mengangkat budayanya Madura, dengan cerita berunsur kelam.
Namun narasinya kurang cocok di aku, sehingga butuh baca berulang kali baru bisa paham, dan terus terusan seperti itu hingga akhirnya cape juga, dann hmm baiklah kuputuskan ini tidak selesai.
Sekian terima kasih
Kukira masih bisa diselesain, namun ternyata rasanya udah males aja gitu buat ngelanjutin. Mau fokus ke 1 yang lagi dibaca sekarang.
Yahh mungkin next time ada keinginan lagi untuk membacanya
Sebenernya ini itu bagus aja ya mengangkat budayanya Madura, dengan cerita berunsur kelam.
Namun narasinya kurang cocok di aku, sehingga butuh baca berulang kali baru bisa paham, dan terus terusan seperti itu hingga akhirnya cape juga, dann hmm baiklah kuputuskan ini tidak selesai.
Sekian terima kasih
April 17, 2024
Bacaan bagus untuk menyelami adat istiadat Madura dan dilema-dilema yang menyertainya. Isu-isu seperti ketidak-setaraan, pamor figur religius, serta takhayul yang khas disajikan sebagai esensi cerita. Namun aku tidak terlalu merasakan pencapaian artistik yang mumpuni. Barangkali karena penuturan yang belum begitu luwes menyelami dan menyampaikan karakter serta plot. Terlepas dari pada itu tiap-tiap cerita tetap tersampaikan dengan teknik yang apik. Aku rasa jam terbang penulis memberi kontribusi besar pada penyusunan cerita yang rapi dan menarik ini.
June 17, 2024
Menyelesaikan Rokat Tase di antara buku buku kumcer lainnya yang enggak aku pinjam ulang karena belum selesai baca. Mungkin sekitar tiga kali pinjam buku ini sampai akhirnya aku selesaikan. Walaupun cerpen, ceritanya padat dan sarat makna. Kalau enggak salah tangkap, beberapa cerita saling terkait. Khas Madura sekali yang dikenal lekat dengan agama namun tetap berpegang dengan tradisi. Tentang gimana Nelayan memberi Persembahan, sampai gimana hukuman Adat yang berlaku buat Si Pencuri. Lalu ditutup dengan cerita calon Kepala Desa yang menyesakkan.
Cerita favoritku salah satunya yang jadi judul buku ini sendiri, 'Rokat Tase'. Lalu Talak Tiga, Penggembala dan Warisan Leluhur.
Sampai menyelesaikannya, aku penasaran apa hukum di sana yang berlaku di masa sekarang persis dengan cerita dalam buku ini?
Cerita favoritku salah satunya yang jadi judul buku ini sendiri, 'Rokat Tase'. Lalu Talak Tiga, Penggembala dan Warisan Leluhur.
Sampai menyelesaikannya, aku penasaran apa hukum di sana yang berlaku di masa sekarang persis dengan cerita dalam buku ini?
Displaying 1 - 9 of 9 reviews










