Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi “politisi” dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang “politisi dalam puisi”, ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politiknya bukan satu rezim saja, tetapi seluruh penguasa Arab, terutama penguasa yang anti-kritik, membungkam kebebasan, dan tak pernah berupaya sungguh-sungguh untuk terlibat dalam pembebasan saudara-saudara Arab lain yang masih terjajah: Palestina.
Oleh sebab itu, saya pilih dari penggalan judul puisi Nizar “Para Penyair di Tanah yang Terjajah” sebagai judul buku ini.
Nizar Tawfiq Qabbani was a Syrian diplomat, poet and publisher. His poetic style combines simplicity and elegance in exploring themes of love, eroticism, feminism, religion, and Arab nationalism. Qabbani is one of the most revered contemporary poets in the Arab world, and is considered to be Syria's National Poet.
When Qabbani was 15, his sister, who was 25 at the time, committed suicide because she refused to marry a man she did not love. During her funeral he decided to fight the social conditions he saw as causing her death. When asked whether he was a revolutionary, the poet answered: “Love in the Arab world is like a prisoner, and I want to set (it) free. I want to free the Arab soul, sense and body with my poetry. The relationships between men and women in our society are not healthy.” He is known as one of the most feminist and progressive intellectuals of his time.
While a student in college he wrote his first collection of poems entitled The Brunette Told Me. It was a collection of romantic verses that made several startling references to a woman's body, sending shock waves throughout the conservative society in Damascus. To make it more acceptable, Qabbani showed it to Munir al-Ajlani, the minister of education who was also a friend of his father and a leading nationalist leader in Syria. Ajlani liked the poems and endorsed them by writing the preface for Nizar's first book.
The city of Damascus remained a powerful muse in his poetry, most notably in the Jasmine Scent of Damascus. The 1967 Six-Day War also influenced his poetry and his lament for the Arab cause. The defeat marked a qualitative shift in Qabbani's work – from erotic love poems to poems with overt political themes of rejectionism and resistance. For instance, his poem Marginal Notes on the Book of Defeat, a stinging self-criticism of Arab inferiority, drew anger from both the right and left sides of the Arab political dialogue.
Dengan puisi aku berusaha/ menggenggam apa yang tak mungkin/ aku tanam pohon kurma/ tetapi di negeriku/ mereka bercerita tentang puisi kurma/ aku berusaha/ menjadikan ringkihan kuda begitu keras/ tapi penduduk kota mengejek suara ringkihan// (hal. 49).
“Kapan Mereka Umumkan Kematian Arab” yang kukutip di atas adalah salah satu puisi fenomenal Nizar yang menggemparkan publik Arab tahun 1994. Puisi ini menggambarkan kesedihan sekaligus keputusasaan terhadap negerinya sendiri. Balqis, istrinya yang gugur dalam tragedi bom di Beirut dituliskan dalam kasidah panjang sebagai puisi terpanjang dalam buku ini.
Puisi panjang lainnya yang menarik perhatianku adalah “Catatan di Zaman Cinta dan Perang”. Dua baris terakhir puisinya berbunyi: aku mencintaimu melebihi apa yang telah berlalu/ karena kau telah menjadi cintaku yang petarung. Jika membaca puisi Nizar, selalu kita temukan romantisme yang melekat sampai-sampai ia dijuluki sebagai “Penyair Cinta” dan sekawanannya.
Baiknya penerjemah, ia memberi pengantar yang apik. Maka pembaca paham bahwa puisi-puisi politik Nizar berbicara lantang perihal keritik terhadap negerinya. Bagian ini dijelaskan dalam “Nizar Qabbani yang Terdistorsi”, didukung dengan puisinya berjudul “Sebuah Klarifikasi untuk Pembaca Puisiku”. Nizar terkesan ingin bicara jika semua orang wajar membicarakan cinta. Bukan karena ia menulis cinta, ia dijulukinya demikian.
Mereka berkoar-koar untuk menggantungku karena semua tentang kekasihku kutuliskan menjadi puisi
Cinta sesungguhnya bukan hal yang tabu. Puisi politik Nizar pun bersuara karena cinta akan negerinya. Merasa negerinya tidak baik-baik saja karena ulah penguasa, ia mempertanyakannya juga dalam puisi: di negeriku/ tempat orang-orang ramah menangis/ mereka hidup dalam cahaya/ tapi mereka tak bisa melihatnya (“Roti, Hasis, dan Bulan” hal 32).
Ada juga puisi “Yerusalem” yang tak asing buatku. Dalam bahasa Arab, “Al-Quds”mempertanyakan banyak hal tentang nasib manusia, agama, termasuk rumah-rumah mereka. Meski masih nampak optimisme penyair di tiga paragraf terakhir, tetap saja sulit untuk menanggung sedih saat membaca pembukanya: aku menangis/ hingga air mataku mengering.
Cukup, ya. Jika sempat baca bukunya, jangan lupa baca juga pengantarnya :)
di sini penulis sangat emosional dan meledakkan apa yg ditulisnya. berbanding terbalik dgn puisi2 cintanya yg aku baca tahun lalu. berpolitik sekaligus berpuisi.