Jump to ratings and reviews
Rate this book

Life as Divorcee

Rate this book
Let’s normalize being divorcee!

“Perceraian adalah emergency exit yang Tuhan sediakan ketika kita enggak sanggup lagi berada dalam hubungan pernikahan. Alih-alih keluar melalui lift yang sesak dan ada kemungkinan macet di tengah jalan, tangga darurat adalah pilihan teraman.”

Banyak yang mengira menikah adalah momen bahagia yang hanya akan dihiasi cerita-cerita romantis nan membahagiakan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa pernikahan hanyalah sebuah prolog dari kehidupan bersama yang tidak bisa lepas dari berbagai adegan tak romantis serta konflik tak terduga yang berpotensi menimbulkan perselisihan, mengganggu eksistensi sebagai manusia, hingga membahayakan nyawa.

Buku ini adalah sebentuk keberanian untuk membicarakan sisi pernikahan yang paling banyak dihindari. Ditulis oleh seorang divorcee muda sekaligus single parent yang memutuskan bercerai di usia relatif muda, 25 tahun. Berdasarkan peristiwa hidup yang telah ia lalui, dalam satu subbab tersendiri, Virly menekankan pentingnya pre-marriage talk bagi pasangan yang hendak menikah. Tujuannya jelas, agar setiap orang dapat mempersiapkan pernikahan sebaik mungkin demi bisa menikmati kehidupan pernikahan yang nyaman setelahnya.

138 pages, Paperback

Published January 1, 2021

20 people are currently reading
259 people want to read

About the author

Virly K.A.

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (20%)
4 stars
73 (42%)
3 stars
51 (30%)
2 stars
7 (4%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 30 of 49 reviews
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
July 20, 2021
Pada mulanya gw tertarik, karena penulis berani menelurkan tulisan di topik yg masih sensitif untuk diangkat, tentang normalisasi perceraian, menjadi janda, terlebih di usia muda, sesuatu yang di masyarakat umum lazim diberi label atau stigma yang kurang baik. Selain itu, isinya sebenarnya bagus juga, penulis memberikan tips-tips practical dan mengangkat isu yg mungkin masih belum lazim dibicarakan calon pengantin seperti pre-marriage talk, atau pengetahuan yang tergolong baru kalau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu tidak hanya secara fisik, mental dan/atau seksual saja, tapi ada secara finansial juga. Satu hal yang membuat gw urung memberikan rating minimal 4 adalah karena semakin ke belakang gaya penulisannya seolah 'menggiring opini' pasangan sudah menikah yang sedang berada di fase di ujung tanduk pernikahan untuk condong memilih 'menyerah' dibandingkan 'berjuang mempertahankan'. Pada akhirnya, hal ini kontradiktif sama ide bagus penulis di awal (ide utama). Perceraian mungkin tidak selamanya buruk, tetapi bukan berarti menyerah adalah satu-satunya pilihan yang baik.
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
January 18, 2022
"Semua daftar kerugian bercerai itu kalah oleh satu hal: mendapatkan lagi hidup saya."


Ketika seorang teman bercerita bahwa ia akan bercerai dari (mantan) suaminya, rasanya speechless banget. Bingung harus merespon apa dan gimana. Dari luar pasangan ini tampak baik-baik aja, tapi rupanya ada luka menganga. Temenku sekarang udah resmi cerai. Dan sepertinya ia sedang mencoba mengumpulkan kebahagiaannya lagi seperti dulu.

Harus diakui, perceraian masih jadi momok menakutkan hingga kini, termasuk bagi perempuan. Stigma janda yang disematkan, perjuangan mendapatkan hak asuh anak, "demi anak", masalah yang masih nyangkut dengan keluarga mantan suami, hidup menjadi single parent, gimana caranya bisa financially independent bahkan menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan hal-hal lain bila dijalani tentu aja nggak mudah.

Ketakutan-ketakutan inilah yang bisa jadi alasan kenapa banyak pasangan masih mempertahankan rumah tangganya, padahal mereka tahu bahwa ada hal yang nggak beres. Virly K.A. dalam buku Life as Divorcee mengatakan, padahal Tuhan memberikan emergency exit bagi siapa pun yang sudah nggak bisa mempertahankan hubungan pernikahan. Dan dengan tegas dirinya pun mengambil sikap, "Let's normalize being a divorcee!"

Buku ini membuatku tersadar bahwa pernikahan bukan sesuatu yang main-main. Pas pacaran, gampang sekali bilang putus dan pisah kalau udah nggak cocok. Kalau sudah nikah? Penulis menjabarkan banyak hal terkait hal tersebut dalam buku ini. Mulai dari hal apa aja yang perlu dipertimbangkan sebelum bercerai, pentingnya pre-marriage talks, proses bercerai, anak ikut siapa, bahkan kehidupan personal setelah menyandang status single parent.

Penulis menceritakan pengalamannya dengan apa adanya. Cukup tegas, kadang ngegas. Beberapa bagian lain terkesan menggurui, biasanya berbentuk tips-tips. Dari konteks pemahaman yang kucerna, penulis nggak melulu "talk the walk" sehingga aku meragukan apakah yang diceritakannya valid atau tidak. Jika valid pun, mungkin penulis bisa berbagi dari mana ia mendapat informasi tersebut. Dari internet kah, cerita orang terdekat kah, atau memang benar pengalaman personal?

Sebenarnya aku juga berharap ada sudut pandang dari sisi pria (nggak mesti mantan suami, mungkin ada teman pria yang mengalami hal serupa) yang bisa menjadi pelengkap perspektif agar tulisan makin kaya.

Terlepas dari itu, aku mengapresiasi keterbukaan penulis untuk membicarakan sisi pahit pernikahan yang seringnya hanya dibahas di forum kecil dan tertutup. Ini perlu. Semoga buku ini memantik keberanian calon divorcee untuk bisa memutuskan dan menemukan kebahagiaannya lagi, sama halnya seperti temanku.
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
February 5, 2021
Menurutku, buku sejenis ini agak jarang ditemukan di pasaran. Buku yang nggak teoritis dan nggak menggurui. Di beberapa bagian penulisnya bahkan masih sempat bilang "nggak semua seperti yang dijabarkan" atau, "no need to worry about, pernikahan nggak seburuk itu juga, tiap orang kasusnya berbeda."

Well, mari kita mulai dari pembagian chapter.
Life as Divorcee terdiri dari 4 chapter di dalamnya:

1. Life as Divorcee (sebelum memutuskan bercerai dan cerita-cerita lainnya)
2. Sebelum memutuskan menikah atau saat sedang terlibat pernikahan dengan seseorang (pre-marriage talks, hamil di luar nikah, KDRT, abusive relationship, dan sebagainya dan sebagainya)
3. Perkara hak asuh anak
4. Perkara menjalani dating dengan orang baru lagi setelah jadi bercerai

Semuanya ditulis dengan bobot yang sama; tidak terlalu panjang dan kompleks, tetapi lebih ke sederhana untuk dipahami pembaca awam sepertiku (yang belum menikah sama sekali maksudnya) namun tetap bisa memberikan insight yang padat kepada pembaca.

Gaya bercerita penulisnya juga mengalir, ya memang ala-ala blog sih tulisannya. Seperti mendengarkan cerita seorang teman saja. Karena latar belakang penulisnya adalah seorang bloger juga katanya.

Dari buku ini aku belajar bahwa sebelum menikah ada banyak hal yang seharusnya kita lihat, cocokkan, dan tentu saja bahas dengan calon pasangan. Hal yang paling mendasar adalah visi-misi, kondisi masing-masing keluarga besar, finansial, pendapat tentang punya anak/tidak, adopsi anak/tidak, dan sebagainya ternyata sangat penting untuk dibahas sebelum memutuskan meresmikan pernikahan. Pre-marriage talks yang dijabarkan di dalam buku ini sangat inspiratif menurutku, sih! Juwarak!

Aku juga setuju dengan tanggapan penulis yang mengatakan bahwa, kehidupan bukan cerita-cerita fiksi, di mana kamu diam semetara pasanganmu bisa langsung mengetahui apa yang salah di dalam hubungan kalian. Kita juga nggak bisa 100% bergantung kepada suami, karena sejatinya orang atau perasaan itu bisa saja berubah. Overall, menurutku buku ini merupakan bacaan yang cocok baik untuk yang sudah menikah, yang belum pernah menikah sama sekali, atau yang sebentar lagi akan menikah. Ada banyak sudut pandang menarik di dalamnya, dan hal-hal yang informatif lainnya.

Sebagaimana perasaan lain, bahagia itu sementara --hal. 131

"Semua daftar kerugian bercerai itu kalah oleh satu hal: mendapatkan lagi hidup saya."
Profile Image for Mourina Putri.
60 reviews26 followers
November 30, 2021
Berekspektasi mendapat cerita yang luar biasa upside down setelah terjadinya perceraian namun, kayanya lebih banyak tentang tips atau nasehat perkara pernikahan. Karena judul bukunya seperti menawarkan sebuah cerita setelah perceraian yang dalem banget ehehe.
Buku yang sekali duduk banget, enak sih bacanya kaya lagi ngobrol sama orang tapi, lebih baik kalo pemakaian kata dalam bahasa asing nggak terlalu banyak mungkin?
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
February 3, 2021
** Books 08 - 2021 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2021

3,5 dari 5 bintang!


Buku ini memuat kisah pernikahan mbak Virly yang tidak seindah seperti biasanya yang berakhir dengan perceraian. Di indonesia kata perceraian masih dianggap tabu untuk dibicarakan namun saya sungguh angkat jempol dengan keberanian mbal virly untuk membahas masalah ini

Selain itu yang saya suka buku ini membahas hal-hal apa yang perlu dibicarakan ketika sebelum menikah, apa yang dilakukan ketika mendapat KDRT, apa itu menikah muda, masalah toxic-abusive relationship juga dibahas dalam buku ini

Jujur membaca buku ini membuat saya yang belum menikah menjadi tercerahkan bahwa menikah itu tidak mudah banyak hal yang perlu dipersiapkan terutama mental dan finansial. Saya berharap semakin banyak buku2 serupa begini di indonesia agar membuat pembaca yang menginginkan untuk segera menikah dapat menyiapkan segala sesuatunya lebih baik lagi karena ingat menikah bukan hanya menyatukan isi dua kepala namun menyatukan dua buah keluarga besar dan isinya.

Terimakasih Demabuku!
Profile Image for Yoyovochka.
312 reviews7 followers
November 20, 2022
Buku ini bagus bagi para perempuan yang baru saja bercerai atau ingin bercerai atau mungkin berpikir untuk bercerai untuk keluar dari hubungan beracun. Setidaknya di bagian-bagian awal demikian. Penjelasan dibuat singkat-singkat, tetapi padat dan mudah dicer. Hanya saja yang mengganggu bagi saya adalah banyaknya kata-kata dan celetukan dalam bahasa Inggris yang sebenarnya kurang perlu. Dan saya rasa penulisnya perlu sedikit optimis bahwa tidak semua pernikahan berakhir buruk karena berdasarkan pengalaman pribadi, saya sendiri juga pernah bercerai, tetapi karena saya tipe kepala batu dan selalu merasa menggeneralisasikan sesuatu dengan satu hal saja itu kurang adil, saya selalu percaya bahwa pernikahan nggak semuanya buruk. Akhir nggak mesti semuanya pahit. Jadi, demi mengamini bahwa seseorang harus bangkit, ada baiknya di bagian akhir ditambahkan bagian yang lebih optimis gitu. Menurut saya aja sih hihi. Biar kesannya nggak bisa move on dan trauma dengan pernikahan sebelumnya. Tapi orang kan beda-beda yah.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
February 18, 2021
Buku yang menceritakan kehidupan penulis ketika memutuskan, melakukan proses, dan pasca perceraian. Anjuran untuk benar-benar mengenali pasangan dan punya pre-marriage talks, karena suatu hubungan bukan cuma didasarkan pada emosi cinta dan bayangan kebahagiaan yang muluk. Memang nggak bisa dijadikan jaminan hubungan yang bakal langgeng, ketika kita melakukan anjurannya, tapi setidaknya, ada pedoman dan konsensual antara kedua belah pihak.

Amat sangat bisa dijadikan pedoman bagi siapapun yang berpikiran soal pernikahan, baik yang udah ngebet (entah pasangannya udah ada atau belum), yang baru punya angan-angan, yang ragu dan takut, yang sedang menjalani, bahkan yang sudah pernah gagal dan ingin mencoba lagi.

Bukan buku teori yang bahasanya terlalu tinggi, karena ditulis dalam bahasa yang dipakai sehari-hari. Termasuk kategori buku yang bisa selesai dibaca dalam sekali duduk.

Totally worth to read!
Profile Image for Erika.
120 reviews2 followers
June 10, 2021
Buku simpel yang menampar dengan realita. Bukan menyalahkan nikah muda tapi diiingatkan soal kesiapannya.
Profile Image for Ayah & ibu.
52 reviews1 follower
September 16, 2025
belum menikah, tp memutuskan membaca buku ini..
bahasanya mudah dipahami, realistis sekali.. ga rugi membaca buku ini cepat cepat..
ditunggu buku selanjutnyaa
Profile Image for Woro.
97 reviews3 followers
April 13, 2021
Buku ini menceritakan pengalaman perceraian yang dialami oleh penulisnya. Penulis mengingatkan jangan menikah hanya karena merasa sendiri karena If you’re not capable of being alone, your relationship is false.

Pre marriage talk juga penting untuk dilakukan, jangan hanya karena cinta jadi mengabaikan hal-hal yang prinsip untuk kita. Menikah itu memerlukan kesiapan baik mental, fisik, keuangan dan energi.
Profile Image for Lia Kusumawardani.
26 reviews5 followers
February 1, 2021
Ini buku asik dan menarik! Perlu dibaca sebelum memutuskan untuk menikah, sih...

Bahasanya lugas dan napak bumi :)) maksudnya bahasannya nggak bertele-tele dan dapat diaplikasikan. Suka dan setuju sama cara pandang penulisnya melihat pernikahan dan perceraian.

Iyes, kitanya dulu perlu dewasa mental, kitanya dulu perlu nyaman sama diri sendiri.

Dan iya, hidup emang suka ngajarin lewat cara beda-beda ya :)
Profile Image for Azka.
68 reviews92 followers
May 11, 2021
saya beli buku ini setelah lihat review yang lewat di feeds Goodreads. bukunya tipis, hanya 136 halaman, tulisannya ringkas. membaca buku ini seperti membaca kumpulan tulisan blog, eh ternyata memang buku ini berawal dari tulisan di blog penulis.

bagian 1 berisi pembuka, seperti stigma janda yang negatif di masyarakat dan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk bercerai. bagian 2 berisi hal-hal yang patut diperhatikan sebelum dan selama pernikahan. buku ini memang bukan buku pedoman pra-nikah, jadi saran saya bagi pembaca yang menginginkan pernikahan islami alangkah baiknya membaca buku pedoman yang sesuai sebelum membaca buku ini. dengan demikian, pembaca sudah punya pegangan hal-hal prinsipil seperti tujuan menikah, hak dan kewajiban suami/istri, dan anjuran agama dalam memilih pasangan. bagian 2 buku ini berisi red dan yellow flags dalam pernikahan.

bagian 3 dan 4 berisi tentang kehidupan setelah perceraian. bagian 3 berfokus pada hak asuh anak, konsep co-parenting, dan redefinisi konsep keluarga, namun karena buku ini ditulis dengan gaya tulisan blog, pembahasan hanya di permukaan saja. bagian 4 berisi tentang memulai hubungan baru bagi seorang divorcee.

saya paling suka perumpaan yang dibuat penulis tentang pernikahan pada bagian 4, bab "Jawaban untuk Pertanyaan Kapan Nikah Lagi". pernikahan diibaratkan seperti "mengambil cicilan KPR yang tidak selesai hanya dengan membayar cicilan". rumah tersebut tentu harus dirawat sedemikian rupa sehingga nyaman untuk dihuni. bukan tidak mungkin di tengah jalan terdapat gangguan-gangguan seperti daerah yang lama-kelamaan sering mengalami banjir karena banyaknya pembangunan "kluster" baru, tetangga dengan kelakuan menyebalkan yang sulit ditoleransi, dan alasan lainnya. solusinya tidak semudah pindah rumah secepatnya, karena kita sudah terlanjur menandatangani KPR yang cicilannya masih sekian puluh tahun lagi.
Profile Image for Grisselda.
124 reviews248 followers
January 31, 2021
Belum banyak sepertinya buku tentang perceraian yang ditulis dari kacamata seorang divorcee di sini. Kalau cari kata "cerai" di toko buku online, jumlah bukunya nggak banyak. Adanya malah buku yang bahas perceraian dari segi hukum, atau tips supaya nggak sampai cerai. Nah kalau buku ini, disusun dari pengalaman penulis, yang sebagiannya sudah pernah ditulis Virly dan ditayangkan di blog-nya, dengan tambahan beberapa tulisan baru. Singkat, padat, nggak bertele-tele: Normalize being a divorcee!

Topik perceraian memang masih belum bisa dibicarakan blak-blakan ya? Sensitif? Bisa jadi. Ada kepercayaan yang menentang perceraian; yang mengizinkan pun nggak lantas divorcee-nya jadi tenang tentram. Sebutan "janda" sampai 2021 masih sering jadi bahan guyon. Perempuan yang bercerai diberi stigma kurang mengenakkan. Belum lagi: "Apa kata orang/keluarga besar?"

Bagai dua sisi mata koin, Virly mengungkap sisi lain pernikahan. Tentu, banyak sekali contoh pernikahan yang langgeng dan damai sampai kakek-nenek. Namun, ada juga yang berujung dgn perceraian.

Virly dengan tegas menunjukkan sikap dan pandangannya. Ia menuturkan apa saja perubahan yg akan terjadi dan perlu diketahui oleh (calon) divorcee, dan nggak segan mengungkapkan bahwa menjadi divorcee sekaligus single parent itu bukanlah peran yang mudah. Daftar untung rugi sampai dibuatnya. Memang lebih panjang daftar rugi, tapi...

"Semua daftar kerugian bercerai itu kalah oleh satu hal: mendapatkan lagi hidup saya."


Saya salut dengan keberanian Virly, tapi ada sebagian kecil dalam tulisannya yang rasanya jadi seperti memasang kotak: Sosok ayah diasosiasikan dengan tegas, sedangkan sosok ibu yang penuh kasih. Menurut saya, bisa kebalikannya, atau, masing-masing pun bisa punya racikan dari keduanya. Ada juga kaidah yang perlu dicermati pembaca dan diproses dengan tenang. Pembaca perlu ingat, kalau apa yang dialami penulis belum tentu mirip dengan kondisi yang dialami pembaca.

Overall, setelah menutup halaman terakhir Life as Divorcee, buku ini seperti anomali yang diperlukan kehadirannya. Buku yang mungkin sudah ditunggu-tunggu perempuan lain dengan pengalaman serupa. Buku yang menunjukkan ke divorcee lain kalau mereka, tidak sebatang kara.
Profile Image for intan prw.
51 reviews
April 15, 2021
Buku yang ditulis secara jujur berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya, mengenai lika-liku pernikahan, dan memutuskan untuk bercerai.

Stigma yang terjadi pada masyarakat yang nggak tahu kejadiannya seperti apa, lalu berkomentar sana-sini.

"When we started dating, they labeled us as gatel. When we got tamu laki-laki, they labeled us as bitch. When we had conversation with their husband, they called us perusak rumah tangga orang. Wtf. Intinya, kapan pun divorcee terlihat punya relasi dengan lawan jenis, langsung di-judge macam-macam." hlm: 117

Mungkin kurang adanya obrolan dengan pasangan sebelum pernikahan, atau semacam kesalahan yang nggak bisa ditoleransi setelah pernikahan, sehingga menimbulkan kerusuhan. Dan sebelum menuju ke jenjang pernikahan, akan lebih baik melakukan pre-marriage talks terlebih dahulu, misalnya.

"Kamu dan partner hidup di dunia nyata, bukan pasangan di novel-novel yang bisa saling mengerti walaupun enggak bilang apa-apa. Perhatikan juga bagaimana partner kamu selama berdiskusi. You'll see if he's the right one or not." hlm: 32

Dan, di sini pun penulis menjabarkan, nggak semua pernikahan berakhir dengan perceraian, banyak juga yang sampai Kakek-Nenek. Tergantung dari pasangan yang menjalaninya. Makanya berkaca dari buku ini, pre-marriage talks sangat dibutuhkan.

Aku suka dengan cara penulis bertutur kata, lugas, dan banyak pembelajaran di dalamnya.

Jarang ada buku yang mengangkat tema seperti ini, apalagi dari sudut pandang pengalaman pribadi.
Profile Image for Alfath F. R..
234 reviews4 followers
November 5, 2021
Sebenarnya, label apapun pada perempuan, saya tidak ambil pusing. Saya sudah berada pada tahap berupaya mengurangi berbicara tentang orang lain. Hanya saja, saat status divorcee disandang salah satu kerabat saya, dua keluarga besar termasuk saya jelas shock setelah mendengar kabar itu.

"Let's normalize being divorcee!"

Kalimat itu mendorong saya untuk membeli buku ini. Saya ingin tahu apakah buku ini mampu meredakan kejengkelan saya atas perubahan status satu kerabat saya menjadi divorcee. Hanya saja... setelah saya baca² kondisi penulis dengan kerabat saya tidak sama. Kerabat saya jauh lebih tua, anak² sudah lebih 12 tahun, dan memiliki alasan bercerai berbeda.

Setelah membaca buku ini wawasan saya bertambah. Perjalanan hidup penulis ditambah pandangan²nya tentang hal² tertentu cukup memberikan gambaran bahwa "oh solusi seperti itu bisa ada" atau malah mencukupkan diri berkomentar "oh begitu ya...tapi tidak bisa dipakai karena bla..bla..bla.." Paling tidak, apa yg tertulis dalam buku ini bisa mereduksi kejengkelan saya pada seorang divorcee. Dari sekedar "saya merasa jengkel" menjadi "ya sudahlah... itu sudah keputusan dia."

Apapun sebabnya, seorang divorcee sudah secara sadar untuk berpisah dengan pasangannya. Kita orang lain...ya cuma memaklumi saja. Harus lebih realistis dalam memandang apa yg kita lihat baik belum tentu baik di mata para pasutri.
Profile Image for Wahyu Awaludin.
358 reviews10 followers
February 2, 2021
Saya biasanya baca buku relationship sebagai teori. Bagus sih, jadi saya tahu hal-hal ideal yang harus dilakukan sebagai pria/suami. Cuma, belakangan saya berpikir perlu juga belajar dari keadaan riil -kalau pesimis lebih bagus. Ini bisa menyeimbangkan pengetahuan teoritis dengan challenge pernikahan di dunia nyata.

Membaca buku ini, saya mendapat banyak masukan tentang kejadian-kejadian yang umum terjadi di dunia nyata. Ada tentang KDRT, pre-marrige talk, dan semacamnya. Buat saya, topik buku ini adalah kebaruan yang menarik. Misal, saya berpikir tadinya KDRT hanya dua, fisik dan mental. Ternyata menurut penulis, KDRT ada 4: fisik, mental, finansial, dan seksual.

Sekarang saya jadi penasaran gimana pernikahan riil dari sudut pandang suami. Ada yang tahu buku tentang ini?

Note: isi bukunya ringan, gaya bahasanya santuy, dan tipis, cuma 100-an halaman. Lucu juga akhirnya saya baca buku yang menggunakan kata "enggak". Soalnya kata temen-temen saya, saya terbiasa baca buku berat yang segede majalah atau yang mendekati 1000 halaman. Jadi mereka pasti merasa aneh kalau baca buku ringan. Yah, bukan masalah halaman sih, tapi apakah topiknya sedang saya butuhkan apa nggak. Itu aja pertimbangan saya dalam membaca.
Profile Image for Fadhlan.
7 reviews
July 9, 2023
Di buku ini, kita seperti dicurhati penulis terkait dengan kehidupan (pasca) pernikahannya. Penulis menggunakan bahasa dan pendekatan yang sangat familiar, seperti cerita dengan teman sendiri. Dari "curhatan" penulis, kita belajar bahwa pernikahan adalah salah satu hal yang paling rumit dalam perjalanan hidup seseorang. Seringkali, kita tersandung saat akan memulainya, dan berujung pada perceraian. Di buku ini pula, kita diajak memahami bahwa seseorang yang memilih untuk bercerai bukanlah seorang yang menyerah, melainkan ia adalah orang yang mengedepankan kebaikannya (dan mungkin, juga anaknya) dibandingkan hal lain. Menurut saya, hal ini merupakan tindakan seorang pemberani.

Hal yang mengurungkan saya untuk memberikan 5 bintang adalah, walaupun telah beberapa kali diucapkan, penulis tidak memberikan pembandingan yang adil terhadap kelebihan dan kekurangan baik pernikahan maupun perceraian. Sebetulnya, hal ini adalah expected, mengingat buku ini ditulis oleh sudut pandang seorang divorcee.

Menurut saya, buku ini sangat cocok untuk kita yang baru hendak memikirkan pernikahan. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman penulis, yang sulit kita temukan di literatur lain.
Profile Image for yanimbrung.
34 reviews1 follower
January 20, 2022
"Kok judulnya gitu?"
I used to think like that either, but ended up by still bought it. it's seemed not suitable for me, but I got myself wrong 😁
.
"buku adalah jendela dunia" adalah pepatah sederhana yang nyata impactnya justru ngga sederhana. this one, widen my thought about the longer I live, the more things I need to reassure to guarantee -at least- the same amount of happiness will stay on my own, even if I already had the significant other.
.
another interesting one is about consent. silence doesn't mean yes, there is consent. I dream to have a significant other who knows everything, but I desperately need the one who knows the ✨consent✨
.
this book opens up my eyes about how the relationship works, about the idea of getting married and having child are the biggest decision people make. it needs everything, which in the top, is commitment. it's not only about nurturing each other, but also involving the bigger community called family 😊
.
this taught me many. so when the time comes, early or later, now or in the hereafter, I'll be probably ready for the chapter that God has planned 🙏🏻
Profile Image for D.
88 reviews1 follower
February 13, 2021
Beberapa bulan terakhir, timeline media sosial isinya orang-orang pada tunangan dan menikah. Setiap undangan selalu mikir, "Kok mereka udah siap, sih?" Karena buat aku sendiri ada banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan, belum lagi kalau lihat orang sekitar yang banyak bercerai. Dan muncul buku ini yang direkomendasikan banyak orang, memuat apa sih yang perlu disiapkan sebelum nikah, di luar soal resepsi, gedung, atau MUA. Beneran ngasih jawaban dari pertanyaan-pertanyaan aku. Somehow, bikin tambah yakin kalau nikah tuh nggak banget.

Salut karena berani nulis isu perceraian. Bisa jadi teman banget untuk mereka para divorcees dan mereka yang lagi berjuang untuk keluar dari pernikahannya. Tercantum juga daftar kontak darurat pertolongan KDRT. Penyampaiannya juga kayak lagi ngobrol sama teman.

Setuju banget sama apa yang penulis sampaikan di halaman 108, kalau beneran kejadian fix sih hidup di dunia damai banget. Aku agak terganggu dengan penggunaan campuran Bahasa Inggris-Indonesianya yang terlalu sering dan maksa nyempil di tengah-tengah.
Profile Image for afatsa.
51 reviews2 followers
February 7, 2021
belajar dari kegagalan (pernikahan)

bagi yang ingin menikah, tentu berharap sekali saja. tapi jika di perjalanan hubungan itu ada hal-hal tak terduga, perceraian bisa menjadi pintu darurat.

tak banyak buku yang mengangkat isu ini. jauh lebih banyak buku (sok) motivasional tentang pernikahan. bersegera, nikah muda, lengkap dengan bumbu romantisme.

untuk teman-teman yang belum menikah, buku ini cocok sebagai bahan perenungan. pentingnya pre-marriage talk dan mengenali lampu kuning dan merah dalam menjalin hubungan.

untuk teman-teman yang sudah menikah, kesadaran tentang relasi sehat itu penting. tentang komunikasi, penyamaan persepsi, juga kompromi.

bahasannya serius namun berhasil dibawakan dengan ringan. mungkin karena buku ini disusun dari beberapa tulisan berseri di blog. alurnya pas, tidak lambat menjemukan atau terlalu cepat.
Profile Image for Cassie Eniska.
3 reviews
January 24, 2022
Dari awal liat buku ini sudah sangat menarik perhatian, karna kebetulan lumayan banyak saya dikelilingi dgn org2 yang masih sangat muda, punya anak, lalu bercerai atau hanya saling meninggalkan satu sama lain tanpa bercerai. Saya sangat tertarik dgn buku ini, karna saya ingin tahu apa sebenarnya yang menjadi alasan orang-orang berpisah, and also what it feels life after divorce terutama mereka yang MBA dan harus menikah muda.

Dari buku ini MBA ga selalu harus berakhir dgn pernikahan, karna mmg benar jalan keluarnya bukan hanya menikah. Mungkin bisa-bisa saja. Tapi, do you even try the Pre Marriage Talks? Karna kalau misalnya dari awal visi/misi keduanya sudah berbeda, then how the marriage would work out? It could add more and more problems, because both just has no find the understanding.
1 review
February 15, 2021
Live as Divorcee buku pertama yang buka pikiran tentang beberapa kehidupan setelah menikah, yang ga sebahagia seperti kebanyakan org bilang.

Just in case, being realistis aja semua orang pasti bakal ada beberapa fase yang gak disangka-sangka, buku ini bisa jadi bekal tentang PreMarriage Talks, Co Parenting, or KDRT meskipun belum nikah harusnya pelan-pelan udah harus memilih dan memilah bekal dimasa depan, gaada salahnya buat baca buku ini dari segi mba Virly yang mengangkat pengalaman hidupnya sendiri dan tapi tidak juga melazimkannya, kalau bisa dibicarain lets talk tapi tetap kembali pada decision.

Dan being normalize to divorcee, biar ga selalu kemakan stigma divorcee yang masih jadi pr banget di masa sekarang.
1 review
February 8, 2022
Membaca buku ini seperti berbicara langsung dengan Virly, seolah mendapatkan teman bercerita
saya tenggelam dalam cerita tentang perceraian dalam hidupnya.

Beberapa orang yang melihat saya membaca buku ini berkomentar "Belum nikah kok sudah baca buku tentang perceraian"

Saya balas "Justru ini penting, agar kita bisa belajar lebih banyak tentang hal hal yang mungkin terjadi dimasa depan"

Pikirku, buku ini juga bukan hanya tentang curahan hati seorang janda, namun bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana ia memandang pasangan hidupnya, dan sudut pandang ia tentang pernikahan.

satu quote dalam buku ini yang jadi bagian fav saya
" if you are not capable to being alone, your relationship is false".

Thankyoo kak virly, saya sangat banyak belajar dari buku tipis ini
Profile Image for Candra.
24 reviews
May 1, 2024
Untuk mengemas topik yang cukup berat dan tabu menjadi ringan dan mudah dicerna tidaklah mudah. Meski ada beberapa part yang sepertinya bisa diupgrade terutama bila dicetak ulang, misalnya mendetilkan kontak rujukan lembaga bantuan hukum maupun step by step dalam mengurus perceraian.

Di tengah masyarakat yang patriarkis, buku ini layak dibaca dan dijadikan kado untuk generasi lebih muda yang masih terpaku bahwa perkawinan adalah prestasi alih alih pintu masuk ke lebih banyak dan multikompleksnya tantangan kehidupan. Terima kasih Virly sudah cukup berani vulnerable untuk bercerita dan membagikan pengalaman.

Disclamer: Yes, the Author is my friend but my review is kinda objective as much as I can.
15 reviews1 follower
February 12, 2021
narasi yang dibawa sangat personal. sudut pandang yang diceritakan dari sisi perempuan sebagai divorcee. di dalamnya memberikan buah pemikiran bahwa sebenarnya perceraian itu merupakan hal yang biasa, hanya tabu bagi mereka-mereka yang memang jarang ada kejadian cerai di circle hidupnya. walaupun tujuan dan motivasi untuk nikah bagi sebagian orang berbeda, penulis mengajak pembaca untuk memikirkannya lebih matang dengan cara melakukan obrolan pra-nikah sampai kejadian berupa case-case jika terjadi sesuatu ditengah jalan pernikahan. obrolan yang saya maksud lebih kearah perjanjian antar pasangan.
Profile Image for Justika Imaniar.
11 reviews
February 26, 2021
Apa setelah membaca buku ini aku semakin takut untuk menikah? Nggak, atau lebih tepatnya aku justru semakin berhati-hati saat memutuskan akan menikah. Terlebih aku adalah anak yang dibesarkan dari keluarga yg nggak harmonis-harmonis amat.

Dan beruntungnya, buku ini nggak cuman ngobrolin tentang perceraian dan kehidupan setelah bercerai. Aku menemukan ilmu tentang mendidik anak, pengetahuan apa yang harus dilakukan saat mengalami kdrt, dan yang terpenting (sebagai orang yang belum menikah) ada pembahasan untuk menemukan partner sehati dan sepemikiran.

“Selalu ingat ini : kamu berhak mendapatkan partner yang bisa mengimbangi dirimu”
Profile Image for Prily Ap.
4 reviews
February 14, 2025
Buku yang udah 3 tahun tertimbun di rak, tapi ternyata seru banget😍 Bukan menyuruh untuk bercerai, bukan menakut-nakuti soal pernikahan.
Tapi menyajikan skenario pernihakan... dari sebelum menikah (memilih pasangan dsb), kehidupan pernikahan serta risiko-risikonya, pertimbangan perceraian jika memang sangat diperlukan, hingga kehidupan pascaperceraian (juga soal pengasuhan anak). Lewat tulisan ini penukis juga berusaha mengajak pembaca untuk berhenti memandang negatif tentang status devorcee seseorang dan juga gak perlu ngecap anaknya sebagai 'anak broken home'.
Profile Image for Fety Niza.
109 reviews4 followers
February 7, 2021
Bukunya tipis. Isinya langsung ke poin-poin yang mau dikasih tau sama penulis. Nyeritainnya juga runut, dari hal-hal yang harus diketahui sebelum nikah, sampe cara ngurus perceraian itu sendiri. Ditulis berdasarkan hal-hal yang ada di sekitar kita, jadi kita pasti relate banget.
Ini bisa jadi bacaan sekali duduk nih karena tipiiss.
Cara penulisan yang dipake juga mudah dicerna kok, karna kayak cerita aja gitu.
Profile Image for fahma13.
10 reviews
March 16, 2021
Buat yang mau nikah, buku ini ngajarin hal-hal yang kudu dipersiapin sebelum nikah, daripada lo nyesel akhirnya. Penuturan Mbak Virly ceplas ceplos tapi emang realistis, bahwa nikah gak cuman tentang share konten romantis unyu whatever you named it, tapi banyak tanggung jawab yang mengikuti di belakangnya. Buku ini cocok buat jadi kado ke temen lo yg ngebet nikah mulu tapi gak ada persiapan apa-apa.
Displaying 1 - 30 of 49 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.