Jump to ratings and reviews
Rate this book

Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah?

Rate this book
“Di Jakarta, saya menyaksikan dengan lebih jelas bagaimana praktik kekuasaan memecah belah warga dan turut merasakan dampak dari trauma yang dialami orang-orang di luar Pulau Jawa begitu mereka mendengar kata Jakarta. Helai-helai rambut mereka langsung berdiri tegak (dalam benak saya), begitu kata kunci ini disebut, terutama di wilayah-wilayah bekas konflik di luar Jawa. Jakarta dianggap sebagai sumber masalah. Sebagian orangnya dianggap pembawa masalah, terutama para politikus. Karena itu, memindahkan ibu kota dan mengganti namanya mungkin dianggap semacam jalan keluar dan juga kesempatan membagi citra buruk itu kepada kota lain.”

Melalui 36 tulisan dalam buku ini, Linda mengajak kita menelusuri dinamika relasi manusia di berbagai wilayah dengan beragam nilai dan sudut pandang. Linda tidak hanya mencatat hal-hal besar yang terjadi sepanjang kehidupan umat manusia. Ia mencatat hal-hal kecil, hal-hal yang sangat dekat dan akrab dengan kehidupannya secara personal. Dari perkara-perkara kecil itulah kita bisa merenungkan dan kemudian memahami kejadian-kejadian besar yang menyita banyak perhatian. Memadukan pengalaman, data, dan perenungan, tulisan-tulisan dalam buku ini sudah selayaknya menjadi asupan untuk semakin menajamkan kepekaan atas berbagai permasalahan yang menghantam sisi kemanusiaan kita sehari-hari.

227 pages, Paperback

Published January 1, 2021

5 people are currently reading
98 people want to read

About the author

Linda Christanty

34 books81 followers
Linda Christanty adalah sastrawan-cum-wartawan kelahiran Bangka. Pada 1998, tulisannya berjudul “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste” meraih penghargaan esei terbaik hak asasi manusia. Kumpulan cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004. Dia sempat bekerja sebagai redaktur majalah kajian media dan jurnalisme Pantau (2000-2003), kemudian menulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Sejak akhir 2005, dia memimpin kantor feature Pantau Aceh di Banda Aceh.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (21%)
4 stars
22 (40%)
3 stars
21 (38%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews40 followers
March 4, 2021
Jangankan berbeda agama, berbeda letak pohon jambu yang berbuah lebat saja bisa menimbulkan masalah.


Saya tertawa ketika beliau menuliskan "...ingatan pertama saya tentang film ternyata tidak merujuk kepada film propaganda Orde Baru yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI, melainkan The Blind Bird." Beliau juga mendokumentasikan ingatannya saat pertama kali bertemu dengan Munir dan ditutup dengan sebuah paragraf singkat, sebuah pesan kepada Jokowi untuk mengumumkan hasil penyelidikan kasus Munir pada rakyat Indonesia. Beliau mengkritik penjara-penjara di Indonesia sebagai tempat penyiksaan dan penghinaan untuk menciptakan manusia yang bermartabat dan bermental baik, padahal penyiksaan hanya melahirkan kebencian semata. Surat yang ia tuliskan untuk Jokowi, di mana beliau sebagai saksi perjuangan adiknya, Panglima Budhi Tikal meminta keadilan atas fragmentasi dan konflik kepentingan Provinsi Bangka Belitung. Bagaimana pula, Provinsi Bangka Belitung merupakan provinsi dengan persentase kemenangan tertinggi saat terpilihnya Jokowi dan JK.

Bagi pembaca yang sudah tuntas membaca buku ini akan sangat memahami identitas apa saja yang melingkupi kehidupan Linda Christanty.
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
April 10, 2022
** Books 26 - 2022 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2022

3,4 dari 5 bintang!


Tulisan mbak Linda selalu berhasil membuatku merenungkan apa saja permasalahan-permasalahan di negeri ini yang belum ada jalan keluarnya.. membuatku tidak menutup mata kalau masih ada hal yang perlu kita selesaikan bersama-sama.. Essai-essainya selalu lugas dan personal hingga kita penasaran untuk membacanya sampai lembar halaman terakhir

tulisan yang saya sukai ketika Mbak Linda naik taksi online dan ngobrol dengan sopirnya tentang semua harga barang naik dan mengkritisi kepemimpinan presiden saat ini yang terpilih hhehe

Terimakasih Dema Buku!
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
January 25, 2022
Saya tertarik dengan hampir semua judul dalam kumpulan esai ini. Tapi, apa ya, penulis mencoba memasukkan banyak hal dalam satu judul yang menjadi terasa all over the place. Bisa jadi, tujuan menulis awalnya untuk blog atau media sosial penulis yang kemudian dibukukan.
Profile Image for Lina Maharani.
273 reviews15 followers
August 10, 2022
RE-ASKING THE HISTORY

Kumpulan esai ini banyak mengurai polemik sejarah di Indonesia, terutama terkait politik kepemimpinan dan isu-isu komunisme. Rincian soal berbagai polemik yang terjadi di negara kita dikupas daari sudut pandang yang berbeda; keluarga seorang tahanan politik. Di beberapa bagian banyak pertanyaan soal bagaimana negara ini akan menyikapi kekeliruan & kesalahpahaman sejarah yang selama ini sudah mengakar. Membaca buku ini mengajak merenungkan kembali apakah sejarah yang selama ini kita ketahui adalah sejarah yang sebenar-benarnya? Gimana jika sejarah itu adalah versi yang mau didengar oleh orang-orang yang berkepentingan, bukan yang sebenarnya terjadi.

Bagi saya pribadi, esai ini cukup mengulang kembali pelajaran sejarah kala di sekolah menengah. Bagaimana lembaga pendidikan formal kala itu membentuk diri sekarang ini dan membuat asumsi-asumsi di kala dewasa. Mungkin bukan jenis buku yang terlalu ku gemari namun ada pandangan-pandangan yang membuatku mempertanyakan ulang tentang bagaimana pembelajaraan sejarah itu penting untuk dipertanyakan ulang. Mungkin dengan tak melulu percaya saja apa yang tersaji di media massa krn bs jadi ihwal sejarah juga berangkat dari apa yang disajikan media massa dan kita berhenti mempertanyakan.

Profile Image for Wahid Kurniawan.
206 reviews3 followers
March 25, 2021
Dari sekian buku kumpulan esainya, kurasa buku ini yang betul-betul terkesan personal. Pembaca diajak lebih sering mengintip identitas dan kehidupan Linda dari masa kecil sampai sekarang. Suka sekali.
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
December 8, 2022
36 esai yang mayoritas membahas tentang isu hak asasi manusia (HAM). Selebihnya menceritakan kisah personal atau refleksi atas suatu pengalaman yang dialami.

"Pengalaman-pengalaman itu membuat saya teringat Robert Fisk, ...Ia meliput banyak perang dan sengketa di Timur Tengah. Salah satu kalimat dalam esainya menjelaskan nasib warga dalam konflik atau perang, 'Tidak ada air mata untuk orang-orang yang bersalah yang menjadi korban ....'.

"Aceh, salah satu tempat yang membuat saya meneteskan banyak air mata, tempat orang-orang tidak bersalah menjadi korban berkali-kali, oleh perang, tsunami, dan ketidakadilan dengan mengatasnamakan Tuhan." - Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah, h. 35-36

Mengangkat isu HAM tentu tidak afdol kalau belum menulis tentang sosok Munir. Melalui salah satu esai, penulis menunjukkan penghormatan atas sosok Munir yang gigih mengadvokasikan permasalahan hukum masyarakat saat itu.

Isu HAM lainnya yang diangkat adalah tentang orang-orang setempat yang terpinggirkan dalam persoalan konflik lahan. Salah satunya menyangkut adik kandung penulis, yang terpinggirkan akibat pembelaan terhadap masyarakat yang terlilit oleh konflik lahan di daerah Bangka Belitung. Selain itu, isu-isu tentang perempuan yang dalam kasus pelecehan/kekerasan seksual haknya sebagai korban sering terabaikan, juga dibahas dalam beberapa esai di dalam buku ini.
Profile Image for Ursula.
303 reviews19 followers
November 11, 2025
As much as I loved Jangan Percaya Surat Palsu, this one, unfortunately, feels a bit hit-and-miss.

Given that it’s essentially a compilation of Linda Chrisanty’s social media posts turned into a book, I can’t really complain too much. Even in this casual format, her writing remains top-notch—sharp and clean. As an activist since the reformation era, Chrisanty is highly critical and never one to pull her punches with words.

Orang-orang miskin dijauhi dan dianggap penyakit. Kemiskinan tidak boleh ditoleransi dan harus diberantas, tetapi yang diberantas justru orang-orangnya.


Like any social media feed, the topics here are varied: reflections on family, heritage, politics, and personal relationships. Most of the essays are reflection based on observations or historical data.

However, one piece in particular, where she recounts confronting someone responsible for her brother’s imprisonment, feels like a miss. It seems she was aiming for a noir-like, ambiguous tone, but it just didn’t land for me.

Still, even great writers have their off moments. And that’s okay, I don’t have to love everything, even from my favourites.
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
April 5, 2023
22 - 2023

Sepertinya ini buku kumpulan esai pertama daru Linda Christanty yang saya baca, dan saya agak kaget ternyata bahasan politiknya banyak banget, mungkin sekitar 75% isi dalam buku ini membahas soal politik dan sejarah di Indonesia.

Ya. Saya cukup menikmati membaca tulisan-tulisannya, tapi rasanya juga terlalu banyak cerita sejarah yang dituliskan menjadi sangat pribadi, tentang Panglima yang dipenjara, tentang presiden Jokowi hingga tidak sukanya ia pada Ahok saat menjabat. Membuat saya makin skeptis pada negara itu jelas, tapi ya gimana ya rasanya, saya berharap diajak melihat dari banyak sudut pandang apalagi soal politik, tapi rasanya Mbak Linda menulis dari sudut pandangnya sendiri. Ya gak salah juga toh dia yang menulis.

Tulisan dengan judul sama seperti judul buku ini, itu adalah yang terbaik memang.
Profile Image for Nurul Ramdhiany.
6 reviews1 follower
June 26, 2021
Serius, kumpulan esai ini bisa kalian lahap sekali duduk seperti kalian menyantap ketoprak di depan gang tiap pagi sebelum berangkat bekerja. Termasuk kalian yang memiliki peran ganda di rumah dan di luar rumah. Bisa kalian kunyah sembari menunggu nasi matang atau saat di krl pulang-pergi bekerja. Esai-esainya ditulis tidak panjang namun terasa padat, dua hingga lima lembar per esai. Sesuai dengan yang dikatakan di halaman awal "Catatan Pengalaman", Linda menceritakan berbagai pengalamannya yang berkaitan dengan konflik, kekerasan, rekonsiliasi, resistensi, keberpihakan, yang melibatkan negara di dalamnya.
Profile Image for yanimbrung.
34 reviews1 follower
January 20, 2022
the first book from the activist' point of view i read. been thinking that this world isn't favorable for everyone, but the most miserable thing is now we only find no difference with the life when the first president ruled 🙂

living here might be messed up our life, but here might be a perfect storm for us. lets break the ice ✨
Profile Image for Christan Reksa.
184 reviews11 followers
December 12, 2023
Linda Christanty adalah jurnalis & penulis sastra dengan sensitivitas terhadap isu-isu sosial, khususnya HAM & keadilan bagi yang terpinggirkan. Selain menulis dalam bentuk buku & liputan, beliau juga suka menuliskan opininya panjang-lebar di media sosial.

Buku ini adalah kumpulan tulisan2 demikian, status panjang di media sosial yang dirapikan dalam kompilasi. Tulisan2 yang menekankan sudut pandang keberpihakan politis, tapi juga diselingi pendapat pribadi & pengalaman2 personal yang banyak mempengaruhi bagaimana beliau melihat dunia.

Tak jarang, judul2 tulisannya menarik, tapi terasa agak "mentah". Mungkin karena memang sifatnya adalah tulisan media sosial yang dibukukan, maka tak jarang berisi ide2 mentah atau setengah matang yang bila diolah dengan riset lebih mendalam maupun pemaparan sudut pandang berbeda tentu akan menjadi tulisan yang amat mengena kepada pembaca. Namun demikian, memang demikian adanya sifat tulisan2 media sosial, bila berkaca dari pengalaman pribadi menulis takarir di media sosial juga: frontal, spontan, mentah, emosional, & diselipi letupan2 yang entah disengaja maupun tak sengaja.

Tulisan dengan judul yang juga menjadi judul buku ini, "Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah?" adalah tulisan yang paling mengena, sekaligus menggemakan pergumulan panjang penulis soal tema ini bila mengacu pengalamannya sendiri, orang2 terdekatnya, maupun korban2 ketidakadilan yang tentunya menghadirkan trauma. Tampaknya judul tulisan ini pula yang menjadi gema dalam kiprahnya berkarya dalam media cetak & tulis serta aktivisme sosialnya.

Mungkin pembaca akan merasa jengah dengan begitu pesimistisnya nada tulisan2nya. Namun saya sadar, sebagai seseorang yang mengalami kekecewaan hebat serta penyesalan atas pilihan2 politiknya (utamanya dalam 10 tahun terakhir), letupan2 dalam tulisan beliau amat wajar. Saya bisa membayangkan seseorang yang telah banyak melihat kepahitan hidup, dibangkitkan optimismenya lewat angin segar harapan, hanya untuk kemudian dikecewakan lagi.

Tampaknya beliau sadar itu, & karenanya terus menulis untuk melawan.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.