Malik terperenyak. Kata-kata ”obatilah hati ayahmu yang letih” itu dengan cepat membawa kembali kenangan sepuluh tahun terakhir hubungan mereka yang renggang. Terutama sejak sang ayah menceraikan ibunya, kejadian yang membuat Malik benci luar biasa kepada sang ayah sebelum mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya.
* Hamka yang dikenal oleh rakyat Indonesia adalah sosok ulama, Ketua MUI, penceramah, cendikiawan, dan banyak lainnya. Namun di balik itu, ia juga merupakan sosok anak yang merasakan banyak sakit hati di masa kecilnya. Perceraian orangtuanya, kerinduan pada ibunya dan hubungan yang tak mulus dengan sang ayah, berpengaruh banyak pada sikap dan kepribadian Hamka dewasa.
Malik, nama kecilnya sebelum ia dikenal debagai Hamka, juga berhadapan dengan banyak kegagalan dan sakit bati, baik dalam hal pekerjaan dan asmara. Ia bahkan pernah mendirikan ’bisnis’ majalah sendiri, yang hanya berhasil terbit beberapa edisi. Dari semua cerita yang tak penuh bunga-bunga indah inilah, kita dapat banyak mengenal sosok Hamka yang lebih manusiawi, yang pernah marah dan kecewa, yang pernah kabur dari rumah dan ngambek pada orangtua, yang mirip dengan kita, pada pembaca.
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.
Buku ini adalah salah satu sumber bacaan mengenai Hamka, dipersembahkan dalam bentuk novel sejarah, terdapat pengkisahan, babak-babak menarik dari kisah yang benar mengenai Hamka, diadun bersama kesan-kesan dramatis yang boleh meruntunkan jiwa pembaca. Penulis menata penceritaan kehidupan Hamka dengan kemas, di samping mewujudkan dialog-dialog, tanpa mengubah isi asal sisi kehidupan Hamka. Ini menjadikan kandungan novel ini sangat menarik, seolahnya kita memang berada di dalam penghidupan Hamka itu sendiri.
Terbitan semula dari karya asal penulis berjudul 𝑻𝒂𝒅𝒂𝒓𝒖𝒔 𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝑩𝒖𝒚𝒂 𝑷𝒖𝒋𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂 yang diterbitkan pada tahun 2013. Dengan judul yang baru, penulis mengemaskini beberapa bahagian, melakukan penambahan bab, disamping menajamkan lagi isi kandungan.
Sebuah novel dwilogi, ini novel yang pertama. Ya, jadi kisah didalamnya adalah sehingga usia Hamka kira-kira 30 tahun. Saya nampak yang misi penulis ialah untuk tidak terlampau memadatkan cerita untuk seumur hidup Hamka dalam suatu novel, kerana terlampau banyak kisah menarik yang hendak dipaparkan.
Jadinya dari kisah separuh hidup Hamka ini, dapatlah saya fahamkan beberapa fakta mengenai Hamka dengan jelasnya:- • Hamka membesar seperti kanak-kanak dan remaja yang lain. Nakal di usia kanak-kanaknya. Di awal remaja, Hamka sendiri ada kerenahnya. • Hamka membesar dalam 2 dunia – sebelah ibu yang kuat memegang adat Minangkabau walaupun sehingga melanggar lunas-lunas Islam. Manakala sebelah ayahanda Hamka sendiri (yang merupakan seorang alim ulama), amat menekankan prinsip dan ajaran Islam • Mungkin perbezaan pendapat dan perselisihan faham di kalangan keluarga kedua belah pihak – ayah dan ibu Hamka, maka berlaku penceraian ketika usia Hamka masih muda. Ini adalah antara salah satu sebab musabab mengapa Hamka pada mulanya membenci ayahnya • Hamka membesar di dalam suasana penjajahan Belanda di Indonesia. Hamka dapat melihat kebangkitan sebilangan rakyat Indonesia yang mahukan pembebasan dan kemerdekaan, malah Hamka sendiri menjadi salah seorang pejuangnya. • Hamka sikapnya sentiasa berkeyakinan. Yakin di saat orang lain meragui. Tidak kenal putus asa. Itulah antara sebab yang menyumbang terhadap kejayaan penulisan Hamka dan pelbagai genre karyanya, sehingga ke hari ini.
Dalam novel ini, penulis menekankan bagaimana Hamka memulakan karya novel roman, walaupun pada peringkat awalnya dicemuh masyarakat – mana mungkin seorang alim ulama menulis sebuah novel roman! Maka lahirlah beberapa karya novel roman dari Hamka – 𝑺𝒊 𝑺𝒂𝒃𝒂𝒓𝒊𝒂𝒉, 𝑳𝒂𝒊𝒍𝒂 𝑴𝒂𝒋𝒏𝒖𝒏, 𝑫𝒊 𝑩𝒂𝒘𝒂𝒉 𝑳𝒊𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒂𝒃𝒂𝒉 dan 𝑻𝒆𝒏𝒈𝒈𝒆𝒍𝒂𝒎𝒏𝒚𝒂 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑽𝒂𝒏 𝑫𝒆𝒓 𝑾𝒊𝒋𝒄𝒌.
Novel ini turut menceritakan bagaimana Hamka mula berkecimpung dalam dunia penulisan artikel melalui majalah-majalah Islami dan perjuangan, dan akhirnya Hamka sendiri dilantik menjadi ketua redaksi sebuah majalah pada tahun 1936. Melalui penulisan-penulisan artikel inilah, jualan majalah meningkat, semakin ramai rakyat Indonesia ketika itu yang semakin minat membaca, sekaligus membuka minda dan pemikiran mereka.
Apabila menamatkan bacaan novel ini, serasa seolah-olah saya berkenalan dengan lebih dekat dengan sosok seorang pemuda yang bernama Hamka ini. Ternyata penulis telah berjaya membawakan separuh kehidupan Buya Hamka lalu diletakkan kesan dramatik, membina sebuah karya novel bersandarkan kisah sebenar Hamka.
Buat para peminat Hamka yang ingin mengenali jiwa Hamka secara santai, boleh cuba membaca buku ini. Usah dirisau tentang 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙪𝙖𝙜𝙚 𝙗𝙖𝙧𝙧𝙞𝙚𝙧 iaitu Bahasa Indonesia, kerana apabila anda tenggelam dalam dunia pembacaan, sememangnya halangan ini boleh diatasi. Ayat yang digunakan mudah untuk difahami, tidak meleret-leret.
Buku ini pasti ada sambungannya – sama-sama kita nantikan dari penulis sendiri. Akhir kalam, saya sudahkan dengan sedikit petikan menarik yang terdapat di pengakhiran cerita Hamka ini.
⭐4.5 Merupakan novel pertama dwilogi Buya Hamka yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral, buku ini menceritakan masa kecil Buya Hamka sampai beliau berusia 30an. Dari buku ini, aku mengenal sosok pahlawan bangsa yang namanya terpatri abadi dalam sejarah Indonesia. Beliau adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab dikenal sebagai Buya Hamka.
Dikenal luas sebagai ulama, nyatanya beliau tak sekedar cakap dalam ilmu agama tetapi juga sebagai sastrawan, penulis, sekaligus sejarawan. Kontribusinya dalam memerdekakan negeri ini sangatlah besar. Dan dibuku ini aku menemukan keteladanan beliau yang sangat mengagumkan.
Semasa hidupnya, Hamka seringkali mengamati dan mengkritisi fenomena sosial yang ada disekelilingnya. Salah satunya, beliau dengan berani mengkritisi kondisi masyarakat Minangkabau yang masih banyak memandang manusia dari tahta dan harta. Realitas sosial inilah yang mengilhami Hamka menulis berbagai karya, yang isi ceritanya penuh dengan kritik dan cercaaan santun terhadap adat istiadat Minangkabau. Meskipun karya-karyanya banyak mengambil latar cerita Minangkabau, Hamka tetap mengobarkan semangat nasionalisme.
Buku ini ditulis dengan diksi ringan serta bernuansa melayu yang indah, menjadikan kisah Buya Hamka lebih menarik untuk dibaca. Selain itu, penulis mampu menyampaikan makna keteladanan dan nilai-nilai kebaikan Buya Hamka lewat narasi yang ada. Lewat buku ini, aku, sebagai pembaca bukan hanya tau tentang kisah dari Buya Hamka yang begitu menarik, namun juga terinspirasi dan termotivasi lewat kisah inspiratif dari sosok Buya Hamka.
Adapun kutipan favoritku dalam buku ini : "Memang aku menulis roman, tetapi bukan sembarang roman yang hanya mengutamakan cinta dan perasaan. Aku menulis roman untuk membawa pembaca ke jalan Tuhan" - Buya Hamka.
☃️Siapa sangka perjalanan hidup Buya Hamka begitu berwarna. Lahir pada tahun 1908 dan menjalani masa kecil penuh keseruan. Malik, nama kecil beliau, dikenal sebagai anak yang usil. Ulahnya mengimunisasi cacar temannya menjadi bahan pembicaraan warga. Masih banyak keusilan, kenakalan, dan kisah beliau yang mencengangkan.
🏔️Membaca novel ini membuatku terheran-heran, kagum, sedih, haru berganti-ganti di setiap babnya. Peristiwa flash back ke masa lalu, hubungan Hamka dan ayahnya disertai dialog-dialog yang menyentuh. Terlebih saat dikisahkan bagaimana Hamka mengatasi kesulitan-kesulitannya. Keadaan keluarga, bagaimana pertentangan beliau dengan ayahnya, dan keputusan-keputusan yang Buya Hamka ambil dalam hidup sejak usia belia.
🌊Terkagum-kagum, karena interaksi antara Buya Hamka dengan tokoh-tokoh di dalamnya diceritakan dengan sangat hidup. Buya Hamka berinteraksi dengan tokoh besar nasional bahkan sejak usianya sangat muda. Tokoh tersebut diantaranya HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Soekarno. Perjalanan yang ditempuh Buya Hamka sejak kecil, saat remaja, mencari ilmu, maupun berorganisasi sangatlah menginspirasi. Aktivitas dan produktivitas yang sangat tinggi.
✨Tidak sabar semoga bisa segera membaca buku kedua, Serangkai Makna di Mihrab Ulama. Semakin penasaran dengan kiprah Buya setelah umur 30 tahun.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buya Hamka, Allah beri bakat menulis. Kenyataannya karya buya hamka hidup abadi dalam tinta hitam. Nilai-nilai keislaman yang beliau perjuangkan. Tulisan-tulisan beliau mudah dipahami dan selalu membawa pada kesadaran untuk memperbaiki diri.
Tanggung jawab sebagai ulama, ayah, suami, penulis dijalani dengan kesungguhan dan tekad untuk memperbaiki generasi.
Keseriusan dan tekad kuat Buya Hamka dalam mencari ilmu agama, mencari guru, mencari buku referensi, memperjuangkan kepentingan umat melalui organisasi Muhammadiyah, membangun sekolah untuk mencetak ulama muda, menekuni bidang kepenulisan. The real guru, mengajar dan mau terus belajar. 🔥🔥🔥
"Untuk apa bapak mengumpulkan buku dan membaca sebanyak ini ?' katanya. Saya jawab, ' Anak muda, saya harus banyak membaca dan belajar karena atas izin Tuhan nanti saya akan menjadi presiden negeri ini setelah kami merdeka."- 315 (Dialog Buya Hamka bersama Ir. Soekarno)
Nyatanya buku akan mengantarkan pada kebijaksanaan hidup.
Buku ini adalah buku pertama yang mengenalkanku lebih jauh dengan sosok Buya HAMKA. Kenapa kutulis dengan huruf besar nama "HAMKA" ? Karena sebenarnya nama yang tersemat itu adalah akronim dr himpunan nama lengkap beliau; Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Walaupun ini adalah novel yang juga berisikan sejarah, novel ini mudah sekali untuk dicerna. Cara penyampaiannya yang begitu mengalir memudahkanku untuk memahami isi dari halaman satu ke halaman yang lain.
Buya yang kita kenal sebagai sosok yang luar biasa - dulunya sama dengan orang-orang lain pada umumnya. Yang pernah berbuat nakal, yang punya banyak penyesalan dalam hidup, dan yang tak sedikit berbuat salah. Tak jauh beda dengan kita. Tapi Buya berhasil menemukan titik baliknya yang membuat hidupnya berubah sedemikian rupa. Semakin membuat yakin, bahwasannya orang hebat dan terkemuka bukan datang dari sosok yang sempurna. Asal mau belajar, asal mau sadar. Semua bisa menjadi pribadi yang hebat.
Novel biografi Malik, atau yg lebih dikenal dengan Buya Hamka, ketua pertama MUI digambarkan apik oleh Akmal Nasery Basral.
Sebagai pembaca, saya merasa diajak langsung ke pinggiran Danau Maninjau, kampung halaman Buya Hamka semasa kecil. Buku ini bercerita mengenai asal usul keluarga Buya Hamka hingga perjalanannya menjadi seorang ulama, penulis, sastrawan, sekaligus tokoh pergerakan nasional.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang sangat inspiratif sekali karena menghadirkan sisi lain dari sosok Buya Hamka. Lompatan perjalanan hidup beliau dari tanah Minang sampai Makkah hingga mengantarkan beliau sebagai penulis, pujangga dan juga redaktur.
pada awalnya agak sukar bagi saya untuk memahami tatabahasa yang diguna pakai dalam buku ini kerana buku ini menggunakan bahasa indonesia. tetapi lama-kelamaan, saya dapat biasakan.