Laki-laki pengidap gangguan tidur ketindihan, Venn Nasution, dipertemukan dengan Ethile Mathias, pemuda Austria yang memfasilitasi perjalanan menulisnya selama dua bulan di Eropa.
Setelah perjumpaan dengan pengagum Tentara Baltit Pakistan Utara dan backpacker kuli panggul di Paris, ketakterdugaan meletus sepanjang perjalanan; digiring polisi, ketersesatan, perlakuan rasisme, perjumpaan dengan penyihir, terperangkap di apartemen pemuja drakula, menjadi saksi peristiwa berdarah, terkunci dalam bungker, diinterogasi hingga pingsan, terdampar dan nyaris membeku di kota tua, kecelakaan yang mempertemukan mereka dengan saudara baru, menyelamatkan pendakwah yang kelelahan, terseret aksi klenik di Portugal, hingga … kotak pandora rahasia itu pun terbuka di negara ketiga belas!
Sejak masih berstatus sebagai mahasiswa, belasan tahun lalu, malam-malam Venn tidak selamanya dilalui dengan mulus. Di waktu-waktu tertentu, saat dirinya lelah, lupa berdoa dan tidur dalam cahaya temaram, Venn akan didatangi sesosok makhluk yang serta merta akan mengajaknya "bertarung".
"Kali ini dia datang dari almari pakaian. Tubuhnya tinggi-besar, berambut pendek, wangi bunga tanjung, dan kedua tangan besar yang berusaha menggapai-gapai saya." Hal.15. "Hal paling memalukan pada bagian ini adalah, bahwa dalam kemenyerahan darinya itu, semua suara dan bahasa tubuh yang saya kira hanya berlangsung dalam Dunia Antara tak jarang terekspresikan secara verbal dan visual dia atas tempat tidur. Ketika itu terjadi, sesiapa yang berada di dekat saya, pasti akan mengira saya mengigau atau yang lebih parah adalah menganggap saya sedang diganggu setan atau mengalami mimpi basah yang hebat." Hal.16.
Dalam bahasa sederhana, Venn mengalami ketindihan. Satu peristiwa yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Untungnya, teman-teman satu kontrakannya sudah paham dengan itu.
Venn kini menjadi penulis besar. Dia sudah menghasilkan puluhan buku yang sebagian memenangkan penghargaan di tingkat nasional. Bahkan, ada bukunya yang sudah tumbuh di medium yang baru: film.
Tak hanya sukses secara karir, kehidupan Venn sebagai pria juga sempurna. Lengkap seutuhnya. Dia memiliki Sika --istri, yang kemudian melahirkan tiga anak yang menggemaskan dan pintar. Di tempat ia tinggal --di kota Lubuklinggau, Venn membangun sebuah institusi kepenulisan yang jadi wadah bagi warga sekitar untuk berkarya.
Keberuntungan-keberuntungan si good (looking) writter ini datang tak habis-habis. Salah satunya saat Venn dikontak pemuda bernama Lea yang menawarkannya sebuah program residensi menulis di Eropa.
Lea adalah salah satu pegawai TCS Travel yang tak sengaja "menemukan" Venn lewat salah satu cerita yang ada di blog Venn yang bercerita tentang perjalanan Venn di Pulau Seram. "We are considering an interesting offer for you," ujar Lea melalui pesan singkat. Hal 11.
Awalnya Venn meragukan tawaran ini sebab pesan itu dikirimkan melalui nomor pribadi. Namun, ketika Lea kembali mengontaknya secara resmi lewat email perusahaan, barulah Venn menyadari bahwa itu tawaran yang serius. Singkat cerita, setelah mendapatkan restu dari Sika, Venn dengan mantab mengambil kesempatan itu.
Dalam beberapa waktu ke depan, Venn akan berangkat ke Eropa, melakukan perjalanan selama 2 bulan untuk bertemu dengan banyak narasumber dan korespondensi, melakukan penelitian kecil terhadap warga Eropa dan kaitannya dengan gambar --dan imajinasi, pada secarik kertas, serta menuliskannya dalam sebuah jurnal lengkap nantinya.
Demi pengalaman ini, Venn harus menolak sebuah projek besar dari seorang politikus di ibu kota. Sebuah keputusan yang awalnya dia yakin tepat, namun entah setelah perjalanan ke belasan kota di Eropa itu berakhir apakah Venn menyesalinya atau tidak, sebab selama di Eropa Venn berhadapan dengan banyak pengalaman yang tak hanya seru namun juga membahayakan keselamatannya.
PENGALAMAN-PENGALAMAN GANJIL DI EROPA
Baru tiba di Paris saja, Venn sudah mendapatkan pengalaman yang unik. Sommer --perwakilan lain dari TCS Travel yang seharusnya menjemputnya, tiba-tiba membatalkan diri. Sebagai ganti, dia menyuruh Erica --masih dari TCS Travel, untuk menjemputnya. Saat Venn bertemu dengan wanita tersebut, mereka sudah keburu jalan bersama hingga ke area parkir saat kemudian keduanya sadar bahwa keduanya salah orang.
Untunglah Venn kemudian bertemu dengan the real Erica. Dengan komunikasi yang efektif, Erica kemudian mengantarkan Venn ke penginapan mewah yang ada di sekitaran Versailles. Cukup jauh dari pusat kota Paris, namun narasumber pertama mereka, seorang profesor bernama Zinzane meminta ditemui di sana.
Sayangnya pertemuan dengan narasumber pertama itu tak berlangsung lancar. "Dia sangat terganggu dan mood-nya langsung rusak karena kamu seperti tak bsia lepas dari ponselmu ketika kalian sedang berbicara." Hal.67.
Ya, Venn memang punya kebiasaan menulis melalui ponsel. Satu yang menjadi nilai lebih dan juga nilai kurang di saat seperti itu. Untungnya, suasana tegang antara Venn dan Zinzane dapat cari saat topik dibelokkan dan mereka memperbincangkan tentang makanan dan minuman yang ada di Paris.
Aha, salah satu cara saya "mengenal" Eropa dari buku Ethile! Ethile! Ini pun dari sederet makanan dan minuman unik yang tak saya icipi saat berkesempatan ke Eropa atas alasan budget hehe. Tentu beda dengan Venn yang ke Eropa dengan undangan serta dengan bayang-bayang anggaran besar sehingga menginap di hotel berbintang, mengendarai kendaraan berkelas serta mencicipi makanan dan minuman mahal didapatkan semudah dengan mengutarakan keinginan itu saja.
Ada banyak kebetulan yang dijumpai Venn selama program residensi itu. Misalnya dia bertemu dengan seorang pria yang ternyata putrinya adalah penggemar setia karya-karyanya. Ada juga Joe, pemuda kuli asal Indonesia yang juga mendapatkan kesempatan ke Eropa secara Cuma-Cuma. Namun, yang kemudian lumayan menohok yakni saat Venn menyadarai bahwa Lea dan Sommer adalah orang yang sama! Dan nama asli pemuda itu bernama lengkap Ethile Mathias Sommer!
Dan, bersama Ethile pula program residensi ini terus berlanjut. Perjalanan yang semula tampak biasa ini menjadi ganjil dan kacau saat, "ketakterdugaan meletus sepanjang perjalanan: digiring polisi, ketersesatan, perlakuan rasisme, perjumpaan dengan penyihir, terperangkap di apartemen pemuja drakula, menjadi saksi peristiwa berdarah, terkunci dalam bungker, diinterogasi hingga pingsan, terdampar dan nyaris membeku di kota tua, kecelakaan yang mempertemukan mereka dengan saudara baru, menyelamatkan pendakwah yang kelelahan, terseret aksi klenik di Portugal, hingga... kotak pandora rahasia itu pun terbuka di negara ketiga belas!" Hal belakang sampul buku.
* * *
Ethile! Ethile! Adalah buku kedua Kak Benny Arnas yang saya baca setelah sebelumnya "melahap" kumpulan cerpen berjudul Bulan Celurit Api sekian tahun lalu. Jujur saja, dibandingkan membaca kumcer itu, saya jauh lebih menikmati novel perjalanan ini sebab di Ethile! Ethile! Bahasa yang digunakan lebih sederhana, nggak rumit dan njelimet.
Saat Kak Benny melakukan perjalanan ke Eropa, saya termasuk yang menyimak pengalaman itu yang ia bagikan lewat foto dan secuil cerita di sosial medianya. Makanya, saya penasaran sama buku ini ingin merasakan pengalaman itu dalam spektrum yang lebih luas.
Sedikit warning buat para pembaca, tentu saja buku ini tidak akan hadir sebagaimana kisah perjalanan yang disajikan lewat buku non fiksi. Saya tidak mengatakan setting di buku ini hanya sekadar tempelan, namun, jika tujuan membaca ingin diajak ke tempat-tempat wisata yang touristic, maka hal itu tidak akan memuaskan.
Sajian utamanya ialah kisah perjalanan Venn dan Ethile yang penuh percabangan kisah dan kejadian. Ending yang ditawarkan pun sebetulnya cukup mengejutkan walaupun saya sudah dapat menebaknya sejak awal karena kak Benny meninggalkan banyak jejak/petunjuk terlebih ketika menyinggung soal feromon.
Secara keseluruhan, saya suka novel ini. Walau pun ada banyak sekali kebetulan dan beberapa kejanggalan karena too good to be true di beberapa aspek sehingga di benak saya sebagai pembaca merasa butuh beberapa penjelasan lebih rinci. Kisah Benn yang sering ketindihan juga saya merasa porsinya belum begitu banyak. Tadinya saya membayangkan peristiwa itu ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di Eropa, namun rupanya tidak ada yang spesifik.
Saya tahu buku ini fiksi, namun dengan banyaknya kemiripan antara Venn dan Benn(y), baik itu latar belakang tempat tinggal, pekerjaan, dsb, saya meyakini Venn iya Benn(y) itu sendiri hehe. Bahkan, saya meyakini hal "ganjil" yang terjadi di bagian (menjelang) akhir buku ini benar-benar dialami oleh Kak Benny sebagai penulisnya hehehehe.
"Yang Asing, Yang Hangat, Yang… Dimuat di Jawa Pos, 28 Februari 2021
"Ethile! Ethile! novel perjalanan yang tidak ditulis dengan pendekatan turisme. Di tanah orang, kita tetap manusia, bukan turis (halaman 305)."
— SETELAH The Alchemist dan Aleph-nya Coelho, The Geography of Bliss-nya Eric Weiner, The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared-nya Jonas Jonasson, menemukan novel perjalanan yang menarik hari ini adalah berburu falafel lezat di jalanan Kairo: melelahkan, tapi dengan kepuasan setimpal bila berjumpa.
Awal tahun ini, Benny Arnas membukanya dengan merilis buku ke-25 dan menjadi novel –bergenre– perjalanan debutnya di bawah tajuk Ethile! Ethile!. Sebagaimana pemilihan judul yang terdengar asing, novel ini adalah genre asing dalam semesta karya si penulis. Pilihan ini jauh berbeda dengan novel-novelnya, seperti Tanjung Luka yang thriller, Bersetia yang romantis, atau Curriculum Vitae yang absurd.
Melengkapi judulnya yang asing, Ethile! Ethile! menerakan nama-nama asing dalam kisahnya, seperti Cinque Terre, Hviezdolavovo, Traunkirchen, Nagykanizsa –sekadar menyebut beberapa tempat, dan orang-orang yang ditemui semisal Erica Y’Ongo di Versailles, Sommer di Blaichah, atau Marval di Traunkirchen.
Selanjutnya, keasingan ini bagai kabut yang meliputi petualangan, yang bukan hanya menghalangi pandangan, tapi juga menjadi rantai ketakterdugaan untuk Venn Nasution (35), penulis Indonesia asal Lubuklinggau pengidap gangguan tidur ketindihan yang mendapat grant perjalanan menulis di Eropa. Dibersamai Ethile Mathias, pemuda Austria 24 tahun yang dipercayai TCS (perusahaan perjalanan yang memberikan hibah perjalanan kepada Venn), semua itu menempatkan Venn dalam keterasingan.
Perjalanan Dua Lelaki
Meski berlatar 13 negara di Eropa plus Lubuklinggau, Ethile! Ethile! tampaknya ditulis tidak dengan pendekatan turisme. Novel ini sedari awal memang diplot tidak seinformatif The Bliss karya Eric Weiner tentang berbagai tempat dan budaya. Novel ini juga seperti enggan menjamu pembacanya dengan Eiffel, Pisa, Venisia, Red Square, seakan-akan si penulis memahami kemuakan (sebagian) pembaca Indonesia dengan kumpulan mo(nu)men turistik itu, sementara daya tarik yang lebih kuat dari tanah (orang) Eropa yang bersifat asaliah masih sangat banyak. Sebagaimana kehadiran (eksistensi) Ethile bagi kisah Venn yang tersirat dalam kutipan catatan perjalanannya berikut:
"…Sepanjang perjalanan Ethile memuji-muji Slovenia. Bukan karena keindahan alam atau makanannya yang enak atau penduduknya yang ramah, melainkan gadis-gadisnya yang, dalam istilah Ethile, diciptakan Tuhan di pagi Minggu. ’’Ya, di pagi Minggu yang cerah di surga sana,” tambahnya dengan intonasi diangkuh-angkuhkan… (halaman 115).
Perjalanan dua lelaki yang berada dalam usia matang dengan banyak perbedaan (Venn dengan citra family man dan saleh dengan Ethile yang selengekan, tampan, dan suka ngelaba, tapi ateis) diplot dalam perjalanan berdua saja dari Eropa bagian barat, lalu ke timur, dan berakhir di selatan, adalah bahan konflik yang potensial diledakkan di mana dan kapan saja. Sebagai penulis, Benny Arnas tampaknya sadar akan potensi itu.
Tapi, ia seperti tidak bernafsu memanfaatkannya. Yang ada, Venn-Ethile justru berhasil ber-chemistry sehingga, tanpa sadar, mereka memperlakukan apa saja yang berkelindan di sepanjang perjalanan sebagai keasingan, sesuatu yang memang ada, namun tidak akan memorak-porandakan kehangatan. Aduh!
Bromansa yang Liyan
Ethile! Ethile! mengembangkan batas keasingan hingga ke belahan dunia lain dengan merelakan kaki dan tangan seorang Venn menjamahnya untuk pembaca. Batas yang tidak hanya berdiri secara fisik, namun juga eksotis-spiritual, yang barangkali enggan dimasuki oleh banyak orang. Atas pengorbanannya nan eskatologis itulah, novel ini menjadi arche perenungan. Bukan sekadar hadir sebagai keliyanan genre bromansa, tapi juga menegaskan bahwa: manusia tak pernah sepenuhnya mampu menghidupi kenyataan tanpa berdusta, untuk kemudian mengklaimnya sebagai keasingan, hanya agar menjadi sebuah kenyataan baru yang lebih indah.
Benny Arnas secara apik menyunting hasrat yang terbungkam di dalam relung manusia pada titik-titik yang memikat. Tidak pada awal, tak sepenuhnya di tengah, dan tidak pula di akhir.
Ia menyebarnya secara berserakan hingga akhirnya memantikkan kesadaran tentang rahasia yang sedang berputar-putar. Ethile! Ethile! adalah jurnal perjalanan tentang bertahan pada perasaan asing yang datang tanpa ketuk pintu, malu-malu mengakuinya, lalu pelan-pelan menepisnya ketika semuanya telah intim –telah menjadi kehangatan. (*)
Novel perjalanan biasanya fokus pada setting, kuliner dan segala sudut pandang khas turis lainnya. Tapi saya selalu percaya, dengan kepiawaian Benny Arnas dalam riset dan menuangkan kata yang khas, semua akan tersaji berbeda. Dan Benny sangat berhasil membuktikannya!
Sepanjang ingatan, hanya novel Harry Potter-nya JK Rowling yang selalu berhasil saya tuntaskan dalam satu hari. Tapi sejak saya menikah dan punya anak, baru "Ethile! Ethile!" yang berhasil 'memaksa' saya melahap tuntas dalam satu hari di satu hari libur kerja, di sela-sela momong bayi. Dan saat ingin mereview, saya dengan suka cita mengulang kembali membuka novel ini lembar demi lembar dari awal sampai akhir! Karena keterkaitan antar tokoh dan antar peristiwa yang selalu tak terbersit sedikitpun, membuat saya penasaran untuk membaca ulang. Bahkan, saya sampai buka-buka foto perjalanan Benny Arnas di fb, untuk mencocok-cocokan setting yg melatari begitu ciamik dalam setiap alineanya.
Membaca novel ini, membuat saya seolah menjadi orang ketiga diantara Sang Penulis, Venn Nasution dan fasilitatornya, Lea-Sommer-Ethile. Merasakan debar setiap kejutan tak terduga yang muncul hampir di semua momen tanpa bisa ditebak, bahkan hingga saat novel ini berakhir.
Merasakan kesal, marah, saat berkali-kali harus buang waktu karena salah jalan. Empati, sedih, haru, terluka, demi menyimak latar belakang Ethile meninggalkan sapu tangan di Musium Patah Hati, bahkan lelah, fly, pusing, saat harus diinterogasi polisi dan nyaris mati menggigil saat tersesat di Bratislava Ibu Kota Slovakia, jijik dan merasa sangat berdosa saat menerima kenyataan atas sebuah konsekuensi ketindihan, bahagia saat menikmati sajian Indomie potongan tomat dan belahan telur rebus, pengap saat harus terjebak dalam bunker! Semua silih berganti dalam komposisi yang tepat: SERU!
Novel yang memberi banyak kekayaan pengetahuan bagi siapapun yang membaca. Mendapatkan info-info luar biasa yang tentu sulit ditemukan jika hanya mengandalkan search engine atau traveling dengan biro perjalanan umum.
Fiksi yang terasa begitu nyata! Tak hanya setting dan waktu yang begitu match, tapi juga tokoh-tokoh yang betul-betul serasa riil. Dan benar kata Profesor Kai, ini hanya dihasilkan oleh mereka yang memiliki imajinasi yang kaya dan bermutu.
Novel yang sangat Eropa namun berpadu manis dengan nuansa lokal ke-Lubuk Linggau-an Benny.
Venn yang muslim dan memiliki keluarga yang bahagia. Tapi dalam residensi ini harus mati-matian berjuang keras untuk tetap menjalankan kewajiban sebagai muslim sekaligus menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan agamanya. Harus menghadapi kenyataan jika diskriminasi itu tidak benar-benar tiada di negara-negara yang mengaku menjunjung tinggi dan terdepan dalam kebebasan HAM.
Ethile yang berdarah Austria, sosok badboy ganteng sekaligus misterius dan penuh kejutan! Fasilitator yang membuat perjalanan ini menjadi sangat menguras energi, pikiran, perasaan bahkan kewarasan. Satu persatu tabirnya terkuak yang meninggalkan rasa yang sulit dideskripsikan.
Saya tidak sabar menunggu kisah lanjutannya. Apalagi melihat foto-foto Benny di Pakistan, membuat makin penasaran. Oya satu lagi. Saya sekarang paham. Mengapa seorang suami kadang memang ada saat tidak boleh jujur!
Bravo Benny! Karya fiksimu yang bergizi, sangat rugi untuk dilewatkan!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Akhirnya, 413 halaman novel Ethile Ethile, saya selesaikan pagi ini. Dan sungguh saya menyesal, kenapa di kesempatan pertama memperoleh buku ini, saya berhenti di kisah tentang ketindihan dan lampu mati.
Terlepas dari banyak keterkaitan-untuk tidak menyatakannya sebagai kebetulan- buku ini mulai seru saat Venn transit di Jeddah dan adegan salah jemput di Paris. Dan keseruan itu tak pernah berakhir di sepanjang halaman sisanya. Istilah kata, kalau dianalogikan sebagai perkelahian, korbannya ditampar, kliyengan sedikit, mau balas, tapi kena bogem mentah, terjatuh, puyeng, berusaha bangun, tapi kakinya malah diinjak sepatu tentara.
Saya sungguh tak tahu dan tak jadi penting lagi untuk tahu, di bagian mana dari cerita ini yang fiksi dan mana yang beneran terjadi. Karena semuanya paket komplit yang enak disantap, tanpa perlu tahu apa bahan-bahan masakannya.
Oh ya, saya lupa bercerita, Venn adalah seorang penulis Indonesia yang mendapatkan kesempatan cuma-cuma untuk melakukan residensi di banyak negara, Eropa dan Eropa Timur, yang bisa dipilihnya sendiri, memilih responden ahlinya sendiri juga, untuk sebuah penelitian tentang hubungan antara kreatifitas dan hasil gambar saat diminta menggambar dengan sebuah kata kunci.
Bersama pendampingnya, Sommer aka Lea aka Ethile, Venn mengalami banyak kejadian yang melebihi ekspektasinya. Salah kereta berkali-kali, ketemu kelompok pemuja vampire, dibuntuti oleh seorang penyihir atau apapun namanya, ditangkap dan diinterogasi polisi, sampai menyaksikan sebuah kasus penembakan masal di sebuah taman nasional.
Melalui hubungan yang naik turun, jelas dan nggak jelas dengan Ethile, sampai di akhir cerita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang mengejutkan. Dan sebagai pembaca, saya menikmati setiap keseruannya.
Karena saya suka tulisan yang bernuansa kuliner, ada beberapa bagian tulisan yang membuat saya tersenyum. Antara lain paela (kebetulan saya sudah pernah makan) yang dicampur sambel tempe dan makan berempat di sebuah resto Libanon, yang makanannya semua nggak ada rasanya. Oh ya, bagian bekal rendang yang dibawakan Emak, sungguh menghangatkan hati.
Di tengah keseriusan saya membaca, saya menemukan ada typo di halaman 306, Faisal belum dikenali saat itu bukan? Juga kebingungan saat Joe menelepon dan bilang Subhan menghubunginya. Seingat saya, Joe dari Kalimantan dan Subhan dari Lubuk Linggau. Di bagian manakah mereka beririsan?
Ada banyak pertanyaan yang sepertinya memerlukan jawaban. Eh apakah artinya akan ada Ethile 2? Tentang hubungan Venn dan Ethile, biarkan itu jadi rahasia Venn. Saya ingin tahu apakah si bapak yang ternyata adalah ayah angkat Ethile, akhirnya bertemu anaknya, yang kalau tak salah adalah istri Morris? Lalu apa kabar seorang responden yang pernah ditemui Venn di Ubud, yang kelihatannya kecewa pada pertemuan kedua mereka? Oh ya, jadi apa hubungan antara kreatifitas, gambar pemandangan, dua gunung dan jalan raya di antaranya?
Keren untuk Ethile Ethile, Beny Arnas. Novelmu ini filmis banget. Kira-kira kalau difilmkan, ada yang mau kasih modal nggak ya? Seru soalnya.
Ending review ala saya adalah kisah tentang sebuah puisi yang rencananya Venn kirim ke Ethile tapi nyasar ke Etsika, itu sungguh manis. Jadi, sebenarnya siapa yang ada di pikiran Venn saat membuat puisi itu?
Sebagai pembaca semua prosa Benny Arnas (maaf, saya tidak tertarik dengan puisi), Ethile! Ethile! mengetengahkan pengalaman baru dalam membaca kisah perjalanan. DEan catet: saya baca nih novel dari pukul 12 siang (bukunya nyampe pukul 11) dan selesai pukul 4 subuh keesokan harinya saking nagihnya perjalananh Venn dan Ethile. Ini kesan gue sampe akhirnya ngaish bintang 5!
1. Kok bisa ya keren gitu idenya: penulis pengidap gangguan tidur melakukan riset tentang pemandangan (yang hasilnya bikin speechless, swear aku gak kepikiran!) 2. Berpetualang bersama fasilitator cowok 24 tahun--yang dari gambarannya--rada2 bad boy but very hot uch! Tapi ... kisah mereka jadi bromansa yang uwuh! 3. Tempat-tempat yang Venn kunjungi, aduh eksotik sekali, sampe2 pas mereka bedua motoran di Traunkirchen (sumpah ngetik tempat ini beberapa kali salah terus!): seru dan pasti indah banget tuh tempat!! 4. Puisi-puisi di dalamnya, kemunculannya pas, nggak kebanyakan, nggak juga terasa kurang. 5. Ilustrasi di dalamnya ... hmm, pengennya sih disamain kayak sampul, tapi ... bukan masalah besarlah. 6. Gambar sampulnyaaaa artistik sekali!!! Pas selesai baca, baru ngeh kenapa garis-garisnya gak rapi dan kacau gitu, yaaa secara perjalanannya bikin spot jantung dan ... 7. Endingnya ... alias rahasia itu ... aduh, tolonglah, jangan biarkan novel ini tanpa sekuel yaaaaaa. 8. Saya kan ngikutin perjalanan Benny Arnas di IG-nya dan ... ini adalah tempat2 yang ia kunjungi saat residensi beneran itu. ditunjang dengan ilustrasi2 yang fisiknya Venn mendekati beliau. Trus, baru ngeh Venn bisa aja plesetan dari Benn(y). Trus, eh, Venn = Benn = sama2 lahir 8 Mei di Lubuklinggau dan usianya sama. trus ... aduh aduh aduh! Ini novel atau atau atau .... huahhhahaa. Tapi seruuuuuuuuu, ditunggu lanjutannya. Awas lho!!!!! 9. Ketinggalan satu lagi dink: pertarungan dukun Indo dan dukun ERopa itu kurang panjanggggggg. hahahaha
Judul Buku : Ethile! Ethile! Penulis : Benny Arnas Penerbit : Diva Press Tebal : 415 Hlm Terbit : 2021 . . "Keliling Dunia Dengan Membaca Buku"
Ya kutipan itu benar sekali, dan aku merasakannya. Dengan membaca beberapa buku terasa diri ini sedang jalan-jalan. 😅😅
Seperti saat ini, dengan membaca buku Ethile aku seakan pernah ke Paris ibu kota Prancis, Praha ibu kota Ceko, Lisbon ibu kota Protugal, Blaichach salah satu kota di Jerman, Austria dan berbagai negara lainnya.
Aslinya? Sama sekali belum pernah ke tempat-tempat tersebut 😂😂
Ethile! merupakan novel pertama Benny Arnas yang kubaca. Novel yang mengisahkan suka duka perjalanan Venn dalam melakukan residensi lintas negara yang ditemani oleh Ethile. Masalahnya, dalam perjalan Venn bersama Ethile banyak hal yang tak terduga terjadi dari digiring polisi di Schwartz-St, berulang kali salah menaiki kereta api, bertemu remaja yg benci akan Islam di Sletzhal, tersesat di dataran tinggi Gmunden, Menjadi saksi penusukan wisatawan di Plivitce, dan rangkaian peristiwa lainnya yang membuat tegang dan menahan nafas saat membacanya.
Untuk Endingnya cukup mengejutkan, tidak ada sedikitpun kecurigaan diawal membaca Novel ini. Tapi aku suka bagaimana cerita ini di eksekusi hingga akhir
. Membaca novel Ethile ini yang jelas menambah pengetahuan soal dunia Eropa, dari tempat-tempat yang super duper cantik, nama nama hotel yang tidak pernah didengar sampai dengan berbagai jenis makanan Eropa yang hanya bisa membayangkan tanpa bisa mencicipinya😍 banyak hal-hal baru yang bisa membuat wawasan kita bertambah.
Selain itu, aku suka dengan interaksi Venn dan Ethile yang berbeda agama, namun mereka saling menghargai dalam perbedaan . . Secara keseluruhan, walau novel ini cukup tebal sekitar 400an halaman, aku sama sekali tidak bosan, karena page turner dan gaya berceritanya enak diikuti. . . Terima kasih Mas Benny Arnas telah melahirkan novel keren ini sehingga saya bisa mempunyai kesempatannya membaca novel ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
•Ethile adalah novel pertama yang saya tuntaskan di awal tahun 2021 ini. Saya kira, lanskap indah Eropa hanya bisa saya temukan di lukisan, tapi Venn menceritakan dengan detail setiap bagian yang ia lihat. Saya membaca novel ini cukup lama. Setiap selesai membaca per bagian, saya kemudian diam dan berimajinasi; membayangkan diri saya berjalan di antara pohon-pohon dengan daun kekuningan dan pemandangan menghadap danau yang biru dengan gunung es yang sedang meleleh di kejauhan, mengobrol dengan Mark, mendengar denting piano yang dimainkan Martin Kai. Ah, indahnya.
•Perjalanan ini semakin keren dengan kecerobohan dan kegilaan yang dilakukan Ethile. Kekacauan demi kekacauan terjadi, dan saya menikmatinya. Hari-hari yang mendebarkan dan penuh warna! Di tengah bacaan, saya sempat berpikir, "Sepertinya asik melakukan perjalanan bersama Ethile."
•Dari semua cerita-cerita menegangkan, ada satu bagian favorit saya. Menurut saya bagian ini paling menyentuh. Yaitu ketika mercy yang membawa Venn dan Ethile tiba di alamat tujuan, Ethile sedang tertidur. Ethile telah melemparkan dirinya ke alam mimpi, sebagai satu-satunya cara untuk membahagiakan dirinya, dan menghindar dari kenyataan hidup yang pahit.Venn meminta sopir berbalik arah, dan berputar sekali lagi, agar Ethile tidur lebih lama --- menikmati perasaan bahagia lebih lama, dan ketika bangun semua telah baik-baik saja.
•Emm, sepertinya kurang asik bila saya urai lebih lanjut. Sebaiknya kamu baca saja Ethile! Kamu akan menemukan kejutan demi kejutan!
Note: (Saya berharap menemukan lebih banyak percakapan antara Venn dan para seniman. Tentu bagian penting yang saya tunggu adalah hasil penelitian Venn. Mungkinkah ini akan muncul di buku berikutnya? Ah saya semakin penasaran!)
Seseorang yang tidak menghayati kehidupan berpeluang besar jadi gila kalau diberondong peristiwa 'kebetulan' (asam-manis-getir-pedas-hambar) secara beruntun, tak terkecuali Venn. Namun itulah yang membedakan Venn (manusia) dengan 'yang bukan Venn' (turis)—yang memori kameranya cuma dibanjiri foto riya dengan latar 'eksotik' atau apapun padanan istilahnya. Venn dan 'yang bukan Venn' sama-sama menghadapi 'pemandangan' yang tak jauh beda; sepasang gunung, matahari terbit di sela gunung, awan, burung-burung, tumbuhan, liuk jalan/sungai. Namun 'yang bukan Venn' hanya menumpang jepret diri. Sementara Venn menghayati gunung dengan mendakinya, menghayati matahari sampai ke sumsumnya, menghayati serat awan, menghayati diri sebagai burung, menghayati liuk jalan/sungai sekalipun ia tak mengantongi selembar foto sebagai bukti penghayatannya itu. Hakikatnya, tidak ada istilah kebetulan di bumi luas (tapi sedaun kelor) ini. Semua peristiwa sudah dirancang-Nya dengan matang, seperti kebetulan-kebetulan (kemunculan aneka tokoh dan peristiwa) di sepanjang novel 'Ethile! Ethile!' yang dirancang cermat oleh penulisnya. Maka kebetulan-kebetulan yang dirancang matang itu membuat pembaca (saya) turut menjadi Venn, terlibat penghayatan dan sama sekali bukan menjadi 'yang bukan Venn' (turis). Ketindihan adalah kebetulan yang saya suka dalam novel ini! Kebetulan (ketindihan) itu menjadi kartu as penulis untuk mengunci kebetulan-kebetulan yang berkeliaran di dalamnya. Saya cemburu pada Venn (ups, Benny maksud saya) melebihi cemburu Ethile pada Faisal.
(Saya pikir tak penting kali bagi saya meninggalkan tanda bintang 5 seturut komentar ini😊)
Novel ini penuh kejutan hampir disetiap lembarnya. Kisah perjalanan yang dilalui Venn adalah pengalaman perdananya yang kaya dengan ilustrasi menarik bagi pembaca seperti saya yang belum pernah berada di Eropa Timur.
Novel perjalanan ini memberikan kepuasan tersendiri karena kemampuannya mengantarkan imajinasi pada dunia yang belum pernah dialami namun terasa begitu nyata. Landscape Eropa Timur yang indah tergambar sangat rinci ditambah penjelasan kuliner-kuliner khas Eropa dari setiap daerah yang dikunjungi Venn, bagi saya menjadi sangat lengkap karena ada wawasan baru yang bisa saya dapatkan. Kecuali latte, yang paling sering diminum Venn dan Ethile dalam cerita ini. Percakapan antara Venn dan Ethile pun merupakan keseruan tersendiri yang membuat saya mampu tersenyum bahkan tertawa. Saya paling menikmati percakapan Venn dan Ethile yang kadang sangat nyeleneh, tidak mau kalah namun berbobot karena kecerdasannya masing-masing. Kisah akhirnya yang tidak terduga adalah puncak emosi dari banyak emosi yang sebelumnya juga mampu menggugah rasa marah, kesal, takjub, haru dan takut. Terutama saat Venn tersesat di Taman Nasional Plivitce atau kengerian persembunyian Venn dalam bunker saat dicari polisi. Ugh... Bikin sport jantung.. hahaha
Terimakasih Bang Benny Arnas atas novel yang sangat keren ini, yang membuat awal tahun terasa lebih hidup. Buku ini membuat saya jalan-jalan ke Eropa, merefreshkan kebosanan setahun yang lalu tanpa keseruan. Salut buat Ethile! Ethile! Semoga ada sambungannya ya. Ngarep ba-nget.
Sangat sedikit penulis Indonesia yang bisa bikin tulisan seperti ini. Ethile! Ethile tlah membuktikannya di tangan Benny Arnas.
Langka nian membaca buku, apa saya sebut – novel perjalanan tanpa meninggalkan unsur sastra. Penuh konflik banyak tegangan. Setiap halaman penuh kejutan bahkan di ending, pembaca ga dibiarin terlena dengan perpisahan kacangan yang sering kita baca di buku-buku lain. Pembaca ga dibiarin puas bahkan di akhir. Nagih lagi dan terus nagih lagi.
Tokoh-tokoh yang muncul saling berkelindan dan berkolaborasi untuk menjadi topik ulasan dan lebur dalam narasi. Gila! Riset nan matang buat nulis novel perjalanan yang sering penulis lain terjebak sebagai ‘turis’ hanya untuk mengeksplore lanskap suatu kota yang baru dijejaknya.
Benny berhasil menyeret saya ikut dalam roller coaster-nya. Hentakan, tikungan, pelan, ngebut, berderap bertemu dengan tangis, tawa,takut, sedih, marah, haru, lucu, kesal pada alur dan plot yang disuguhkan. Emosi kita diaduk-aduk. Tega sekali Benny bikin kita puas.
Sungguh menegangkan dan meneror diri hingga buku ini harus tuntas dibaca cepat.
Parah! Benny kasih paket komplit pula. Kekuatan riset blio saya acungkan 4 jempol, dah. Sehingga gizi dari buku ini sungguh bernutrisi. Kalo ada bintang lebih dari 5 saya kasih.
Kehebatan Benny Arnas dalam menulis novel perjalanan ini adalah kemampuannya memainkan tempo dengan apik. Sebagian besar kisah berjalan dalam tempo sedang, sesekali menanjak, menukik pelan-pelan, lalu kembali turun tanpa terburu-buru. Pun ketika (mendekati) klimaks, kisah tidak bergerak sporadis—meski menempatkan beberapa layer konflik dan keseruan. Juaranya adalah ending novel ini tidak teracuni oleh model cerita pada umumnya. Ia bergerak begitu natural, seakan-akan, sebagaimana yang “dipertanyakan” para pembaca lainnnya, semua kisah dalam perjalanan belasan negara di Asia, Eropa (Barat, Timur, Balkan, & Selatan) adalah bukan fiksi! Kalau sudah semeyakinkan begitu, tidakkah “Ethile! Ethile!” ini adalah contoh fiksi yang baik. Dalam genre yang spesifik, ia adalah novel perjalanan yang tentu saja baik, apik, menarik, dan ... meninggalkan jejak kesan yang susah disingkirkan usai membacanya. Saya ... benar-benar diisap ke dalam pusaran perjalanan Venn yang kompleks—yang pastilah “diinginkan” oleh para pejalan sejati, apalagi pejalan yang juga menulis. We are really jealous of you Benn, eh Venn Nasution!
Sebuah novel yang kompleks & Perfect! Inilah kesan saya setelah membaca novel ter-anyar Benny Arnas yang berjudul "Ethile Ethile". Bravo Benny Arnas ! telah sukses menggiring pembaca menyingkap labirin lain dunia eropa.
Sensasi yang ditawarkan novel ini tentu saja bikin nagih, lintasan yang diceritakan oleh venn (benny arnas) serupa dengan lintasan roller coaster, siap-siaplah tersenyum, tertawa, sedih, marah, cemas, terkejut dan tentu saja menuntut venn untuk segera melanjutkan sekuel-nya.
Riset yang tuntas adalah jalan pembuka bagi kreativitas yang produktif dan venn telah melakukannya dengan sangat baik, sehingga 416 halaman novel ini dibaca dengan penuh rasa penasaran akan seperti apa cerita di halaman berikutnya. Kejutan perdana di novel ini tentu saja ketika tersingkapnya fakta tentang 3 in 1 man yang juga menjadi judul novel ini. Novel unik ini memiliki puncak kejutan tak biasa, jurus pamungkasnya justru berada diakhir cerita. Ya, tentu saja inilah yang paling diharapkan oleh pembaca.
Akan lebih seru jika novel ini segera di-film-kan dan semoga sekuel "Ethile Ethile" segera dilahirkan.
I just completely finished read this novel last night. How could Benny Arnaz excellently mix travelling, research, secrets/misteries, drama, and cullinary-adventures?! Amazing! Tapi, bagi saya, poin besarnya adalah ... saya bisa merasakan banget bagaimana gamangnya Venn yang saleh dan sayang keluarga ketika akhirnya "diperangkap" oleh pesona Ethile dengan segala ketengilan dan mata biru yang selalu tak kuasa ia tatap lama-lama. Mereka sama-sama membiarkan perjalanan menghangatkan satu sama lain, lalu sama-sama menepisnya di waktu yang sangat sangat sangat terlambat. Bagi saya, novel ini belum selesai. saya ingin Benny menulis kelanjutannya. Walau mungkin, siapa tahu, sebegini saja (gregetan dan bikin mau teriak pas menamatkannya!) yang merupakan bentuk terbaik novel ini. Saya selalu membayangkan--sejak menginjak catatan perjalanan di Blaichah--kalau saya sebenarnya sedang nonton film, bukan baca buku. Novel ini bintang 5. Saya sedang beli Tanjung Luka. katanya thriller, semoga seru dan penasaran bagaimana Benny nulis genre yang lain itu.
Setidaknya ada tiga dimensi dari buku ini yang menarik untuk diikuti. Pertama, tentunya soal perjalanan. Kedua, dimensi fantasi/mistis yang terus membayangi perjalanan sang tokoh.
Namun dimensi yang paling menarik buat saya adalah dimensi ketiga: soal prasangka.
Kita bisa melihat bagaimana Venn bukan hanya harus berhadapan dengan prasangka orang lain pada dirinya tapi juga prasangka dirinya pada orang lain.
Nah, kalau pembaca pernah mengenal penulis novel ini, ada satu prasangka lagi yang sulit untuk dilepaskan. Bolehlah disebut ini sebuah jebakan. Yaitu prasangka bahwa novel ini adalah kisah nyata dari penulisnya sendiri, padahal sesungguhnya kita harus melepaskan Venn dengan Benn(y).
Jebakan itu muncul karena memang novel ini dibuat berdasarkan sebuah pengalaman penulisnya bepergian ke lokasi-lokasi tersebut.
Ditambah lagi beberapa foto penulis di lokasi-lokasi dalam buku ini juga dimunculkan di lembar-lembar penutup. Makin memperkuat 'jebakan betmen' yang (jangan-jangan) memang sengaja dipasang oleh penulisnya.
Rindu saat traveling terobati dengan baca buku ini. Novel Ethile! Ethile! adalah buku keempat karya Benny Arnas yang saya khatamkan. Seperti novel Tanjung Luka dan Kepunan, beliau memasukkan atau boleh jadi memaksakan unsur LGBT, kalau di sini lebih ke bromance yang jadi gong mendekati ending. Entah buku-buku yang lain ada unsur tersebut atau bukan.
Balik lagi ke isi novel, ide yang tertuang sepertinya terinspirasi dari pengalaman beliua saat di Eropa. Namanya tokohnya juga seperti plesetan dari nama beliau dan orang sekelilingnya. Latar dan tempat kejadian juga mirip. Aku menyebut novel ini pengalaman pribadi yang difiksikan. Supaya bumbu-bumbu cerita khas beliau dapat diramu sesuai selera dan gagasan out the box dapat dimasukkan.
Saat menyelami cerita, pembaca seakan dilibatkan langsung. Menerka apa yang akan terjadi untuk selanjutnya dengan plot yang menarik. Di tengah cerita banyak kejadian janggal dan ternyata di akhir baru ditutup dengan hal yang menurutku sangat dipaksa. Rekayasa yang benar-benar direkayasa seakan fiksi yang tidak mengindahkan lagi kisah nyata.
Saya mengikuti kisah perjalanan (kisah perjalanan ya, bukan novel!) Benny Arnas di FB-nya dan foto2 di Instagramnya. Benny Arnas melakukan perjalanan ke Eropa pada rentang waktu yang sama dengan waktu residensi Venn Nasution, plus ditambah dengan sejumlah realitas: tanggal lahir mereka sama, istri mereka sama2 guru, saya kurang tahu apakah anak mereka sama2 tiga, trus ... sama2 Lubuklinggau, sama2 Piru, dan kesamaan2 lainnya. Sehingga ... keberhasilan terbesar novel ini adalah meletakkan Venn-Ethile pada semesta abu-abu, apakah benar atau rekaan semata. Itu menggemaskan sekaligus menggangguku. Sayang, dulu catatan perjalananya hanya sampai seri 25, sementara novel ini 40-an. Dan ke-25-nya sama dengan isi novel. Lagi, apakah Benny menuliskan semua kisahnya dengan apa-adanya tapi membubuhkan “Novel” di sampul depan karena alasan tertentu. Dan ... karena keberhasilan cum kecurigaan itu pulalah, saya nggak bisa ngasih bintang 5 sebenarnya, tapi 4,6🙂
Petualangan bersama pemuda bernama Ethile bak membawa kucing dalam karung, tidak bisa ditebak apalagi saat kejutan-kejutan yang ditemukan mampu mewarnai perjalanan dengan hebohnya.
Berkat kepintaran penulis yang mampu menggambarkan sosok Ethile dengan begitu menjengkelkannya, saya jadi ikut gregetan dengan berbagai polah tingkahnya. Namun, kalau tidak ada kekacauan yang sengaja diciptakan cowok ini, tentu saja hasil residensi menulis Venn tak akan cemerlang 'kan?
Alur dan gaya bercerita yang memukau, keliling Eropa dengan aneka moda transportasi dan bertemu orang baru adalah perpaduan kisah mengesankan dan tak terlupakan pastinya.
Paling suka kisah ketika Venn dan Ethile hendak membayarkan ongkos untuk perjalanan Faisal Hasan dari Zagreb-Zirje dan ketika Venn terkunci di bunker akibat skenario Kroasia yang parah. Namun, terus terang saja Ethile memang punya daya tarik lebih untuk makin membuat jalan cerita ini tidak monoton.
Ethile adalah kombinasi apik antara catatan perjalanan dengan lanskap Eropa Timur dan Semenanjung Balkan yang jarang diekplorasi dalam fiksi-romansa, bromansa yang pelik, riset yang menyenangkan, mistisisme Eropa yang abu-abu, ketakterdugaan yang membuat penasaran pembaca untuk tahu apa ini sebenarnya, dan keteguhan cinta keluarga yang diuji oleh sensasi kehangatan di Eropa yang dingin, jauh, dan penuh misteri. Saya iri pada Venn. Saya ingin jadi dia. Oh, Ethile, saya kok jatuh cinta yaaaa---terlepas dengan semua keuwuan yang kau dan Venn pertontonkan sepanjang novel ini. Novel yang tidak biasa. Sastranya kerasa, ngalir, dan gak bikin patah-patah. Bakal nyari karya Benny Arnas selanjutnya. Ada saran gak ya?
Membaca novel ini seakan menjadi kawan seperjalanan Venn Nasution dan Ethile Mathias Sommer. Saya merasa tidak hanya membaca, mengimajinasikan, namun juga turut mengalami.
Menyibak halaman demi halaman kisahnya seperti sedang naik roller coaster dengan ketegangan yang selalu menikung tajam. Pada bagian lain, saya turut kesal dan geregetan saat Venn menghadapi konflik yang tak terhindarkan. Namun demikian, kekesalan itu lekas berganti dengan romantika cinta demi membaca puisi-puisi cinta Venn kepada Sika.
Tak hanya melihat keindahan bangunan klasik Eropa ataupun lanskap indah bak lukisan, saya mendapati aroma latte, bunga tanjung, parfum Bvlgari, kemenyan, bahkan feromon yang menguar begitu saja di sela-sela cerita.
Terima kasih Mas Benny untuk karya yang luar biasa ini. Selama pandemi rasanya sering stuck di rumah, akhirnya pikiran jadi terbebaskan sejenak dengan catatan perjalanan yang asik banget ini 😆
Sebenernya ga pingin cepet selesaikan buku ini, tapi perjalanan Venn dan Ethile terlalu asik untuk dilewatkan begitu aja. This book is a real page-turner!
Brotherhood Venn dengan Ethile pun kerasa real, adorable & exciting banget dengan setiap naik turun dan kegilaannya! Dan puisi di akhir itu, endingnya, AHHH why so bittersweet?
Semoga novel ini semakin banyak pembacanya, terus dibicarakan dan selalu hidup di hati pembacanya.
Saya tunggu sekuelnya ya, Bang! Would be exciting to know where Venn and Ethile will go next.
Most Emotional: Slovakia-Kroasia Most Ghoosebump: Around Trauma Logika Hecticest: Urstein-Villach Sweetest: Tiap kali Venn-Ethile bersitegang Most Excited: Tiap riset Most Favorit: Traunkirchen Scene Most Unpredictable: Alfama Scene Most Waited: Makan-makan Scene Awkwardest: Bed Scene—Lubuklinggau 🤣 Yaaa sama seperti yang lain: bintang 5 harusnya.
Tapi ... karena lanskap Eropa yang indah sebagaimana di Instagram @ethileethile malah nggak muncul dan digantikan ilustrasi sketsa (sukak sih, tapi kan kalau foto2 seperti buku-bukunya Agustinus Wibowo kan makin keren! Hee) ... maka saya kasih bingang 4,49 ya!
Buku ini berhasil membuat gue tergila-gila sama makanan Eropa dan kedekatan Venn-Ethile sehingga gue sering senyum-senyum atau ngakak sendiri sepanjang baca novel ini. Ide risetnya Venn asli gak pernah kepikiran gue. Rahasia antara Ethile-Venn nggak penting lagi bagi gue, sebab perjalanan mereka berdua chemistry-nya itu dapeeet banget. Hanya saran: kalo dicetak lagi, foto2 indah lanskap Eropa sebagaimana ditampilin di Instagram @ethileethile diselipin dunk di tiap bab. Makasih bacaan keren ini, Benny Arnas. Sukses! Sekarang gue sedang baca Eric Stockholm nih! Semoga gak kalah keren ya!
Novel perjalanan yang menarik. Tentang seorang penulis bernama Venn yang mendapat kesempatan residensi di Eropa yang sepanjang perjalanan ditemani oleh Ethile, pegawai TCS, perusahaan yang membiayai residensi tersebut.
Semuanya menarik, tapi bagi saya sendiri bagian menjelang ending cukup mengganggu (pendapat saya saja sih :D ), kalau yang diangkat bromance, tanpa ada adegan "tertentu" saya rasa sudah cukup.
Bagi saya sendiri, dari yang awalnya semangat dan seru baca ini, menjelang ending, rasanya jadi ganjil.
Membacanya dari awal sudah deg-degan, sih. Dan di sepanjang perjalanan buku ternyata memang selalu penuh kejutan yang tak biasa. Membacanya juga bikin bisa ngulik-ngulik nama kota asing yang kok njelimet bener nyebutnya. Dan buku ini keren banget. Bingung bedain ini novel apa catatan perjalanan, atau campuran keduanya. Rugi kalau nggak baca. Jadi musti baca...
Nggak sabar nunggu episode berikutnya... Jangan lama-lama, ya 😁
Jujur saya baru kali ini baca buku tentang perjalanan, ngga kebayang kalau ternyata seseru itu. Apalagi perjalanan Venn Nasution adalah perjalanan residensi. Kerumitan dan keribetan masalah Venn dan Ethile, fasilitatornya dalam perjalanan mereka, justru semakin membuat penasaran dan menarik untuk saya tidak berhenti membacanya hingga selesai. Keren, bang Benny. Semoga akan ada kisah residensi lainnya yang lebih menegangkan dan menarik lagi
Buku dengan kejutan-kejutan jalan cerita yang tak terbayangkan bahkan diakhir cerita juga mengungkapkan rahasia perjalanan tokoh Venn Nasution itu menjadi penuh makna. Penulis juga menuliskan cerita ini dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Eksplorasi negara di Asia timur ini sungguh menarik untuk dibaca.
PS. Buku ini bisa dibaca dalam aplikasi Ipusnas buatan perpustakaan nasional Indonesia.
Novel Indonesia rasa luar negeri. Rahasia itu. Perjalanan itu. Membuat iri siapa saja yang belum ke Eropa, siapa saja yang perjalanannya turistik sekali. Sepakat dengan Berlian Sentosa, kalau difilmkan ini bakal keren--asal bukan sutradara dari negeri xxx yang garap ;-) Saya membayangkannya bakal kayak Green Book sih. Thanks for this very very dramatic-travel novel, Venn(y) Arnas!
Bukunya keren bangets... penuh misteri. saya menduga sebagian besar berasal dari pengalaman nyata penulisnya. yang paling berkesan adalah ketika Venn bertemu dengan ethile. tak disangka ternyata mereka dipertemukan di tempat morris. Dan lanjutan cerita lainnya yang ga enak kalau dituliskan disini. bukunya enak banget untuk segera dibaca... Mantap Bang Benny
Bintang 4 untuk Venn-Ethile. Tapi pas bab Slovakia-Kroasia, ada Adre-Faisal .... jadi bntang 5 lagi deh! Sungguh perjalanan yang penuh drama, hikmah, dan mupenggg ke Eropa Timur dan Balkan!