Jump to ratings and reviews
Rate this book

Buya Hamka: Setangkai Pena di Taman Pujangga

Rate this book
Malik terperenyak. Kata-kata ”obatilah hati ayahmu yang letih” itu dengan cepat membawa kembali kenangan sepuluh tahun terakhir hubungan mereka yang renggang. Terutama sejak sang ayah menceraikan ibunya, kejadian yang membuat Malik benci luar biasa kepada sang ayah sebelum mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya.

*
Hamka yang dikenal oleh rakyat Indonesia adalah sosok ulama, Ketua MUI, penceramah, cendikiawan, dan banyak lainnya. Namun di balik itu, ia juga merupakan sosok anak yang merasakan banyak sakit hati di masa kecilnya. Perceraian orangtuanya, kerinduan pada ibunya dan hubungan yang tak mulus dengan sang ayah, berpengaruh banyak pada sikap dan kepribadian Hamka dewasa.

Malik, nama kecilnya sebelum ia dikenal debagai Hamka, juga berhadapan dengan banyak kegagalan dan sakit bati, baik dalam hal pekerjaan dan asmara. Ia bahkan pernah mendirikan ’bisnis’ majalah sendiri, yang hanya berhasil terbit beberapa edisi. Dari semua cerita yang tak penuh bunga-bunga indah inilah, kita dapat banyak mengenal sosok Hamka yang lebih manusiawi, yang pernah marah dan kecewa, yang pernah kabur dari rumah dan ngambek pada orangtua, yang mirip dengan kita, pada pembaca.

332 pages, Paperback

Published February 1, 2020

1 person is currently reading
22 people want to read

About the author

Akmal Nasery Basral

29 books28 followers
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.

Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai

Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.

Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.

Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (62%)
4 stars
9 (31%)
3 stars
2 (6%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Norhasiah Akhir.
32 reviews
September 19, 2021
Bismillahirrahmanirrahim.

Buku ini adalah salah satu sumber bacaan mengenai Hamka, dipersembahkan dalam bentuk novel sejarah, terdapat pengkisahan, babak-babak menarik dari kisah yang benar mengenai Hamka, diadun bersama kesan-kesan dramatis yang boleh meruntunkan jiwa pembaca. Penulis menata penceritaan kehidupan Hamka dengan kemas, di samping mewujudkan dialog-dialog, tanpa mengubah isi asal sisi kehidupan Hamka. Ini menjadikan kandungan novel ini sangat menarik, seolahnya kita memang berada di dalam penghidupan Hamka itu sendiri.

Terbitan semula dari karya asal penulis berjudul 𝑻𝒂𝒅𝒂𝒓𝒖𝒔 𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝑩𝒖𝒚𝒂 𝑷𝒖𝒋𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂 yang diterbitkan pada tahun 2013. Dengan judul yang baru, penulis mengemaskini beberapa bahagian, melakukan penambahan bab, disamping menajamkan lagi isi kandungan.

Sebuah novel dwilogi, ini novel yang pertama. Ya, jadi kisah didalamnya adalah sehingga usia Hamka kira-kira 30 tahun. Saya nampak yang misi penulis ialah untuk tidak terlampau memadatkan cerita untuk seumur hidup Hamka dalam suatu novel, kerana terlampau banyak kisah menarik yang hendak dipaparkan.

Jadinya dari kisah separuh hidup Hamka ini, dapatlah saya fahamkan beberapa fakta mengenai Hamka dengan jelasnya:-
• Hamka membesar seperti kanak-kanak dan remaja yang lain. Nakal di usia kanak-kanaknya. Di awal remaja, Hamka sendiri ada kerenahnya.
• Hamka membesar dalam 2 dunia – sebelah ibu yang kuat memegang adat Minangkabau walaupun sehingga melanggar lunas-lunas Islam. Manakala sebelah ayahanda Hamka sendiri (yang merupakan seorang alim ulama), amat menekankan prinsip dan ajaran Islam
• Mungkin perbezaan pendapat dan perselisihan faham di kalangan keluarga kedua belah pihak – ayah dan ibu Hamka, maka berlaku penceraian ketika usia Hamka masih muda. Ini adalah antara salah satu sebab musabab mengapa Hamka pada mulanya membenci ayahnya
• Hamka membesar di dalam suasana penjajahan Belanda di Indonesia. Hamka dapat melihat kebangkitan sebilangan rakyat Indonesia yang mahukan pembebasan dan kemerdekaan, malah Hamka sendiri menjadi salah seorang pejuangnya.
• Hamka sikapnya sentiasa berkeyakinan. Yakin di saat orang lain meragui. Tidak kenal putus asa. Itulah antara sebab yang menyumbang terhadap kejayaan penulisan Hamka dan pelbagai genre karyanya, sehingga ke hari ini.

Dalam novel ini, penulis menekankan bagaimana Hamka memulakan karya novel roman, walaupun pada peringkat awalnya dicemuh masyarakat – mana mungkin seorang alim ulama menulis sebuah novel roman! Maka lahirlah beberapa karya novel roman dari Hamka – 𝑺𝒊 𝑺𝒂𝒃𝒂𝒓𝒊𝒂𝒉, 𝑳𝒂𝒊𝒍𝒂 𝑴𝒂𝒋𝒏𝒖𝒏, 𝑫𝒊 𝑩𝒂𝒘𝒂𝒉 𝑳𝒊𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑲𝒂𝒂𝒃𝒂𝒉 dan 𝑻𝒆𝒏𝒈𝒈𝒆𝒍𝒂𝒎𝒏𝒚𝒂 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒍 𝑽𝒂𝒏 𝑫𝒆𝒓 𝑾𝒊𝒋𝒄𝒌.

Novel ini turut menceritakan bagaimana Hamka mula berkecimpung dalam dunia penulisan artikel melalui majalah-majalah Islami dan perjuangan, dan akhirnya Hamka sendiri dilantik menjadi ketua redaksi sebuah majalah pada tahun 1936. Melalui penulisan-penulisan artikel inilah, jualan majalah meningkat, semakin ramai rakyat Indonesia ketika itu yang semakin minat membaca, sekaligus membuka minda dan pemikiran mereka.

Apabila menamatkan bacaan novel ini, serasa seolah-olah saya berkenalan dengan lebih dekat dengan sosok seorang pemuda yang bernama Hamka ini. Ternyata penulis telah berjaya membawakan separuh kehidupan Buya Hamka lalu diletakkan kesan dramatik, membina sebuah karya novel bersandarkan kisah sebenar Hamka.

Buat para peminat Hamka yang ingin mengenali jiwa Hamka secara santai, boleh cuba membaca buku ini. Usah dirisau tentang 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙪𝙖𝙜𝙚 𝙗𝙖𝙧𝙧𝙞𝙚𝙧 iaitu Bahasa Indonesia, kerana apabila anda tenggelam dalam dunia pembacaan, sememangnya halangan ini boleh diatasi. Ayat yang digunakan mudah untuk difahami, tidak meleret-leret.

Buku ini pasti ada sambungannya – sama-sama kita nantikan dari penulis sendiri. Akhir kalam, saya sudahkan dengan sedikit petikan menarik yang terdapat di pengakhiran cerita Hamka ini.

“𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒖𝒍𝒖 𝑯𝒂𝒎𝒌𝒂, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒇𝒐𝒕𝒐 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂 𝒎𝒂𝒕𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒏𝒊. 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒖𝒓𝒖 𝒇𝒐𝒕𝒐 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒈𝒂𝒎𝒃𝒂𝒓 𝒌𝒊𝒕𝒂. 𝑯𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒔𝒖𝒔𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝑰𝒃𝒖 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒊𝒘𝒊 𝒑𝒖𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒋𝒂𝒋𝒂𝒉. 𝑵𝒂𝒎𝒖𝒏, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒏𝒚𝒖𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒕𝒂𝒑 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒅𝒆𝒑𝒂𝒏. 𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒔𝒂𝒏𝒈 𝒘𝒂𝒋𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂. 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒂𝒃𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒆𝒓𝒂” 𝒖𝒋𝒂𝒓 𝑺𝒖𝒌𝒂𝒓𝒏𝒐 𝒔𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒕𝒂𝒑 𝒌𝒂𝒎𝒆𝒓𝒂.

𝑯𝒂𝒎𝒌𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒂𝒘𝒂. “𝑺𝒆𝒕𝒖𝒋𝒖. 𝑺𝒆𝒔𝒖𝒍𝒊𝒕 𝒂𝒑𝒂 𝒑𝒖𝒏 𝒏𝒆𝒈𝒆𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈, 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒏𝒖𝒈𝒆𝒓𝒂𝒉 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉. 𝑨𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒌 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒔𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒆𝒑𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒄𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒎𝒂𝒏 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒏𝒊𝒂𝒍𝒊𝒔𝒎𝒆 𝒊𝒏𝒊.

𝑴𝒂𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒇𝒐𝒕𝒐𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂, 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒅𝒆𝒓𝒂𝒔 𝒔𝒆𝒋𝒂𝒓𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒌𝒆 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒂𝒓𝒕𝒂𝒃𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒊𝒂𝒔 𝒅𝒊𝒋𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒖 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌𝒌𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂. 𝑺𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒆𝒎𝒊𝒎𝒑𝒊𝒏 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒔𝒂. 𝑺𝒖𝒌𝒂𝒓𝒏𝒐 𝒅𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒎𝒌𝒂 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒊 𝒕𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒊 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒏𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒊𝒅𝒆𝒐𝒍𝒐𝒈𝒚 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈-𝒎𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒚𝒂𝒌𝒊𝒏𝒊. 𝑺𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒓𝒂𝒉𝒂𝒔𝒊𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒅𝒆𝒑𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒕𝒆𝒓𝒄𝒊𝒖𝒎 𝒈𝒆𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒅𝒊 𝑩𝒆𝒏𝒈𝒌𝒖𝒍𝒖.

ʙᴇʀꜱᴀᴍʙᴜɴɢ ᴋᴇ ʙᴜᴋᴜ ᴋᴇᴅᴜᴀ ➡️
𝒮𝐸𝑅𝒜𝒩𝒢𝒦𝒜𝐼 𝑀𝒜𝒦𝒩𝒜 𝒟𝐼 𝑀𝐼𝐻𝑅𝒜𝐵 𝒰𝐿𝒜𝑀𝒜
Profile Image for Alfaridzi.
109 reviews3 followers
January 27, 2022
⭐4.5
Merupakan novel pertama dwilogi Buya Hamka yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral, buku ini menceritakan masa kecil Buya Hamka sampai beliau berusia 30an. Dari buku ini, aku mengenal sosok pahlawan bangsa yang namanya terpatri abadi dalam sejarah Indonesia. Beliau adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab dikenal sebagai Buya Hamka.

Dikenal luas sebagai ulama, nyatanya beliau tak sekedar cakap dalam ilmu agama tetapi juga sebagai sastrawan, penulis, sekaligus sejarawan. Kontribusinya dalam memerdekakan negeri ini sangatlah besar. Dan dibuku ini aku menemukan keteladanan beliau yang sangat mengagumkan.

Semasa hidupnya, Hamka seringkali mengamati dan mengkritisi fenomena sosial yang ada disekelilingnya. Salah satunya, beliau dengan berani
mengkritisi kondisi masyarakat Minangkabau yang masih banyak memandang manusia dari tahta dan harta. Realitas sosial inilah yang mengilhami Hamka menulis berbagai karya, yang isi ceritanya penuh dengan kritik dan cercaaan santun terhadap adat istiadat Minangkabau. Meskipun karya-karyanya banyak mengambil latar cerita Minangkabau, Hamka tetap mengobarkan semangat nasionalisme.

Buku ini ditulis dengan diksi ringan serta bernuansa melayu yang indah, menjadikan kisah Buya Hamka lebih menarik untuk dibaca. Selain itu, penulis mampu menyampaikan makna keteladanan dan nilai-nilai kebaikan Buya Hamka lewat narasi yang ada.
Lewat buku ini, aku, sebagai pembaca bukan hanya tau tentang kisah dari Buya Hamka yang begitu menarik, namun juga terinspirasi dan termotivasi lewat kisah inspiratif dari sosok Buya Hamka.

Adapun kutipan favoritku dalam buku ini :
"Memang aku menulis roman, tetapi bukan sembarang roman yang hanya mengutamakan cinta dan perasaan. Aku menulis roman untuk membawa pembaca ke jalan Tuhan" - Buya Hamka.
1 review
April 18, 2021
☃️Siapa sangka perjalanan hidup Buya Hamka begitu berwarna. Lahir pada tahun 1908 dan menjalani masa kecil penuh keseruan. Malik, nama kecil beliau, dikenal sebagai anak yang usil. Ulahnya mengimunisasi cacar temannya menjadi bahan pembicaraan warga. Masih banyak keusilan, kenakalan, dan kisah beliau yang mencengangkan.

🏔️Membaca novel ini membuatku terheran-heran, kagum, sedih, haru berganti-ganti di setiap babnya. Peristiwa flash back ke masa lalu, hubungan Hamka dan ayahnya disertai dialog-dialog yang menyentuh. Terlebih saat dikisahkan bagaimana Hamka mengatasi kesulitan-kesulitannya. Keadaan keluarga, bagaimana pertentangan beliau dengan ayahnya, dan keputusan-keputusan yang Buya Hamka ambil dalam hidup sejak usia belia.

🌊Terkagum-kagum, karena interaksi antara Buya Hamka dengan tokoh-tokoh di dalamnya diceritakan dengan sangat hidup. Buya Hamka berinteraksi dengan tokoh besar nasional bahkan sejak usianya sangat muda. Tokoh tersebut diantaranya HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Soekarno. Perjalanan yang ditempuh Buya Hamka sejak kecil, saat remaja, mencari ilmu, maupun berorganisasi sangatlah menginspirasi. Aktivitas dan produktivitas yang sangat tinggi.

✨Tidak sabar semoga bisa segera membaca buku kedua, Serangkai Makna di Mihrab Ulama. Semakin penasaran dengan kiprah Buya setelah umur 30 tahun.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hanifah .
113 reviews5 followers
September 16, 2024
Buya Hamka, Allah beri bakat menulis. Kenyataannya karya buya hamka hidup abadi dalam tinta hitam. Nilai-nilai keislaman yang beliau perjuangkan. Tulisan-tulisan beliau mudah dipahami dan selalu membawa pada kesadaran untuk memperbaiki diri.

Tanggung jawab sebagai ulama, ayah, suami, penulis dijalani dengan kesungguhan dan tekad untuk memperbaiki generasi.

Keseriusan dan tekad kuat Buya Hamka dalam mencari ilmu agama, mencari guru, mencari buku referensi, memperjuangkan kepentingan umat melalui organisasi Muhammadiyah, membangun sekolah untuk mencetak ulama muda, menekuni bidang kepenulisan. The real guru, mengajar dan mau terus belajar. 🔥🔥🔥

"Untuk apa bapak mengumpulkan buku dan membaca sebanyak ini ?' katanya. Saya jawab, ' Anak muda, saya harus banyak membaca dan belajar karena atas izin Tuhan nanti saya akan menjadi presiden negeri ini setelah kami merdeka."- 315
(Dialog Buya Hamka bersama Ir. Soekarno)

Nyatanya buku akan mengantarkan pada kebijaksanaan hidup.
Profile Image for Herda Fatimah.
33 reviews4 followers
April 24, 2021
Buku ini adalah buku pertama yang mengenalkanku lebih jauh dengan sosok Buya HAMKA. Kenapa kutulis dengan huruf besar nama "HAMKA" ? Karena sebenarnya nama yang tersemat itu adalah akronim dr himpunan nama lengkap beliau; Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Walaupun ini adalah novel yang juga berisikan sejarah, novel ini mudah sekali untuk dicerna. Cara penyampaiannya yang begitu mengalir memudahkanku untuk memahami isi dari halaman satu ke halaman yang lain.

Buya yang kita kenal sebagai sosok yang luar biasa - dulunya sama dengan orang-orang lain pada umumnya. Yang pernah berbuat nakal, yang punya banyak penyesalan dalam hidup, dan yang tak sedikit berbuat salah. Tak jauh beda dengan kita. Tapi Buya berhasil menemukan titik baliknya yang membuat hidupnya berubah sedemikian rupa. Semakin membuat yakin, bahwasannya orang hebat dan terkemuka bukan datang dari sosok yang sempurna. Asal mau belajar, asal mau sadar. Semua bisa menjadi pribadi yang hebat.
Profile Image for Alfi Kurnia Adha.
3 reviews
April 15, 2022
Novel biografi Malik, atau yg lebih dikenal dengan Buya Hamka, ketua pertama MUI digambarkan apik oleh Akmal Nasery Basral.

Sebagai pembaca, saya merasa diajak langsung ke pinggiran Danau Maninjau, kampung halaman Buya Hamka semasa kecil. Buku ini bercerita mengenai asal usul keluarga Buya Hamka hingga perjalanannya menjadi seorang ulama, penulis, sastrawan, sekaligus tokoh pergerakan nasional.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Aryna Al jannah.
1 review1 follower
January 18, 2021
Buku yang sangat inspiratif sekali karena menghadirkan sisi lain dari sosok Buya Hamka. Lompatan perjalanan hidup beliau dari tanah Minang sampai Makkah hingga mengantarkan beliau sebagai penulis, pujangga dan juga redaktur.
Profile Image for Salma Nabilah.
34 reviews
January 21, 2021
Novel biografi yang sangat indah. Kita diajak menyelami masa kecil Buya Hamka yang ternyata sama seperti anak-anak lainnya.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari buku ini, sukses terus dan ditunggu kelanjutannya 😊🙏
Profile Image for ivi.
18 reviews1 follower
May 19, 2022
Bismillah.
Well, the book is very goooood! I swear!
Cocok untuk yang ingin mengenal sosok Buya Hamka seperti apa.

Aku pribadi kagum sekali dengan Buya Hamka setelah membaca buku ini:"") still waiting for the sequel!
Profile Image for haaaziqq.
18 reviews
August 5, 2022
pada awalnya agak sukar bagi saya untuk memahami tatabahasa yang diguna pakai dalam buku ini kerana buku ini menggunakan bahasa indonesia. tetapi lama-kelamaan, saya dapat biasakan.

secara keseluruhannya, buku ini bagus.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.