Jump to ratings and reviews
Rate this book

Damar Kambang

Rate this book
Damar Kambang menyingkap tirai kusam tradisi pernikahan Madura, di mana harkat dan martabat dijunjung tinggi melebihi segalanya. Cebbhing, gadis 14 tahun dari Desa Karang Penang, menjadi tumbal tradisi pernikahan itu. la terjebak dalam pergulatan hidup yang disebabkan oleh keputusan-keputusan sepihak orangtuanya. Diri Cebbhing kemudian tak ubahnya seperti medan karapan sapi, tempat berbagai kekuatan magis saling bertarung dan berbenturan.

"Dalam perkembangan sastra mutakhir, Muna Masyari adalah sebuah meteor yang datang tanpa diduga, sekonyong-konyong muncul dengan sinar yang memukau... Muna Masyari, secara tidak langsung dan tidak menggurui, mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali mengenai makna sebenarnya di balik budaya lokal, dalam hal ini budaya Madura. Inilah inti persoalan dalam novel Damar Kambang: apa dan siapa orang Madura itu sebenarnya." —Budi Darma, novelis dan cerpenis

"Muna Masyari tahu bahwa di kampungnya yang bertanah garam itu selalu ada perempuan yang menyimpan ketangguhan dan menjaga sumbu damar kambangnya terus menyalakan harapan." —Sanie B. Kuncoro, novelis dan cerpenis

208 pages, Paperback

Published December 30, 2020

6 people are currently reading
70 people want to read

About the author

Muna Masyari

9 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (23%)
4 stars
44 (47%)
3 stars
20 (21%)
2 stars
6 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
Profile Image for Yuniar Ardhist.
146 reviews18 followers
November 7, 2021
Sebelum membaca novel Mbak Muna, saya lebih dulu berkenalan dengan cerpen-cerpen beliau yang terbit di media. Dari sana, saya mulai bisa mengenali karakteristik tulisannya. Ada kekhasan yang menjadi identik dengannya.

Cerpen-cerpen Mbak Muna, selalu bercerita tentang perempuan di Madura yang hidup dalam pusaran budaya; tradisi/adat, termasuk pernikahan. Perempuan-perempuan dengan segala bentuk perjuangannya, di tengah batasan-batasan yang mengatasnamakan adat/ tradisi.

Itu juga yang diangkat di novel ini. Karya novel pertama yang ditulis Mbak Muna, juga yang saya baca. Mengangkat kisah seorang perempuan muda berumur 14 tahun, yang pada umumnya di sana, sudah mulai menikah. Cebbhing, namanya, dalam persiapan upacara pernikahan dengan Kacong, tengah mengikuti upacara Mokka’ Blabar, sebuah upacara yang dilakukan sebelum prosesi pernikahan dilakukan.

Berasal dari Sampang, Madura, yang mengharuskan pihak calon pengantin pria untuk menjawab pertanyaan dari pihak pengantin perempuan, melewati 7 lapis tirai. Jika berhasil menjawab pertanyaan simbolik dari sesepuh keluarga pihak perempuan, maka lapisan tirai satu per satu dirobek, untuk kemudian bisa mengijinkan pihak pengantin pria bertemu dengan pihak perempuan. Prosesnya dimulai ketika mempelai pria akan memasuki pekarangan rumah pengantin perempuan.

Tradisi ini sebagai simbol bahwa berumah tangga tidak mudah, dan memiliki tanggung jawab yang besar. Maka, calon suami-istri diharapkan harus mampu melewati banyak rintangan. Di sini pula yang akhirnya menjadi awal konflik dalam novel. Pihak pengantin pria, tidak membawa hantaran yang diharapkan pihak perempuan. Sehingga, pernikahan tidak bisa diteruskan. Ketersinggungan, sakit hati, merasa dipermalukan, dendam, kecewa yang bertarung di antara dua keluarga demi mempertahankan harga diri masing-masing, ternyata justru mengabaikan kepentingan dua mempelai itu sendiri. Menikah akhirnya bukan menjadi kepentingan yang mengikat di antara dua individu, tetapi turut serta menyeret kepentingan keluarga besar. Bukan saja bergulat dalam lingkup aturan agama yang sesungguhnya dimaksudkan mulia, tetapi justru ditabrakkan dengan silang sengkarut urusan adat dalam kendali konstruksi sosial masyarakat setempat.

Mbak Muna, tampak bukan saja ingin menggugat 'penjara' sosial itu, tetapi juga ingin menyuarakan bahwa korban atas segala keegoisan itu sangat rentan menimpa perempuan. Perempuan tidak memiliki suaranya sendiri, tidak mewakili dirinya sendiri, bahwa kaum perempuan lainnya pun bisa turut melanggengkan upaya 'penindasan' ini. Dalam hal ini, misal tokoh ibu Cebbhing. Namun, ibarat lingkaran setan, ibunya pun mungkin tidak punya kuasa atas pendapatnya sendiri, sehingga meminta sang anak untuk lebih baik menurut saja dari pada mendapat amuk dari ayahnya; suaminya. Relasi keputusan selalu berpusat pada laki-laki, dalam hal ini tokoh Ayah. Baik Ayah Cebbhing, maupun ayah Kacong, juga tokoh Paman.

Dalam 'doktrin' yang dibungkus dalam bentuk wejangan, “Orangtua tidak akan melepas anak gadisnya untuk lelaki yang tidak membawa rumah, karena sama artinya memberikan burung pada tuan yang tak memiliki sangkar. Ketika dipegang kuat, ia akan tersiksa. Tapi jika pegangannya tidak kuat, ia mudah lepas. Itulah kenapa burung yang sudah bertuan membutuhkan sangkar,“ inilah, masa depan dan harapan sang anak dipertaruhkan. Demi menjunjung tinggi segala hal yang mereka sebut sebagai rasa hormat dan harga diri.

Judul yang digunakan adalah "Damar Kambang". Damar Kambang yang dibuat oleh calon pengantin perempuan adalah sebuah simbol. Bahan pembuatnya yang terdiri dari wadah, minyak kelapa, pelepah pohon pisang, pintalan kapas, dan api, adalah kesatuan makna hidup yang diharapkan bisa menyatu, saling melengkapi dalam mengarungi masa pernikahan nantinya. Wadah, adalah simbol ruang hidup. Penyatuan dari dua orang, untuk sama-sama sepakat hidup bersama, berkeluarga, tanpa keterpaksaan. Minyak kelapa sebagai simbol kesabaran. Pernikahan adalah masa yang panjang, lama, sehingga dibutuhkan kesabaran untuk bisa sama-sama selamat dalam mengarunginya. Pelepah pohon pisang, adalah simbol harapan untuk menjadi seperti pohon pisang yang berbuah sekali saja selama hidup. Diharapkan semoga demikian juga pernikahan, sekali saja seumur hidup. Di keempat sudut pelepahnya, juga mengandung makna : agama, kehormatan, harta, dan rupa. Bahwa keempatnya diharapkan menjadi pondasi pendukung bagi suami-istri. Saling menjaga dan dijaga. Jangan sampai ada yang terabaikan. Kapas, adalah simbol kelembutan dan kesucian. Suami-istri diharapkan untuk senantiasa bisa melembutkan hati dan menjaga kesucian hatinya. Inilah yang menjadi sumbu; penerang dalam kehidupan pernikahan.

Damar kambang adalah simbol harapan pernikahan. Maka, nyala apinya perlu dipertahankan. Jika mati, dalam kepercayaan tradisi dianggap sebagai sebuah sinyal bahwa pernikahan tersebut akan mengalami masalah.

Seluruh sudut pandang yang digunakan, adalah perempuan : Cebbhing, Ibu Kacong (calon mertua Cebbhing), dan istri kedua suami Cebbhing. Saya tidak tahu kenapa justru sudut pandang yang tak kalah penting, yakni Ibu Cebbhing sendiri tidak ada. Padahal ini sangat cocok untuk menyusup lebih dalam terkait dilemanya sebagai seorang ibu sekaligus perempuan.

Saya menyukai narasinya. Meski ide dasar dan keseluruhan alur cerita mungkin bagi sebagian pembaca terbilang sangat sederhana, mengangkat hal yang sepertinya sudah banyak terjadi, tetapi Mbak Muna relatif selalu bagus dalam mendeskripsikan cerita, membuat alurnya terus beriak, tetap kuat di gagasan utama, tanpa perlu melebar ke mana-mana. Sebagaimana seorang pencerita, apa pun kisahnya, yang pasti ia harus bisa diceritakan dengan baik dan bisa dinikmati pembaca.

Di samping itu, ada beberapa plot yang menurut saya kurang halus untuk digunakan sebagai jalan masuk ke alur berikutnya. Yang pertama bisa saya ingat adalah ketika sumber konflik dimulai karena perwakilan dari pihak perempuan tidak menyampaikan keinginan terkait hantaran pada pihak laki-laki, sehingga terjadi kesalahan. Hanya dengan alasan personal dan karena masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan pihak pengantin laki-laki. Hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi berdampak besar. Seharusnya tidak bisa dibuat sesederhana itu. Atas kesalahan ini juga, mengapa pihak yang menjadi pemicu konflik, tidak dimunculkan peran lebihnya sebagai bentuk pertanggung jawabannya memadamkan perang antara dua keluarga?

Yang terakhir, pada akhir kisah. Menurut saya, seolah dibuat demikian karena ingin cepat selesai. Ceritanya memang diakhiri dengan bahagia untuk tokoh utama, tetapi ada beberapa bagian yang terasa hilang begitu saja karena tidak diceritakan kembali. Bagaimana nasib pernikahan Cebbhing dengan suaminya yang Kyai itu? Apa bisa berakhir begitu saja? Bagaimana nasib amarah dan 'kejahatan' istri keduanya? Bagaimana Kacong akhirnya menyelesaikan konflik dalam keluarganya sendiri yang justru menganga hampir bagian akhir? dan lain sebagainya.

Buku ini masuk dalam daftar 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021 Kategori Prosa. Selamat, Mbak Muna!
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
March 17, 2022
Chebbhing masih berusia 14 tahun saat acara pernikahannya digelar. Sebelum dirias, Chebbhing diminta menyalakan damar kambang, sebuah pelita yang sumbunya mengambang di atas minyak. Pelita ini memiliki makna yang dalam untuk mengawali rumah tangga. Sayangnya, damar kambang Chebbhing berkali-kali mati. Mungkin itu sebuah pertanda ketidaklancaran acara pernikahannya. Ayahnya menolak pengantin laki-laki yang datang hanya membawa hantaran bantal dan tikar.

Kacong, si pengantin pria merasa terhina. Bukannya dirinya dan keluarganya tak sanggup membawa sebuah rumah sebagai hantaran, hanya saja adat istiadat kampung mereka berbeda. Calon mertuanya bahkan tak mau berunding. Sakrah, paman Kacong, segera bertindak. Dia mencari orang pintar untuk membalaskan dendam itu. Di rumahnya, Chebbhing merasa dirinya bagaikan barang yang ditelantarkan. Pernikahannya batal sebelum dia menginjak tempat resepsi, orang tuanya diam dan pergi mengurusi hal lain. Sayup-sayup Chebbhing mendengar suara memanggil namanya. Dia lantas melarikan diri dari rumah dan pergi menemui Kacong. Kacong menerimanya, membuatnya tinggal di rumah orangtuanya, dan menikmati apa yang seharusnya mereka lakukan jika saja pernikahan itu tidak dibatalkan.

Tapi ayah Chebbhing datang menjemput anaknya dengan paksa. Dia diseret pulang. Berkali-kali Chebbhing melarikan diri, sampai akhirnya dia dipasung dan dirantai. Ayahnya tidak tinggal diam, dia mencari dukun yang mampu menyembuhkan anaknya. Sampai ketika, Ke Bulla, seorang kiai terpandang memberikan pengobatan. Chebbhing akan dinikahkan secara siri sebagai istri ketiga sang Kiai jujungan keluarganya. Tapi pernikahan ini harus dirahasiakan dari khalayak umum. Jangan sampai istri pertama dan kedua Kiai mendengarnya.

Mengulas tradisi pernikahan di Madura, membuat saya tertarik untuk membaca novel ini. Chebbhing , salah satu tokoh dalam novel ini dinikahkan dalam usia belia. Sebagai anak gadis, Chebbhing layak mendapatkan mahar yang mahal. Minimal sebuah rumah untuk tempat Chebbhing dan suaminya tinggal nantinya. Saya setuju dengan sebagian filosofi rumah sebagai hantaran, seperti penjelasan Ibunya Chebbhing . Rumah sebagai simbol kesetiaan, keamanan, bentuk didikan agar lelaki belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab sebelum menikah. Ini memang logis dan masuk di akal. Tetapi mengibaratkan seorang anak perempuan sebagai burung yang harus disediakan sangkarnya, agar dia memperoleh batasan-batasan kebebasan, sekligus menjadi hak milik seorang tuan, saya kurang sependapat. Tetapi di kampung Chebbhing , jika hanya bermodalkan bantal dan tikar, akan menjadi cibiran tetangga. Tidak mungkin anak gadis dijual murah kepada calon keluarga suaminya.

Cinta ditolak dukun bertindak. Dunia mistis masih kental dalam novel ini. Kayaknya semua masalah harus diselesaikan dengan bantuan dukun. Sebenarnya bukan hanya kisah Chebbhing dalam novel ini. Masih ada setidaknya dua perempuan lain dengan masalah pernikahan mereka masing-masing, tapi masih terhubung dengan Chebbhing . Yang satu adalah Ibunya Kacong, dan satu lagi adalah istri kedua Kiai. Masalahnya, kisah ketiga perempuan ini masing-masing menggunakan POV orang pertama, tapi tidak ada pembeda antara kisah mereka. Baik itu sekadar huruf atau gaya bahasanya. Jadinya kadang saya bingung, perempuan yang mana bercerita kali ini. Lalu ada lagi muncul "satu orang" bernarasi- ditandai dengan huruf dicetak miring -yang seakan-akan dialah yang menceritakan keseluruhan kisah dalam Damar Kambang ini.

Saya kurang puas dengan akhir kisah dalam novel ini. Rasanya masih banyak persoalan yang belum dibereskan, dan masih banyak pertanyaan belum terjawab. Meski pada akhirnya damar kamang milik Chebbhing menyala dengan sempurna di rumahnya.
Profile Image for Lina Maharani.
272 reviews15 followers
March 4, 2022
PERASAAN YANG TERPASUNG

Cerita berlatar masyarakat Madura ini mengajarkan ku banyak hal baru & mengejutkan. Setidaknya apa yg pernah dikatakan tmn ku yg msh mengalami nikah dgn sepupu sendiri demi mengamankan harta keluarga & perkara 'ganti pulung' itu benar adanya.

Apa yang dialami Chebbing begitu perih, pdhl smw yg dia alami bukan semata krn keinginannya tp justru akibat perang ego org2 dewasa di sekitarnya. Chebbing mjd gambaran bagaimana perempuan2 di negara ini seringkali tak punya suara bahkan tak punya kebebasan sejak dari pikiran dan perasaan. semuanya dipasung oleh jargon 'demi kebaikan km' yg pada kenyataannya hanyalah sebaliknya.

Pernikahan yg digambarkan Damar Kambang ini adl sebuah contoh kecil dari bagaimana masyarakat membentuk persepsi & nilai soal 'seharusnya' walopun kita tak sepenuhnya sanggup.

Karya yang istimewa.
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
November 20, 2021
Lagi-lagi suatu budaya masya Indonesia yaitu Madura menjadi latar untuk melihat problema dan fenomena kedudukan perempuan.

Damar Kambang adalah lambang pernikahan. Memiliki makna yang apik bagi calon mempelai dalam membina keluarga. Namun dalam menuju ksana ada "suatu keberatan" yang digambarkan oleh tokoh kita bernama Cebhing.
Profile Image for le..
42 reviews9 followers
March 10, 2021
kagum banget sama alur yang ditawarkan waktu baca buku ini. jujur juga sempet kejebak sama bab pertama dan ternyata... BOOM! suka bangeet sama bukunya, tapi mungkin beberapa istilah dalam bahasa madurnya dibuat footnote daripada glosarium. overall, bagus!
Profile Image for Saji.
96 reviews5 followers
April 6, 2021
"Meski agak keberatan, aku tidak bisa berkata apa-apa. Suara perempuan seakan selalu tenggelam di balik wajan, dandang, dan perabot lainnya. Percuma saja mendebat panjang (hal 59)."

Cerita dalam buku ini menggunakan tiga sudut pandang perempuan, yaitu Nyai Marinten (Istri kedua Ke Bulla), ibu Kacong, dan Cebbhing secara bergantian. Meskipun sudut pandangnya tiga perempuan bukan berarti perempuan bebas bersuara untuk mengungkapkan perasaan dan pemikirannnya dalam novel ini sebagaimana termuat pada kutipan di atas. Mengutip pendapat Sanie B. Kucncoro pada blurb Damar Kambang, novel ini menceritakan bagaimana adat dan budaya menempatkan sekaligus memperlakukan perempuan yang serupa burung yang tak berdaya.

Budaya yang digambarkan dalam novel ini sangat patriarkis. Gaya penceritaan penulis sangatlah bagus, pada bagian ayah Cebbhing berteriak-teriak mencari anaknya, saya sempat setuju dengan perkatan-perkataan Kacong yang menilai ayah Cebbhing lebih mementingkan hantaran dan kehormatan daripada Cebbhing; lebih mementingkan tradisi daripada menyayangi Cebbhing; bahkan lebih mementingkan hidup orang lain daripada Cebbhing sendiri. Namun, setelah membaca bagian penyebab Cebbhing kabur dan memikirkannya kembali, sebenarnya Kacong sama-sama PATRIARKISNYA dengan ayah Cebbhing dan pria-pria patriarkis lainnya. Ia mewarisi cara berpikir Sakrah, untuk memenangkan gengsi dan martabat atas kegagalannya menikah dengan memikat Cebbhing melalui cara yang tak benar. Parahnya, di saat ayah Cebbhing datang mencari anaknya, Kacong malah menghasut Cebbhing dengan mengatakan betapa buruknya cara ayahnya memperlakukan Cebbhing. Dia tak berani keluar mengiringi Cebbhing menemui ayahnya dan menyatakan bahwa ia masih menginginkan pernikahan yang gagal tersebut untuk diperbaiki.

Ahh, pokoknya si Kacong dalam novel ini tidak jadi keren di mata saya, meski saya tidak membencinya.

Novel ini juga menyoroti pernikahan adat beserta nilai-nilainya. Sebenarnya, jika diselisik lagi nilai-nilai dan konsep dalam pernikahan tersebut ada baiknya. Beberapa hal yang berhubungan dengan pernikahan yang dipaparkan nilainya dalam novel ini yaitu damar kambang itu sendiri dan rumah hantaran. Masalah rumah hantaran merupakan akar konflik dalam novel ini.

“Rumah hantaran bagai sangkar perkawinan bagi perempuan. Simbol kesetiaan, keamanan, batas-batas kebebasan, sekaligus kepemilikan seorang tuan (110).”

“Orangtua tidak akan melepas anak gadisnya untuk lelaki yang tidak membawa rumah, karena sama artinya memberikan burung pada tuan yang tak memiliki sangkar. Ketika burung dipegang kuat, ia akan tersiksa. Tapi, jika pegangannya tidak kuat, ia mudah lepas. Itulah, kenapa burung yang sudah bertuan membutuhkan sangkar (110).”

Selain itu, novel ini tak melulu menyoroti pernikahan saat upacara, melainkan juga perjalanan perempuan setelah menikah, salah satunya pada cerita Nyai Marinten. Nyai Marinten memiliki masa lalu yang begitu kelam, ia pernah menjadi barang taruhan suaminya dalam adu sapi kerapan. Marinten (sebelum menjadi Nyai) tidak pernah diberi penjelasan dulu, sekonyong-konyong saja suatu hari suaminya datang bersama lawannya yang menang dan menyerahkan ia pada mereka.

“Betapa rapuh hubungan yang diikat lalu dirantas sepotong lidah. Setelah talak dijatuhkan, simpul pernikahan rantas terurai, keduanya menjelma orang asing yang saling berpunggungan, beda jalan dan tujuan (hal 10). "

“Di rumah itu, riwayatku tinggal kenangan. Pernikahan seperti kontrak sepihak dengan Tuhan yang bisa diakhiri hanya dengan gerak sekerat lidah (hal 10).”

Dua kutipan tersebut adalah isi hati Marinten ketika ditinggal suaminya setelah ia ditalak sekaligus dijadikan barang taruhan dan diserahkan kepada lawannya. Ketika akad taruhan lebih penting dibandingkan akad nikah. Ahhhh bagian ini paling ngilu sih :(

Latar tempat yang diangkat dalam novel ini adalah Madura. Ada beberapa kosakata Madura yang diselipkan baik dalam percakapan maupun narasinya. Beberapa diantaranya saya paham dan ada beberapa yang tak paham juga karena tak semua kosakata tersebut masuk ke dalam glosarium. Kemudian, setelah saya baca beberapa kosakata yang sering diulang, memang ada beberapa kosakata yang tak bisa dipadankan ke dalam Bahasa Indonesia, seperti kata taiye. Kalo dipikir-pikir, makna taiye itu sulit sekali dijelaskan meski paham penggunaannya. Ya, begitulah bahasa, taiye. Kalo tertarik dengan novel ini, jangan lupa baca, taiye. :D
Profile Image for ⚘.
41 reviews2 followers
July 28, 2024
ini2.5/5 ✨

STRESSSSSS. EMOSI BANGET BACANYA 😭😭😭 SEMUA ORANG GILA TERMASUK YANG BACA (AKU). Berpotensi ini buku, tapi jelek banget ni fokus plotnya kebagi-bagi. Kocar-kacir banget plot semua ditumpuk-tumpuk, maju mundur nggak terarah ARGHHHH.

Pergantian POV dalam satu bab yang sama bikin bingung YA TUHAN. Awalnya masih bisa diikuti, kupikir ganti bab ganti POV dan yaudah POV dari Chebbing sama Kacong aja. Eh gila banget ini masih 1 bab yang sama, ganti POV dari Chebbing - ibu Kacong - Sakrah - istri kedua kiai DAN GANTI POV-NYA TIBA-TIBA TERUS AKU DISURUH MIKIR NI GILIRAN SIAPA GITU??? 😭😭😭😭😭

Otakku kayak diperas banget baca ini saking morat-maritnya. 😭 Padahal kalau fokus perjalanan Chebbing menghadapi pernikahan dini sesuai adat Madura bakalan bisa lebih bagus... Hadah, capek marah baca ini... Nyebut mulu aku baca ini.

Tetep di sini peran perempuan nggak berdaya banget. Dari awal orang tua yang salah dan anak cuma bisa iya-iya aja nggak boleh bantah. Peran dukun di sini juga serem banget, sekali kalian macem-macem, abis kalian bisa gila karna pengaruh kiriman dari dukun. Dari awal sampe akhir kasian sama Chebbing, dia harus nanggung semua gunjingan dari orang lain dan pada akhirnya Ayahnya memang cuma takut martabatnya rusak dimata orang lain, nggak peduli perasaan anaknya.
Profile Image for Arvia Maharhani.
231 reviews29 followers
March 26, 2021
Sebenernya ceritanya bagus, plot twist juga ada. Tapi sayang pergantian sudut pandang di sini kurang jelas, bikin aku harus bolak balik baca ke halaman sebelumnya buat tau "oh ini sudut pandang ini". Kalo pergantian kayak gitu gak ditulis secara jelas, pembaca jadi salah tangkap.

Tapi ceritanya bagus! Bikin aku tau tentang budaya Madura
Profile Image for Rei.
366 reviews40 followers
July 25, 2021
“Pernikahanku digagalkan hanya gara-gara barang hantaran. Betisku dipukul habis-habisan karena pergi ke rumahnya padahal sebelumnya kalian tidak peduli padaku dan sibuk di luar sana. Kakiku dipasung seperti orang gila. Kalian memaksaku menikah dengan Ke Bulla meskipun tanpa ritual pernikahan sebagaimana adat yang kalian junjung tinggi melebihi anak sendiri. Lalu sekarang ketika aku hamil, apa semua ini masih juga salahku?” – hal 174.

Cebbhing, gadis belia berusia 14 tahun, menjadi korban tradisi pernikahan Madura. Pernikahannya dengan Kacong batal dengan memalukan karena keluarga Kacong tidak membawa hantaran yang sesuai dengan adat yang berlaku di desa Karang Penang, desa Cebbhing. Ayah Cebbhing malu karena anak gadisnya hanya dihargai oleh bantal-tikar dan menjadikannya bahan gunjingan sedesa, sementara keluarga Kacong murka karena mereka harus membatalkan pesta balik perahu dan sama-sama harus menanggung malu dijadikan bahan gunjingan.

Tingkah Cebbhing menjadi ganjil setelah pernikahan yang dibatalkan sepihak itu. ia mendengar namanya dipanggil-panggil setiap malam, dan di matanya hanya terbayang wajah Kacong, sampai akhirnya ia nekat kabur untuk menemui Kacong. Setelah dipukuli habis-habisan, Cebbhing dibawa ‘berobat’ dan semua dukun yang didatangi ayahnya sepakat bahwa Cebbhing menerima ‘kiriman’. Akhirnya diputuskan Cebbhing akan menikah siri dengan Ke Bulla, kyai terpandang pemilik pondok pesantren di desa mereka (untuk menjadi istri kesekian, tentunya, mana ada kyai istrinya hanya satu). Permasalahan kembali timbul saat Cebbhing hamil, padahal Ke Bulla tidak pernah berhasil memiliki keturunan dari kedua istri sebelumnya.

Damar Kambang bercerita tentang kelompok masyarakat yang begitu mengagungkan tradisi dan ‘muka sendiri’, dituturkan dengan sangat apik oleh Muna Masyari yang kelahiran asli Madura. Bila tidak ditingkahi oleh konstruksi sosial yang menyebalkan, terbayang betapa meriah dan megahnya upacara pernikahan dengan adat Madura. Ada tradisi adu tembang, tujuh lapis kain yang harus dirobek oleh mempelai lelaki sebelum mencapai mempelai perempuannya, kuda hias dan sisingaan yang menari-nari, dan tentu saja, tradisi menyalakan damar kambang yang menjadi simbol kehidupan pernikahan. Uniknya lagi, ada narator misterius yang mendalangi kisah Cebbhing, Kacong, dan tokoh-tokoh penting lain. Buku ini langsung menjadi salah satu favoritku tahun ini, karena selain kisahnya yang menarik, juga memperkaya wawasanku akan budaya Indonesia yang beragam.

Profile Image for Widia.
65 reviews
August 11, 2022
Judul: Damar Kambang
Penulis: Muna Masyari
Penerbit: KPG
Halaman: 200
Via: gramdig
.
.
.
Sudah jadi kebiasaan masyarakat Madura, ketika anak mereka sudah menginjak usia belasan tahun mereka akan menikahkan anak perempuannya. Cebbhing yang saat itu berusia 14 tahun, diminta untuk menikah dengan salah satu pria pilihan ayahnya. Namun, saat proses mokka' blabar (salah satu tradisi sebelum proses pernikahan dilakukan) Madlawi, ayah Cebbhing menghentikan pesta pernikahan itu, dikarenakan mempelai laki2 tidak membawa rumah hantaran. Yang mana menurut adat mereka, setiap laki-laki yang ingin menikah harus menyiapkan hantaran rumah sebagai bentuk keseriusan, yang akan diberikan kepada keluarga mempelai perempuan.

Karena peristiwa ini, tidak hanya berakibat kepada gagalnya pernikahan kedua mempelai. Tetapi juga kepada dua keluarga yang menanggung rasa malu dan dendam atas kejadian yang dianggap sudah melukai harga diri dan martabat mereka.

Pernikahan pertama Cebbhing gagal karena keputusan sepihak ayahnya. Begitupun di pernikahan kedua yang harus Cebbhing jalani. Sebagai perempuan, pendapatnya tidak terlalu didengarkan, sehingga semuanya harus selalu diputuskan oleh ayahnya. Padahal yang akan menjalani dan menanggung akibatnya, tetaplah Cebbhing.

Damar kambang adalah pelita yang menyala dengan sumbu mengambang di atas minyak. Damar kambang ini dibuat oleh mempelai wanita, dan saat di hari pernikahan, damar kambang harus dijaga agar tetap menyala. Jika apinya padam, maka itu sebuah pertanda di mana akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.

Aku suka dengan tema buku ini yang membahas tetang adat yang ada di Madura dan bagaimana nasib para perempuan2 Madura yang memiliki keterbatasan untuk mengeluarkan pendapat mereka. Bahkan di buku ini digambarkan, ayah Cebbhing yang lebih memilih untuk mempertahankan kehormatan dan harga dirinya, daripada kebahagiaan anak perempuannya.

Yang aku kurang suka, di buku ini ada beberapa pov yaitu Cebbhing, Kacong (calon suami Cebbhing), Ibu Kacong dan Istri kedua Ke Bulla. Dan tiap pergantian pov tidak diberikan tanda, jadi awalnya agak bingung itu bagian siapa. Trus bagian endingnya, menurutku agak sedikit dipercepat. Bahkan masih ada beberapa masalah yang belum terpecahkan, dan dibiarkan menganga sampai akhir cerita. Dan bagian kata2 istilah yang muncul di cerita, bagusnya dijadiin footnote aja, daripada disimpan di glosarium.

⭐ 4,5/5
Profile Image for Sri Noviana Zai.
115 reviews9 followers
January 10, 2022
Penulis di novel ini bagus banget di awal bab memancing emosi pembaca. Pembaca langsung disuguhkan oleh fenomena perempuan yang tak berdaya mendebat keputusan-keputusan salah sang suami dalam rumah tangga. Ini jadi poin plus yang buat pembaca semakim tertarik untuk melahap buku sampai habis.

Gak hanya di Madura, di daerah lain bahkan di kota pun perihal hantaran masih menjadi primadona dalam pernikahan. Sedikit hantaran yang diberikan, cibiran bisik-bisik tak enak pun terdengar "murah sekali harga wanita, masa hanya itu?, loh tapi orang kaya?, kan mereka keluarga terpandang". Tapi di sisi lain, mahal dan banyaknya hantaran pun tak bisa lepas juga dari bisik-bisik tak enak, "dasar matre, kasihan calon lelaki diperas habis, harusnya perempuan meringankan mahar". Sungguh serba salah dunia pernikahan.

Kasihan sekali dengan semua tokoh wanita yang ada di novel ini kecuali Sahla. Mungkin karena perannya sedikit, tapi sisanya semua menanggung sedih, malu, sakit hati, dan amarah terhadap lelaki yang mereka percayai.

Kalau di Sumba, tingginya belis menjadi alasan untuk melakukan tradisi Kawin Tangkap dan menikahlah mereka, maka lain di Madura. Tingginya mahar menjadi syarat mutlak adat, jika tidak maka pernikahan gagal di depan pagar rumah dan takkan ada pernikahan lagi dengan calon yang sama.

Kegagalan pernikahan itu harus Cebbhing lupakan dan dia diminta diam oleh orangtua meski telah menjadi tumbal atas nama adat dan kehormatan.

Mana sebenarnya syarat yang harus kita ikuti? Menurut ajaran agama atau adat yang sudah meluhur?
Profile Image for Satvika.
581 reviews43 followers
July 7, 2023
Sekelebat cerita tentang budaya di Tanah Madura

Tema-nya tentang Pernikahan Anak yang diceritakan dari berbagai sudut pandang (multiple POV)

NOTE : ada beberapa adegan yang cukup membuat Trigger Warning jadi bagi anda anda yang memiliki trauma harap pikir2 dulu sebelum membaca buku ini.

Bab I sudah dibuat terdiam ngeri dan emosi..anjaayyyy!!

Jangan pernah deh cari calon pasangan tukang judi, isi pernikahannya udah pasti sengsara.

Novel ini membahas masalah pernikahan dini, proses menikah adat, proses menanam ari2 bayi, proses adat seorang anak menjejak tanah pertama kali, judi karapan sapi sampai adu kesaktian Dukun dan diceritakan dengan sangat smooth.

Miskom mslh hantaran, pelik juga ya urusan adat menikah di tiap daerah..benar2 mendapatkan sebuah insight baru setelah membaca buku ini.

Saya sangat menyukai makna Damar Kambang (p34-39)
Keren sekali filosofisnya.

Menurut saya daya tarik novel ini adalah Plot-nya, plot-nya seru banget..bikin susah ditaruh.

Dari banyak membaca buku tentang perpektif adat dan budaya, saya hanya bisa bilang bahwa selalu perempuan-lah yang paling serba salah dan paling menderita...

Usul : walaupun sudah diberikan bab Glosarium di akhir cerita, menurut saya lebih baik istilah2 adat dan bahasa daerah dijelaskan menggunakan footnote saja di halaman yang bersangkutan, dengan begitu kita lebih cepat mengerti arti dari istilah2 adat dan bahasa daerah tersebut.


Kalau anda suka buku 'Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam' dan 'Tarian Bumi', anda juga pasti akan menyukai novel ini.

Super Recommended!!
Profile Image for tariii ✰.
10 reviews
August 19, 2023
“Ayah hanya bisa memerintah, memutuskan, dan mengancam, tapi akhirnya semua kesalahan ditimpalkan padaku. Aku yang disebut pelacur. Dituduh menipu Ke Bulla. Dikatakan mengandung anak haram. Dibilang ingin jadi nyai besar.”

Itu adalah kutipan yang paling aku suka sepanjang aku membaca buku ini. Rasanya lega mendengar Chebbing akhirnya menumpahkan segala amarahnya (amarah yang memang berasal dari dirinya, bukan karena campur tangan Kacong ataupun Sakrah) dalam perkataan itu.

Buku ini kental dengan pembahasan kultural Manado dan juga keyakinan pada guna-guna orang pintar. Menarik juga untuk mempelajari adat mokka blabar dan keharusan pembawaan hantaran ketika pernikahan. Ketika membaca buku ini, kerap kali aku berpikir ‘Kapan perempuannya bahagia, ya?’. Habis, semua karakter perempuan di dalam buku ini dibuat sangat tragis dan pasrah terbawa arus takdir seperti tidak dapat berpikir untuk dirinya sendiri.

Dan kalau boleh jujur, tidak ada satupun karakter yang aku suka ketika membaca buku ini. Selain itu, akhir dari buku ini sangat mendadak. Banyak permasalahan yang belum diluruskan tetapi langsung ditutup selesai. Amat disayangkan mengingat ‘build-up’ permasalahan yang kompleks dan juga keluarga Madlawi-Ji Bahrawi yang bak musuh bebuyutan untuk mempertahankan harga diri.

Untuk buku ini, ku berikan 3 bintang karena aku dapat menyusuri lebih dalam ke dunia literatur Indonesia dan juga budaya Manado. Menarik untuk belajar sambil menghibur diri dengan membaca buku. ⭐️⭐️⭐️
Profile Image for Vindaa.
184 reviews2 followers
August 16, 2025
Sebagai orang Jawa yang kini berdomisili di Madura, aku cukup tertarik dari awal membaca novel ini karena memperkenalkan adat Madura.

Namun, siapa sangka isinya sungguh kompleks. Tak hanya berbicara soal perbedaan budaya dan adat yang menjadi pertaruhan martabat, namun juga mengangkat isu patriarkis yang sungguh ironis.

Bermula dari sosok perempuan, yang kutahu di akhir bernama Nyai Marinten, diperlakukan tak ubahnya sebuah benda. Sebab, ia dijadikan barang taruhan adu kerapan sapi oleh suaminya. Kesehariannya hanya ‘sendiko dawuh’ pada setiap apa yang dititahkan sang suami, termasuk perceraian yang keluar dari mulut sang suami dalam sekali ucap.

Tokoh perempuan kedua bernama Chebbing, gadis 14 tahun yang dinikahkan oleh orang tuanya dengan lelaki bernama Kacong. Hanya karena perbedaan budaya dan adat setempat yang mengakibatkan salah faham, menjadikan Chebbing sebagai korban adu kehormatan dan harga diri orang tua. Anak hanya diminta menurut pada keputusan orang tua, tanpa pernah mempertimbangkan perasaan ataupun pendapat sang anak.

Dan tokoh perempuan terakhir adalah Ibu Kacong, semenjak Kacong lahir ingin memberikan yang terbaik untuk putranya, namun pendapatnya selalu tenggelam pada keputusan sepihak Ba’ Sakrah, Kakak iparnya, yang berpendapat bahwa suara perempuan selalu tenggelam di balik wajan, dandang, dan perabot dapur lainnya. Percuma saja berdebat panjang.

Sungguh miris bukan? Hidup perempuan masih dipenuhi dengan dogma patriarkis.
Profile Image for sasa .
67 reviews1 follower
September 29, 2025
"Mulut seorang suami tak ubahnya mulut penyihir. Dia bisa memadamkanku hanya dalam sekali ucapan!" (hlm. 6)
"Suara perempuan seakan selalu tenggelam di balik wajan, dandang, dan perabot dapur lainnya. Percuma saja mendebat panjang" (hlm. 59)

Akibat miskomunikasi terkait hantaran, pernikahan Cebbing akhirnya dibatalkan sepihak oleh ayah Cebbing. Yang dari peristiwa tersebut terbitlah tindakan balas dendam dari pihak Kacong, si mantan mempelai pria yang merasa dipermalukan.

Balas dendam di sini bukan balas dendam biasa, melaikan ada campur tangan pihak perdukunan. Karena orang tua Cebbing resah terhadap Cebbing yang berubah dan usut punya usut ternyata Cebbing terkena 'angin kiriman', akhirnya Cebbing dinikahkan dengan Ke Bulla salah satu 'kiai' yang sudah dikenal lama oleh kedua orang tua Cebbing, dengan tujuan supaya Cebbing bisa sembuh dari 'angin kiriman' tadi.
Dari situlah terbongkar cerita-cerita lainnya, termasuk rahasia yang sudah lama dipendam.

Sebenernya aku lancar sih bacanya, bahasanya mudah dipahami. Cumannnn, agak kagok aja sama gaya kepenulisannya yang tiba-tiba ganti pov dan tiba-tiba ganti latar waktu. Juga, kayak kurang greget nggak sih pas menuju endingnya. Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi still good tho, bisa tahu sedikit banyak budaya Madura yang lumayan kental pariarki, kiai-kiai-an, dan perdukunannya pada saat itu
Profile Image for Astala.
100 reviews
August 28, 2022
Damar Kambang
⭐4,8
Range age 18+
TW // physical violence, harassment, violence, murder, adult scenes

Kisah yang mengambil pelataran di Madura ini sangat menarik perhatianku. Tradisi masyarakat madura yang disuguhkan didalam ceritanya sedikit banyak membuatku tercengang.

Kisah Chebbing, sangat memilukan. Gadis 14 tahun yang menjadi korban dari ego orang² dewasa yang mengelilinya membuatku merasa miris akan nasibnya (meski diakhir cerita bisa terbilang bahagia?).

Dilempar sana sini dan menjadi sasaran ilmu hitam atas keegoisan orang tuanya demi memenuhi tradisi yang lebih mengerucut pada menghindari cibiran masyarakat dan mempertahankan harga diri, cukup membuatku sakit (atau miris?) sebagai seorang perempuan juga.

Menjadi korban pemerkosaan atas dendam yang bahkan tidak ada sangkut pautnya sama sosok Chebbing dan dipaksa menikah dengan sosok kyai yang usianya bahkan diatas usia orang tuanya membuatku sedikit risih membacanya, aku jadi merasa seperti melihat kisah seorang pedofilia :"

Selebihnya, kisah Damar Kambang ini sangat bagus. Diksi yang digunakanpun menurutku cantik.
Profile Image for Khalisha.
47 reviews
June 10, 2025
Menggunakan sudut pandang beberapa perempuan Madura, tapi semuanya tidak memiliki keberanian buat segala hal. Seolah-olah perempuan tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

Yaa walaupun ceritanya pait bgt, tapi kenyataannya yang kayak gitu masih sering terjadi di Madura.

Karena penulisnya dari Madura tapi bukan Sumenep otomatis banyak bahasa Madura yang gak aku tau alias padahal emang gatau. Agak bingung ini mana yang Maduranesse? Biasanya ada di catatan kaki gitu kann, tapi di buku ini ternyata ada di halaman akhir (baru sadar pas selesai baca bukunya).

Seperti karya Muna Masyari yang lain, penggambaran budaya Maduranya kuat bgt!! Penjelasannya juga sangat detail!! Jadi pas baca bisa paham dan bisa bayangin karna sangat miriplah penggambarannya dengan lingkunganku!!
Profile Image for Putu Winda.
300 reviews2 followers
March 18, 2021
Novel luar biasa. Tentang secuplik budaya Madura yang ternyata sangat sedikit yang saya tahu. Sangat sedikit!

Tentang budaya yang menjunjung harga diri diatas segalanya. Bahkan diatas hak manusia lain termasuk anak dan istri sendiri. Dimana pihak perempuan selalu menjadi tidak berdaya dan terombang ambing diantara kepentingan laki-laki yang katanya mempertahankan kehormatan keluarga.

Kehormatan gundul tuyul!
Cebbhing dipaksa menikah saat usianya baru 14 tahun! Marinten dijadikan taruhan karapan sapi oleh suaminya sendiri!

Segala santet dan guna-guna mewarnai drama di novel ini. Belum lagi tarung carok para blater, semakin membuat tegang dan mules
Profile Image for Mawa.
172 reviews4 followers
September 14, 2023
Aku suka.
Ceritanta pelik namun terasa dekat,
Aku kurang suka dg endingnya, terlalu cepat pada kesimpulan akhir.
Di buku ini kita akan lumayan tahu ttg adat istiadat orang madura, bahasa madura.
Ngeri, karena ada ilmu hitam yg bermain di sini.
Chebbing, gadis 14 tahun yg menderita terpontang panting, dibatalkan pernikahannya karena tak adanya hantaran rumah dr pihak pria, Kacong.
Konflik mulai pelan tapi panas dari kedua belah pihak yg seharusnya menjadi keluarga besan.
Ada beberapa pov di buku ini selain Chebbing, Ibu Kacong, Kacong, Ibu Chebbing dan Istri kedua Ke Bulla.
Cerita fiksi dg isi gelapnya.
Profile Image for Soraya Nur Aina.
156 reviews1 follower
December 14, 2023
Kalau ngga baca ini aku ngga akan tau gimana tradisi pernikahan Madura, di mana harkat dan martabat dijunjung tinggi melebihi segalanya. Menarik baca ini karena aku baru tau tradisi pernikahan seperti mokka bla'bar, ater tolo, balik perahu dan damar kambang. Bahkan panggilan-panggilan untuk keluarga di Madura.

Kurangnya memang di tiga sudut pandang perempuan yang diceritakan. Karena "Aku" ini tiba-tiba berganti dan sebagai pembaca agak kebingungan menerka maksud siapa "Aku" ini. Satu lagi, banyak istilah yang aku kurang tau, sebaiknya diletakan sebagai catatan kaki daripada glosarium karena harus bolak-balik baca belakang halaman.
Profile Image for Yusrizal Yusuf.
16 reviews
February 27, 2025
Chebbing, gadis berusia 14 tahun harus menghadapi dampak dari keputusan dan tindakan orang-orang di sekitarnya—termasuk pernikahan anak, tekanan untuk menjaga nama baik keluarga, belenggu patriarki, kultus dan praktik perdukunan, serta berbagai intrik yang membuatnya terseret dalam konflik yang tak berkesudahan.
Dengan gaya bahasa yang kuat dan atmosfer lokal yang kental. Damar Kambang menghadirkan realitas pahit kehidupan perempuan dalam budaya Madura. Melalui novel ini, Muna Masyari mencoba menyajikan kritik sosial yang tajam tentang bagaimana perempuan seringkali kehilangan kendali atas hidupnya.
Profile Image for olis.
1 review
December 7, 2022
Buku ini sangat bagus. Muna Masyari, penulis dari Madura, begitu piawai menceritakan culture Madura dengan sangat detail. Ia menulis kondisi dan situasi Madura, khususnya adat pernikahan yang kerapkali meojokkan wanita, dengan sangat jujur. Buku yang wajib dibaca bagi kalian yang mendambakan kesetaraan gender dan keadilan.
Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
June 4, 2021
Baru saja selesai membaca dan masih dibuat terkagum-kagum oleh kefasihan dan detail sebuah tradisi mulai dari pernikahan, santet,hingga alur yang tidak tertebak. Lalu, bagaimana sikap Sakrah selanjutnya? Ini pertanyaan yang paling membuat saya penasaran.
Profile Image for Risca.
15 reviews2 followers
March 18, 2021
Damar Kambang adalah lambang pernikahan di Madura. Buku ini mengisahkan tentang tradisi pernikahan di Madura yang mana hantaran sangat berpengaruh. Ia juga mengangkat isu pernikahan dini yakni pada anak perempuan yang usianya 14 tahun. Penulis menggambarkan bagaimana tradisi membuat orangtua memandang anaknya seperti barang, bukan sebagai manusia.
Profile Image for Ela G.
3 reviews
October 23, 2021
hitam putih banget, tokoh perempuan tertindas semuanya. Tokoh laki-lakinya jahat semua, terlepas dari sastrawinya buku ini.
Profile Image for Achame.
178 reviews1 follower
March 29, 2023
Bacaan bagus untuk menyulut emosi pas puasaan gini

Dari bab 1 aja sdh bikin emosi apalagi makin kebelakang😇

Profile Image for Hakni..
166 reviews3 followers
August 29, 2024
Cukup suka dengan pembukaan namun memasuki babak akhir buku ini malah anyep.
Profile Image for Rahma Maulidina.
21 reviews1 follower
April 28, 2025
A story written in an epic and bold manner. Criticizing its own local culture.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.