✨ Rate 4.5/5 ✨
Buku ini merupakan buku pengembangan diri yang secara khusus membicarakan mengenai emosi yang dibagi ke dalam lima bagian, yaitu:
Bab I: Menerjang Badai, Membakar Matahari (tentang kesedihan dan kesunyian)
Bab II: Dalam Bayang-bayang Invisible Tigers (tentang kecemasan dan ketakutan)
Bab III: Berpegang pada Untaian Benang-benang Rapuh (tentang kepercayaan)
Bab IV: Pot Api (tentang kemarahan)
Bab V: Teratai yang Mekar di Kubangan Lumpur (tentang kebahagiaan)
Emosi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia sejak dulu kala. Meski begitu, banyak dari kita yang tidak menyadarinya. Kita seringkali memilih abai terhadap emosi yang dirasakan.
Emosi bukan hanya tentang kemarahan. Kesepian, kecemasan, ketakutan, kepercayaan, dan kebahagiaan merupakan beberapa dari sekian banyak bentuk emosi. Manusia dapat mengalami hingga 34.000 emosi yang datang silih berganti dalam hidupnya. Namun kita seringkali abai terhadap emosi-emosi yang dirasakan. Kita terbiasa untuk menahan emosi dengan dalih 'kedewasaan'.
Dalam buku ini, penulis berkali-kali mengatakan bahwa kita adalah manusia. Segala emosi yang kita rasakan merupakan sesuatu yang valid. Merasakan emosi merupakan hal yang normal dan dapat dialami oleh siapa saja. Sesuatu yang berbeda ialah respons terhadap emosi tersebut. Untuk dapat merespons keberadaan emosi dengan cara terbaik, kita harus terlebih dahulu mengenali emosi yang dirasakan.
Proses mengenali emosi bukanlah proses yang instan dan dapat dilakukan dalam sekali kedipan mata. Mengenali emosi artinya upaya mengenali diri sendiri. Untuk melakukannya kita butuh waktu seumur hidup. Artinya, untuk mengenali emosi dan memberikan respons terbaik terhadapnya, kita harus berlatih setiap waktu.
Sebagai buku psikologi yang ditulis oleh perawat kesehatan jiwa, buku ini tidak terlalu banyak berbicara mengenai hal-hal teoritis. Agnosthesia lebih banyak menceritakan mengenai pengalaman dan pemahaman penulis sebagai praktisi dalam mengenal emosi, baik emosi yang dirasakannya sendiri maupun emosi yang dirasakan oleh pasien-pasiennya.
Dalam buku ini, penulis mencoba memberikan berbagai upaya yang dapat dilakukan pembaca guna dapat memilih caranya sendiri untuk mengenali emosi. Ketika emosi secara tiba-tiba menghampiri, kita dapat memberi jeda pada diri sendiri untuk memahami situasi yang sedang terjadi.
Buku ini sangat mudah untuk dipahami. Bagi saya, buku ini dapat menjadi teman perjalanan dalam upaya mengenali emosi. Dan, selayaknya seorang teman baik, buku ini tidak akan memanjakan kita dengan terus menerus menyerah ataupun menyanggah pada setiap emosi yang dirasakan.
Buku ini mendorong kita untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang kita butuhkan, baik itu beristirahat sejenak, mempersiapkan dan mencoba sesuatu, hingga nantinya kita dapat berjalan kembali.
Salah satu kutipan favoritku dari buku ini:
“Bayangkan kamu sedang di pinggir sungai, duduk dan mengamati aliran air di depan mata. Ada riak air, pusaran-pusaran kecil yang ditimbulkan oleh interaksi antara air dan bebatuan, juga lompatan-lompatan kecil gelombang yang menawan. Kau tetap diam di tempatmu berada, duduk tenang dan mengamati. Begitulah caramu memperlakukan emosi dan riak-riaknya dalam hidup.”
—Agnosthesia, hlm. 159