Mungkin saya termasuk golongan pembaca yang telat buat review buku 'Seni Tinggal di Bumi' (STdB). Soalnya karya perdana Farah Qoonita ini sudah "hits" sejak dua tahun lalu dan menjadi obrolan warganet di jagat maya. Saya saja yang kudet (kurang update) dan seolah-olah sibuk dengan bacaan lain. Heuheu
Meskipun demikian, saya patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati suguhan kata dari seorang Qoonit -panggilan penulis. Tulisannya memang apa adanya, tapi mampu berdaya guna dan menerobos relung jiwa. Nilai-nilai kebaikan yang tertuang dalam 67 tulisan ini disampaikan dengan cara unik dan menarik.
Barangkali hal tersebut didukung pula oleh kemampuan story telling Qoonit yang cukup mumpuni. Misalnya, pada tulisan-tulisan di bab 2 berjudul: Monster; Tanpa Batas; Cinta Sejati; dan Masa Lalu. Keempat tulisan tersebut menampilkan sisi lain dari rumitnya permasalahan perempuan dengan dialog-dialog satir antara tokoh Mei dan April. Bagi pembaca perempuan (seperti saya), mungkin percakapan dari dua tokoh itu menjadi "keasyikan" tersendiri dan lebih mengena batin. Apalagi topik permasalahan yang diangkat tergolong "berat", atau tidak lazim diperbincangkan (?)
Selain bercerita tentang perempuan (muslimah, lebih tepatnya), buku setebal 175 halaman ini juga tak luput menyoroti isu kemanusiaan, perjuangan para Nabi, serta persoalan kehidupan di kalangan muda-mudi seperti ambisi, apresiasi, dan mimpi. Ah ya, menariknya, semua persoalan itu selalu ditautkan dengan "langit" -sesuai tagline di sampul buku: Untuk tinggal di bumi, kita justru butuh hati yang merindu langit nan tinggi. Jadi, wajar begitu.
Secara keseluruhan, konten maupun topik, buku STdB layak dibaca oleh siapapun. Lintas gender. Di samping itu, pembaca bisa memulainya dari bab mana saja. Bebas. Mana suka. Sebab, tulisan-tulisan di sini tidak dibuat saling terikat satu sama lain alias setiap tulisan memiliki benang merah masing-masing.
Satu hal saja sih yang perlu dibenahi ke depan sekaligus menjadi harapan saya selaku pembaca buku. Saya seringkali "greget" kalau menemukan buku tanpa keterangan/identitas jelas semacam: tahun dan kota terbit, versi cetakan buku, dan tim yang "melahirkan" buku. Meskipun buku ini tergolong indie namun tidak ada salahnya bukan tetap memperhatikan hal itu? Ya, semacam legalitas (#cmiiw). Sebab saya yakin buku ini akan berdampak luas dan menjadi jejak sejarah untuk anak cucu nanti.
Oke deh, sekian review buku STdB dari saya untuk Farah Qoonita, kawan seperjuangan di Kampus Biru.
*Terima kasih sudah mengingatkanku 'kembali' melalui karyamu :)