Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rahman Rahim Cinta

Rate this book
Maka puisi ini tak kumaksudkan sebagai khazanah sastra
Sekadar supaya anak cucuku mengingatnya
Bahwa orangtuanya benar belajar menjadi manusia .…

Belajar menulis puisi, entah untuk apa--yang penting darinya saya juga bisa belajar menjadi manusia.

Kelembutan puisi adalah faktor mendasar dan substansial dalam peradaban. Karenanya saat puisi tidak lagi punya tempat dalam dialektika sosial, manusia akan “hilang”--dan negara, kebudayaan, serta agama, akan kehilangan manusia.

Di dalam sebuah kebudayaan, pun di semua peta interaksi kebudayaan dan politik, kemampuan dan tradisi untuk bersentuhan dengan kelembutan puisi sangat diperlukan. Lewat cara inilah kemanusiaan akan tetap terpelihara dalam khazanahnya.

****

"Puisi-puisi Rahman Rahim Cinta--inilah persembahan Cak Nun sebagai sedekah budaya dan kemanusiaan kepada siapa pun yang bersedia mengapresiasinya."
~ Iman Budhi Santosa, Sastrawan

292 pages, Paperback

Published January 1, 2021

5 people are currently reading
17 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books484 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (91%)
4 stars
1 (8%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Rony K Pratama.
5 reviews2 followers
April 6, 2021
Bagi penganut paham kreasionisme jagat ini diciptakan oleh Tuhan. Melalui kandungan “rahman” dan “rahim” Tuhan terlahirlah cinta. Ia menjadi bekal utama seluruh makhluk untuk menjalankan proses hidup dan kehidupan. Membaca pola demikian kita segera memahami muatan semantik (makna) kandungan puisi Cak Nun yang kemudian dipakai sebagai judul utama antologi ini.

Puisi Rahman Rahim Cinta bagian pertama dan kedua (hlm. 58-59) merupakan sajak yang menggambarkan peristiwa penciptaan alam semesta. Cinta terhadirkan bukan sebagai pengertian hubungan individu, melainkan “ikon utama kepribadian-Nya” yang meluas dan mendalam. Apa pun pengertian cinta, sebagaimana ditafsirkan orang selama ini, tetap tak mampu merengkuh hakikat di baliknya. Cinta bisa sangat akrab tapi sekaligus begitu abstrak.

Cinta bukan kata yang kau pungut suatu siang dari tepian jalan
Dari puisi penyair yang tertulis di sobekan kertas koran
Cinta bukan rerasanan yang tercantum di footnote kaum ilmuan
Atau dari surat cinta seorang pemuda kepada perawan
Lantas kau ambil, kau bawa pulang dan kau jadikan hiasan
Bahkan kau jadikan komoditas untuk meraih kepentingan

Sabrang Mowo Damar Panuluh (SMDP) pernah membagi tiga tingkatan cinta. Level pertama cinta seorang anak kepada barang kesayangan. Ia mencintai barang itu tanpa bersedia disentuh atau dimiliki orang lain. Cinta semacam ini lebih individual. Lapisan berikutnya cinta seorang remaja kepada sang kekasih. Ia sebetulnya sekadar mencintai diri sendiri melalui pantulan orang lain. Tingkatan paling atas adalah cinta tanpa prasyarat. Seperti cinta seorang ibu kepada anaknya.

Pembabakan itu nyaris seperti penggalan sajak di atas. Cinta yang “serba bukan” kecuali yang sejati. Sementara kesejatian, sebagaimana kita pahami dalam sajak-sajak Cak Nun, selalu berasal, melalui, dan termiliki oleh Tuhan. Manusia hanya mendapatkan cipratan-cipratan itu. Tak mengherankan bila pemahaman akan cinta hasil pergumulan manusia sangat mungkin membuat “rekayasa” atau “salah paham” seperti penggalan pertama Rahman Rahim Cinta (2) berikut.

Tolong jangan main-mainkan cinta menjadi camilan kesenian
Atau kau rekayasa menjadi slogan politik dan kebudayaan
Kemudian dalam agama jadi mazhab saling salah paham

Ketiga baris di atas mencitrakan kritik sosial penyair. Meskipun kata cinta tak terucapkan langsung oleh politikus atau budayawan, tapi terlihat bahwa mereka acap merekayasa kata ini sebagai sebuah slogan, jargon, bahkan barangkali propaganda. Kecenderungan ini menegaskan cinta dalam pengertian sempit, sektoral, atau provinsional. Cinta demikian, bila terejawantah dalam agama, menyembul dalam bentuk mazhab.

Sudah banyak upaya “rekayasa cinta” yang dilakukan pemeluk agama. Mereka merasa itu cinta dari agama. Padahal, seseungguhnya itu merupakan kungkungan mazhab. Apakah mazhab berarti mengungkung cinta ke dalam tempurung kesempitan, membelenggu keluasan sekaligus kedalaman yang sebelumnya menjadi kekhasan rahman dan rahim?

***

Garis besar puisi-puisi di antologi ini masih satu langgam dengan karya Cak Nun yang sebelumnya kita kenal dalam Sesobek Buku Harian Indonesia (1993) atau 99 untuk Tuhanku (1983). Cak Nun lebih memilih gaya kepenulisan liris tapi tidak keluar tapi ke dalam: diri sendiri. Bila puisi-puisi sebelumnya lebih dominan memakai rima bebas, namun di antologi ini nampaknya agak berbeda. Ia sering memakai akhiran /a/, /n/, atau /m/. Perhatikan akhiran dua penggalan puisi di atas.

Pemilihan rima semacam itu setidaknya mempunyai tiga tampilan. Pertama, rima sebagai tekanan pada tiap larik atau akhir puisi. Kedua, rima sebagai upaya untuk memberikan nada tinggi. Misalnya penekanan pada kata “serampangan” atau “salah paham”. Ketiga, rima sebagai bentuk perpanjangan suara dari baris sebelumnya. Namun, rima dalam puisi-puisi Cak Nun cenderung tampilan kedua.

Bagian puisi lain, sejauh kita baca di sini, lebih memakai rima aliterasi atau pengulangan bunyi konsonan. Sebagai contoh puisi berjudul Kebun (hlm. 63). //Karena Tuhan tidak menunjukkan sertifikat//Oleh manusia kini tanah disekat-sekat//Hak asasi Tuhan telah dijebrat. Bukankah dominan penggunaan “at” di dalamnya?

Terlepas dari kecenderungan gaya puisi Cak Nun, antologi ini meneruskan “catatan-catatan kesaksian”—pinjam istilah Suminto A. Sayuti—yang sudah dimulai dalam karya sebelumnya seperti telah disinggung di awal. Sebagaimana sebuah kesaksian, ia ditulis seperti “buku harian” yang mewedarkan perubahan sosial yang diamati penyair di sekitarnya. Kendati demikian, Cak Nun konsisten memakai teknik ekspresi yang bersahaja: mudah dipahami pembaca luas.

Menulis puisi seperti halnya menulis esai atau naskah drama, bagi Cak Nun, tidak berpretensi puitik atau literer tapi langsung menghidangkan “substansi” pembahasan tanpa teding aling-aling. Seperti diakuinya di dalam antologi, “Maka puisi ini tak kumaksudkan sebagai khazanah sastra. Sekadar supaya anak cucuku mengingatnya. Bahwa orangtuanya benar-benar menjadi manusia.”

Pada usia ketika jamak generasi muda sudah memanggilnya sebagai Mbah, upaya penerbitan antologi puisi memang mengingatkan kita agar terus merawat kehidupan melalui puisi. Tanpa puisi, menurut Cak Nun, “… negara, kebudayaan, dan agama: kehilangan manusia” (hlm.282). Seperti diungkap di pembukaan, kreasionisme atas semesta adalah tindakan puitis yang berasal dari rahman dan rahim. Sedangkan Cak Nun, lewat karya kreatifnya, mengetuk pintu nurani kita agar senantiasa mengingat bahwa kehidupan berawal dan berlangsung dalam proses memuisi.

Ketukan itu terlihat bernas saat kita membaca empat puisi antara lain “Padang Bulan” (hlm. 237), “Kenduri Cinta (hlm. 239), “Bangbang Wetan” (hlm. 241), dan “Mafâzâ” (hlm. 243). Boleh jadi ia ditulis khusus untuk simpul Maiyah tertentu. Boleh jadi pula ada pesan simbolik di dalamnya yang dialamatkan kepada penggiat. Namun, tentu saja, meski ditulis spesifik, puisi-puisi itu terbuka bagi pesan-pesan universal di satu pihak tapi akan mempartikular di pihak lain. Sekali lagi, semua tafsir, bergantung kepada kita: sang pemberi makna.

Kesatuan tematis apa yang menyatukan seluruh puisi di sini? Pada puisi Kenduri Cinta kita segera mendapatkan jawaban.

Cinta bagai Tuhan itu sendiri
Tunggal tapi bersemayam di semuanya
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.