Jump to ratings and reviews
Rate this book

Yogya Yogya

Rate this book

256 pages, Paperback

First published November 25, 2020

3 people are currently reading
12 people want to read

About the author

Herry Gendut Janarto

13 books4 followers
Lahir di Yogyakarta, 28 Mei 1958. Selepas dari SMAk Kolese de Britto tahun 1977, Herry melanjutkan pendidikan di IKIP Sanata Dharma dan lulus sebagai sarjana Pendidikan dan Satra Inggris tahun 1982. Ia sempat menjadi guru bahasa inggris selama setahun si SMAK Stella Duce, Yogyakarta. Bungsu dari tujuh bersaudara ini kemudian hijrah ke jakarta dan bekerja sebagai editor penerbitan buku PT Gaya Favorit Press (Femina Group) hingga 1990. Selanjutnya, ia bergabung menjadi wartawan tabloid Nova selama dua tahun, hingga 1992. Lalu sejak tahun 1993 sampai sekarang, ia mencurahkan perhatinnya ke dunia anak-anak dengan menjadi redaksi majalah Bobo. Di celah-celah kesibukkan menulis buku, Herry tetap berusaha menulis rupa-rupa artikel, juga cerita pendek di sejumlah koran, tabloid, dan majalah yang terbit di Ibukota maupun daerah. Penulis yang (memang) bertubuh subur ini punya semboyan hidup yang unik: daripada mencelakakan orang lain, lebih baik menertawakan kekonyolan sendiri.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (21%)
4 stars
2 (14%)
3 stars
7 (50%)
2 stars
2 (14%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
May 7, 2022
Membaca "Yogya Yogya" saat mudik lebaran adalah pilihan paling tepat. Sebab pulang dan kenangan adalah tema utama dari novel semi otobiografi ini. Realisme novel ini mengingatkan saya pada nuansa tulisan NH Dini, yang tak ubahnya curhat seorang "senior" mengenai kisah hidupnya.

Banyolan khas juga tergurat dalam iringan alinea. Semacam kaum "burjois", tresna jalaran saka kuliner, membuat saya nyengir serta sontak mengambil stabilo untuk mengabadikan kata-kata nyeleneh itu ke dalam sanubari dan balutan kuning cetar stabilo.

Sayang, alur cerita dalam "Yogya Yogya" tidak tajam, hanya "nyenggol" secara malu-malu mengenai isu sosial dan keluarga. Tidak mau menyelaminya atau seakan enggan merefleksikan konflik-konflik hidup lebih jauh. Serba nanggung, jadi seakan datar-datar saja. Selain tokoh utama, tidak ada tokoh lain yang berkarakter kuat. Pembaca tidak diajak berkenalan lebih jauh mengenai siapa saja teman Gayuh selain dengan kata-kata sifat dasar.

Namun bagaimana pun juga, novel ini juga membuktikan bahwa membaca tidak berarti membuang waktu, sebaliknya, membaca justru mempersingkat waktu. Sebab melalui buku ini, kita diajak hidup dalam benak Gayuh dari kecil hingga tua hanya dalam satu novel. Hidup yang "relatable" untuk banyak orang, hidup yang banyak pilihan, dan hidup yang layak untuk dihidupi. Semua dirangkum rapi dalam novel reflektif bertajuk nama kota yang selalu diromantisasi oleh kawula muda Indonesia, "Yogya Yogya".
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.